Chapter : 3

Dissclaimer,,,

M,K. I,B

Warning ning njero,,,

Rate,,,

M

Jam pelajaran terakhir terlah berbunyi, namun pemuda bersurai pirang itu masih setia dengan alam mimpinya, sementara di sampingnya sang adik setia menunggu sang kakak yang sedang tidur tanpa berniat mengganggunya.

Anak-anak kelas itupun telah selesei membereskan barang mereka masing-masing, namun belum juga keluar karena melihat orang nomor dua jajaran OSIS ada di pintu dan memasuki kelas itu.

Jelas itu menjadi pusat perhatian karena jarang-jarang dewan siswaa mengunjungi kelas itu, paling anggota club aneh yang datang menjemput pemuda mesum pemilik kaisar naga merah.

Sementara Issei juga penasaran dengan kedatangan wakil OSIS itu kekelasnya, pandangannya terus mengikuti arah jalan gadis iblis itu hingga berhenti pada bangku pemuda pirang yang masih asik dalam alam mimpinya. Pikirannya langsung menebak kalau sahabatnya itu akan di ajak untuk bergabung dengan kelompok rival Bouchounya, tapi mengingat perkataan sahabat yang paling di hormatinya itu dia sangsi kalau akan di terimanya.

Di meja Naruto, Asia nampak memandang Tsubaki dengan raut polosnya, dia tidak tau wakil OSIS sampai datang ke mejanya kecuali,,,,

Asia menoleh ke kakaknya yang sedang terlelap sebelum menggoyang bagunya untuk membangunkannya. '' Nii-chan, bangun,''

' Eemmm,,, auagh,,,,'

Naruto terbangun dan menguap lebar mempedulikan sekitarnya, mengucek matanya sebelum menoleh pada adik angkatnya.

'' Hmm,,, sudah pulang ya,?'' suara parau yang terdengar seksi di balas dengan anggukan Asia.

Kegiatan bangun tidur Naruto nampak menjadi pusat perhatian para gadis di sana, apa lagi suaranya itu yang membuat pipi mereka merona hanya mendengarnya walau bukan di tujukan pada mereka. Menurut para gadis itu suara pria tamfan saat bangun tidur itu keren.

'' Uzumaki-san, anda di panggil ke ruang OSIS oleh Kaichou-sama,'' ucap datar Tsubaki seperti memerintah bukanya memanggil.

'' Hm,? Aku sibuk,'' balas cuek Naruto merapikan barangnya.

'' Kaichou-sama tidak menerima penolakan atau alasan apapun,'' masih dengan nada datar ucapan Tsubaki.

'' Kayak aku peduli, aku ada latihan memanah untuk persiapan kejuaraan memanah tingkat international bulan depan. Kau tau,? Aku membawa nama baik sekolah ini jadi kalau sampai aku tidak bisa membawa medali emas, aku akan membuat malu sekolah ini,'' panjang lebar naruto beralasan yang bahkan jarang sekali dia berbicara sepanjang itu.

'' Sayangnya aku ragu anda akan kalah, melihat kemampuan anda yang jauh di atas master memanah,'' kukuh Tsubaki. '' Memanah di jarak dua ratus meter dengan bidang datar hal yang sangat mustahil dapat di lakukan dan hanya anda yang dapat melakukannya, jadi jangan beralasan mascam-macam,''

'' Oh,'' tanggap Naruto tidak peduli.

'' Nii-chan,'' Asia menegur Naruto dengan suara lirih.

Naruto menoleh kearah adiknya itu yang tengah menatapnya dengan pandangan tidak enak. '' Huft, baiklah. Aku akan ikut kamu, nah Asia-chan bisa pulang sendiri,?''

Asia mengangguk mengerti. '' Kalo begitu, aku duluan ya Nii-chan,'' senyum polos tersungging di bibir gadis itu.

'' Hati-hati, mungkin Nii-san akan pulang terlambat,'' Naruto mengacak rambut gadis pirang itu membalas senyumnya.

' Umm,' Asia mengangguk lagi sebelum bangkit dari duduknya dan pulang kerumah.

Kini Naruto menatap wakil dari Iblis yang menjadi dewan siswa di depannya. '' Nah silahkan jalan duluan dan tunjukan jalannya,'' ucapnya sopan tapi dengan raut tidak peduli.

'' Baiklah, mari ikuti saya,'' Tsubaki jalan mendahului Naruto yang kini bangki dari duduknya dan mengikuti gadis berambut panjang itu.

Saat berjalan, Naruto berhenti sebentar di pintu dan menatap rekan-rekan sekelasnya yang masih asik duduk di bangku masing-masing menatap interaksinya dengan Tsubaki.

Sepanjang menyusuri lorong sekolahan menuju ruang OSIS hanya ada keheningan, tak ada yang memulai pembicaraan. Hingga sampai di pintu ruang yang di tujupun tak ada yang berbicara.

' Tok Tok Tok '

'' Kaichou-sama, ini saya Tsubaki membawa Uzumaki-san,'' ucap Tsubaki setelah mengetok pintu besar itu.

'' Masuklah,'' balas suara di dalam ruangan.

' Cklek '

Pintu di buka oleh Tsubaki sebelum memasuki ruangan itu tentunya di ikuti oleh Naruto, namun nampaknya pemuda pirang itu sedang sengklek. Dia tanpa di persilahkan dulu langsung duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu, menyamankan posisinya sebelum memandang ke arah sang ketua.

'' Jadi, ada urusan apa kamu memanggilku,?'' tanya Naruto tanpa basa-basi dengan cuek.

Kelakuan Naruto nampaknya menjadi pusat perhatian seluruh anggota OSIS, terutama satu-satunya pria anggota dewan siswa itu yang nampak geram akan ketidak sopanan Naruto pada rajanya.

'' Tidak ada alasan Khusus, hanya ingin mengawasimu,'' balas Sona datar.

'' Hell, Sona kamu memanggilku hanya untuk itu,? Gezz, aku sibuk tau. Jadwalku padat, aku ada latihan memanah juga ada kegiatan lain setelah itu,'' kesal Naruto mendengar alasan Sona memanggilnya.

'' Benarkah,? Dan apa kegiatan lain yang kau maksud itu,?'' Introgasi Sona dengan nada datar.

'' Hmm,? Itu tak perlu kamu ketahui,'' balas Naruto acuh, malah dia kini tengah merakit busurnya yang dia ambil di tas perlengkapan panahannya.

Saji, satu-satuny anggota pria dari kelompok Sona nampak sudah tidak bisa menahan diri melihat kelakuan Naruto yang menurutnya sudah keterlaluan.

'' Heh kau,! Tunjukan rasa hormatmu pada Sona-sama, dan jawab saja apa yang di tanyakannya juga tunjukan sopan-santunmu,! Dari masuk sampai berbicara pada Sona-sama kau tak ada sopan-sopannya sedikitpun, apa kau tidak pernah di ajari orang tuamu soal sopan santun hah,!?'' seru Saji menyuarakan apa yang ada di benaknya sedari tadi akan pemuda bermata biru pudar itu.

' Deg '

semua anggota OSIS memandang tak percaya akan apa yang di ucapkan oleh Saji, bahkan Sona sampai memandang pemuda tersebut dengan tatapan tak percaya.

