"Argh!" Yesung memekik memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. "Yesung?!" Panik Heecul melihat adiknya yang hampir jatuh dari kursi meja makan.

Lima menit yang lalu mereka berempat makan dengan santai sebelum dengan spontan Yesung memegang dada kirinya, napasnya terasa sesak seolah tenggorokannya tertahan sesuatu teramat keras membuat oksigen sukar masuk.

"Yesung!" Panik Ayah, Ibu dan Heechul melihat adiknya benar-benar jatuh ke lantai nan dingin.

XXX

"Kenapa sekarang dad melarangku menjemput Yesung?" Ayah Kyuhyun hendak membuka suara. ".. jelas-jelas Yesung anak Im Yoon Ah…" Desis Kyuhyun saat sang Ayah tercinta mengatakan tak usah susah-susah membawa Yesung kembali ke dunia vampir. "Bukannya dad melarang…" Jelas Ayah Kyuhyun berusaha menenangkan anaknya.

"Dad dengar akhir-akhir ini organisasi yang dulu menangkapmu sudah berganti nama jadi Vampkill dan mereka semakin gencar mencari keberadaan kaum kita…" Kyuhyun terdiam. "Sebaiknya kau jangan ke dunia manusia dulu sampai mereka benar-benar menyerah."

"Tapi bagaimana dengan Yesung?" Lirih Kyuhyun kalut. "Selama dia tidak sepenuhnya berubah menjadi vampir, organisasi itu tidak akan bisa mendeteksinya." Kyuhyun hanya bisa diam. Perasaannya campur aduk namun takutlah yang lebih mendominasi.

"Aku sudah pernah melakukan itu dengannya…" Ayah Kyuhyun menatap tak percaya pada lelaki di sampingnya, Kyuhyun terlihat malu sekaligus menyesal. "Apa? Kapan?" Reaksi Ayah Kyuhyun sangat berlebihan di mata sang anak. "Musim panas dua bulan lalu."

"Butuh waktu lama bagi Yesung untuk berubah ke wujud sebenarnya. Apalagi seumur hidup dia tinggal di dunia manusia, tenang saja." Ucap Ayah Kyuhyun meyakinkan.

Tanpa ingin mendengar penjelasan lebih lanjut, Kyuhyun berteleportasi.

XXX

Besok pagi Yesung tidak masuk sekolah dan hanya membaringkan diri di atas ranjang. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan bibir agak melepuh.

Dari raut wajahnya ia terlihat sangat menderita, Yesung menyibak selimut merasa kepanasan, ia yakin AC menyala dan jendela terbuka. Hanya saja rasa panas di tubuhnya tak kunjung berkurang, yang ada ia semakin kepanasan hingga Yesung putuskan melepas baju.

'Yesung…' Yesung membuka mata mendengar seseorang memanggilnya. "Kyuhyun…" Gumam Yesung lemah. "Bukannya kau sudah memutus telepati kita?" Lanjutnya dengan suara serak. 'Aku tak benar-benar melakukannya.' Lama terdiam. 'Kau sakit?'

"Hmm…" Mata Yesung kembali terpejam. 'Aku bisa mengunjungimu kalau kau di sekolah, tapi maaf aku tak bisa ke sana sekarang. Ku dengar di dekat rumahmu ada organisasi yang dulu menangkapku.' Yesung melirik ke luar jendela dan bisa melihat mobil van hitam bertulis Vampkill selama berhari-hari terparkir di sana, hanya sesekali sang pemilik van keluar mobil entah untuk membeli makan atau apa.

"Iya, Kyu." Balas Yesung singkat, merasa terlampau lemah untuk bicara panjang. 'Yesung, kenapa kau bisa sakit?' Yesung menelan salivanya kesusahan. "Tidak tahu, kemarin aku makan kimchi dan tiba-tiba dadaku sakit." Kyuhyun tidak membalas.

