Part 1 : Gengster Gadungan dan Satpam Tanpa Bayaran
—
[ Chanyeol x Baekhyun x School-life x Romance-Comedy x SMA feels ]
—
.
"Namanya juga bukan jodoh, ya mau bagaimana lagi?"
—
Senin. Sekolah. Upacara.
Sebelas duabelas dengan anjing herder, pagi-pagi sekali Baekhyun sudah standby di depan gerbang sekolah dengan lencana biru terbordir huruf kapital berbunyi DK alias Dewan Kedisiplinan yang diikatkan di lengan kirinya. Lengkap dengan penggaris kayu panjang hasil meminjam dari Guru Jo, si pendek itu dengan tajam memandangi —memelototi— setiap langkah siswa yang baru saja memasuki arena sekolah. Jangan lupakan pula pena dan notebook kecil terselip di saku seragam yang fungsinya tidak jauh beda dengan Death Note bagi para pelanggar peraturan. Baekhyun berdiri sambil menelisik setiap detil atribut yang wajib terpasang di seragam sekolah. Mulai dari dasi, ikat pinggang, badge, sampai sepatu, semua harus checklist. Dan si imut itu tidak akan segan-segan untuk menggonggong acapkali ada sesuatu yang kurang.
Jika ada yang cocok untuk menggambarkan, maka kata yang pas untuk Baekhyun adalah; galak, pendek, sangat galak, dan sangat pendek. Sebelas duabelas lah dengan ibu kost.
Dan sepertinya, ada satu anak kost yang telat membayar uang bulanan.
"HEH KAU YANG DI SANA!"
Itu suara Baekhyun. Dan yang ditunjuk olehnya dengan penggaris itu adalah Oh Sehun, si jangkung dari kelas 1-3 dengan kulit seputih beras sintetis yang sekarang berekspresi seperti tikus terjepit. Sehun mendadak mengeluh mual-mual serta pusing sesaat setelah mendengar suara macam kaleng biskuit yang sudah amat sangat ia hapal tersebut. Tiba-tiba saja hasrat ingin ikut lomba marathon mulai berkembang di dalam kalbunya. Sehun serasa mendapat pencerahan untuk menjadi atlet angkat besi.
Dan pencerahan itu segera mati lampu ketika ia merasakan sesuatu sudah menusuk-nusuk punggungnya dengan intens. Oh tidak, pedang goblin telah kembali.
"Kena kau, Oh Sehun!"
Si jangkung itu sesegera mungkin mengangkat tangannya ke atas, berpose seperti penjahat kelas cupang yang tertangkap basah telah melakukan kejahatan setingkat pencurian ayam —persis seperti adegan di film kartun yang masih sering ditontonnya setiap pagi. Kalau Senin sampai Jum'at jam setengah enam. Kalau Sabtu ya jam sembil—
Okay lupakan. Intinya, Sehun sedang cepirit.
"A—ampuni hamba, baginda raja."
Suara Sehun itu serak serak cempreng. Dan ketika memelas seperti ini, entah kenapa malah mengingatkan Baekhyun pada sepupunya, Kris yang mendapat peran sebagai Cinderella lengkap dengan gaun dan sayap buatan berwarna merah muda di proyek teatrikal sekolah tahun lalu. Terutama pada saat si jongos itu mengucapkan dialog 'I do' sambil tersenyum malu-malu ketika ia dilamar oleh Kyungsoo yang mendapat peran sebagai pangeran.
Intinya adalah, mereka sama-sama menggumohkan.
Tidak ada yang bisa Baekhyun lakukan selain memasang ekspresi sedatar jalan tol. Sedatar papan tripleks, sedatar perasaan doi ke kamu. Cie. Setelah memastikan presentase kemungkinan Sehun untuk kabur adalah nol persen (dengan cara menginjak sol sepatunya), si pendek itu segera mengeluarkan notebook serta pena dari balik saku seragam. Matanya yang kecil bergerak menelisik dari atas hingga bawah postur tubuh tinggi adik kelasnya tersebut.
Rambut warna-warni model mohawk, kemeja dikeluarkan, tidak memakai dasi, celana dibuat ketat, sepatu warna merah hati, serta tindik di kuping kiri. Bocah ini mau sekolah atau melamar jadi preman helokiti?
Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala sambil ia mulai menuliskan segala peraturan yang sudah dilanggar oleh Sehun. Diam-diam si pendek itu menggumam heran, bisa-bisanya ada murid senekat anak ayam tersebut. Sudah tahu selalu ada pengecekan rutin atribut sekolah di hari senin, dan ia berdandan seperti ini? Kalau bukan bego, ya, goblok. Baekhyun yakin itu.
Sementara di lain sisi, Sehun sendiri masih berusaha keras; bertingkah se-good-boy mungkin agar namanya tidak jadi dicatat. Karena demi Tuhan, tertulis di notebook sialan itu sama dengan mendapat hukuman selama seminggu! Dan Sehun merasa terlalu ganteng untuk itu.
Iya-in biar ppalli.
"Senior Byun~"
Dengan nada mendayu-dayu dan tingkah unyu-unyu, Sehun mulai membujuk. Dan itu berbanding terbalik dengan—
"Apa?!"
—gertakan Baekhyun yang bertalu-talu.
Sehun langsung diam setelahnya. Seolah bertransformasi seperti patung es, mulutnya ia kunci rapat-rapat ketika mata kecil imut milik Baekhyun sempat bersibobrok dengannya. Dan si jangkung itu baru bisa bernapas dengan benar ketika seniornya tersebut kembali sibuk menuliskan beberapa coretan di kertasnya.
Sehun mendesah, diam-diam bertanya kenapa bisa seseorang seperti Baekhyun galaknya melebihi babi yang sedang menstruasi? Karena jujur, jika menilai dari fisik, Baekhyun itu sebenarnya hawt dan seksi dan imut secara bersamaan. Daripada galak, Sehun rasa tubuh seperti ini lebih cocok memiliki kepribadian submissive unyu-unyu yang akan tunduk patuh terhadap dominant-nya. Lihat saja wajahnya yang cantik, postur yang ramping, serta tubuh petit yang sepertinya pas sekali untuk dipeluk. Jika saja si Byun itu sedikit lebih kalem, maka Sehun mungkin tidak memiliki waktu berpikir dua kali untuk mendekati dan memacari seniornya tersebut.
Bohong deng, Sehun masih doyan Luhan.
Yasudahlah, lagipula Baekhyun itu mantannya Chanyeol. Si kingkong yang nyatanya merupakan sahabat sehidup semati sekaligus leader dari trio bangsat. Kan tidak lucu jika Sehun yang merasa dirinya sangat ganteng diberi cap sebagai perebut bekas teman.
Yasudahlah. (2)
Menyadari bahwa proses pembuatan surat tilang yang sampai sekarang belum selesai, si jangkung itu hanya bisa pasrah menghadapi masa depannya yang mulai gelap gulita seperti kulit Jongin. Katakan halo pada sikat WC.
Dan ketika Baekhyun sudah selesai serta mulai angkat berbicara, sebuah suara menggagalkan semuanya.
"BYUN BAEKHYUN!"
Si pendek lain terlihat di seberang gedung —si liliput yang sekarang berlari ke arah mereka. Lengkap dengan buku seukuran buku arisan serta dompet tebal berwarna pink di tangan kirinya.
Fak, umpat Sehun dan Baekhyun bebarengan.
Kedua insan itu gemetaran di tempat menyadari bahwa seseorang yang beberapa detik lagi akan menghampiri mereka adalah Do Kyungsoo, bendahara Dewan Kedisiplinan yang sama kerdil dan galaknya seperti Baekhyun. Bulu kuduk mereka tiba-tiba meremang, terutama bagi Baekhyun yang sadar ia sudah nunggak membayar uang kas selama sebulan. Oh ayolah, jangan rasis! Baekhyun 'kan hanya ingin menabung untuk masa depan daripada menggunakan uangnya untuk kas tidak berfaedah seperti itu!
Baekhyun baru sadar jika karma itu memang ada. Ia sudah sering membuat beberapa siswa bengal ketakutan, sekarang ia sendiri yang merasakan akibatnya. Hati nuraninya terketuk. Aduh, kenapa ia merasa harus minta maaf pada Sehun?
"Sehu…n?"
Dan saat itulah ia sadar bahwa Sehun sudah tidak ada di sampingnya. Hati nuraninya tiba-tiba saja terkunci lagi. Kali ini memakai gembok kombinasi angka biner dan sandi pramuka.
"Anj—"
Baekhyun memejamkan mata, meresapi bagaimana rasanya mendapati tawanannya kabur. Seakan sudah lupa dengan kehadiran monster berinisial D.O, si pendek itu refleks menggulung lengan baju, dan tanpa babibu segera berlari keluar sekolah.
