.

.

Spica Zoe

Present

AKKG Fiction

.

Disclaimer

Chara : Kadokawa Games

Story : Spica Zoe

.

"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."

.

Akagi - Kaga

.


Ya. Kaga mungkin belum tahu segala hal tentang Akagi.

Kisahnya.

Masa lalunya.

Cerita cintanya.

Segala hal yang telah membangun Akagi hingga detik ini, Kaga tidak tahu apapun.

Apa hubungannya dengan Shoukaku.

Apa hubungannya dengan Yukimura.

Kenapa ia bisa memutuskan untuk mengandung seorang anak.

Kenapa ia memilih untuk pergi dari rumah.

Lalu bagaimana peran Fubuki dalam hidupnya.

Kenapa ia tinggal di kekumuhan meski ia punya segalanya jika ia menginginkannya.

Apa yang sedang Akagi pikirkan.

Yang sedang ia rasakan.

Yang tengah ia nantikan.

Apa. Kenapa. Bagaimana.

Semua kata itu membuat Kaga berpikir keras.

Masih banyak hal yang harus ia lakukan jika ia ingin Akagi menjadi miliknya. Segala kenangan Akagi, kesedihannya dan segala serpihan tentang kehidupan Akagi, semuanya ingin Kaga miliki. Meskipun terkadang Kaga terlalu memaksa diri untuk menerima kenyataannya.

Kaga ingin belajar.

Sekali lagi ia ingin belajar. Belajar menerima kenyataan seperti yang dulu pernah ia lakukan. Kematian orang tuanya, dan latar belakang gelap keluarga yang ternyata mampu membuatnya memaksa diri untuk tetap bertahan meski selalu tergoyahkan.

Kaga ingin belajar.

Belajar memahami Akagi. Meski ia tahu segalanya tak mungkin bisa membuatnya bahagia.

Tapi, meskipun begitu, ia akan mengupayakan segalanya. Mungkin akan ada hal yang benar-benar indah yang tengah menunggu sentuhan dan campur tangannya.


.

Ketidakhadiran Akagi, Kaga manfaatkan sedemikian rupa untuk tujuan pribadinya. Berkedok masalah perusahaan yang Shoukaku lakukan; dengan menggelapkan dana observasi yang menyalah dari laporan-laporan yang telah nyata di lapangan. Maka Kaga memerintahkan Shoukaku untuk datang menghadapnya.

Desas-desus mulai bermunculan. Perintah pemanggilan Shoukaku menjadi bahan pembicaraan. Semua divisi bersuara akan kenyataan, apalagi saat Shoukaku tahu-tahu sudah memasuki ruangan divisi tempat Kaga bernaung. Mengarah dengan langkah ragu ke ruangan milik Kaga. Mengabaikan pandangan milik semua orang yang menatap ingin tahu padanya.

Sudah menjadi sebuah asumsi mutlak yang tidak bisa diganggu gugat di dalam perusahan, bahwa belum pernah ada sekalipun seseorang dengan jabatan selain Direktur dan Manajer yang menerima perintah langsung untuk menghadap direktur utama di ruangannya.

Jadi wajar jika kedatangan Shoukaku yang hanya menjabat sebagai kepala tim observasi lapangan, menjadi sebuah perbincangan paling panas di seantero ruang divisi manapun.

Bahkan Kongou dan Musashi sempat tidak percaya, jika tahu-tahu Nagato memberi perintah pada mereka untuk memanggil Shoukaku agar menghadap Kaga di ruangannya.

Nagato menjadi resah.

"Apa akan terjadi sesuatu?" tanya Mutsu seraya berbisik sebab ia tidak begitu tega melihat Nagato duduk sambil menekan dahinya. Sambil menyerahkan beberapa laporan yang menjadi kepentingan bagi Nagato.

"Dia melakukannya saat Akagi tidak ada."

Mutsu bisa mendengar nada suara Nagato yang begitu berat. Meskipun pada kenyataannya Shoukaku tidak lagi berada dalam tanggungjawabnya sebagai direktur, tapi jika mendapati tindakan Kaga yang akhirnya melakukan sesuatu pada Shoukaku saat Akagi tidak ada, mungkin rasanya Nagato wajar merasa gelisah.

