Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi
The Reason belongs to Chappy Ruki Oguri
Pairing(s) : Sanae Nakazawa X Tsubasa Ozora
Warning : OOC bangget, miss typo(s), cerita pasaran, obsesi terpendam author terungkap di sini
Special Fiction for All Captain Tsubasa's Lover especially TsuSan Lover
Chapter 3
*First Night? *
=== HAPPY READING ===
.
.
.
.
Dunia sepertinya kini telah berbalik. Seharusnya dua orang anak manusia yang baru saja mengikat "janji suci" sehidup semati terlihat bahagia dengan prosesi pernikahan yang telah mereka lakukan serta ucapan turut berbahagia yang dilayangkan para sahabat, orang tua, serta kerabat mereka. Tidak demikian dengan pasangan muda Tsubasa dan Sanae. Sedari tadi mereka hanya tersenyum simpul untuk sekedar formalitas biasa agar orang-orang sekitarnya berpikir mereka juga bahagia dengan pernikahan mereka sendiri. Ayah Ozora sangat terharu dan sempat meneteskan air mata melihat putra semata wayangnya yang telah memiliki kehidupan baru dengan gadis pilihan ibunya. Begitu juga dengan ibu Nakazawa yang juga turut meneteskan air mata karena tidak menyangka anak gadisnya kini telah berkeluarga. Mereka semua punya harapan besar kepada Tsubasa dan Sanae. Wejangan-wejangan dari orang tua masing-masingpun dilontarkan kepada keduanya.
"Ayah begitu bangga padamu, Tsubasa! Jaga istri dan anak-anakmu! Cintai mereka melebihi kau mencintai sepak bolamu!"
"Aku harap kalian bisa memiliki keluarga yang bahagia. Tsubasa jadilah kepala keluarga yang bertanggung jawab dan begitu menyayangi keluarganya serta kau Sanae, kau menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakmu."
"Hai,bro! Aku titip adikku padamu! Jangan sampai kau membuatnya menangis! Awas jika aku tahu kau membuatnya menangis!"
"Adik ipar, aku harap kalian tidak akan lama punya momongan. Hahaha."
Begitulah wejangan-wejangan dari orang terdekat Tsubasa dan Sanae. Mereka berharap banyak bukan pada Tsubasa dan Sanae?
Namun wejangan-wejangan itu hanya ditanggapi dengan senyuman tipis dari keduanya. Mereka tidak mau berkomentar tentang wejangan-wejangan itu. Dalam hati hanya menjawab semoga.
Ritual selanjutnya ketika telah menikah adalah tentu saja malam pertama. Mereka telah disiapkan kamar pengantin di sebuah hotel milik keluarga Yayoi. Mobil sedan putih kini melaju stabil menuju hotel Aoba, hotel bintang lima yang dikelola oleh keluarga Aoba. Dari prosesi pernikahan hingga sekarang Tsubasa dan Sanae hanya diam seribu bahasa. Sanae yang biasanya terlihat begitu ceria kini berubah menjadi seorang yang cuek. Selama perjalanan dia hanya memperhatikan pemandangan di luar mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tsubasa pun melakukan hal yang demikian. Benar-benar tidak seperti pasangan yang baru menikahkan ?
Sanae's POV
Hari ini seharusnya menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupku. Aku menikah dengan laki-laki yang sejak dulu begitu aku cintai. Tapi, menyadari bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama membuatku enggan membuat hari ini begitu penting. Seandainya semua orang tahu tentang kenyataan ini, pastilah mereka tidak akan menikahkanku dengan Tsubasa. Hari ini pun mereka semua berdoa agar kehidupan baruku bersama Tsubasa menjadi bahagia. Tapi, aku ragu dengan semua itu.
Sesekali aku melihat pria yang sedang mengemudi mobil yang akan membawa kami ke hotel, tempat kami akan menghabiskan malam pertama kami sebagai pengantin baru. Tsubasa... bisakah kau meyakinkan aku jika dalam kehidupan baru yang akan kita jalani kita bisa bahagia?
Cairan asin sedikit mengintip dari Kristal coklatku. Rasanya sedih sekali berharap terlalu banyak pada pria yang akan lebih setia pada sepak bolanya. Haah! Aku menghela nafas panjang.
Tsubasa kini melihatku.
"Ada apa?" tanyanya memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti kami. Aku tidak menjawab. Malas.
Beberapa saat kemudian kami telah di hotel Aoba. Untuk kesekian kalinya aku berdecak kagum dengan desain interior yang ditampilkan di hotel ini. Keluarga kak Yayoi memang benar-benar pintar menarik para tamu untuk datang ke hotel miliknya. Sesampainya di loby, kami langsung disambut oleh pelayan hotel.
"Nona Nakazawa ?"
"Ya."
