Chapter : 2
Dissclaimer.
M.K, I,B
Warning,
Khusus untuk dewasa, yang di bawah tujuh belas tahun harap jangan baca,,,!
Lemon onli...!
Rate..
M
Naruto berjalan dengan santai di jalan yang biasa dia lalui, memang bukan jalan besar melainkan jalan memotong agar dia cepat sampai ke tempat tinggalnya. Begitu pulang dari kerja sambilannya dia selalu lewat situ.
Berjalan dengan sesekali tersenyum saat mengingat kalau saat ini dia telah memiliki adik, walau hanya adik angkat dia sudah sangat senang dan mungkin akan menjadi salah satu alasan dia terus melanjutkan hidup di dunia itu.
Suasana yang sedikit gerimis tak lantas membuatnya mempercepat jalannya, malah sepertinya dia menikmati setiap tetes air yang jatuh dari langit.
Sebenarnya ada jalan memutar lain yang lebih dekat, namun dia tetap memilih jalan itu karena di jalan itu dia dapat bertemu sebuah keluarga kecil yang miskin namun sangat ramah dan baik. Dia kadang mampir ke rumah keluarga itu untuk sekedar memenuhi panggilannya yang lebih sering di tolaknya karena waktu sudah terlalu larut.
Keluarga itu memiliki seorang anak gadis berumur tigabelas tahunan yang sangat manis dan juga selalu tersenyum ceria walau keluarganya sering kekurangan, gadis itu juga sudah dia anggap sebagai adik.
Hari ini dia ingin mampir kerumah keluarga itu untuk membagi kebahagiaan yang dia rasakan, kebahagiaan yang mungkin tidak sempat dirasakannya dulu. Dia ingin bercerita banyak pada mereka yang telah dia anggap...
'' Kaa-chan,! Tou-chan,! Hiks, tolong Rise, Hiks,,, Rise takut,''
Sebuah jeritan seorang gadis membuyarkan lamunan dari Naruto hingga ia mengalihkan pandangannya keasal suara yang tidak jauh darinya.
'' Aku mohon lepaskan putri kami, kami janji akan membayar hutang kami,'' sang ayah dari gadis itu nampak bersujud dan memohon dengan sangat dan air mata yang terus menggalir dari matanya, sementara sang ibu hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat atau berkata apa.
'' Mau membayar dengan apa,?! Hutang kalian sudah jatuh tempo. Jangankan membayar hutang, membayar bunganya saja kalian tidak akan bisa,'' ujar pria berpakaian preman namun rapi yang tengah memegangi gadis putri dari keluarga yang mereka satroni.
'' Tapi tenang saja, utang kalian kami anggap lunas beserta bunganya dan sebagai gantinya tubuh putri anda akan kami nikmati sampai puas. Hahahaha,,,'' lanjutnya sambil tertawa lepas dan memegang gadis berambut coklat itu kian erat.
'' Hahahaha,,, benar utang kalian akan lunas. Pintar sekali otakmu,'' timpal preman satunya juga ikut tertawa.
'' Aku mohon jangan lakukan itu, putri kami masih kecil,'' sang ayah memohon sambil memeluk salah satu kaki dari preman itu, air matanya kian deras mengalir mendengar putrinya akan di perlakukan seperti itu.
'' Diam,! Walaupun masih kecil tapi dia sangat manis dan menggoda. Lebih baik kau menonton putrimu kami perkosa dari sana saja,!''
' Duagh '
'' Tou-chan,! Hiks,,,'' sang gadis langsung memekik saat melihat preman yang di pegang kakinya oleh ayahnya menendang ayahnya hingga terjungkal kebelakang hingga membuat bibirnya sobek dan berdarah.
Sang ayah tidak merasakan sakit mendapat tendangan itu, tapi sakit melihat putrinya di perlakukan seperti itu.
'' Kau jaga-jaga, jangan sampai mereka mengganggu. Aku akan menikmati duluan tubuh gadis ini,'' perintah preman yang memegang gadis berambut coklat itu pada temannya yang di anggap anggukan oleh temannya.
'' Nah gadis manis, nikmatilah pengalaman berhargamu ini,''
' Sreeek '
Preman itu membaringkan di atas tanah dan memegang tangan gadis itu di atas kepalanya dan dengan sekali tarikan dia merobek baju kumal yang di pakai gadis itu hingga memperlihatkan dadanya yang masih kecil namun sangat mulus dan menggiurkan bagi mereka para pecinta anak kecil.
' Akh '
Gadis itu memekik saat bajunya di robek dengan paksa, dia menolehkan wajahnya kesamping dan memejamkan matanya berharap apa yang dia alami hanyalah sebuah mimpi.
'' Tubuhmu sangat menggoda walau belum tumbuh seperti wanita dewasa, aku pasti akan menikmatinya sepanjang malam ini,'' preman itu menyeringai mesum sambil matanya tak berkedip melihat tubuh gadis di bawahnya yang sudah polos karena memang dia hanya memakai kaos kebesaran tanpa dalaman.
'' Aku mohon jangan lakukan itu pada putri kami,'' sang ayah memohon dengan keputus asaan yang sangat, dia bersimpuh tanpa bisa melihat keadaan putrinya karena tidak tega.
'' Ne, Hime-chan nikmatilah surga dunia ini,'' preman itu sudah mengeluarkan penisnya tanpa mempedulikan permohonan sang ayah ataupun keadaan gadis di bawahnya yang masih belum siap menerima itu semua.
Seringaiannya kian lebar saat melihat kepasrahan gadis itu, penisnya sudah hampir menempel di kulit vagina gadis itu yang masih mulus tanpa bulu karena memang dia masih kecil.
Naruto yang melihat kejadian itu mengeraskan rahangnya, mata biru samudranya mendingin bak seekor predator yang bersiap memangsa buruannya.
Dengan sangat cepat, tangan tan miliknya mengambil tas di punggungnya dan mengambil isinya yang ternyata sebuah busur.
Merakit busur itu dengan cepat, setelah selesei dia langsung mengambil dua anak panah dari tas busurnya lalu di pasangkan pada tali busurnya kemudian di bidikan kearah dua preman yang tengah memperlakukan sebuah keluarga semena-mena.
' Swush,, swush,, '
Kedua anak panah itu melesat dengan cepat kearah target yang telah di tentukan oleh tuannya, membelah angin dan rintik hujan dengan begitu mulusnya.
' Stab,,, Stab,,, '
' Aaarrrggghhh,,,'
Satu anak panah mengenai tepat kepala preman yang sedang menindih tubuh gadis itu, yang tengah berusaha memasukan penisnya pada vagina mungil gadis itu. Namun sayang keinginannya tak tercapai karena sang Shinigami telah datang padanya lewat anak panah yang di lesatkan oleh Naruto. Tubuhnya terjatuh mengikuti gaya laju dari anak panah hingga dirinya tidak menindih gadis berambut coklat panjang itu saat jatuh.
Sementara anak panah satunya mengenai tulang punggung preman satunya hingga tembus ke perut, membuat preman itu jatuh tersungkur dan merintih kesakitan.
Naruto berjalan mendekat kesana dengan raut datar dan pandangan dingin, dia sangat tidak menyukai dengan apa yang mereka lakukan pada keluarga yang sudah di anggap keluarganya sendiri.
Sang ayah yang mendengar rintihan dan erangan yang bukan dari putrinya, mendongakan kepalanya melihat keasal suara. Matanya melebar begitu melihat dua preman itu telah tersungkur di tanah dengan anak panah menembus tubuh mereka bahkan salah satu dari mereka sudah tidak bernyawa.
Kepalanya menengok mencari siapa pelaku yang telah melakukan itu, matanya kembali melebar saat melihat pemuda pirang yang sangat di kenalnya mendekat kearah keluarganya dengan sebuah busur tergenggam erat di tangan kirinya.
'' Na-Naruto-san,'' ujarnya bergetar menggambarkan perasaannya yang campur aduk. Walau pelan, ucapannya itu dapat di dengar sang istri yang juga akhirnya melihat kearah pandang sang suami.
Air matanya masih mengalir namun ada secercah harapan di mata coklat wanita yang sudah menginjak kepala tiga itu saat melihat pemuda yang kadang mampir kerumahnya kini berdiri tepat di depan sang suami sambil memandang tajam kearah preman yang masih merintih kesakitan akibat ulahnya.
'' Aaarrrgghh,,, si-siapa kau,! Be-berani-beraninya kau melakukan ini,! Kau tidak tau siapa kami hah,!'' preman yang masih hidup berucap keras mengancam kearah Naruto walau rintihan terus keluar dari mulutnya, dia tidak sadar atau apa bahwa tubuhnya sudah pasti lumpuh karena panah itu dan masih bersikap arogan.
'' Kalian adalah sampah, dan sampah harusnya di bakar hingga tidak mengotori dunia ini,'' balas dingin Naruto setelah diam sejenak melihat preman di depannya trus kesakitan dengan darah makin banyak keluar dari luka yang masih tersumpal panah miliknya.
'' Kau,! Argghh,,,'' preman itu tidak dapat melakukan apa-apa dan hanya bisa merintih saat luka yang dideritanya kian bertambah menyakitkan.
Ucapan Naruto nampaknya menarik perhatian dari sang gadis hingga dia membuka matanya dan menengok kearah dirinya. '' Na-Naruto-nii-chan,'' ujar pelan gadis itu dengan bergetar dan masih dapat di dengar oleh Naruto.
Naruto menengok kearah gadis itu dan seketika pandangan dan raut wajahnya melunak dan menghangat, dia menghampiri gadis itu kemudian melepas jaket yang dia kenakan untuk menutupi gadis kecil itu.
