Seventeen belong to God, Pledis and their parents
Cinderella and the Knights © Bianca Jewelry
? X Choi Seungcheol (GS)
Yoon Jeonghan X Hong Jisoo (GS)
Rating: T
Warning: GS. AU. OOC. Nista!
.
"Kau baik-baik saja, Seungcheol-ah?" tanya Nyonya Kang sambil melihat Seungcheol dengan tatapan khawatir.
Pasalnya, Seungcheol memasang wajah cemberut yang terlihat menggemaskan dan terus menghela napas. Seungcheol menatap Nyonya Kang. "Ahjumma, apakah ada pelayan yang bekerja sebelum aku?"
Nyonya Kang tersenyum. "Banyak."
"Lalu kenapa mereka keluar?" tanya Seungcheol sambil membuat bentuk abstrak pada meja dengan jari telunjuknya.
Nyonya Kang tertawa pelan. "Tidak betah."
"Biar aku tebak! Mereka tidak betah karena digoda oleh Jeonghan dan Mingyu?"
Nyonya Kang mengangguk dan tersenyum. "Dua Tuan Muda itu, walaupun sudah berumur dua puluh lebih, masih saja suka mengusili orang baru yang bekerja di sini."
Seungcheol menghela napas lagi.
"Makanlah," kata Nyonya Kang sambil memberikan sepiring agar-agar kepada Seungcheol dengan senyum hangatnya.
Seungcheol balas tersenyum. "Terima kasih." Lalu ia mulai memakan panganan dengan warna merah muda transparan itu.
"Seungcheol-ah."
"Ya?"
"Kalau Tuan Muda Jeonghan dan Mingyu iseng lagi. Anggap saja angin lalu ya…"
Seungcheol cuma diam dan memakan jellynya lagi. Angin lalu? Nah, kalau nanti Seungcheol baper, memang Nyonya Kang mau tanggung jawab?
Perasaan kesal yang dirasakan Seungcheol berkurang seiring dengan jelly yang berpindah ke dalam perutnya. Setelah mencuci piringnya, Seungcheol memutuskan untuk ke belakang rumah, karena ia dengar dari Nyonya Kang, Doyoon memelihara anjing poodle berwarna coklat yang bernama Syongsyong yang terlihat seperti boneka, dan Seungcheol menyukai anjing. Jadi ia harus mengunjunginya!
"Halo," sapa Seungcheol ketika ia sudah sampai di dekat rumah anjing yang terbuat dari kayu sambil mengelus kepala Syongsyong.
"Siapa namamu?" tanya Seungcheol sambil memainkan kaki si anjing. "Syongsyong? Aku Seungcheol. Salam kenal manis," ucapnya sambil membawa Syongsyong ke dalam pelukannya.
Seungcheol tersenyum ketika melihat Syongsyong anteng di dalam pelukannya. Ia bermain sebentar dengan anjing itu, mengelusi badan dan kepala Syongsyong hingga Seungcheol mendengar teriakan melengking dari seorang bocah dan pamit kepada Syongsyong.
"Sampai jumpa manis, aku akan kembali nanti," ucap Seungcheol dan mengusap kepala Syongsyong.
Syongsyong menggonggong. Seungcheol tersenyum dan sekali lagi mengelus kepala anjing itu lalu masuk ke dalam rumah.
.
"Mingyu, Jeonghan. Ke ruanganku. Sekarang," ucap Doyoon setelah makan siang berakhir dan melangkahkan kakinya terlebih dulu ke ruang kerjanya.
Mingyu dan Jeonghan saling bertatapan. Lalu mereka mengikuti Doyoon ke ruang kerjanya. Sesampainya di ruang kerja Doyoon, Jeonghan mendudukkan diri di depan lelaki itu. Sementara Mingyu bersandar pada tembok dan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ada apa, hyung?" tanya Mingyu.
"Aku mendapat laporan kalau kalian menggoda orang baru itu."
Jeonghan terkekeh. "Kau harus lihat wajahnya saat memerah Doyoon-ah. Menggemaskan~ Ya 'kan Mingyu?" tanyanya sambil menatap Mingyu.
"Benar sekali hyung."
"Sampai kapan kalian akan bermain-main terus?" tanya Doyoon.
Mingyu dan Jeonghan saling bertatapan. Lalu Jeonghan memutus kontak matanya dengan Mingyu dan menatap Doyoon. "Ada apa Doyoon-ah? Tidak biasanya~" tanya Jeonghan disertai seringai.
