.

.

Spica Zoe

Present

AKKG Fiction

.

Disclaimer

Chara : Kadokawa Games

Story : Spica Zoe

.

"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."

.

Akagi - Kaga

.


Apa cinta memang terasa seperti ini? Selalu ingin merindu. Selalu ingin menatap dan beradu bersama.

Apa cinta memang seperti ini? Perasaan bergelora tanpa pemicuh, meletup-letup merenggut sadar.

Apa cinta memang seperti ini?

Cinta yang bagaimanapun, nyatanya Kaga tidak begitu paham kenapa rasa ingin memiliki Akagi menjadi hal yang paling ingin dilakukannya. Setiap ia melihat, ia ingin menyentuh seluruh jejak kulit putih miliknya; yang ia cinta. Suara napas Akagi adalah keindahan nada yang berirama dalam memori jiwanya. Tatapannya, ketidakpeduliannya, kesinisannya.

Kaga menyukainya.

Gadis muda itu sudah begitu dalam terjatuh pada jeratan yang sama sekali tak Akagi sengajakan. Namun begitu, meskipun ia sadar bahwa ia sudah terjatuh, Kaga tak ingin bangun. Ia terlena dengan kesakitan akibat hatinya yang sudah tertahan di dasar jurang.

Dan jurang itu adalah Akagi.

Seperti bagaimana yang Kaga rasakan dihari-hari yang lalu, seperti itu juga ia merasakan hal yang sama dihari yang sekarang. Ia tidak pernah merasa terbebani dengan semua rasa yang berlomba-lomba mengisi nuraninya. Jika itu memang karena Akagi, mungkin itulah yang diinginkannya. Akagi memberikannya kehangatan dari sikap dinginnya. Memberinya cinta dari tatapan bencinya.

Tidak ada hal yang lebih menyenangkan bagi Kaga saat Akagi balas memandangnya. Tidak ada hal yang paling ia rindukan saat Akagi membuka bibir membalas pertanyaannya. Semua hal yang harusnya tidak terlalu ia perhatikan, kini adalah kegiatan yang paling ia minati. Gerakan bibir Akagi yang memberinya sedikit sensasi yang tidak ia mengerti. Gerakan tangan Akagi yang membuatnya membayangkan bagaimana rasanya saling mengerat milik bersama. Rasanya, Akagi tiada dua dalam pikiran Kaga.

Semua pikiran itu menghambati kesadaran Kaga, rapat-rapat dan pertemuan yang ia hadiri tidak akan berjalan lebih baik jika Akagi ikut serta. Tapi, jika Akagi tidak ada, pun sama saja. Bisa-bisa ia melarikan diri dari ruang rapat dan menyeret Akagi untuk ikut serta.

Meskipun hubungan mereka masih seperti apa adanya. Apa adanya karena Akagi memang tak pernah mengharapkannya. Tapi Kaga tidak akan pernah menyerah. Selalu menyempatkan diri masuk sembunyi-sembunyi ke divisi Akagi.

Ke ruangannya.

Mendapatinya.

Merindukannya.

Saat jam makan siang, dimana mungkin dominasi karyawan telah berkurang. Atau saat senja, dimana kegiatan ataupun rutinitas telah diistirahatkan.

Dan saat-saat seperti itu, kewarasan Kaga diuji. Tidak akan lelah otak Kaga berpikir bagaimana caranya menyentuh Akagi lagi dan lagi. Menguasainya, merengkuh nikmat yang Akagi miliki pada tubuhnya.

Wanita dewasa dengan fisik yang tak ternilai oleh kata-kata.

Dan saat Akagi mulai tahu, beginilah Kaga, saat itu juga Akagi menyadarkan dirinya jika berdua dengan Kaga adalah hal yang paling berbahaya dan mengancam hidupnya.

Untuk itu, Akagi langsung menahan Kaga masuk ke ruangannya. Tepat setelah Kaga baru saja memberi tanda kehadirannya di pintu masuk ruangan Akagi. Di sana juga, Akagi berdiri menghadang langkahnya.

Keangkuhan yang Akagi perlihatkan dari tatapannya, membuat Kaga semakin bergairah. Bentuk rahang yang mengeras seakan memberi tanda keseriusan dari sikapnya-Akagi, membuat Kaga ingin menerkamnya.

