.
.
Spica Zoe
Present
AKKG Fiction
.
Disclaimer
Chara : Kadokawa Games
Story : Spica Zoe
.
"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."
.
Akagi - Kaga
.
.
Kaga akui, tidak mudah baginya untuk berpaling. Sekuat apapun ia mencoba untuk memiliki rasa yang bisa memicuh kebencian akan Akagi dalam hidupnya, ia tidak bisa. Akagi, dengan keberadaannya yang Kaga tahu tak wanita itu sengaja, bisa membuat Kaga menjadi Kaga yang berbeda.
Bagaimana rasanya mencintai dan berharap.
Bagaimana pedihnya cemburu dan pengabaian.
Kaga bisa merasakan segalanya.
Akagi, membuatnya merasa jauh lebih hidup. Ada tawa dan kesedihan jika ia mulai mengakui bahwa Akagi penuh akan rasa yang silih berganti muncul dalam benaknya.
Kaga sungguh terjerat akannya.
Bagaimana tidak?
Akagi mungkin tidak begitu menyadari, rasa tertahan Kaga akannya malam ini benar-benar sedang berada di ambang batas. Mereka terjebak dalam keremangan malam. Memaksa mereka saling mendekap dalam keraguan.
Kaga yakin ia cukup kuat menahan hasratnya untuk tidak menggoda Akagi yang kini berada begitu dekat di sarang jantungnya. Tapi, godaan selalu saja berusaha menerobos dinding pertahanannya.
Akagi mendesah sesak. Demamnya belum begitu pulih sepenuhnya. Kaga menawarkan tubuhnya untuk mendekap Akagi yang kini begitu malang di hadapannya.
"Jika kau tidak keberatan, aku lebih baik tidur di tempat lain Akagi-san." bisik Kaga yang tidak begitu pandai membaca situasi, seakan ia telah menjadi bodoh seketika. Berbaring di sofa yang sama dengan sofa yang Akagi tiduri. Dalam kesesakan mereka saling menghimpit. Akagi memeluk Kaga dalam tidurnya. Meski napasnya terasa begitu berat dan hangat, Kaga bisa merasakan hembusan itu di permukaan kulit lehernya.
"Tidak, kumohon. Aku kedinginan."
Dua kali permohonan yang telah Akagi serukan. Tidak tega melihat Akagi semalang ini. Tubuhnya hangat, tapi ia merasa begitu dingin. Sedang dalam posisi seperti ini, bisa-bisa Kaga menyakiti Akagi yang harusnya butuh ruang cukup untuk menyamankan dirinya.
"Akagi-san." hanya nama itu yang mampu lolos dari bibir Kaga. Dengan jarak yang terlalu minim di antara mereka, bahkan Kaga yakin Akagi pun mampu mendengar detak jantungnya. Mungkin.
"Maaf Kaga-san. Memaksamu tidur di sisiku dalam keadaan seperti ini. Tapi sungguh, aku kedinginan." Akagi masih menutup matanya. Suaranya bergetar parau dan Kaga bisa melihat tubuhnya bergetar di sana.
"Tapi, tubuhmu hangat."
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu kenapa."
Kaga tak ingin mendengar lebih banyak lagi kata yang keluar dari mulut Akagi. Sofa ini hanya akan menyiksa mereka lebih lama jika dilanjutkan untuk tidur dalam posisi seperti ini, berdua. Tanpa Akagi tahu, sebenarnya Kaga sudah mati-matian menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh dari sana. Meski ia mendesak Akagi untuk terhimpit, rasanya sama saja.
Akagi merasakan gerakan tubuh Kaga yang memberinya jarak, membuka mata, Akagi sudah mendapati Kaga duduk di tepi ruang sofa yang tadi ia tiduri. "Kaga-san." berucap lemah menyebut nama gadis yang tidak berniat memandang dirinya.
Kaga melepas blazer yang ia kenakan, lalu meletakannya di atas tubuh Akagi penuh kehati-hatian.
"Aku akan mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhmu agar tidak kedinginan. Apa kau bisa menungguku di sini?" Kaga mengusap lembut surai Akagi dan memandangnya dalam keremangan. Namun sebelum Kaga beranjak jauh, Akagi telah menarik tangan gadis muda itu dan menghentikannya.
