Part 2 : Sakit, Tapi Nggak Berdarah

[ Chanyeol x Baekhyun x School-life x Romance-Comedy x SMA feels ]

.

"Maaf ya, istrimu ini sudah taken sama saya."

Baekhyun masih terisak tatkala Chanyeol memulai langkah pertamanya untuk berjalan mendekat. Dengan terus menyedot ingus yang berlomba-lomba keluar, si pendek Byun itu terus mengawasi gerak kaki panjang yang kian detik kian dekat. Jarak mereka hanya tersisa satu meter, dan saat itulah keduanya sama-sama merasa feromon dari masing-masing tubuh mulai menguar. Mendesak dalam paru untuk dikirim ke perut dan hati, menyebabkan sensasi menggelitik disana-sini.

Chanyeol tersenyum simpul. Dan kata-kata si jangkung itu berhasil membuat Baekhyun terbang ke langit tujuh.

"Aku gak jadi bolos, buat kamu. Jangan nangis lagi, ya?"

Pemuda dengan tinggi di atas rerata itu kemudian berlalu, berjalan balik menuju kelas. Bagaimanapun, ia tidak akan bisa ke warnet hari ini. Lagipula, hasratnya sudah menguap entah kemana. Chanyeol menyugar rambutnya acuh sambil terus melangkah, meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku di tempat.

Si pendek itu masih tercenung dengan kata-kata yang ditulis sangat besar pada dinding otaknya.

.

Mama, Baekhyun gamon.

Dua bulan bukanlah waktu yang singkat untuk ditempuh. Dari pertengahan September sampai sekarang bulan November, Baekhyun-lah yang paling uring-uringan. Apalagi alasannya kalau bukan putus? Rasanya hidupnya benar-benar kacau berantakan.

Dan ngomong-ngomong, sebenarnya, ia bukan orang yang sulit untuk melupakan masa lalu. Tapi jika mereka berpisah dengan cara tidak baik-baik, itu jelas merupakan hal yang berbeda. Semuanya berubah 180 derajat dan Baekhyun belum siap akan hal itu. Mereka berhenti berbicara satu sama lain. Mereka —lebih tepatnya Baekhyun, untuk kebaikan dirinya sendiri, selalu menghindar ketika tidak sengaja bertemu dan lebih memilih memandang dari jauh. Respon Chanyeol sendiri tidak jauh beda, tidak berusaha mendekatkan diri lagi padanya. Melengkapi keyakinan Baekhyun jika Chanyeol memang sudah tidak ada rasa lagi dengannya.

Dan dua bulan sudah Baekhyun lewati dengan usaha melupakan dan memaafkan. Dengan dasar kebaikan hatinya, si pendek itu bisa dengan cepat memaklumi perbuatan Chanyeol; memberinya maaf walaupun si jangkung itu tidak pernah sekalipun memintanya. Ia menetapkan bahwa sudah tidak ada rasa dendam maupun amarah dalam hatinya. Tapi masalah melupakan, ya begitulah. Ingatan sementaranya sudah diubah menjadi permanen, bagaimana bisa lupa?

Mengingat seluruh rentetan alur dan penyebab utama mereka berpisah, rasanya begitu tidak adil bagi Baekhyun. Itu sebabnya kenapa ia bisa menangis begitu hebat di depan Chanyeol. Masalahnya begini; saat ia sudah mulai bisa melupakan dan mengikhlaskan, dengan brengseknya si jelek itu datang kembali dalam hidupnya. Menghancurkan segala tembok yang ia bangun dengan susah payah untuk move on. Bangsat memang.

Dan siapa pula yang buang angin saat ia sedang galau begini?

"Maaf, kelepasan." Cicit Jongdae sambil menepuk pantat.

Baekhyun mengerang sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan siku. Dengan segala bau semerbak yang menghajar habis hidungnya yang mungil, Baekhyun mengelus dada. Sudah dibilang, curhat dengan Jongdae maupun Kyungsoo itu tidak berfaedah sama sekali.

