.

.

Spica Zoe

Present

AKKG Fiction

.

Disclaimer

Chara : Kadokawa Games

Story : Spica Zoe

.

"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."

.

Akagi - Kaga

.


Akagi menutup mulut menggunakan telapak tangannya. Menahan desahan yang tak mampu ia tahan mendera tubuhnya.

Ini pertama kali Yukimura menyentuhnya.

Pertama kali ia memutuskan untuk memberi pria itu pelukannya, cintanya, kehangatannya dan desahan gairah yang satu persatu berhasil lolos meski ia tahan cukup kuat malam ini.

Memutuskan untuk jatuh cinta pada seorang pria yang berhasil membuatnya kembali merasakan sesuatu di hatinya.

Yukimura menarik tangan Akagi yang menutup mulutnya. Di atas ranjang yang sama, dua insan saling menindih dengan hasrat yang sama. Perlahan, Akagi menurut saat Yukimura menarik tangannya. Tubuh pria itu panas. Orgasme yang baru saja mereka capai nyaris bersamaan membuat sang pria bernapas tak beraturan di depan wajah Akagi yang penuh peluh sama seperti sang lelaki.

Wajah itu, adalah wajah yang ia cintai.

"A-aku, mencintaimu. A-akagi-san." usaha keras yang baru saja Yukimura capai atas tubuhnya membuat pria itu sulit berbicara. Akagi merasakan seluruh kulitnya yang bersentuhan dengan kulit pria ini telah basah.

Kalimat cinta yang entah kesekian kalinya Akagi dengar ketika ia bercumbu dengan pria lain, berbeda dengan kalimat cinta yang baru saja Yukimura perdengarkan.

Ada kehangatan di sana. Dari setiap tatapan pria ini. Hingga membuat Akagi mengangguk beberapa kali setelah mendengarnya.

"Aku juga mencintaimu."

Aku...

...juga

Mencintaimu.


Kaga tidak begitu banyak protes ketika pada akhirnya Akagi memilih untuk bekerja pagi ini. Padahal malam tadi diperaduan Kaga sepakat untuk menemani Akagi melakukan pemeriksaan pada kandungannya. Yang artinya, Kaga tidak ingin melakukan pekerjaan apapun, apalagi memijak kantor saat ia tahu rumor tentang Akagi pasti akan menjadi masalah yang tidak akan pernah bisa lepas dari otaknya ketika ia berada di sana.

Menyela kemauan Akagi kemungkinan akan membuat mereka berdebat dan berakhir pada emosi yang tertahan. Kaga tidak pernah bisa sanggup membayangkan jarak antara ia dan Akagi jika mereka sedang dalam pertentangan. Jadi, ada baiknya Kaga mengalah jika ia masih sanggup untuk melakukannya.

"Aku akan menuruti semua maumu hari ini Akagi." Akagi menoleh sesaat ketika ia sadar ada dekapan yang Kaga beri pada punggungnya. Tangan yang mengikat di perutnya. Dan desahan napas yang menyentuh kulit tekuknya. Dari balik cermin, Akagi bisa melihat bayangan wajah Kaga yang tertutup dan sedang memejamkan mata.

Akagi tidak ingin merusak kelembutan wajah itu. Ia biarkan dirinya didekap Kaga seberapa inginnya gadis itu. Dan rasa nyaman pun kembali muncul perlahan.

Mimpi yang Akagi alami tadi bukanlah sebuah mimpi. Itu adalah bayangan masalalu yang pada akhirnya muncul di mimpinya.

Tentang Yukimura, juga tentang kebenaran rasa pada pria itu yang pada akhirnya berhasil membuatnya hancur berkeping-keping.

.

.

Akagi tahu diri.

Sambil menatap Shoukaku dengan wajah yang penuh dengan kemalangan, ia memohon dengan segenap perasaan. Air matanya mengalir begitu saja. Membuat nilai unggulnya sebagai seorang manager paling ditakuti runtuh seketika.

Shoukaku sempat bergetar ketika Akagi mebungkukan tubuhnya di hadapannya. Isakan Akagi yang ia dengar saat itu sangatlah nyata.

"A-akagi-san?" ucapnya tanpa sadar. Begitu saja.

