Part 6 : Munafuck

[ Chanyeol x Baekhyun x School-life x Romance-Comedy x SMA feels ]

.

"Jangan dilihat, syahwat."

Ada yang mengira kalau penderitaan Chanyeol itu cukup sampai tahap dicampakkan Baekhyun di belakang kebun sawi saja? BHAHAHA tentu saja tidak! Sorry not sorry ya, karma memang diciptakan oleh Tuhan dengan begitu jahatnya.

Malam itu, rasanya Chanyeol ingin menangis dipangkuan mamanya saja. Minta ditenangkan, minta dikelonin, dan mungkin minta disusui. Dia butuh penyegaran. Dan susu sapi itu baik untuk kesehatan.

Chanyeol menghela napas. Seperti tidak punya gairah hidup, ia duduk dengan lesu di bangku penonton. Dari sana, si jangkung itu dapat melihat Baekhyun, yang sedang berdiri di atas panggung. Ceritanya sih, mantan terkasihnya itu sedang menjadi MC utama kegiatan pensi kecil-kecilan yang memang merupakan salah satu run down acara LDK. Walupun hanya memakai seragam sekolah yang sudah lecek sana-sini serta almamater hitam khas SMA Haru, Baekhyun masih tetap tampak cantik dan memesona. Bahkan entah kenapa, malam ini malah terlihat lebih cantik dari biasanya. Mungkin itu karena wajah yang memang sudah cantik dari sananya itu dipolesi make up tipis dengan tema nude yang membuatnya kelihatan fresh dan natural. Anjir lah. Dia jadi mirip Ayu Ting Ting, hehe.

Bercanda.

Jangan emosi gitu dong bacanya.

Heuheuheu.

By the way, sebenarnya sih tidak ada masalah dengan tampilan Baekhyun, acara, maupun panggungnya. Toh ini acara selingan di antara banyak latihan fisik yang sebenarnya kalau mood Chanyeol sedang bagus, bisa dia nikmati juga. Gosip mengatakan, anak kelas sepuluh angkatan tahun ini itu semuanya kreatif. Jadi bisa dijamin lah kalau acara ini nantinya akan sangat bagus. Dan Baekhyun yang terlihat bahagia pun tanpa sadar sudah membuat hati Chanyeol jadi ikut menghangat. Lega rasanya bisa melihat Baekhyun tersenyum lebar seperti itu lagi.

Satu-satunya masalah di sini adalah, si sialan, si brengsek, dan si jelek Choi Minho yang benar-benar jelek itu kini tengah menjadi teman Baekhyun sebagai MC tambahan.

Chanyeol mengumpat.

Minho yang memakai setelan semi formal dan Baekhyun yang punya aura macam trio —coret— macan betina tapi tetap imut itu tanpa bisa dipungkiri, memang tampak serasi bersanding satu sama lain. Rambut Minho yang di gelled-up, berbanding terbalik dengan rambut Baekhyun yang dibiarkan jatuh membentuk poni malah seakan-akan menunjukkan kalau mereka itu saling melengkapi. Anjir, Chanyeol makin lemas saja. Ya apalah, dia mah cuma busa kocokan rinso kalau dibandingkan dengan Minho.

Bangsat, kenapa dia jadi rendah diri begini?

Chanyeol 'kan tidak kalah cool dari si kodok itu. Kalau Minho punya ferarri, hellaw, Chanyeol bahkan punya jet pribadi. Chanyeol juga tidak kalah famous-nya kok dari Minho. Silahkan dibuka akun real_pcy, dan silahkan cek saja sendiri berapa banyak orang yang mem-follow akun instagramnya tersebut. 11k! Yang nge-dm juga hampir ribuan. Sungguh luar biasa 'kan untuk ukuran anak SMA? Belum lagi perkumpulan Chanyeol Holic yang sudah terbentuk dari saat dia SD sampai sekarang pun masih hidup dan anggotanya semakin banyak saja. Kurang hits apa lagi dia itu?

Satu-satunya hal yang tidak berhasil dia kalahkan dari Choi Minho hanyalah perhatian Baekhyun.

Cuma hal sepele, tapi yang pasti harganya lebih mahal dari satu rak vodka yang ditawarkan Jaeho padanya beberapa waktu lalu.

