Part 4 : Dilan 2K17
—
[ Chanyeol x Baekhyun x School-life x Romance-Comedy x SMA feels ]
—
.
"Ba? Cot."
—
Jadi, begini.
Chanyeol itu sudah kelas tiga, sedangkan Sehun dan Jongin masih kelas satu. Hal ini 'kan otomatis membuat sebuah pagar tinggi tak kasat mata di antara mereka. Iya tidak? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa adik kelas biasanya terlalu takut hanya untuk berbicara dengan kakak kelas, sedangkan kakak kelas terlalu gengsi untuk berkawan dengan adik kelas. Kecuali kalau uhuk bohay uhuk, itu beda lagi.
Lalu, bagaimana bisa mereka jadi sedekat itu sampai ke tahap pembentukan squad segala?
"Yah, namanya juga sudah jodoh, mau bagaiman—"
DIEM LO, CAPLANG!
Abaikan, abaikan! Kembali lagi ke topik.
Jadi, ini semua dimulai lima tahun lalu. Tepatnya pada saat Jongin masih lurus dan masih berstatus sebagai gebetan saudara sepupu Chanyeol, Park Yoora. Berhubung Chanyeol dan sepupunya ini sangat lengket macam lem tikus, jadi otomatis siapapun yang dikenal Yoora, pasti juga akan dikenal Chanyeol. Begitu lah. Setiap Jongin ngapel ke si cantik Park itu, mereka selalu bertemu karena Yoora selalu mengajak Chanyeol. Biasa, taktik anak muda. Bilangnya main sama saudara, padahal main ke mana-mana. Dan karena keseringan bertemu itu lah, mereka akhirnya mulai berkenalan dan lama-lama jadi akrab. Beberapa bulan kemudian, Chanyeol diperkenalkan dengan Sehun, yang katanya sih mantan musuh Jongin sewaktu SD dulu. Entah karena apa, tapi dulunya tiap mereka bertemu, selalu ada satu orang yang pulang babak belur. Sekarang sih, sudah tidak begitu. Status mereka sudah berubah dari musuh tujuh turunan menuju tahap best friend forever. Sedikit lucu juga sih, dua orang yang awalnya saling membenci, tiba-tiba saja bisa bersahabat begitu akrabnya.
Kekuatan ff memang luar biasa.
Anyway, pada akhirnya, Chanyeol, Jongin, dan Sehun bergabung membentuk sebuah squad kecil, dan bertingkah layaknya gengster kelas kakap. Sifat Chanyeol yang tidak pandang bulu dalam masalah berkawan, serta sifat friendly dan bully-able dari pasangan KaiHun, nyatanya mempermudah mereka untuk membangun ikatan persahabatan yang kuat. Hampir ke manapun, mereka selalu pergi bertiga. Pokoknya di mana ada Chanyeol, maka disitu akan ada KaiHun juga. Bayangkan saja potret juragan beras yang selalu dikawal bodigatnya. Yaa semacam itu lah.
Kemudian, lima tahun berlalu. Persahabatan mereka pun sudah berkembang ke tahap yang setegar batu. Dan lima tahun itu bukan waktu yang singkat sebenarnya. Waktu yang amat sangat cukup bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi nyatanya, itu tidak menjamin bagi Sehun maupun Jongin untuk bisa memahami serta memaklumi kelakuan Chanyeol yang autis luar biasa.
Boleh saja Park Chanyeol, anak kelas 3-5 diberi julukan sebagai si berandal tapi juga sekaligus pangeran sekolah. Terkenal lewat pribadi yang urakan tapi prestasi basket yang gemilang, senyumnya yang melted-able, sifatnya yang sedikit cuek dan wajahnya yang bangsat ganteng sekali; sukses sudah membangun imej cool dan boyfriend material melekat padanya.
Dan Sehun cuma bisa gumoh. Jongin sendiri cukup ngakak online mendengarnya.
Para siswa saja yang tidak tahu. Kadang, mencret pun bentuknya mirip dengan sambel pecel.
Sudahlah, duo cecunguk itu sedang stress memikirkan sang leader mereka yang sedang kumat. Mereka memandang tanpa gairah pintu kayu yang sudah semenjak tiga menit lalu berada dihadapan mereka.
