.
.
Spica Zoe
Present
AKKG Fiction
.
Disclaimer
Chara : Kadokawa Games
Story : Spica Zoe
.
"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."
.
Akagi - Kaga
.
Kaga tidak mau kemarahannya menguasai seluruh pikirnya. Keputusannya lah yang memilih untuk terpikat dan jatuh hati pada Akagi. Dan harusnya ia lah yang paling paham bagaimana sikap Akagi. Keputusan Akagi yang lebih memilih membela Shoukaku di depan semua orang bukanlah tanpa alasan. Tapi, Kaga selalu menderita jika hal-hal seperti itu kejadian.
Ia tidak suka, perhatian Akagi teralih darinya. Ia hanya ingin Akagi selalu menatapnya, memihaknya, mendukungnya apapun itu. Tidak kepada orang lain, tidak pada siapapun, karena Kaga sudah terlalu ingin memiliki Akagi seorang diri.
Panggilan nama yang Akagi ucapkan dua-tiga kali padanya dalam langkah tergesa, tak Kaga pedulikan. Masih teringat jelas bagaimana kejadian siang tadi yang membuat dada Kaga begitu terbakar karena amarah dan cemburu. Lantas adakah alasan bagi Kaga untuk mendengar Akagi memberi penjelasan?
Penjelasan? Tidak. Kaga tahu, Akagi bukan tipe wanita yang mau memberi penjelasan meski telah dipaksa bicara. Lalu, mau apa wanita tiga puluh dua tahun itu mengikuti langkah kaki Kaga sampai ke arena parkir?
Dan pemikiran itu membuat langkah kaki Kaga terhenti.
"Untuk apa kau mengikutiku?" bisik Kaga dengan nada perasaan kandas yang tak bisa ia ubah. Tanpa menoleh, ia menunggu Akagi bicara dan menjawab pertanyaannya. Apa yang Akagi pikirkan, malam-malam begini masih berada di perusahaan meski ia pulang dengan berjalan kaki.
"Kau membiarkanku terlihat bodoh dengan memanggil namamu berkali-kali dan memohon agar kau berhenti?" kesal Akagi, melihat Kaga membalikan tubuhnya dan memandang kearahnya.
Tatapan mereka bertabrakan dengan lantang. Iris Kaga yang penuh kemarahan dan api cemburu, sedang milik Akagi teduh namun menenggelamkan.
"Aku tidak menyuruhmu untuk melakukannya." Bisik Kaga menjawab datar.
Akagi terdiam.
"Apa maumu, katakan." Kaga tidak tahu. Tapi tiba-tiba saja bibirnya berucap dengan nada yang begitu menyakitkan. Padahal siang tadi ia baru mendekap Akagi penuh dengan rasa rindu, namun kenapa sebentar saja perasaan itu berubah dengan rasa marah dan kekesalan.
"Jangan pernah tunjukan wajahmu di depanku lagi." Kaga terkejut.
Ada ketakutan yang tiba-tiba mengaliri tubuhnya. Membayangkan kalimat yang Akagi ucapkan terjadi dalam hidupnya bukanlah hal yang ia inginkan. Apa maksud Akagi tiba-tiba mengatakan hal yang menyakitinya seperti ini.
"Apa maksudmu? Apa semua karena wanita sialan itu?!" kesal Kaga muak. Jika yang lalu membuat dadanya panas dan terbakar karena emosi, kini kepalanya pun ingin meledak karena kini Akagi menatapnya tanpa rasa pengasihan sedikitpun.
"Jika memang karena dia, kau mau apa?" tantang Akagi tak gentar.
"Dan kini pun kau masih membelanya? Kemana pikiranmu Akagi-san!" Kaga menggeram. Diraihnya tangan Akagi dengan sabar yang tertahan, tetap tak membuat
Akagi takut akan tatapannya. "Dia telah merebut Yukimura darimu," Akagi menegang. Kenapa Kaga membawa-bawa nama Yukimura dalam percakapan ini? Dan kenapa pula Kaga bisa tahu ada satu hubungan antara nama Yukimura dan Shoukaku dalam hidupnya. "Dia telah meniduri Yukimura dan membuatmu menderita. Dan kau masih mau membelanya?" Muak bagi Kaga untuk mengatakannya, tapi jika cara ini bisa membuat Akagi berpikir ulang akan Shoukaku dan kehancuran hidup yang Shoukaku titip padanya, Kaga akan melakukannya.