"Jangan pergi, Kaga-san." bisiknya gelisah. Bahkan dalam sentuhan kecil itu pada genggaman tangannya, Kaga bisa merasakan panas membara di sekitar kulit Akagi.
"Kau sangat hangat Akagi-san. Atau aku harus menghubungi seseorang untuk menjemput kita?" Kaga panik. Permukaan kulit Akagi semakin menghangat. Menghubungi siapa? Ia juga tidak tahu siapa yang harus ia ganggu malam-malam begini hanya untuk membantunya membopong tubuh lemah Akagi.
.
Mereka terjebak, Kaga tidak tahu sudah berapa lama ia menunggu Akagi untuk bangun dari ketidaksadarannya. Sampai Kaga sadar bahwa mereka telah terjebak di sana. Ingin Kaga melakukan sesuatu, menggendong tubuh Akagi yang tak sadarkan diri dan membaringkannya di atas ranjang tidur miliknya di kediamannya dengan nyaman, tidak dalam keadaan seperti ini. Tapi, Kaga tidak mungkin bisa. Karena biar bagaimanapun ia masihlah seorang perempuan yang tidak akan mungkin mengangkat tubuh Akagi dan menjanjikan kenyamanan pada wanita itu. Bak seorang pangeran tampan yang melindungi tuan putrinya seperti di drama-drama televisi.
Untuk itu, Kaga lebih memilih untuk terjebak di sana bersama dengan Akagi yang tadinya sudah sedikit membaik. Bahkan Akagi sempat tersenyum padanya saat mata mereka bertemu ketika wanita itu sadar dari tidurnya. Ya. Mendapati suhu tubuh Akagi yang tadi sempat normal membuat Kaga cukup lega. Mungkin tidak apa terjebak satu malam di gedung sebesar ini. Tapi kenyataanya berjalan lain, kembali Akagi mengeluh. Dan kembali Kaga dipusingkan dengan rasa hangat yang ia rasa dari Akagi. Sejak tadi, Akagi selalu menolak untuk mengusahakan cara agar mereka segera pulang. Akagi bilang ia tidak apa-apa dan ia bisa menjalani malam ini di sana. Tapi, seperti yang Kaga duga, kesehatan Akagi semakin memburuk.
Kaga memikirkan kemungkinan akan siapa yang bisa ia mintai bantuan. Jaringan telepon telah diputus. Sejak tadi Kaga sudah mengusahakan menelpon para penjaga di beberapa pos penjagaan di gedung itu, namun ia sadar tak ada yang bisa ia hubungi dalam keadaan seperti ini. Ingin meninggalkan ruangan, namun Akagi tidak pernah mengijinkan.
"Shoukaku-san." Akagi berbisik ditengah kebingungan Kaga. Seakan langsung memberi pencerahan akan kegamangan yang sedang Kaga hadapi. Kaga sekilas berseri- "Ya. Shoukaku ..."
-namun saat menyadari nama yang terdengar, hati Kaga langsung mengalami keperihan.
"Dia akan menjemput kita." Lanjut Akagi yang telah memejamkan matanya.
.
Kaga tak mengerti kenapa. Kenapa matanya tak pernah ingin lepas dari dua sosok lain yang tengah berada dalam mobilnya. Shoukaku terlihat gelisah, sesekali ia menyentuhkan telapak tangannya ke seluruh permukaan wajah Akagi yang tertidur di pangkuannya. Terlalu khawatir sampai Kaga merasa kalah akan kepercayaan dirinya sendiri menyaksikan drama yang tengah berlangsung di depan matanya.
Kaga membantu Shoukaku menopang tubuh Akagi yang lemah. Membawakan beberapa barang yang tertinggal di mobil, sedang Shoukaku sudah mendekap Akagi dan membantunya berjalan melangkah pelan.
Kenapa rasanya begitu sesak. Kedua punggung dari kedua wanita itu semakin menjauh dari posisi kakinya yang tetap berada di sana oleh kepedihan.
Ia cemburu.
Bahkan dalam kesakitannya, Akagi masih mengingat Shoukaku dan menginginkan bantuannya.