"KEMBALI KESINI KAU SIALAN!"
Sehun yang sempat menoleh ke belakang dari misinya menjadi buronan membelalak takut. Dengan kekuatan penuh, ia segera melebarkan kakinya ketika menyadari bahwa Baekhyun semakin dekat. Aduh, kenapa hari ini dia sial sekali sih?
Hm, ngomong-ngomong, bukan hanya Sehun yang sial di sini.
"OY BANTET, BAYAR KAS DULU!"
Jadi kawan-kawan, katakan padaku siapa yang jadi polisi, siapa yang jadi buronan, dan siapa yang jadi polisi sekaligus buronan di situasi semacam ini.
—
—
Sekilas tentang Dewan Kedisiplinan, organisasi yang dibawahi langsung oleh Wakasek Kesiswaan tersebut sebenarnya memilik tugas mulia sebagai penertib siswa. Mereka punya tanggung jawab yang keren yaitu menjaga kedisiplinan dalam sekolah. Seperti menjadi badan intelijen, bawahan FBI, atau apa lah yang kedengarannya bagus. Walaupun dalam perkembangannya, tugas mereka entah kenapa bisa berbelok menjadi penjaga gerbang sekolah, kadang juga mengatur tata letak tempat parkir yang amat sangat berantakan. Daripada anggota elit, mereka malah lebih mirip satpam tanpa gaji yang dipekerjakan sekolah.
Dan Byun Baekhyun, anak kelas 2-1 yang terkenal pendek dan galak minta ampun. Menjabat sebagai sekretaris Dewan Kedisiplinan yang harusnya diduduki oleh seseorang yang pendiam dan lemah lembut —yang nyatanya berbanding terbalik dengan Baekhyun yang petakilan dan lebih suka melibatkan diri dalam aksi menegangkan seperti menangkap maling atau menjadi maling itu sendiri.
Bercanda.
Dan mengetahui fakta bahwa bocah ingusan bernama Sehun berhasil lolos dari genggamannya tentu membuat si pendek itu sakit hati. Sudah beberapa kali ia melongok ke dalam beberapa warnet, tetap saja ia tidak menemukan postur tinggi adik kelasnya tersebut. Ditambah ini sudah jam tujuh kurang lima, mau tidak mau ia harus kembali ke sekolah. Si pendek itu mendengus, melongok sekali lagi sebelum akhirnya berbalik pulang.
"Tunggu pembalasanku, buntalan kentut!"
Sehun yang sedaritadi bersembunyi di balik tiang listrik akhirnya bisa bernapas lega ketika melihat bahu sang senior perlahan mulai mengecil ditelan jalan. Napasnya tidak beraturan, tapi hatinya bahagia tidak karuan.
I feel free, batinnya dalam hati.
Sehun tidak pernah tahu jika ia bisa sebahagia ini. Si jangkung itu mengira hidupnya hanya akan terus dirundung pilu karena cinta sebelah kaki yang dialaminya pada Luhan. Ia juga tidak pernah tahu bahagia itu bisa sehebat ini sehingga ia bisa merasakan sebuah tepukan di bahu kanannya.
Angan-angan Sehun sudah terlanjur tinggi. Jadi dengan menggigit lidah, ia berbalik. Tingkat kepercayaan dirinya melambung di atas rerata, dan si jangkung itu amat sangat yakin yang menepuk pundaknya kalau bukan bidadari, ya malaikat.
.
Iya.
Malaikat…maut.
.
Sehun berkedip. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Otaknya masih memroses. Dan selesai begitu saja ketika ia melihat sebuah seringaian berbahaya dari wajah yang sekarang menatap tajam kearahnya.
.
Itu. Kyungsoo. Seonbaenim.
"Selamat pagi, Sehun-ssi?"
.
"AAAAA!"
.
You feel free ya, mas?
Freehatin, maksudnya?
—
—
07.45 AM
Upacara telah selesai. Dan Baekhyun baru saja akan memasuki ruang rapat ketika ia melihat segerombolan murid laki-laki sudah mengerubung di dalam, lengkap dengan anak Dewan Kedisiplinan lain yang tampak terpojok di tengah ruangan. Baekhyun mengerut, menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam dan lebih memilih mengobservasi terlebih dahulu.
Apa yang terjadi?
Bak seorang detektif, Baekhyun dengan lihai memicing, mengawasi setiap spot berpotensi mencurigakan yang dapat tertangkap oleh matanya.