Sementara Naruto kini menundukan kepalanya, menyembunyikan ekspresinya di balik surai pirangnya.

'' Aku memang tidak pernah di ajari sopan-santun oleh kedua orang tuaku,'' ucap datar Naruto yang terdengar sedikit dingin.

Saji maju selangkah lagi. '' Pantas saja, kau tidak memiliki sopan santun. Orang tua ma-'' ucapan congkak Saji terputus saat dirinya merasa terseret dengan sangat cepat kearah belakang.

' Braakh '

' Ugh '

Semua terdiam membeku, tak tau apa yang terjadi, di mata mereka yang kini melebar terkejut tak melihat sedikitpun gerakan yang membuat Saji seperti itu.

Dinding di belakang barisan anggota OSIS retak serta cekung kedalam dan membuat retakan laba-laba yang panjang menandakan kalau yang telah menabrak tidaklah pelan.

' Uhk '

Saji hanya bisa melenguh kecil dan rasa getir darah mulai terasa di mulutnya bahkan kini dia merasakan mulai mengalir keluar dari sudut bibirnya, ingin dia batuk dan mengeluarkan darah di mulutnya namun cekikan tangan kekar yang tengah bersarang di lehernya menghalangi dia melakukan itu.

Mata saji masih terpejam, karena rasa nyeri yang amat di punggungnya akibat terbentur dengan tempok. Lebih dari keras benturannya dengan tembok, mungkin kalau dia manusia biasa dia akan langsung mati dengan tulang yang remuk. Beruntung, kini dia adalah iblis hingga hal itu tidak terjadi.

'' Beraninya kau mengolok kedua orang tuaku, mereka tidak bisa mengajariku sopan santun ataupun menghormati orang lain seperti yang kau maksudkan. Karena mereka...'' Naruto menjeda ucapannya yang teramat dingin itu yang bahkan membuat mereka yang mendengarnya merinding di buatnya.

Saji sudah pasrah apapun yang akan terjadi padanya, kebodohannya ternyata membawanya pada sang Shinigami. Suara yang sangat dingin yang bahkan mungkin baru pertama kali di dengarnya membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dengan susah payang dia membuka matanya walau hanya mata kirinya yang dapat terbuka akibat rasa nyeri yang dia rasakan.

' Deg '

Demi apapun yang ada di dunia ini, Saji hanya bisa menelan ludah jikapun dia bisa, di pandangannya kini sepasang biru samudra yang hampa menatap dingin padanya. Tatapannya lebih menakutkan dari pada hantu-hantu yang dia ketahui peling menakutkan, tatapan dingin yang menggambarkan berbagai hal itu tertuju padanya dengan sangat dekat.

'' Karena mereka meninggal tepat di hari aku terlahir kedunia,'' lanjut Naruto dengan nada yang lebih dingin dari sebelumnya.

Kini kedua mata Saji melebar terkejut atas informasi yang masuk keotaknya, kini dia benar-benar menyesal telah mengucapkan kata-kata yang tanpa di fikirkan lebih dulu. Pikiranya hanya ingin terlihat keren di mata rajanya dengan menegur sosok siswa yang kelakuannya tidak sopan pada sang ketua namun nampaknya itu berakibat fatal.

' Bruk '

Naruto membanting Saji kesamping, hanya bantingan kecil tanpa tenaga berlebih.

' Uhuk,,,uhuk,,,uhuk,,,,'

Saji langsung terbatuk begitu cekikannya terlepas, tangannya kontan memegang lehernya yang kebas. Kini dia hanya bisa terduduk lemas tanpa berani melakukan apapun.

Naruto berbalik menatap Sona, biru samudra kusamnya masih menunjukan pandangan dingin. '' Sona, aku harap kamu lebih bisa mengajari anggotamu agar tidak menyinggung perasaan orang lain apa lagi dengan sesuatu yang fatal seperti barusan,'' ucapnya dengan nada dingin.

Tangan kanannya terangkat kedepan dada membentuk sebuah single heandseal yang sering di gunakan oleh Senseinya dulu. '' Aku kira urusanku sudah selesei disini,'' tanpa berpamitan dia menghilang dengan pusaran angin dan daun.

Seluruh anggota OSIS kecuali Saji masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi terkejut, kesadaran mereka belum kembali setelah kejadian yang mereka lihat.

'' Se-sebenarnya apa yang terjadi,?'' Tomoe bersuara dualuan mengekspresikan rasa terkejutnya.

'' A-aku tidak ingin merasakan itu lagi,'' Ruroka bergumam lirih dengan mata mulai berkaca.

Sona yang sudah tersadar hanya bisa menghela nafas melihat kondisi anggotanya, tidak di pungkiri walau tidak ada nafsu membunuh atau apapun tapi hanya mendengar suaranya dan tatapannya saja sudah membuat psikis anggotanya goyah. Dia tidak bisa membayangkan jika melihat anggotanya menyaksikan pembantaian yang pemuda pirang itu lakukan, mungkin bisa gila semuanya.

' Huft '

Kembali Sona menghela nafas, dia kemudian menatap wakilnya yang berdiri tepat di sebelahnya. '' Tsubaki, sadarkan mereka dan obati Saji. Sementara pimpinan kamu ambil alih, aku akan menemui Naruto untuk meminta maaf,'' titahnya pada sang wakil.

'' Ha'i, Kaichou-sama. '' Tsubaki mengangguk hormat dan menyanggupi perintah ketuanya.

'' Aku pergi dulu,'' Sona bangkit dari duduknya dan berpamitan pada sang wakil yang di balas anggukan sebelum keluar dari ruangan itu.

.

..

...

Sona berjalan cepat menyusuri lorong sekolah, beruntung semua siswa telah pulang kerumah masing-masing hingga tak melihat ekspresi khawatirnya yang tergambar jelas di wajah ayunya.

Tak perlu mencari keseluruh tempat, karena dia tahu tempat yang pasti di tuju pemuda itu. Tidak mungkin di atap sekolah, pasti ada di,,,

' Stab,,, stab,,, stab,,'

Baru saja memasuki area klub panahan dia sudah mendengar anak panah menancap di target sasaran, yah lapangan panahan dari klup memanah adalah tempat yang pasti di tuju oleh pemuda itu karena hanya tiga tempat yang sering di sambangi pemuda itu yaitu atap sekolah, kantin, dan tempat memanah.

Violetnya menatap kearah pemuda yang kini telah berkucuran keringat, padahal baru beberapa saat dia pergi tapi gambaran yang terlihat seperti telah berlari maraton.

Direksinya mengalihkan kearah papan target, violetnya melebar terkejut. Papan target yang jaraknya seratus meter itu kini telah tertembus puluhan panah tepat di tengahnya, bahkan anak panah yang mungkin pertama kali menancap di sana sudah tidak berbentuk lagi karena terbelah oleh anak panah berikutnya.

' kriieeet '

Decitan dari sesuatu yang di tarik melebihi batasnya mengalihkan perhatian Sona, terlihat Naruto tengah menarik tali busurnya jauh kebelakang hingga busur itu melengkung tajam melebihi standar maksimal yang di perbolehkan.

' Krrieet,,,, kraak '

Mata Sona langsung terpejam mendengar suara yang cukup memekakan, saat terbuka violetnya melihat kalau busur itu patah tak sanggup menahan beban tarikan busur.