Jongin menatap skeptis tubuh besar Chanyeol yang dengan santai teronggok di atas tong bekas. Merasa heran mendapati sang kawan yang sampai sekarang pantatnya masih setia lengket pada singgasana sementara beberapa jam lalu ia yakin si jangkung itu bilang ingin ke warnet. Apa warnetnya pindah kesini? Jongin segera menampik pemikiran tersebut mengingat ini hanyalah ruang kecil dekat gudang sekolah yang mereka sebut dengan basecamp.

Ngomong-ngomong, basecamp yang dimaksud adalah markas tersembunyi dari ChanKaiHun. Lokasinya cukup terpencil dan untungnya sedikit menyeramkan jadi tidak banyak yang berani lalu lalang dekat sana. Berukuran tiga kali empat meter tanpa jendela maupun lampu tidak jadi masalah, yang penting tempat ini tidak akan dijangkau guru dan sangat bagus untuk bersembunyi jika ada inspeksi.

"Hoi, hyung!" Panggil Jongin sambil mendaratkan pantatnya pada sofa lapuk.

Chanyeol menoleh, mendapati adik kelasnya tersebut sedang sibuk dengan rokok dan korek api. Bau nikotin yang khas serta asap berwarna abu-abu langsung menginvasi sesaat setelah Jongin membuang napas.

"Kukira kau sedang main game di warnet. Kenapa bisa disini?"

Chanyeol mengangkat bahu sambil tersenyum separo. "Mau bagaimana lagi, sudah ada anjing saat aku ingin keluar."

Refleks Jongin terkekeh di antara asap rokok. Wajahnya sangat santai ketika sudut bibirnya berkedut membentuk senyum geli.

"Sampai kapan kau akan memanggil mantanmu itu dengan sebutan anjing?"

Chanyeol ikut tertawa kecil. Diam-diam memerhatikan bagaimana rokok itu dihisap dengan hati yang ringan oleh sang adik kelas. Ia menghela napas berat. Bukannya Chanyeol sok suci atau tidak pernah merokok, justru ia sangat parah dulunya. Sampai pada kejadian dimana Baekhyun memergokinya dan marah selama seminggu, saat itulah Chanyeol sedikit demi sedikit menghentikan kebiasaan buruknya tersebut. Dan akibatnya, tubuhnya menjadi lebih sehat. Mungkin, suatu saat ia harus berterimakasih pada mantannya tersebut.

Duh, Baekhyun lagi.

Pada situasi seperti ini, ia menyadari ada tembok yang benar-benar tinggi terbentang di antara dirinya dengan Baekhyun. Baekhyun itu rajin, tipe-tipe anak emas, penegak peraturan. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang bengal dan tidak tahu aturan. Orang-orang suci seperti Baekhyun tidak seharusnya melakukan kontak terhadap golongan tercela seperti Chanyeol.

Kami berbeda, sangat berbeda.

Dan Chanyeol tidak pernah tahu sudah berapa puluh kata yang ia lewatkan dari bibir Jongin ketika telinganya hanya dapat mendengar beberapa sisanya.

"…kau dan dia memang seharusnya tidak pernah bersatu." Lalu disusul kekehan geli.

Untuk beberapa alasan, Chanyeol setuju akan hal itu.

Kata-kata Jongin itu memang benar. Tidak bisa ia bantah juga.

Dan itu rasanya sakit, tapi nggak berdarah.

Baekhyun sedang menenggak air mineral ketika Kris datang secara tiba-tiba. Si naga itu dengan seenak pantat duduk dihadapannya dengan wajah kelewat sumringah. Dan berkat kekagetannya yang luar biasa, Baekhyun tidak dapat mengontrol dirinya untuk—

SPRUFFFFF

perlu banget ya, dijelaskan? Gausah, ' kan kalian udah pinter.

Kris memejamkan mata, merasakan segala kesegaran yang beberapa detik lalu menyapa kulitnya yang mulus. Dengan sedikit jijik, ia mengelap wajahnya yang sungguh ganteng dengan beberapa hiasan tetesan air disana-sini.

"Dasar sialan!"