MASUK = BACOK
JANGAN BERISIK, AA GANTENG LAGI SEMEDI
MA, CHANYEOL UDAH MANDI. SERIUS!
Tertulis dengan tinta boardmarker. Hitam di atas putih, di atas kertas kumal bekas remidial ulangan harian. Direkatkan begitu cantiknya menggunakan alteco di depan pintu kamar Chanyeol.
Sehun menyenggol lengan Jongin pelan. "Jong, pulang, yuk? Kita mainnya kejauhan."
Jongin hanya manggut-manggut setuju sambik memberi gestur OK dengan jarinya. Lalu kemudian, duo cecunguk itu berjalan menjauhi sarang sang Ketua. Yah, mungkin ini saat yang tepat untuk berhenti jadi gila.
Belum sempat mereka menapaki tangga pertama, mereka sudah merasa ditodong oleh sesautu di punggung masing-masing.
"Kembali kesini, wahai kacung-kacungku."
…
Tidak usah menoleh juga mereka paham siapa yang melakukannya. Tidak ada lagi orang bego lain yang menodong kawannya sendiri dengan pisang mainan kecuali Park Chanyeol. Baik Sehun maupun Jongin, keduanya hanya bisa pasrah dan saling menyemangati satu sama lain.
"Siap, bosque."
—
—
Ini malam minggu, sudah jadi tradisi lama bagi anggota squad untuk mengadakan pertemuan unfaedah seperti ini. Katanya sih, biar hubungan persahabatan mereka makin harmonis dan lengket macam lem super. Padahal niat terbesarnya adalah mengalihkan aura jomblo yang memang menguar dari tubuh mereka.
09.30 PM
Dan, di sini lah mereka sekarang. Berbaring tak beraturan di lantai beralaskan karpet dalam kamar Chanyeol. Jongin sibuk makan kuaci, Sehun sedang menghitung uang hasil malak kakak kelas, sedangkan Chanyeol sendiri tengah menatap layar ponselnya dengan serius.
Tolong jangan diganggu, si kingkong itu sedang membaca chat lama yang entah kapan terakhir kali ia membacanya.
Itu di bulan Juni, tahun 2016.
(00.46) PCY: Besok jangan berangkat dulu. Tungguin aku, kita bareng ke sekolahnya
(00.46) BBH: Ih? Tumbeeeen. Biasa juga ngeluh gada bensin
(00.46) PCY: kan pake motornya kak yoora:)
(00.48) BBH: :))))))))))))
(00.48) BBH: pantes y
(00.49) BBH: biadab
(00.49) BBH: pacaran aja sama bensin motor kamu, sok.
(00.49) PCY: oke:)
Chanyeol terkekeh. Ia tidak tahu kalau kegiatan seperti ini sangat berhasil membuat mood-nya naik seratus tingkat lebih cerah. Dirinya terus meng-scroll aplikasi chatting room-nya dengan senyum yang kelewat lebar.
(00.55) PCY: read doang nih?
(00.57) PCY: si kamunya ngambek?
(00.57) BBH: enggak.
(00.58) PCY: lah si anjir ngambek beneran
(00.58) PCY: canda atuh yang, pacar aku kan cuma kamuuuu
(01.00) BBH: blur.
(01.00) PCY: :((((((
(01.01) BBH: tidur sana. Katanya besok mau jemput
(01.01) PCY: eciee udah ga ngambek nih? (kiss)
(01.01) BBH: jam 6 harus udah sampe. Lebih dari jam segitu, aku bareng kak Baekbom
(01.01) PCY: eciee udah ga ngambek nih? (kiss) (2)
(01.03) BBH: percuma ngambek sama kamu mah. Akhirannya nanti paling kamu ikutan ngambek. Ngerepotin.
(01.04) PCY: EHEHEHEHEHE
(01.04) PCY: yaudah, aku tidur duluan
(01.04) BBH: okkay
(01.04) PCY: percaya lah
(01.06) BBH: hah?
(01.07) PCY: percaya lah. Aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kau tidak akan dengar
(01.08) BBH: …
(01.08) BBH: Najis
(01.08) BBH: Mugoladzoh.