Mutsu paham keadaan jiwa Nagato. Paham jika ini akan menjadi bagian terburuk jika Akagi tahu bagaimana tindakan Kaga atas Shoukaku tanpa sepengetahuannya. Jika Kaga memang tidak memberinya sanksi, itu mungkin tidak apa. Tapi, bagaimana jadinya jika tahu-tahu Kaga melakukan hal lain yang tidak mungkin bisa Akagi terima atas Shoukaku.

Kongou mencuri dengar percakapan Nagato dan Mutsu dari bilik kerjanya. Selalu saja, jika ini menyangkut tentang Akagi, ia begitu ingin mendengarnya. Apalagi ini merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi di perusahaan yang selama empat tahun ia bekerja di sana.

"Apa tidak lebih baik kau mendampinginya sebagai direktur yang pernah menjadi atasannya?" tanya Mutsu ragu. Setidaknya ia ingin meyampaikan pendapatnya.

"Aku tidak yakin bisa membantu." Balas Nagato menolak.

.

.

.

Shoukaku menarik napasnya ragu. Tangannya telah siap membuka pintu ruangan Kaga. Meski ia tidak melihat, tapi ia tahu berapa banyak pandangan mata yang menantikan tindakannya.

Ini mungkin akan berakhir buruk bagi dirinya. Di saat ia telah mengatakan sesuatu yang buruk tentang Kaga subuh kemarin saat berada di kediaman Akagi. Apalagi yang bisa ia bayangkan jika ia sudah melakukan kesalahan seperti itu? Biar bagaimanapun, Kaga adalah direktur utama. Meskipun ada urusan pribadi di antara mereka yang tidak sejalan, tapi Shoukaku sadar jika ia sudah keterlaluan saat menghadapi Kaga.

Shoukaku sedikit terperangah ketika ia mendapati Kaga tidak sendiri di ruangannya. Suara pintu yang terbuka, memaksa satu bayangan lagi yang ada di sana untuk memandang ke arahnya. Dan tersenyum ramah.

"Ma-maaf aku mengganggu-"

"Tidak. Kau datang di saat yang tepat. Karena tidak hanya denganmu, aku juga ingin bicara dengan Yukimura secara bersamaan." Seru Kaga cepat sebelum Shoukaku memundurkan langkahnya.

Gugup.

Tidak ada hal lain yang bisa Shoukaku rasakan saat ini selain rasa gugup. Ini bukanlah hal yang sempat ia bayangkan. Ia pikir ia akan berbicara empat mata dengan Kaga di ruangan ini. Mendapat makiannya. Menerima semua hal yang akan mengguruinya. Tapi, yang ini.

Ini tidak sejalan dengan rencana otaknya.

Di sampingnya, Yukimura tengah duduk tenang, sambil memandangi Kaga yang tengah membereskan beberapa berkas di atas mejanya. Hingga membuat Shoukaku curiga akan sesuatu. Jika ini bersangkutan dengan pekerjaan, untuk apa Kaga membereskan mejanya.

"Maaf telah memanggil kalian berdua ke ruanganku." Ucap Kaga memulai pembicaraan. Dilihatnya Shoukaku yang tengah menunduk, dan tanpa ia tahu, kedua tangan Shoukaku saling mengerat gelisah.

"Untuk apa meminta maaf, ini sudah menjadi hak seorang atasan untuk memanggil bawahannya." Respon Yukimura jujur tanpa berkelit.

Sambil memperhatikan Shoukaku, Kaga mulai mencoba serius dengan pembicaraannya. Ia tidak suka bertele-tele. Ditatapnya wajah Shoukaku yang tersembunyi gelisah dengan raut wajah yang bisa Kaga maknai sendiri.

Tapi, ia tidak punya waktu untuk merasa iba.

"Tidak. Aku memang harus meminta maaf sebab ini tidak ada urusan apapun dengan pekerjaan." Shoukaku menelan ludahnya perih. "Ini tentang Akagi." Hingga satu nama yang baru keluar dari bibir Kaga, membuat jantung Shoukaku nampir berhenti berdetak.

Kaga bisa lihat, Yukimura tidak begitu merespon nama Akagi secara berlebihan. Tatapannya masih tenang. Gerakan tubuhnya masih bisa Kaga pelajari dengan baik. Tidak begitu banyak perubahan yang Kaga tangkap dari sana. Berbanding terbalik dengan tingkah laku Shoukaku yang semakin dalam bersembunyi dalam keresahaannya.

"Akagi-san?" tanya Yukimura ingin tahu.