Fubuki terbelalak kaget, saat mendapati Akagi dibantu Shoukaku sudah berdiri di depan pintu kediamannya. Ia langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar Akagi. Mempersilakan keduanya masuk tanpa pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali ia utarakan.
Kenapa Akagi bisa kembali dalam keadaan selemah ini? Kenapa setelah sekian lama, ia kembali melihat Shoukaku bersama dengan Akagi? Dan kenapa, Kaga masih diam di depan pintu dengan raut wajah yang tak dapat ia maknai.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Fubuki tanpa memudarkan ekspresi kebenciannya pada Kaga. Kesan pertama yang ia dapat dari Kaga cukup untuk memberinya alasan.
Kaga menunduk ragu. Shoukaku dan Akagi sudah masuk ke dalam kamar, sedang ia hanya mampu berdiri di depan pintu, dengan kedua tas milik kedua wanita itu. Kaga mengulurkan semua benda di tangannya pada Fubuki. Tanpa ekspresi dan keinginan menjawab pertanyaan yang Fubuki tanyakan.
"Aku harus pulang." Bisik Kaga tak berdaya. Tatapannya yang senduh dan terlihat tak berdaya membuat Fubuki berniat menghentikan langkahnya.
"Ini sudah pukul tiga pagi, masuklah. Lebih baik kau tidur di sini. Sepertinya kau terlihat kelelahan."
Kaga menggeleng pelan.
Tidak.
Bukannya ia tidak mau. Tapi, ada sosok lain yang membuatnya cukup tersiksa jika ia berlama-lama berada di sana.
Shoukaku.
Kenapa kehadiran Shoukaku membuatnya begitu terabaikan dari kehidupan Akagi.
"Aku-"
"Dari pada wanita itu, aku lebih memilih kau yang menjaga Akagi-neesan, dan memintanya pulang."
.
.
Kaga mengikuti langkah kaki Fubuki yang memasuki kamar tidur Akagi. Pemandangan yang cukup menyakitkan, saat melihat Shoukaku sedang sibuk menghusap tubuh Akagi dengan air dingin. Memberinya pertolongan pertama agar suhu tubuhnya menurun.
"Apa kau sudah memberinya obat?" Fubuki tak memandang wajah Shoukaku ketika bertanya. Melihat Akagi selemah ini, dengan napas berat yang tak bisa mereka abaikan, Fubuki merasa kasihan juga. Diambilnya beberapa pakaian Akagi yang tersimpan di lemari. Lalu meletakannya lembut di sisi Shoukaku. Menanti kegiatan Shoukaku yang kini meraih pakaian itu dan menggantikannya. Sedang menunggu usaha Shoukaku selesai, Fubuki melangkah ke arah meja kerja Akagi, mencari beberapa obat yang mungkin bisa Akagi kosumsi untuk meringankan demamnya.
"Ini, mungkin bisa meringankan sakitnya." Sambil menjulurkan tangannya yang berisi beberapa obat pada Shoukaku.
"Aku tidak bisa membiarkannya mengosumsi obat dalam keadaan seperti ini." Shoukaku bangkit dari duduknya, mengabaikan Fubuki.
Akagi telah berganti pakaian, dan Shoukaku harus membereskan beberapa hal yang telah ia lakukan di sana. Membuang air yang ia gunakan untuk membasuh tubuh Akagi, dan menyimpan pakaian kotor Akagi ke tempatnya.
Sedang di sisi lain, Fubuki menatap wajah Shoukaku kesal. Apa wanita itu sengaja tidak memberi Akagi obat saat keadaannya telah menjadi begitu lemah?
"Lalu kau mau apa? Membuatnya semakin menderita? Itu kan maumu?" cercah Fubuki tidak senang. Shoukaku terdiam. Sedang Kaga tidak tahu akan apa yang sedang ia saksikan. Dari setiap tindakannya, Fubuki jelas tidak suka keberadaan Shoukaku. Ada alasan yang Kaga ingin tahu kenapa mereka terlihat begitu bertentangan saat ini. Shoukaku menarik pandangannya dari tatapan membunuh Fubuki. Melangkah kembali ke sisi Akagi dan duduk di sana. Meraih tangan wanita itu dan memandangnya iba.