"Aku mohon padamu Shoukaku-san. A... aku mencintai Yukimura. Aku mencintainya."

Akagi tahu diri.

Di dalam perusahaan serta lingkungan kerja, ia bisa saja berlagak menjadi yang paling tinggi dan bernilai. Tidak ada siapapun yang berani menatap wajahnya apalagi menentangnya.

Tapi, di luar dari itu, Akagi hanyalah seorang wanita biasa yang bisa merendahkan dirinya. Hanya karena cinta.

Ini adalah kali keempat bagi Akagi mengetahui fakta bahwa ternyata tidak hanya dengannya, Yukimura pun telah tidur dengan Shoukaku yang Akagi pikir adalah orang yang bisa ia percaya.

.

.

Setiap manusia memiliki kelemahan. Dan Akagi pun sama.

Hal yang menjadi kelemahan terbesar Akagi adalah kehilangan. Karena setelahnya, ia akan merasakan kehancuran yang bisa menyiksa hidupnya.

Pada akhirnya, Akagi tidak bisa memutuskan bagaimana hubungannya dengan Yukimura setelah fakta yang ia tahu memukul batinnya. Perlahan, Akagi yang menjauh. Menjaga jarak meski tidak pernah ada kata selesai diantara mereka. Dan Yukimura pun sadar jika Akagi-nya menjauh.

Ketika Yukimura datang berkali-kali, Akagi pun menjauh berkali-kali.

Yukimura tak pernah tahu apa yang membuat Akagi menjauh darinya sampai bertahun-tahun, sebab Akagi pun tak pernah ingin mengatakannya. Sampai pada pertemuan mereka beberapa bulan lalu membuat Akagi sadar, jika ia tak bisa memaafkan dirinya.

.

.

"Akagi-san!"

Akagi tersenyum ketika Zuikaku menyerukan namanya begitu nyaring. Shoukaku yang tengah duduk di kursi sebelah tempat Zuikaku berbaring pun ikut menoleh.

"Aku pikir kau tidak akan datang lagi. Sebab Shoukaku-nee bilang, kau mungkin tak akan pernah menemuiku lagi, dan aku menjadi sedih." Zuikaku membuat ekspresi malangnya dengan perasaan yang menyenangkan.

Shoukaku hanya menunduk.

Akagi meletakan bingkisan yang ia bawa di atas nakas. Lalu melangkah mengitari pembaringan Zuikaku. Meraih tangan gadis itu dan tersenyum dengan usaha yang keras.

"Aku tidak mungkin bisa meninggalkanmu. Maaf jika aku jadi jarang mengunjungimu."

Shoukaku masih menunduk.

"Ah, jangan begitu Akagi-san. Shoukaku-nee bilang jika kau sangat sibuk dengan pekerjaan. Dan maaf jika keadaanku membuatmu memaksakan diri untuk bertanggungjawab. Tapi aku pikir kau tidak perlu lagi melakukan semua ini. Ini adalah kecelakaan dan aku tidak ingin-"

"Sudah kukatakan, aku akan menanggung semua kebutuhanmu seumur hidupmu. Aku baik-baik saja."

Zuikaku menutup mulutnya rapat. Akagi bersuara sedikit berbeda kali ini. Dan setelah waktu sudah mengitari mereka cukup lama di ruangan, ia baru sadar jika tidak ada sedikitpun interaksi antara Akagi dan Shoukaku di sana.

"Apa kalian bertengkar?" tanyanya tanpa pikir panjang.

Shoukaku merasakan ada getaran cukup kuat di kedua tangannya yang mengepal di kedua sisi pahanya. Pertanyaan sang adik membuatnya merasa berdosa. Setelah apa yang ia lakukan pada wanita itu, kenapa Akagi merasa tidak masalah atas dosanya.

Berbeda dengan Shoukaku yang menahan getaran tubuhnya. Akagi hanya merespon ucapan Zuikaku dengan tatapan lembut yang Zuikaku anggap sebagai awal sebelum wanita itu menjelaskan.

"Aku membuat kesalahan besar hingga Shoukaku-san tak sudi melihatku barang sedetikpun sejak tadi. Aku pikir aku terlalu hina untuk ia tatap dengan sorotan matanya yang menawan."