Tapi, nggak papa.

Chanyeol ikhlas. Karena ia yakin cepat atau lambat, perhatian Baekhyun bakal kembali lagi padanya. Tidak apa-apa kok kalau sekarang Baekhyun lebih prefer ke Minho. Besok juga kembali ke dia lagi. Tidak apa-apa, serius. Chanyeol tidak akan menangi—

"Wah Instrutur Choi dan Senior Byun tampak serasi, ya? Bagaimana kalau kalian duet saja?"

—okay, Chanyeol mau nangis aja.

Rasanya seperti habis jatuh, lalu tertimpa tangga. Terus masih ada acara tergencet sama yang naik tangga segala. Hancur. Remuk bakule pecel. Rest in peace lah untuk hati Chanyeol.

Apalagi saat Baekhyun malah tersenyum malu-malu. Dan dia tidak sekalipun ada usaha untuk memberontak ketika dituntun untuk duduk berhadap-hadapan dengan Minho yang kini sudah memegang gitar.

FUUUUUK!

Chanyeol yakin jika si jelek Choi itu sengaja memilih gitar karena si licik itu tahu, Baekhyun memang bisa langsung luluh hanya dengan petikan senar. Gitar itu ajaib, dan yang bisa main gitar itu semuanya ganteng—begitu kata Baekhyun dulunya. Rasanya Chanyeol ingin mengumpat, karena hal ini malah mengingatkannya di satu malam dimana dia dan Baekhyun duduk di atas atap, bernyanyi bersama sambil menikmati bintang yang berkelap-kelip.

Eanjer, flashback mulu dia euy.

Dan ngomong-ngomong, sembari Chanyeol mulai menggali-gali ingatan, nun jauh di sana, Minho sudah mulai memetik senarnya pakai jari. Baekhyun sendiri pun sudah mulai siap-siap ambil suara.

Setelah intro gitarnya selesai, Baekhyun mengawali lagu sambil tersenyum simpul. Seluruh penonton menjadi rusuh sambil siul-siul pakai bibir.

Got you on my my fingertips

Got you on my my fingertips

Chanyeol cuma bisa menganga sambil melebarkan biji matanya yang memang sudah selebar lapangan. Si jangkung itu merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depannya.

Dan pada saat Baekhyun dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya dengan sangat sangat sangaaaaaat imut pada barisan para penonton, Chanyeol benar-benar—

Got you on my hips, got you on my lips

Got you on my on my fingertips

Oh oh na na na na Hey!

CUWK!

Produce 1O1 - Fingertips, men! Yang dance-nya main pantat itu, loh! Astaghfirullahal adzim. Ya walaupun ini versi akustiknya sih, jadi tidak ada acara menari-nari segala. Tapi, ya tetap saja. Fakta bahwa Baekhyun menyanyi lagu segenit itu sambil berduet dengan Minho sungguh menganggu pikiran Chanyeol. Dan sialan pula bagi Baekhyun yang sengaja memakai pitch perempuan begitu.

Anjayanjayanjaaaaaay.

DASAR KEGATELAN LO, BAEK!

Chanyeol ingin teriak, tapi dalam hati saja. Takut Baekhyun malah makin marah padanya.

You want my love

Baekhyun lanjut bernyanyi sambil tersenyum malu-malu menatap Minho. Aslinya Chanyeol mau marah, tapi kok rasanya nggak pantes, ya? Persis seperti apa yang dikatakan Baekhyun, memangnya dia itu siapanya Baekhyun pakai acara marah segala? Dan akhirnya, Chanyeol pun cuma bisa pasrah sambil menundukkan kepala.

Jujur saja, entah bagaimana caranya pun Chanyeol tidak paham—tapi sepertinya, Baekhyun sengaja menyanyikan lagu itu untuk melempar sindiran keras ke arahnya. Seolah-olah, Baekhyun itu ingin menunjukkan padanya kalau dia itu bisa juga membuka hati buat laki-laki lain.

Chanyeol merasa terhina. Pasalnya, belum ada yang berani memperlakukannya serendah ini. Rasanya kaya dibuang, coy. Sakit. Tapi ya mau bagaimana lagi, wong dia sendiri yang membuat Baekhyun bertingkah seperti itu.