"Aku muak melihatmu menaruh perhatian padanya sedang kau tidak pernah tahu berapa banyak derita yang ia terima." Kesal Fubuki begitu terang-terangan. Dilangkahkannya kakinya keluar ruangan, mengabaikan Kaga dan melewatinya begitu saja. Dan tidak berapa lama, Fubuki kembali dengan membawa segelas air. Meletakannya di sisi nakas dan menarik tubuh Akagi di sisinya.
"Jangan beri dia obat Fubuki-san. Dia akan baik-baik saja setelah ini." cegah Shoukaku sabar. Sedang Fubuki tidak mau peduli. Diraihnya kepala Akagi untuk mendarat dalam pangkuannya. Biar bagaimanapun, Akagi tidak akan ia biarkan dalam keadaan selemah ini.
"Hentikan." Dan tiba-tiba saja Kaga bersuara.
Shoukaku hampir lupa, ada Kaga yang mungkin sejak tadi sudah ada di sana. Ia lupa kenapa Kaga bisa berada di sana. Sejak kapan Akagi dekat dengan gadis muda ini.
"Apa kau juga mau membuatnya menderita?" kesal Fubuki merespon ucapan Kaga.
"Kau yang tidak tahu apa yang kau lakukan. Akagi-san sedang hamil. Jangan memberinya sembarang obat." Seru Kaga. Meraih obat-obatan itu dari tangan Fubuki dan membuangnya.
Tidak.
Untuk Fubuki, ini pertama kalinya ia tahu tentang sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi dalam hidup Akagi. Ini pertama kali ia mendengar jika sesuatu itu adalah sesuatu yang sangat penting, namun ia tidak tahu apapun.
Shoukaku melepas genggaman tangannya dari tangan Akagi. Memperbaiki kembali posisi tidur Akagi yang tadi sempat dikacaukan Fubuki. Sedang Kaga menarik tangan Fubuki untuk turun dari ranjang.
"Hamil?" ulang Fubuki tidak percaya.
"Maafkan aku Fubuki-san. Akagi memintaku untuk merahasiakan ini darimu. Tapi nyatanya dia sendiri telah memberitahukan pada seseorang tentang kondisi pribadinya." Shoukaku juga tidak percaya. Kenapa Kaga bisa tahu kebenaran itu. Bukankah Akagi sangat ingin merahasiakannya? Lalu kenapa Kaga bisa tahu? Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka berdua. Padahal sedikitpun rumor tentang mereka tidak pernah terhembus di lingkungan kerja. Apalagi semua telinga begitu suka mendengar apapun rumor tentang Akagi.
Kaga menangkap pandangan yang berbeda dari Shoukaku untuknya. Sebuah tatapan yang bermakna penolakan yang bisa Kaga artikan. Wajah Shoukaku adalah salah satu wajah tercantik yang Kaga nilai. Tapi tatapan tadi membuat Kaga merasa ada sesuatu yang sedang wanita ini sembunyikan darinya. Belum lagi tentang rahasia dibalik hubungan mereka yang Kaga rasa terlalu membuatnya penasaran.
Apa hubungan yang terjalin di antara Akagi dan Shoukaku? Mengapa rasanya begitu menyebalkan melihat mereka bersama, saling memedulikan namun saling menyakiti.
"Kenapa kalian lebih tahu dariku?!" kesal Fubuki yang merasa disepelehkan. Ah, jika saja ia bisa berteriak, ia ingin semua orang menjelaskan apa yang tidak ia mengerti sedang terjadi pada kehidupan Akagi.
.
.
Fubuki menatap Shoukaku berang. Mereka bertiga duduk dalam pertanyaan masing-masing di ruang tamu kecil di dalam apartement itu. Meninggalkan Akagi yang sudah jauh lebih baik dan sedang tertidur di kamarnya. Waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin tidur. Mereka ingin sebuah fakta yang bisa membuat mereka jauh lebih mengerti akan situasi yang berlangsung kini.
"Lalu, siapa pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya?" Fubuki menatapi wajah kedua wanita itu bergantian. Ia ingin tahu lebih banyak. Dan ia harap salah satu dari mereka bisa memenuhi keingintahuannya.