Shoukaku tahu, itu adalah sindiran yang paling mematikan yang Akagi berikan padanya. Sebaliknya, mungkin Akagi lah yang merasa muak menatap Shoukaku sejak tadi, dengan tatapan matanya yang mematikan.

.

.

.

Kaga menahan tangan Akagi setelah wanita itu membuka pintu mobilnya. Kakinya nyaris menapak bumi sebelum pada akhirnya tarikan tangan Kaga serta tatapan berbeda gadis itu membuatnya memutuskan untuk kembali menutup pintu yang ia buka.

"Kita sudah terlambat Kaga-san." ucap Akagi berusaha keras untuk tidak terlalu peduli dengan ekspresi wajah Kaga yang sedikit berbeda.

"Kau yakin akan bekerja dengan situasi seperti ini? Rumor tentangmu, latar belakang keluargamu. Segalanya." bisik Kaga melepaskan tatapannya dari mata Akagi. Menerawang sesuatu di hadapannya yang penting itu bukan wajah wanita yang tangannya masih ia genggam.

"Aku punya tanggung jawab. Aku tidak bisa mengabaikan pekerjaanku." Balas Akagi lembut.

"Meski kau pewaris?" tanya Kaga yang kini memberanikan diri menatap wajah kakaknya.

"Aku bukan pewaris. Segalanya akan diberikan kepadamu. Karena aku tidak pernah butuh itu."

Tolong ingatkan Kaga sedang berada dimana mereka saat ini.

Selalu saja, wajah Akagi seperti memiliki candu yang membuat Kaga ingin selalu menyalurkan hasrat dan cintanya. Ekspresi bimbang Akagi yang berucap kalimat terakhir membuat tangan Kaga yang satunya bergerak dengan sendirinya. Meraih wajah wanita itu dan menargetkan bibirnya untuk ia kecup penuh keinginan.

Waktu seakan berhenti berputar.

Hanya untuk mereka berdua. Waktu memberikan kesempatan.

Akagi tidak ingin menolak kecupan bergejolak itu. Tapi ia juga tak bisa membohongi perasaannya saat ketika bayangan-bayangan Yukimura dan kecupan serta cumbuan pria itu bercampur menjadi satu dengan rasa yang Kaga berikan padanya.

Akagi mendesah.

Tangan Kaga mulai bergerak lembut menyentuh kulit kakinya. Merasuk perlahan menelusuri jarak-jarak permukaannya. Kecupan mereka masih berlanjut dengan kemauan Akagi yang tanpa Kaga duga ternyata merespon sesuai keinginannya. Dan sentuhan yang ia berikan dibalik rok span Akagi membuat wanita itu melonjak dengan tangan yang pada akhirnya ia genggamkan pada bahu Kaga.

"Ki-kita harus segera masuk." ucap Akagi dengan ekspresi yang tak bisa ia kendalikan. Napasnya terengah ringan. Kecupan mereka yang berakhir membuat waktu kembali berputar. Ia menyembunyikan wajahnya yang terasa begitu panas dari pandangan Kaga. Agar gadis muda itu tak melihat sisi lainnya. Agar adiknya itu tak memergoki rona merah di wajahnya.

"Kau memerah Akagi." Kaga tersenyum bercampur tawa.

"T-tidak." Elak Akagi yang mungkin tidak akan sanggup berlama-lama berada di sisi Kaga jika jelas-jelas gadis itu memergokinya.

"Tapi, wajahmu benar-benar berubah warna." Ucap Kaga lagi meyakinkan pengelihatannya. Tanpa sungkan pada orangnya.

"Sudahlah, lebih baik kita segera masuk." Akagi hanya berusaha untuk tetap menjadi dirinya. Dibukanya pintu mobil Kaga. Rasa panas di dalam sana mungkin hanya berasal dari tubuhnya. Ia akui kecupan Kaga membuatnya sedikit menikmati.

Apalagi sentuhan gadis itu pada kulit kakinya.

Meski ia sadar, bayangan akan cinta lamanya ikut menyakitinya.

.

.


"Ternyata rumor tentang Akagi-san benar-benar menjadi top up hari ini!" Koungo mengitari bilik kerja Kitakami dan meraih salah satu kursi yang menganggur dan mendudukinya di antara bilik kerja karyawan lain. Ekspresi wajahnya merasa puas karena sejak pagi tadi, ketika ia melangkah memasuki gedung, rumor tentang Akagi menjadi perbincangan.