(01.08) BBH: DASAR DILAN PALSUUUU!
(01.10) PCY: selamat tidur, Lia:)
Benar kata orang, late night conversation itu memang sesuatu yang ngangenin. Chanyeol jadi berhaha-hehe sendiri di atas kasur. Persetanan dengan ujung bibirnya yang masih memar berkedut nyeri karena digunakan untuk tertawa. Ia terlalu tenggelam di dalam dunianya sendiri sampai-sampai tidak menyadari tatapan datar yang dilemparkan Jongin dan Sehun. Harap maklum, orang jatuh cinta itu memang rasanya dunia milik sendiri, lainnya ngontrak.
Baru saat segepok uang lembaran yang diikat dengan karet gelang terlempar tepat di depan wajahnya, Chanyeol sadar. Ia segera menghentikan tawanya, lalu menatap bingung pada dua wajah yang tengah menatapnya tersebut.
"What?" Tanyanya.
Jongin, tentu saja, tidak mau kalah. "You the what-what. Why you laugh, mamen?"
Sehun hanya memutar matanya malas melihat tingkah kawannya yang berada jauh di bawah ambang batas normal. "Don't do broken inggritheu in here, pleathe."
"You shut up, dog!"
"You goat!"
"No, you jenglong!"
"Poop!"
"Tai!"
"Telek!"
"Mbenjr—"
"BUBAR GAK LO?!"
Urat Chanyeol berkedut nyeri.
Kesimpulannya, mereka bertiga memang tidak ada yang benar-benar waras.
—
—
Baekhyun tidak bisa tidur. Hanya sekedar memejamkan mata pun susah. Sudah beberapa kali dirinya bergulak-gulik di atas kasur untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Tapi apadaya, tubuhnya masih belum mau menjumpai alam mimpi. Padahal saat terakhir kali ia mengecek jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ia mendesah kesal.
Ini semua gara-gara Chanyeol!
Jika saja si kingkong itu tidak mengatakan kata-kata ambigu begitu tadi siang, mungkin saat ini Baekhyun sudah bermimpi pacaran dan pergi kencan dengan Brooklyn Beckham. Ini semua salah Chanyeol, jadi dia tidak bisa tidur begini!
Asdfghjkl.
.
"Baek, aku rindu."
Baekhyun tidak yakin jantungnya bisa berpacu lebih cepat dari sekarang ini. Ia menatap wajah babak belur Chanyeol yang kini juga tengah memusatkan atensi padanya; sedang melempar senyum kalem. Baekhyun masih diam. Belum sempat ia merespon, Chanyeol sudah mendahuluinya berbicara.
"Apa kamu juga? Rindu ke aku,"
Lidahnya kelu seakan-akan dia ini penyandang tuna wicara. Baekhyun tidak mengerti. Tapi ketika ia menilik manik mata besar milik Chanyeol, ia bisa melihat bintang yang mengerjap; mengerling nakal seolah sedang merayu dirinya untuk jatuh ke dalam pesonanya.
Lalu, Baekhyun benar-benar jatuh, tepat saat si jangkung itu terkekeh.
"Lebih baik jangan. Rindu itu berat, kamu gak akan kuat. Biar aku saja,"
BANGSAT!
Baekhyun hanya bisa menganga saja. Dirinya terlalu bingung; ini dia harus bereaksi seperti apa? Senang kah? Sedih kah? Marah kah?
Dan diantara seluruh pilihan itu, akhirnya Baekhyun memilih opsi lain;
"Maaf, aku balik ke kelas dulu. Mau bayar kas."
Bayar kas gundulnya. Uang buat jajan saja masih kurang. Baekhyun meringis dalam hati sambil terus mengambil langkah besar-besar menjauh dari objek yang lebih berbahaya daripada lubang hitam supermasif; Park Chanyeol.
Seperti pengecut, Baekhyun melarikan diri.
.
Hampir saja Baekhyun berteriak histeris jika ia tidak segera mengingat ibunya ada di lantai bawah. Dengan refleks, si pendek itu menggigit bibir dalamnya. Bisa habis ia dicubit kalau berisik, apalagi ini jam satu pagi.