Hm, mari kita lihat.
Ada Jongin yang hitam, ada Kris yang jongos, ada Tao yang menangis, juga ada Chanyeol yang tampan.
.
Tunggu, apa?
.
Chan—yeol?
Chanyeo…l?
.
Park Chanyeol?
.
SI KINGKONG?!
.
Mata Baekhyun membulat lucu. Ia menajamkan mata setelah menguceknya, memastikan bahwa sosok raksasa di dalam sana adalah benar seorang Park Chanyeol. Kebingungan jelas menghantam telak kepala Baekhyun. Si kingkong itu mau apa sih? Curiousity on the top of the hills. Tapi walaupun begitu, Baekhyun tetap diam di tempat.
"Tidak akan ada asap jika kalian tidak bermain api."
Suara bass serta berat Chanyeol memecah atmosfer, membuat suasana tiba-tiba terasa amat sangat mencekam. Baekhyun diam, masih tetap merasa tidak mengerti tentang apa yang tengah mereka bicarakan.
"Kalian pikir hanya karena kalian anggota DK, jadi kalian mulai berani pada kakak kelas? HA?!"
Keadaan benar-benar menjadi horor ketika Chanyeol membentak. Semuanya merinding takut, terkecuali Baekhyun yang sibuk meggaruk pipi dan masih berusaha mencerna keadaan. Aduh, ini ada apa sih? Baekhyun semakin mengerutkan kening.
"Cepat kembalikan sepatu kami!"
"…"
Hah?
Baekhyun melirik ke pojok ruang, saat itulah ia menemukan berbagai sepatu berwarna-warni telah tertumpuk disana. Dan saat itu pula lah ia menyadari bahwa gerombolan anak lelaki ini hanya memakai kaos kaki butut mereka. Si pendek itu memandang datar, hasrat dan rasa penasarannya mendadak menguap entah kemana. Ia menyenderkan tubuh kecilnya pada kusen pintu, tangan terlipat di depan dada.
Tolong seseorang bawakan popcorn, drama murahan berjudul Gengster versus Polisi Season 999+ sudah dimulai.
"C—Chanyeol seonbaenim…i—ini…kita bisa menyelesaikan perma…—permasalahan ini dengan damai," Baekhyun menguap bosan melihat Joonmyeon yang terbata sambil mencoba menenangkan situasi. Matanya ia bawa berputar malas, bisa-bisanya si curut itu terpilih jadi ketua, huh?
Baekhyun menegakkan badan. Sedikit menghempaskan napas, si pendek itu kemudian memulai aksinya menyelipkan diri di antara tubuh para siswa. Sampai akhirnya, ia berhasil berada di tengah Jooonmyeon dan Chanyeol yang sama-sama berada di posisi terdepan dari dua kubu. Mengabaikan tatapan terima kasih dari anggota lain, Baekhyun berbalik. Matanya yang berhiaskan black shadow menatap tajam pada sosok tinggi yang sekarang juga tengah menatapnya tanpa ekspresi.
"Ada apa ini?" Tanyanya.
Chanyeol berkedip. Tangan si jangkung yang semula memegang sebuah tongkat bisbol akhirnya ia simpan ke dalam saku celana.
"Berhenti mencampuri urusan kami, anak kecil. Kau tidak tahu apa-apa."
Yang lebih pendek mendelik tajam. Dengan angkuh, ia mendongak —memasang ekspresi menantang sambil tangannyaa mengepal di kedua sisi badan.
"Aku itu juga anak DK, jadi tentu saja ini urusanku!"
Nadanya terdengar berbahaya, dan Chanyeol menghela napas karenanya.
"Ini…hanya salah paham,"
"Makanya beritahu aku supaya tidak ada kesalahpahaman."
.
"Kau tidak mengerti, Baek."
"Makanya buat aku mengerti, Chan!"
Selain dua tokoh utama, yang lain hanya bisa memandang bergantian. Dari Chanyeol, ke Baekhyun, lalu Chanyeol lagi, begitu seterusnya. Mereka dapat menangkap dengan pasti dua aura berbeda yang menguar dari kedua insan tersebut. Baekhyun semakin panas, Chanyeol semakin dingin. Baekhyun makin benci, Chanyeol makin cinta.
"Kau tidak mengerti, percaya padaku."
Chanyeol selalu memulai, dan Baekhyun selalu menyahut.
