.

.

Spica Zoe

Present

AKKG Fiction

.

.

Disclaimer

Chara : Kadokawa Games

Story : Spica Zoe

.

"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."

.

Akagi - Kaga

.


.

"A-aku minta maaf Akagi-san. Aku mohon beri aku kesempatan."

Kaga menarik tangannya. Mengurungkan niatnya untuk meraih pintu masuk ruangan Akagi. Dari yang terlihat, ada beberapa orang yang sedang berada di ruangan Akagi kini. Terdengar jelas kalimat itu dalam pendengaran Kaga yang kini hanya diam di depan pintu ruangan. Membiarkan beberapa mata mengabaikannya di sana. Seorang direktur utama atau presiden direktur tengah diam di depan ruangan salah satu manajer bawahannya.

Kaga melipat kedua tangannya. Masih di posisinya, meski tidak ingin, samar-samar ia mendengar apa yang sedang terjadi di dalam.

"Kaga-sama!"

"Kaga saja cukup." Balas Kaga cepat saat mendapati Kitakami tengah mendapatinya berdiam di posisinya. Kitakami menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Memandangi Kaga yang entah mengapa bisa berada di sana. Dengan alasan yang masih tersimpan tentunya.

"Apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya heran. Kaga menyentuh dagunya berpikir. "Apa yang terjadi di dalam?" tanyanya tenang.

.

Terdesak

.

"Aku tidak punya cukup waktu untuk memperingatkanmu setiap saat. Yang aku inginkan, surat pengunduran dirimu sekarang juga."

Ada tangisan di sana. Jelas sekali ada tangisan. Seorang gadis bahkan rela menundukan badannya. Merendahakn harga dirinya untuk menunjukan seberapa menyesal ia. Tapi, yang ia hadapai, Akagi tidak begitu ingin memasang tampang untuk mengasihani.

Kaga, membuka pintu ruangan Akagi dengan tenang. Kehadirannya membuat empat orang yang berada di ruangan Akagi menghapus air mata cepat. Salah seorang dari mereka bangkit dari posisinya.

Akagi menoleh sekilas, memandang Kaga yang sudah melangkah mendekati mejanya. Lalu, ia palingkan lagi dan memilih untuk mengabaikan keempat jiwa yang sedang berurusan dengannya. Mengamati beberapa dokumen di mejanya.

"Kalian pergilah." Bisiknya terdengar berat. Mau tidak mau, semua orang di sana, kecuali Kaga mengangkat kaki dengan berat hati dan gejolak hati yang tertahan.

Akagi, adalah seorang manajer paling menakutkan yang perusahaan itu miliki. Perilakunya sudah terkenal ke seluruh divisi. Dibawa rumor dan disamarkan oleh kenyataan.

"Kau baru saja memecat mereka?" tanya Kaga tenang. Memilih duduk di antara sofa kosong, dan memandang Akagi diam. Sedang yang ditanya, tidak menjawab. Sekalipun ia ingin, ada sesuatu yang mengganjal bibirnya untuk berucap. Emosinya masih meluap, dan ia tidak ingin sesuatu membuatnya semakin sensitif.

"Apa yang kau lakukan di sini? Ini belum jam makan siang."

Bukankah sudah menjadi kebiasaan bagi Kaga untuk menerobos masuk ruangan Akagi saat makan siang atau saat jam pulang kerja. Melihatnya di jam seperti ini, terlalu tidak biasa dan semakin menyebalkan. Apalagi sampai memergokinya memecat para bawahannya.

"Tentang Shoukaku-san."

Akagi bergeming.

Jemarinya berhenti bergerak menorehkan tinta di atas kertas dokumennya. Mendengar nama Shoukaku, membuatnya semakin resah. Sedang Kaga masih diam di tempatnya.

"Laporan yang kau berikan padaku, tidak sesuai dengan kenyataan yang berlaku." Bisik Kaga mengambil langkah untuk memandang hampa sesuatu yang terasa samar di hadapannya. Pada jam-jam seperti ini, ruangan Akagi terasa jauh lebih berbeda dari biasanya ia berkunjung. Terasa lebih mencekam entah karena apa.

Kaga tidak pernah merasa sesesak ini di dadanya. Sesak bukan karena rasa bahagia yang meluap seperti apa yang ia rasa jika ingin memandang wajah Akagi yang telah ia sebut cinta. Sesak ini terasa seperti ingin menghancurkan segalanya yang ada di hadapannya. Memutuskan batasan yang terasa begitu kuat menahan kepuasan nuraninya. Ini menyiksa karena rasa marah yang begitu kuat mengendalikannya.