'' Rise-chan, kamu tidak papa,?'' tanya Naruto lembut dan khawatir. Dia membantu gadis itu untuk duduk dan memakaikan jaketnya yang tentu saja kebesaran pada tubuh gadis itu yang memang mungil.
Rise -nama gadis itu- menunduk dengan wajah memerah malu karena telanjang di depan sosok yang telah di anggap kakak olehnya.
'' A-aku baik-baik saja,'' Rise mengangguk ragu saat menjawab pertanyaan dari Naruto.
'' Kamu tidak baik-baik saja,'' Naruto menjeda ucapannya dan menatap dingin pada seonggok tubuh tak bernyawa yang tergeletak di samping Rise. '' Dan mereka akan mendapat balasan yang setimpal,'' lanjutnya dengan suara dingin.
Rise yang mendengar nada dari Naruto yang begitu dingin, mendongakan kepalanya menatap kearah wajah pemuda itu. Dia nampak kaget melihat tatappan yang begitu dingin yang menjanjikan kematian.
Tanpa dia sadari, tangan tan pemuda itu sudah terulur kebelakangnya dan meraih tangan dari preman yang telah menjadi mayat di sampingnya.
' Swung,,,, bruuk,,,'
Tangan tan itu melempat tubuh besar sang preman seperti melempar sebuah bantal kearah halaman rumah itu, setelah itu pemuda veteran Shinobi itu berdiri di iringi tatapan mata coklat sang gadis.
Naruto berbalik menghadap preman satunya yang senan tiasa merintih kesakitan, namun biarpun begitu salah satu tangannya sudah memegang sebuah pistol yang di arahkannya pada sang gadis.
'' Arrghh,,, ssshhh,,, mau apa kau,! Jika kau bergerak maka kepala gadis itu akan tertembus peluru miliku,'' ancam preman itu di tengah rasa sakitnya.
Naruto mengindahkan ancaman itu dan berjalan mendekati preman itu yang nampak sedikit gemetar karena darahnya yang telah banyak keluar dan juga karena rasa takutnya.
' Duagh '
' Doorrr '
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Naruto menendang dengan kencang rahang preman itu hingga dia terlempar kearah jazad temannya. Namun disaat posisinya terlempar seperti itu, dia masih sempat menembakan sebuah peluru yang telak mengenai sasarannya.
' Aakkkhhh,,, '
Rise memekik kesakitan saat merasakan lengan atas tangan kirinya terserempet peluru yang berhasil di lepaskan preman itu, darah kontan keluar dari luka akibat timah panas preman itu.
'' Rise,!'' ayah dan ibu dari Rise memekik khawatir melihat putrinya tertembak, mereka kontan langsung mendekat dan melihat luka yang di alami anaknya.
Naruto hanya sedikit melirik kearah gadis berambut coklat itu, dia bersikap seperti itu bukan berarti dia tidak khawatir. Namun dia memilih membersihkan sampah yang telah menzolimi keluarga kecil dari adik angkatnya lebih dulu.
Dia kembali menatap kearah dua onggok tubuh manusia yang tidak berdaya berbaring di halaman di bawah rintik hujan yang kian menderas.
'' Tanah tidak cocok untuk mengubur tubuh kotor kalian, hanya kobaran api yang cocok untuk meleburkan sampah seperti kalian,'' ucap datar Naruto, tangannya terangkat kedepan dada dan mulai membentuk serangkaian heandseal.
'' Katon : Dai Endan ''
Menghirup udara sebanyak-banyaknya dan di kumpulkan di dadanya sebelum di keluarkan melalui mulut, namun yang keluar bukanlah angin melainkan kobaran api yang sangat besar bak seekor Naga yang sedang menyemburkan api.
'' Aaarrrggghhhh,,, panasss,,,,! Tolong,,! Panassss,,,!'' salah satu preman yang masih hidup mengerang kepanasan saat kobaran api buatan Naruto membakar tubuhnya, namun erangan itu hanya sebentar saja karena api yang terbuat dari chakra dan memiliki panas yang lebih tinggi dari api biasa melumat habis tubuhnya hingga menjadi debu.
Naruto masih menatap datar pada kobaran api itu yang mulai mengecil dan tidak lama menghilang meninggalkan abu hitam bekas dua tubuh yang di bakarnya, namun itupun tak bertahan lama karena air dari hujan yang kian menderas menghanyutkan abu itu.
Rise melupakan rasa sakitnya dan memandang kagum pada pemuda yang tengah berdiri dengan gagah tidak jauh darinya, matanya berbinar saat melihat apa yang di lakukan pemuda itu. Bukan adegan membakar tubuh manusia yang membuat kagum melainkan apa yang di keluarkan pemuda itu, nampak keren di mata bocahnya.
'' Mana yang terluka,?'' kembali tidak sadar karena lamunannya, Rise terkaget saat Naruto kini sudah berjongkok di depannya dengan pandangan lembut dan khawatir.
'' A-apa,?'' tanya balik Rise karena tidak mendengar jelas pertanyaan Naruto.
'' Aku tanya, bagian mana yang terluka akibat benda tadi,?'' ulang Naruto sambil tersenyum geli melihat kelakuan gadis itu.
'' Akh,,, ssshhh,,, le-lenganku yang terluka,'' karena pertanyaan itu Rise kembali teringat pada rasa sakit di lengan atasnya.
'' Coba aku lihat,'' Naruto meraih lengan kiri Rise dan melihat luka yang mengeluarkan banyak darah di sana. '' Ini harus cepat di obati,'' ujarnya serius.
'' Ka-kami tidak punya obat-obatan ataupun perban untuk mengobati luka putri kami,'' sang ayang berucap memberi tau, nampak raut khawatir tergambar di wajahnya.
'' Tenang saja, aku mungkin bisa mengobati luka di lengan Rise-chan,'' ucap Naruto sambil tersenyum menatap sang ayah dari si gadis.
'' Be-benarkah,?'' tanya penuh harapan dari sang ayah terlontar begitu saja, Naruto mengangguk untuk menjawab itu.
'' Nah, Rise-chan buka jaket di bagian pundak kirimu karena tidak mungkin menggulungnya karena lukanya di bawah pundak persis,'' perintah Naruto yang kontan membuat gadis itu bersemu malu karena harus kembali memperlihatkan bagian tubuhnya.
Rise mengangguk dan perlahan tangan kanannya membuka rel sleting jaket yang di kenakannya hingga sebatas dadanya, kemudian menyingkap jaket bagian pundak hingga lukanya terlihat. Namun bukan cuman lukannya saja yang terlihat, tapi sebelah dadanya yang baru tumbuh mengkerucut juga terlihat dan terhidang di depan Naruto.
'' Maaf kalau membuatmu malu tapi aku harus cepat mengobati lukamu agar tidak infeksi,'' ucap lembut Naruto yang melihat Rise melakukan itu dengan wajah memerah.
Rise hanya mengangguk menanggapi ucapan Naruto dan dia tetap menunduk tidak berani menatap wajah pemuda di depannya.
'' Nii-chan harus janji,'' cicitan yang terdengar seperti tuntutan keluar dari bibir tipis Rise saat Naruto hendak menjulurkan tangannya kearah luka di lengan kirinya.
'' Maksudnya,?'' tanya Naruto bingung, begitupun dengan kedua orang tua dari gadis itu.
'' A-aku sudah kotor dan pasti tidak ada laki-laki yang mau denganku, jadi Nii-chan harus janji harus selalu ada di samping diriku menemaniku menjalani sisa hidupku yang tidak secerah sebelumnya,'' jawaban yang mirip pernyataan dan permintaan itu sukses membuat kedua orang tua gadis itu tersentak kaget dan hatinya terasa teriris saat mendengar ucapan putri kecilnya.
Ucapan Rise seperti ucapan wanita dewasa yang baru saja di setubuhi pacarnya, namun mungkin itu insting wanitanya yang dipaksa bangkit akibat perbuatan preman-preman itu dan menginginkan perlindungan serta kasih sayang dari seorang pria yang di kaguminya.
'' Tentu, Nii-san akan selalu di sisimu menemanimu dan jangan bilang tidak akan ada laki-laki yang menikahimu. Suatu saat pasti akan ada sesosok laki-laki yang bersanding denganmu,'' balas Naruto menghibur dan memberi semangat tersirat di ucapannya, beruntung dia tidak terlalu bebal soal seperti itu seperti saat di dunianya atau mungkin terlempar ke dimensi lain membuat warisan dari ayahnya aktif dan bekerja untuk membantunya berpikir.
Rise menggeleng menanggapi ucapan Naruto, air matanya mulai mengalir dari kedua mata coklatnya. '' Tidak mungkin ada yang mau dengan Rise, kalau Nii-chan tidak mau menikahi Rise lebih baik Rise mati saja,'' ucapan terlalu dewasa keluar dari mulut Rise dengan agak bergetar karena menahan isak tangisnya.
Kedua orang tuanya bertambah sakit hatinya setelah mendengar ucapan putri mereka, menyesal dan menyalahkan dirilah yang bisa mereka lakukan karena nekat berhutang pada Yakuza, namun waktu itu kondisinya darurat karena waktu itu Rise harus cepat di operasi untuk mengangkat salah satu ginjalnya yang rusak. Operasi itu berhasil dan menjadikan Rise hidup hanya dengan satu ginjal.
Naruto mengangkat dagu gadis di depannya hingga mata mereka bertatapan, kemudian jari kasar miliknya menghapus air mata yang mengalir di pipi putih nan halus gadis itu.
'' Nii-san janji, kalau Rise-chan sudah besar Nii-san akan menikahi Rise-chan. Tapi itupun kalau Rise-chan masih mau menikah dengan pria tua nanti,'' ucap Naruto sambil tersenyum hangat.