Jika terbesit pikiran bahwa yang mengumpat itu adalah Kris, maka jawabannya adalah salah besar. Karena faktanya, yang tengah berteriak dengan wajah merah tersebut adalah Byun Baekhyun. Si pendek yang sekarang masih terbatuk-batuk dengan kepalan tangan kecil yang sibuk memukul dadanya. Kris hanya tersenyum kering. Kurang sabar apa si Cina itu.

Setelah beberapa menit berlalu yang mereka gunakan untuk saling menenangkan diri dari hasrat untuk mengirim santet satu sama lain, Kris akhirnya angkat bicara.

"Hey sepupu, pinjamkan aku uang."

Baekhyun menatap datar. Sudah ia duga kedatangan si bule ini tidak jauh dengan yang namanya fulus.

"Tidak mau!" Jawabnya bengis.

Kris yang awalnya memasang wajah congkak kini memulai aksinya; tersenyum unyu-unyu sambil menangkup kedua tangan di depan dada. Baekhyun sendiri hanya berkedip menahan horor.

"Ayolah, papaku belum mengirim uang bulanan hari ini."

Kris menumpukan wajahnya pada tumpukan telapak tangannya sendiri, lalu menatap penuh harap pada sang sepupu yang tengah mengunyah boong-oh-bbang dengan ekspresi sedatar tripleks.

"Paman Wu tidak mungkin melakukan itu," tukas Baekhyun disela kunyahannya.

"Tapi dia benar melakukan itu!"

Baekhyun mengernyit, "lalu apa urusannya denganku?"

"Kau 'kan istri simpananku. Jadi ayolah, beri suamimu ini sediki—"

"ISTRI SIMPANAN GUNDULMU!"

Si pendek itu berteriak frustasi sambil memukul meja kantin dengan keras. Beruntungnya lagi, suasana sedang ramai-ramainya. Walaupun tidak sampai senyap, tapi teriakan Baekhyun cukup untuk menimbulkan kasak kusuk disana-sini. Kris mundur ketakutan seperti tikus tersiram air. Ia memandangi sekitar, masih ada beberapa pasang mata yang mengawasi mereka. Dan hebatnya, ekspresi ketakutan itu hanya bertahan selama tiga detik. Karena selanjutnya, seringai nakal mulai tercetak pada wajah Kanadanya yang kental.

Jurus satu; ambilah kesempatan selama masih kesempitan.

Dengan cepat, ia meraih tangan Baekhyun yang masih setia terkepal. Menggenggamnya mesra persis seperti bagaimana yang dilakukan sepasang kekasih. Dan dengan sengaja pula, ia mengeraskan suaranya agar dapat terdengar ke seluruh penjuru kantin.

"ISTRIKU, AYOLAH. KAU TIDAK KASIHAN DENGAN BAYI KITA DI RUMAH?"

Baekhyun membulatkan matanya lucu. Apa-apaan ini? Si pendek itu dengan segera berdiri, berusaha menutup mulut sang sepupu yang dirasa sudah lewat jauh dari ambang batas waras. Tolong, walaupun ia setuju jika wajahnya cantik, TAPI BAEKHYUN ITU LAKI-LAKI!

"Apa yang kau lakukan?" Desisnya berbahaya lalu menengok kearah para pengunjung; tersenyum kering sambil berusaha menjelaskan untuk tidak usah terlalu peduli dengan mereka.

"Anak-anak, habiskan saja makan siangmu dan berhenti melihat ke arahku dan si bodoh ini. Atau kalian yang akan ku jadikan makan siang untuk singa betinaku." Ujar Baekhyun ramah sambil tersenyum setengah hati.

Kris sama sekali tidak membantu.

"SAYANG, KENAPA MENYISIHKAN SEDIKIT UANG DEMI MEMBELI SUSU FORMULA UNTUK ANAK KITA BEGITU SUSAH BAGIMU? TIDAK INGATKAH JIKA DIA JUGA DARAH DAGINGMU?"

The fuck?!