"Apa yang kau katakan, Kaga-san?" Akagi mulai merasa panik. Dinginnya malam tak pernah bisa menusuk sampai ketulangnya, namun semua ucapan Kaga mampu membuatnya menggigil dan gemetar.
"Aku sudah tahu semua." Kaga menarik wajah Akagi untuk mendekati wajahnya. Menyelipkan kelima jari tangan kanannya di kepala bagian belakang Akagi, bersembunyi di dasar-dasar rambutnya dan mencengkeram kuat di sana.
Seakan tak memperbolehkan Akagi melihat hal lain selain matanya. Rahangnya mengeras, kulit wajahnya bergetar. Ada emosi, amarah, kasih sayang, rasa rindu dan cinta yang membuat semua rasa itu saling beradu di dadanya.
Napas mereka saling bertabrakan dalam imajinasi laknat, dan Kaga harus jujur jika itu memberinya sensasi. Seakan mampu menarik turun emosinya yang membumbung tinggi dan nyaris meledak.
"Aku, sudah tahu hubungan yang bagaimana antara kau dan Yukimura, juga Shoukaku-san di masa lalu." dan bisa Kaga akui jika ia pun tidak tahu kenapa tiba-tiba suaranya menjadi begitu lemah dan basah. Dadanya terasa sesak melihat iris Akagi yang semula teduh kini tengah berkilau basah, penuh ketakutan.
"Kaga ..." bisik Akagi tak terduga.
Dan dengan satu sebutan penuh kerapuhan itu akan namanya, jiwa Kaga yang tadi terbakar kini padam seketika, karena setetes air mata Akagi yang jatuh lolos begitu saja dari pandangannya.
"Anak itu, milik Yukimura 'kan?" Kaga menarik wajah Akagi untuk bersembunyi dalam dekapannya. Merengkuh tubuh wanita itu dengan hati-hati dan merasakan ketakutan serta kegelisahannya. Akagi menurut saja, tanpa ia tahu tangannya sudah membungkus di punggung Kaga dan meremasnya. Menggelengkan wajahnya yang sudah basah karena air mata bajingan yang tak tahu diri karena menunjukan rupanya.
"Jangan berbohong, Akagi-san." mohon Kaga peduli. Tetapi lagi-lagi Akagi menggeleng di dadanya. Isakannya yang terseduh membuat Kaga semakin mendekapnya penuh kasih sayang.
"Aku akan menjagamu. Aku ..."
Miris hati Akagi mendengar Kaga mengatakannya. Apa Kaga paham makna apa yang terkandung dari kalimat polosnya sebagai pencinta? Itu bukan hal yang buruk memang, tapi bagi Akagi dengan posisi yang dicintai, itu adalah kelemahan yang membuatnya tidak bisa lari kemana-mana.
Tahu pun Akagi tentang perasaan Kaga untuknya, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk itu, ia tetap diam. ia tidak ingin membalas rasa yang sama, tapi percuma jika semakin lama, Kaga semakin mampu melelehkan perasaannya yang dingin dengan kehangatan yang ia punya.
Perlahan, meski hanya perlahan, tapi tetap saja itu terasa.
"Aku mencintaimu Akagi-san." Kaga merengkuh lembut-bergetar di punggung dan pinggul Akagi, mendekapnya semakin dalam menempel di tubuhnya. Menyamankan kepala sang kakak di antara bahu dan lehernya.
"Aku tahu." Sedang Akagi, merasa begitu nyaman sampai ke ulu hati ketika ia merasa semua perlakuan Kaga pada tubuhnya begitu ia inginkan.
"Aku menyayangimu."
Akagi mengangguk rindu. Tidak tahu kenapa, tapi rasa hampa di hatinya kini telah terisi suara Kaga, kehangatannya, memenuhinya perlahan.
"Aku tahu." Jawabnya sambil meremas semakin erat alas yang membungkus punggung adiknya.
"Aku membutuhkanmu."
"Kaga ..."
"Sungguh. Aku sungguh membutuhkanmu."
.
Akagi tahu, masih ada perkara yang harus ia selesaikan. Shoukaku memuntahkan semua fakta tentangnya dalam sekejap. Dan kini, karena itu pula pertengkaran di antara ia dan Kaga terjadi.