"Iya hyung, biasanya juga kau tidak protes kalau kami mengganggu siapa pun yang baru bekerja di sini," kata Mingyu.
"Aku hanya mencoba mengingatkan kalian untuk tidak mengusili orang lagi."
Seringai Jeonghan semakin lebar. "Oh ya? Atau kau sedang mencoba untuk mengancam kami agar tidak menggodanya lagi?"
"Aku serius, Han."
"Aku juga serius, Do."
"Hyungnim…"
Jeonghan menghela napas. "Kau kenapa sih?"
Doyoon menggeleng.
"Kau menyukainya?" goda Jeonghan. Sebuah seringai sudah menghiasi wajahnya.
"Keluar dari ruanganku."
Jeonghan terkekeh. "Chill, boy. Kami permisi, Tuan Jang~" katanya. Ia berdiri lalu keluar dari ruangan Doyoon diikuti oleh Mingyu.
Doyoon menghela napas dan merenungkan kalimat Jeonghan sambil memutar kursinya. Ia mendengus. "Mana mungkin aku menyukainya," katanya lalu mendekati jendela. Doyoon melihat di bawah sana Seungcheol sedang mengelus poodlenya dan sesekali memeluknya.
"Cantik ya."
Doyoon berjengit dan menoleh ke asal suara. Ia hampir mengumpat ketika orang disebelahnya itu tersenyum sambil memamerkan gigi taringnya. "Mau apa lagi?"
"Jahat sekali sih hyung," kata Mingyu sambil memeluk Doyoon dari samping. "Aku melihatnya sedang bermain dengan Syongsyong dan ingin memberi tahumu."
Doyoon menyentil dahi Mingyu. "Terus?"
Mingyu mengelus dahinya. "Cantik ya," ulangnya.
"Siapa?"
"Seungcheol-noona dong."
Doyoon terdiam sebentar sebelum menggumamkan 'hn' dengan sangat pelan. Keduanya terus memperhatikan Seungcheol.
"Lucu ya," komentar Mingyu ketika Seungcheol tertawa karena pipinya dijilat oleh Syongsyong.
Dalam hati Doyoon berteriak atas keimutan gadis berambut coklat di bawah sana. Tanpa sadar ia menggumam mengiyakan kalimat Mingyu.
"Tidak mau kau jadikan pacar hyung?"
Doyoon menoleh dan menatap Mingyu yang sedang memamerkan gigi taringnya. "Hah?"
"Yeoja chingu, hyung. Yeo-ja chin-gu," eja Mingyu.
"Keluar," usir Doyoon sambil mengibaskan tangannya.
"Hyung~"
Doyoon mendorong Mingyu hingga keluar dari ruangannya lalu mengunci pintunya. Di balik pintu, Mingyu cemberut lalu ia beranjak dari sana. Doyoon kembali mendekati jendela, menatap Seungcheol sebentar lalu menarik gorden dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
"Samchoonnn!" teriak seorang bocah sambil berlarian di dalam rumah keluarga Jang.
"Seokmin, jangan teriak-teriak," tegur seorang perempuan cantik bernama Hong Jisoo.
Seokmin menatap Jisoo dan memamerkan giginya. Jisoo cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah laku keponakannya yang satu itu.
Hapal dengan suara teriakan itu, yang dipanggil samchon menyahut dari taman belakang. "Di sini, Seokmin-ah."
Seokmin langsung berlari ke taman belakang begitu mendengar sahutan dari samchonnya. Seokmin mengecup pipi samchonnya ketika sampai di taman belakang.
"Sendirian?" tanya samchon—Jang Mingyu—lalu mendudukkan Seokmin di atas perutnya.
Seokmin menggeleng. "Sama Uji-hyung, ada imo juga."
Mingyu menutup majalahnya. Ia menarik Seokmin ke pangkuannya seraya mendudukkan diri.
Seokmin bangkit dari pangkuan Mingyu lalu menarik lelaki itu agar berdiri. "Ayo mainnnn."
Mingyu berdiri dan pasrah ditarik oleh Seokmin. "Iya iya."
Sementara itu, setelah Jisoo membiarkan keponakan satunya yang bernama Jihoon menonton televisi di ruang tamu, ia pergi ke dapur dan membuka kotak kue yang dibawanya. Jisoo memotong kue itu lalu memindahkannya ke piring.