Ruangan itu kosong, tepatnya ruangan divisi sudah tak lagi berpenghuni. Akagi pun tahu, semua ruang para manajer telah hening selain ruangannya. Mendapati kebiasaan Kaga yang selalu dengan sesuka hati menyelinap menemuinya, memberi Akagi pelajaran dari pengalamannya.

Kaga tak tersenyum, tapi ada satu kebanggan yang ia simpan dalam hatinya. Ditatapnya Akagi yang telah memandangnya penuh penolakan. Dengan tangan yang ia rentangkan untuk memberi tanda 'dilarang masuk' bagi Kaga, atasannya. Sedang tangan satunya ia sandarkan di sisi pintu.

"Aku tidak boleh masuk?" tanya Kaga, menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.

"Bodoh rasanya jika aku terus membiarkanmu masuk ke dalam ruanganku tanpa kepentingan apapun." Respon Akagi datar. Tatapan menantang yang Kaga suka.

"Tapi, aku menggajimu untuk itu," Kaga melangkah mendekat. Sedang Akagi pantang untuk mundur. Wajah mereka saling menatap dengan jarak yang cukup sempit, bagian yang Kaga suka. Menikmati wajah itu dari jarak sedekat ini, adalah hal yang paling ia suka.

"... untuk menghormatiku." Lanjut Kaga dengan gerakan yang sensasional, dengan bisikan penuh mistis yang bisa membuat Akagi mengkhianati detiknya untuk menerjemah tindakan Kaga. Sampai pada satu titik, ia merasa kecolongan sebab Kaga sudah menyentuh ujung rambutnya yang terjuntai, memainkannya dengan beberapa gerakan jari, lalu mengecupnya bak seorang pangeran yang sedang terpesona pada aroma musim kawin dari setiap helai rambut sang budak nafsunya.

Bukan kah Akagi terasa cocok dengan sebutan itu?

Akagi menarik dirinya cepat dengan satu langkah mundur sebelum akhirnya Kaga merelakan helaian rambut itu berlalu dari jangkauannya. Aroma yang sekejap merangsangnya telah menjauh bersama sang pemilik. Membuat Kaga terkekeh berniat untuk menyembunyikan imajinasi liarnya.

Ia bersumpah, Akagi harus menjadi miliknya. Jika tidak, maka dirinya lah yang harus menjadi milik Akagi.

Harus.

.

Akagi sudah duduk sebelum Kaga duduk di hadapannya. Meski bukan sifatnya, tapi Akagi harus mengakui jika Kaga memang bukan orang yang tepat untuk menjadi lawannya.

Melarikan diri untuk terlihat lebih paduli pada hal lain di sekeliling Akagi, kecuali parasnya, maka Kaga mengambil satu pertanyaan dari apa yang sedang ia lihat di atas meja di antara mereka. Sebuah berkas yang sedikit kacau dan laptop silver milik Akagi.

"Pekerjaanmu masih banyak?" tanya Kaga mendekat. Jika membahas masalah pekerjaan, Akagi tidak pernah menampilkan penolakannya jika tahu-tahu Kaga sudah duduk di sisinya. Mendekat padanya, padahal setidakpengetahuannya, Kaga menyempatkan diri memandanginya.

Kaga tersenyum.

Wangi tubuh yang ia kenal, sudah ia masukan ke daftar 'ALL ABOUT AKAGI' -harus memakai huruf kapital, sudah menjadi hal yang paling ia mengerti. Selalu menjadi daya tarik tersendiri melihat Akagi seperti ini. Jika Kaga masih bisa mengingat, pengecualian ruangan ini, Akagi tidak pernah melepas blazer dan juga dasinya. Hanya di sini kau bisa melihat sisi Akagi yang seperti ini, dan itulah kenapa Kaga suka mengunjunginya. Bertemu dengan Akagi di ruang rapat, berbeda rasa dengan menemuinya di sini. Ia akan menjadi sangat bengis jika ia sudah menjadikan dirinya yang berlagak seperti seorang manajer, sedang di sini, seperti yang terjadi saat ini, Akagi sebenarnya lebih lunak dari yang orang-orang pikir.

Akagi tidak menjawab pertanyaan Kaga, matanya fokus pada monitor laptop di hadapannya. Mereka berdua lebih memilih duduk bersimpuh di atas lantai beralas dari pada di atas sofa, lebih nyaman memosisikan diri seperti ini untuk bekerja, dari pada di meja kerja sendiri, menurut Akagi.