"Ya. Dia sedang hamil."

"HENTIKAN OMONG KOSONG INI KAGA-SAN!"

.

.

Shoukaku tidak tahu mengapa. Tapi mendengar Kaga mengatakan itu dengan tenang di depan orang lain membuat Shoukaku marah luar biasa. Apalagi ini dengan Yukimura. Apa Kaga tidak tahu bagaimana perasaan Akagi jika wanita itu sampai tahu bahwa Kaga telah melakukan kesalahan paling besar dengan mengatakan semua ini?

Yukimura sempat kaget dengan teriakan Shoukaku yang langsung berdiri memukul meja kerja Kaga tanpa peduli. Melihat Shoukaku yang tengah marah mungkin jauh lebih mengejutkan dari pada sekedar mendengar kenyataan yang baru saja Kaga sampaikan.

"Jaga sikapmu, Shoukaku-san. Kau masih berada di ruangan atasanmu." Perintah Kaga datar.

"Lalu, apa maksudmu dengan melakukan ini? Jika hanya ini tujuanmu memanggilku, aku tidak akan pernah mau menurutinya." Kecam Shoukaku menahan amarah.

Kaga tidak peduli. Diabaikannya tatapan Shoukaku, lalu kembali menatap Yukimura yang tengah mencoba membaca situasi. Kehamilan Akagi? Kenapa Shoukaku begitu marah akannya.

"Aku sudah tahu." Dan saat Yukimura mengucapkan kalimatnya. Giliran Shoukaku yang terbelalak mendengarnya. Dengan tenang, Yukimura menarik napas dan menghembuskannya. Shoukaku ingin menangis. Setidaknya ia tahu bagaimana Akagi berusaha menguatkan diri akan kenyataan yang tengah ia hadapi. Kembali ia duduk di kursinya. Menahan amarah juga tangisan yang mungkin akan keluar kapan saja. Sedang Kaga mencoba untuk tetap tenang, meski tanpa sadar perasaannya mulai bergejolak riuh bagai riakan ombak.

"Tapi, dia bilang itu bukan anakku."


Kaga mengumpat berkali-kali dalam hati. Dalam keheningan ini ia ingin berteriak sekuat tenaga. Semampu yang ia bisa demi mengungkapkan kekesalan dan kekelaman perasaannya.

Sedang Shoukaku hanya mampu terisak dalam kesedihan.

Yukimura baru saja keluar dari ruangan. Meninggalkan Shoukaku yang masih menunduk sedang Kaga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tidak ada lagi yang harus ia tanyakan, meski sebenarnya segalanya masih menjadi pertanyaan. Cukuplah, mengetahui seberapa banyak Akagi telah tidur dengan pria itu sudah membuat Kaga sakit berkali-kali.

.

.

"Aku akui, kami pernah tidur beberapa kali. Berawal dari teman minum dan semuanya terjadi begitu saja. Selalu begitu saja dengan cara yang sama. Berbeda dengan wanita lain, Akagi tidak pernah mau melakukannya jika ia tidak dalam keadaan mabuk. Tidak sepertimu Shoukaku-san."

Cukup.

Shoukaku tidak mau mendengar kalimat itu keluar dari mulut Yukimura hanya dengan perasaan sesantai itu. Sedang Kaga hanya tetap diam. Berusaha untuk tidak mengacaukan keadaan jiwanya yang mungkin telah tergoyah oleh kenyataan ini.

"Sebenarnya dia tidak akan pernah mau mengatakannya padaku jika saja aku tidak memaksanya bercerita dengan mengupayakan pemecatan akan Shoukaku-san." Yukimura tidak bergetar mengatakannya. Meski di sisinya, nama yang baru ia sebutkan tengah mendengar dengan kemarahan.

"Tapi, dia selalu yakin jika aku bukan ayahnya. Meskipun sebenarnya aku ingin memilikinya."

.

Kaga sangat marah.

Kaga tidak tahu bagaimana caranya meredam kemarahan yang begitu cepat merayap di seluruh tubuhnya. Bagai bara api yang tengah menyala-nyala. Kaga seperti bisa merasakan seluruh tubuhnya tengah terbakar hebat.