Akagi, bukan sekedar manajer yang bertanggung jawab di bawah pimpinan Nagato sebagai direktur divisi tempat ia bernaung. Sebenarnya, posisi ke-manajer-an Akagi sudah selalu diperhitungkan untuk ditetapkan sebagai bagian ke-direktur-an langsung. Sebab, posisi Akagi bertanggung jawab pada seluruh direktur divisi, bukan hanya Nagato. Hanya saja, Akagi selalu menolak canangan itu.

Akagi merelakan waktunya untuk berpikir sejenak. Ia sudah tahu semuanya akan seperti ini. Nagato telah memperingatkannya beberapa waktu lalu. Juga telah membicarakan kepadanya langsung tentang keberadaan Shoukaku yang jelas tengah mengancam tugas-tugasnya sebagai seorang manajer. Tapi, merasa percaya diri, Akagi akan mempertanggungjawabkannya.

"Akan kuperbaiki lagi." bisik Akagi, kembali meraih pena yang ia letakan. Menoreh beberapa tulisan dan tandatangan untuk beberapa data yang harus disetujuinya.

"Pecat dia."

Akagi terdiam.

"Semua kesalahan adalah karenanya. Kenapa kau memecat keempat orang itu saat semua kesalahan adalah ulah Shoukaku?" Kaga bangkit dari duduknya. Melangkah mendapati Akagi yang mengeraskan rahangnya.

"Dia tidak bersalah." Teriak Akagi kesal.

"Kalau begitu, buktikan!"

.

.

Kaga tidak tahu kenapa. Selama beberapa hari ini, Kaga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Kekesalan hati selalu muncul saat memikirkan kenapa Akagi mau begitu keras memperjuangkan Shoukaku. Masih ingat, bagaimana menyesalnya Nagato saat datang menyerahkan laporan bulanannya pada Kaga. Dengan menunduk, Nagato melaporkan beberapa masalah yang ia hadapi. Dana yang mereka gunakan tidak seimbang dengan apa yang telah mereka hasilkan. Laporan dari beberapa karyawan pun membuat semuanya semakin tak berkesinambungan.

Meski Kaga bertanya, bagaimana tanggapan Akagi mengenai masalah ini. Selaku yang bertanggung jawab atas kemajemukan keuangan divisi, Nagato hanya mengatakan bahwa ia-Akagi sedang mengusahakan.

Untuk itu, Kaga sendiri lah yang turun tangan. Meski ini bukan bagian dari tugasnya. Tapi ada panggilan jiwa yang mengatakan jika ia begitu penasaran. Bukan hanya karena Shoukaku yang tidak lain adalah orang yang bersangkutan. Juga karena Akagi yang menurut Nagato selalu merasa tidak menjadi dirinya jika berhubungan dengan Shoukaku.

Cemburu? Jelas. Kaga cemburu. Demi alasan apa Akagi memperjuangkan Shoukaku. Demi hubungan apa Akagi merusak jalan pikirnya. Membela Shoukaku dan menjerumuskan orang-orang yang tidak bersalah sebagai korban.

"Dia bukan jenis orang yang seperti itu. Menurutmu karena alasan apa dia bisa menjadi orang seperti sekarang? Dia selalu menjadi pribadi yang profesional dan jujur. Adil dan mengedepankan kebijaksanaan. Dia sangat bertalenta sebagai pemimpin. Tapi, jika sudah menyangkut Shoukaku, aku pun tak tahu harus bertindak bagaimana. Dia menjadi berbeda."

Tidak usah Nagato beritahu. Kaga pun memikirkan hal yang sama. Jika ada orang-orang yang tidak suka dengan perangai Akagi yang dinilai kejam dan tidak berperikemanusiaan. Itu karena Akagi lebih mementingkan keadilan dari pada apapun. Kaga rasa ia telah bisa melihat kepribadian Akagi yang seperti itu. Meskipun, pada dasarnya, Akagi bukanlah orang yang tidak berperasaan.