Si pendek itu menghela napas. Perlahan-lahan, dirinya kembali menemui ketenangan. Dan entah sejak kapan, Baekhyun mulai merenung. Ia memandangi plafon kamarnya dengan tatapan kosong. Pikirannya mulai melalang buana, terbang ke deretan file berisi masa lalu. Bak rol film, semua kenangannya bermunculan.
Dilan.
Dia adalah Dilanku Tahun 1990
Kisah romansa antara Milea, si gadis cantik pindahan dari Jakarta dengan Dilan, sang panglima tempur; pimpinan tertinggi dari geng motor. Kisah cinta yang begitu sederhana, manis, dan membaperkan itu dibungkus dengan hangat di Jalan Buah Batu, Bandung.
Baekhyun tidak mengerti, tapi setiap kali ada yang menyebut kata Dilan, maka pikirannya akan secara otomatis berbelok pada satu nama. Seseorang yang kepribadiannya benar-benar mirip dengan si gengster tersebut.
Park Chanyeol.
Dia adalah Chanyeolku Tahun 2016
Baekhyun sendiri tidak pernah meng-klaim kalau dirinya ini Milea. Dia bukan murid baru pindahan dari Jakarta. Dia asli Bucheon, dan sudah tinggal di Seoul sejak enam tahun lalu. Baekhyun juga bukan gadis cantik yang diincar banyak murid lelaki sampai guru olahraga sekalipun. Dia sedikit introvert dan pemalu, tidak seperti Lia yang punya banyak teman bahkan di hari pertama ia sekolah. Tidak ada hal darinya yang mirip dengan Milea.
Oh?
Mungkin ada satu hal. Yaitu, sama-sama pernah menarik perhatian seorang gengster berandal; Dilan, atau mungkin dalam kasus ini, Chanyeol. Si anak famous dengan segala kelakuannya yang kadang membuat pusing para guru, maupun yang membuat perut para siswa keram karena kebanyakan tertawa. Chanyeolku Tahun 2016…
"Astaga, aku ini kenapa, sih?"
…yang kini telah menjelma menjadi Chanyeolku Tahun 2017.
Baekhyun memegangi pipinya yang menghangat tanpa sebab. Ia tersenyum simpul, lalu menarik selimutnya sebatas dada. Tanpa disadarinya, hatinya sudah sejak awal tadi mulai mengirimkan getaran rindu akan masa lalu. Mata sipit itu kemudian ia pejamkan. Dengan hati yang penuh, ia akhirnya tertidur pulas.
Selamat tidur, Dilan.
—
—
Chanyeol itu bengal; seluruh siswa SMA Haru juga paham. Namanya sudah terkenal sebagai anak badung yang di blacklist oleh hampir semua guru. Keluar masuk ruang BK juga sudah menjadi hal yang lebih lumrah dibanding makan nasi tiga kali sehari. Penampilannya urakan, sangat jauh dengan apa yang namanya ketertiban. Rambutnya tidak pernah disisir, almamaternya hanya disampirkan di bahu, kemejanya setengah masuk setengah keluar. Itu semua, entah bagaimana malah berhasil membuat kepercayaan dirinya meningkat drastis. Dirinya merasa lebih cool dan ganteng berpenampilan seperti itu. Yaa, walaupun faktanya memang begitu, sih.
H3h3.
Satu lagi, Chanyeol itu salah satu murid penganut aliran dateng telat pulang cepat garis keras. Si jangkung itu biasanya baru menampakkan batang hidungnya di sekolah ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Kemudian ketika jam 12 siang, dia pulang lagi. Lebih tepatnya sih, bolos. Karena jam pelajaran baru akan selesai pukul tiga sore.
Dan ketika Chanyeol datang ke sekolah dengan seragam yang rapi, Baekhyun cuma bisa gagal paham.
06.15 AM
Begitu yang tertera di jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Heh, apa ini? Kenapa si kingkong itu sudah datang padahal pelajaran pertama baru akan dimulai empat puluh lima menit lagi?
Dan sejak kapan dia sudah berada dihadapanku begini?