"Ohya, hanya kau yang belum menyerahkan review perbulanmu padaku Akagi-san. Apa ada masalah?" tanya Kaga mengingat. Kalau tidak salah, memang hanya Akagi yang belum menyerahkan review-nya. Berisi seluruh laporan perbulan yang ia rangkum dari keseluruhan laporan para bawahannya.

Akagi menggeleng pelan, meski tak menatap ia yakin Kaga merespon gerakannya dengan menjadi sebuah jawaban. "Shoukaku-san memiliki sedikit masalah dengan laporan yang dia berikan padaku." bisiknya pelan.

"Tidak usah terlalu memaksa bekerja terlalu keras untuk itu, kau masih punya waktu seminggu lagi untuk menyerahkannya padaku."

Mendengar ucapan itu, Akagi melayangkan pandangannya pada Kaga dengan tatapan heran. Tumben sekali gadis muda ini tak begitu ingin memancingnya dengan usilan-usilan kecil. Biasanya Kaga lebih suka mengulas apapun hal yang tidak Akagi inginkan. Meski Akagi juga tidak tahu pekerjaan ini mengusiknya atau tidak.

"Baiklah," Kaga meraih laptop Akagi dan menutupnya tanpa dosa. "... berhenti bekerja dan aku akan mengantarmu pulang." Senyum Kaga manis memandang Akagi dekat. Tapi Akagi rasanya tidak begitu gampang takluk dengan kekuatan senyuman itu. Masih melihat Kaga yang sibuk merapikan meja yang baru ia tinggal, Akagi melangkah ke meja kerjanya dan membenahinya. Lalu, setelah selesai, ia meraih blazer-nya dari sandaran kursi kekuasaannya, mengenakannya perlahan sambil terus mendengar Kaga yang mulai berbicara.

"Kau lebih cantik tanpa benda itu Akagi-san." tangan Akagi tidak jadi muncul dari ujung lengan blazer-nya. Gerakannya terhenti sejenak sambil menatap Kaga tidak suka. Tatapan yang selalu Kaga nikmati. Jika detakan jantungnya bisa bersuara, ia yakin kata-kata cinta untuk Akagi pasti akan selalu terdengar, sampai detakan jantungnya terhenti dan semuanya menghilang.

"Menjijikan." Bisik Akagi kesal. Didorongnya kembali tangannya yang sempat bersembunyi di lengan blazer-nya, lalu melakukan hal yang sama dengan tangan yang lainnya. Sedang ia tak tahu, Kaga sudah berdiri di dekatnya, dengan tatapan yang mengintimidasi memandangnya.

"S-sejak kapan kau ada di sini?" kesal Akagi kaget. Jaga-jaga jika sebenarnya Kaga adalah jelmaan alien yang berparas rupawan. Rupawan? Akagi akui, detik yang baru saja berlalu membuatnya hampir terlena karena wajah yang damai itu begitu dekat memandangnya.

Kaga tidak ingin membuang waktu. Sayang sekali jika tubuh indah Akagi, terutama belahan dada yang selalu ia intip secara terang-terangan itu, tidak akan terlihat lagi saat Akagi mengenakan blazernya. Ia selalu suka kemeja putih itu jika tak terkait, ia suka pemandangan itu. Sangat suka. Ditatapnya mesum dada Akagi yang untungnya masih belum Akagi rapikan. Ia sangat suka tempat itu. Apalagi saat Kaga berhasil meraih tepi barisan kancing kemejanya dan memperjelas sesuatu yang tak begitu jelas ia lihat di sana, lalu setelah cukup melihat, ia tersenyum.

"Sudah empat hari, ternyata susah hilang ya." Tanyanya dengan senyuman usil. Akagi, menyangkal sebuah kehangatan yang terasa sudah ingin menguasai pipinya. Ditutupnya dadanya cepat dengan kedua tangannya. Sialan, anak ini benar-benar mesum ternyata.

"Kau berengsek Kaga-san." kesal Akagi berpaling. Mana mungkin bisa hilang jika Kaga menggigitnya sekeras itu. Empat hari yang lalu, tanda kecupan yang benar-benar berlebihan. Akagi hampir mengamuk saat Kaga dengan sengaja melakukannya. Padahal ia sudah sekuat tenaga menghentikan Kaga melakukannya. Mengingat itu saja membuatnya kesal.

