Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi

The Reason belongs to Chappy Ruki Oguri

Pairing(s) : Sanae Nakazawa X Tsubasa Ozora

Warning : OOC bangget, miss typo(s), cerita pasaran, obsesi terpendam author terungkap di sini

Special Fiction for All Captain Tsubasa's Lover especially TsuSan Lover

Chapter 4

*Third Person(s)part 1 *

=== HAPPY READING ===

.

.

.

.

Sehari kemudian setelah menikah, Tsubasa langsung mengajak Sanae kembali ke Brazil. Karena masih ada pertandingan musim yang harus ia selesaikan. Hari-hari Tsubasa Sanae cukup menyenangkan. Mereka terlihat menikmati kebersamaan berdua. Rasa canggung diantara mereka perlahan mulai hilang. Tidak seluruhnya memang. Namun setidaknya mereka bisa bersikap wajar. Meskipun masih seperti teman lama yang saling bertemu.

"Kelihatannya enak." Celetuk Tsubasa sambil mengambil buah cherry yang baru saja diletakkan Sanae di atas kue.

"Iiih kenapa dimakan sih! Itu tinggal satu-satunya cherry yang tersisa!" Ucap Sanae sambil menggembungkan pipinya. Kesal.

Tsubasa yang menyadari itu hanya tertawa puas melihat reaksi Sanae. Separuh cherry yang ia ambil ia sodorkan di depan mulut manyun Sanae.

"Aaaa.." Ucap Tsubasa sambil membuka mulutnya lebar-lebar bermaksud untuk menyuapkan separuh potong cherry itu pada Sanae. Akhirnya Sanae membuka mulutnya dan memakan cherry itu.

"Smile,please." Pinta Tsubasa. Sanae akhirnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Heran juga melihat tingkah Tsubasa yang demikian.

"Kue untuk siapa?" Tanya Tsubasa sambil menatap wajah cantik Sanae.

"Untuk Roberto."

"Eh? Roberto? Kenapa tiba-tiba ingin buat kue untuk Roberto?"

"Tidak tahu. Ingin saja. Setelah ini antar aku ke tempat Roberto ya!"

"Baiklah. Apapun untukmu." Ucap Tsubasa sambil mencium pipi Sanae. Seketika itu juga wajah Sanae langsung merona hebat.

"Aku suka melihatmu saat merona seperti sekarang." Goda Tsubasa.

"Apaan Tsubasa!"

Tsubasa tertawa lepas.

"Oya..setelah pertandingan musim ini selesai kita akan ke Eropa?"

"Eh?"

"Aku telah memutuskan untuk bermain di sana. Namun aku belum tahu akan masuk ke club mana." Kata Tsubasa dengan percaya diri.

"Waah. Benarkah? Selamat!" Kata Sanae.

"Kau mau keliling Sao Paulo?"

"Hm? Boleh!"

"Baiklah setelah mengantar kue ke Roberto kita jalan-jalan."

Sanae mengangguk.

Tsubasa itu benar-benar orang baik. Tapi,juga mudah menyakiti hati Sanae secara tidak langsung. Entah sudah kesekian berapa ia menyakitinya sebelum menikah, saat menikah, bahkan setelah menikah hingga sekarang. Selama ini Sanae terus berpikir positif. Mungkin karena Tsubasa tidak tahu kalau selama ini dia menyakiti hatinya dan mungkin dia juga salah karena hanya diam saja dengan semua itu.

.

..

Taman Ibirapuera Park yang indah menjadi tempat pertama yang mereka kunjungi.

"Waah indahnya!"

"Apa kubilang."

Sanae masih dibuat kagum dengan taman ini. Tsubasa mengajaknya berkeliling sambil menjelaskan beberapa bagian taman ini yang ia tahu. Perjalanan selanjutnya adalah sebuah monumen untuk bandeirantes (pelopor) São Paulo yang berdiri di pintu masuk taman. Di dekatnya ada wilayah danau Santo Amaro yang merupakan tempat rekreasi yang populer. Acara olahraga sering diadakan di stadion Morumbi dan Pacaembu.

"Kau tahu banyak, Tsubasa!"

"ya begitulah."

Tsubasa begitu senang melihat Sanae yang begitu bahagia. Semoga ia dan Sanae tetap bias menjalani kehidupan ini bersama. Tanpa ia sadari, ia telah menyimpan rasa kagum yang begitu dalam di setiap sneyuman yang ditampilkan Sanae.

Akhirnya mereka duduk di bangku taman dengan membawa manisan gula berwarna merah muda.

"Kau mau, Tsubasa?" Tanya Sanae sambil menyodorkan gula ke mulut Tsubasa. Tsubasa segera membuka mulutnya dan melahap manisan gula yang ada di tangan Sanae.

"Sanae…"

"Hm?"

Tsubasa memberikan gerakan untuk memberi tahu bahwa di mulut Sanae ada manisan gula yang belum masuk di mulutnya.

"Apa?"

Namun Sanae masih belum paham maksud Tsubasa. Dengan sigap Tsubasa mendekat pada Sanae. Awalnya ia ingin mengambilnya dengan tangannya, namun ada cara yang lebih mengesankan untuk mengambil manisan gula itu.