'' Ck, patah. Huft, apa yang di harapkan dari busur murahan,? Ah kayaknya harus ngumpulin uang dulu buat membeli yang baru, tapi apa waktunya cukup hingga perlombaan di laksanakan,?'' ujar Naruto yang tengah melihat-lihat busurnya yang patah.

Perlahan gadis mungil itu mendekati Naruto yang pasti dapat merasakan bahkan sebelum dia ke sana. '' Naruto,'' panggil pelan Sona dengan nada yang tidak biasanya.

Naruto menoleh kearah gadis itu, pandangannya masih sekeras dan sedingin sebelumnya. Tapi melihat ekspresi yang di tunjukan Sona membuat pemuda pirang itu menghela nafas pelan.

'' Huft,,, kemarilah. Ada apa,?'' tanya Naruto lembut.

'' I-itu,,,'' siapapun yang melihat ekpresi Sona kali ini pasti akan berteriak Kawai~ karena dengan wajah malu-malu serta rona merah di pipi putihnya.

'' Sudahlah, kamu tak perlu minta maaf. Kamu tidak salah,'' ujar Naruto. '' Aku bukanlah orang yang bisa memaafkan dengan mudah, tapi aku juga bukan seorang pendendam jadi biarkanlah seperti air mengalir,'' terangnya menenangkan kegundahan Sona.

'' Tapi Saji sudah kelewatan, tidak seharusnya dia mengucapkan kata-kata itu,'' ucap Sona malu akan tingkah bawahannya.

'' Dia hanya anak kecil yang sedang mencari jati dirinya, dengan kejadian tadi dia harusnya gnbelajar dan akan berpikir sebelum berbicaray,'' ujar Naruto sedikit datar.

Sona mendongak menatap biru samudra pudar yang masih hampa seperti biasanya, dia nampaknya tak mampu berbicara lagi.

'' Sudahlah, kalau kamu ingin benar meminta maaf. Temani aku bekerja sampai aku pulang nanti, karena aku sudah tidak mood untuk latihan, busurku sudah patah tidak mungkin di perbaiki,'' ucap Naruto seperti sebuah penawaran.

Sona menatap busur di tangan Naruto yang sudah tidak bisa di pakai, pikirannya menerawang jauh sebelum sebuah ide muncul di kepalanya. '' Baiklah, tapi sebelum itu temani aku ke suatu tempat,''

'' Oke, tapi jangan lama-lama ya, aku tidak enak dengan boss ku,''

'' Tidak lama, jadi ayo jalan,'' Sona reflek menarik tangan Naruto agar pemuda itu mengikutinya, kini dia benar-benar menghilangkan Image yang sudah lama dia bangun dan kini bertingkah layaknya gadis normal.

Naruto mengikuti arah tarikan gadis itu, mempedulikan tatapan orang-orang yang di laluinya karena pada dasarnya dia cuek tak menghiraukan orang lain.

Menyusuri jalan di kota Kuoh hingga membawanya ke sebuah toko peralatan olah raga, agak bingung sebenarnya pemuda pirang itu menerka maksud gadis berambut pendek yang menariknya sedari di sekolah tadi.

Memasuki toko itu direksi mereka langsung di sugui macam-macam peralatan olah raga dari berbagai bidang, nampak beberapa orang juga tengah melihat-lihat barang yang mungkin di beli mereka.

'' Slamat datang, ada yang bisa saya bantu,?'' sambut sopan seorang pramuniaga, senyum bisnis terpampang di bibirnya.

'' Iya, bisa tunjukan padaku sebuah busur yang kuat dan lentur,?'' balas Sona kembali datar seperti biasanya.

'' Tentu, tunggu sebentar. Silahkan lihat-lihat dulu barang kali ada barang lain yang di inginkan,'' pramuniaga itu mnunduk sopan sebelum berjalan ke ruang penyimpanan.

Sona mengikuti arahan pramuniaga, dia melihat kesekeliling barang kali ada benda yang menarik, direksinya malah tertuju pada pemuda pirang yang nampak sedang geleng-geleng dan bergumam tidak jelas setelah melihat-lihat busur yang di pajang di sana.

Yah, pemuda yang seharusnya ada di sampingnya entah sejak kapan sudah tidak ada di sampingnya.

'' Maaf Nona, menunggu lama. Ini sepertinya cocok seperti dengan yang Nona pinta,'' sang pramuniaga menyodorkan sebuah busur yang telah di rakit, nampak busur itu bukanlah busur murahan terlihat dari bahannya yang bagus.

'' Hmm, busur yang bagus. Presisi dan akurasi tinggi,'' ujar Naruto yang entah sejak kapan telah kembali di sebelah Sona.

'' Anda cukup jeli Tuan, benar busur panah ini menonjolkan akurasi tinggi hingga mengabaikan bobot yang lumayan cukup berat di banding yang lainnya,'' tak menyia-nyiakan kesempatan pramuniaga langsung mempromosikan barangnya.

'' Tapi jika aku akan membeli, seberapapun murahnya aku tidak akan memilih itu karena tidak cocok dengan diriku,'' ucap Naruto mengalihkan pandangannya kearah lain.

'' Lalu busur yang seperti apa yang cocok denganmu, tuan,?'' tanya pramuniaga nampak tak menyia-nyiakan peluang barangnya akan terjual, meski hanya satu buah.

'' Lentur, kuat, tidak mudah patah dan yang paling penting berbahan dari alam,'' jawab Naruto sambil mengedikan bahu.

'' Apa ada barang yang seperti itu,?'' kini Sona ikut berbicara setelah menyimak percakapan di depannya.

Sang pramuniaga nampak ragu, tapi kemudian mengangguk. Dia berbalik lagi kearah penyimpanan untuk meletakan busur yang di ambilnya dan kembali dengan busur baru yang masih tersimpan dalam wadahnya.

'' Umm, ini. Tapi harganya tidak murah, maaf sebelumnya. Pegangan busur ini terbuat dari kayu Oak tua, keras tapi ringan. Bilah busurnya di pilih dari bambu pilihan oleh sang ahli pembuat busur di jepang yang kini telah wafat menjadikan busur ini karya terakhirnya.,'' terang pramuniaga ragu.

Sona agak teremehkan dengan ucapan pramuniaga itu, dikiranya dia tidak bisa membelinya, huh,?

'' Coba lihat,'' pinta Naruto.

Sang pramuniaga memberikan tas busur berbahan kulit ular itu pada Naruto.

'' Tapi maaf tuan, belum ada yang bisa merakit busur itu sedari di kirim kemari. Banyak yang ingin membelinya tapi karena tidak bisa merakitnya jadi mereka tidak jadi, ada beberapa yang berkeinginan untuk menjadi pajangan tapi oleh pemilik toko tidak di berikan. Berapapun tinggi bayarannya tidak di berikan oleh bosku,'' terangnya.

Naruto membuka tas busur itu dan melihat barang wah yang tersimpan di dalamnya.