Chanyeol menghela napas. Ia menatap nanar sepatu adidas ori seharga satu setengah jutanya yang kotor terkena lumpur.

"Ma, Chanyeol mau pulang aja,"

.

.

Sementara Chanyeol sedang galau di kursi penonton, tanpa disadari siapapun, Baekhyun nyatanya tengah menyeringai setan sambil terus bernyanyi.

Can you feel me?

I got you.

Ini sudah jam sebelas malam, dan kegiatan pensi baru saja berakhir. Setelah memerintahkan seluruh peserta untuk segera pergi ke ruang transit untuk tidur, para panitia segera bergerak cepat untuk membereskan panggung serta properti pendukung yang sebelumnya sudah mereka buat susah-susah.

Kyungsoo sedang melepas balon warna-warni saat Baekhyun menghampirinya dengan wajah yang kelewat cerah.

Karena memang dasar mulutnya yang mirip cabai rawit, Kyungsoo tidak bisa menahan diri untuk melemparkan satu sindiran yang menurutnya cukup halus. Si belo itu berdehem. Sambil membereskan properti yang belum sempat terlepas, dia segera melancarkan serangan pertama.

"Cie, yang bahagia."

Baekhyun menoleh, dan Kyungsoo hanya memasang wajah datar saat melihat ekspresi sang sahabat yang kini benar-benar mirip matahari di kartun Teletubbies.

Baekhyun memegang erat kedua bahu Kyungsoo.

"Jelas, lah! Tebak siapa yang baru saja duet dengan Instruktur Choi?! Aku, Kyung, aku?! Astagaaa!" Pekik Baekhyun kegirangan sambil melompat-lompat kecil.

Kyungsoo cuma diam sambil menghela napas, terlalu malas untuk memberi respons.

Ya mau dikasih respon apa kalau yang dia dapat itu cuma tanggapan munafik?

Untuk yang baru mengenal Baekhyun beberapa hari, mungkin tidak akan melihat ada yang aneh pada sikapnya. Tapi untuk Kyungsoo yang sudah berteman selama hampir enam belas tahun dengannya, satu kejanggalan yang ada di diri Baekhyun itu benar-benar mudah terlihat oleh matanya.

Dan dia tahu, bukan alasan itu lah yang membuat Baekhyun se-hebring ini.

Kyungsoo mendesah setengah putus asa sambil melepas huruf alfabet yang masih tertempel.

"Jangan keterlaluan, Baek. Nanti kau sendiri yang menyesal." Katanya datar.

Tawa Baekhyun terhenti. Si pendek itu diam, lalu mulai fokus pada wajah Kyungsoo yang memang sejak dulu jutek begitu. Dia melipat tangan di depan dada, hampir mengelak.

Tapi bangsatnya, Kyungsoo lebih dulu menyerobot ucapannya.

"Aku tidak bilang kalau ini tentang Chanyeol-mu, ya," si setan kecil itu menyeringai. "Aku hanya bilang, jangan keterlaluan."

.

Satu, dua, tig—

.

"SIAPA JUGA YANG BERPIKIR TENTANG SI KINGKONG JELEK ITU, HAH?!"

Baekhyun berteriak histeris, membuat beberapa panitia lain mengumpat karena gendang telinga mereka rasanya hampir mati rasa. Gila saja, tiga oktaf, men.

Setelah membanting properti yang tadinya sudah berhasil dia kumpulkan, Baekhyun segera berbalik menjauhi lokasi pensi dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.

Persis anak babi.

Sementara Kyungsoo, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala macam ibu rumah tangga yang sedang menyaksikan anak perempuannya tengah menjalani masa PMS.

"Dasar munafuck."

Terserah saja kalau mau bilang Baekhyun itu sensian, kekanakan, maupun terlalu gampangan. Seriusan, terserah!

Yang penting, jangan bilang kalau dia dan Taeyeon itu benar-benar balikan. Tolong dijaga delusinya, tq.

Baekhyun berdecak sambil mengurek-urek tanah yang terasa basah di tangannya. Setelah acara kabur dari Kyungsoo yang beberapa waktu lalu ia lakukan, kini dirinya tengah berada di samping ruang panitia. Entah melakukan apa.