Rasa rindu yang membisukan semua bahasa tubuh di antara mereka, tertuntun dalam satu kecupan panjang yang Kaga sisipkan di bibir basah Akagi.
Akagi terpejam.
Dua bulir yang tersisa di kedua pelupuk matanya menetes.
Kecupan basah Kaga terasa hangat, tidak sama dengan hangat yang pernah ia kecap. Hangat yang Kaga berikan tidak sampai membakarnya, namun membuatnya terlena.
Akagi, tidak pernah menyangkal kenikmatan yang menghampirinya meski dari siapapun dulu. Diumurnya yang matang dalam segala hal, mendorong keinginan seks yang cukup kuat pada waktu-waktu tertentu.
Alasannya hanya karena ia tidak mau berpikir terlalu banyak, hingga ia butuh pelarian untuk menggantikan isi pikiran penatnya dengan gairah seks penuh damba. Kaga melepaskan kecupan panjang yang mengikat deti-detik di antara mereka. ia menikmatinya, syukurlah. Tapi iris mata Akagi malah menunjukan keraguan.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Kaga peduli. Menarik wajah Akagi agar tatapan wanita itu mengikat tatapannya. Bibir Akagi yang basah, ia usap dengan ibu jarinya.
Bibir yang ia suka.
Akagi menggeleng sebagai respon.
"Bibirmu manis, Akagi-san. Boleh aku mengecapnya sekali lagi?" Akagi menarik jari Kaga yang mempermainkan bibirnya. Yang menekan bibirnya yang basah dan memberikan sensasi tersendiri di sana. Terakhir, Akagi mengingat Kaga lah yang membasahi bibirnya di senja ketika ia berkunjung ke rumahnya. Lalu, mereka menghabiskan malam di atas ranjang yang sama yang digunakan Akagi ketika remaja dulu.
"Aku lelah Kaga-" Sedikit mendadak dan begitu terburu-buru, Akagi kembali merasakan bibirnya dilumat oleh Kaga. Deruh napas gadis muda itu berubah menjadi nada yang menidurkannya. Akagi ingin berontak, tapi kendali hasratnya telah dikuasai gairah tersembunyi yang tadi tertidur kini terbangun. Dengan sadar, Akagi mengeratkan kesepuluh jarinya di kedua lengan Kaga.
Membuat tekanan di setiap ujung jari di atas kulit Kaga yang masih beralas seragam kerjanya. Membuat Kaga mau tak mau tahu bagaimana reaksi Akagi akan lumatan yang ia berikan di bibir sang kakak yang membuatnya ketagihan.
Hmmm...
Suara Akagi yang melenguh, mengubah desahaan di ujung lidahnya dengan cepat agar tersamarkan. Dirasakannya tangan Kaga mulai menjalar menelusuri lehernya, turun ke lekukan punggungnya. Meremas, memberi sensasi dan itu sanggup membuat nafsunya sadar dan membawanya melambung.
Suasana malam di parkiran memang sunyi. Tapi, meski kesunyian itu ada untuk membungkus lelehan nafsu mereka dalam gelap, tetap saja Akagi peduli pada semua hal yang berlaku di sekelilingnya.
Dilepasnya kecupan basah dan gelitik nafsu Kaga yang menggodanya dengan dorongan kecil di kedua bahu gadis itu. Tapi, sepertinya Kaga tak mau tahu alasan mengapa Akagi mendorong tubuhnya. Masih tetap ia kulum bibir Akagi yang telah memerah akibat remasan bibirnya. Menggigitnya ringan dan menariknya hingga bibir mereka terlepas erotis.
Kaga membuka matanya.
"A-aku masih ingin mencumbumu, Akagi-
"Hentikan." Akagi menutup mulut Kaga dengan cepat dengan telapak tangannya. Napas mereka masih terengah-engah kelelahan, saat itu, Akagi mendekap Kaga dan menariknya dalam pelukan.
Kaga terkejut.
"Yukimura."
Dan saat nama itu Kaga dengar keluar dari mulut Akagi, ada suara langkah kaki yang mulai mendekati mereka.
Akagi masih tetap menahan tubuh Kaga dalam pelukannya. Yukimura melangkah dari arah belakang punggung Kaga. Dan Akagi tidak ingin Kaga dan pria itu saling bertatap mata.