Diabaikannya Shoukaku yang kali ini terisak secara terang-terangan tanpa menutupi apapun juga. Ia meraung, dan menjerit dengan jeritan tertahan. Secara tidak langsung, Kaga seperti sedang merasakan ada ribuan ton penyesalan yang tengah menyelimuti Shoukaku saat ini. Menimpanya, menghancurkannya habis-habisan tanpa perlawanan.

"Maafkan aku. Ma-maafkan aku Kaga-san." rintihnya dengan tangisan.

.

.


.

.

Kaga berdiri di sisi kaca yang menjadi dinding ruangannya. Dinding kaca yang menampilkan seberapa ramainya riuh-riuh lalu lintas di bawah sana. Berharap ada sisa keramaian dari sana yang bisa ia rasakan. Namun rasanya percuma.

Kini tengah senja. Akagi tidak ada di sekitarnya. Biasanya, tanpa lelah mengenang, Kaga akan suka senja-senja yang ia lewati di gedung itu jika bersama dengan Akagi, di ruangannya. Tapi kini, Akagi tergantikan dengan sosok Shoukaku yang kembali terdiam, di tempat yang sama dengan tempat yang ia duduki pagi tadi.

Kaga sengaja memerintahkannya untuk datang menghadapnya setelah jam kerja selesai, meski Kaga masih bisa memastikan beberapa orang pekerjanya masih memenuhi ruangan divisinya. Untuk itu, demi mengulur waktu, Kaga melenakan dirinya dengan gumpalan-gumpalan kesepian yang memaksanya untuk menikmatinya.

"Apa kau sudah mengunci pintunya?" Kaga melangkah. Kembali ke tempatnya berkuasa. Dengan tatapan sekilas pada Shoukaku yang mengangguk padanya. Ia harap malam ini keadaan benar-benar berpihak padanya.

Senja telah berganti menjadi kegelapan. Seakan menyerupai kelam-kelam yang samar di hati Kaga maupun Shoukaku di sana. Dengan membiarkan waktu mencekam mereka, Kaga masih terus memikirkan bagaimana ia harus memulai untuk berbicara. Ia sudah kehilangan seluruh kata untuk ia sampaikan.

"Aku minta maaf." hingga pada akhirnya Shoukaku-lah yang akhirnya memulai.

Kaga mengabaikannya.

"A-aku minta maaf." dan kembali tangisan itu terdengar.

"Untuk apa kau meminta maaf padaku?" Kaga menyandarkan punggungnya ke kursi kekuasannya. Bergoyang-goyang sedikit seakan sedang berusaha mengacaukan kesedihan hatinya. Tanpa memandang Shoukaku, ia berpaling dari wanita itu.

"Karena aku tidak tahu harus mengatakannya pada siapa." Isaknya tak tertahan.

.

.

Kaga sengaja, membiarkan waktu di antara mereka terus berjalan. Setidaknya dengan begini akan memberikan waktu bagi Shoukaku untuk kembali tenang, karena biar bagaimanapun Kaga ingin menanyakan segalanya.

Tentang Akagi, lebih banyak lagi pada wanita ini.

Kaga melangkah, mendekati sebuah benda yang terlihat seperti lemari es berukuran kecil di sudut ruangannya. Membukanya, dan mengeluarkan dua kaleng minuman.

Lalu, meletakkannya tepat di hadapan Shoukaku, sedang ia lebih memilih duduk di atas meja yang tidak jauh dari Shoukaku berada. Berhadapan dengan wanita itu, meski tidak dalam satu garis yang sama.

"Kau siap, menceritakan segalanya untukku?" tanya Kaga, sambil membuka minuman kaleng yang telah berada di genggamannya. Lalu meneguknya pelan-pelan, sembari memberi waktu bagi Shoukaku untuk menyetujui permintaannya. Dan dengan satu anggukan kecil, Kaga mendapatkan apa yang ia mau dari wanita ini.

"Minumlah dulu." Bisik Kaga sebelum ia kembali melangkah duduk di kursinya. Berjarak sebuah meja kerja dengan Shoukaku.

Shoukaku meletakan kaleng minumannya. Menunduk masih menjadi kegiatannya satu hari ini selama berada di ruangan Kaga. Sedang Kaga sudah siap mendengar apapun dari wanita ini.

Segalanya.

Semua hal yang ia inginkan mengenai Akagi, juga masa lalunya.

"Apa jenis hubunganmu dengan Akagi-san."

Kaga memulai.

