Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi

The Reason belongs to Chappy Ruki Oguri

Pairing(s) : Sanae Nakazawa X Tsubasa Ozora

.

.

.

Sanae benar-benar dibuat kesal pada kata "teman" yang diucapkan oleh Tsubasa. Awalnya hatinya dibuat melayang ke udara, kemudian hanya dalam hitungan detik dihempaskan ke tanah. Sejak malam pertama Tsubasa benar-benar memberikan harapan yang indah dan meyakinkan. Laki-laki macam apa Tsubasa ini.

Air mata Sanae tak kunjung berhenti mengalir. Yang ia tahu cinta itu indah. Tidak begini rasanya. Demi apapun Tsubasa melakukan ini padanya, ia tak akan memaafkannya.

. . .

Tsubasa sudah sampai di depan pintu apartemennya. Ia melihat lampu ruang tamu sudah padam. Ada dua kemungkinan. Sanae belum pulang atau Sanae sudah tidur. Dia berharap Sanae sudah tidur. Dia akan sangat khawatir jika jam -sepuluh- begini, istrinya belum juga kembali.

Semua salahnya. Iya. Tak seharusnya ia mengatakan pada Rika kalau Sanae hanyalah temannya. Bisa dibilang Tsubasa bingung saat itu. Rika adalah wanita yang berhasil menarik perhatiannya sebelum ia mengetahui kalau dirinya telah dijodohkan dengan Sanae. Sempat pula ia ingin mengatakan cinta pada Rika sebelum ayahnya memintanya untuk pulang ke Jepang karena acara perjodohan. Jika bukan karena itu ia dan Rika pasti sudah menjadi sepasang kekasih.

Namun di sisi lain pula, saat mengetahui Sanae adalah orang yang akan menikah dengannya, ia menunjukkan ketertarikan pada teman wanita pertamanya saat pindah ke Nankatsu itu. Buktinya ia telah melalui malam pertama bersama Sanae. Dan hari ini adalah hari terindah dalam hidupnya saat mengelilingi kota Sao Paulo bersama wanita yang ia nikahi 3 hari yang lalu. Dan dalam jangka waktu 3 hari itu pula, Tsubasa mengalami kehidupan menyenangkan selain sepak bola. Dan itu bersama Sanae. Bahkan ia lupa akan kehadiran Rika. Hingga akhirnya ia dan Sanae bertemu Rika saat makan malam. Tsubasa seperti kembali tersiram pesona Rika sehingga ia tak ingin Rika tahu kalau dia baru saja menikah dengan Sanae. Dan ia menyesal. Pasti sekarang Sanae sangat membencinya.

Tsubasa menghela nafas panjang. Ia mulai membuka pintu apartemennya dengan pelan agar tak mengganggu Sanae jika istrinya itu sudah tidur.

Sepatu Sanae sudah ada di rak. Syukurlah jika Sanae sudah pulang. Ia segera menuju ke kamarnya. Berharap ia akan menemukan Sanae. Entah kenapa Tsubasa ingin sekali memeluknya. Namun ketika ia buka pintu kamarnya, ia tak mendapati siapapun di kamar itu. Tsubasa segera mengedarkan pandangan mencari sosok wanita bermata coklat itu.

"Sanae..." Tsubasa mulai memanggil nama istrinya. Ia cari di setiap sudut apartemenya namun tak ada. Lalu ia menemukan cahaya di kamar yang lain. Mungkinkah Sanae di sana? Batin Tsubasa.

Ia buka pintu itu pelan-pelan. Benar! Sanae ada di dalam kamar itu. Dan sepertinya Sanae lelah hingga tertidur dan tak menyadari Tsubasa telah menemukannya.

Tsubasa mendekat ke Sanae yang tidur dengan nyenyak. Ia singkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Ia mendapati pipi Sanae terdapat bekas aliran air mata. Hati Tsubasa kembali sakit karena telah menyakiti wanita yang sudah memberi warna tersendiri dalam hidupnya. Ia hapus air mata itu dengan tangan kekarnya. Ia kecup kening, mata, pipi, dan bibir Sanae dengan lembut.

"Maafkan aku, Sanae." Bisiknya di telinga Sanae sambil membelai pipi Sanae. Ia tarik selimut Sanae hingga menutup tubuh Sanae kecuali kepala. Ia matikan lampu kamar itu dan Tsubasa keluar dari kamar.

Setelah Tsubasa menutup pintu kamar, Sanae perlahan membuka matanya. Ia belum tidur. Tak bisa tidur malah. Air matanya kembali mengalir.

. . .

Semenjak kejadian itu Tsubasa dan Sanae tak pernah berpapasan meskipun mereka masih tinggal dalam satu apartemen. Sanae tak pernah keluar kamar jika Tsubasa belum pergi untuk latihan. Ia hanya akan keluar untuk mengerjakan pekerjaan rumah, menyiapkan baju latihan Tsubasa untuk besoknya, memasak makan malam namun tak pernah makan malam bersama Tsubasa. Entah sampai kapan keadaannya akan seperti ini. Lama-lama Tsubasa tak tahan juga dengan keadaan ini. Ia harus menemukan cara agar ia bisa membicarakan ini dengan Sanae. Aha! Tsubasa menemukan cara dan ia akan menjalankan rencananya ini besok pagi.

. . .

Esok harinya setelah sarapan, ia segera menjalankan rencananya. Ia membuat suara pintu ditutup dan menunggu Sanae untuk keluar kamar.