Kasak-kusuk siswa mulai mengeras. Baekhyun sendiri masih syok, lalu timbul hasrat untuk menyepak kemaluan si Cina itu. Karena —GUAPLEK, BAEKHYUN CUMA PUNYA LUBANG DAN PISTOL, DIMANA LETAK RAHIMNYA?!

Drama macam apalagi ini?

"DIMANA OTAKMU, DASAR GOBL —umfh!"

Sepasang tangan besar sudah menutup mulutnya ketika Baekhyun bahkan belum selesai mengumpat. Bukan, bukan Kris yang melakukannya. Itu, itu…—tunggu, siapa itu?

"Maaf ya, istrimu ini sudah taken sama saya."

Suara berat yang seksi, serta feromon bau mint yang segar.

Itu Chanyeol.

Pikiran Baekhyun mendadak kosong, bahkan saat ia sadar dirinya ditarik keluar dari kantin oleh tangan hangat dan besar tersebut. Bahkan wajah jahil Kris di meja sana sudah tidak terlalu mengganggu.

Apa-apaan ini?

Chanyeol marah, entah untuk alasan apa ia juga tidak tahu. Yang penting ketika dirinya melihat Baekhyun tengah menjadi pusat perhatian bersama Kris dengan segala percakapan konyol mereka, tubuhnya serasa meledak-ledak dan memanas tanpa kompor sekalipun. Chanyeol merasa sangat tidak terima. Niat awalnya yang hanya akan membeli sebotol jus apel kini berbelok menjadi mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Seharusnya menjadi miliknya.

Baekhyun itu miliknya.

Baekhyun itu milik Park Chanyeol.

Yang pernah menjadi miliknya.

Pikirannya begitu bercabang di antara langkah penuh emosi. Tangan Baekhyun yang mungil, entah kapan terakhir kali ia menggenggamnya. Dan ini membuatnya serasa tergelitik. Chanyeol tidak yakin dengan apa yang sudah dilakukannya barusan. Apa ini hal yang benar?

"…kau dan dia memang tidak seharusnya bersatu."

Persetanan, minyak dengan basa kuat saja bisa bersatu membentuk sabun, masa dia dengan Baekhyun tidak bisa?

Langkah mereka terhenti di depan basecamp tersembunyi milik Chanyeol. Si jangkung itu tidak berani membalikkan tubuh, melepas tautan tangan merekapun rasanya begitu menakutkan.

"Kak Chanyeol?"

Chanyeol masih diam, bingung harus bereaksi seperti apa.

"Chanyeolie…"

Panggilan itu, ah Chanyeol tidak ingat kapan terakhir kali ia mendengarnya. Begitu halus, keluar dari tenggorokan seorang Byun Baekhyun. Efeknya masih sama; menggetarkan hati dan mengirim sejuta hormon adrenalin ke dalam seluruh penjuru tubuhnya. Tanpa sengaja, ia mengeratkan pegangannya pada telapak tangan Baekhyun.

Dan Baekhyun tidak bodoh untuk menyadari hal tersebut. Hatinya menghangat untuk beberapa alasan. Si mungil itu tersenyum simpul sambil terus memandang surai hitam Chanyeol yang bergerak tertiup angin. Entah kenapa ia merasa sebuah hasrat tiba-tiba muncul. Ia merasa perlu menjelaskan segalanya pada Chanyeol.

Baekhyun berdehem.

"Ayah Kris adalah kakak dari ibuku, dan kami adalah sepupu. Tadi dia berniat meminjam uang padaku karena uang bulanannya belum cair,"

Baekhyun mendongak, sedikit kesal karena si jangkung ini tidak segera berbalik. Keadaan begitu canggung. Dan Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa. Mau pergi, tapi tangannya digenggam begini. Galau sudah. Berkat bakat si pendek itu yang begitu cerewet dan sangat membenci ketenangan, ia akhirnya melanjutkan ceritanya tentang Kris. Hitung-hitung meluapkan segudang rasa eneg yang sudah tujuh belas tahun ini ia pendam seorang diri. Hehe.