Tapi, kenapa hal seperti itulah yang membuat Kaga merasa tersiksa. Jika demi Shoukaku ia bisa menjadi dirinya yang lain. Membohongi dirinya sendiri. Kenapa tidak untuk dirinya-Kaga juga. Kaga merasa cemburu. Ia ingin Akagi juga memperjuangkannya seperti Akagi memperjuangkan Shoukaku. Selalu melihat ke matanya. Selalu menyebut namanya. Selalu merasa ada yang kurang jika tidak merasa kehadirannya. Kaga ingin ia dianggap oleh Akagi. Dirindukan, diinginkan dan dianggap berharga. Bagaimana caranya. Bagaimana caranya agar Akagi hanya menaruh perhatian padanya. Kaga tidak rela Akagi memedulikan orang lain. Siapapun. Kaga ingin menjadi bagian dari napas yang Akagi butuhkan. Menjadi hangat yang Akagi perlukan. Kaga ingin menjadi segalanya bagi Akagi.

Menjadi segalanya.

Lalu kenapa, Akagi tidak pernah ingin tahu apa yang sedang Kaga rasakan? Cinta yang Kaga rasakan berubah mejadi cemburu yang mengiluhkan tulang. Kaga tidak mungkin bertahan lama karena rasa cemburu itu. Ini masih Shoukaku. Belum lagi fakta lain tentang berapa banyak sebenarnya orang yang menaruh hati pada Akagi.

"Akagi-san." Kaga meraih tubuh Akagi yang melemah. Mereka melewatkan banyak waktu untuk bersitegang. Tidak tahu mau membela siapa. Karena tidak tahu siapa yang mau dibenarkan.

Akagi mengabaikan keberadaan Kaga yang merusak kendali dirinya. Ia benci mengakui jika ia juga tidak bisa membohongi dirinya lebih banyak. Shoukaku memang salah. Ia tahu. Tapi ada alasan yang lebih penting untuk membela Shoukaku di depan Kaga jika Kaga pun rasanya tidak peduli dengan apapun yang akan merusak tata cara saat Akagi memimpin bawahannya.

Akagi tak menepis rangkulan Kaga yang menariknya dalam dekapan. Di sisi jendela kaca yang bisa memamerkan seberapa padatnya kota Tokyo terlihat. Mereka berdiri. Menyimpan kekalutannya masing-masing. Kaga tidak ingin bertindak kasar. Meski ia tahu, Akagi pasti menyembunyikan sesuatu. Ia tidak ingin memaksa Akagi untuk jujur padanya karena Akagi terpaksa. Ia ingin Akagi yang datang padanya. Menceritakan segalanya yang ia rasakan. Karena dengan begitu, Kaga merasa dianggap berharga.

"Aku percaya padamu."

.


.

Memutuskan untuk percaya. Segala hal tentang Kaga kini merenggut jalan pikir Akagi. Pikirannya tak fokus bekerja. Laporan yang ia selesaikan dikembalikan Kaga oleh seorang perantara.

Akagi menoleh pada langit Tokyo yang terlihat dari ruangannya. Senja tengah mengintip menertawai jiwanya. Kenapa, rasanya kini Senja begitu menakutinya. Sudah dua hari Kaga tidak berkunjung ke ruangannya. Biasanya saat senja menyapa, Kaga akan muncul dengan seringaiannya. Terlepas itu seringaian menyebalkan atau membuat rindu. Akagi selalu dihadiahi kehadiran Kaga oleh senja.

Tapi kini, dua senja membuat Akagi merasa takut. Ditatapinya pintu ruangan yang begitu sunyi mencekam. Tiada nada yang bergetar di jiwanya. Kenapa pintu itu tidak juga terbuka. Kenapa Kaga tidak juga datang mengunjunginya. Apa Kaga benar-benar marah? Atau apa ia yang benar-benar telah membuatnya kecewa?

Akagi menelusuri koridor gedung itu dengan langkah tertatih. Ini sudah cukup malam untuk tetap berada di sana. Bahkan beberapa ruangan telah dikunci oleh penjaga. Tidak mungkin tetap menunggu Kaga yang mungkin tak lagi ingin mengunjunginya. Kenapa rasanya ada yang hilang. Kenapa rasanya begitu diabaikan.

Ruangan Kaga, berjarak dua puluh dua lantai di bawah lantai ruangan Akagi. Yang jika dipikir-pikir, hanya orang bodoh yang mau melakukan perjalanan sejauh itu hanya untuk menemui seseorang dengan alasan yang tidak begitu penting. Akagi baru menyadari, saat di dalam lift, ketika memandangi panel berisi tombol-tombol angka setiap lantai. Kenapa Kaga melakukan hal sebodoh itu hanya untuk menemuinya.