"Aku tidak tahu." Respon Kaga sederhana. Mendapati jawaban itu, Fubuki mengakhiri pandangannya pada Shoukaku.
"Aku pun tidak tahu." Balasnya datar.
"Berengsek! Kalian ingin membodohiku?" kesal Fubuki semakin menjadi-jadi.
Kaga memang tidak tahu. Sudah pasti. Karena sebelum ia mengenal Akagi, wanita itu sudah mengakui bahwa dirinya hamil. Berbeda dengan Shoukaku yang mungkin sudah lebih lama bersama Akagi. Sama dengan Fubuki yang ingin tahu lebih banyak, Kaga memikirkan jawaban yang mungkin bisa memancing Shoukaku untuk jujur. Ia yakin, Shoukaku tahu semuanya tentang Akagi.
"Yu ...kimura."
Shoukaku langsung mengangkat wajahnya. Nama yang Kaga sebutkan memancing ekspresi tak terduga dari sang pemilik wajah.
Berhasil.
Kaga rasa ia telah berhasil memicuh Shoukaku untuk menyangkal nama itu jika kemungkinan besar tebakannya salah.
"Yukimura?" ulang Fubuki ingin tahu. Seingatnya Akagi tidak pernah menyebut nama itu.
"Tidak mungkin!" Shoukaku bersuara.
Umpannya tergigit. Kaga meyimpan satu kebanggaan yang ia samarkan dengan ekspresi datar di wajahnya. Shoukaku terpancing oleh kejeniusannya. Dengan begini, bukankah telah membuka kesempatan bagi Shoukaku untuk menceritakan semua hal yang ingin Fubuki ketahui? Atau sebenarnya ingin juga ia ketahui.
"Tapi, aku pikir mereka pernah berhubungan." Balas Kaga masih bersikap tenang. Mendapati Shoukaku dalam keadaan kesal membuatnya semakin ingin mengacaukan perasaan wanita itu.
"Siapa Yukimura?" tanya Fubuki juga ingin tahu.
"Salah satu direktur beristri yang bekerja di perusahaan tempat Akagi bekerja." Jelas Kaga. Jujur saja, sebenarnya Kaga tidak tahu apapun tentang kebenaran hubungan seperti apa yang telah terjalin antara Akagi dan Yukimura. Hanya saja, waktu ponsel Akagi tetinggal, Kaga mendapati nama itu berkali-kali menelponnya, dan Kaga abaikan. Menjenjaki isi ponsel Akagi, ada beberapa pesan dari Yukimura yang masih tersimpan di sana. Isinya tidak begitu mencurigakan, namun Kaga hanya ingin menggunakan alibi itu untuk menguasai pikiran Shoukaku. Dan sepertinya Kaga sukses memperdaya pikiran wanita bersurai pucat itu.
Kaga mencari tahu siapa Yukimura. Beberapa kali ia pernah bercengkerama dengan pria itu. Sebagai seorang direktur mereka memang pernah berkali-kali bertemu. Juga, dalam ketidaktahuan Akagi, Kaga pernah sesekali memperhatikan bagaimana kedua manusia itu berinteraksi. Sosok Akagi yang dingin, tidak begitu tampak saat ia sedang berbicara dengan Yukimura. Tidak tahu karena apa, meski sakit menyaksikannya, tapi Kaga paham ada hubungan lain di antara mereka.
"Tutup mulutmu jika kau tidak mau Akagi-san membunuhmu." Shoukaku bangkit, menyempatkan diri menatap wajah Kaga dengan bengis. Ia seakan lupa siapa Kaga dan apa posisiya di perusahaan hingga ia berani berucap seperti itu padanya.
"Kau menyuruhku menutup mulut? Kau tidak tahu siapa aku?" Kaga ikut bangkit. Mereka saling menabrakan pandangan. Ada kemarahan di sana. Juga ketidaksukaan yang Fubuki saksikan.
"Anak pungut dari keluarga kaya raya yang berbaik hati mengangkatmu jadi pewaris?" Shoukaku menyeringai, jelas sekali ia tidak suka dengan Kaga. Oh. Kaga tidak pernah tahu jika wanita cantik ini, yang dulu sempat ia kagumi ternyata memiliki peringai semenyebalkan ini. Dan juga, dari mana Shoukaku tahu tentang latar belakangnya?