"Apa dia benar-benar anak ketua? Lama-lama aku merasa bodoh di perusahaan ini." tanpa penolakan, Kitakami menyambut keinginan Koungo yang suka menceritakan orang lain.

"Kenapa?" tanya Musashi tiba-tiba sambil mendongakan kepala dari biliknya. Koungo jelas terkejut karena tiba-tiba wanita itu tertarik bertanya.

"Kemarin Kaga-san. Sekarang Akagi-san. Apa saat ini kita sedang berada di salah satu drama Korea yang membahas masalah 'presdir'?" tanyanya kelihatan lelah.

Koungo tertawa.

"Jika itu terjadi, mungkin selanjutnya aku yang akan menjadi anak dari Ketua-" Kongou menahan napasnya. Ketika matanya menangkap bayangan Akagi yang telah berdiri nyata memandang langsung ke matanya, Koungo langsung melotot dan seperti mengalami serangan jantung.

Kitakami langsung berdiri dan menundukan wajahnya dengan sigap pada Akagi, sedang Musashi hanya diam di bilik kerjanya sebab ia sama sekali tak terlihat oleh sang atasan.

"Apa pekerjaanmu sudah berubah menjadi juru bicara?" itu pertanyaan Akagi pada Koungo. Nada suaranya begitu dingin, dan tatapannya yang ... siapa pun tidak akan mau dipandang dengan tatapan seperti itu.

"Ma ... ma ... maafkan a-aku Akagi-san!" seru Koungo yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan membungkukan tubuhnya berkali-kali pada Akagi. "Maafkan aku! Maafkan aku!" serunya tanpa henti.

"Kuperingatkan pada kalian semua."

Perlahan, semua kepala yang mencoba bersembunyi dari bilik-bilik meja kerja kini bermunculan satu persatu menatap Akagi yang sudah pasti meminta mereka untuk mendengarkan ucapannya.

Dan Langkah Nagato langsung terhenti bersamaan dengan Mutsu yang baru saja keluar dari ruangannya. Menunggu kalimat yang keluar dari mulut Akagi selanjutnya.

Semua para karyawan menunduk patuh.

Siap mendengarkan.

"Aku bukan anak kandung ketua atau pemilik seperti apa yang telah kalian dengarkan. Aku tidak ingin kalian membahas masalah ini di ruang divisi ini selama aku berada di sini. Apa kalian keberatan?" tanyanya penuh penekanan.

Semua karyawan merespon tegas.

Nagato melipat kedua tangannya di dada. Memerhatikan Akagi.

"Lalu tentang kehamilanmu?"

Suara pria itu berhasil membuat semua wajah yang tertunduk kini terangkat dan menoleh padanya. Yukimura berdiri tepat di pintu masuk ruang divisi dan menatap lekat ke dalam mata Akagi dan tersenyum padanya.

Seakan tidak ada beban. Segalanya begitu apa adanya.

Semua mata dan pendengaran yang menyala, memaksimalkan fungsinya.

"Kau sedang hamil. Bukankah begitu?" tanyanya menyeringai. "Beruntung sekali pria yang bisa menghamili seorang putri tunggal dari keluarga yang hampir menaklukan setengah kota Tokyo dengan harta miliknya."

"Yukimura.." bisik Akagi menatapnya tidak percaya.

Ini bukan saatnya untuk membahas masalah pribadi. Jangan sampai semua orang mendengarkan fakta tentang dirinya. Hubungannya dengan Yukimura dan masa lalunya.

"Aku salah? Akagi-san?"

"Apa yang kaulakukan di divisi ini-"

"Tidak usah bertele-tele. Biar kupertegas. Itu adalah anakku."

Bagai sambaran petir di siang bolong.

Karena ucapan Yukimura, semua jantung yang berdetak di dalam ruang divisi itu, nyaris berhenti sesaat. Tarikan napas yang tertahan membuat oksigen dalam ruangan menari dengan girang untuk sepersekian detik.