Sampai Akagi lagi-lagi kecolongan kewaspadaan, sata tahu-tahu Kaga pun sudah mendekap erat tubuhnya dari belakang. Merinding seketika Akagi merespon dekapan itu, ini sudah berlebihan. Ini sudah sangat berlebihan.

"Itu kulakukan sebagai tanda kepemilikanku terhadapmu," bisik Kaga tepat di telinga Akagi. Suara yang lembut, bagai nyanyian surgawi. Terkadang, Akagi memang bisa lepas kendali karena hal-hal yang tak ia sangka datang dari Kaga.

"Aku bukan milikmu." Kesal Akagi mendorong Kaga dengan bahunya. Dekapan terlepas dan Akagi berbalik agar bisa ia pandang wajah orang yang telah berani mengatakan hal yang sangat ia benci dalam hidupnya. Tidak ada yang berhak memiliki dirinya. Siapapun. Meskipun itu Kaga sekalipun.

"Wow. Benarkah?" seru Kaga seakan ia sangat antusias dengan pandangan Akagi yang ia tahu bermakna kemarahan. Akagi sepertinya telah berada dalam tahapan serius kali ini, jadi Kaga merasa ia tidak boleh salah uccap jika Akagi tidak mau memarahinya lebih besar nanti.

"Jadi kau milik siapa, Akagi-san? Setiap kali kutergoda memikirkannya, aku benar-benar penasaran siapa saja pria yang telah menandaimu di sana, di masa lalumu." Jika Akagi ingin membawa pembicaraan mereka ke tahap yang serius, Kaga pun menantangnya.

"Berhenti berbicara padaku seperti itu Kaga-san!" Akagi mengepal. Kenapa Kaga sangat ingin melihatnya marah. Terkadang ia memang tak pernah bisa paham apa maksudnya. "Dewasalah sedikit jika kau ingin berkata-kata." Kecamnya dengan intonasi yang tidak main-main. Ada kemarahan dari setiap desahan napasnya, bisa Kaga pastikan itu. Tapi, Kaga tidak pernah takut menghadapinya. Jika hanya kemarahan seperti ini saja Kaga sudah gentar, bagaimana jadinya jika Akagi menambahkannya dengan percikan cinta? Sepertinya Kaga harus berlatih menjadi seorang masokis demi Akagi.

"Kalau begitu bagaimana jika kau yang mengajariku bagaimana caranya menjadi dewasa," Kaga meraih kembali tubuh Akagi dan mendekapnya, memandangnya, mengintimidasinya, mengamatinya. Begitu intim, begitu dekat, begitu takjub seakan ia ingin menghitung berapa helai bulu yang tumbuh indah di kelopak mata wanita ini. Tangan satunya ia angkat untuk menyentuh dada Akagi sekali lagi. Ya Tuhan, Kaga begitu ingin memiliki wanita ini. Dosa apa ia dimasa lalu sampai Tuhan menghukumnya seberat ini. Perasaan yang ia rasakan kepada Akagi begitu teramat berat. "Wanita tiga puluh dua tahun dengan fisik yang mampu membuat tiga raja berperang demi mendapatkannya, seperti kisah kerajaan lama. Oke berlebihan," Kaga tersenyum. Hembusan napasnya bisa Akagi hirup; wangi yang sama yang pernah ia sentuh. "Wanita dewasa tiga puluh dua tahun dengan rupa sepertimu pasti punya banyak pengalaman, bagaimana jika kau membagikan satu pengalamanmu denganku? Pengalaman bercinta paling indah dalam hidupmu." Terkutuklah Kaga yang tidak lagi mampu menahan gejolak nafsu dalam dirinya.

Senja yang mereka tinggal sudah mengawali malam. Lautan cahaya memapar di seluruh kota. Kaga begitu terbuai dengan sebuah komposisi yang Akagi punya, tubuhnya, harumnya, tatapannya, penolakannya, Kaga bersumpah demi pencipta, ia ingin memangsa wanita ini.

"Lepaskan aku. Kau sudah gila." Kesal Akagi yang sebenarnya tak bisa ia kendalikan sepenuhnya. Tatapan Kaga tadi bagai tangan-tangan nakal yang telah melucuti kehormatannya. Bisa gila Akagi jika disentuh oleh gadis ini lama-lama.