Gabut tingkat infinity.

Mau balik buat membantu panitia yang lain, tapi kok gengsi. Masa sudah kabur, balik lagi? Ya tidak lucu.

Kepalanya ia sembunyikan di antara lipatan lutut dan sikunya. Sedikit merinding, Baekhyun bergerak mengeratkan almamater DK yang berfungsi sebagai satu-satunya pelapis tambahan bagi tubuhnya yang mulai kedinginan.

Ah, kalau dulu mah, Chanyeol bakal selalu meminjamkan jaket basketnya yang kebesaran pada saat seperti ini. Sambil sok-sok romantis, si jangkung itu juga biasanya akan merangkul pundaknya dengan gentle. Tubuh Chanyeol itu keras, besar dan mendominasi. Ah, pasti hangat sekali ya kalau ada dipelukanny—

Tunggu, kenapa jadi Chanyeol lagi, sih?

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan sedikit keras, ia menampar pipinya sendiri untuk segera sadar.

Baru saja beberapa jam lalu dia berhasil melupakan, masa sekarang ingat lagi? Ya kalau gitu, kapan bisa move on?

Ah, pokoknya tidak boleh! Tidak boleh memikirkan Chanyeol!

'Kan lebih baik memikirkan kekekesalannya terhadap Kyungsoo beberapa jam lalu. Baekhyun berdecak kesal. Ia cuma tidak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki yang mengaku punya IQ 160 tersebut. Apanya yang menyesal, sih? Apanya yang harus disesali dari berduet dengan hot seonbae macam Choi Minho?

"Sendirian saja?"

Baekhyun mendongak, dan menemukan si objek yang baru saja dia bicarakan. Si pendek itu cuma tersenyum canggung sambil menggeser letak duduknya untuk memberi celah agar Minho bisa duduk dengan nyaman.

Minho menghempaskan pantatnya, ikut duduk sehingga sekarang mereka berhadapan. Baekhyun baru sadar jika ia ternyata masih membawa gitar yang beberapa jam lalu mereka gunakan untuk manggung. Dan si ganteng itu tiba-tiba saja memainkan beberapa nada dasar secara random.

Baekhyun jadi keringat dingin. Sambil meremas ujung almamaternya, si pendek itu segera mencari objek pengalih perhatian lain selagi dia berusaha menahan diri agar tidak menjerit histeris. Sumpah, auranya mas Minho itu loh, bikin gaququ gananaaaaa.

"Baekhyun,"

Ada yang punya obat sesak napas? Baekhyun butuh tiga kardus.

"Y—ya?"

Baekhyun butuh oksigen. Baekhyun butuh udara. Baekhyun butuh topeng. Baekhyun butuh Chanyeo—

Tunggu,…apa?

"Masih pacaran sama Chanyeol, ya?"

Minho tiba-tiba saja menatapnya tajam. Baekhyun mendadak beku. Dia mulai merasa tidak nyaman dan akhirnya memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Sudah tidak," jawabnya pelan.

Minho tertawa kecil dengan wajah puas. "Kalau begitu, berarti kesempatan terbuka lebar dong, ya?"

Baekhyun lagi-lagi terdiam. Si pendek itu hanya tertawa canggung sambil mengusap tengkuk.

Dia harus jawab apa?

Chanyeol meneguk sekaleng Sprite yang memang dibawanya dari Seoul tadi siang. Si jangkung itu sedang duduk di atas jok motor besarnya sambil meratapi nasib. Posisinya yang sedang duduk mengangkang macam pengunjung warung memang mirip seperti preman, tapi hatinya sekarang bahkan lebih rapuh daripada helokiti.

Masih sakit, bor .

Ya gimana sih, ibarat kita udah usaha buat jaga perasaan orang lain, walaupun tidak ketara sih, tapi yang dijagain malah seenak pantat deketin cowok lain. Bahkan Chanyeol yakin kalau nenek-nenek sekalipun akan sakit hati kalau digituin.

Kalau boleh bicara dari hati ke hati, Chanyeol sebenarnya juga kaget mendapati dirinya bisa menjadi seperti ini. Si jangkung itu benar-benar tidak menyangka ia bakal begitu sinting hanya karena seorang mantan yang bahkan tidak memenuhi kriterianya.