"Jelaskan saja biar aku mengerti, duh!"
"Ini hanya salah paham, aku bersumpah!"
"Makanya lurusk—"
"Cuma salah paham, Baek."
"Kan aku sudah bi—"
"Serius! Cuma salah paha—"
"MAKANYA JELASKAN SAJA APA YANG TERJADI, YA GUSTI!"
Keadaan menjadi hening. Hanya terisi suara desau napas Baekhyun yang terengah-engah sehabis berteriak. Melihat hal itu, Chanyeol menyeringai tipis. Mengerjai si pendek ini selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan, iya 'kan?
Si jangkung itu berpura-pura menghela napas putus asa. Ia membuka mulut hanya untuk berkata; "Kau…tidak mengerti. Ini cuma salah paham."
Dan sebelum Baekhyun mencak-mencak lagi, Joonmyeon sudah satu langkah lebih maju. Sang Ketua tersebut merangsek, menyumpal mulut si pendek yang hampir berteriak. Dengan datar, Joonmyeon menatap mata sang partner yang kini mendelik kesal sambil berusaha melepaskan tangan besar milik sang Ketua.
"Ada kantor KUA dekat sini, kalau masih ingin bertengkar di sana saja. Mereka punya penasehat rumah tangga."
.
Satu, dua, tig—
"KAMI BUKAN SUAMI ISTRI!"
—
—
"Sekarang kau mengerti 'kan kenapa aku membenci si kingkong itu?!"
Kyungsoo menatap tanpa minat tubuh kritinisme Baekhyun yang sedaritadi berjalan bolak-balik layaknya setrika. Di sampingnya, ada Jongdae yang sedang duduk dan memotong kuku menggunakan silet hasil penyelundupan dari kotak pensil Luhan.
"Kau lihat 'kan tadi, Kyung? Apa-apaan dia itu? Sok jagoan sekali! Mentang-mentang sudah kakak kelas, jadi begitu? Mau jadi gengster? HAH YANG BENAR SAJA!"
Baekhyun berteriak frustasi, Jongdae serius sekali, dan Kyungsoo mengantuk setengah mati. Baekhyun menyadari bahwa tidak ada yang memerhatikan, tapi ia tidak terlalu peduli. Goal-nya hanyalah meluapkan kekesalan yang daritadi ia pendam seorang diri. Setelah menghela napas dalam, si pendek itu mulai melanjutkan.
"Dan kau tahu, Kyung? Ketika aku berdiri di sampingnya tadi, baunya seperti om-om! Menyengat sekali —umfh! Hidungnya besar dan bulu hidungnya terlihat banyak sekali dari bawah. Dia itu jelek! Jelek sekalii sampai ak—"
Sebelum dapat mengoceh lebih banyak, Kyungsoo dengan cepat menyela.
"—mantan."
Baekhyun terdiam. Ia berkedip memandangi Kyungsoo yang sekarang tengah menatapnya dengan malas. "A—apa?"
Yang matanya lebih lebar terpejam. Sekali lagi mengulang perkataannya. "Mau bagaimanapun dia tetap mantanmu, Baek."
Baekhyun merona. Entah karena malu atau apa, yang penting pipinya terasa terbakar. Dan karena hal tersebut, ia mengangkat wajah, memasang ekspresi angkuh andalannya.
"L—lalu kenapa kalau dia…—uhm, mantanku?"
Oh tidak, seharusnya kau tidak terbata begitu. Baekhyun merutuk.
Kyungsoo yang awalnya menyandar pada kursi kini beralih posisi menjadi tegak. Rasa tertarik yang sepertinya hanya muncul lima puluh tahun sekali itu mulai muncul dalam hatinya. Ia menatap wajah sang kawan yang sekarang tengah memerah menggelikan.
"Serius, Baek. Kenapa dulu kalian bisa berpacaran?"
Rona merah pada pipi berisi tersebut semakin tebal. Baekhyun berdehem, mengalihkan pandang ke arah lapangan bola di bawah sana demi menghindari tatapan Kyungsoo. "B—bukan urusanmu!" Baekhyun berteriak. Niatnya sih, memekik acuh, tapi malah terdengar seperti perempuan merajuk.
Kyungsoo menghela napas. Ia memandang dengan serius tubuh petit Baekhyun yang tampak seperti terjebak dalam seragam kebesaran.
"Lalu kenapa kalian putus?"
Baekhyun berbalik, mendelik tajam pada Kyungsoo yang masih tanpa ekspresi.