"Mari saya antar ke kamar Anda. Kamar Anda ada di lantai 3 kamar 3010."
"Ah,baik! Terima kasih." Benar-benar pelayanan yang excellent kan?
End of Sanae's POV
"Selamat beristirahat. Jika butuh apa-apa silakan hubungi kami."
"Terima kasih."
Pengantin baru itupun masuk ke kamar 3010 yang sudah disiapkan kakak iparnya. Sanae hampir mau pingsan mendapati kamar yang berisi tempat tidur yang kecil. Biasanya kamar kelas tiga seperti kamar yang ditempatinya saat ini ukuran tempat tidur diberikan king size. Tidak ada sofa untuk sekedar santai. Yang ada di sana hanya tempat tidur kecil, TV, kulkas mini, kamar mandi dan tidak dilengkapi AC (bayangin kamar hotel novotel solo, Cuma bedanya gag ada kursinya dan ac nya).
"Ini pasti kerjaan kakakku." Keluh Sanae.
"Ada apa?" Tanya Tsubasa heran melihat ekspresi Sanae.
"Biasanya kamar kelas tiga di sini ukuran tempat tidurnya lebih besar dari ini. Tapi kenapa ini kecil sekali."
Tsubasa kemudian tersenyum melihat ekspresi cemberut Sanae. Dia berpikir pasti kakak-kakak iparnya itu ingin malam pertama adiknya sukses.
"Apa kita perlu menghubungi resepsionis untuk mengganti tempat tidurnya?"
Sanae terdiam sejenak. Berpikir apakah perlu tempat tidurnya diganti? Hari juga sudah mulai gelap. Dia sudah sangat lelah dengan acaranya sedari pagi. Jika tempat tidurnya diganti pastilah akan memakan waktu yang lama. Toh dia hanya sehari saja di sini kan.
"Hei, bagaimana?"
Sanae tersadar dari pikirannya tentang tempat tidur.
"Sebaiknya tidak usah. Toh kita besok kita sudah pulang kan?"
"Hmm.. baiklah! Kalau begitu aku mau mandi dulu."
Malam pertama. Apa yang akan dilakukan oleh Sanae dan Tsubasa? Apakah mereka akan benar-benar melakukan hubungan suami istri? Check it out!
.
.
.
.
Setelah keduanya mandi dan berganti pakaian tidur kini mereka bersama-sama duduk di tepi tempat tidur.
"Kita akan tidur berdua ya, Tsubasa?" Tanya Sanae tak berani melihat ke arah Tsubasa. Jantungnya berdegup kencang karena perasaan bahagia bisa bersama orang yang ia cintai.
"Apakah malam pertama itu penting untuk orang-orang yang baru menikah?" Tanya Tsubasa balik.
"Mungkin bagi pasangan yang memang menikah karena saling mencintai itu adalah hal yang penting. Karena mereka akhirnya bisa mengungkapkan perasaan mereka lewat sentuhan dari pasangannya untuk yang pertama kali. Bukan seperti kita yang menikah karena perjodohan dan menyenangkan keluarga saja."
Tsubasa terkejut mendengar jawaban Sanae. Pasti Sanae berharap kalau dia akan melewatkan malam bersama pria yang ia cintai.
"Maaf ya?"
"Eh?"
"Maaf aku belum bisa seperti itu. Apa Sanae mencintaiku?"
Pertanyaan ini sukses membuat Sanae mati kutu. Tapi dia berusaha untu tetap stay cool dalam menanggapi pertanyaan tak terduga dari Tsubasa.
"Menurutmu?"
"Aku tidak tahu. Yang pasti aku sendiri akan berusaha untuk mencintaimu, Sanae."
Kini Sanae yang terkejut. Masih ada harapan,pikirnya.
"Kenapa?" Tanya Sanae penasaran.
"Karena aku tidak ingin menjalani pernikahan seperti yang kau katakan tadi."
Sanae tersenyum bahagia. Dia kembali bersemangat. Dalam hatinya dia berjanji akan membantu Tsubasa untuk mencintainya.
Tsubasa yang melihat Sanae telah kembali ceria, turut ikut tersenyum.
"Lalu apa yang akan kita lakukan malam ini?" Tsubasa memandang Sanae. Sanae terlihat merona.
"Eer..itu.." Jawab Sanae sambil mengalihkan pandangan.
Tsubasa tersenyum. Tangan kanannya menyentuh dagu Sanae. Dimaksudkan agar Sanae kembali menatap matanya. Sanae terkejut dengan apa yang dilakukan Tsubasa. Mungkinkah Tsubasa akan... Pikirnya. Benar! Tsubasa mendekatkan wajahnya ke Sanae. Dibelainya dengan lembut pipi merona wanita yang sejak 3 jam lalu telah resmi menjadi istrinya.