"Mencumbu seseorang di tempat seperti ini, bukan sifatmu sekali Akagi-san."
Meski awalnya Akagi ragu jika pemilik langkah kaki itu adalah mantan kekasihnya, tapi ada satu kebetulan yang tiba-tiba mengisi otaknya dan tanpa sadar ia menyebut nama itu dari mulutnya.
Kaga ingin melepas kukungan Akagi atas tubuhnya. Ingin melihat Yukimura di belakangnya. Tapi, dari cara Akagi menggenggam tangan Kaga dan menahannya, Kaga yakin Akagi berusaha menyembunyikan dirinya.
"Dan memergoki sepasang kekasih sedang bercumbu, aku rasa pun bukan sifatmu Yukimura." Tantang Akagi.
Pria itu terkekeh ringan.
"Seorang wanita?" Yukimura berhenti melangkah. Mengedarkan pandangannya kebayangan Kaga yang belum terlalu dikenalnya. Tinggi Akagi dan wujud lain itu hampir sama. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Yukimura. Dalam bias remang lampu yang menyala, Yukimura lebih tertarik dengan wujud Akagi yang ia rindukan.
"Terkadang rasa bosan mengecap batang pria tak berotak datang begitu saja." Ucap Akagi ringan, membuat Kaga terkejut. Ini pertama kali ia mendengar kata yang begitu kasar keluar dari bibir Akagi.
Yukimura memantau Akagi.
"Tidak semua pria yang pernah kau tiduri tidak berotak, Akagi-san. Dan, sejak kapan kau bicara kasar seperti itu dengan pria yang masih kau cintai?"
Kaga merasa remasan tangan Akagi pada tangannya mengerat. Apa kalimat itu membuatnya bereaksi seperti itu, atau karena Akagi memang masih mencintai pria ini.
"Pulanglah Yukimura." Akagi mengambil kalimat yang tidak Kaga duga. Kaga pikir kakaknya itu akan menantang Yukimura lagi dengan kalimat kasar lainnya, namun ternyata tidak.
"Kembalilah ke pelukan istrimu." Lanjut wanita hamil itu rapuh.
.
.
.
AN : Yaoloh Gi, Lu masih suka sama Yukimura?
.
.
.
Kaga mengangkat kepalanya. Setelah suara deru mobil Yukimura menghilang perlahan meninggalkan mereka, Akagi pun membiarkan kukungannya pada tubuh Kaga melemah. Dialihkannya wajahnya ketika Kaga berusaha menelisik raut kesedihannya yang tampak. Mungkin masih ada yang ingin ia sembunyikan dari gadis yang jelas-jelas telah mampu mengundang hasratnya beberapa menit tadi.
"Aku akan mengantarmu pulang." Kaga meraih wajah Akagi untuk tak melewatkan pandangan matanya pada wanita itu. Wajah Akagi dalam ekspresi apapun bisa mengoyak kesadarannya untuk memuja wanita ini selain Tuhan yang maha kuasa.
"Aku bisa pulang sendiri." Abai Akagi rapuh.
"Tapi malam ini aku ingin tidur denganmu."
Kaga masih tetap tenang. Nada suaranya yang tegas membuat Akagi bergeming sesaat. "Akan kubuat bayangan Yukimura lepas dari ingatanmu." Bisik Kaga melanjutkan kalimatnya.
.
.
Fubuki tak bersuara sepatah kata pun ketika Kaga memandangnya dengan tangan yang gadis pewaris itu genggamkan pada tangan Akagi. Seakan ingin menyombongkan diri, Kaga malah mendengus angkuh ketika gadis yang berbeda darinya beberapa tahun itu mengekspresikan wajah penuh tanya.
Waktu telah menunjukan pukul sebelas malam, dan Akagi masih terkunci oleh genggaman tangan Kaga pada tangannya.
"Aku pulang." Bisik Akagi menyapa hening di ujung lidah Fubuki.
"Aku masih tidak tahu hubungan apa antara kau dan dia nee-san dan kenapa aku harus membiarkannya masuk dalam rumahku padahal aku tak mengizinkannya."
Akagi memandang wajah serius Fubuki, lalu menggantinya dengan pandangan wajah Kaga yang menggeram.