'' Nii-chan janji akan menikahi Rise nanti,?'' tanya Rise meminta kejelasan.
'' Nii-san janji,'' balas Naruto masih dengan senyumannya.
'' Terimakasih. Tentu Rise tetap mau menikah dengan Nii-chan walau Nii-chan sudah tua nanti,'' senyuman bahagia tersungging di bibir mungil Rise setelah mendengar jawaban dari Naruto.
Naruto masih tersenyum sambil menatap mata coklat gadis di depannya yang memancarkan seluruh perasaan yang dia miliki.
'' Sekarang kita obati lukamu sebelum terjadi infeksi,'' Naruto kembali mengulurkan kedua tangannya kearah luka di lengan Rise, setelah mengkonsentrasikan chakranya dan mengubahnya agar bisa menjadi chakra penyembuh, dari telapak tangannya keluar aura berwarna hijau lembut yang merupakan chakra penyembuh miliknya.
Dirinya memang bisa Ninjutsu medis, dia belajar jutsu itu saat dirinya berumur tigabelas tahunan. Saat itu dirinya dan sensei mesumnya sedang mencari seseorang yang akan menjadi kage dari desanya yang meninggal akibat insiden saat ujian Chuunin di dunianya. Dan orang yang di carinya itu adalah master dari Ninjutsu medis, jadi karena menurutnya jutsu itu penting dan sangat berguna, dia meminta dan memohon untuk di ajari pada orang yang di carinya.
Dengan pengorbanan yang tidak sedikit akhirnya permohonannya di kabulkan orang itu dan mengajarinya Ninjutsu medis hingga dia bisa, walau belum sampai ketahap ahli apa lagi master itu sudah lebih dari cukup. Asalkan dia bisa menyembuhkan dia sudah sangat senang karena bisa menolong teman-temannya yang terluka saat menjalankan misi bersama.
Perlahan luka di lengan Rise menutup dan beberapa saat kemudian luka itu sembuh tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.
'' Nah sudah selesei, lukamu sudah sembuh,'' ucap Naruto sembari membenarkan posisi jaket yang di kenakan Rise hingga kembali menutupi dada kirinya yang sedari tadi terbuka terhidang di depan Naruto.
'' Sugoi,'' ujar Rise kembali kagum akan apa yang di lakukan Naruto.
Rise menatap kearah Naruto dengan pandangan berbinar kagum. '' Jadi Naruto-nii-chan adalah seorang Ninja,? Seperti yang sering Nii-chan ceritakan,?'' tanya Rise penasaran namun masih terlihat kekaguman di mata coklat miliknya.
Naruto tersenyum lembut menanggapi itu.
'' Ya, Nii-san seorang Ninja dan Nii-san adalah satu-satunya orang yang masih hidup dari tempat Nii-san,'' jawabnya dengan sedikit senyum miris dan getir.
'' Maaf kalau pertanyaanku membuat Nii-chan sedih,'' ucap Rise merasa bersalah melihat raut sedih di wajah Naruto setelah menjawab pertanyaannya.
'' Eh,? Tidak, pertanyaanmu tidak membuat Nii-san sedih kok. Nii-san hanya teringat teman-teman Nii-san,'' balas Naruto kembali tersenyum lembut namun masih ada kesedihan di biru samudranya.
Rise diam dan menatap dalam kearah wajah Naruto, seolah mencari sesuatu yang di sembunyikannya.
Naruto mengindahkan tatapan dari gadis di depannya, dia kini menatap kearah kedua orang tua gadis itu.
'' Paman Masaro, mereka itu siapa,? Mereka bukan preman biasakan,?'' tanya Naruto penasaran pada ayah dari gadis di depannya.
'' Me-mereka Yakuza,'' jawab Masaro tergagap.
'' Yakuza,?'' tanya Naruto bingung dan tidak mengerti karena memang dirinya tidak tau siapa mereka dan kelompok apa mereka.
'' Dulu waktu Rise-chan berumur lima tahun mengalami gagal ginjal hingga harus di operasi untuk menyelamatkannya, namun kami tidak punya uang untuk operasi itu jadi kami mencari pinjaman uang yang cukup besar untuk itu. Dari beberapa kelompok yang aku mintai, hanya Yakuzalah yang mau memberiku pinjaman dan itupun dengan bunga yang sangat besar.''
'' Akhirnya Rise-chan berhasil di operasi dan mengangkat satu ginjalnya yang rusak. Nyawanya terselamatkan namun kini dia hidup hanya dengan satu ginjal, meskipun sakit bagi kami melihat kondisinya namun kami bersyukur karena Kami-sama masih mengijinkannya hidup bersama kami,'' jelas Masaro akan kedatangan dua Yakuza di rumahnya.
'' Jadi mereka datang menagih hutang,? Tapikan mereka tidak harus melakukan hal seperti itu, apa lagi pada gadis kecil seperti Rise-chan. Atau apa mereka sering melakukan itu,?'' tanya Naruto dengan sedikit persepsinya.
'' Mereka sangat kejam bahkan tidak segan membunuh orang, hal yang mereka lakukan pada Rise-chan adalah hal biasa bagi mereka dan sering mereka lakukan bahkan aku dengar ada sebuah keluarga yang terlibat hutang dengan mereka, semua wanita di keluarga itu di perkosa di depan anggota lainnya sebelum di bunuh dengan kejam,'' jawab Masaro sambil menatap kearah putrinya miris.
Rise nampak menunduk dan memeluk tubuhnya sendiri yang sedikit bergetar ketakutan mendengar ucapan sang ayah.
'' Cih, biadap sekali mereka. Sampah-sampah seperti mereka tidak pantas hidup di dunia ini,'' decih Naruto dingin dengan biru samudranya juga mendingin.
Masaro dan istrinya Sizuka berjengkit ngeri mendengar nada yang di gunakan Naruto, begitupun dengan Rise. Dia kini menatap wajah pemuda pirang itu yang masih menampilkan raut dingin.
'' Na-Naruto-san tidak akan melawan merekakan,? Semoga saja tidak karena mereka sangat kejam dan memiliki banyak senjata untuk membunuh,'' tanya Masaro tergagap.
'' Melawan mereka,? Tentu saja tidak, aku hanya akan menghapus mereka dari dunia ini,'' jawab Naruto sambil menyeringai misterius yang telak membuat keluarga Kujikawa bergetar ketakutan.
'' Nah sekarang sebaiknya aku menghapus sedikit ingatan Rise-chan agar dia tidak terlalu trouma dengan kejadian ini,'' ucap Naruto kini dengan raut biasa.
Masaro agak bingung dengan begitu cepatnya perubahan raut dari pemuda di depannya, dia tidak bisa membayangkan peristiwa apa yang membuatnya bisa begitu cepat berubah seperti itu.
'' Menghapus ingatan,?'' tanya Rise bingung.
'' Ya mengapus ingatan agar kamu tidak mengingat kejadian hari ini,'' jawab Naruto.
'' Aku tidak mau, kalau Nii-chan mengapus ingatanku tentang hari ini aku tidak akan mengingat janji yang telah Nii-chan ucapkan,'' tolak Rise cepat karena memikirkan apa yang terjadi jika dia melakukan itu.
'' Tapi jika tidak dihapus kamu akan terus teringat kejadian hari ini,'' bujuk Naruto.
'' Tidak papa karena kejadian hari ini adalah berkah bagiku untuk bisa menikah dengan Nii-chan suatu saat nanti, jadi aku tidak ingin melupakannya,'' ucap Rise tegas keras kepala.
Naruto menatap dalam kearah mata coklat Rise. '' Huft, baiklah aku tidak akan menghapus ingatanmu,'' ucapnya pasrah.
Mendengar itu Rise tersenyum senang dan sepertinya melupakan peristiwa yang baru saja terjadi.
'' Paman Masaro, mungkin sekarang tempat tinggal paman tidak aman dan mungkin mereka akan datang kesini karena anak buah mereka tidak kembali jadi agar paman beserta keluarga aman, lebih baik paman beserta keluarga tinggal di tempatku. yah walaupun tempatnya kecil namun cukuplah untuk bernaung kita,'' ucap Naruto serius sambil menatap kearah kepala keluarga Kujikawa.
'' Terimakasih sebelumnya Naruto-san, tapi kami akan pindah untuk mengantisipasi itu. Kami akan pindah ke Kyouto, ketempat salah satu saudaraku. Aku di hubungi mereka agar pindah kesana saja dan bekerja di sana, mereka bilang ada pekerjaan untuku dengan penghasilan yang lumayan,'' tolak Masaro akan tawaran Naruto dan mengatakan rencana yang akan di lakukannya.
'' Pindah,? Kita akan pindah, Tou-chan,?'' tanya Rise nampak sedih.
'' Iya sayang, kita harus pindah demi keamanan. Kami tidak ingin peristiwa seperti tadi terjadi lagi padamu,'' bukan Masaro yang menjawab, melainkan sang istri, Sizuka.
'' Ta-tapi,,,, aku tidak mau pindah, aku tidak mau berpisah dengan Nii-chan,!'' ucap Rise menolak rencana ayahnya, matanya kembali berembun memikirkan kalau dirinya akan jauh dengan Naruto.
'' Tapi ini demi kebaikanmu,'' ujar Sizuka dengan nada membujuk.
'' Pokoknya aku tidak mau,!'' Rise masih menolak dengan keras rencana keluarganya.
'' Hei, tenang saja kita masih bisa bertemu kok malah akan menjadi kejutan nanti saat kita bertemu.'' ucap Naruto ikut membujuk.
'' Tapi aku tidak ingin berpisah dengan Nii-chan,'' Rise menunduk dan setete air mata berhasil meluncur halus melewati pipi putihnya.