Apa semua orang telah membicarakannya?
Kaga mengepalkan kesepuluh jarinya. Menahan amarah agar tidak beranjak pergi darinya. Tatapan wanita ini terlalu menghinanya. Sungguh. Kaga tidak suka. Apa salahnya jika ia hanya seorang anak angkat? Tidak ada yang salah kan? Dulu juga Kaga tidak pernah ingin merahasiakannya. Tapi jika ia tahu semenyebalkan ini kebenaran itu terucap dari mulut Shoukaku, rasanya ia tak terima.
"Jangan memancingku untuk melakukan sesuatu padamu, Shoukaku-san." geram Kaga menahan amarah.
Fubuki yang memandang jadi tidak tahu harus melakukan apa.
Shoukaku mendengus tawa. Ekspresi wajah itu semakin menyebalkan di mata Kaga. "Kau hanyalah sampah yang terbuang lalu di-"
"Shoukaku-san!"
Ketiga pasang mata itu menoleh bersamaan saat satu suara asing muncul di antara mereka.
Akagi telah berdiri di ambang pintu kamarnya. Menatap Shoukaku dingin dan tak terartikan dengan mudah.
"Akagi-san." bisik Shoukaku merasa bersalah.
"Sampah terbuang?" seakan tidak terima, Kaga mengabaikan sosok Akagi yang mengganggu percakapannya. Ia ingin tahu lebih banyak lagi tentang kebenaran dirinya yang telah Shoukaku terima. Dari mana wanita ini tahu tentang dirinya? Tidak ada yang tahu harusnya. Kecuali Akagi. Atau jangan-jangan Akagi yang menceritakannya?
"Kaga-san. Pulanglah-"
"Dia menyebutku sampah!" Kaga tidak terima.
"Hei! Jangan membentak kakakku!" Fubuki menengahi kasar.
"Dari mana kau tahu tetangku?" Kaga tidak mungkin bisa terima semuanya dengan cara seperti ini. Shoukaku meremehkannya. Sungguh ia tidak terima.
"Katakan. Dari mana kau bisa menyimpulkan seberapa sampah keberadaanku?" Kaga mencengkeram kedua lengan Shoukaku dengan kasar. Membuat wanita itu terpekik dan takut untuk menatapnya.
"Kaga-san! hentikan!" sedang mungkin, hanya Akagi yang bisa menghentikannya.
"Kenapa kau selalu membelanya?!" kesal juga akhirnya Kaga. Segala perasaan dan keingintahuannya dari waktu ke waktu tak lagi mampu ia tahan. Ditatapnya Akagi yang masih berdiri lemah di posisinya. Memegang sisi pintu agar ia bisa berdiri tegak menyembunyikan kelemahannya.
"Aku tidak membelanya. Jadi lepaskan dia." Akagi masih mampu menahan perasaannya.
Kaga mendorong tubuh Shoukaku, membuat wanita itu nyaris terjatuh di lantai. Kedua tangannya menjadi nyerih akibat genggaman erat Kaga. Sedangkan gadis muda itu malah melangkah menuju Akagi di tempatnya. Amarahnya memuncak. Kondisi jiwanya sedang tak beraturan. Ia marah. Kesal. sedih. Cemburu dan begitu hina.
"Apa seperti itu aku di matamu, Akagi-san?" tanya Kaga. Menahan rasa sakit yang menggerogoti jiwanya. Ia tak mampu lagi menahan kesedihan dalam dirinya. Ia jadi lemah. Ia tadi begitu lemah.
"Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu." balas Akagi peduli.
Kaga menundukan wajahnya. Airmata yang telah mengintip dipelupuknya tak lagi mampu ia sembunyikan. Jika saja kedua orang tuanya masih hidup, mungkin ia tidak akan semenderita ini. Andai saja ia tahu, bagaimana hinanya menjadi yatim piatu, ia mungkin ingin ikut mati bersama kedua orang tuanya.
"Tapi kau melakukannya."
Kaga menghapus airmatanya. Ia terisak. Sedikit kekanakan. Membuat Akagi merasa begitu iba. Biar bagaimanapun, Kaga adalah adiknya. Tidak ada kesalahan dari semua yang telah terjadi. Ia sudah menerima Kaga setelah semuanya terjadi lebih awal di antara mereka.