"Dan, kau sendiri. Apa hubunganmu dengan kakakku?" Kasar Kaga menatap Fubuki. Mungkin mereka lahir di bulan yang sama hingga mereka tidak pernah akur. Di satu sisi Fubuki merasa tidak suka dengan keangkuhan Kaga yang tanpa ia tahu memang bawahan lahir. Di sisi lain, Kaga tidak suka siapapun mahluk berjiwa yang berhubungan dekat dengan Akagi kecuali dirinya.
Akagi hanya diam, mencuri kesempatan melepas tangannya dari genggaman Kaga yang dipelototi Fubuki ganas. Melangkah menuju kamarnya, meninggalkan dua gadis muda yang mungkin tengah mempersiapkan medan perang.
"Dari awal kau memang terlalu bedebah di depan mataku." Sinis Fubuki mengingat kesan pertama Kaga di hidupnya. Sungguh, tak ada sopan santunnya memaksa masuk ke kediaman orang sedang yang punya tempat tak mengizinkan.
"Dan dari awal kau hanya seorang pelacur jalang yang kuingat dari pandanganku." Kaga merespon sengit.
Fubuki tidak terima.
Dan setelah itu, Akagi hanya mendengar suara Fubuki membahana mengisi seluruh ruang apertemennya tanpa terkecuali.
.
.
"Kalian sudah selesai?" Akagi menatap wajah lesuh Kaga yang duduk di atas sofa ruang tamu seadanya yang ia punya. Lalu memilih duduk di sebelah Fubuki yang memejamkan mata lelahnya.
Ternyata peperangan di antara mereka hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit, pas setelah Akagi selesai membersihkan dirinya.
Dengan segelas susu hangat yang ia bawa dari dapur untuk dirinya sendiri, Akagi pun duduk bersila.
"Siapa sebenarnya mahkluk yang tak jelas jenis kelaminnya ini, nee-san?" Fubuki masih menyimpan dongkol di dadanya. Dibaliknya tubuhnya menatap Akagi yang masih mengecap cairan nikmat yang masih menyembulkan asap hangat di genggamannya.
Kaga tak senang dengan sebutan Fubuki akan dirinya. Kembali mereka laga pandang dan itu membuat Akagi hanya memandang.
"Dan kau sendiri siapa? Apa jalang kecil yang coba mengemis minta diberi makan oleh kakakku?" Kaga menggerutu tidak mau kalah.
Fubuki mendecih kesal.
"Tengik ini. Kau membuatku murka." Emosi Fubuki terisi kembali.
"Kau yang-"
"Fubuki-san." Sebelum Akagi menghentikan amarah mereka dengan amukan, ada baiknya ia mencoba degan perlahan. Ketika namanya disebut, Fubuki pun langsung diam. Seakan tahu, bagaimana akhirnya jika Akagi mulai berlumur amarah ketika berbicara.
"Kaga-san adalah adikku. Sepertinya sudah saatnya aku memberitahukan sesuatu padamu." Akagi menghentikan kalimatnya sesaat untuk mengambil napas. Sudah ia pikirkan ketika ia membasuh diri tadi. Ada baiknya ia jujur pada beberapa orang yang bisa ia percaya. Fubuki telah tumbuh di depan matanya. Dan Fubuki adalah salah satu orang yang telah menjadi keluarganya.
Juga demikian dengan Kaga, agar tidak ada kesalahpahaman yang bisa memicuh kecemburuan di antara mereka. Kaga cemburu karena ia tidak suka Akagi didekati siapapun di dunia, sedang Fubuki cemburu karena Akagi memelihara satu gadis lagi dan malah lebih intim darinya.
"Seorang anak yang diangkat untuk menggantikan posisiku, setelah aku dilenyapkan."
.
.
.
.
Kaga menerawang teduh dekat pada wajah Akagi yang berada dalam dekapnya. Malam ini, seperti yang Kaga mau, Akagi menyetujui keinginannya untuk tidur bersama. Namun, bukan tidur seperti ini yang Kaga inginkan. Bagaimana bisa wanita sedewasa Akagi menganggap tidur bersama dalam konteks yang sangat ringan seperti yang mereka lakukan saat ini.
Dalam gaun tidur tipis, Akagi memeluk lengan Kaga hangat, meski matanya belum terpejam, Kaga tak jenuh memandang.