'Apa kimchi itu ada bawang?' Yesung berusaha mengingat dan matanya sedikit melebar. "Iya…"

'Yesung kau tahu?'

"Apa?"

"Yesung!"

BRAK

Mata Yesung membulat sebulat-bulatnya mendengar pintu dibuka kasar. "Astaga Hyuk! Ketuk pintu tidak bisa ya?!" Yang ditanya hanya nyengir aneh. "Untuk apa kesini?" Kesal sekali rasanya punya teman seperti ini, masuk seenaknya. "Lagian, kenapa mereka memperbolehkanmu masuk!?" Seru Yesung lagi.

"Niat kami baik." Suara Donghae terdengar diiringi kemunculan dirinya dari belakang Hyuk Jae. "Kami bawakan buah!" Mereka berdua mendekat dan meletakan keranjang berisi buah-buahan di atas meja kecil samping ranjang. Yesung hanya bergumam.

"Akhir-akhir ini kau sering sekali sakit," Gumam Donghae sambil menatap iba ke arah –tubuh- Yesung. "Ya begitulah…" Balas Yesung ogah-ogahan.

"Mau makan buah apa, Yesung?" Tawar Hyuk Jae yang sudah memegang pisau kecil. "Pir saja." Mata Yesung terarah ke luar jendela, menatap awan hitam mulai menutupi birunya langit.

"Ini." Hyuk Jae menyerahkan garpu yang sudah tertancap potongan pir di atasnya, Yesung berbangun dan merasakan kepalanya berdenyut hebat, ringisan keluar dari bibir yang dulunya selalu bewarna kemerahan.

Yesung membuka mulut dan memasukan potongan kecil pir tadi namun… "Blek.." /? Yesung memuntahkannya, seolah sistem pencernaannya menolak masukya buah tersebut. "Lohh Yesung kenapa?!" Donghae segera memberikan gelas berisi air dan Yesung langsung meninumnya. "Aneh, tubuhku rasanya terbakar…" Gumam Yesung terlampau lemah hingga dua temannya itu tak mendengar.

'Yesung… kau kenapa sayang?!' Tentu saja Kyuhyun yang keberadaannya entah di mana khawatir mendegar suara Yesung muntah. "Tidak, aku baik-baik saja."

Hei Kim Yesung! Apa kau lupa? Pikiranmu terhubung ke otak bodohnya Cho Kyuhyun.

Sementara Kyuhyun di sana hanya bisa bersedih mendengar kebohongan kekasihnya.

XXX

Dua hari kemudian kondisi Yesung normal kembali, ia bersekolah seperti biasa dan menerima pelajaran seperti biasa. Namun ada sesuatu yang tidak biasa saat jam istirahat tiba, saat ia, Hyuk Jae serta Donghae makan di kantin sekolah, terdengar teriakan yeoja-yeoja seperti kegirangan, bahka para guru perempuan dan lelaki yang berstatus uke berkumpul mengekor di belakang seorang pria bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam.

Yesung yang awalnya fokus minum susu dan memperhatikan televisi tak menyadari bahwa sosok yang sedaritadi menjadi buah bibir warga sekolah sudah berada di sampingnya. "Ahjussi!" Seru Donghae membuat Yesung menatap sang pemilik suara, ia mengikuti arah pandang Donghae dan menemukan wajah Kyuhyun dengan bibir tersenyum sumringah.

"Bagaimana kabarmu sayang?" Kyuhyun segera memeluk Yesung membuat para manusia yang sedaritadi mengikuti Cho Kyuhyun memekik tidak percaya. "Apa yang kau lakukan disini?!" Yesung mendorong Kyuhyun meminta penjelasan. "Tentu saja menemuimu, apa lagi?" Yesung tahu itu tujuan Kyuhyun, namun mengapa harus di sekolah?