"Teman-"

"Aku ingin kejujuran, Shoukaku-san." Kaga memotongnya cepat. Mungkin mereka memang berteman. Tapi, kejadian di hari pertama Kaga bekerja di perusahaan ini bukanlah hal yang bisa diabaikannya dengan mudah. Beberapa kali ia ingin penjelasan akan apa yang tengah dilihatnya kala itu. Tapi baru ini ia memiliki kesempatan. Melihat Shoukaku sampai berlutut seperti itu di hadapan Akagi, bukanlah sesuatu yang bisa ia percumakan begitu saja.

"A-aku..." Shoukaku merasa gugup. Tapi ia berusaha untuk mengulang kembali segalanya tentang mereka. "Enam tahun lalu, Akagi-san menabrak adikku." Mungkin, biarlah segalanya dimulai dari sana.

"Dan menyebabkannya lumpuh hingga detik ini."

Kaga berusaha untuk tetap tenang. Jika ia terlalu banyak bertanya di saat Shoukaku sedang bercerita, mungkin hanya akan merusak kenangan Shoukaku saat sedang memulai segalanya.

"Akagi -san mengupayakan segalanya demi kesembuhan adikku, tapi semuanya tidak menghasilkan apa-apa. Karena kecelakaan itu, kami pun sering bertemu dan saling mengenal. Ia selalu datang menjenguk ke rumah sakit. Prihatin, merasa bersalah dan bertanggungjawab sepenuhnya. Kemudian, pada akhirnya ia menawarkanku sebuah pekerjaan. Dan berjanji akan terus menanggung semua biaya dan kebutuhanku juga adikku. Aku tidak tahu kenapa ia berusaha sekeras itu. Saat aku menyuruhnya untuk berhenti mengkhawatirkan kami, dia hanya bilang bahwa 'kehilangan orang yang kita sayang terasa seperti telah mengalami kematian di antara kehidupan'. Dan aku tak pernah bisa menghentikannya."

Shoukaku masih menunduk. Ia remas tangannya akan masa-masa sulit yang pernah ia alami. Segalanya telah tampak begitu menyakitkan. Perlahan, ia sadar Akagi begitu menderita karena tanggungjawab yang telah ia paksakan.

"Ditahun-tahun awal. Adikku membutuhkan dana besar untuk penyembuhannya. Melakukan operasi berkali-kali, dan Akagi yang membiayainya. Dia merelakan segala asetnya dan menjualnya. Dia selalu datang padaku, memberiku keyakinan jika segala hal bisa diubah jika kita percaya. Disaat-saat itu aku ingin menangis. Ia telah melukai dirinya sendiri. Dia menjual segala hartanya. Memilih untuk menetap di apertement sederhana demi rasa tanggungjawab bedebah yang selalu ia ucapkan. Aku merasa bersalah. Sangat bersalah. Ribuan kali aku mengatakan padanya jika ia tidak perlu melakukan semua ini. Zuikaku tidak perlu lagi diobati. Tidak perlu lagi mengupayakan kesembuhan saat dokter-pun sudah menyerah akan semuanya. Dia membuatku kesal. Dia membuatku marah. Dia berlaku begitu tegas pada tanggungjawabnya. Kebaikannya membuatku muak dan itu terjadi begitu saja."

Jadi itulah mengapa, seorang manajer di sebuah perusahan besar yang sedang Kaga pimpin memilih hidup di apertement sederhana? Jadi karena ini sebabnya.

Shoukaku tidak bisa menahan emosinya yang meluap. Semua perasaannya bercampur menjadi satu. Rasa marah. Kesal. Rasa terima kasih. Syukur. Gelisah. Dan kekalahan hadir satu persatu dan datang secara menyeluruh.

"Lalu, apa hubunganmu dengan Yukimura?" sampai Kaga tidak paham kenapa kesesakan yang Shoukaku ceritakan membuat pandangannya begitu basah dan gelap.

Shoukaku tak ingin mengulang seberapa menjijikannya dirinya di masa lalu. Tapi, karena ia telah memulai bercerita. Mungkin ia tidak akan mungkin bisa menghindari beberapa serpihan yang ingin ia simpan hanya untuk dirinya saja. Entah mengapa, Kaga berhasil menguasai pikirannya. Kaga mungkin bisa ia percaya. Sebagaimana Akagi percaya dengan Kaga tentang kehamilannya.

"Aku merebutnya dari Akagi-san."