Lima menit kemudian Sanae keluar kamar. Ia segera menuju ke kamar Tsubasa untuk mencari pakaian kotor yang ia telah pakai latihan kemarin. Namun bukan pakaian kotor yang ia temukan malah setangkai bunga mawar merah di atas tempat tidur Tsubasa. Ia ambil bunga mawar itu lalu diciumnya. Hati Sanae begitu senang. Lalu ia menemukan kertas yang berisi tulisan "Terimakasih ".

"Apa kau senang?" Suara Tsubasa mengagetkan Sanae. Namun Sanae tak menjawab dan segera keluar dari kamar Tsubasa. Belum sampai ia melewati Tsubasa, tangan Sanae ditahan oleh tangan kekar Tsubasa.

"Kita harus bicara, Sanae."

"Apa?"

Tsubasa tersenyum. Ia senang. Setidaknya Sanae mau menjawabnya.

"Duduklah."

Sanae menurut. Ia tidak melawan. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah masih tak mau memandang Tsubasa. Tsubasa mengikuti Sanae duduk di tepi tempat tidur. Terdengar oleh Sanae, Tsubasa yang menghela nafas panjang.

"Aku minta maaf. Waktu itu aku tak bermaksud mengatakan bahwa kau adalah temanku..."

Sanae belum merespon.

"Rika adalah salah satu teman yang aku kenal saat Piala Dunia Junior saat SMP. Kami bertemu lagi di sini (Sao Paulo) setahun yang lalu karena ayahnya mendapat kontrak untuk melatih tim kesebelasanku. Dan aku sempat menyukainya..."

Tsubasa baka! Batin Sanae.

"...Aku juga sempat akan mengucapkan cinta jika ayahku tidak memintaku kembali ke Jepang karena perjodohan kita..."

Baka! Baka! Baka!

"...Awalnya aku memang tak setuju dengan perjodohan ini karena aku memang sudah punya wanita yang aku suka. Namun ketika aku tahu bahwa kau adalah calon istriku, entah kenapa aku senang dan menerimanya..."

"...Bahkan saking senangnya, aku melanggar sumpahku sendiri untuk tidak menyentuhmu. Hidupku lebih menyenangkan ketika kau ada di sini. Tiga hari tidak bertemu dan berbicara meskipun kita serumah membuatku sedih. Aku tidak tahu ini cinta atau semacamnya. Aku tak berani bilang karena memang aku butuh meyakinkan diriku sendiri agar tak membuatmu kecewa..."

"...Dan karenamu juga aku sempat melupakan perasaanku pada Rika sampai kita bertemu saat makan malam itu. Di satu sisi aku begitu senang karena aku bertemu lagi dengan orang yang kusuka hingga aku mengatakan kau adalah temanku pada Rika..."

"...Namun aku menyadari tak seharusnya aku mengatakan itu karena itu artinya aku telah menyakitimu..."

"...Paginya aku menemui Rika untuk menjelaskan segalanya. Dan dia mengerti meskipun aku tahu dia juga terluka..."

Tsubasa menghela nafas berat. Sanae mulai mengalihkan pandangannya ke Tsubasa. Dia melihat wajah Tsubasa yang begitu kusut. Ini pertama kalinya laki-laki yang telah menjadi suaminya itu dengan ekspresi demikian. Biasanya Tsubasa selalu bersemangat karena yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana membawa Jepang membawa pulang piala dunia. Dan karena wanita, Tsubasa menjadi seperti sekarang.

Sanae menggenggam tangan Tsubasa dengan kedua tangannya. Ia sandarkan kepalanya di bahu Tsubasa. Tindakan Sanae ini membuat Tsubasa kaget namun bercampur Senang.

"Maaf aku tidak bertanya dulu." Bisik Sanae.

Tsubasa tersenyum, "Tidak. Bukan salahmu. Aku yang tidak segera menjeLaskan."

Sanae tersenyum. Mata mereka bertemu. Melihat senyuman Sanae membuat hati Tsubasa lega. Tsubasa mendekatkan wajahnya ke wajah Sanae. Tak tahu kenapa ia begitu merindukan sentuhan Sanae. Ia kecup mesra bibir Sanae berkali-kali hingga tak sadar ia telah membuat Sanae berbaring di tempat tidur.

"Aku…. Aku…. Aku…." Tsubasa terdengar bimbang. Ia tatap dalam mata coklat Sanae. Ia tak mau membohongi perasaannya dan Sanae dengan mengatakan kata manis namun menyakitkan yang belum ia rasakan.

Sanae tersenyum lembut. Membalas tatapan Tsubasa. Ia belai pipi Tsubasa dan mengatakan, "Aku mencintaimu…" dengan masih menatap mata Tsubasa. "Aku akan menunggu sampai kau benar0benar yakin dengan perasaanmu padaku…"

"Tapi sekarang kau milikku kan?" lanjut Sanae.

Tsubasa tersenyum. Kemudian kembali menjamah bibir lembut Sanae. Mencium leher dan dada Sanae.

"Yours." Bisik Tsubasa

Sanae melingkarkan tangannya di leher Tsubasa. Memintanya lebih mendekat padanya. Memintanya menciumnya lagi dengan lembut. Memintanya menyentuh Sanae lagi. Dia menginginkan Tsubasa. Begitupun Tsubasa.

Dan hari itu dimulai dengan pagi yang indah. =))

.

.

.

TBC

Iyak segini dulu. Cao! ^^