"Aku dan Kris sejak kecil sudah sangat dekat. Kami sering bermain petak umpet, dan dia selalu curang karena bersembunyi di atas genteng rumah. Mana mungkin aku bisa memanjat ke atas sana? Sejak kecil dia memang sudah tinggi, jadi si jelek itu sering mengejekku pendek."

Baekhyun terkekeh, mengingat masa kecilnya yang benar-benar menggelikan.

"Waktu SMP, kami sempat dikira berpacaran karena dia sangat suka menempel padaku. Sampai-sampai ada satu penggemarnya yang nekat melabrakku di depan seluruh siswa. Urgh, wanita itu benar-benar menyeramkan. Beruntung Kris segera datang dan menyelamatkanku."

"Walaupun begitu, sebenarnya dia itu sangat baik, dia—"

Baekhyun hampir memekik senang ketika tubuh jangkung Chanyeol berbalik. Pemuda itu tepat menatap jauh ke dalam manik mata Baekhyun; membuat yang lebih muda terkesiap akan kekosongan pandangan tersebut.

"C—Chanyeol?" Panggilnya takut-takut.

"Kenapa kamu laporan ke saya? Kita 'kan cuma mantan."

Baekhyun terdiam, matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya memilih menunduk memandang sepatunya yang terkena noda lumpur. Ia menggigit bibirnya gamang. Dadanya serasa dicubit secara virtual.

Kenapa rasanya sakit? Tapi kenapa nggak berdarah?

Iya, Baekhyun dan Chanyeol itu memang statusnya mantan. Tapi mantan macam apa Chanyeol ini?

(17.45) PCY : Baek, maaf. Marah ya?

(17.45) PCY : Serius, tadi ga sengaja bentaknya

(17.45) PCY : Eh bentak enggak sih tadinya? Lah bodoamat heu

(17.46) PCY : Pokoknya mah maafin, ga sengaja. Really ini mah

(19.30) PCY : Lagi belajar ya?

(20.19) PCY : Hmmmmm

Baekhyun memandang tanpa gairah ponselnya yang sejak ia pulang sekolah sampai sekarang terus berbunyi; menampilkan beberapa notifikasi pesan dari Chanyeol. Walaupun tidak begitu banyak, sih. Tapi jika mengingat kepribadian si caplang tersebut yang amat sangat cuek, ya ini sudah termasuk keajaiban. Bahkan waktu pacaran saja, mendapat balasan semacam 'o gt', 'hm', 'okesip' saja Baekhyun sudah sujud syukur.

Dan serius, Baekhyun sebenarnya tidak paham. Mantan macam apa Chanyeol itu?

Baru tadi siang mematahkan hati dengan bertingkah 'siapa lo siapa gue', tapi kenapa sekarang mengambil tindakan seolah dia sedang menenangkan kekasihnya yang sedang merajuk? Dia kena bipolar atau bagaimana, sih? Karena untuk informasi saja, Baekhyun itu tidak suka ditarik ulur. Kalau mau lepas, ya lepas saja. Jangan bertingkah begini dan membuatnya jadi berharap lebih! 'Kan akhirannya juga Baekhyun yang menderita!

Si cantik itu mendengus ketika sebuah notifikasi kembali muncul. Dengan malas, ia membuka aplikasi LINE lalu membacanya.

(21.34) PCY : Seriusan, aku minta maaf

Menghela napas, Baekhyun menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. Mulutnya berkomat-kamit kesal sedangkan pesan dari Chanyeol ia biarkan tertera tanda Read saja.

Terserah, Baekhyun tidak akan peduli! Tekadnya sudah bulat. Bulat sebulat-bulat-bula—

PCY is calling

PIP

"Halo?"

Bulat gundulnya.

"Halo, Baekhyun?"

"Iya, ini aku."

Terdengar suara helaan napas panjang diujung sambungan telepon. Baekhyun hanya bisa merasakan tubuhnya merinding.

"Dengar, aku benar-benar minta ma—"

"Sudah ku maafkan."

Kemudian hening lagi. Tanpa Baekhyun ketahui, Chanyeol di rumahnya kini sedang menggaruk pipinya bingung. Kalau sudah dimaafkan begini, dia mau ngomong apa lagi?