Ya, hanya orang bodoh yang melakukannya.

.

Pagi ini ada beberapa pertemuan yang harus Akagi hadiri. Pencanangan visi dan misi di bulan awal pada perusahaan adalah kebiasaan wajar. Setiap manajer akan mengadakan pertemuan dengan direktur divisi masing-masing. Sangat wajar. Tapi bagi Akagi, menghitung sudah berapa lama ia tidak memandang Kaga, membuat pagi-paginya merasa begitu berat. Masalah Shoukaku, ketidakhadiran Kaga membuat pikirannya terasa penuh dan terbebani.

Nagato mengusulkan, Akagi tidak perlu hadir jika ia merasa kurang enak badan. Mendapati Akagi yang terlihat lemah tak berdaya membuat Nagato keberatan. Berpikir jernih, Nagato menghubungi beberapa direktur bagian yang menaungi kinerja Akagi. Hingga kabar-kabar ketidaksehatan Akagi terdengar sampai ke telinga Kaga.

"Aku bisa sendiri Mutsu-san."

Akagi menolak niat baik yang Mutsu berikan padanya. Seharian ini, Akagi hanya menetap dalam ruangannya. Menolak semua laporan yang harus ia tandatangani. Menolak kehadiran siapapun bahkan Nagato yang berniat mengkhawatirkannya. Tidak. Ia hanya ingin sendiri. Kelemahannya membuktikan cela kekalahan yang begitu ia benci dalam hidupnya.

"Tidak mungkin bisa membiarkanmu pulang dalam keadaan seperti ini." ucap Mutsu lagi penuh kekhawatiran. Bulir-bulir keringat memenuhi tubuh Akagi. Padahal ruangan sudah sedingin ini. Akagi tetap tak mengindahkan niat baik rekannya itu. Kekeraskepalaan yang selalu Kongou katakan memang bukanlah isapan jempol semata.

Kepala batu. Si Ratu es. Dan suka mencari mati.

Bukankah begitu? Akagi.

Akagi masih tetap memejamkan matanya. Kepalanya terasa begitu berdenyut, suhu badannya begitu tinggi dan ia merasa tidak ingin mengkhawatirkan dirinya sendiri. Bersandar di kursi kerjanya. Dengan napas yang begitu berat, membuat Mustu begitu iba.

"Tolong panggilkan Shoukaku menghadap padaku." ucapnya dengan mata yang masih terpejam.

"Dia-"

"Aku mohon Mutsu-san. Panggilkan dia."

Mutsu membuka pintu ruangan Akagi. Mendapati Nagato dan Shoukaku yang menatapnya khawatir. Sejak tadi, Akagi memberi perintah untuk membawakan Shoukaku padanya. Tapi, Nagato mencegah hal itu terjadi. Mungkin karena ingin membiarkan Akagi untuk tidak terlalu memikirkan pekerjaannya saat kondisi tubuhnya seperti itu. Karena sekeras apapun Nagato menyuruhnya untuk pulang, Akagi menolaknya. Dan niat untuk menyembunyikan Shoukaku pun rasanya percuma.

.

Shoukaku membuka pintu ruangan Akagi khawatir. Rasa takut dan ragu menuntunnya melangkah. Diliriknya Akagi yang masih memejamkan mata. Tarikan napasnya bahkan begitu berat terlihat.

"A-akagi-san." bisik Shoukaku ragu-ragu.

Mendengar suara Shoukaku sudah mengisi ruangannya. Akagi pun membuka matanya.

Kini, mereka duduk berhadapan. Ruangan itu begitu dingin. Shoukaku meliputi dirinya dengan perasaan yang bercampur aduk. Sedang Akagi hanya mencoba untuk memeriksa beberapa berkas di atas mejanya.

"Aku tidak pernah memberikanmu ijin untuk melakukan ini. Shoukaku-san."

Dengan sisa tenaganya. Akagi meletakan beberapa dokumen tepat di hadapan Shoukaku. Di atas meja. Dengan pandangan yang membuktikan, dalam keadaan lemah sekali pun ia tetap masih bisa terlihat begitu menyeramkan. Shoukaku sempat menahan pekikannya beberapa saat setelah hentakan pada meja itu terdengar. Bergidik ngeri sebab Akagi sudah terlihat begitu ingin memangsanya.

"A-aku hanya-"

"Harus berapa kali kukatakan. Aku tidak akan memecatmu meskipun kau sengaja melakukannya!" potong Akagi cepat.