'' Karena Bossmu tahu, perasaan yang disalurkan oleh si pembuat yang berkeinginan ciptaannya di gunakan oleh seseorang, tidak perlu ahli asal bisa menggunakannya. Setiap mili bilah busur ini tercurah harapan yang besar, kalau dulu mungkin harapan untuk dapat di gunakan berburu dan mendapat hasil yang besar, tapi karena jaman makin moderen dan berburu di larang, beliau berkeinginan ciptaannya untuk dapat di gunakan di setiap lomba dan memperoleh kemenangan bagi yang menggunakannya. Makannya si pencipta membuat busur ini dengan mengabaikan daya bunuh dan meningkatkan ke akurasi,'' komentarnya yang yang tengah melihat setiap jengkal bilah busur itu. '' Aku akan merakitnya,''

Naruto langsung menuju meja kasir dan mengeluarkan seluruh bagian busur disana, melihat-lihat barang kali ada bagian yang tidak ada.

'' Ta-tapi tuan, busur itu tidak mudah untuk di rangkai bahkan untuk memasang talinya saja tidak ada yang bisa. Bilahnya terlalu keras, tidak lentur seperti yang di beritahukan,'' tegur pramuniaga nampak ragu akan apa yang di lakukan Naruto, dia takut kalau busur itu malah rusak.

'' Diam dan lihat saja,'' ujar cuek Naruto.

Dia mulai merakit setelah melihat seluruh bagian ada di sana, memasang baut penjepit dengan kencang hingga tidak mudah lepas. Setelah selesei dan tinggal talinya saja yang di pasang, dia melihat kalau bahan tali itu kuat dan lentur hingga tidak mudah putus.

Percobaan pertama gagal karena seperti apa yang di ucapkan pramuniaga, bilahnya sangat keras seperti besi. Dia kemudian mengelus bilah busur itu, merasakan serat dan karakteristik dari bambu dan kayu pegangan.

Setelah mengetahui itu semua, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Sedikit mengeluarkan chakranya hingga membuat busur itu berpendar biru lembut, dia menghiraukan tatapan kagum semua pengunjung dan pramuniaga di sana. Dia tidak ambil pusing kalau kemampuannya di ketahui, lagian paling mereka menganggap itu sebuah keajaiban busur panah itu karena yang menciptakannya adalah seorang maestro pembuat busur yang kini telah meninggal.

Kemudian dia mencoba lagi memasang tali busur itu, pendar biru chakra Naruto masih menyelimuti busur itu dan ajaibnya bilah yang sebelumnya kaku kini terlihat lentur walau mungkin tak ada yang bisa menggunakan busur itu karena sangat keras untuk di tarik, kecuali pemuda itu.

'' Bisakan,?'' ujar Naruto menoleh kearah pramuniaga.

'' Woah ''

'' Sugoi,''

'' Titisan dewa pemanah telah turun,''

oke abaikan kekaguman yang melihat seluruh kegiatan Naruto dalam merakit busur legendaris itu.

'' A-anda hebat tuan, sepertinya hanya anda yang bisa menggunakan busur itu,'' balas pramuniaga masih kagum.

' Hmm,?' Naruto menarik tali busur itu memposisikan seperti akan memanah tapi tanpa anak panah.

' Kriieeett,,, krieer,,,,'

Busur itu mekengkung tajam namun tidak ada tanda-tanda akan patah.

' Swung '

Dengungan sangat keras begitu tali itu terlepas, seperti ada gelombang angin tercipta dari busur itu. Melihat dari kekakuannya, itu mungkin terjadi.

'' Power yang mantap,'' gumam Naruto menatap busur ditangannya.

'' Kamu menyukainya,?'' tanya Sona yang sedari tadi terdiam.

'' Sangat,'' jawab Naruto tanpa sadar.

'' Kalau begitu, ambil. Itu untukmu,'' ucap Sona.

'' Apa maksudmu,? Apa kamu sedang bercanda,?'' tanya heran Naruto.

'' Tidak, kamukan akan mengikuti lomba memanah international mewakili sekolah kita sedangkan busurmu patah tadi jadi itu untuk menggantikan busurmu sebelumnya, tidak mungkinkan kalau kau menggunakan busur yang patah,?'' jawab Sona panjang lebar kembali keluar dari sifat datarnya.

'' Aku tidak mampu membelinya, kamu dengar sendirikan tadi kalau harganya sangat mahal,? Mungkin harganya sama seperti sebuah rumah dan aku lebih memilih untuk membeli rumah kecil untuku tinggali,''

'' Aku yang akan membayarnya,'' ujar tenang Sona.

'' Apa kamu sedang sakit,?''

'' Ck, tentu saja tidak. Anggap itu sebagai permintaan maafku, lagian busurmu patah juga karena anggotaku yang membuatmu kesal hingga kau memanah dengan emosi tadi,'' Sona nampak mulai greget dengan kelakuan Naruto.

Sementara pemuda pirang itu malah memandang Sona dengan pandangan menyelidik.

'' Ja-jangan pandangi aku seperti itu, pokoknya kau harus menerimanya kalau tidak aku akan bunuh diri tapi sebelum aku bunuh diri aku akan membunuhmu terlebih dulu,'' ucap Sona denga rona wajah yang memerah.

Naruto hanya melongo menanggapi ucapan Sona barusan, itu ucapan terkonyol yang pernah dia dengar dari gadis mungil itu.

Nampak pengunjung yang melihat itu terlihat senang dan greget, mereka seperti sedang melihat sebuah drama live tentang percintaan.

'' Hahaha,,, ambil saja itu untukmu wahai pemuda. Kau dan gadis cantik itu tidak usah membayarnya, aku hadiahkan busur itu untukmu karena berhasil merangkai dan mengerti makna yang tersimpan dalam busur itu,'' tiba-tiba dari belakang pengunjung seorang pria agak tua berpakaian santai tertawa senang tanpa beban sedikitpun.

'' Boss,'' sang pramuniaga nampak menunduk hormat pada pria itu yang kini tengah mendekat kearah mereka.

'' Apa anda juga sakit, paman,?'' tanya Naruto dengan tampang polos.

'' Hahaha,,, mungkin iya, mungkin tidak,'' pria itu masih tertawa senang.

'' Perkenalkan namaku Emiya Shirou, panggil saja Emiya.'' pria itu mengulurkan tangannya pada Naruto, bermaksud untuk berkenalan.

'' Uzumaki Naruto, panggil saja Naruto,'' balas Naruto menjabat tangan pria itu.

'' Cengkraman yang keras dan mantap, kau akan menjadi pria yang bertanggung jawab,'' ujar Emiya.

Naruto hanya tersenyum untuk membalas ucapannya itu.

'' Aku mendengar bahwa kau akan menjadi wakil sekolahmu bukan,? Itu artinya kau akan menjadi wakil kota ini untuk mengikuti perlombaan memanah yang akan di selenggarakan di China, lomba bertaraf international yang belum pernah kita menangkan jadi aku akan memberikan busur itu padamu dan sebagai gantinya kau menangkan perlombaan itu kalau kau tidak ingin menerima busur itu secara percuma,'' tawar Emiya atas niat baiknya yang pasti di tolah pemuda pirang itu.

Dia nampaknya tidak mempedulikan seberapa mahal harga busur itu, mungkin dia punya alasan logis atas apa yang dia lakukan.

'' Penawaran yang menggiurkan, baiklah. Akanku dapatkan seluruh medali emas yang akan di hadiahkan dalam lomba itu, itu janjiku padamu paman. Dan untuk anda ketahui, aku Uzumaki Naruto akan berusaha dengan sangat untuk memenuhi janji itu,'' balas Naruto menerima busur itu dan menyanggupi syarat yang di tujukan.