"Apa kau sudah memeriksakan kehamilanmu?" tanya Kaga memulai kata. Namun sayangnya Akagi tidak begitu ingin membahas masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan gadis ini. Dengan posisi yang saling menghadap, napas saling berbenturan. Dan Kaga membiarkan lengannya menjadi tumpuan bagi kepala Akagi yang ia cinta, mereka menjadi begitu dekat.
"Itu tidak ada urusannya denganmu." Bisik Akagi ingin tak peduli.
"Setidaknya kita ini kakak-adik Akagi." Ucap Kaga.
Akagi mendesah, memutar tubuhnya malas. Membelakangi Kaga dalam pembaringan, dan membiarkan tangan Kaga detik kemudian melingkari perutnya, mendekapnya. Mengajak tubuhnya menempel dalam dekapannya. Tak ingin Akagi jauh atau berjarak darinya se-centipun. Serta merta Kaga menghirup aroma shampoo dirambut Akagi yang menutupi sebagian wajahnya. Akagi tak menolak perlakuan Kaga padanya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" Kaga menautkan kedua alisnya bingung. Pertanyaan Akagi membuatnya sedikit berpikir sebelum menjawab.
"Melakukan apa?" sambil berbicara, ia memainkan jarinya di sekitar permukaan perut Akagi. Janin kecil yang tumbuh di sana, pasti sangat beruntung memiliki wanita seperti Akagi sebagai ibunya.
Akagi meraih tangan Kaga yang mengusap permukaan perutnya. Menautkan jarinya di antara jari Kaga.
"Mencintaiku." Hanya satu kata, tapi cukup menyinggung urat malu Akagi ketika berucap. Tidak ia sangkal mengapa sedikit canggung mengatakannya. Meski ia punya rasa percaya diri yang jauh lebih unggul dari orang kebanyakan, tapi kali ini Akagi mengalami sindrom bersangkutan.
"Siapa bilang aku mencintaimu?" tanya Kaga spontan, sampai Akagi bergerak dan meggeser wajahnya hingga ia berhasil menatap wajah Kaga yang berekspresi bingung.
"Jadi?" tanya Akagi agak mendesak tak sabaran.
Ekspresi wajah Akagi yang seperti ini yang membuat Kaga bernafsu tinggi. Hasrat membumbungsampai ke puncak. Gairah yang menjadi kendali. Ekspresi wajah yang sedikit menuntut dalam rasa gengsi yang tinggi. Ingin tahu banyak, tapi tak peduli. Ogah-ogahan meski sebenarnya paling ingin.
Kaga tersenyum. Ingin melanjutkan aksinya untuk meledek Akagi tapi ia urungkan.
"Cium aku, Akagi." Serunya meraih dagu Akagi, mengelusnya. Menargetkan bibir merah itu untuk ia nikmati.
"Jangan memanggilku seenakmu seperti itu." dua kali Akagi mendengar Kaga memanggilnya tidak sopan.
Kaga tergoda.
Gemas rasanya membuat Akagi menuruti saja apa maunya. Lihat saja, sampai kapan Akagi mampu bertahan, saat Kaga tahu sebenarnya hasrat wanita hamil ini jauh lebih menyala darinya.
"Panggil aku Kaga biar impas." Tantang Kaga, lagi, menyentuh bibir Akagi dan menekan-nekannya dengan jarinya. Akagi menahan ucapan. Membuat Kaga tak sabaran. "Atau kau cium aku saja biar kita sama rata. Bukankah sudah berapa kali aku menciummu?" Kaga menyeringai.
"Sialan." Bisik Akagi kembali menarik pandangannya. Kembali memposisikan dirinya di dekapan Kaga sedang gadis itu tetap mendekapnya dari belakang.
"wanita hamil tidak baik mengumpat Akagi." Kaga masih berhasrat. Selesai dengan harum rambut Akagi, kini ia mengendus-endus lipatan leher wanita itu dengan lembut dan hati-hati.
Akagi tak berontak.
"Tahu apa kau tentang wanita hamil?" Akagi mengigit bibirnya menahan sensasi yang Kaga berikan. Kulit lehernya yang sensitif diberi rangsangan menggelitik oleh bibir Kaga yang basah.