Baekhyun berkedip. Satu kali, dua kali. Keningnya berkerut dalam sambil memandangi tubuh tinggi Chanyeol yang sedang memandangnya. Baekhyun melipat tangan di depan dada, kemudian mengangkat alisnya sebelah saat ia menangkap ekspresi sakit yang tertahan dari wajah sang mantan.
Tentu saja, sudut bibirmu sobek begitu dan kau masih berusaha tersenyum? Dasar gublu.
Baekhyun menghela napas. Kemudian maju selangkah. Walaupun sebenarnya dia sangat amat canggung dalam posisi begini, tapi Baekhyun harus tetap profesional menjalankan tugasnya sebagai Dewan Kedisiplinan alias satpam tanpa bayaran. Persetanan dengan status mantan maupun segala hal yang telah terjadi di antara mereka. Bodoamat tentang rindu dan sakit hati dan eneg dan apa lagi ya, ruwet sih. Kali ini, Baekhyun harus tetap siap merangkap jadi Algojo. Menghiraukan rasa malu yang meletup-letup dalam dirinya, ia segera memulai aksi.
"Permisi, kak. Pengecekan atribut."
Mari kembali menjadi Byun Baekhyun si anjing herder. Penggaris panjangnya ia turunkan, sedangkan tangannya sibuk mencari pena dan notebook. Jaga-jaga kalau ada atribut yang tidak lengkap atau salah. Bagaimanapun, yang ada di depannya ini adalah buronan yang paling dicari oleh guru BK kalau ada kerusuhan yang terjadi. Chanyeol hanya diam sambil memasukkan tangannya ke dalam saku, lalu menuruti apapun yang diperintahkan si mungil.
"Tolong, kaos kakinya,"
Cek.
"Badge nama,"
Cek.
Inspeksi terus berlanjut. Mulai dari ikat pinggang, badge kelas, sepatu, dasi. Semuanya telah terpasang dengan benar. Bahkan kali ini, Chanyeol tidak lagi mengenakan kaos kaki futsal, melainkan memang kaos kaki anak SMA. Kemejanya saja sudah dimasukkan dengan benar. Ini betulan Chanyeol, kakak kelas yang berandalan itu bukan, sih? Baekhyun membatin dalam hati.
"Almamaternya jangan cuma dibawa. Tolong dipakai dengan benar." Ujar yang lebih pendek.
Chanyeol tidak banyak bicara dan langsung menurutinya. Dan tindakan itu sukses membuat Baekhyun hampir menganga lebar. Hey, dia ingat teman-temannya yang lain kerap kali mengeluh saat melakukan inspeksi seragam pada si jangkung itu. Mereka bilang, Chanyeol itu bandel. Disuruh menunjukkan kaos kaki saja tidak mau. Selalu berusaha kabur dan melempar tatapan tajam pada siapapun yang mencoba mengingatkan. Bahkan kata Gaeul, Chanyeol itu sering mengumpat.
Terus, ini apa?
Baekhyun yakin seratus persen jika alasan si jangkung itu menurut layaknya anak ayam itu bukan hanya karena dia takut oleh dirinya yang galak minta ampun. Buktinya, Chanyeol dulu berani menyatakan perasaannya, meski saat itu Baekhyun sedang galak-galaknya. Yaa, walaupun cara mengungkapkannya sedikit absurd, sih. Baekhyun tidak tahu ada orang yang mengucap kata cinta sambil marah-marah begitu. Ah tapi, sudahlah. Kenapa jadi flashback, sih? Masa lalu, biarlah masa lalu. Jangan kau ungkit, jangan ingatkan akuu—
Lanjut ke hipotesa kedua. Baekhyun juga yakin seratus persen jika ini semua bukan diakibatkan oleh status mereka yang merupakan mantan. Ayolah, Baekhyun sudah lama mengenal Chanyeol. Dari jaman si jangkung itu pacaran dengan Soojung sampai Hani, Chanyeol tidak sekalipun bersikap lembut terhadap mantan. Baekhyun bisa ingat kejadian masa lalu saat Chanyeol hampir memukul Hani hanya karena gadis itu terus mengikutinya. Chanyeol itu juga tipe tempramen dan tidak munafik. Kalau sekali tidak suka, ya akan bilang tidak suka. Buat apa bohong kalau nanti akhirnya nggerundel di belakang? Begitulah sekiranya yang Chanyeol katakan padanya.