"Oh, annyeonghaseyo," sapa Seungcheol sambil membungkukkan badan ketika melihat Jisoo sedang membereskan kotak kue.
"Annyeonghaseyo," balas Jisoo dengan suara madunya sambil membungkukkan badan. "Orang baru ya?"
Seungcheol mengangguk lalu mendekati Jisoo. "Biar aku bantu."
"Tidak perlu. Sudah selesai kok," ujar Jisoo lembut. "Kau mau?" tawarnya.
"Eh, tidak apa-apa?" tanya Seungcheol sungkan.
Jisoo tersenyum lalu memotong kue untuk Seungcheol. "Siapa namamu?"
"Choi Seungcheol. Kau?"
"Hong Jisoo."
"Maaf, tapi apa hubunganmu dengan keluarga Jang?" tanya Seungcheol dengan raut wajah kebingungan.
Jisoo tertawa. "Aku pacarnya Jeonghan."
Seungcheol langsung memasang ekspresi what the fuck. Jeonghan sudah punya pacar semanis ini tapi masih saja menggoda perempuan lain.
"Kenapa?" tanya Jisoo saat melihat ekspresi Seungcheol.
"Oh… Oh tidak," jawab Seungcheol sambil tertawa sumbang.
"Aku tinggal dulu kalau begitu."
Seungcheol mengangguk. "Terima kasih kuenya."
Jisoo tersenyum lalu memasukkan kotak kue ke kulkas. Ia mengambil piring kuenya dan pergi ke ruang kerja Jeonghan yang berada di lantai dua. Jisoo mengetuk pintu bercat putih sebelum membukanya.
Jeonghan menoleh dan tersenyum ketika melihat kekasihnya mendekatinya. "Baby Soo~" ujarnya sambil menarik Jisoo ke pangkuannya.
Jisoo meletakkan piring kuenya di dekat tumpukan kertas yang berisi sketsa pakaian yang sudah dibuat oleh Jeonghan lalu dengan malu-malu mencium pipi lelaki itu. Jeonghan tersenyum lalu mengacak surai coklat Jisoo.
"Sendirian?" tanya Jeonghan.
"Ada Jihoon dan Seokmin di bawah," jawab Jisoo sambil menyendok kuenya dengan garpu. "Mau?" tanyanya sambil mengunyah kue.
Jeonghan langsung mencium bibir Jisoo, memasukkan lidahnya dan memindahkan kue yang sudah lumat di dalam mulut Jisoo ke mulutnya.
Sang gadis bermarga Hong memukul lengan Jeonghan ketika lelaki itu menjauhkan kepalanya. "Apa-apaan sih?!" serunya dengan wajah memerah.
Jeonghan menyeringai lalu menjilat bibirnya dengan lidah. "'Kan kau menawarkan. Ya aku mau, tapi dari mulutmu."
Jisoo menjauhi Jeonghan sekaligus menghilangkan rona merah muda dari pipinya dan menarik kursi ke sebelah lelaki itu lalu mendudukinya.
"Butik sepi?"
"Hm, ya…"
"Pantas ke sini."
"Masih jam makan siang juga."
Jeonghan menarik hidung Jisoo lalu kembali melanjutkan pekerjaannya—membuat sketsa pakaian.
Jisoo menyendok kuenya lagi dan memperhatikan Jeonghan yang sedang menggambar sambil sesekali menyodorkan potongan kue ke depan mulut Jeonghan.
Jisoo mempunyai sebuah butik, dan hampir semua pakaian yang dijualnya adalah hasil rancangan Yoon Jeonghan. Jeonghan adalah lulusan dari jurusan fashion design dan sekarang menjadi fashion designer yang membuat pakaian tidak untuk Hong Jisoo saja, tapi juga beberapa butik ternama.
.
Jihoon bergelayut manja di punggung Mingyu ketika Seungcheol melewati ruang tamu. Seungcheol mendekati mereka karena tertarik dengan Jihoon dan pipi tembamnya.
Mingyu yang menyadari Seungcheol mendekat langsung bersuara. "Noona."
Seungcheol mendudukkan diri di lantai di sebelah Seokmin dan menatap Mingyu. "Ya?"
Mingyu cengar-cengir. "Anak-anak kenalkan. Ini Seungcheol-noona. Noona, ini Seokmin," kata Mingyu sambil menunjuk Seokmin. "Dan ini Jihoon," lanjut Mingyu sambil mengacak rambut Jihoon.