'' Hahaha,,, kau pemuda yang menarik, Naruto-kun, aku jadi teringat pada almarhum putraku yang telah wafat. Dia sangat ceria dan penuh semangat sepertimu, juga sangan menyukai busur panah,'' Tawa Emiya, matanya menerawang pada putranya yang telah tiada.

'' Putra paman pasti sangat membuat paman bangga ya,'' ujar Naruto melihat binar di mata sendu Emiya.

'' Hahaha,,, iya, tapi sayang umurnya tidak terlalu panjang,'' kembali Emiya tertawa walau terlihat sendu.

'' Emm,,, maaf sebelumnya. Sepertinya kita pamit dulu paman, aku masih harus bekerja sore ini,'' ucap Naruto agak merasa tidak enak jika terus di sana dan mendengar kisah pemilik toko, lagian dia juga harus bekerja.

'' Haha,,, iya tidak papa, maaf aku malah menyamakanmu dengan putraku yang telah tiada,'' balas Emiya.

'' Tidak papa, terimakasih buat busur panahnya, aku pastikan semua medali aku dapatkan dan akan aku sebut nama Paman sebagai sponsorku,''

'' Hahaha,,, oke aku tunggu saat itu,''

'' Kalau begitu, kami permisi paman,'' pamit Naruto membukukan badan hormat.

'' Ya, hati-hati di jalan,'' balas Emiya masih menunjukan wajah senangnya.

Naruto mengangguk sebelum kemudian pergi di ikuti Sona yang memasang wajah cemberut layaknya gadis biasa.

Sepanjang jalan hanya ada keheningan, belum ada yang mengajak berbicara. Namun ekpresi Sona tak lepas dari perhatian pemuda pirang itu.

'' Kenapa cemberut terus,? Marah padaku,?'' tanya Naruto tanpa menghentikan jalannya.

Sona terdiam beberapa saat sebelum mengela nafas pelan. '' Harusnya busur itu untuk permintaan maafku padamu, tapi malah di berikan percuma seperti itu,'' jawabnya pelan.

'' Ck, kamu masih memikirkan itu,?'' ujar Naruto dengan nada tanya terkejut. '' Kan sudah aku bilang tadi sebelumnya, biarkan seperti air mengalir,'' tambahnya mengingatkan.

' Tap '

Sona mengentikan langkahnya dan memandang Naruto dengan mata yang berkaca. '' Tapikan,,,,'' nampaknya dia masih merajuk.

Naruto juga menghentikan langkahnya, tepat dua langkah di depan gadis iblis itu. Berbalik menatap gadis di belakangnya yang tengah berekspresi sangat imut dengan pipi yang di gembungkan dan mata berkaca merajuk, bibir pingnya mengkerucut.

Jika yang menatap itu pria diewasa lainnya mungkin akan langsung menubruk atau mengawetkan ekspresi Sona, namun bagi pemuda yang patut di 'pertanyakan' menanggapi itu biasa saja.

Melangkah mendekati gadis itu lalu menepuk kepalanya dan mengacak rambut hitam pendeknya. '' Kan sudah aku bilang, cukup temani aku bekerja hingga aku pulang nanti. Tak perlu simbol apapun,'' ucapnya lembut.

Sona menunjukan wajah cemberut merasa tidak puas akan ucapan Naruto. '' Tapi lain kali kalau aku mau membelikan barang kamu harus mau menerimanya,'' ujarnya yang kini menunjukan tatapan menuntut pada Naruto.

'' Aku janji,'' Naruto tersenyum kecil sambil kembali mengacak rambut Sona. '' Jadi, ayo kita lanjutkan perjalanan. Aku sudah terlambat beberapa menitnih,''

'' Umm, ayo,'' kini wajah Sona kembali cerah setelah mendengar janji kecil Naruto akan sesuatu yang mungkin menurut orang itu hal kecil dan tidak berharga namun mereka yang merngerti pasti tau makna besar yang terkandung di dalamnya.

:.:&

Jam telah menunjukan pukul sebelas malam, sudah terlalu larut bagi seorang siswa masih berseragam untuk berkeliaran namun begitulah adanya.

Kini Sona berdiri di sebuah kedai makanan yang tidak terlalu besar namun pengunjungnya sangat banyak, dia memenuhi permintaan Naruto untuk menemaninya bekerja.

Yah, di kedai itulah Naruto selalu bekerja paruh waktu untuk menghidupi kebutuhannya. Walau dengan teknik ninjanya dia dapat melakukan kerja yang lainnya namun dia lebih memilih bekerja di kedai itu karena pemiliknya menjual sesuatu yang sangat amat di sukainya, Ramen.

Sepanjang Naruto bekerja Sona terus memperhatikan pemuda itu, ya gadis bob itu hanya di suruh duduk dan menunggu pemuda pirang itu selesei bekerja, terdengar membosankan,? Oh tentu tidak.

Bagi Sona itu adalah hiburan tersendiri, melihat pemuda yang biasanya datar atau tersenyum palsu, di tempat kerjanya itu dia tersenyum tulus dan nampak senang seolah tak ada beban sedikitpun. Melihat betapa riangnya dia bekerja walau pegawainya hanya dia seorang, melayani dengan sopan dan menolak dengan sopan ketika beberapa pengunjung wanita 'agresif' padanya.

Sona masih tersenyum sedikit mengingat itu semua, ingin dia kembali esok hanya untuk melihat pemuda pirangnya bekerja.

' Sreek '

'' Maaf ya, menunggu lama,'' ujar Naruto yang telah menutup pintu kedai, tidak di kuncinya karena pemik kedai itu tinggal di situ. Busur yang telah terangkai di gendongnya bersama lima belas anak panah yang ada di tempatnya.

'' Tidak kok,'' balas Sona tersenyum manis.

'' Yuk,'' ajak Naruto untuk jalan, yang hanya di balas anggukan oleh Sona.

'' Setiap hari kau bekerja seperti itu,?'' tanya Sona memulai pembicaraan di perjalanan pulang mereka.

'' Yah begitulah, capai sih tapi aku suka,'' jawab Naruto sambil tersenyum kecil.

'' Jhiro-san terlihat sangat ramah dan baik,'' ujar Sona mengomentari boss Naruto.

'' Begitulah, dia sangat baik. Di saat yang lainnya menolaku bekerja karena tidak punya persyaratan, beliau mau mempekerjakanku walau nyatanya penghasilannya tidaklah besar waktu itu. Aku bersyukur sekarang sudah lebih mendingan,''

'' Mungkin kare-''

' Sring '

Ucapan Sona terhenti ketika tiba-tiba sihir komunikasi uncul di telinganya.

Naruto berhenti mengikuti gadis di sampingnya, dia memandang penasaran pada gadis bob yang tengah memasang ekspresi serius itu.

'' Kaichou, kami terdesak. Kami tengah melawan satu set Iblis Liar di rumah tua sekitar hutan Kuoh, beberapa telah kami kalahkan namun sisanya masih belum muncul dan yang sekarang kita lawan terlalu kuat. Momo, Saji, telah terluka cukup parah,''

Terdengar suara dari sihir komunikasi itu, suara yang amat di kenal Sona karena dia adalah wakilnya.