"Di rumahmu bahaya, sayang." Yesung memejamkan matanya. Sungguh, ia tak menyangka jika lelaki bodoh di depannya ini sama sekali tidak berubah. "Kita ke tempat lain yuk, di sini terlalu ramai." Kyuhyun menarik tangan Yesung, menyeretnya melalui kerumunan manusia yang berkumpul di sana.

"Jadi Yesung sungguh pacaran dengan om-om?!" Entah datang dari mana namun kini Song Ji Hyo sudah duduk di depan HaeHyuk. "Apa kau pernah dengar, gosip yang kami sebarkan adalah bohong?" Tanya Hyuk Jae sambil mengangkat sebelah alisnya. "Gosip itu fakta yang tertunda, Hyo-ah." Lanjut Donghae lalu kembali fokus pada makan siangnya, tak mempedulikan Ji Hyo yang dilanda ketidak percayaan luar biasa.

Sementara itu Kyuhyun terus menarik Yesung tanpa tahu harus kemana, pergelangan tangan di genggaman Kyuhyun terasa memanas yang dapat diyakini pergelangan itu memerah. Terbukti dari Yesung yang terus berusaha lepas dan meneriakkan nama Kyuhyun membuat lelaki itu berhenti untuk menatap ke belakang, di mana ia menemukan wajah kesal dari orang yang sangat ia rindukan.

"Lama tidak bertemu, ku kira kau tambah pintar!" Seru Yesung kesal. Untung saja saat ini mereka berada di koridor sepi menuju lapangan sekolah di lantai dasar. "Bodoh sekali kau menampakkan diri di sini." Lanjutnya. "Yesung…" Kyuhyun menghadap remaja itu dan memegang pundaknya. "Aku tak tahu lagi harus menemuimu di mana, sedangkan di dekat rumahmu ada organisasi sialan itu." Yesung terdiam. "Aku tak tahan lagi Yesung-ah, aku sangat merindukanmu." Kyuhyun menarik Yesung ke pelukannya.

"Maaf jika di matamu aku tak berubah." Bisik Kyuhyun parau. "Iya, iya." Hanya itu balasan Yesung. "Kyu, sebaiknya kita ke belakang sekolah saja."

"Disana panas Yesung-ah," Susah sekali berhubungan dengan vampir, pikir Yesung kesal kemudian melepaskan pelukan Kyuhyun. "Aku tahu kita harus kemana."

Sedetik setelah mengucapkan itu mereka berdua menghilang.

XXX

Yesung menatap kagum sekelilingnya, terutama pada matahari yang di apit antara dua gunung. Cahaya matahari memang bersinar cerah, hanya saja biasnya tidak sampai pada kota yang sekarang memuat keberadaan mereka.

"Indah bukan?" Suara itu menyadarkan Yesung. "Sungguh ajaib." Gumam Yesung dapat balasan senyum dari Kyuhyun. "Banyak vampir di kota ini," Yesung mendongak agar bisa melihat mata Cho Kyuhyun. "Disini, kami bisa menikmati cahaya matahari tanpa takut biasnya mengenai kulit kami." Kyuhyun menunduk dan menemukan tatapan Yesung terpusat ke matanya.

"Lalu mau apa kita di sini?" Lelaki tinggi itu tersenyum. "Aku punya kenalan dan ku rasa aku bisa menyewa rumahnya satu atau dua hari." Yesung ber-hah-ria. "Maksudmu apa? Kau berniat menginap dan mengikut sertakan aku?" Kyuhyun mengangguk. "Kyuhyun, aku juga punya kehidupan di Korea! Aku harus sekolah, dan orang tuaku pasti khawatir kalau aku tidak pulang." Rasanya ia ingin marah.

Namun tidak dipungkiri sebenarnyapun ia ingin menikmati kota tanpa bias matahari ini. Menginap satu atau beberapa malam bukanlah ide buruk. Hanya saja jika dipikirkan baik-baik, mustahil. Bagaimanapun ia masih pelajar dan merupakan anak dari Ibu-Ayahnya, meski bukan kandung.