Tidak ada pilihan lain.

"Y—yasudah, ku tutup, ya? Selamat mal—"

"Malam."

PIP

Ponsel tergeletak begitu saja di samping tubuh Baekhyun. Si pendek itu memandang ke plafon dengan wajah kosong. Otaknya benar-benar blank, berbanding terbalik dengan hatinya yang dipenuhi ratusan kupu-kupu menggemaskan. Perlahan namun pasti, wajahnya mulai dihiasi rona merah samar yang kian detik kian kental.

.

"MAMA, BAEKHYUN GAMOOON!"

Sedih.

.

End of Chapter

Korean Dictionary

[ 1 ] Boong-oh-bbang : semacam roti isi cream. Bisa dilihat di EXO Showtime episode berapa astaghfirullah lupa.

.

Behind the Bar:

Halo para perindu mantan:) masih kangen mantan? Kasian:)

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH AING GATAU MAU NGOMONG APA ADUH.

JADI GINI, oh sorry, capslock lupa dimatiin heuheuheu. Okay, jadi gini, gimana ya? Aduh, cara jelasinnya gimana:( pokoknya intinya adalaaaaaaaaah, tay ngetik doang susah amat:(

Intinya adalah, nukleus dari semua ini adalah, hmmmmmmm pokoknya saya ngerasa chapter ini kecepetan ya alurnya? Tapi bodoamat, mood saya lagi suka yang faster faster unch unch unch. NAON SIH NAON?!

Lah bodo, lain kali aja ngomongna, lagi gagu (teu). Anywayyyy, gimana chapter ini? Semoga tida mengecewakan yep. Ihiy, dah lah, capequn ngetik.

Anywayyyy (2), berhubung bagian prologue saya lagi gabisa bales review, jadi saya ucapin makasih aja yaaa (sent love emoticon).

Big thanks for:

cchii | nolachanbee | chanzhr | kim-jin-9041 | ninchanim | channiemolly | Baekbooty | doeO-O | fujokuu | suhoshnet | chansabaek | Siti855 | L-Min HunHan | barampuu | baekfrappe | hunniehan | fluffy puppy baekki | icing

Dan buat yang review chapter kemaren, here u go;

Edelweiss614 ah masa baru pertama kali? Dasar ga gawl:) anyway, saya itu gaptek gabisa main wattpad… sehunboo17 disimak aja atuh sayang, nanti juga tau:( Baekbooty sok tua ya panggil dek:) dasar biadab?! (teu) ByunMafia GAK SEKALIAN TANTESEA, TEH? SEDIH fujokuu gatau eh si chanyeol masih suka apa engga, kan hati manusia siapa yang tau sih:(((( mellindabbh actually, uname kamu mengingatkan saya sama temen saya dari kelas sebelah:( anyway, baekhyun ga galak kok, ciusan:( Siti855 aduhai kenapa kamu brgitu ingin tahu wahai anak muda?! BaekHill takdir:) chansabaek DASAR INSAN RECEH?! Bumbu-cimol ini apa pula ada cimol segala:( parkbaexh614 ini mau dibales gimana? Sedih:( doeO-O kenapa sih? Jangan baperan gitu dong ah ah ah:( flashbacknya kapan-kapan ya, melihat masa lalu itu melelahkan hhh hunniehan tenang aja atuh, karma is exist. Tunggu aja tanggal mainnya:) baekfrappe MAKASIH UGHA UDAH MEMUDAHKAN SAYA MEMBACA YHA. H8 U 2 MA BEIBEH OhSehun's Mom ah yakin nih pengen tau? Nyesel loh:( baekggu BAGIAN MANANYA YANG MIRIP?! cinderbaek bau yang, really:( AceFanFan ih sotoy ayam ah:( yayahunnie iya yah, ga dibikin berat kok konfliknya. Ayah tenang aja y:( Guest mau dibales gimana ini? Sedih:( Ranfazhr NASTARNYA BENERAN DITUNGGU LOH YA!

.

Thanks a lot for your review,

Sincerely, sciencea.