Shoukaku tak sanggup melanjutkannya. Ditutupinya wajahnya yang basah degan kedua tangannya. Airmata penuh rasa bersalah itu jatuh tak tertahan. Kenapa ia sanggup melakukan tindakan seburuk ini pada Akagi. Padahal, Shoukaku lebih tahu bagaimana Akagi mencintai pria itu.

"Dengan alasan konyol yang tak berarti apa-apa. Yang akhirnya membuatku jatuh cinta padanya." lanjut Shoukaku kelam.

Kaga meremas angin dalam genggamannya. Ia tahu bagaimana rasanya. Terlalu pelik dan menyesakan. Di satu sisi Shoukaku memiliki alasan, dan di sisi lain Akagi tak mampu mempertahankannya.

"Akagi-san selalu melakukan semua hal yang tidak kuinginkan. Dia memenuhi semua kebutuhanku, terlalu baik padaku. Hingga sesekali aku ingin ia mengurusi hidupnya saja tanpa mencampuri semua kehidupanku dan adikku. Untuk itu, berawal dari rasa seperti itu, aku bertaruh untuk bisa membuat hidupnya hancur, dan kembali pada kehidupannya sendiri. Sebab, mungkin hidupnya terlalu indah hingga dia mengurusi masalah kehidupan orang lain. Tapi saat aku mulai berhasil mendapatkan Yukimura. Ia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Dia tidak pernah marah padaku, melampiaskan kekesalannya akan hidupnya yang kubuat hancur berantakan. Sampai aku mengaku bahwa aku mencintai Yukimura, dan ia memilih menyerahkan segalanya padaku." isakannya terdengar lebih keras kali ini.

Kaga menahan gumpalan bening yang memenuhi kelopak matanya.

Tidak. Ia tidak ingin ikut merasa sedih hanya karena kisah dramatis yang Shoukaku ceritakan. Meski ia akui hatinya terasa hancur mendengarnya.

"Dia tidak pernah menyalahkanku. Dia tidak pernah mengutukiku. Dia tidak pernah memakiku meski berkali-kali aku mengatakan padanya jika aku dan Yukimura telah tidur bersama. Dia tidak melakukan apa-apa." Shoukaku juga ikut merasa perih. "Sampai aku mendengar dari Yukimura, bahwa dia akan menikah, aku pun merasa hancur berkali-kali lipat. Yukimura, hanya tertarik pada setiap desahan dari semua wanita yang ditidurinya. Dia tidak pernah tertarik pada wanita yang rela tidur dengannya hanya karena sebuah kehangatan yang ia janjikan. Setelah aku berpisah dengan Yukimura, Akagi tidak pernah merasa ingin mengusirku dari kehidupannya. Ia tetap menganggapku ada. Berbuat baik padaku. Berkali-kali lipat. Dan itu membuatku berulang-ulang ingin merusak ketegaran hatinya. Kebaikannya membuatku kesal. Kekuatannya membuatku marah. Kenapa ia bisa bertahan hidup dengan cara yang paling menyakitkan seperti itu? Tidak masuk akal 'kan? Kenapa Akagi bisa menjadi manusia yang sekuat itu saat semua kehidupannya telah dihancurkan oleh orang yang paling dekat dengannya!?"

Kaga masih tetap diam mendengarkan.

"Dia membuatku kesal. Dia membuatku marah. Dia rela melepaskan Yukimura karena dia tahu aku juga mencintainya. Dia masih terus membiayaiku meski ia tahu aku tidak memerlukannya. Semua kejadian terus berlalu seperti itu. Aku tetap membuat masalah, dan dia selalu menerima dan memaafkan kesalahanku. Aku memaksa untuk keluar dari perusahaan, dan dia mencegahku. Hingga keadaan terus berlanjut dan kau melihatnya saat itu." Shoukaku berhenti sejenak. Napasnya memburu karena cerita yang terkenang itu telah membuka kembali luka-luka lamanya. "Aku tetap memaksa untuk keluar dari perusahaan, membiayai hidupku sendiri. Tapi dia tidak mengijinkannya. Sampai dia pun mengancam jika aku keluar, dia juga akan keluar. Dan kau tahu Kaga-san?"

"Tidak."