Baekhyun itu tidak manis, tidak seksi, apalagi baik hati. Tapi entah bagaimana caranya, dari deretan mantannya yang sepanjang kereta, cuma Baekhyun yang bisa membuatnya bertekuk lutut.

Entahlah, Chanyeol sudah dijampi-jampi atau bagaimana juga ia tidak begitu paham. Intinya, Chanyeol bisa begitu terobsesi pada si pendek itu. Bahkan, Baekhyun merupakan mantan satu-satunya yang bisa membuat Chanyeol hampir memohon-mohon untuk balikan pada saat hari di mana mereka putus.

Yah, walaupun seperti biasa, itu tidak pernah terlaksana. Walaupun hatinya benar-benar ingin melakuka hal itu, tapi egonya selalu menang.

Chanyeol menggeram sambil meremas kaleng sodanya sampai tidak berbentuk. Lama-lama dia bisa botak kalau terus menerus mengalami perang batin begini.

.

.

DKS

You have one new message!

.

.

Chanyeol mengernyit ketika notifikasi itu masuk ke dalam ponselnya. Dengan sedikit malas, dia menggambar pola lock screen di atas layar, lalu membuka chat yang baru saja masuk tersebut.

.

.

(23.34) DKS : jalan lo masih panjang buat dapetin baekhyun. Kalo lo mau nyerah, sekarang aja. Daripada nanti-nanti pas lo hampir ada di garis finish, baru kibarin bendera putih. Tapi gue harap lo bukan banci yang bakal berhenti gitu aja.

.

.

Chanyeol cuma bisa menghela napas. Tai lah, dia jadi pusing begini.

Pada akhirnya, dia cuma bisa mengirim satu pesan yang kiranya netral-netral saja.

.

.

(23.36) PCY : just make sure he's fine, su.

.

.

Malam itu Chanyeol habiskan dengan tiga kaleng Sprite beserta pikirannya yang berkecamuk macam badai matahari.

Dan juga,…perut yang berkeruyuk.

.

.

(23.39) PCY : su, mintain makanan dari ruang konsum dong. Sama minum. Kalo ada buah juga sekalian bawain. Tq.

Jam empat pagi.

Baekhyun baru saja memutuskan untuk tidur jam tiga tadi dan sekarang, ia harus bangun demi mempersiapkan kegiatan hiking yang memang akan dimulai jam setengah lima. Serius, tidur singkat begitu bukannya membuat tubuh bugar, malah membuat kepalanya hampir pecah saking peningnya.

Baekhyun ingin pulang saja.

Tapi namanya panitia, ya panitia. Tanggung jawab itu harus selalu diletakkan di atas bahu. Mau tidak mau, ya harus mau.

Sambil melakukan stretching kecil-kecilan, si pendek itu mulai berjalan dengan malas menuju lokasi kegiatan di lapangan kecil yang masih termasuk ke dalam kapling. Sedikit jauh sih, soalnya ada di dekat puncak bukit.

Dengan wajah terkantuk-kantuk, Baekhyun memijak tanah perkebunan yang masih basah terkena embun pagi. Saking ngantuknya, si pendek itu hampir saja kejlungup setiap kali ada batu maupun akar jalar yang besar di depannya.

Dan ketika Baekhyun hampir terjlungup untuk yang kesekian kalinya, ia mendengar satu suara yang terdengar familiar berasal dari tenda senior.

"Baekhyun!"

Baekhyun menoleh, dan ia dapat menjumpai Minho yang sedang melambai ke arahnya. Sepertinya si jangkung itu juga baru saja bangun tidur. Masalahnya rambut sang instruktur yang biasanya rapi dan disugar ke atas itu sekarang tampak berantakan dan tidak beraturan. Persis bulu babi.

Baekhyun tersenyum seadanya sambil melambaikan tangan sebagai respons. Matanya bahkan baru setengah saja yang terbuka. Beleknya masih menempel. Dan dia masih menguap lima belas kali.

Entah karena masih di alam bawah sadarnya atau bagaimana, tapi Baekhyun rasa instrukurnya tersebut pagi ini tampak seperti pangeran di cerita Cinderella. Tinggi, tampan, baik hati. UGH. Baekhyun menyeringai setengah sinting. Minho itu ternyata ganteng sekali, ya?