"Bukan tentang wanita hamil. Tapi tentangmu. Semua tentangmu. Aku tahu."
"Shhh.." bibir Akagi, sudah ia pastikan tertutup rapat, tapi kenapa desisan kecil itu mampu lolos begitu saja ketika bersamaan dengan kecupan-kecupan basah di sekitar lehernya, ketika Kaga menuntun tangannya untuk menyentuh dada Akagi.
"Keluarkan saja Akagi." Kaga berbisik, menjilati daun telinga Akagi lembut.
"J-jangan memanggil namaku begitu-AHHHNNN...hhmmmm..." Persetan dengan siapa Akagi. Jika nafsu yang sudah berbicara, Akagi lapor polisi pun tak ada gunanya. Sebelum Akagi meledak dengan kekesalan yang sebenarnya hanya samaran yang keluar dengan kata-kata penolakan palsu dari bibirnya, Kaga menguncinya dengan bibirnya.
Kecup.
Basah.
Jilatan.
Lembut.
Akagi mulai ikut permainan.
.
"Kau seksi jika mulai bermain gengsi-gengsian." Goda Kaga dengan cengiran. Membuat wajah Akagi memerah dalam pandangan matanya. Malu-malu tapi mau. Khas sekali dengan Akagi yang Kaga suka. Meski masih terlalu sulit bagi Kaga menjinakan merpati ini.
Akagi mengalihkan tatapannya dari pandangan mengikat Kaga. Tahu-tahu ia sudah dalam kukungan tangan Kaga yang menindihnya. Menutupi sinar lampu yang menyilaukan wajahnya. Hanya Kaga. Tidak perlu hal lain yang harus ia pandang, karena memang harus Kaga yang ada dalam matanya.
"Aku tidak gengsi. Kau pikir sudah berapa kali aku-"
"Sssstt.." Kaga tak mau mendengar Akagi mengenang cerita cintanya. Tidak perlu. Kaga tak mau tahu. Malam ini, hanya boleh tentang mereka, tak perlu ada kisah lain. Karena Kaga akan menuliskan kisah baru tentangnya di seluruh permukaan kulit Akagi.
"Aku ingin menggigitmu. Sungguh. Tapi karena aku tahu itu akan menyakitimu, aku urungkan."
Manis sekali ekspresi wajah Kaga saat berbicara seperti ini. Seperti seorang pujangga yang mampu membuat gadis-gadis mengangkang untuk ia cumbu beratus kali lipat karena mabuk sastranya.
"Kau pandai membual." Akagi memerah.
Dan Kaga tertawa.
"Kau terlalu sulit kugapai Akagi, tapi perlahan akan kubuktikan. Suatu saat nanti, kau lah yang memintaku untuk tinggal. Sekarang tidurlah. Besok akan kutemani kau memeriksakan kehamilanmu."
"Tidak-"
"Jangan membantah. Aku atasanmu. Dan tentang masalah hari ini. Aku ingin menenangkan kepalaku."
Tidak ingin membantah. Terbesitpun tidak bantahan dalam kepala Akagi. Hanya saja, ia tidak ingin Kaga mengatakan hal-hal yang memabukan seperti itu padanya.
Hati seorang wanita sudah cukup rapuhnya, apalagi jika hati seorang wanita yang sedang hamil. Apa Kaga mau bertanggung jawab karenanya?
Kaga kembali mendekap punggung Akagi dalam pembaringan. Dalam pikir Akagi, pribadi Kaga membuatnya tak habis pikir. Terkadang begitu damai. Tenang. Penurut namun berkuasa. Jika Kaga mengatakan bahwa dirinya telah mengenal bagaimana Akagi, apakah Akagi kecolongan karena sedikitpun ia belum tahu bagaimana Kaga. Haruskah mulai sekarang ia mencari tahu?
.
Dalam tidur di malam panjang ini. Kaga tak ingin melepaskan Akagi. Tetap memeluknya di dalam lelap. Tetap mengaitkan jarinya di dalam hangat.
Begini saja, cukup. Jika Akagi masih enggan, Kaga akan diam.
"Terimakasih." Bisik Akagi hilang disamarkan malam.
.
.
.
.
.
AN : Segitu aja dulu. *guling-guling kasmaran*
.
Kayaknya ada yang gak beres ama pengetikannya.