'' Aku segera kesana,'' ujar datar Sona. Dia kemudia menoleh kearah Naruto yang tengah menatapnya serius. '' Naruto, ak-''

'' Ayo kita kesana,'' ucap Naruto nampak serius.

Violet bertatapan dengan biru samudra pudar nan kelam, sebelum mengangguk mengiyakan.

'' Pegang tanganku, seluruh Kuoh dalam area jangkauanku,'' Naruto mengulurkan tangan kanannya pada Sona, kembali tangan halus itu menggenggam tangan kasar yang melebihi kuli bangunan.

' Hiraishin '

' Splash '

Tak sampai satu detik mereka menghilang meninggalkan kilat kuning, beruntung suasana lumayan sepi hingga mungkin tak ada yang melihatnya.

.&..&.

Di halaman rumah tua, nampak pertempuran yang tidak seimbang. Meski jumlah mereka tidak sama, namun segi kekuatan lawan yang jumlahnya sedikit lebih unggul.

'' Saji,! Momo,! Awas,!'' triak Tsubaki yang telah mundur agak jauh melihat manusia setengah kuda yang tengah di lawan dua bidak majikannya itu tengah melakukan sebuah serangan yang cukup fatal.

Saji yang tengah terduduk akibat serangan sebelumnya hanya melebarkan matanya terkejut, sementara Momo di sebelahnya memasang posisi bertahan meski dia nampak ragu dapat menahan serangan itu.

Tsubaki sebenarnya ingin menolong dua rekannya itu namun nampaknya pikiran dan tubuhnya tidak singkron karena terkejut, dia hanya bisa tertegun di tempatnya denga mata melebar terkejut.

'' Mati,!'' Raung ,akhluk setengah kuda itu menghunuskan tombak berulirnya kearah Saji yang sudah tak bisa berkutik.

' Swush,,,,swush,,,'

' Stab,,, Stab,,,'

Dua anak panah melesat sangat kearah iblis liar beruap manusia setengah kuda yang tengah menghunuskan tombaknya, dan menancap tetap di kepala dan jantung makhluk itu sebelum ujung tombaknya mengenai tubuh Saji.

'' Aaarrrgghhh '' Makhluk itu mengerang sebelum melebur menjadi abu.

' Swus,,swus,,swus,,'

enam anak panah kembali melesat dengan sangat cepat, anak panah yang seluruhnya terselimuti sesuatu berwarna biru pucat itu nyaris tak dapat di lihat dengan mata telanjang.

' Stab,,,stab,,,stab,,,'

semua anak panak itu mengenai sasaran dengan telak dan menembusnya di bagian kepala, enam makhluk yang merupakan iblis liar itu melebur menjadi abu dengan erangan yang memilukan.

Kembali semua yang tengah bertarung terkejut, tapi tidak seperti sebelumnya melainkan karena semua lawan mereka telah mati dan melebur menjadi abu.

Tsubaki menoleh kebelakangnya, kearah anak panah itu berasal. '' Ka-Kaichou,?! Dan U-Uzumaki-san,?!'' kaget gadis berambut panjang itu melihat siapa yang ada di belakangnya.

'' Tsubaki,,, Kaichou-sama,!''

'' Kaichou,?!''

Anggota Sona mendekat saling bantu, mereka nampak senang karena ketua mereka telah datang untuk membantu mereka. Tapi mereka juga terkejut karena ada Naruto di sana, menenteng sebilah busur yang beraura biru pucat. Tunggu, sebuah busur,?

'' U-Uzumaki-san,'' gumam Saji terkejut sekaligus penasaran. ' Busur,? Jangan-jangan anak panah tadi dia yang melakukan,'

'' Kalian, bagaimana keadaan kalian,?'' tanya Sona datar namun juga khawatir.

'' Kami cukup kelelahan, Kaichou dan beberapa terluka,'' balas Reya yang memapah Tsubasa.

'' Sona, rawat anggotamu biar sisanya aku yang urus,'' ucap Naruto sambil menatap lekat kearah pintu rumah tua yang terbuka lebar.

'' Tidak, iblis liar itu tanggung jawabku jadi aku yang akan menyeleseikannya,'' balas datar Sona juga menatap kearah rumah tua.

'' Anggotamu juga tanggung jawabmu, keselamatannya lebih penting dari pada mengurusi sesuatu yang kekuatanya tidak bisa kamu prediksi,'' Naruto menatap Sona di sebelahnya yang menampakan wajah tersinggung.

'' Kau meremehkan kemampuanku,?! Aku bisa mengalahkan mereka sendirian,''

'' Dan membiarkan anggotamu yang terluka terlantar,? Jangan kamu egois seperti itu, mereka yang ada di dalam rumah tua itu menekan kekuatan mereka hingga sebagian kecil yang dapat kau rasakan,'' Naruto mengalihkan kembali pandangannya kearah rumah tua. '' Aku tidak meremehkanmu, aku hanya tidak ingin kamu kehilangan anggotamu seperti aku,'' tambahnya, kian memudar biru samudranya yang memang telah memudar.

Sona memandang Naruto dengan mata membulat, terkejut juga dengan ucapan pemuda itu.

'' Khukhukhu,,,, Iblis kecil, dengarkanlah ucapan manusia rendahan itu karena apa yang di ucapkan benar semua. Hahahaha,'' terdengar suara berat dari dalam rumah tua, terlihat di gelapnya bagian dalam rumah itu sepasang mata merah memancar terang.

' Tap tap tap '

Suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah tua, tidak lama kemudian terlihatlah lima makhluk yang bersembunyi di dalam rumah tua itu.

Lima makhluk yang masih berwujud manusia itu berjejer memandang remeh kearah Naruto dan kelompok Sona, yang paling besar yang berdiri di tengah nampak tersenyum meremehkan pada seluruh mangsa mereka.

' Deg '

Sona merasakan tekanan Kekuatan yang meningkat dari iblis liar lawan mereka, tekanan kekuatan yang lama-kelamaan membuatnya merinding. Dia melihat kearah bidaknya yang nampak mulai berkeringat merasakan kekuatan itu, yang kini telah sampai titik dimana dia merasa ragu dapat mengalahkannya sendirian.

'' Khukhukhu, mengejutkan, kau tak terpengaruh dengan tekanan kekuatanku, manusia rendahan,? Hahaha, hebat,!'' sosok pria yang badannya paling besar nampak tertawa pongah melihat lawannya nampak tenang.

Mendengar ucapan lawanya, Sona menoleh pada pemuda yang masih berdiri dengan tenang, sangat tenang. Dengan ekspresi datarnya yang tak lepas dari wajahnya.

Perlahan pemuda itu melangkahkan kakinya kedepan, busur panahnya dia jatuhkan di tempat sebelumnya dia berdiri.

'' Tu-tunggu, Naruto tunggu,!'' cegah Sona namun hanya di anggap angin lalu oleh pemuda itu.

'' Boss, aku yang maju menghadapi manusia rendahan itu ya,? Tanganku sudah gatal ingin meremukan tubuhnya,'' sesosok pria yang tubuhnya hampir sebesar pemimpin mereka bersuara, menawarkan diri untuk menjadi lawan pertama untuk melawan seorang Pemuda manusia yang kini menjadi lawan mereka. Senyum meremehkan terukir di bibir hitam tebalnya.