Chanyeol mah kalah. JAUH.

Dan Baekhyun baru menyadari semua itu sekarang. Ah, goblok sekali dia.

Dan, kembali lagi pada nikmat Tuhan yang baru saja terlimpahkan. Memang benar ya, orang yang bangun pagi itu rejekinya memang lebih banyak. Rasanya, Baekhyun baru saja tertimpa durian bangkok. Ini masih pagi, dan ia sudah disambut dengan pemandangan seindah ini.

Baekhyun hampir meledak saking girangnya.

Eh tapi…kok tiba-tiba jadi gelap?

.

.

"Jangan dilihat, syahwat."

Baekhyun tertegun. Suara berat itu—oh, ya Tuhan, ia baru sadar kalau matanya kini tengah ditutupi oleh satu telapak tangan yang besar dan lebar.

Baekhyun hampir lupa kalau di setiap cerita dongeng, pasti akan selalu ada satu penyihir jahat yang akan menghancurkan segalanya.

Dalam kasus ini, siapa lagi kalau bukan Chanyeol?

Xianjir.

Dengan emosi yang tersulut, Baekhyun dengan cepat-cepat menyingkirkan telapak tangan itu. Saking emosinya, rasa kantuk yang tadi menyerang jadi hilang.

"Apa sih?!" Protesnya. "Ikut campur sekali,"

Chanyeol memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan acuh. Menatap Baekhyun dengan datar, lalu mengangkat bahunya sambil berlalu.

"Anak zaman sekarang, kalau dibilangin malah ngebantah. Nanti pas udah dungdung aja, baru bingung."

Seperti ayah yang sedang menasehati anak perempuannya, Chanyeol berucap. Lalu pergi dengan seenak pantat.

Baekhyun?

Tolong, jangan ditany—

"DASAR SINTING!"

Maklum, lagi PMS.

Baekhyun merengut layaknya babi.

Badak.

Anjing.

Kambing.

Sapi.

Anj, malah jadi peternakan.

Tai.

"AAAAAARGH!"

Baekhyun menjerit frustasi sambil berdiri dari tempat duduknya. Ia memandang ganas sosok jangkung Chanyeol yang kini tengah menatapnya dengan pandangan tanpa dosa.

"Ssst, jangan teriak-teriak," Chanyeol meletakkan telunjuknya di depan bibir Baekhyun. Berlagak macam guru tata krama yang sok terhomat dan beradab. "Tidak sopan,"

Baekhyun menganga dramatis. Dengan cepat, ia menyingkirkan jari besar yang terasa asin tersebut. Eh anjir, si sialan ini sebenarnya habis ngapain?

Si pendek itu melipat tangan sambil matanya disipit-sipitkan. Setelah mengontrol emosi, ia baru berucap.

"Biar ku tanya, ya," ambil napas, buang. Baekhyun tersenyum setengah hati. "Sebenarnya yang lebih tidak sopan itu aku yang berteriak, atau KAU YANG TIBA-TIBA MASUK KE DALAM SELIMUTKU?!"

Oh, ehm. Maaf, lupa dijelaskan situasinya, ehe.

Singkat saja, Baekhyun kini sedang berada di dalam tenda kesehatan karena sebelum itu, tubuhnya hampir membeku sehabis menyiapkan arena hiking. Jadi dia minta tolong saja pada anak PMR supaya dipinjamkan kasur serta selimut seadanya. Awalnya, si pendek itu menggulung diri macam kepompong dengan tenang dan damai. Lalu tiga menit kemudian, si jelek Chanyeol datang dan dengan seenak pantat melakukan hal tidak senonoh itu padanya. Terimakasih.

"Aku hanya butuh kehangatan, Baek. Kenapa pelit sekali, sih? 'Kan selimutnya besar!"

The fuck?!

Katakan pada Baekhyun, sejarah mana yang menyebutkan kalau selimut bayi itu lebar dan cukup untuk menyelimuti dua orang dewasa?