"Aku hanya ingin keluar dari perusahaan ini! Aku tidak ingin membuatmu semakin menderita!" Shoukaku benar-benar ingin mengalahkan kekejaman Akagi padanya. Pandangan yang begitu ingin memakannya. Shoukaku tidak suka. Sungguh tidak suka. Ia benci Akagi. Sangat benci wanita ini. Rasa marah dan ketidakberdayaan itu meluap tanpa ia sengaja.

Disingkirkannya dokumen yang baru Akagi serahkan. Melemparnya dengan tepisan tangan pada permukaan meja dan membiarkan semuanya berantakan. Ditatapnya Akagi dengan uraian airmata yang menandakan bahwa ia benar-benar menyerah. Tidak berdaya dan tidak tahu harus mengadu pada siapa. Akagi mengekangnya. Akagi membuatnya menjadi serba salah. Sebelum pergi, ia menyempatkan melihat raut wajah Akagi yang begitu marah. Bercampur dengan kelemahan yang menderah tubuhnya. Dengan langkah cepat dan detakan waktu. Shoukaku keluar dari ruangan.

Seluruh mata, memandang Shoukaku dengan penuh keheranan. Ia berusaha berlari, menyamarkan pandangan orang-orang akan airmata dan kegelisahaannya yang terurai. Tapi tetap saja, semua orang telah memandangnya.

"Apa yang terjadi?" bisik-bisik di ruang divisi menambah kebisingan.

"Kenapa setiap orang yang keluar dari ruangannya selalu menangis."

"Benar-benar menyeramkan."

"Lebih baik jangan berurusan dengannya."


Kaga duduk di kursi ruangannya. Senja menggodanya untuk berpikir bagaimana Akagi sekarang. Hanya berhari tak memandang wanita itu membuat Kaga sulit bernapas. Kabar pagi tadi membuat Kaga menjadi semakin khawatir. Semoga Akagi baik-baik saja. Tapi, jika baik-baik saja, kenapa ia sampai tidak datang ke beberapa pertemuan?

Apa kesehatannya memburuk?

Atau karena kehamilannya?

Memikirkan itu, sekejap saja membuat Kaga panik. Ia bangkit dari tempat duduknya. Seakan senja menginginkan, Kaga mengatur langkah menemui Akagi di ruangannya.

Selama perjalanan langkah kaki. Kepulangan karyawan adalah hal yang paling sering Kaga dapati. Ya. Ini sudah hampir malam. Senja bahkan telah melambaikan tangan. Apa mungkin Akagi sudah pulang? Jika ia sakit, harusnya ia pulang saja lebih awal. Kaga menghentikan langkahnya untuk berpikir. Apa ia punya hak untuk merasa khawatir? Apa Akagi menginginkan perhatiannya? Memikirkan kehadirannya? Bukankah Akagi selalu membencinya? Ia tidak lebih penting dari Shoukaku. Tidak pernah dianggap lebih berharga dari Shoukaku. Kaga telah kalah saing. Entah kenapa ia merasa ingin menyerah.

Tapi rasa rindu itu meletup bagaiman bara api yang membakar segalanya. Ia rindu Akagi. Ia ingin mengatakan pada Akagi bahwa semuanya baik-baik saja. Masalah yang Shoukaku perbuat tidak akan mempengaruhi perusahaan. Tidak semenakutkan itu. Meski Kaga yakin Akagi pun tahu, tapi Kaga lebih yakin jika Akagi tidak menerima kesalahan sedikitpun. Membuat semua kesalahan menjadi tanggung jawabnya.

"Apa kau merindukanku Akagi-san? Karena aku sangat merindukanmu." Kaga membatin.

"Ya, dia menangis."

Kaga tak sengaja mendengar isu-isu itu memenuhi pendengarannya. Di perjalanan tanpa tujuan yang membuatnya melangkah di sepanjang koridor. Ia memutuskan untuk tidak menemui Akagi. Mungkin Akagi memang sudah pulang. Dua orang karyawan, sedang berbicara disepanjang langkah mereka dari arah berlawanan. Kaga tidak begitu dikenal di seluruh perusahaan untuk kalangan karyawan tingkat rendah. Jadi tidak masalah sebanyak apapun ia melangkah, tidak akan ada yang akan mengenalinya.

"Shoukaku itu keras kepala juga ya? Bukankah dia paling tahu Akagi-san kalau marah bagaimana." Lanjut bisikan lain yang kini berhasil menghentikan langkahnya.