Mutsu terperangah ketika Yukimura melancarkan kalimat tak terduga itu di depan semua orang. Bukankah ini sangat berlebihan? Dan, siapa yang sangka jika pada akhirnya semua orang tahu jika benar adanya bahwa Akagi punya hubungan dengan salah satu direktur beristri dan itu nyatanya adalah Yukimura.

Sungguh tak bisa dipercaya.

Nagato tetap diam ditempatnya.

"Apa yang kaukatakan?!" Akagi mulai panik meski tidak begitu tampak.

Apapun yang terjadi, tidak boleh ada yang tahu tentang dirinya di masa lalu. Tentang seberapa bodoh dirinya yang pada akhirnya mencintai pria ini tanpa batas.

"Apa perlu kuceritakan semuanya pada semua orang jika kau dan aku pernah saling berhubungan dimasa lalu-"

"Yukimura!" Akagi sudah berada diambang batas.

Teriakannya menggema.

Raut wajahnya memerah karena amarah.

Tangannya bergetar.

Koungo bisa merasakannya dari jarak pandang sedekat ini. Akagi terlihat begitu tersiksa.

Teriakan Akagi, berhasil mengundang tanya dari beberapa orang yang melangkah di luar divisi. Pandangan mereka tertuju pada sosok pria yang menutupi pintu ruangan yang memancing orang bertanya-tanya ada apa sebenarnya.

"Keluar." Bisik Akagi berusaha bersabar.

Yukimura tak peduli.

"Keluar dari ruangan ini."

"Akui dulu siapa pria yang menghamilimu empat bulan lalu."

Ada apa ini.

Kenapa Akagi merasakan jantungnya menjadi sesakit ini.

Seperti ada genggaman kuat yang meremasnya. Membuatnya tersiksa dan membuat tubuhnya melemah.

Semua orang yang berada di sana tidak tahu harus berkata apa.

Apa ini pertengkaran sepasang kekasih?

Penolakan cinta?

Atau apa?

Semua orang hanya menunggu akhir dari apa yang sedang mereka berdua pertontonkan.

Akagi menyentuh dadanya. Lokasi dimana jantungnya berada. Rasa sakit itu bukan hanya ilusi semata. Itu benar-benar nyata. Dan itu membuat pijakannya melemah.

Empat bulan lalu.

Apa maksud Yukimura mengatakannya.

"Empat bulan lalu, enam kali pertemuan denganmu. Empat kali berhubungan di atas ranjang denganmu. Dan kau mendesah berkali-kali dalam pelukanku. Kau pikir aku bisa melupakannya begitu saja?"

Ada apa ini.

Akagi tak lagi mampu membungkam mulut Yukimura. Peluhnya bercucuran karena rasa yang campur aduk di batinnya. Kenapa tiba-tba Yukimura mengungkapkan semuanya.

Kaga.

Akagi tiba-tiba mengingat bayangan Kaga dalam nuraninya.

Dimana Kaga?

Dimana Kaga!

Koungo menelan ludahnya tidak percaya.

Ini akan jadi bahan pembicaraan dalam sebulan penuh untuknya memulai pekerjaan di kantor nanti. Atau topik saat makan siang yang mengasyikan. Ingin rasanya ia berpikir begitu. Tapi, melihat ekspresi Akagi yang menyerah kini membuatnya merasa iba dan ingin meninju Yukimura. Tapi ia tak punya kuasa besar untuk melakukan itu.

"Itu anakku Akagi-san-"

"Apa aku melewatkan sesuatu?"

Itu.

Suara yang Akagi butuhkan.

Suara yang tiba-tiba selalu bisa memberikannya kekuatan.

Suara yang entah mengapa menjadi kehangatan di dalam dingin hatinya.

Itu dia.

Entah sejak kapan, Akagi begitu membutuhkannya.

Kerumunan orang-orang ramai di depan ruang divisi terbuka perlahan ketika suara itu terdengar. Seakan ada skenario yang mengatur jalannya cerita hingga pada akhirnya Kaga kini melihat Yukimura yang sudah berbalik badan menatapnya.

"Tolong jelaskan padaku, apa aku melewatkan sesuatu." Ucapnya datar.

Yukimura menunjukan sisi lainnya pada Kaga.

"Boleh aku masuk ke dalam?" tantang Kaga, menatap wajah Yukimura yang Kaga tahu sama menantangnya. Tapi, seberapa kuatpun kekuatan Yukimura untuk menantangnya, pada akhirnya hanya Kaga yang memiliki kuasa.