Baekhyun memutar mata, terlalu malas untuk menanggapi. Dan dia hampir saja berhasil kabur saat tangannya dicengkeram halus oleh Chanyeol. Si pendek itu menoleh, hampir memberontak. Tapi dia segera sadar kalau hal itu bukannya akan melepaskan, tapi malah membuat pergelangannya sakit saja.

Jadi, Baekhyun cuma bisa diam sambil mendesah malas.

Ehm, begini ya kawan-kawan. Baekhyun benar-benar masih marah karena kata-kata si jangkung di kebun sawi kemarin masih membekas di hati. Sejujurnya Baekhyun masih tidak ingin bertemu dengan Chanyeol dulu. Karena yaaa—begitulah, bayangkan saja sendiri bagaimana perasaan Baekhyun sekarang.

"Sedang menghindariku, ya?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun cuma bisa tertawa mengejek.

Baru sadar mas, kalau saya ngehindar?

"Tidak, kok."

Baekhyun bisa mendengar lawan bicaranya mendesah berat.

"Dengar,"

Baekhyun diam saja saat Chanyeol memutar tubuhnya sehingga mereka sekarang berhadapan.

"Terserah kalau kamu mau ngehindar terus dari aku atau gimana, terserah. Tapi kalau kamu pikir yang semalam itu membuatku mundur, ya maaf saja. Itu tidak akan terjadi. Aku gak akan berhenti berjuang sampai—"

Tunggu tunggu, kok Baekhyun jadi kebelet ketawa?

"—oh, berjuang ya?" Selanya sinis.

"Okay—ya, baiklah. Mungkin tidak, belum. Tapi kalau kamu kasih aku kesempatan, aku dengan senang hati bakal buktiin kalau aku gak main-main sama kamu."

Baekhyun menghela napas jengah. Jangan harap dia bisa luluh. Sudah ratusan kali dia diberi pernyataan seperti ini dari Chanyeol. Tapi nyatanya apa? Rasio perbandingan antara dapat dipercaya atau tidaknya ucapan si jangkung itu sekitar 50 banding 50.

Otak Baekhyun dengan keras meneriakkan kata bullshit.

"Terserah saja!"

Setelah berhasil melepaskan diri, Baekhyun segera kabur dari dalam tenda. Takut-takut Chanyeol bisa membaca jantungnya yang berdetak tak karuan.

Baekhyun sempat menoleh ke belakang. Dan sial, Chanyeol sedang membuntutinya.

Kyungsoo berkedip lambat-lambat sambil menatap dua tubuh dengan perbedaan tinggi yang mencolok sedang melakukan adegan kejar-kejaran di dekat tenda kesehatan. Baru saja dia keluar dari kamar mandi setelah buang hajat, tapi anehnya, sekarang si mata besar itu merasa mual dan sakit perut kembali.

"Baekhyun sayang, pelan sedikit jalannya! Kakiku capek!"

"Makanya berhenti mengikutiku!"

"Oh ayolah, mana bisa aku jauh-jauh dari calon istriku?"

"Dasar sinting!"

"Baekhyunnie~"

"HYAAA JANGAN PELUK-PELUK, DASAR MESUM!"

"Mesumnya sama kamu doang kok, hehe."

"LEPAS ATAU KU GIGIT?!"

"Gigit saj—ARGH! KENAPA DIGIGIT?"

"JANGAN BERTERIAK, KUPINGKU SAKIT!"

"SITU JUGA TERIAK, GOBLOK!"

"OH, GITU? OKE! SEKARANG BIARKAN BAEKHYUN YANG GOBLOK INI PERGI. MINGGIR!"

"H—hey, bukan begitu maksudnya. Tunggu dulu,…BAEK! JANGAN LARI, NANTI ANAK KITA KEGUGURAN!"

"DASAR GILA!"

Pintu kamar mandi kembali menutup. Keran dinyalakan keras-keras, dan Kyungsoo sibuk muntah di dalamnya.

.

End of Chapter

.

Javanesse Dictionary:

[ 1 ] Remuk bakule pecel:suatu ungkapan yang biasa digunakan untuk memisalkan sesuatu yang benar-benar membuat hancur atau merugikan.

[ 2 ] Kejlungup: jatuh ke depan.

.

Behind the Bar:

Da real story is just begin BHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHahahah…hah.