"Kau bisa minta ijin pada mereka." Usul Kyuhyun bisa dibilang cemerlang. "Tapi mau apa kita di sini?" Yesung mau tapi masih ragu. "Tidak rindu aku, ya?" Goda Kyuhyun berhasil memerahkan kedua pipi Yesung. "Bukan begitu…"

"Kalau begitu, kita jalan-jalan saja untuk hari ini, lalu sore kita bisa pulang." Tanpa mau mendengar tolakan dari Yesung, Kyuhyun menarik tangan lelaki itu, meski kesusahan diawal, namun akhirnya Yesung bisa mengimbangi langkah lebar Kyuhyun dan mereka berjalan beriringan.

"Kenapa bisa sinar matahari tidak sampai ke kota ini, padahal mataharinya kelihatan." Tatapan Yesung tidak lepas dari matahari di antara gunung tersebut. "Pikirkan saja sendiri, kau kan pintar." Setelah mengatakan itu Kyuhyun tertawa.

"Yesung…" Panggilnya kemudian tanpa menghentikan langkah.

Di samping kiri-kanan mereka hanya terdapat rumah-rumah berjejer rapi, tepat beberapa meter di depan ada sebuah taman, Kyuhyun berencana membawa Yesung ke sana.

"Ada apa?" Sahut yang dipanggil.

"Aku merindukanmu." Tidak ada jawaban hingga kaki keduanya menapaki jembatan yang di bawahnya mengalir sungai, airnya jernih dan begitu bening.

"Apanya?" Kyuhyun menghentikan langkahnya lalu berdiri menghadap Yesung, sambil memegang kedua pundak remaja itu, Kyuhyun menatap tepat ke arah mata Yesung lalu berujar. "… musim panas… dua bulan lalu…" Seketika wajah Yesung memerah mengingat kejadian panas di musim panas yang sumpah membuat ia malu ketika mengingatnya.

"Apa itu…??" Yesung mengalihkan perhatian dengan menunjuk kalung berbentuk salib yang dikenakan Kyuhyun. Memang sedaritadi ia memperhatikan benda tersebut, setahunya vampir membenci benda-benda suci termasuk rosario, lalu kenapa sekarang Kyuhyun malah memakainya? Terlebih sedaritadi benda itu menyala, memancarkan warna merah walau tak terlalu terang.

"Rosario." Yesung kembali memfokuskan tatapannya pada Kyuhyun. "Untuk apa?"

"Kau tahu, Yesung?" Untuk beberapa lama mereka terdiam.

"Pria yang dijodohkan denganku hilang, bukan hilang sih, tapi dibuang ke dunia manusia."

"Apa hubungannya denganku?" Yesung terlihat risih, ia memilih memandang pada perahu yang menjomblo di pinggiran sungai, nampak bergerak-gerak kecil karena aliran sungai. "Rosario ini, aku memakainya karena dia dapat membantuku menemukan Ye In." Yesung tersenyum miring, ia melepaskan tangan Kyuhyun dari pundaknya dan berjalan tanpa mempedulikan Kyuhyun yang mungkin sakit hati akan ulahnya.

"Yesung…" Tangan Yesung ditarik dan sedetik kemudian ia sudah berada dalam dekapan Kyuhyun. "Yoon Ah bilang, jika aku berdekatan dengan Ye In, maka rosario ini akan berubah warna." Lanjutnya tanpa mempedulikan Yesung berontak.

"Aku tak ingin dengar apapun Kyuhyun-ah!" Seru Yesung kesal. "Dengarkan dulu, sayang…" Kyuhyun memegang pipi Yesung dengan kedua telapak tangannya, mencium singkat bibir remaja itu sebelum kembali berujar. "Percaya atau tidak… Kau adalah Ye In…"

To Be Contine

Sebenernya mau end in di chap ini tp ntah kenapa buntu ide. Maap ya. Chap dpn d usahain end.