"Itu membuatku merasa tidak bisa lari kemana-mana. Bagaimana aku tega membiarkannya keluar dari perusahaan sedangkan ia tetap berjanji akan membiayai kehidupanku dan adikku. Ini sangat menyiksaku. Sangat menyiksaku. Dan-"

"Dan kau sengaja melakukan kesalahan itu terus menerus dengan alasan yang sama?"

Kaga benar.

Semua kesalahan yang Shoukaku lakukan hanya untuk alasan yang sama. Seandainya ia bisa membuat Akagi memecatnya, melakukan apapun ia mau. Ia tidak suka Akagi menghancurkan hidupnya dan terlalu memedulikannya saat ia sudah melakukan semua keburukan untuk menunjukan penolakannya.

Mendengar ucapan Kaga, Shoukaku mengangguk. Isakan dan air matanya masih tetap menjadi pemandangan paling lekat di mata Kaga.

Jadi itulah alasannya.

Jadi itulah yang Shoukaku tahu dan rasakan selama ini terhadap Akagi.

Kaga bisa memahaminya.

Cukup bisa, sampai satu pertanyaan lain muncul di pikirannya. "Lalu, bukankah hubungan Yukimura dan Akagi telah berakhir? Saat kau bersama dengan pria itu. Lalu kenapa Yukimura begitu yakin Akagi mengandung anaknya?" Kaga bertanya. Harusnya Yukimura dan Akagi sudah tak lagi menjalin hubungan bahkan sebelum Yukimura menikah 'kan? Lalu kenapa, pernyataan Yukimura tentang ayah dari anak yang Akagi kandung menyatakan seolah-olah mereka baru tidur bersama beberapa waktu terakhir ini.

Shoukaku pun tidak tahu. Ia tidak pernah tahu jika Akagi kembali menjalin hubungan dengan Yukimura akhir-akhir ini. Jelas, karena Yukimura telah menikah. Dan itulah mengapa ia mengatakan ketidakmungkinan yang mutlak saat Kaga menyebut nama Yukimura sebagai pria yang telah menghamili Akagi. Karena yang Shoukaku tahu, Akagi dan Yukimura sudah bertahun-tahun berpisah.

"Dia memang penuh dengan banyak misteri." Shoukaku mengusap airmatanya.

.

Menceritakan beberapa kepingan masa lalu kepada Kaga mungkin bukanlah sesuatu yang buruk. Jika Akagi memercayainya. Kenapa Shoukaku tidak bisa? Bukankah dulu pun Kaga tidak pernah mengumbar kejadian lalu tentang ia dan Akagi pada hari pertama bekerja kepada semua orang?

Kaga paham sekarang. Sebagian kisah Akagi sudah ia genggam. Sakit berkali-kali menjadi makanan yang membuatnya kekenyangan kenyataan yang menyedihkan. Akagi telah melalui segalanya. Akagi hanya tidak bisa lari dari tanggungjawabnya. Kekuatan dan tanggung jawab membuat Akagi menjadi pribadi yang menyebalkan bagi Shoukaku karena terlalu peduli padanya.

Mungkin, Kaga mengakui jika Akagi memang seperti itu. Akagi nya. Memang mungkin seperti itu.

.

.

.

.


NB : Ya Tuhan. Saya kaget ternyata masalalu Akagi begitu :'( syedih sumpah. Akagi kuat amat yaoloh.

Kaga yang tabah ya. Shoukaku ternyata saingan berat.

.

.

.


Kaga mengetuk pintu kamar Akagi berkali-kali. Malam akan larut, dan Kaga tidak peduli. Untung saja Fubuki membukakan pintu baginya. Dan langsung beranjak tak peduli karena rasa kantuk yang menderahnya. Meninggalkan Kaga seorang diri dengan kebimbangannya. Dan masih berdiri, di depan pintu berharap Akagi membukakannya.

"Kaga-san?" dan menit-menit kemudian, Kaga mendapati bayangan itu sudah hadir di hadapannya. Dengan perasaan lembut, menatap matanya.

Kaga selalu terpukau. Wanita ini membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Menelanjangi perasaannya. Mengontrol detak jantungnya.

Kaga bagai seekor burung yang lelah dalam perjalanan dan ingin kembali ke dalam sangkar, dan Akagilah tempatnya.

Meski bingung, Akagi tidak menolak saat tahu-tahu Kaga mendekapnya tanpa perhitungan. Mengusap belakang kepalanya di antara surai-surainya yang terurai. Kaga mendekapnya begitu erat. Merasakan kehangatan tubuh Akagi yang tidak ada apa-apanya dibanding rindu yang membakar dirinya.