'' Silahkan kalau kau mampu, jangan membuatku kecewa,khukhukhu,'' balas ketua Iblis liar itu.

'' Khukhukhu, tidak akan.'' dia yang menawarkan diri melawan Naruto mulai berjalan kedepan, perlahan tubuhnya mulai berubah menjadi seperti Gorila yang sangat besar. Lingkaran sihir tercipta di depannya dan dari lingkaran sihir itu mencuat sebilah gagang yang langsung di tariknya, setelah di tarik terlihatlah wujud yang sebenarnya yaitu sebuah kapak besar dengan dua sisi tajam yang mengkilap lebar. '' Bersiaplah pergi keneraka, Ningen,!'' serunya sambil berlari kearah Naruto.

Sementara Naruto masih berjalan santai, menghiraukan teriakan khawatir di belakangnya. Dia menepuk lengan kiri bagian dalamnya, terjadi ledakan asap kecil saat dia melakukan itu.

Tak menunggu sapa menghilang, dia tebaskan tangan kanannya kebawah menyilang. Kini di genggaman tangannya tergenggam sebilah kunai cabang tiga, mengalirkan sejumlah chakra ke kunai itu hingga kini terselimuti aura biru tipis memanjang membuat kunai itu selayaknya sebilah pedang.

'' Mau melawanku dengan pisau dapur itu hah,?! Hahaha, menggelikan,,,, terimalah tebasan kapaku ini,!'' Gorila jadi-jadian itu melompat sambil mengayunkan kapak besarnya kearah Naruto.

'' Bodoh, membuka pertahanan di depanku berarti,,,'' gumam Naruto menyeringai sambil membuat posisi untuk melesat kearah iblis liar itu yang tengah melayang di udara.

'' Naruto,! Menghindar,!'' triak Sona di kejauhan, dia tau kalau pemuda itu hebat tapi menerima serangan langsung seperti itu dengan sebilah 'pisou' hanyallah sebuah kebodohan menurutnya. Bahkan dia berpikir kalau menahan dengan sihir pertahannya pun mustahil dapat di tahan, karena terlihat ayunan kapak itu penuh tenaga dan bercampur demonic power.

'' Mati,,,'' Naruto menghiraukan triakan Sona, dia melompat menerjang kearah iblis liar itu tanpa takut sedikitpun.

'' Hyaaaahhhhh '' raung iblis liar itu untuk menambah semangat dan power serangannya.

' Trang '

Kedua benda tajam itu beradu, menimbulkan percikan api yang cukup banyak. Namun nampaknya gaya dorong kekuatan serangan makhluk Gorila itu tak mempengaruhi laju Naruto, karena pemuda itu tetap terlihat melaju keatas.

' Srriiinng '

' Crash '

Entah karena terlalu percaya diri atau terlalu meremehkan lawannya hingga kewaspadaanya menurun jauh, kapak makhluk gorila itu terbelah dengan sangat rapi dan tebasan kunai Naruto berlanjut memotong lehernya.

' Tap '

' Tap '

Mereka mendarat di tanah dengan mulus, namun makhluk Gorila jadi-jadian itu berdiri tanpa bergerak sedikitpun.

' Zzrrroooot '

Tiba-tiba dari leher iblis liar itu memuncratkan darah yang sangat banyak, dan kepala makhluk itu terjatuh dari lehernya. Tanpa teriakan makhluk itu melebur menjadi abu.

Naruto memandang tajam pada sisa musuhnya, dia tau kalau sedang di obserfasi dan di amati semua kemampuannya. Untungnya dia tidak benar-benar menunjukan kemampuannya hingga itu akan menjadi keuntungannya.

'' Mengesankan, mengalahkan bidak Rock tanpa susah payah huh,?'' puji ketua Iblis liar yang memandang kearah Naruto tertarik, namun penuh kewaspadaan. '' Kalian, majulah hadapi manusia itu. Tapi jangan ceroboh dan waspadalah,''

'' Baiklah,''

'' Heh,? Dengan senang hati,''

'' Aahh,, akhirnya aku bisa mencincang daging manusia lagi,''

Tiga orang di kanan kiri sang pemimpin menyeringai, tubuh mereka masing-masing mulai berubah. Dua pria yang memiliki wajah identik, berubah menjadi siluman anjing hitam dan putih, sementara yang satunya lagi menjadi ceetah atau siluman ceetah.

Mereka melesat cepat kearah Naruto dengan senjata masing-masing siap hunus, sementara pemuda yang menjadi target mereka masih berdiam diri dengan raut datarnya. Kunai di tangan kanannya masih terselimuti pendar biru tipis memanjang, menyerupai sebuah pedang.

'Sring'

si manusia ceetah menghilang saat tengah melesat menyerang, meninggalkan dua rekannya yang masih berlari. Gerakannya bahkan tak terlihat mata, mungkin hanya sedikit blur hitam yang terlihat.

Naruto menyeringai tipis, ' Bermain kecepatan huh,?'. Soal kecepatan mungkin dia akan berbangga diri dan merasa unggul karena di tempatnya dulu dia adalah manusia tercepat yang selalu dapat membuat musuhnya meningkatkan kewaspadaannya, tapi bagaimana sekarang,?

' Trank '

Naruto memutar tubuhnya kebelakang dan menangkis sebilah pedang panjang yang akan memenggalnya dari belakang, mengambil kesempatan saat lawannya terkejut, dia melayangkan tendangan kanannya kearah iblis liar itu.

' Buagh '

Manusia ceetah itu terlempat kesamping, melesat cepat hingga menabrak pohon di tepi halaman.

' Trank, trank '

Tanpa menurunkan kewaspadaan, pemuda pirang itu menangkis serangan si anjing kembar yang masing-masing membawa dual dager dan dual sword.

Tangan kanannya menahan sabetan pedang dan tangan kirinya yang entah sejak kapan memegang sebilah kunai menahan dager yang akan menusuknya, percikan api tercipta saat dua logam itu beradu ketajaman.

'' Impresif, dapat menahan serangan kami huh,?'' ucap Shiro, manusia anjing berwarna putih yang memegang dual pedang.

'' Selanjutnya, kau takan bisa menahan serangan kami,!'' Kuro, yang memegang dual dager mengarahkan dager di tangan kirinya kearah perut Naruto.

Tak ingin mati konyol, Naruto menendang perut Shiro hingga dia terlempat kebelakang dan kemudian menangkis dager itu dengan kunai di tangan kanannya.

' Trang '

'' Sayangnya aku dapat menangkisnya loh,'' balas Naruto dengan seringaian meremehkan.

'' Benarkah,?'' Kuro memperlebar seringaiannya.

Instring yang telah tertempa bertahun-tahun menjeritkan tanda bahaya, dari sudut matanya pedang panjang tengah tertebas kelehernya.

Dengan cepat, Naruto menyapukan kaki kirinya kearah pinggang Kuro yang terbuka pertahanannya.

' Duagh '

' Trank '

Kuro terlempar ke samping, Naruto lalu menahan pedang panjang itu dengan Kunai di tangan kirinya sembari mendorong dan menyerang dengan kunai di tangan kanannya.

' Slash '

Si Ceetah berhasil menghindari sabetan itu dengan kecepatannya, setelah dia menghindar, dari arah belakang Shiro menyerang dengan kedua pedangnya.