Seokmin yang sedang menggerakkan mobilnya langsung berhenti lalu menatap Seungcheol dan Mingyu bergantian. "Pacarmu?" tanya Seokmin pada Mingyu.
"Masih kecil sudah mengerti pacaran tahu dari mana hm?" omel Mingyu sambil menarik telinga Seokmin pelan.
Adik dari Lee Jihoon itu cengar-cengir lalu ia mengulurkan tangannya pada Seungcheol. "Aku Seokmin. Salam kenal noona cantik."
Seungcheol menyalami Seokmin dan tersenyum. "Salam kenal, Seokmin-ah."
"Uji…" panggil Mingyu.
Jihoon menggembungkan pipi dan memalingkan wajah serta menarik leher Mingyu ke belakang.
"Sakit sayang," ujar Mingyu pura-pura tercekik sambil melepas tangan Jihoon.
Dalam hati, Seungcheol berteriak akan keimutan dari makhluk bernama Lee Jihoon. Lalu Seungcheol beralih menatap Seokmin sebagai distraksi. "Seokmin kelas berapa?"
"Kelas satu SD noona."
"Kalau Jihoon?" tanya Seungcheol sambil menatap Jihoon. "Boleh kupanggil Uji juga?"
Jihoon tidak menjawab dan memasang tampang tidak suka.
"Uji-hyung kelas dua," kata Seokmin.
Seungcheol mengangguk paham lalu memperhatikan Seokmin yang kembali memainkan mobilnya. Tiba-tiba ponsel Mingyu berbunyi. Ia menarik Jihoon agar turun dari punggungnya lalu menjauhi ruang tamu. Selesai dengan teleponnya, Mingyu kembali lalu mendekati Jihoon yang bermain mobil-mobilan dengan Seokmin.
"Noona, aku dipanggil ke kantor lagi. Aku titip mereka bisa?"
Seungcheol mengangguk. "Tentu saja."
"Kalau Uji rewel panggil Doyoon-hyung saja."
"Oke."
"Uji, Seokmin, jangan nakal ya. Baik-baik sama noona," kata Mingyu sambil mencubit kedua pipi tembam Jihoon. "Samchon pergi dulu," lanjutnya lalu mengecup pipi Jihoon.
Jihoon mengerang dan segera menjauhkan kepalanya lalu memukul Mingyu.
Seokmin dan Mingyu tertawa melihat reaksi Jihoon. Kemudian Mingyu mengacak rambut Jihoon. "Dah Uji, Seokmin!"
"Samchon, pulang jam berapa?" tanya Seokmin.
"Sebelum makan malam, mungkin," jawab Mingyu tidak yakin.
Kedua sudut bibir Seokmin menekuk turun mendengar jawaban Mingyu.
Mingyu menyodorkan kelingkingnya ke hadapan Seokmin. "Samchon janji, kalau sudah selesai akan segera pulang."
Seokmin menautkan kelingkingnya pada kelingking Mingyu. "Janji ya."
Mingyu mengangguk. "Samchon tinggal dulu."
Seokmin melambaikan tangan lalu Mingyu pergi dari hadapan mereka.
"Noona ayo mainnnn," ajak Seokmin sambil menarik tangan Seungcheol.
"Main apa?" tanya Seungcheol sambil mengelus kepala Jihoon yang sudah bersandar padanya.
"Itu!" seru Seokmin sambil menunjuk jenga yang ada di dekat mereka. Seokmin mengambilnya lalu mengeluarkannya perlahan dari kardus.
Setelah puas bermain jenga—yang awalnya dimainkan oleh Seungcheol, Seokmin dan Jihoon namun berakhir menjadi Seungcheol dan Seokmin saja karena Jihoon mengantuk di tengah permainan dan memilih untuk tidur di pangkuan Seungcheol—akhirnya Seungcheol menemani Seokmin untuk menonton kartun. Namun akhirnya Seokmin tumbang juga dan tertidur. Seungcheol mengambil selimut—setelah bertanya pada Nyonya Kang dimana ia bisa mendapat selimut—dan menjaga dua bocah itu hingga jam makan malam tiba.
Selesai makan malam, Jisoo berbincang-bincang sebentar dengan Jeonghan sambil menunggu Jihoon bermanja-manja dengan samchon kesayangannya yang merupakan sepupu dari Yoon Jeonghan sementara Seokmin bermain dengan samchon yang merangkap sebagai partner-in-crimenya, Jang Mingyu.