'' Kita tidak berpisah, hanya jaraknya saja yang semakin jauh,'' ujar Naruto, dia mengambil sesuatu dari kanji di bawah lengan kirinya.
'' Ini simpanlah, dimanapun kamu berada Nii-san akan bisa datang ketempatmu. Jika kamu dalam kesulitan, lempar saja benda itu dan Nii-san akan langsung datang ketempatmu,'' Naruto menyerahkan sebuah benda yang ternyata sebuah kunai bercabang tiga dengan segel di pegangannya.
'' Nii-chan janji akan sering datang menemuiku,?'' tuntut Rise masih menunduk.
'' Nii-san tidak bisa janji karena disini Nii-san juga sibuk dengan sekolah serta pekerjaan, tapi Nii-san akan berusaha untuk sering datang menemuimu,'' balas Naruto.
'' Baiklah Rise pegang ucapan Nii-chan, kalau Nii-chan mengingkari ucapan Nii-chan, Rise akan datang ketempat Nii-chan dan meminta langsung dinikahi agar Rise bisa terus bersama Nii-chan,'' ucap Rise akhirnya mau mengikuti rencana keluarganya pindah walau dengan embel-embel yang sedikit konyol karena di ucapkan oleh anak seusianya.
Naruto tersenyum menanggapi itu, dia kembali menatap sang kepala keluarga. '' Jadi kapan paman akan pindah, apa malam ini,?''
'' Ya kami akan pindah malam ini juga, biar lebih aman kami harus melakukan secepatnya,'' jawab Masaro.
'' Baiklah, aku akan membantumu berkemas,'' tawar Naruto.
'' Tidak usah, barang milik kami tidaklah banyak biar kami yang saja yang membereskannya,'' tolak Masaro. '' Ayo Tsuma kita berkemas,'' ajaknya pada sang istri.
Sizuka mengangguk dan mengikuti sang suami untuk mengemasi barang-barang milik mereka, tidak lama kemudian mereka keluar dengan bukusan kain yang tidak terlalu besar yang berisi barang-barang milik mereka.
'' Kami sudah selesei berkemas, Naruto-san,'' ucap Masaro sambil menenteng bungkusan kain dengan tangan kanannya.
'' Kalau begitu ayo kita ke stasiun, aku akan mengantar kalian,'' balas Naruto.
'' Tidak usah, kami nyari tumpangan saja untuk kesana,'' tolak Masaro akan tawaran Naruto.
'' Aku memaksa, lagian dengan caraku paman bisa menghemat waktu serta biaya,'' paksa Naruto tak menerima penolakan.
'' Baiklah kalau kau bersikeras seperti itu,'' pasrah Masaro pada pemuda pirang itu.
'' Nah begitu lebih baik,'' ujar Senang Naruto.
'' Tapi sebelum kalian pergi sebaiknya Rise-chan pakai baju dan daleman dulu, aku tidak mau nanti dia di lecehkan di dalam kereta oleh pria-pria tak punya otak,'' lanjutnya sambil memandang kearah Rise yang menunduk malu.
'' Ck, kau benar Naruto-san. Aku sampai melupakan itu karena terlalu takut dan khawatir tadi, Tsuma cepat bantu Rise-chan ganti baju biar kita cepat pergi dari sini,'' ucap Masaro sambil menepuk keningnya sebelum memerintahkan sang istri untuk memakaikan baju pada putri mereka.
Sizuka mengangguk kemudian menatap lembut pada putrinya. '' Rise-chan ayo kedalam,'' ajaknya.
Rise mengangguk dan mengikuti ibunya masuk kedalam rumah. Tidak lama kemudian mereka keluar dan nampak celana panjang telah dipakai Rise namun atasannya tidak terlihat karena dia masih memakai jaket milik Naruto.
'' Semuanya mendekatlah, kita kesetasiun dengan caraku,'' ucap Naruto pada ketiga keluarga Kujikawa di sana.
Tanpa pertanyaan dan tanpa bantahan, mereka bertiga mendekat kearah Naruto yang kini tengah memasang single heandseal yang sangat sering di gunakan oleh para Shinobi.
' Sunshin no Jutsu '
Setelah mengompres chakranya agar cukup untuk membawa ketiga orang di dekatnya, Naruto menyerukan jutsunya untuk memindahkan mereka ke tempat tujuan.
Pusaran angin dan daun terbentuk di sekeliling mereka. Tak sampai satu kedipan mata, mereka sudah menghilang dari rumah kecil yang mereka tinggali selama ini.
.
Naruto dan ketiga keluarga Kujikawa muncul di bawah pohon rindang tidak jauh dari stasiun Kuoh, beruntung suasana di sana sedang gerimis hingga tidak ada yang melihat mereka yang tiba-tiba muncul dengan efek pusaran angin dan daun.
'' Kita sudah sampai, sebaiknya paman beserta keluarga bergegas karena hujan semakin deras,'' ucap Naruto sambil melihat awan mendung di atasnya yang semakin banyak meneteskan air keatas bumi.
'' Sugoi,,,,'' kagum Masaro melihat pemuda pirang itu membawanya kestasiun dengan begitu cepat. '' Baiklah Naruto-san, kami pergi dulu. Terimakasih telah mengantar kami,'' ucapnya pada Naruto. '' Ayo Tsuma, Rise-chan kita masuk ke stasiun,'' lanjutnya mengajak pada istri dan anaknya.
Rise masih berdiri di tempatnya dan menatap kearah Naruto dengan mata berkaca.
'' Nii-chan,,,, kita akan bertemu lagikan,?'' tanyanya dengan nada lirih.
Naruto tersenyum sambil menatap wajah ayu Rise. '' Tentu, kan Nii-san nanti akan menepati janji Nii-san. Kalau tidak bertemu lagi mana mungkin janji Nii-san akan tertepati,'' jawabnya lembut.
Rise tersenyum puas akan jawaban dari Naruto. '' Terimakasih, sampai jumpa lagi. Tunggu aku beberapa tahun lagi untuk cukup besar untuk menikah dengan Nii-chan,'' ucapnya senang kemudian menjinjitkan kakinya dan kedua tanyannya terulur kebelakang leher Naruto.
' Cup '
Naruto mengira kalau Rise akan memeluknya, namun dugaannya salah. Gadis kecil itu malah menciumnya tepat di bibirnya, ciuman yang begitu polos tanpa nafsu atau sesuatu yang mengundang nafsu.
Ciuman itu tidaklah lama, hanya beberapa saat namun membuat mereka yang melihat dan merasakannya terdiam terpaku karena shok.
Rise menarik diri dan langsung menunduk dengan muka memerah, dia malu sendiri dengan apa yang dia lakukan namun senyuman senang tetap tersungging di bibirnya.
Tidak mau merasa malu lebih lama, Rise langsung memegang tangan ibunya dan menariknya kearah stasiun.
'' Eh,?!'' pekik Sizuka kaget akan tindakan putrinya, namun dia tidak berdaya dan tergopoh mengikuti tarikan tangan putrinya.
'' Nii-chan, sampai jumpa lagi,!'' teriak Rise di sela larinya.
Naruto memandang kosong kearah Rise berlari, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu.
'' Ck, sebenarnya umurnya berapa sih,? Kelakuannya seperti orang dewasa saja,'' ujar Naruto heran dengan masih menatap Rise di kejauhan yang telah sampai di lobi stasiun.
'' Aku sendiri yang orang tuanya juga bingung,'' ucap Masao takalah bingung dengan kelakuan putrinya. '' Ah, hujan makin deras. Paman permisi dulu, Naruto-san,'' pamitnya sambil menengadahkan tangannya merasakan air hujan yang kian deras.
'' Ya, hati-hati,'' balas Naruto.
Masaro mengangguk kemudian berjalan agak berlari kearah stasiun, menyusul keluarganya. Naruto memandang kepergian Masaro dengan tatapan hangat, namun seketika mendingin saat mengingat apa yang terjadi keluarga kecil mereka.
'' Kalian tidak akan pernah aku lepaskan, kalian akan aku kirimkan pada Shinigami untuk menebus semua perbuatan kalian,'' desisnya dingingin sebelum menghilang dengan kilat kuning.
.
Naruto muncul di ruang tamu apartemennya, namun di kedua tangannya tidak kosong seperti sebelumnya. Di kedua tangannya nampak belanjaan untuk hidup selama seminggu, dulu dia belanja hanya ramen instan saja namun kini karena ada orang lain yang hidup dengannya dia belanja lainnya seperti sayuran.
Mata birunya yang sebelumnya dingin, melembut saat melihat sesosok gadis berambut pirang yang tengah tertidur di sofa ruang tamunya. Tv kecil di pojok ruangan masih menyala, kemungkinan gadis itu menunggunya pulang sambil menonton tv sampai tertidur karena dia terlalu lama pulangnya.
Berjalan pelan kearah sofa, meletakan belanjaannya di meja depan sofa. Kemudian dia jongkok di samping kepala gadis itu, jari-jari kasarnya menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.
Di matanya, gadis itu semakin polos saat dia tertidur seperti itu. Seperti bayi yang tidak tau kejamnya dunia tempat hidupnya.
Seulas senyum tersungging di bibirnya saat mengingat gadis polos yang sedang tertidur itu adalah adiknya, jarinya mengelus pipi gadis itu membuatnya bergerak pelan.
Tidak ingin adiknya itu akan sakit badannya karena tidur di sofa, Naruto menelusupkan tangannya di bawah leher dan lutut gadis itu kemudian menggendongnya bridal style.
Gadis itu bergerak tidaknyaman karena tidurnya terganggu oleh Naruto, namun itu hanya sesaat karena dirinya menyamankan diri di dekapan Naruto dan malah kelihatannya lebih nyaman di dekapannya.