"Kau cantik, Sanae." Bisiknya lembut.
Sanae masih memandang matanya. Masih mencari tahu apa arti semua tindakan Tsubasa. Dalam hati ia begitu bahagia. Tak apa jika Tsubasa tak mencintainya asalkan Tsubasa terus bersamanya.
Sanae menggenggam tangan Tsubasa yang masih singgah di pipinya. Matanya menutup seiring merasakan hangat dan lembut sentuhan tangan kekar Tsubasa.
Tsubasa mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas Sanae terasa di wajahnya. Kristal coklat dan kristal hitam bertemu. Mata Tsubasa beralih ke bibir Sanae yang merah. Menunggu untuk dijamah. Perlahan tapi pasti bibir Tsubasa menyentuh bibir Sanae. Lembut, itu yang ia rasakan.
Tsubasa melumat bibir Sanae berkali-kali. Lembut,manis,hangat. Tanpa sadar Tsubasa membawa Sanae ke dalam pelukkannya. Hingga ia bisa lebih dekat dengan istrinya itu.
Bibir Tsubasa beralih ke leher Sanae. Dihisapnya aroma sabun mandi yang begitu menyegarkan. Wangi khas Sanae dari dulu yang tak pernah ia lupakan. Bibirnya turun ke bagian dada hingga ia merasakan dua gunung kembar milik Sanae. Dikecupnya sekali kemudian beralih kembali ke bibir Sanae.
Tanpa sadar Sanae sudah terbaring di tempat tidur. Bibirnya masih berpautan dengan bibir Tsubasa. Dia tak mau melepaskannya. Segala sensasi yang dirasakan dari sentuhan Tsubasa begitu nikmat. Tangan Tsubasa dengan sigap melepas satu per satu kancing piyama Sanae. Tangannya mulai menjelajah seluruh bagian tubuh Sanae. Bibirnya tak mau tinggal diam tak ambil bagian menyentuh seluruh tubuh Sanae.
"Ah~"
Desahan Sanae membuat Tsubasa semakin gila menjelajahi inci demi inci bagian tubuh Sanae.
Jangan tanya kenapa Tsubasa bisa melakukan hal itu pada Sanae. Laki-laki mana yang tahan jika di depannya disuguhi 'daging segar'. Semua sumpah serapah yang ia katakan sebelum menikah terlupakan sudah. Yang dia inginkan saat ini adalah wanita yang ada di hadapannya ini menjadi milik Tsubasa seutuhnya. Tak peduli mereka melakukan ini semua berdasarkan cinta atau tidak. Itu urusan belakangan.
.
.
Sanae tertidur lelap karena 'pertempuran'nya dengan Tsubasa. Bagi Tsubasa sendiri, ini kali pertama Tsubasa merasakan lelah yang begitu amat melebihi latihan berat yang ia jalani selama ini. Namun anehnya ia masih terjaga. Memikirkan apa yang terjadi barusan. Dia merasa begitu gila. Bagaimana ia bisa melakukan semua itu pada Sanae? Dia harap Sanae tidak mempermasalahkan hal itu.
Dibelainya rambut Sanae yang kini berantakan di atas dadanya. Dia rapikan, hingga dirinya mampu melihat wajah cantik istrinya itu. Tak salah jika ia mengatakan Sanae cantik. Dari dulu memang Sanae cantik, senyumnya manis, pandai memuji, selalu menyemangatinya dan juga tim kesebelasan SMP Nankatsu. Dia tak hanya sekedar manajer,namun bisa dibilang dia seperti seorang ibu dan kami anak-anaknya. Meskipun kadang dia selalu terlihat marah, tapi bagi kami dia sosok yang baik. Batin Tsubasa.
Dan yang baru saja ia sadari adalah ternyata dia begitu mengenal sosok Sanae.
Perjodohan ini sangatlah gila. Tadinya, sebelum ia tahu Sanae yang akan menikah dengannya. Sekarang Tsubasa semacam beruntung mendapatkan wanita yang sudah ia kenal sejak pindah ke Nankatsu. Ya setidaknya dia tak perlu mengenal lagi sosok wanita yang menjadi pendamping hidupnya.
"Tsubasa,jangan pergi."
Eh?
Tiba-tiba Sanae mengigau demikian. Dan ini membuat Tsubasa terdiam lalu tersenyum.
"Aku di sini. Aku tidak akan kemana-mana." Bisiknya lembut sambil mengecup pucuk kepala Sanae, membelai kulit putihnya yang kini menyentuh lembut kulitnya.
Ia bahkan tak tahu maksud kata-katanya barusan. Yang jelas saat ini dia hanya ingin bersama Sanae.
.
.
TBC
HAHAHAHHAHAHHAHAHAHHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHA
Ciymiii jahaaaaat HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHA
BYE!