"Uji, Seokmin, ayo pulang," ujar Jisoo.
Jihoon turun dari pangkuan Doyoon sementara Seokmin turun dari sofa dan ketiganya siap untuk pulang.
"Tunggu," ujar Seokmin ketika mereka sampai di pintu utama.
"Ada apa, Min-ie?"
"Noona mana?"
"Seungcheol-noona?" tanya Jeonghan yang akan mengantar Jisoo sampai ke mobilnya.
Seokmin mengangguk dengan semangat.
"Samchon panggilkan dulu," kata Mingyu lalu pergi ke dapur khusus pelayan dan ia kembali bersama Seungcheol.
"Ada apa, Seokmin-ah?" tanya Seungcheol dan mendekati Seokmin.
Jihoon segera turun dari gendongan Jisoo dan meminta Seungcheol untuk menggendongnya.
"Mau pamit sama noona cantik," jawab Seokmin.
Seungcheol tertawa lalu mengacak rambut Seokmin. "Hati-hati."
"Sampai jumpa noona," ucap Seokmin dan menarik tangan Seungcheol agar perempuan itu merendahkan tubuhnya lalu Seokmin mencium pipi Seungcheol di pipi kanan. Kemudian Seokmin berlari keluar dari rumah setelah berteriak 'Dah, samchondeul!'
Jihoon juga melakukan hal yang sama dengan Seokmin, yaitu mencium pipi kiri Seungcheol lalu turun dari gendongan Seungcheol dan mengejar Seokmin.
Seungcheol cuma tertegun atas kelakuan dua bocah itu dengan pipi merona.
"Manis, 'kan?" Mingyu berbisik pada Doyoon.
Doyoon memukul kepala Mingyu lalu kembali ke ruang kerjanya.
Mingyu meringis kemudian tersenyum atas reaksi Doyoon.
"Imo, ayo pulang!" teriak Seokmin.
"Aku pulang dulu ya," pamit Jisoo.
"Hati-hati noona," ujar Mingyu.
Jisoo tersenyum lalu menatap Seungcheol. "Terima kasih ya, sudah menjaga keponakanku."
"Sama-sama. Hati-hati, Jisoo-ssi."
Jisoo tersenyum lalu keluar dari rumah keluarga Jang diantar oleh Jeonghan.
.
Setelah Jisoo dan dua keponakannya pulang, Seungcheol tiba-tiba ingin es krim. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke minimarket terdekat dan membeli beberapa camilan, es krim dan juga minuman berkarbonasi. Beruntung minimarket agak sepi jadi Seungcheol tidak perlu capek-capek mengantri. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang kepada penjaga kasir yang tampan, lelaki itu tak juga memberikan barang belanjaan Seungcheol tapi malah menatap gadis itu dengan intens. Seungcheol jadi risih dan hei, nanti es krimnya keburu cair!
"Maaf, ada sesuatu di wajahku?" tanya Seungcheol akhirnya.
Lelaki itu malah tersenyum ketika Seungcheol bersuara. "Ah, ternyata memang benar. Kau Seungcheol-noona."
"Siapa ya?" tanya Seungcheol sambil menautkan kedua alisnya.
Bukannya menjawab, lelaki yang bertugas menjaga kasir itu malah tersenyum.
Akhirnya Seungcheol malah mengingat-ingat siapa lelaki di depannya itu. Matanya yang besar itu semakin membesar ketika ia mengingat si penjaga kasir. "Junhui ya?"
Junhui terkekeh. "Ingat juga."
"Sempat lupa sih." Seungcheol meringis.
Mereka berbincang-bincang sebentar lalu Seungcheol pamit sebelum es krimnya benar-benar mencair dan rasa baper melandanya.
Pasalnya, Wen Junhui, umur 24 tahun, asal Shenzen adalah mantan dari Choi Seungcheol yang dulu tinggal di Daegu dan melanjutkan kuliahnya di Seoul. Tapi Seungcheol putus dari Junhui jauh sebelum Junhui pindah ke ibu kota untuk melanjutkan studinya.
Jadi, akankah cinta lama mereka bersemi kembali atau malah Seungcheol menambatkan hatinya kepada majikannya yang judes itu?
.
TBC
.
Krisar? Terima kasih bagi yang sudah mampir dan meninggalkan jejak~ ;)