Naruto tersenyum melihat itu, kemudian dia berjalan kearah kamarnya yang kini di pakai gadis itu. Setelah di dalam kamar, Naruto membaringkan gadis itu secara perlahan di atas kasurnya yang lumayan lembut.
Asia nampak tidak rela di jauhkan dari kenyamanan dan kehangatan dekapan Naruto, tangannya memegang erat baju bagian depan Naruto seolah dia tidak mau di jauhkan dari pemuda itu.
Dengan lembut Naruto melepaskan pegangan tangan Asia di bajunya, setelah lepas dia menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut agar tidak kedinginan.
'' Nii-san,,,, Nii-san sudah pulang,?'' suara parau khas bangun tidur menghentikan Naruto saat akan pergi dari kamar itu.
'' Eh kok bangun,? Nii-san mengganggu tidurmu ya,?'' tanya lembut Naruto sambil duduk di tepi tempat tidur.
Asia menggeleng kemudian memposisikan dirinya duduk bersandar di sandaran tempat tidur. '' Kapan Nii-san pulang,?'' tanyanya.
'' Baru tadi, maaf ya membuatmu menunggu. Karena tadi di jalan ada sesuatu,'' jawab Naruto masih dengan nada lembut. '' Kamu sudah makan,?'' lanjutnya bertanya.
'' Um, sudah tadi. Makan ramen instan milik Nii-san,'' jawab Asia mengangguk.
'' Kalau begitu, kamu lanjutin tidur aja. Lagian ini sudah malam,'' ujar Naruto.
Asia menunduk dengan wajah sedikit merona, tangannya meremas selimut dengan erat.
'' Aku boleh minta sesuatu tidak,?'' cicitnya dengan masih menunduk.
'' Hmm,? Tentu, kenapa tidak,'' balas Naruto sambil menyernyit bingung.
'' Aku ingin tidur bersama Nii-san,'' ucap lirih Asia kian menunduk dan meremas selimut dengan erat.
Naruto yang mendengar permintaan gadis dewasa yang begitu polos malah menaikan alisnya, namun sesaat kemudian dia tersenyum tulus.
Mungkin jika orang berotak koplak pasti akan berpikiran yang iya-iya dan akan melakukan yang iya-iya juga mendengar permintaan seperti itu dari seorang gadis manis, namun beda dengan Naruto yang memang sedikit masih bebal soal begituan.
Menurut Naruto itu adalah permintaan murni seorang gadis kecil yang menginginkan kasih sayang dan perhatian, perlindungan serta rasa nyaman. Mungkin itu semua belum pernah dia rasakan hingga kini dia punya kakak angkat, dia ingin merasakan itu semua.
'' Tentu, kenapa tidak. Apa sih yang enggak buat Imotou Nii-san yang manis,'' jawab Naruto sambil tersenyum.
Asia kontan mendongak dan menatap kearah Naruto dengan pandangan berbinar senang.
'' Benarkah Nii-san,?'' tanyanya memastikan.
'' Ya, tapi nanti setelah Nii-san menyusun belanjaan Nii-san di dapur. Kamu tunggu di sini dulu yah,'' jawab Naruto sambil mengelus surai pirang Asia dengan lembut.
' Um '
Asia mengangguk Senang dan senyuman bahagiapun tersungging di bibirnya.
Naruto kemudian bangkit dan keluar dari kamar itu untuk membereskan semua belanjaannya, tidak lama kemudian dia kembali ke kamar itu.
'' Sudah siap tidur,?'' tanya Naruto yang kini kembali duduk di sisi tempat tidur.
' Umm '
Asia mengangguk antusias dan kembali memposisikan dirinya berbaring dengan memberi tempat untuk Naruto di sampingnya.
Naruto mematikan lampu kamar kemudian berbaring di samping Asia yang berbaring menyamping menghadapnya.
'' Nii-san, boleh minta peluk,?'' tanya lirih Asia yang kini tidak dengan malu-malu, malah dia tepat menatap kearah mata Naruto yang remang-remang terlihat.
'' Tentu,'' Naruto memeluk Asia, merapatkan tubuhnya pada tubuh gadis itu. Memberikan kehangatan dan kenyamanan yang dia miliki.
Asia tersenyum tipis sembari memejamkan matanya, tak lama dia langsung tertidur dan tanpa di sadarinya dirinya kian merapat pada tubuh Naruto, membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu.
'' Asia-chan, aku tidak bisa membayangkan jika kamu meminta seperti ini pada pria berotak mesum. Pasti kamu sudah habis di 'makannya' '' ujar Naruto lembut sambil tersenyum melihat kelakuan Asia yang manja padanya walau baru satu hari mereka hidup satu atap. '' Nii-san akan selalu melindungimu, tidak akan Nii-san biarkan kamu dalam bahaya dan tak akan membiarkan seorang laki-lakipun berbuat sesuatu padamu,'' lanjutnya bertekad, pelukannya makin di rapatkannya dan tidak lama dia juga tertidur.
' Poft '
Baru saja terlelap, muncul ledakan asap di belakangnya yang telak membuatnya kembali terbangun.
'' Boss, kami siap melakukan perintah,'' ucap sesosok yang muncul dari kepulan asap.
Naruto menatap dari ujung matanya pada sosok itu. '' Ck, apa tidak ada topeng lain selain itu,? Kamu membuatku seperti badut,'' decaknya pada sosok berambut pirang bersetelan serba hitam dan memakai topeng 'Joker' yang sedang tersenyum lebar.
'' E-eh, k-kan Boss yang menyuruh kita mencari topeng identitas yang tidak biasa.'' balas sosok itu sambil menggaruk belakang kepalanya bingung. '' Tapi topeng ini meniru seorang tokoh fantasi yang sangat cerdik dan cerdas, jadi tidak salahlah aku memilih ini,'' lanjutnya membela diri.
'' Huft, terserahlah. Lakukan semua yang telah aku perintahkan. Jangan bunuh semuanya, tebarkan teror dulu pada mereka. Aku ingin mereka merasakan takut yang mendalam,'' ucap Naruto sembari memejamkan matanya kembali.
'' Ha'i,''
' Poft '
Sosok itu membalas sebelum kembali menghilang dengan ledakan asap kecil.
::
Satu minggu telah berlalu dari peristiwa yang menimpa keluarga Kujikawa, dan seminggu pula Naruto berubah dingin jika di luar rumah bahkan di sekolahpun dia bersikap dingin padahal biasanya dia murah senyum pada kawan-kawan yang di kenalnya ataupun tidak.
Semua itu ada sebabnya, yaitu setelah menebar teror selama tiga hari dan membantai para Yakuza salah satu Bunshinnya melihat beberapa orang Yakuza sedang membunuh orang di sebuah desa di pinggir kota Kuoh. Desa yang dia dengar akan di bangun sebuah perumahan. Namun mereka bukan hanya membunuh, tapi juga memperkosa para wanita di sana. Tidak peduli tua ataupun muda bahkan bocah kecilpun tak luput. Di tambah salah satu Bunshinnya juga membaca ingatan dari mereka, menambah kebenciannya pada kelompok itu dan ingin segera membersihkannya.
Seperti sekarang ini, dia kini sedang berdiri di sebuah tanah lapang dengan ratusan mayat terpotong-potong tersebar di sekelilingnya membuat suasana di sana sangat horor.
Mata merah tiga tomoenya menatap dingin pada puluhan orang anggota Yakuza yang masih tersisa dan nampak mencoba untuk tidak gentar.
'' Jangan takut,! Kita serang lagi dia dengan senapan mesin kita,!'' seru salah satu dari mereka menyemangati sisa anggota yang nampak ketakutan.
'' Ya,!'' balas yang lainnya menyiapkan senapan masing-masing.
' Dor,,, dor,,, dorr,,,'
' Dddrrrrrrdddd '
Senapan mesin berbagai jenis di tembakan dan targetnya tidak lain adalah Naruto, puluhan timah panas melesat dengan cepat kearahnya yang masih senantiasa berdiam tenang.
Saat puluhan Peluru itu tinggal tiga puluh senti lagi mengenainya, kedua tangannya yang memegang kunai berlumuran darah bergerak dengan cepat menangkis puluhan Peluru itu.
Sampai peluru di selongsong senapan mereka habis, tak ada satupun peluru yang mengenainya hingga membuat mereka yang melakukan itu terperangah dan tambah bergetar ketakutan. Beruntung dia menggunakan Sharingan hingga dapat menangkis semua peluru itu dengan mudah walau dengan imbalan sebagian besar chakranya terkuras karena belum terbiasa menggunakan mata milik temannya itu.
'' Sudah selesei,?'' tanya datar Naruto pada segerombolan Yakuza itu. '' Sekarang giliranku untuk memberi hadiah pada kalian yang telah bertindak sesuka hati dan untuk sifat kalian yang tidak mencerminkan sebagai manusia melainkan seperti binatang,'' lanjutnya dengan dingin, dua kunai di tangannya tiba-tiba terselimuti aura biru tipis hingga seperti menjadikan kunai itu memanjang.
'' A-ampun, ampuni kami,'' beberapa dari mereka bersujud ketakutan memohon ampun.
'' Se-sebenarnya apa masalahmu dengan kami,?!'' tanya salah satu dari mereka meminta alasan pada pemuda di depannya untuk pembantaian seluruh kelompoknya.
'' Masalahku adalah sifat kalian yang seperti binatang,'' jawab datar Naruto. '' Dan karena sifat binatang kalian sudah membuat keluarga angkatku dalam bahaya dan adik angkatku mendapat trouma yang tidak mungkin dapat di lupakannya,'' lanjutnya dengan dingin.