Kaga mendekapnya erat.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" bisik Akagi yang masih hanya diam, sedang tangannya masih memegang gagang pintu dan belum terlepas.

Kaga mengangguk lembut di antara perpotongan bahu dan leher Akagi. Menutup matanya, menghirup aroma tubuh Akagi yang telah dikenalinya. Perasaan aneh muncul di perutnya. Bagai kembang api yang menyala-nyala dan melepaskan percikannya.

Kaga cinta wanita ini.

"Aku membutuhkanmu. Karena jika kau tidak ada, aku tak bisa bernapas dengan normal." Bisik Kaga mengeratkan ikatan tangannya di pinggang Akagi, kakaknya.

"Kaga-san?" Akagi cukup bingung.

"Ssssttt..." Kaga melangkahkan kakinya. Masih saling mendekap. Masih memejamkan mata. Dengan langkah kakinya, ia memaksa Akagi mundur meski wanita itu masih berada di pelukannya. Akagi melepas genggaman gagang pintu di tangannya. Membiarkan Kaga menuntunnya, karena jika ia melawan, mungkin mereka akan terjatuh karena ketidakseimbangan.

Bagaikan sepasang kekasih yang sedang menari, mereka melangkah, Kaga masih terus mendekap. Menghirup dan terpejam. Sampai pada akhirnya mereka berada di tepi ranjang, dan terhempas bersamaan.

Akagi tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Kaga menghempaskannya dengan lembut tanpa menyakiti tubuhnya. Menjaga dirinya. Melindunginya.

Dengan posisi seperti ini, Akagi bisa melihat seberapa lelah raut wajah Kaga di hadapannya. Telah menindihnya, dan Akagi terkurung dalam kekangan dari kedua tangan Kaga yang kini tengah menahan tubuhnya.

"Aku mencintamu Akagi-san." tidak pernah lelah, Kaga selalu mengucapkannya. Seakan tidak ada hari esok baginya untuk bertemu dan mengucap cinta.

"Tapi aku kakakmu." Bisik Akagi yang ditatap intens oleh adiknya, Kaga.

"Aku tak peduli, meski dunia mengatakan penolakannya. Tapi aku mencintaimu."

Akagi, juga seakan tak ingin merasa bosan akan kata cinta yang Kaga ucapkan. Seakan tak menjadi keasingan lagi baginya mendengarkan ungkapan cinta dari orang yang harusnya tidak ia harapkan. Tapi, Kaga menjadi sesuatu yang lama kelamaan terasa berbeda.

"Kau sangat lelah, apa ada masalah?" tanya Akagi mengalihkan pandangan Kaga yang sarat akan cinta. Ia masih belum bisa, tapi menolak pun rasanya tidak sanggup. Kaga tidak pernah menyakitinya. Keberadaan Kaga walau mendadak, tapi selalu bisa berakhir manis tanpa ia duga. Tanpa sadar, Akagi ingin terbiasa.

"Ya. Masalahnya karena kau mencuri hatiku."

Dan tanpa Akagi sadar, bibirnya telah terkunci oleh lembabnya bibir Kaga. Tubuhnya terhimpit, dan rasa hangat menjalar menyampaikan rindu dari Kaga ke tubuhnya. Kaga tahu, Akagi hanya diam tak membalas kecupannya. Tapi, dengan sabar ia berusaha menyelipkan tangannya di antara kecupan itu, dan menyentuh dagu Akagi. Menekannya hingga bibir Akagi terbuka tanpa paksaan dan membiarkan lidah mereka menarikan sesuatu dari detakan yang Kaga rasa dalam dadanya.

Kaga cinta wanita ini.

"H-hei. Kau ada masalah?"

Akagi tidak mau terlena lebih lama. Didorongnya pundak Kaga dan mereka melepas kecupan panjang yang basah di antara mereka. Napas mereka saling menabrak dan beradu. Sebelum Kaga menjawab, dikecupnya kembali bibir Akagi, namun begitu singkat. Karena Akagi menghentikannya.

"Kaga-san." desak Akagi ingin tahu.

"Pulanglah ke rumah, Akagi-san. Agar hidupku bisa tenang."

.

.

.

.


NB + : Kaga. Selangkah lagi untuk kumpul kebo ama Akagi! Good job!