Ruangan ini telah sunyi sejak tadi, pelajaran yang telah Akagi pelajari adalah jangan bersama Kaga berdua, jika tidak ingin dalam bahaya. Apalagi di tempat seperti ini, yang bisa membuatnya mengulang setiap ingatan mereka berdua. Dengan kepala yang memanas, Akagi mengalihkan pandangan dari tatapan Kaga yang tiada padam untuknya. Meraih tas jinjingnya dan melangkah pergi. Ia ingin melawan nurani, ia tidak kuat diperlakukan seperti ini. Kaga benar-benar serius ingin menelanjanginya.

"Aku akan menunggumu di luar." Bisik Akagi sebelum ia memisahkan dirinya dari Kaga. Alangkah indahnya, sosok Akagi yang malu-malu seperti itu adalah hal yang Kaga suka. Tidak, semua tentang Akagi adalah kesukaan Kaga, semuanya tidak terkecuali.

Kaga tersentak cepat saat ia menyadari jika Akagi meninggalkannya. Sepertinya ia susah bangun dari imajinasinya jika ia sudah memikirkan Akagi. Sebelum Kaga beranjak, tidak lupa ia memindahkan laptop milik Akagi yang tadi belum selesai ia rapikan. Ke atas meja kerja Akagi, meletakannya di sana.

Kaga mengamati sebentar sebelum ia meninggalkan ruangan itu. Namun saat pintu baru saja ingin ia tutup, suara dering ponsel bergema dari dalam ruangan. Kaga terperanjat, karena ponsel itu jelas bukan miliknya.

.

Di sisi lain, Akagi menghitung langkahnya pelan, sambil memikirkan sesuatu yang tak ia duga. Kenapa ia merasa sungguh tak berdaya atas Kaga. Kelancangan gadis muda itu merusak tata caranya berpikir. Tapi, ia benar-benar tidak bisa berbuat banyak. Marah pun rasanya percuma. Langkah kakinya yang pelan itu, menggema di seluruh penjuru koridor. Bukan tipenya berjalan seperti itu, tapi karena Kaga masih belum menyusul, ia melakukannya.

Setelah pertengkaran Fubuki dan pria di apertemennya, Akagi mendapat perlakuan berlebihan dari Kaga. Awalnya ingin bertanya tentang luka yang ia dapat, lalu berlanjut ke hal lain, lainnya dan lainnya lagi. Hingga Kaga sudah begitu kurang ajar melakukan apa saja terhadapnya. Malam itu, Kaga memaksanya untuk mandi bersama. Juga memaksanya untuk membersihkan tubuhnya. Tapi, bukannya berpikir lurus dengan apa yang ingin ia lakukan, Kaga malah menelusuri setiap kulit tubuh Akagi yang tak beralas dengan jarinya. Memberikannya sensasi yang lama ia rindukan.

Terakhir, ia lupa sudah berapa lama ia tidak melakukan hubungan seksual. Mungkin sebelum akhirnya ia tahu jika ia sedang hamil. Atau seminggu sesudah ia mengetahuinya. Akagi lupa. Yang pasti jelas sebelum Kaga hadir dalam hidupnya.

Mereka tak melakukan hal lebih setelahnya, karena insiden Kaga dengan kasar menikmati lehernya dengan kecupan-kecupan yang sialnya sangat ia rindukan.

Di dalam lautan busa, mereka bercumbu mesra. Akagi ingin berteriak agar Kaga melepaskannya. Tapi, bibirnya tak berani bersuara. Kecupan Kaga, jilatannya di sekitar kulit lehernya benar-benar mampu menjatuhkan keyakinannya. Sekejap saja, Akagi menyerah. Dibukanya kedua kakinya mengangkang lebih lebar agar tubuh Kaga bisa menyelip masuk di antaranya. Digenggamnya surai-surai Kaga dan mengeratnya sekuat tenaga. Menahan desahan yang ingin ia tahan dari bibirnya. Kaga mengecupi lehernya, turun ke dadanya, bermain dengan lidahnya, di sekitar atas payudaranya. Akagi bisa gila jika Kaga melakukan itu tepat di atas putingnya, sayangnya Kaga tidak melakukannya.

Kaga tahu kenikmatan yang Akagi rasakan. Tapi keinginannya untuk memberi rasa cinta yang tampak atau lebih tepatnya tak terbantahkan adalah tujuannya. Tanpa aba-aba, ia mengecup kuat permukaan kulit payudara atas Akagi, perlahan kecupan itu merangsang; bisa Kaga rasakan dari seberapa erat Akagi menjambaki rambutnya. Tangan Kaga pun tak alpa untuk meremas payudara Akagi yang satunya.