'' Cu-cuma alasan itu kau membantai kami hah,! Alasan itu tidak cukup kuat untuk melenyapkan nyawa kawan-kawanku,!'' bela Yakuza yang berdialog dengan Naruto.
'' Menurutku itu sudah cukup kuat untuk mengirim kalian bertemu Shinigami-sama,'' ucap Naruto kembali datar. '' Sudah cukup pembicaraan tidak berguna ini, bersenang-senanglah kalian dengan Shinigami-sama,'' lanjutnya masih datar sebelum menghilang meninggalkan blur hitam.
Selanjutnya, hanya ada jeritan kesakitan pemisahan nyawa dari raga dengan cara yang mengenaskan. Tubuh terpotong hingga menjadi beberapa bagian, organ dalam tubuh berserakan di tanah dengan berlumuran darah yang mulai mengental.
Naruto muncul di pinggir tanah lapang itu, memandang datar pada puluhan potong tubuh manusia yang berserakan bercampur aduk dengan bau amis darah yang sangat menyengat.
Sedari tadi sebenarnya dia merasakan kehadiran sesosok yang mengawasinya namun dia indahkan karena pasti sosok itu akan keluar pada waktunya.
Mengangkat kedua tangannya yang sudah tidak memegang Kunai kedepan dadanya, kemudian membuat Heandseal.
'' Katon : Goukamekakyou ''
Naruto mengucapkan nama jutsunya, kemudian mengirup udara sebanyak mungkin dan di simpan di mulutnya hingga menggembung. Selanjutnya dia menghembuskannya lewat mulut, namun bukan angin yang keluar melainkan kobaran api berjumlah besar hingga seperti membuat ombak tsunami api yang mergerak membakar seluruh potongan tubuh manusia dari para anggota Yakuza.
Menatap datar pada kobaran api yang terus melahap potongan tubuh dari Yakuza, sensornya merasakan sesosok mendekat di belakangnya.
'' Uzumaki-san, apa yang kamu lakukan,?'' tanya sosok itu datar, namun jelas kalau itu suara dari perempuan.
Naruto berbalik menghadap pada sosok itu.
'' Souna Shitori, aku hanya sedang membersihkan 'sampah' yang mengotori kota ini,'' jawabnya datar.
'' Membersihkan 'sampah',? Tapi yang aku lihat kamu membantai mereka dengan sangat brutal dan aku tebak, pembantaian sebelumnya pasti kamu yang melakukannya,'' sosok itu, Souna Shitori atau Sona Sitri berucap sambil menaikan satu alisnya.
'' Mereka layak mendapatkan itu, 'sampah' seperti mereka seharusnya mendapatkan lebih dari itu. Dan ya, akulah pelaku pembantaian sebelum-sebelumnya,'' jawab Naruto berkata datar namun juga jujur tanpa menyembunyikan perbuatannya.
'' Apa alasanmu melakukan itu,?'' tanya datar Sona.
'' Aku rasa kamu sudah mendengarnya,'' jawab Naruto tak kalah datar.
Sona terdiam, memang tadi dia mendengar alasan yang di ucapkan oleh Naruto. Namun menurutnya tidak cukup kuat untuk membunuh dengan brutal seperti itu, apa lagi memusnahkan sebuah kelompok. Menurutnya alasannya itu kurang masuk akal, namun dia simpan dulu alasan itu untuk di tanyakannya nanti.
'' Tapi kau tak harus membunuh mereka seperti itu, pasti ada cara lain untuk menyeleseikannyakan,?'' Sona sesekali melirik kearah abu para Yakuza di belakang Naruto.
'' Tidak ada cara lain untuk menghukum para sampah seperti mereka, dan tidak ada hukuman yang pantas kecuali kematian yang mengenaskan untuk mereka,'' balas datar Naruto yang langsung menarik tatapan Sona padanya.
'' Tapi bukan hakmu untuk menghukum mereka, apa lagi sampai seperti itu. Ada instansi tersendiri yang sudah di tugaskan untuk itu,''
'' Instansi hukum disini sangat lemah, di sogok dengan uang beberapa lembar saja mereka sudah langsung berpaling. Jadi mereka sangat tidak bisa di harapkan,'' Naruto masih menatap tajam gadis di depannya itu.
'' Itu sudah sifat manusia,'' gumam Sona lirih yang masih dapat di dengar oleh Naruto. '' Tapi tidak harus kaukan yang melakukan itu,? Kau seorang pelajar yang tugasnya hanya untuk belajar tidak untuk membantai seperti itu malam-malam,'' ucapnya seperti mengintimindasi Naruto kalau perbuatannya itu salah.
'' Itu sesuatu yang tidak dapat kamu campuri, ini adalah urusanku. Mau aku membunuh ataupun menghancurkan suatu negara, itu bukanlah masalahmu. Perbuatanku adalah tanggung jawabku, jadi jangan campuri urusanku,'' balas dingin Naruto sambil menatap tajam kearah Sona.
'' Kamu masih sekolah dan kamu sekolah di Kuoh, sedangkan aku adalah katua OSIS sekolah Kuoh. Tentu itu menjadi masalahku karena perbuatanmu itu akan membawa nama baik sekolah Kuoh dan aku tidak suka itu,'' ucap tajam Sona dengan serius.
'' Kalau yang namanya sekolah menghalangiku melakukan ini, aku akan keluar dari sekolahan karena aku tidak akan berhenti sebelum para sampah itu hilang dari muka bumi ini,'' balas datar Naruto kemudian berbalik dan melangkah pergi. '' Dan kamu tenang saja, nama baik Akademi Kuoh tidak akan tercemar karena aku tidak memakai seragam sekolah atau atribut apapun yang menyangkut itu, dan juga aku memakai topeng untuk menutupi identitasku,'' ucapnya sambil menoleh kebelakang kearah Sona sebelum menghilang di balik bayangan.
'' Tunggu,!'' teriak Sona, namun terlambat karena Naruto telah pergi dari sana.
'' Huft, sebenarnya apa yang terjadi padamu Uzumaki-san. Dari tatapanmu, kamu pernah mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan dan sepertinya itu yang membuatmu seperti itu,'' ujar Sona menghela nafas sambil melihat kearah tanah lapang yang kini penuh abu bekas tubuh para Yakuza. '' Sebaiknya aku kembali dan besok aku akan menanyainya lagi,'' kemudian dia menghilang dengan lingkaran sihir berwarna putih.
:::
Satu hari telah berlalu sejak kejadian pembantaian masal para Yakuza oleh Naruto, dan dia satu hari itu tak keluar rumah bahkan dia bolos sekolah dan juga kerja. Dia kini sedang menonton tivi bersama adik angkatnya yang nampak lebih manja padanya sejak kejadian mereka tidur bersama.
Di televisi yang mereka tonton sedang menayangkan sebuah berita beberapa waktu lalu tentang pembantaian para Yakuza yang di lakukan dengan sadis, dari rekaman CCTV yang ada di tempat kejadian, sang pelaku berambut pirang dan memakai topeng 'Joker'.
'' Kejam sekali,'' komentar Asia melihat rekaman Vidio yang di tayangkan di TV, walau gambarnya di samarkan karena terlalu brutal.
'' Hmm,? Menurutmu begitu,?'' tanya Naruto menanggapi ucapan Asia.
Gadis berambut pirang itu mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.
'' Begitu ya,'' gumam Naruto. '' Percaya tidak, kalau pelaku itu adalah Nii-san,?'' dia bertanya sambil menatap kearah gadis itu.
Asia menoleh kearah Naruto dengan raut terkejut, di pandanginya mata pemuda itu dalam-dalam mencari kebohongan yang mungkin ada di sana. Tapi sekian lama menyelami biru samudra yang kini sudah pudar itu, dia tak sedikitpun melihat kebohongan yang ada kejujuran di sana.
'' Ke-ken-'' Asia menggelengkan kepalanya.
'' Kalau yang melakukan itu Nii-san, pasti ada alasan di balik itu dan pasti karena mereka memang pantas mendapatkan itu,'' ucapnya mencoba memahami di balik perbuatan yang di lakukan Naruto.
Naruto memandang dalam pada manik Asia, menyelami tatapannya yang polos itu. Kemudian dia tersenyum, sebuah senyuman yang tulus dia sunggingkan. '' Tentu, tentu ada alasan di balik semua itu. Alasan yang sangat kuat hingga mereka pantas mendapatkan itu semua,'' ucapnya. '' Mau dengar alasan Nii-san melakukan itu,?''
Asia menggeleng lemah. '' Apapun alasan itu, aku tetap percaya pada Nii-san. Aku akan berdo'a pada Kami-sama untuk mengampuni Nii-san,'' balasnya, kemudian menyatukan telapak tangannya di depan dada hendak berdo'a.
'' Tidak, berdo'a saja untuk mereka. Dosa Nii-san terlalu banyak hingga tidak mungkin terampuni,'' ucap Naruto saat melihat Asia hendak berdoa.
Asia menggeleng dengan masih memejamkan mata posisi berdo'a. '' Tidak, aku juga harus berdo'a untuk Nii-san karena aku ingin masuk surga bersama Nii-san. Juga aku tetap mendoakan mereka,'' ucapnya sebelum memulai berdo'a.
Naruto memandang Asia dengan sebuah senyuman, terlalu polos menurutnya. Tekad untuk terus menjaga gadis itu kian bertambah, menjaganya dari dunia yang terlalu kejam dan kotor untuk gadis sepolos dia.
:
Keesokan harinya, Naruto berangkat lagi kesekolah. Namun dia hanya masuk sampai istirahat pertama, setelahnya dia hanya berbaring sendiri di atap sekolahan, memandang langit yang bergerak pelan sambil merenungi apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
'' Uzumaki-san, sedang apa kau disini,?! Jam pelajaran sudah di mulai, apa kau mau membolos,?'' Sona yang sedang berkeliling mencari murid yang membolos menemukan Naruto yang tengah tiduran di atap, kontan dengan tegas dia menanyai apa yang di lakukan pemuda itu karena itu sebagian dari tugasnya sebgai ketua OSIS.