Tsubasa mendekatkan mulutnya ke mulut Sanae. Seketika itu juga wajah Sanae memerah.

"Tsu-"

Belum sempat Sanae mengucapkan nama lengkap Tsubasa, Tsubasa keburu menyentuh bibirnya dengan bibir Tsubasa. Tsubasa mengambil sisa manisan gula dan memasukkannya ke mulut Sanae. Bisa dibilang Tsubasa sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan. =))

Setelah beberapa detik, Tsubasa menjauhkan bibirnya dari bibir Sanae. Mereka berdua saling bertatapan. Tsubasa tersenyum melihat ekspresi Sanae.

"Rasa manisan gulanya lebih manis."

"A-apaan!" Sanae segera menjauhkan wajahnya dari Tsubasa dan berdiri.

"Aku lapar. Ayo cari makan." Kata Sanae lagi. Dan ini sukses membuat Tsubasa terkekeh geli.

Sudut atas Centre Comercial de les Glories kini telah ditempati Tsubasa dan Sanae. Mereka memilih tempat tersebut agar tetap bisa menikmati pemandangan kota Sao Paulo malam hari. Kali ini Tsubasalah yang memlihkan menu masakan karena Sanae benar-benar tidak ada gambaran tentang pilihan makanan yang tertera di daftar menu restoran tersebut. Semua menu di restoran Centre Comercial de les Glories menggunakan bahasa Spanyol. Sanae sendiri masih pemula untuk belajar bahasa Spanyol dan dalam hal bahasa Spanyol, Tsubasalah yang lebih jago karena sudah hampir 4 tahun dia tinggal di Brazil, Negara yang notabene bahasa sehari-harinya adalah bahasa Spanyol.

"Suka sayuran kan?" Tanya Tsubasa.

"Iya. Jangan pilihkan aku makanan yang aneh-aneh."

"paella de arroz, pisto,enblanco de pescada. Gracias" Kata Tsubasa kepada pelayan.

"Kau pesankan aku apa?"

"Apa ya? Lupa!" jawab Tsubasa santai.

"Arght! Menyebalkan!" jawab Sanae cemberut kemudian tersenyum.

Ini sebenarnya bisa disebut kencan. Hanya saja kedua anak manusia ini tidak mau mengakuinya.

"Apa yang kau rasakan, Sanae?" Tanya Tsubasa.

"Hari ini aku senang." Balasnya dengan nada biasa.

Sanae's POV

Hari ini benar-benar menyenangkan. Seharian aku bersama Tsubasa. Sungguh di luar dugaan bisa menikmati keindahan setiap sudut kota Sao Paulo dengan orang yang gila bola seperti Tsubasa. Sekarang kami sedang menikmati masakan Spanyol di sebuah cafe yang suasananya begitu menyenangkan. Jangan Tanya namanya. Karena pelafalan bahasa di sini sedikit unik dan berbeda dengan tulisannya, jadi aku tidak berani mengucapkannya. Makanan di sini juga tergolong enak. Two thumbs up untuk semua makanan yang dipilih Tsubasa. Tidak menyangka ya, ternyata Tsubasa pandai memilih makanan.

Tiba-tiba suasana ini berubah menjadi tidak menyenangkan karena kehadiran seorang wanita asing yang menyapa kami di cafe ini.

"Hai, Tsubasa? Tanya wanita itu.

"Rika!" jawab Tsubasa dengan ekspresi wajah yang begitu senang.

Aku hanya melihat mereka dengan heran dan masih bertanya-tanya siapa wanita bernama Rika ini? Kenapa bisa mengenal Tsubasa? Kenapa Tsubasa begitu senang melihatnya?

"Apa yang kau lakukan di sini?" Kata wanita itu.

What the piip. Apa-apaan wanita ini! Tidak tahu apa dia bicara seperti itu di depan siapa.

Merasa diacuhkan akhirnya aku buka suara.

"I've finished! Aku mau pulang." Katau dengan muka masam.

"Mm.. siapa wanita ini, Tsubasa? Pacarmu ya?" kata Rika lagi.

Bukan pacar, tapi aku ini istrinya.

"Di- dia.. dia temanku!"

WHAT? TEMANMU? Aku benar-benar tidak menyangka dengan jawaban Tsubasa. Dengan segera aku pergi dari cafe itu. Suasana hatiku benar-benar tidak baik sekarang. Apa maksud Tsubasa mengatakan pada Rika kalau aku ini temannya? Oh, mungkin karena dia belum memiliki rasa padaku jadi dia berkata seperti itu. Memikirkan itu semua membuatku sakit kepala. Dan tanpa terasa air mataku mengalir deras dari Kristal coklatku. Jika kau tidak mencintaiku, setidaknya akui aku sebagai istrimu di depan orang lain. Jangan membunuhku secara perlahan sepert ini.

"Sa-sanae!" teriak Tsubasa padaku. Tapi aku tidak mempedulikannya. Aku bosan dengan kepura-puraan ini.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

-ciymii's curcol-

Yeay bias update! Bias unblokir ffn! XD

Tetap review ya, biar saya semangat melanjutkan.

Sankyouuuu :DDD