Yukimura memundurkan langkahnya. Ia biarkan Kaga masuk dan merasakan suasana yang mencekam di divisi itu. Memandang Akagi yang nyaris jatuh karena tak lagi sanggup berpijak, sebelum Koungo berhasil meraihnya.

Hangat.

Tubuh Akagi hangat.

"A-akagi-san, tubuhmu hangat."

.

Kaga ingin. Tapi ia menahan diri untuk segera mendekap Akagi yang kini berada di tangan Kongou. Kembali ditatapnya wajah Yukimura yang tak berniat sedikitpun menurunkan air mukanya yang menantang.

"Apa masalahmu?" tanya Kaga.

Kerumunan orang-orang semakin banyak mengisi padangan mata. Penuh rasa penasaran ada apa di sana.

"Aku hanya ingin menuntut hak atas janin yang ia kandung."

Kaga menahan emosinya.

"Ini bukan anakmu Yukimura." Akagi ingin membela dirinya.

"Aku tidak peduli apa yang kalian lakukan. Tidak peduli apa hubungan kalian. Tapi aku punya wewenang untuk melarang segala hal yang berhubungan dengan masalah pribadi diperdebatkan di kantor." Kaga memilih untuk mempertanggungjawabkan tugasnya.

"Lantas, katakan padaku. Selain aku, siapa pria yang menidurimu empat bulan lalu? Siapa pria yang bertanggungjawab atas kehamilanmu jika bukan aku?" habis juga kesabaran Yukimura.

Sikap Akagi yang seperti ini adalah hal yang tidak ia suka.

Berusaha menyembunyikan segalanya dan menanggung beban sendirian. Bahkan setelah Yukimura tahu alasan apa yang membuat Akagi pada akhirnya menjaga jarak darinya yang selalu Akagi tutupi membuat Yukimura habis kesabaran.

.

.

.

"Istrimu akan membunuhku jika ia tahu sedang apa suaminya dengan sahabatnya sendiri." Akagi menahan dada Yukimura yang mendekapnya erat. Mengecupnya. Bernapas di hadapannya. Begitu dekat.

"Dia tidak bisa memiliki anak, Akagi-san. Tapi meskipun begitu, aku tetap mencintainya."

Pengaruh alkohol membuat Akagi merasa penat dan berat. Tapi ia yakini kesadarannya masih bisa ia gunakan.

"Sayangnya ia tidak pernah mencintaimu." Balas Akagi yang sedang menerima kecupan Yukimura di lehernya. Ingin menolak, tapi Yukimura seakan tahu kelemahannya.

"Aku akan membuatnya tetap mencintaiku. Untuk itu, malam ini, aku mohon kau menjadi dirinya."

"Bagaimana dengan Shoukaku?" terbaring sudah.

Akagi merasakan tubuh hangat Yukimura telah menindihnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Tapi, Yukimura sangat tahu bagaimana membuat Akagi lemah oleh hasrat seksual.

"Aku tidak membutuhkannya."

Dan setelahnya, Akagi sadar ia tidak akan bisa lari kemana-mana.

"Hei. Kau masih mencintaiku 'kan?"

.

.

.

"Empat bulan lalu... " Kaga mencoba untuk mengendalikan diri.

"Apa yang gadis bodoh itu lakukan?! Apa ayah menyuruhmu untuk membuat kekacauan di perusahaan?"

Kaga terdiam sesaat. Amukan ayahnya dari seberang sana membuatnya sadar sesuatu. Akagi memang malang.

"Pecat saja dia. Apapun yang terjadi, reputasimu sebagai direktur utama ada di tanganmu sendiri. Aku tidak ingin ada satupun kendala yang bisa merusak tanggung jawabmu sebagai seorang direktur utama. Kau tahu 'kan, ayah sangat mengharapkanmu."

Sempat terbesit sesaat pembicaraan sang ayah beberapa menit tadi sebelum Kaga melangkah menemui Akagi di divisi ini. Dan pada akhirnya ia malah memergoki hal yang membuat emosinya semakin meluap.

Tapi, ia tidak ingin melakukan kesalahan. Apalagi membuat Akagi merasa tak layak di hadapan siapapun.