"Aku tidak pernah menganggapmu begitu." Akagi mengulurkan tangannya, ingin menyentuh pipi Kaga yang basah, tapi dengan cepat Kaga menepisnya. Membuat Akagi merasa tersiksa karena penolakan ini ternyata lebih sakit dari yang ia duga.
"Aku tidak tahu apakah aku pantas menjadi adikmu atau tidak. Tapi, meskipun kau tidak ingin aku menjadi adikmu, aku sudah terlalu menyayangi ibu dan ayah seperti orang tuaku sendiri. Dan jika kau memang tidak suka aku ada dikeluargamu, aku akan pergi."
Shoukaku terdiam sejenak. Tunggu, ia tidak salah dengar 'kan? Kaga adalah adik Akagi? Sejak kapan? Jadi, bukankah itu berarti Akagi sebenarnya adalah ... ?
"Adik?" Fubuki semakin tidak mengerti.
Akagi menarik tangan Kaga untuk ikut turut bersama dengannya. Masuk ke dalam kamarnya. Menguncinya, dan membiarkan Fubuki meneriaki namanya, meski Akagi sudah tak lagi mau peduli.
"Akagi-neesan. Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi! Aku bisa gila jika begini!" Kesalnya-Fubuki mengetuk-ngetuk pintu kamar Akagi.
"Akagi anak kandung sang pemilik?" Shoukaku masih sibuk memikirkan sesuatu di kepalanya.
.
.
"Kenapa kau melakukannya Kaga-san?" Akagi duduk di tepi ranjang. Menarik tangan Kaga untuk ikut serta duduk di sisinya. Meski ia tahu Kaga menolak, tapi Akagi memaksanya. Menatapi Kaga yang masih terisak, Akagi berusaha untuk tidak tertawa. Dari segala hal yang baru terjadi di antara mereka. Hal yang paling menggelitik Akagi hanyalah tampang Kaga yang sedang menangis. Ternyata telihat begitu berbeda dan nyaris kekanakan dan manis.
"Jangan dekat-dekat denganku jika kau menganggapku sampah." Kesal Kaga, menarik tubuhnya untuk berpaling dari tatapan Akagi. Dan sibuk mengusap air matanya. Merasa malu jika Akagi mendapati sisi buruk darinya.
"Aku sudah bilang, aku tidak pernah mengatakannya." Ucap Akagi frustasi.
Kaga ingin percaya. Tapi rasa sakit dianggap seperti itu oleh Shoukaku benar-benar merasuki batinnya. Jika bukan Akagi, lalu siapa yang telah membocorkan latar belakangnya pada wanita itu?
"Dan kau melakukan kesalahan dengan mengungkapkan kebenaran akanku di depannya." lanjut Akagi menatap hampa di hadapannya.
.
Tubuhnya masih lemah, tapi Akagi sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Mendapati setiap kata dari mulut Kaga, Shoukaku dan Fubuki sejak tadi dari dalam kamar, membuat Akagi hening mendengarkan. Yukimura? Nama itu Akagi ulang dalam hati berkali-kali saat Kaga ternyata dengan lantang mengucapkannya di antara debatnya bersama Shoukaku.
Jadi malam itu, saat Kaga mengembalikan ponselnya dan pulang dengan aura kelam, ternyata karena gadis itu melihat panggilan yang menampilkan nama Yukimura di ponselnya? Tergelitik untuk tertawa, Akagi malah membaringkan tubuhnya asal di atas ranjang. Kepalanya masih sedikit pusing, dan ia tidak cukup tahan duduk berlama-lama.
Dari sana ia bisa memandangi punggung Kaga yang masih menyimpan isakan kecil yang susah payah ia sembunyikan. Punggung yang indah, Akagi sebenarnya mengangguminya sejak lama.
"Yukimura."
Kaga menoleh mendapati Akagi yang tahu-tahu telah berbaring di sisinya. Kakinya masih menggantung, sedang kedua tangannya ia simpan di atas dadanya. Mengabaikan pandangan Kaga yang perlahan telah menampilkan ekspresi khasnya yang biasa.