Ini aneh.
Tapi sebenarnya, hal ini bukan masalah. Kalau Chanyeol jadi jinak begini, 'kan Baekhyun juga yang diuntungkan. Si pendek itu tidak harus marah-marah atau lari mengejar Chanyeol yang kabur dari inspeksi. Duh, harusnya dia itu bahagia. Tapi, masih ada satu masalah lagi. Dan yang jadi masalah adalah—
"Silahkan masuk ke sekolah, inspeksinya sudah selesai."
—Chanyeol masih setia berdiri dihadapannya dengan mata yang memandangnya tanpa berkedip. Baekhyun lagi-lagi gagal paham pt. 2.
Mau apa lagi, sih?
"Kak, silahk—"
"Benar kata Dilan, rindu itu berat."
"…"
Ya?
Antara bengong, cengo, bodoh, blank; Baekhyun tidak terlalu paham kata yang mana yang paling pas untuk menggambarkan dirinya sekarang ini. Masalahnya, semua memenuhi.
"Pagi ini, aku belum bilang masih suka ke kamu. Gak tau kalau nanti sore, tunggu aja."
UHUK!
Chanyeol kemudian tersenyum sekali lagi. Mengacak rambut lembut Baekhyun, lalu beranjak menuju ke dalam arena sekolah.
UHUK!
Ini, Baekhyun harus bagaimana? Bagaimana bagaimanaaaaaa?
Astaga astaga astagaaaa!
Baekhyun memegangi pipinya yang mungkin kini suda merah sempurna. Macam kepiting rebus. Matanya kemudian mengikuti ke mana Chanyeol melangkah. Itu dia, di sana. Sedang diajak bicara oleh Tiffany, yang katanya sudah sejak lama naksir berat dengan Chanyeol. Berhubung masih dekat, jadi obrolan mereka masih terdengar dari sini.
"Yeol, ke kelasnya bareng, bisa?"
"Bisa lah, kenapa enggak?"
"Ya enggak sih, takut ada yang marah aja."
"Siapa? Si mamah? Di rumah tuh. Mau mampir?"
"Kaya menantu aja ah pake mampir,"
"Kenapa? Emangnya gak mau kalau ditawarin nikah?"
"Y—ya…mau,"
"Hahahahahahah."
…
Baekhyun menyesal. Asli. Sangat amat menyesal karena telah bertingkah malu-malu kucing begitu tadinya. Sangat amat malu karena telah mikir jero tentang apa yang telah Chanyeol lakukan padanya. Padahal dia sudah janji, tidak akan termakan yang manis-manis lagi. Karena semanis apapun perkataan Chanyeol, itu semua cuma delusi.
Tuh 'kan, kena PHP lagi.
Baekhyun hanya bisa merutuk.
—
—
Ada yang bilang, ketika kita minum obat terlalu sering, tubuh kita lama-lama tidak akan bereaksi dengan obat tersebut dan rasa sakitnya masih akan ada. Sama seperti halnya saat kita masuk kamar mandi yang pesing. Awalnya memang kita menutup hidung. Tapi setelah beberapa saat, hidung kita mulai terbiasa dan kita tidak lagi terganggu. Kata orang, itu namanya kebal.
Dan mungkin, saat ini Baekhyun sudah kebal.
"Baek, mau ke kantin bareng?"
"Baek, nanti pulang bareng siapa?"
"Maaf, kita ada hubungan apa, ya?"
"Kok marah?"
"Baek, Chanyeol minta maaf,"
"Baek, kamu cantik."
"Baek,"
"Tapi, Maria Ozawa juga cantik."