"Aku tidak tahu! S—sudah, aku mau membantu pakbon saja!"
Setelah itu, si pendek bermarga Byun tersebut melangkah keluar. Kyungsoo hanya mengekor dengan matanya, lalu kembali menatap Jongdae yang masih sibuk dengan kukunya ketika Baekhyun hilang di persimpangan koridor. Merasa diperhatikan, si bebek tersebut akhirnya mendongak. Ia menggaruk pipi sambil balik menatap Kyungsoo dengan bingung. "Kenapa, sih?"
Kyungsoo mengeluarkan sebuah buku motif batik dari dalam tasnya.
"Bayar kas dulu, kau menunggak empat bulan."
—
—
Pertanyaan yang sama juga sebenarnya dilontarkan Sehun dan Jongin. Dua anggota dari trio bangsat itu kini tengah mengintrogerasi sang leader kesayangan yang sampai sekarang masih setia mengorek hidung.
"Namanya juga bukan jodoh, ya mau bagaimana lagi?"
Jawaban itu menutup rapat mulut-mulut jahil yang berusaha mengorek informasi tersebut. Sehun dan Jongin saling pandang dengan ekspresi sedatar papan penggilesan.
Kalo gitu sih, nenek gue juga paham! Umpat keduanya dalam hati.
Chanyeol tersenyum kecil melihat respon kedua cecunguk setianya ini. Si jangkung itu bangkit dari kursi, sedikit melakukan peregangan otot lalu menyugar jet black nya ke belakang. Ia memandang kawannya yang sampai sekarang masih belum merubah ekspresi wajah mereka. Chanyeol mendengus, mengibaskan tangannya di depan wajah lalu berlalu.
"Aku berangkat duluan. Sampai ketemu di warnet!"
—
—
Baekhyun baru saja kembali dari mencuci wajahnya yang memerah ketika ia menjumpai sosok Chanyeol yang menjulang tengah berjalan menuju parkiran sepeda motor dengan helm merah di tangannya. Baekhyun dengan waktu dekat dapat memahami bahwa si jangkung itu kemungkinan besar akan membolos. Jiwa penegak disiplinnya segera muncul. Dan sebagai tindak preventif, sekali lagi ia mulai menggonggong dengan suara keras.
"HEH KINGKONG!"
Chanyeol yang awalnya sedang berjalan santai kini menoleh. Dan mata mereka bertemu begitu saja. Chanyeol dengan mata bulat tajamnya, serta Baekhyun dengan mata sipit imutnya. Mereka terdiam.
Baekhyun sendiri merasa beku. Si pendek itu tiba-tiba saja merasakan lidahnya kelu. Ia harusnya segera merangsek mendekat, lalu menarik Chanyeol untuk kembali ke kelas. Tapi —tidak. Lihat bagaimana ia malah tercenung seperti idiot di tempat ia berdiri.
Baekhyun terbiasa menyeret siapapun yang berani mendekati lahan parkir sebelum jam pelajaran usai. Tapi tidak untuk hari ini.
Tidak untuk hari dimana pertama kalinya Chanyeol kembali menatap dan berbicara padanya setelah beberapa bulan.
Dan ketika sebuah kurva di wajah Chanyeol terbentuk, ia tidak bisa menahan gejolak euphoria yang membakar di dalam otaknya. Sebuah senyum simpul yang sudah lama tidak ia lihat, ia baru sadar betapa ia mengharapkan hal itu kembali ia dapatkan. Baekhyun sendiri bukan seseorang yang mudah menangis, tapi kali ini entah kenapa dirinya malah terisak keras.
Baekhyun merasa…—rindu setengah mati.
.
Chanyeol, kenapa hidungmu sangat besar?
.
—
End of Chapter
—
.
Behind the Bar:
Firstly, just call me Sea! Kalo kalian merasa tua ya panggil deksea, kalo merasa masih unyu panggilnya kaksea aja. Jangan 'thor' atau 'author' atuh. Formal pisan:( aing teh bukan trakthor apalagi mothor:(
Anyway, lagi banyak keperluan jadi gabisa balesin review, eheheheheheh. Yang penting saya sangat sangat sangat berterimakasih sama yang udah review, favs, foll. You made my day, beibeh!
Dan ah gitu aja, banyak ngomong ntar dikira bacot mulu heuheheu.
.
One more time, thanks a lot for your review,
Sincerely, scincea.