"Yukimura." Ucap Akagi lagi. Sambil membiarkan bayangan pria itu berputar-putar dalam kepalanya. Membayangkan juga, jika-jika benar Yukimura adalah ayah dari anak yang tengah ia kandung, bagaimana jadinya.
Kaga bergidik melihat Akagi tersenyum. Mengulang nama itu berkali-kali dengan senyum yang menakutkan. Lalu, tanpa Kaga tahu, Akagi telah membalik tubuhnya. Berbaring menghadap sisi lain dan memunggungi Kaga yang masih diam penuh tanya.
Lama mereka terjebak dalam keheningan.
Selama itu juga Kaga menunggu jejak menapak dalam kesunyian yang mereka ciptakan. Tiba-tiba suasana berubah menjadi mencengkam saat tahu-tahu Kaga mendengar isakan lain yang terasa semakin lama semakin jelas terdengar di antara mereka. Curiga, Kaga meraih tubuh Akagi dan memaksanya berpaling, dan di sanalah Kaga memaksa dirinya untuk tidak percaya dengan apa yang tengah disaksikannya.
Akagi menangis.
Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya ketika Kaga memandangnya.
Akagi terisak.
Apa nama itu memiliki panah yang bisa menembus dan menusuk jantung Akagi, hingga wanita ini menjadi selemah ini dalam tangis bercampur isakan yang Kaga saksikan?
"Akagi-san." bisik Kaga. Meraih pergelangan tangan Akagi yang menutupi wajah basahnya. Akagi menolak, ia pun takut dipandang lemah oleh Kaga saat ia menunjukan wajah sedihnya di depan gadis muda itu.
"Apa aku menyakitimu?" cemas Kaga peduli. Sungguh, Kaga tidak suka mengakui jika ia tidak ingin melihat Akagi seperti ini. Setidaknya, saat Akagi berada di sisinya, Kaga tidak ingin membiarkan Akagi mengurai air mata.
Akagi menggeleng lemah, sambil wajah masih ia tutupi di sana. Menggeleng agar Kaga tidak perlu memaksa untuk terlalu memedulikannya. Akagi baik-baik saja. Ia tidak ingin Kaga mengkhawatirkannya. Tapi, bukan Kaga orangnya jika ia mudah menyerah. Apalagi segala hal yang berhubungan dengan Akagi dan kesedihannya. Merayap naik, Kaga mendekap tubuh Akagi dalam pelukannya. Memberi jarak agar Akagi tidak merasa begitu sesak. Berbaring, membiarkan wajah Akagi tersembunyi dalam pelukannya. Menindihnya dengan penuh kehati-hatian.
Kaga sangat menyayangi wanita ini.
"Maafkan aku." Bisik Kaga yang kini tengah mendapati Akagi melepas tangannya. Menggantikan tubuh Kaga sebagai pelampiasannya. Terisak di sana. Bersembunyi dalam pelukan gadis itu. Sedang kedua tangannya telah melingkari punggung yang baru saja ia kagumi tadi. Punggung yang kuat, yang membantu menyembunyikan kesedihannya.
"Maafkan aku." Bisik gadis itu penuh ketulusan.
.
.
AN : Kalau saya jadi Kaga, saya perkosa Akagi dalam keadaan begitu :'(
.
.
.
.
.
.
"Jadi siapa sebenarnya gadis barbar yang baru saja menyelinap masuk ke kamar Akagi-neesan?"
Shoukaku masih bergeming di tempatnya. Membiarkan pertanyaan Fubuki lewat begitu saja. Akagi putri kandung sang pemilik? Kenapa ia tidak tahu apapun. Dan sebenarnya Kaga dan Akagi sudah terhubung sebagai kakak dan adik? Ini benar-benar tidak bisa ia percaya dengan mudah.
"Hei. Kau dengar? Aku bertanya!" kesal Fubuki kembali menatap Shoukaku yang kini menatapnya bingung. Ia dengar, hanya saja ia tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.
"Direktur utama tempat kami bekerja." Bisik Shoukaku masih tidak begitu ingin bicara lebih banyak.
Fubuki menganga tidak percaya, "Holang kaya ..." tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutnya.
.
.
.
AN + : Kapan sih mereka ngeseks? lama amat -_-