"Baekhyun,"
"Baekhyunie,"
"Byun,"
"Kamu nggak—"
"Maaf,"
"…"
"Kemaren, aku gak sengaja. Aku minta maaf,"
"Baekhyunie,"
Di gitu-gitu in, digantungin, ditinggalin, dimintai maaf, di gitu-gituin lagi, digantungin lagi, dimintai maaf lagi…—halaaah! Baekhyun sudah kelewat hapal motifnya. Hal-hal seperti itu sudah bukan jadi masalah yang besar. Sudah sejak beberapa waktu yang lalu, Baekhyun tidak lagi mikir jero jika Chanyeol mulai melontarkan yang manis-manis padanya.
Karena dia tahu satu hal; kata 'apa kabar' pun cepat atau lambat akan berakhir dengan kata 'kamu siapa'.
HAHAHAHA, Baekhyun sih udah khatam digituin.
Hari-hari berlalu dengan banyak sekali kejutan. Baekhyun mendapatkannya dari Chanyeol. Kadang dia diperlakukan seperti puteri, kadang juga dibuang macam sampah tak berarti. Baper itu pasti. Sakit hati apalagi. Tapi tidak apa-apa, Baekhyun sudah terbiasa ditarik ulur seperti itu. Dianya juga tidak mau ambil pusing masalah Chanyeol yang memang sangat sulit untuk ditebak hatinya. Baekhyun tidak mau lagi mencoba peruntungan untuk mulai memahami apa sebenarnya yang Chanyeol inginkan, buang-buang waktu saja. Terserah, si caplang itu mau bagaimana juga wis sak karepmu.
Baekhyun sih, sekarang cuma pegang satu prinsip; baper dikit boleh, tapi jangan sampai jatuh hati.
Yaa, contohnya seperti malam ini.
(21.59) PCY: Baek, besok berangkat bareng. Mau?
Baekhyun sedang tiduran di atas kasur saat chat itu masuk. Ia menghela napas, lalu dengan malas mengetikkan balasan.
(22.00) BBH: aku ga sekolah.
Baekhyun tidak bohong. Ia memang tidak akan hadir di sekolah karena besok adalah D-Day untuk kegiatan LDK yang akan diadakan di daerah perkebunan di salah satu distrik Busan. Acara sialan itu, hhh akhirnya di-accept juga oleh pihak sekolah setelah perdebatan panjang.
(22.02) PCY: mau kemana emang?
(22.02) PCY: atau lagi sakit ya?
(22.03) PCY: mau dibawain sup abalon? Kak yoora baru pulang dari Jeju, bawa banyak seafood. Mau dimasakin?
Tarik terus mas, sampe puas sono.
(22.07) BBH: gak sakit kok, kalem
(22.09) PCY: terus kenapa ga sekolah?
Baekhyun sedikit bimbang. Ini dia harus kasih tahu yang sebenarnya atau tidak? Kalau bohong, nanti dosa. Kalau jujur, ya buat apa? Chanyeol itu siapanya sampai dia harus laporan begitu?
'Kan mereka cuma mantan, hehe.
Ya sudah, begini saja.
(22.15) BBH: ada tugas, sama Kyungsoo. Ke sana(?)
Read
Baekhyun masih menunggu. Ia bergulak-gulik di atas kasur, mencoba menemukan posisi yang nyaman. Baekhyun memeluk gulingnya. Chanyeol masih belum membalas.
Lima menit.
Baekhyun menguap.
Dua puluh menit.
Baekhyun me-restart ponsel. Jaga-jaga kalau seumpama pesan Chanyeol delay atau bagaimana.
Tiga puluh menit.
"…"
Satu jam.
Dia baru sadar. Lalu mulai paham akan rute yang Chanyeol sering gunakan. Tadi dia sudah ditarik, sekarang giliran diulur.
Bagaimana dia bisa lupa, sih?
Baekhyun menghela napas. Lalu mengedikkan bahu.
Sungguh penantian yang sia-sia.
Si pendek itu menggeleng-geleng pasrah. Daripada sakit hati, mending dia tidur saja. Iya, 'kan? Lebih berfaedah.
—
—
(04.56) PCY: aku tetep jemput kamu
(04.57) PCY: terserah kamu mau pergi ke mana, tapi aku ikut.
—
—
Baekhyun tersenyum setengah hati. Si pendek itu memandangi layar ponselnya dengan datar. Rambutnya masih acak-acakan, beleknya juga masih menempel.