Akagi dan Shoukaku?

Bagaimana mungkin Kaga bisa berdiam diri kali ini. Semua hal yang telah terjadi telah mendobrak batas kesabarannya. Lagi-lagi Shoukaku dan Akagi. Apa nilainya rindu yang ia simpan untuk wanita itu, jika ia tidak segera memberitahu bahwa ia memang sangat peduli padanya.

Langkah Kaga berubah cepat. Di ujung koridor sana, pintu ruang divisi Akagi telah tampak. Semoga ia masih bisa mendapati Akagi. Jika pun tidak lagi ia dapati, ia telah memutuskan untuk menemui Akagi di kediamannya.

Sunyi.

Lampu telah padam. Secepat itu? Kaga menelusuri setiap jejak dalam ruangan dengan hati-hati. Mungkin Akagi memang sudah pulang. Sudah tidak ada tanda-tanda kehadiran di ruangan ini. Tapi pemikiran Kaga langsung berubah saat ia mendengar langkah kaki mengisi pendengarannya.

Ada orang-

"Kaga-san!" Kaga memandang orang itu dalam gelap.

"Akagi-san. Akagi-san dalam kondisi lemah!" Ucapnya khawatir.

.

.

"Aku tidak tahu harus bagaimana. Tadi aku sudah mau pulang. Sudah tak ada lagi orang di ruangan ini. Tapi ada sesuatu milikku yang ketinggalan. Aku kembali lagi dan berusaha mengambilnya. Saat itu aku mendengar ada suara orang yang mungkin sedang muntah. Aku berusaha mendekat. Akagi-san sedang terduduk di atas lantai dengan menutupi mulutnya dan memegangi perutnya. Aku takut membantunya. Aku takut dia marah padaku. Jadi, dengan bodohnya aku pergi dan mematikan lampu. Takut dia melihatku memergokinya. Kemudian, aku jadi merasa khawatir. Aku kembali lagi ke sini, ingin menolongnya, dan saat itulah aku bertemu dengan-"

"Sudah diamlah!" teriak Kaga panik.

Kongou terus menceritakan apa yang telah terjadi. Alasannya. Dan rasa takutnya. Juga mungkin kepedulian yang ragu dalam dirinya. Kaga meraih tubuh Akagi yang telah berada dalam pelukannya. Mengiringnya untuk berbaring di atas sofa. Dengan sudut mata yang masih bisa melihat bayang Kongou yang diam penuh penyesalan di sekitarnya. Kaga rasa ia sudah keterlaluan dengan membentak Kongou seperti itu. Tapi, ia pun benar-benar panik.

"A-aku benar-benar minta maaf. Ini salahku. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Akagi-san." ucapnya menunduk.

"Maafkan aku. Aku hanya sedikit panik. Kau bisa pergi. Biar aku yang menanganinya. Dan..." Kaga menatap wajah Akagi yang begitu malang. "Terimakasih." Lanjutnya takut.

.

Suhu badan Akagi tidak lagi terasa begitu hangat. Akagi mengakuinya. Dengan keadaan lemah, ia berusaha membuka matanya. Yang ia dapati hanya kegelapan yang samar. Ruangan itu tidak terlalu gelap juga tidak terlalu terang. Akagi bangkit dari tidurnya perlahan. Jika ia tidak salah, ini masih ruang kerjanya. Mendapati diri terbangun di ruang kerja membuat Akagi berusaha mengingat segalanya.

"Kau sudah bangun?" ada suara yang mengisi keingintahuannya. Suara Kaga. Siapa lagi. Akagi menoleh cepat ke sisi lain, dan di sana lah ia mendapati Kaga yang tengah berdiri memandangnya.

Bahagia.

Sungguh, betapa hangat dan bahagia Akagi mendapati wajah itu tersenyum padanya.

Sesuatu yang awalnya hilang darinya kini telah ia temukan. Apapun itu, Akagi merasa ada yang telah diambil dari hidupnya saat Kaga tak menemuinya beberapa hari terakhir ini. Dan segalanya terasa telah dikembalikan hanya karena senyuman itu terlalu bersinar di dalam gelapnya ruangan.

"Kaga-san." bisik Akagi yang ingin sekali mendekapnya.

Sangat ingin.

"Aku kembali." Bisik Kaga menahan rindunya.

.

.

.


AN: dua puluh dua lantai? Lebay amat -_-