Akagi sangat sensitif terhadap rangsangan, sangat. Kaga masih fokus pada bibirnya di sana, juga terkadang lidahnya menyapu-nyapu lembut permukaan kulit yang telah ia kunci dalam bibirnya. Dengan was-was yang menipis, Kaga pun menandai Akagi di sana.

Akagi terpekik kaget, saat ia tahu Kaga akan melakukannya. Didorongnya Kaga kasar saat itu, "He-hentikan Kaga-san! Jangan tinggalkan bekas apapun di sana-AHHH!" Kaga menggigitnya.

Tidak sengaja. Kaga tidak sengaja. "Sialan! Apa yang kau lakukan!" kesal Akagi mendorong kepala Kaga sekuat mungkin dari payudaranya. Dan dengan kepala panas, Akagi memandang tanda merah itu di payudaranya.

Kaga tersenyum dengan cengirannya. "Ayolah! Mungkin dua hari sudah hilang." Tawa Kaga sebelum suara tawa itu menghilang karena Akagi langsung mengguyurnya dengan air tepat di wajahnya.

Kaga terkekeh.

Ia tertawa.

Rasanya bahagia melihat Akagi berhasil ia perdaya.

"Tsundere." Batin Kaga melihat Akagi meninggalkannya sendirian di kamar mandi.

.

.

"Jadi kapan terakhir kali kau melakukan seks?"

Tiba-tiba saja Akagi tersadar dari lamunannya tentang asal muasal tanda yang ia terima di dadanya. Pelakunya kini telah muncul di depan mata. Akagi tidak mendengar suara langkah kaki Kaga terdengar selain langkah kakinya sendiri, tadi. Apa Kaga sebenarnya adalah alien yang tengah menyamar untuk mengincarnya? Mungkin saja. Jika ia ingin semuanya tidak lagi masuk akal. Benar. Bukankah semenjak Kaga datang di kehidupannya, semuanya sudah menjadi tak masuk akal?

"Apa maksudmu?" Akagi menjawab ketus, menarik pandangannya dari wajah Kaga yang kembali seperti biasa. Tidak begitu menyebalkan, juga tidak begitu memesona. Tapi cantik. Akagi bisa gila jika ia terus membanding-bandingkan ekspresi wajah Kaga.

"Tentang pembicaraan orang dewasa," Kaga mengangkat kedua bahunya, mendorong Akagi sedikit sekedar ingin menggodanya, dan ia tersenyum, manis. "... dan tentang pengalam seks yang paling berkesan." Lanjutnya menunggu.

Akagi jadi menyesal telah mengingat malam empat hari lalu dengan gadis ini. Tapi, kenapa juga ia harus mengingatnya. Ia membenci kehadiran gadis pemaksa ini.

"Itu bukan pembicaraan orang dewasa." Kusut Akagi meninggalkan Kaga dengan langkah besarnya, menuju lift.

Kaga hanya tersenyum kecut karenanya. Entahlah, seperti ada sesuatu yang ia pendam tetang Akagi.

Kecemburuan.

Benar, Kecemburuan.

.

.

.

.


AN : Saya enggak tanggung jawab.

.

.

.


.

Akagi menolak Kaga mengantarnya dengan mobil. Padahal Kaga memaksanya begitu keras. Tapi bagi Akagi, lucu sekali jika ia harus diangkut dengan mobil padahal jarak kantor dan tempat tinggalnya hanya berjarak 1-2 kilometer. "Itu jauh Akagi-san. Dan lagi pula kau sedang hamil." Runding Kaga memberi tawaran. Tapi Akagi tetap keras kepala, "Ngesot saja pun bisa." Kesalnya bicara sendiri.

"Apa? ngesot? Bahasa apa itu?" tanya Kaga penasaran.

Kaga tahu Akagi memang tidak sepenuhnya berbicara padanya. Tapi ia mendengar ucapannya, dan juga ada kata yang tidak ia tahu berarti apa. Akagi beralih-alih, mengambil pikir untuk menjawab. Canggung juga rasanya jika Kaga ingin tahu sesuatu yang seharusnya tidak begitu penting dibahas.