"Ini akan menjadi sangat berat." Bisikan kecil Nagato yang Mutsu dengar.

"Empat bulan lalu, Aku lah yang menjadi saksi atas kehamilan Akagi-san saat ini." Kaga memulai aksinya. Ia ingin menyelamatkan Akagi dengan caranya sendiri. Akagi adalah miliknya. Apapun yang terjadi. Bagaimanapun caranya. Akagi adalah miliknya.

Akagi terperangah mendengar Kaga bicara.

"Rumor tentang latar belakang keluarga Akagi-san adalah kesalahan. Ia adalah anak yang diangkat dan dilayakan oleh keluargaku setelah tidak ada kelahiran di keluargaku selama bertahun-tahun. Dan setelah aku lahir, ia memutuskan pergi dari rumah. Merasa rendah diri dan memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri. Tentang kehamilannya... " Kaga menahan kalimatnya yang menggantung.

Yang membuat semua orang penuh penantian dan penasaran.

"Itu adalah milik kekasihnya yang telah meninggal dunia."

"Kaga..." nama yang indah itu keluar begitu saja dari mulut Akagi.

Yukimura mengepalkan tangannya geram. Tidak mungkin. Baginya semua yang Kaga ucapkan adalah sebuah kebohongan untuk menutupi kebenarannya.

"Tidak mungkin! Aku yakin kau hanya berbohong untuk menutupi segalanya. Dia mencintaiku. Dan itu anakku!" ingin Rasanya Yukimura menjadikan semua keinginannya menjadi nyata.

Akagi pasti mengandung anaknya. Itu pasti dan ia yakin. Tapi, bagaimana meyakinkan semua orang jika semua yang ia katakan adalah kebenaran di saat Kaga menimpalinya dengan cerita yang entah dari mana ia dapatkan.

"Dan... Nagato-san." tidak ingin menggubris kekesalah Yukimura lebih lama, kini Kaga menatap wajah Nagato yang sedari tadi tak menunjukan keberadaannya. Akagi mengikuti pandangan Kaga pada Nagato. Aneh rasanya melihat Kaga sesabar ini meski Akagi sendiri telah meyakini dirinya jika Kaga akan begitu emosional saat melihat ia menderita.

Tapi kenapa sekarang terasa sedikit berbeda.

Seakan Kaga tak ingin mau menatap matanya.

"Aku memberimu perintah untuk memberhentikan Akagi-san dari pekerjaannya. Kita tidak membutuhkan seseorang yang telah mencemarkan nama baik perusahaan serta menimbulkan keributan seperti ini."

"A-apa?" Mutsu tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Akagi terdiam tak percaya.

"Dan kau pun Yukimura. Segera berikan surat pengunduran dirimu sebelum matahari terbenam."

Kaga melangkah keluar ruangan.

.

"Eh. Ini bercanda 'kan? Akagi-san dipecat?"

"Kenapa jadi seperti ini?"

"Aku akui Akagi-san adalah orang yang tegas dan tanpa kompromi. Tapi beliau manajer yang cukup unggul."

"Aku tidak percaya."

.

"Lepaskan aku."

Akagi menepis eratan tangan Kitakami dan Koungo yang mengiringnya ke dalam ruangan dan membantu tubuh lemahnya untuk duduk.

Ia tidak habis pikir kenapa sedikitpun Kaga tidak berniat menatapnya dan menaruh rasa iba pada dirinya sejak tadi.

Kehilangan pekerjaan dan alasan mengapa Kaga memecatnya tidak terlalu menjadi beban pikirnya selain alasan mengapa Kaga tidak meraihnya dan menenangkannya.


"Apa menurutmu ini jalan terbaik dengan memecat Akagi? Dia salah satu manager paling unggul di perusahaan kita." Nagato menatap Kaga berharap gadis itu mengurungkan niatnya.

"Untuk itu, aku memecatnya. Dia tidak akan bisa kemana-mana jika kita memecatnya dengan tidak hormat. Seunggul apapun dia, ia tidak akan diterima dimanapun." Kaga menghindari tatapan mata Nagato.

"Apa semuanya atas perintah ayahmu?"

Kaga menoleh.

"Apa maksudmu?"