' Trank, trank, trank,'

Adu sekil berpedang pun terjadi, walau nampak Naruto hanya menahannya tanpa membalas serangan itu.

' Trank '

Satu tebasan penuh tenaga di tahan oleh Naruto, nampak percikan bunga api tercipa cukup banyak.

'' Khe, rupanya dari tadi kau belum serius huh,? Tapi tenang saja karena boss dapat membuatmu jadi serius,'' Shiro menyeringai meremehkan, matanya menyalak penuh kebanggaan.

Naruto masih menunjukan raut datarnya, menghiraukan ucapan lawan di depannya. Namun firasat buruk tiba-tiba menyeruak di hatinya, sebuah firasat yang mengusik ketenangannya.

'' Mati ''

Mata Naruto melebar mendengar suara itu, dia menoleh keasal suara. Terlihat seekor Minotor besar tengah menghunuskan pedang kerisnya kearah Sona yang hanya bisa mematung di tempatnya, begitu pula dengan seluruh anggotanya yang hanya dapat menunjukan raut terkejut.

Naruto mendorong keras kunai yang menahan Shiro, namun nampaknya manusia Anjing itu bisa menahannya dan memang itulah rencana awalnya, dia beserta dua rekannya menahan si manusia sementara sang boss menghabisi iblis muda yang belum mengerti pahitnya sebuah pertempuran.

Di kanan-kiri Naruto, Kuro dan si Ceetah bersiap menebaskan senjatanya kearah Naruto yang nampak tengah berusaha melepaskan diri dari siruasi yang berbahaya itu.

' Sling '

' Crash '

Seluruh mata melebar terkejut begitu suara benda tajam menusuk sesuatu, tak ada yang bergerak karena masih terlalu syok untuk mengekspresikan yang mereka lihat.

' Tes,tes,tes,'

Darah menetes deras ketanah dari ujung senjata tajam yang telah menembus perut targetnya itu, bak bendungan di jebol paksa darah itu tak berhenti mengalir.

' Sret '

' Chough '

Senjata berbentuk keris itu di cabut paksa oleh si empunya sebelum dirinya melompat jauh kebelakang.

' Tes,tes,tes,'

Airmata mulai mengalir dari Violet yang masih melebar syok, tubuhnya seperti mati tak dapat dia gerakan.

'' Syu-syuk-ur lah, k-au ba-baik-ba-ik saja,''

' Brugh '

' Chough '

Selepas mengucapkan itu, dia terjatuh tertunduk dengan dengkulnya yang menjadi penyangga tubuhnya, tangan kirinya dia sanggakan ke tanah untuk menjaganya tetap tegak sementara tangan kanannya memegang luka menganga di perutnya yang mesih terus mengalirkan darah.

'' Na-Naruto,,,,,, Naruto,,,,!'' semula nadanya lirih, namun di kata keduanya meninggi khawatir. Gadis bob itu lalu jongkok dan memegang kedua pipi pemuda yang telah berkorban untuknya itu, menatap mata biru pudarnya yang nampak mulai berubah menjadi biru cerah seperti lautan lepas, sementara bibirnya yang belepotan darah nampak menunjukan sebuah senyuman meski terlihat menakutkan.

'' Ba-baka, apa yang kau lakukan,!'' Sona hanya bisa menunjukan raut marahnya, namun juga khawatir dengan airmata terus mengalir dengan deras.

'' A-aku bai-k-ba-ik sa-ja,'' Naruto berusaha menenangkan gadis di depannya meski ragu kalau gadis itu akan tenang dengan ucapannya itu.

'' Baka,! Apa kau kira aku akan percaya hah,! Hiks,,, ka-kau tidak harus mempertaruhkan nyawamu untuk melindungiku,'' Sona terisak, melemah di setiap katanya karena tidak mampu menerima keadaan Naruto yang begitu buruk.

'' Jangan menangis, kamu jadi terlihat jelek,'' tangan kiri Naruto terangkat, menghapus lelehan airmata di pipi putih Sona. Walau terlihat percuma karena air mata itu mengalir dengan deras.

'' Baka,! Buat apa kau mengucapkan sesuatu yang tidak penting seperti itu,!'' walau dengan nada keras, namun Sona nampaknya senang denga perhatian dari pemuda di depannya, namun perasaan khawatir lebih mendominasi dirinya sekarang.

'' Tapi bagiku itu penting, karena sekarang kamu bagian dari diriku jadi aku harus menjagamu tetap tersenyum,'' ucap Naruto dengan pandangan serius. '' Kurama, cegah pendarahanku, chakraku tak mampu menyembuhkan luka ini,''

'' Sedang aku lakukan, Bocah. Jangan terlalu memaksakan diri,'' balas Kurama melalui telepati.

Sona sebenarnya bingung, pemuda di depannya berbicara dengan siapa tapi dia tak menanyakan itu karena hatinya tengah kacau.

' Terimakasih,' batin Naruto. '' Akan aku binasakan orang yang akan melukaimu, takan aku biarkan dia bisa menghirup udara lagi,'' pandangan Naruto mendingin, biru cerahnya kembali memudar. Tatapan yang dulu pernah terlihat oleh musuhnya di medan perang kembali terlihat, tatapan yang menjanjikan rasa sakit tak berujung.

Sona kontan tersentak melihat tatapan Naruto itu, dia tidak pernah melihat tatapan semenakutkan itu. Violetnya terkunci pada biru pudar yang membuat tubuhnya bergetar walau hanya dengan tatapannya saja.

'' Jangan kemana-mana,'' ucap dingin pemuda pirang itu sebelum menghilang dari tatapan violet gadis Shitri itu.

T.B.C

Note,

Terimakasih buat semuanya aja, tak banyak kata. Jarang up karena hp yang buat ngetik kebakar dan kalau buat nulis dari awal lagi itu rasanya butuh banyak mood yang kadang tak pernah mau datang, jadi meski sudah di pikirkan jalan ceritanya sering tak tercurahkan alias mubajir dalam pikiran saja.

Aku ucapkan terimakasih pada yang sudah memberi saran dan juga mengkritik seperti para flamer's...

Ngomong-ngomong soal flamer, ada satu flamer pengecut bin pecundang yang tidak login dan tidak berani memakai nama sendiri karena mungkin malu dengan namanya sendiri.

Agak geli membaca tulisannya, hell apa segitu bodohnya tidak ngerti maksud ceritaku,? Ayolah aku cuman pakai makna ambigu, kalau sampai tidak tau ya bikin nyingnyir. Di sekolahan juga udah di ajarin kata bermakna ambigu kan,? Ck, mau marah dia orang tolol, jadinya malah lucu, pikiranya ituloh, kayak ndak di pakai. Yah buat yang merasa aja, ngeflame paling panjang dan dengan pecundangnya tidak login...

Ths sama yang sudah ngereview dan kasih motifasi dorongan buat menulis lagi, saran dan masukan juga aku tampung. Maaf soal pair, ini juga tak terduga sih sebenere. Tapi kalau masih di beri kesempatan buat nulis tetep akan aku kasih cerita yang menarik meski tak sebagus para master ff.

Mungkin cukup sekian, sebelumnya saya mohon maaf bila tidak berkenan dengan kata-kata saya dan saya ucapkan terimakasih atas apresiasinya,,,

nuhun, mohon undur diri...