"Tidak. Tidak apa. Aku juga tak tahu itu artinya apa." seru Akagi melanjutkan langkahnya.

Tak terasa mereka sudah melewati tempat di mana Kaga memarkirkan mobilnya. Mana mungkin ia mengatakan jika ia mendengar bahasa aneh itu dari Fubuki.

"Kau yakin tidak tahu artinya? Tapi itu kedengaran memiliki arti yang besar, Akagi-san." Kaga penasaran. Diikutinya langkah Akagi di sampingnya. Mereka berjalan berdampingan. Akagi memandang Kaga yang kini larut dalam kata yang tak sengaja ia perdengarkan. Menampilkan sisi manis Kaga yang lain. Malam itu, meski angin berhembus cukup dingin, tapi Akagi merasa hangat.

"Ngesot... ngesot.." Kaga mengulang-ulang.

"Ngesot.. ngesot.. bahasa yang aneh, apa hanya aku yang tidak tahu artinya?" tanyanya sendiri. Dan kembalilah Akagi memendam kesal saat Kaga begitu ribut dalam pikirannya.

"Lupakanlah. Kau membuatku gila!" rengek Akagi frustasi.

.

Tiba di depan pintu apertemen sederhananya. Tepat pukul sembilan malam. Entah apa yang mereka lakukan di perjalanan hingga waktu terasa begitu cepat berjalan. Tetapi, Akagi tidak begitu menyesal karenanya. Kaga mengintip isi apertemen Akagi. Mungkin ia ingin singgah sebentar, jadi Akagi berinisiatif menawarkan minuman, tapi Kaga menolaknya. Tidak biasanya. Akagi jadi memandangnya penuh tanya.

"Ini, kau melupakannya tadi." Kaga mengeluarkan ponsel yang ia temukan berdering tadi, menyerahkannya pada Akagi dengan tak berekspresi.

"Ah, terimakasih. Aku lupa." Ucap Akagi berterimakasih.

Akagi bingung, kenapa Kaga jadi sekelam ini memandangnya. Mereka tidak sedang bertengkar kan? Biasanya pun jika bertengkar, Kaga akan datang padanya lagi dan lagi tanpa ada yang perlu ia takutkan. Tapi, kali ini Akagi merasakan ada tatapan yang begitu nelangsa dari gadis itu. Apalagi saat ia menolak diri untuk masuk ke apertemennya. Kaga menunduk pamit sebelum berpisah dari Akagi, tidak membalas lambaian Akagi, padahal sebelumnya ia begitu semangat melakukannya. Akagi tertegun saat punggung itu menjauh dari sana.

Ada yang berbeda.

Kenapa begitu cepat.

Apa ia salah bicara tadi? Apa ia menyinggung perasaan Kaga? Mereka baik-baik saja tadi selama perjalanan. Kaga masih terus mengusilinya dan ia masih saja terus kesal. Kaga yang baru saja Akagi saksikan adalah Kaga yang berbeda.

.

Akagi masuk ke kamarnya. Fubuki belum pulang dan ia memilih untuk segera membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, hal-hal tentang Kaga kembali menghantuinya. Kenapa di saat terakhir tadi, Kaga begitu berbeda dari biasanya. Rasanya ia jadi khawatir. Tapi untuk apa? Untuk apa ia menyimpan rasa khawatir pada Kaga? Gadis itu menyebalkan, sering membuatnya marah, buang-buang waktu jika harus mengkhawatirkannya.

Akagi meraih ponsel miliknya di atas nakas. Mengamatinya sekilas karena ponsel itu terlihat tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Kemudian memutuskan untuk bangkit menuju tempat pengisian daya. Sudah ia duga, ponselnya kehabisan daya. Dinyalakannya kembali ponselnya, menunggu sesaat dan beberapa pemberitahuan muncul bersamaan.

Namun pemberitahuan yang terakhir membuat Akagi tertegun cukup lama, berpikir. Ada satu nama kontak yang tak terjawabnya. Mungkin Kaga sempat melihat nama kontak itu saat ponsel itu ada bersamanya.

Tepat pukul sepuluh malam, Akagi melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Hari yang harus ia tutup dengan perasaan kalut, semoga Kaga tidak mempertanyakannya di kemudian hari. Dan kenapa ia jadi begitu takut Kaga menjauh darinya. Sikapnya tadi saja sudah membuat Akagi merasa kehilangan.

.

.

.

.