Naruto melirik dari sudut matanya kearah Sona. '' Aku hanya sedang merenung, memikirkan apa aku akan keluar dari sekolah ini sekarang atau nanti,'' jawabnya sekenanya namun memang itu juga yang sedang di fikirkannya karena dia tidak mau membuat orang lain kena masalah juga karena menurutnya terlalu merepotkan.
Gadis berambut pendek itu tersentak dengan jawaban dari Naruto. '' Kau mau keluar dari sekolah ini,? Maaf, tapi itu tidak aku izinkan,'' ujarnya tegas.
'' Hah,? Kamu tidak mengizinkan,? Memang kamu siapa aku,?'' ucap tanya Naruto sambari berdiri dari berbaringnya.
'' Aku adalah ketua OSIS sekolah ini, jadi kau harus patuh pada ucapanku. Dan juga, jika kau keluar dari sekolah ini kau akan terus melakukan perbuatanmu tempo hari dan aku tidak bisa mengawasimu dan mencegahmu melakukan itu. Jika kau tetap nekat keluar, aku akan mengirimkan surat edaran pada seluruh sekolah di jepang untuk tidak menerimamu dan akan melaporkan pada pemerintah kalau kau tidak mau sekolah. Sementara kita tau, negara ini mewajibkan semuanya untuk sekolah miniman sampai SMA atau sedrajatnya,'' jawab Sona panjang bahkan sampai Naruto tidak bisa menyangkal ucapannya itu, mungkin itu adalah ucapan terpanjang yang di ucapkan gadis itu pada orang yang tidak terlalu dekat dengannya.
Naruto melongo, semua yang akan di gunakannya untuk alasan sudah di sebutkan oleh Sona dan dengan tegas telah di antisipasinya. Mau tidak peduli dan tetap keluar, dia tidak mau repot berurusan dengan pemerintah yang pasti tidak akan menyenangkan.
'' Maaf, aku tidak tunduk pada ucapan seseorang termasuk dirimu,,'' Naruto berjalan kearah pintu, berhenti sejenak saat dia sudah membuka pintu di atap itu. '' Tapi jika kamu ingin aku patuh padamu dan mengikuti semua yang kamu ucapkan, berikan dulu sesuatu milikmu yang berharga. Berikan tubuhmu padaku maka aku akan patuh padamu, apapun perintahmu akan aku lakukan, kecuali merubahku menjadi sepertimu. Dan itu berlaku selama aku ada di sekolah ini atau aku memakai seragam sekolah ini,'' ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.
Sona mematung di tempatnya setelah mendengar ucapan terakhir Naruto, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda itu. Menyerahkan tubuhnya,? Oh demi Raja Iblis, dia tidak akan pernah melakukan itu apalagi hanya untuk serorang pemuda dari golongan manusia.
Mendengar ucapan pemuda itu, harga dirinya seperti di jatuhkan dan seperti tidak berharga. Dia harus memberi pelajaran pada pemuda itu karena telah berani melecehkannya.
Memantapkan hati sebelum melangkah kearah pintu untuk menyusul pemuda pirang yang menarik perhatiannya setelah aksi yang dia lakukan tiap malam beberapa hari belakangan.
Di tempat Naruto, sebenarnya dia belum beranjak satu sentipun dari belakang pintu. Dia sedang menyalahkan dirinya karena berkata tidak pantas seperti itu, dia merasa bersalah atas ucapannya karena itu sama halnya dia telah merendahkan martabat wanita dan juga ibunya karena ibunya juga seorang wanita.
' Ckleek '
tubuhnya menegang saat Pintu di belakangnya di buka seseorang dan dia tau siapa orang itu.
'' Naruto-san,,'' panggilan datar dari sosok di belakangnya kian membuat tubuhnya menegang dengan keringat dingin mulai keluar.
'' I-iya,'' dengan tergagap Naruto membalas panggilan sosok itu dan dengan gerakan pelan dia membalikan badannya menghadap sosok itu.
Sona, tak kalah dengan kondisi Naruto. Dia juga sedang menguatkan dirinya untuk mengucapkan kata-kata yang telah dia siapkan tadi untuk membalas ucapan pemuda itu yang sebelumnya merendahkannya secara tersira.
'' Naruto-san, setelah jam pulang sekolah datanglah keruang OSIS,,'' ucap Sona dengan nada datar dan sedikit menggantung ucapannya, dia kemudian berjalan maju untuk kembali melanjutkan tugasnya sebagai OSIS sekolah Kuoh. '' Aku akan melakukan apa yang kau ucapkan,'' dan berlalulah gadis itu setelah mengucapkan kata tambahan itu dengan pelan.
Eh tunggu,? Sepertinya ada yang salah. Apa dia baru saja mengatakan bahwa dirinya akan menyerahkan tubuhnya pada pemuda itu secara tersirat,? Oh demi raja iblis, kemana otak cerdasnya dan kemana rencana untuk menghukum pemuda itu yang telah dia rangkai dalam otaknya tadi,?
Naruto hanya melongo dengan ucapan gadis iblis berambut pendek itu, otak cerdasnya ngehank memperoses kata-katanya.
' Apa dia baru saja mengiyakan untuk memberikan tubuhnya padaku,? Gila,' itu sedikit dari beberapa yang melintas di dalam kepalanya.
Mengedikan bahunya sebelum pergi dari sana takut bertambah pusing dengan sesuatu yang Absurd yang barusan terjadi.
:.:.:
' clek clek clek '
' Plak plak plak '
'' Akhhh,,, Itttaiiii,,,, ssshhhh,,,, ttteeehhhrrruuusss,,, lebiiihhh ceehhppaaat,,,, sshhhhh,,,, a,,,kuuhh,,, mauu,,, kelluaaarrr,,, shhhh,,,''
' Clek clek clek '
' Plok plok plok '
'' Sssshhhh,,,,, Aaakkuuuhhh,,,, Keluaaaaarrrrr,''
' Serr serr serrr '
Di belainya dengan lembut wajah gadis bertubuh mungil itu yang baru saja mencapai puncak kenikmatan, tangan yang kasar dan kekar itu menyusuri kulit mulus itu sebelum membelai rambut hitam pendeknya dan sedikit merapikannya.
Sementara sang gadis memejamkan matanya dengan nafas memburu, menikmati sisa-sisa Orgasme yang baru saja di alaminya. Hatinya merasa damai merasakan belaian lembut tangan kasar pemuda yang sedang menggagahinya, merasa senang karena dia bukan sebagai pemuas nafsu seperti yang di bayangkannya. Mungkin kalau bayangan itu benar, dia sedang terkapar tak sadarkan diri karena di bombardir oleh pemuda itu. Namun nyatanya, setiap dia mencapai puncak, pemuda itu menghentikan kegiatannya dan membiarkan 'batang' yang sangat terlalu besar baginya di dalam lubangnya agar dia lebih bisa menikmati golombang kenikmatan yang dia alami sejak setengah jam yang lalu.
'' Ne, Sona-san. Harusnya kamu yang melayaniku, bukan aku yang melayanimu hingga keluar empat kali seperti itu,'' ucap sang pemuda seperti mengejek.
Sang gadis yang di ketahui bernama Sona langsung membuka matanya lebar dan menatap pemuda yang masih di atasnya dengan batang tertanam penuh di lubangnya dengan pandangan marah karena merasa terhina dengan ucapannya, namun belum juga mengungkapkan kemarahannya bibirnya dengan lembut di kecup dan di hisap oleh pemuda itu.
'' Maaf, bukan maksudku menghinamu.'' ucap pemuda itu sambil menatap lembut kearah manik violet milik Sona.
Sona diam namun dia masih menatap pemuda itu dengan pandangan terluka, seolah dia tidak mau mendengar dan permintaan maaf dari pemuda itu.
'' Sekali lagi aku minta maaf karena telah melukai perasaanmu, lebih baik kita cukupi saja. Aku tidak mau melukaimu lebih dari ini,'' ucap pemuda itu dengan sangat menyesal. Dia kemudian hendak menarik batangnya dari liang sempit milik Sona, namun tak dapat di lakukannya karena kaki Sona tiba-tiba melingkar di pinggangnya sehingga mengunci dirinya hingga penyatuan mereka tidak dapat di lepaskan.
'' Tidak, te-teruskan saja,'' ujar Sona dengan pipi merona dan sedikit menoleh kesamping karena malu.
'' Kalau di teruskan, aku akan makin melukaimu dengan kata-kataku yang tidak sopan. Aku tidak pernah benar-benar dekat dengan seorang wanita apalagi hingga seperti ini jadi aku tidak tau harus bersikap seperti apa, aku hanya meniru apa yang aku lihat di dalam ingatan orang-orang yang aku bunuh,'' ucap pemuda itu sungkan untuk melanjutkan kegiatan mereka karena takut menyakiti gadis di bawahnya.
Sona memandang tepat kearah manik biru yang tengah memandangnya lembut, mungkin dia tidak akan percaya jika tidak melihat kejujuran dan kepolosan yang tersembunyi di balik samudra yang selalu dingin itu.
'' Tidak, kamu tidak menyakitiku. Aku hanya sedikit merasa terhina tadi,'' ujar Sona masih menatap tepat kemanik biru pemuda itu.
Pemuda itu menatap dalam kemanik Violet Sona, menyelaminya untuk mencari sesuatu yang mungkin ada di sana. '' Apa kamu melakukan ini karena ucapanku tadi siang,?''