Baekhyun tidak tahu kapan terakhir kali dia mengumpat di pagi hari. Itu mungkin—
"Ba? Cot."
—beberapa detik yang lalu.
.
—
End of Chapter
—
.
Behind the Bar:
So sorry buat yang belum baca novel Dilan, mungkin rada ga ngeh ya sama chapter ini? Aduh kasian:) canda eheheheheh.
Q: sea, line berapa sih?
A: saya 00 line, bentar lagi sweet seventeen nih HEUHEUHEU.
Daaan yass, I am in the third grade on high school now. Anak kelas tiga mamen. Saatnya sibuk sama yang namanya buku pelajaran. Jadiii, fanfic ini bukan lagi jadi prioritas utama saya:))))))) bakal di notice kalo seumpama ada seupil waktu yang luang dari kegiatan anak kelas tiga yang sibuk luar biasa, hehe. Masalahnya saya punya cita-cita jadi maba jurusan farmasi, jadi harus bgt ningkatin nilai raport. Otak pas-pasan tapi impian tinggi, gapapa lah ya HEHEHEHE. Doain aja kuy:)
Betewe betewe beteweeee, mumpung dilapak sendiri, mau promosi ah:) buat yang suka sci-fi, bisa di cek Andromeda! by sciencea HEHEHEH. Baru prolog, dan kayanya chapter satu baru up kalo ff ini udah selesai:)))))))) kali ada yang tertarik ya heuheuheu.
Jugaa, saya mau promosi lagi:) gabut? Gada kerjaan? Coba mampir ke seesciencea-wordpress-com. Tanda strip diganti titik yha. Isinya apa? Buka aja, siapa tau tertarik HEHEHEHE.
Betewe lagiiii, akutu mau curhat:(
Gatau, tapi scene yang aku tulis di chapter lalu tentang si baekhyun yang nangis karena stress, malah kejadian beneran di aku TT duh gimana ya, aku tau kalo anak organisasi itu sibuk bgt. Dan aku ngerasain itu sekarang. Bayangin, dari hari senin, hari pertama masuk sekolah aja udah diuprek-uprek sama bapak Ketua buat ini itu. Padahal sekolah aku adalah satu dari sekian banyak sekolah yang sangat menghargai apa itu jam pelajaran. Jadi langsung full day, pulang jam 4 tanpa jamkos. Ini baru hari ketiga masuk sekolah, tapi aku udah bikin surat dispensasi dua kali cuma buat nurutin apa yang dimaui sama itu pak ketua. Waw bgt y kn. Giliran udah disabar-sabarin, beberapa pihak malah rese bikin emosi kesulut. Ya Allah kadang pengen nangis sendiri HAAAAAAAA. Kesel mas kesel, nggagaso akuuuuuu:(
Dah, gitu doang.
Waw bacotan saya panjang ugha y hm hm hm. Terimakasih buat siapapun yang bersedia baca sampai kalimat ini. Saya sangat berterimakasiiiiiiiih:) dan, berhubung udah malem, maapkeun, review-nya kalian aku kasih ucapan 'thank you' aja yaa? Ciusan udah ngantuk ew, besok sekolah pula:(((( berangkat jam setengah 7, pulang jam 3 lebih. Itu belum ditambah nanti kalo masih mbantu ngurusin beberapa perkap. Hft. Sabar aqutu.
.
Anyway, big thanks for:
ani-kim30 | fujokuu | Siti855 | nocbnolife | BabyXie | BaekHill | Ranfazhr | mrsh30 | kenlee1412 | cinderbaek | hunniehan | barampuu | LinkBaek04 | kim-jin-9047 | unpredictableyes | sehunboo17 | girl404 | Oh Sehun's Mom | channiemolly | shinerlight | ssuhoshnet | yayahunnie | myzmasandraa99 | pupibekyuni61 | Bumbu-cimol | elisabethlaurenti12399 | BubbleXia | AceFanFan | aerismol | baekfrappe | azure | Nyaaa | ay | parkobyunxo | CHANBAEK FOREVER | chenma
.
Thanks a lot for your review,
Sincerely, sciencea.