Dari mana Nagato tahu tentang ayahnya dan Akagi.

"Apa Akagi tidak mengatakannya padamu?"

Kaga memandang Nagato penasaran.

"Akagi telah pasrah jika ia tak lagi dianggap sebagai anak dalam keluarganya. Saat ia tahu ayahnya memilikimu sebagai anak dan mengangkatmu menjadi penerus, Akagi merasa bahagia. Sebab baginya kau mungkin adalah orang yang paling tepat untuk menggantikan posisinya. Sebab, jika Akagi masih menjadi anak dari ayah dan ibumu, semua harta yang telah kau genggam saat ini akan disita oleh negara."

Tidak.

Kaga tidak tahu alasan apa yang membuatnya terkejut. Akagi tidak pernah bercerita mengenai ini sedikitpun padanya. Dan lagi pula, dari mana Nagato bisa tahu tentang hal yang terlalu rahasia seperti ini?

"Apa hubunganmu dengan Akagi?" tanya Kaga penasaran.

Nagato tersenyum kecil.

"Aku bibinya. Sepupu ibunya dan orang yang membawanya bekerja di perusahaan ini sebelum ayahmu mengetahuinya."

Kaga tercengang.

"Aku tahu kau mencintainya. Dan dia membutuhkanmu. Dia pernah mengalami masalah yang membuatnya begitu terpukul. Dia telah kehilangan segalanya. Dan aku yakin dia juga ingin bahagia. Dia akan merelakan dirinya dan posisinya untuk kau masuki dan kau gantikan. Ayahmu tidak akan mengangkatmu sebagai anaknya. Tapi aku tahu mereka begitu menyayangimu seperti mereka menyayangi Akagi."

"Apa benar mereka menyayangi Akagi? Jika mereka benar-benar menyayanginya. Kenapa mereka membiarkan Akagi menderita seorang diri?"

Kaga menahan geram.

"Itu karena mereka menyayanginya. Seperti yang kukatakan. Akagi adalah putri tunggal. Tidak akan ada harta yang bisa diturunkan pada seorang putri tunggal. Segala harta yang dimiliki ayahmu akan disita oleh negara. Saat bertemu denganmu, ibumu sudah begitu menyukaimu. Ia ingin mengambilmu sebagai anak, bukan untuk menggantikan posisi Akagi yang telah menghilang, tapi karena mereka sadar jika mereka butuh seseorang yang ingin mereka berikan kasih sayang karena kehilangan Akagi. Tapi, menjadikanmu anak dan masuk kedalam daftar nama keluarga bukanlah hal yang mereka inginkan. Akan sama saja dengan Akagi dan pada akhirnya mereka tidak akan mendapatkan apapun. Untuk itu, Ayahmu memberikanmu tanggung jawab dan mengambil ahli perusahaan. Dan perlahan padamulah semua warisan ini akan diturunkan. Karena kau bukan anak kandung mereka."

Kaga tidak terlalu bisa mencerna perkataan Nagato dengan baik. Nagato adalah orang yang irit bicara. Namun sekalinya berbicara, rasanya begitu banyak dan tiba-tiba. Dan semua yang Nagato sampaikan barusan membuat Kaga berpikir sangat keras.

"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Akagi semuanya. Tentang dirinya, juga masa lalunya. Ubah dirinya sebisamu. Dia butuh seseorang yang bisa mendalami perasaannya. Dan dia percaya."

Kaga termenung.

"Dia selalu memikirkan perasaan orang lain melebihi kesakitannya sendiri. Tapi ia ubah rasa pedulinya dengan sikap dingin dan anti menerima. Ia hanya butuh kepastian bahwa ia memiliki seseorang yang bisa memilikinya."

.

.

.


.

.

.

"Aku akan menuruti semua maumu hari ini Akagi."

Akagi diam menunggu selanjutnya apa yang ingin Kaga katakan.

"Tapi berjanjilah untuk percaya padaku. Dan mengandalkanku. Datang paaku. Dan cintailah aku."

Meski sedikit ragu, pada akhirnya Akagi ingin mencoba. Dibaliknya tubuhnya dan menangkap wajah Kaga serta menatapnya. Tersenyum dan merasa bahagia.

"Aku coba. Karena aku menyayangimu.

Ia tersenyum.

.

.

.