Sona diam tak menjawab, dia masih menatap lembut pemuda yang masih menyatukan tubuhnya dengan dirinya. Dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, awalnya mungkin iya tapi entah kenapa sekarang malah berubah dan dia tidak tau apa itu.
'' Kalau iya, leb-''
'' Kalau kamu mau mengakhiri ini, kamu membuatku seperti seorang pelacur yang tidak memuaskan pelanggannya dan itu membuatku sakit,'' potong Sona dengan violetnya yang perlahan mengkusam. '' Ini bukan tentang percakapan kita tadi siang, mungkin awalnya iya tapi tiba-tiba ada sesuatu yang tidak biasa di jelaskan yang mungkin menjadi alasan kuat aku melakukan ini, alasan yang sangat tidak aku mengerti,'' jelasnya akhirnya.
Pemuda yang tidak lain bernama Naruto itu memandang kemanik Violet Sona yang nampak lain dari sebelumnya, ada sesuatu yang tidak bisa di jelaskan di sana.
'' Baiklah, asal tidak menyakitimu. Aku juga sedang nanggung, butuh penyeleseian,''
Setelah itu hanya terdengar erangan dan desahan dari sejoli yang sedang memadu kasih, juga suara perpaduan pangkal paha mereka yang terdengar nyaring di kamar itu.
' Plok plok plok plok '
' Crek crek crek '
'' Aahhh aahhh aahhh,,, Narrrruuuttooohhh,,,,,aaahhh,,,,,, aaakkkuuh keluaaarrrr '' Sona mengerang penuh kenikmatan menandakan akan segera mencapai puncaknya lagi.
'' Aarrrggghh,,, Tungguuuu,,,, ssshhh,,, aaarghhh, aku juga,'' Naruto menambah kecepatan mengayuh pinggangnya karena dia juga sudah merasa akan keluar.
' Prrook prok prok,,, crek crek crek'
kian intens suara penuh birahi itu terdengar di dalam kamar yang menjadi saksi bisu persetubuan mereka, dua sejoli yang tidak terikat perasaan bahkan jenis mereka pun berbeda.
'' Sssooonnnaaaaahhhhh,,,,''
'' Narrrruutttoooohhhh,,,,'''
erangan yang keras menandakan puncah tertinggi birahi yang mereka dapatkan, Naruto membenamkan penuh batangnya pada liang Sona, sementara gadis iblis di bawahnya melingkarkan kakinya di pinggang pemuda itu hingga penyatuan mereka semakin dalam.
Tubuh mereka berdua bergetar menandakan puncak mereka sangat dahsyat hingga berlangsung cukup lama sebelum berhenti dengan nafas yang masih memburu.
.
'' Mulai sekarang sebagian diiriku adalah miliku, tapi jangan mengusik bagian yang lain dan tentang janji aku Uzumaki Naruto akan menepati janji itu karena aku tak pernah mengingkari janjiku,'' ucap Naruto yang telah selesei memasang kancing terakhir bajunya.
'' Jangan berpikiran kalau yang kita lakukan itu di sebabkan janji yang aku ucapan, ini lebih dalam dari pada itu,'' tambahnya saat melihat tatapan Sona meredup.
Sementara Sona yang kini duduk di tempat tidurnya dengan selimut menutupi bagian depannya menatap kearah pemuda yang berpacu nafsu bersamanya beberapa saat yang lalu, hatinya terasa sakit saat ucapan pertama pemuda itu namun sedikit terobati saat ucapan selanjutnya dia dengarkan.
'' Ini, simpanlah. Jika kamu perlu bantuan atau dalam bahaya lempar saja benda itu, aku akan datang saat itu juga,'' Naruto mendekat kearah Sona dan memberikan sebilah Kunai cabang tiga dengan segel padanya.
Sona menerima kunai itu dengan kedua tangannya yang sontak membuat selimut yang menutupi bagian depannya terjatuh dan memperlihatkan kedua aset imutnya.
'' Ck, kepolosanmu yang satu ini membuatku tidak tahan untuk 'memakanmu' lagi jadi,,,'' Naruto mengangkat dagu Sona dengan jarinya dan menciumnya tepat di bibir.
' Cup '
Melumat kecil dan merasakan kembali kelembutan bibir gadis iblis itu yang seakan membuat candu baginya.
'' Aku akan pergi meninggalkanmu untuk istirahat,'' bisik pelan Naruto sebelum berdiri dan melakukan Shunsin.
Sona membuka matanya yang sebelumnya terpejam karena menikmati ciumnya, namun tidak mendapati sosok pemuda yang telah menjadikannya wanita sesungguhnya. Dia kemudian menunduk melihat sebilah yang di setaunya adalah pisau di tangannya sebelum seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
'' Naruto,'' gumam pelan Sona sebelum memeluk kunai di tangannya.
:
Naruto duduk di bangkunya dengan tenang dan tidak biasanya dia tidak langsung tidur seperti biasanya, di sebelahnya Issei nampak sedang berbincang dengan dua teman mesumnya yang duduk di depan bangku mereka.
' Sreek '
Pintu di buka dan masuklah seorang guru, namun dia tidak sendiri. Seorang gadis berambut pirang juga ikut masuk bersamanya yang kontan menarik perhatian siswa kelas itu.
'' A-Asia-chan,?'' gumam Issei terkejut melihat gadis yang masuk kekelasnya itu.
'' Selamat pagi semuanya, pagi ini kalian mendapat teman baru. Dia pindahan dari eropa, jadi sensei harap kalian dapat berteman baik dengannya dan membantunya agar cepat bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini,'' salam sang guru sekaligus memberitau kalau gadis itu adalah siswa pindahan yang akan masuk kekelas itu. '' Nah, Asia. Silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman sekelasmu,'' ucapnya pada gadis yang berdiri di sampingnya.
'' Umm,'' Asia mengangguk dan maju selangkah kedepan. '' Perkenalkan namaku Asia Namikaze, aku pindahan dari Jerman karena mengikuti Nii-sanku. Semoga kita bisa berteman baik dan mohon bantuannya,'' setelah mengucapkan perkenalan dirinya, Asia sedikit membungkuk untuk menghormati teman-teman barunya yang akan menemaninya belajar dua tahun kedepan.
'' Mm,, Asia, kalau boleh sensei tau Nii-sanmu itu bekerja atau masih sekolah,?'' tanya sang Guru penasaran.
'' Nii-sanku masih bersekolah, bahkan dia ada di kelas ini,'' jawab Asia sambil tersenyum.
'' Memang siapa namanya,? Kok Sensei tidak tau ya,?'' sang guru kian penasaran, begitu juga dengan siswa kelas itu yang mendengarkan sedari tadi.
Issei juga nampak terbingung, namun sepertinya dia sudah bisa menebak dengan otak pentium Oppainya.
'' Nama Nii-sanku,,, Naruto Uzumaki,'' jawab Asia sambil melihat kearah Naruto dan tersenyum.
Sementara Naruto juga membalas memandang kearah Asia dengan seulas senyuman lembut yang tulus hingga membuat mereka yang perhatiannya tertuju padanya langsung terpana karena tidak pernah melihat senyuman pemuda itu.
'' Uzumaki-san,? Tapi kenapa marga kalian berbeda,?''
'' Umm Sensei, Asia-chan memakai marga dari Tou-sanku, sedangkan aku memakai marga dari Kaa-sanku,'' ucap Naruto menarik perhatian sang guru dan juga teman sekelasnya.
'' Oh jadi begitu,,,'' sang Sensei hanya mengangguk paham. '' Nah, Asia silahkan duduk di...'' mata Si pengajar mengedar mencari bangku yang masih kosong sebelum perhatiannya tertuju pada pemuda berambut pirang yang tengah mengacungkan tangannya.
'' Sensei, biar Asia-chan duduk bersamaku,'' ucap Naruto yang langsung membuat teman sebangkunya merasakan firasat buruk.
'' Tapi kamukan sud-''
' Duagh '
' Brakh '
'' Nah sekarang aku sendirian, Sensei,'' ujar Naruto yang dengan tanpa berdosanya menendang Issei yang duduk sebangku dengannya hingga pemuda dengan tingkat kemesumannya sangat tinngi itu melayang ke sudut yang berseberangan dengannya dan menabrak dinding hingga membuat pemuda iblis reinkarnasi itu menempel di dinding bak cicak lagi push up.
Keringat sebesar biji jagung mengalir turun di pelipis sang Sensei juga beberapa siswa, namun ada pula yang sangat antusias dan senang apa yang di lakukan oleh Naruto.
'' Nice Kick Naruto-san,!''
'' Tepat sasaran,!''
'' Sering-sering Naruto-san,!''
Beberapa teriakan penuh semangat membara menambah sweatdrop sang Guru.
'' Yare yare,,,, baiklah Asia-san silahkan duduk di samping Naruto-san yang telah 'memindahkan' teman sebangkunya dengan 'sangat' halus,'' ujar sang guru pada Asia.
'' Ha'i, Arigatou,'' Asia membungkuk hormat sebelum berjalan kearah Naruto yang tengah tersenyum tipis menatapnya.
Naruto terus memperhatikan Asia yang nampak riang hingga sampai di sebelahnya dan duduk di bangku sampinynya persis.
'' Belajarlah yang rajin, tak usah memikirkan yang lain okey,'' Naruto menepuk kepala dan mengacaknya pelan membuat gadis itu tersenyum senang.
'' Uummm, pasti,'' Asia mengangguk pasti tanpa keraguan sedikitpun.
Naruto kembali mengacak pelan rambut Asia sebelum melanjutkan aktifitas biasanya yaitu,,, bobo cantik. Eh,? Bobo ganteng maksudnya.
TBC...
Just do it...
