Bagaimana perasaanmu saat menjadi nyamuk diantara beberapa pasangan yang tengah memadu kasih di sekitarmu? Kesal, sebal, jengah, atau iri? Coba kita tanyakan pada dua orang yang tengah terperangkap pada situasi semacam itu. Kim Jonghyun dan Park Woojin, duo senior-junior yang saat ini tengah merangkap sebagai nyamuk-nyamuk kesepian. Salahkan kedua pasangan mereka yang absen hari ini.

Ingin rasanya Jonghyun segera angkat kaki dari tempat itu, kuliahnya sudah selesai hari ini. Tapi jika ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya maka ia akan kesepian. Tidak ada Minhyun disana, dan ia tidak suka sendiri di apartemen luasnya. Membayangkan dirinya hanya akan bermalas-malasan di tempat tidur, atau hanya bermain video games di ruang tengah. Sudah biasa, ia akan cepat bosan. Jadi tidak ada salahnya ia bertahan sedikit lebih lama bersama mahluk-mahluk yang sedang dimabuk cinta ini. Lagipula ia tak sendirian, ada Park Woojin yang sedang bengong di sudut meja.

Memilih untuk menghampiri Woojin, Jonghyun menggeser duduknya, bertukar tempat dengan Daehwi yang duduk di hadapan Woojin.

"Hey hyung kenapa pindah? Kau tidak berfikir untuk mengajakku selingkuhkan? Aku masih doyan uke hyung," tanya Woojin saat ia sadar bahwa Jonghyun telah berada di depannya. Ia lebih memilih mojok sendiri daripada berada di tengah-tengah yang lain. Tidak tahan mendengar gombalan murahan Guanlin untuk si anak piyak. Woojin rasanya ingin muntah. Bisa-bisanya si anak piyak Yoo Seonho itu suka padanya. Ahh iyaa.. dia kan masih polos.

"Aku kasihan melihatmu menjomblo sendiri, jadi yaa kutemani saja," Jonghyun berucap datar. Tidak mempedulikan raut kesal Woojin yang dikatai jomblo. Ia kembali memeriksa ponselnya. Mengecek apakah ada notifikasi dari Minhyun atau tidak. Linenya belum dibalas, dibaca pun tidak. Jonghyun jadi kesal sendiri melihatnya.

"Seperti kau tidak saja hyung,"

Jonghyun hanya mendengus menanggapinya. Moodnya kurang baik hari ini, dari pagi hingga siang ini Minhyun susah sekali dihubungi. Tak tahukah ia bahwa Jonghyun khawatir. Senang sekali bungsu Hwang itu membuatnya seperti ini. Lihat saja nanti, Jonghyun akan memberikannya hukuman.

.

.

Sebuah sedan silver terlihat terparkir di depan rumah keluarga Park. Seorang yang duduk di belakang kursi kemudi segera turun dan berlari memutar untuk membuka pintu di sampingnya, membantu seseorang untuk turun. Tangannya dengan lembut menggenggam telapak tangan sang kekasih, berhati-hati agar tidak menyentuh bekas suntikan jarum infusnya. Sedangkan satu orang pemuda turun dari kursi belakang sambil menenteng beberapa tas yang berisi perlengkapan si mantan pasien.

"Kau bisa berjalan?"

"Aku bisa Bae.. terima kasih," Jihoon tersenyum, tangannya masih digenggang Baejin takut-takut kalau kekasih manisnya itu tiba-tiba saja oleng. Sebenarnya Jihoon sudah merasa jauh lebih baik, tapi rasa pusingnya kadang-kadang timbul. Jadi ia berjalan pelan-pelan sambil menggenggam tangan Baejin. Ia menoleh ke belakang untuk melihat sahabat yang ikut menjemputnya tadi terlihat sedikit kesusahan membawa barang-barangnya. Ia jadi tak enak pada Hyungseob.

"Kau bantu saja Hyungseob, aku bisa berjalan sendiri Bae,"

"Tidak tidak.. tetaplah jaga dia Baejin. Aku tahu kau masih kurang fit, wajahmu masih pucat Jihoon sayang," Hyungseob tentu saja menolak usul Jihoon. Dia tak mau melihat Jihoon jatuh saat berjalan nanti. Lagipula dia masih bisa mebawa barang-barang itu, jangan remehkan Hyungseob yang sudah bisa mengangkat air gallon sendiri.

Mereka bertiga masuk ke dalam rumah setelah di sambut oleh pelayan di depan. Mengambil alih barang bawaan Jihoon yang dibawa Hyungseob tadi. Jihoon memang pulang ke rumahnya, bukan apartemen. Ibunya memang menyuruh Jihoon untuk pulang agar ia bisa memantau kesehatan Jihoon untuk sementara. Ia tidak mau melihat anaknya sakit akibat diet lagi. Nanti setelah Jihoon benar-benar pulih baru ia boleh kembali ke apartemennya sendiri.

Baejin dan Hyungseob membantu Jihoon untuk beristirahat di dalam kamarnya. Membiarkan ibu Jihoon untuk melihat kondisi putra kesayangannya.

"Jangan lakukan itu lagi, kau membuat ibu takut sayang. Jangan lakukan itu lagi yaa.." nyonya Park mengelus pelan pipi chubby putranya yang sedikit menirus. Ia sedih melihat putranya seperti ini. Dengan penuh kasih ia mengecup puncak kepala Jihoon. "Istirahatlah, ibu ada di bawah jika kau butuh sesuatu," dan dengan itu Ibu Jihoon melangkah keluar dari kamar putranya.

Sebelum ia menutup pintu, ia berbalik dan menghampiri Baejin dan Hyungseob yang berdiri di samping ranjang Jihoon. Dengan senyum keibuannya ia mengucapkan terima kasih pada keduanya karena telah membantu Jihoon. Jika tak ditemukan Baejin maka apa yang akan terjadi pada putranya?

"Baejin, Hyungseob terima kasih sudah membantu Jihoon. Bibi sangat senang karena Jihoon memiliki kalian. Bibi titip Jihoon ya sayang,"

"Tentu saja, bibi jangan khawatir kami pasti akan menjaga Jihoon, iya kan Baejin?"

Baejin hanya mengangguk dan tersenyum pada ibu dari kekasihnya itu. Di dalam hati ia berjanji akan selalu menjaga Jihoon. Menjadi penopangnya dan akan selalu ada untuk pemuda manis itu.

"Terima kasih, kalau begitu bibi tinggal dulu yaa,"

Setelah ibu Jihoon keluar, Hyungseob dan Baejin segera menghampiri Jihoon yang tengah berbaring di ranjangnya. Dari tadi ia hanya diam memperhatikan, tersenyum melihat interaksi orang-orang yang begitu peduli padanya.

"Hey kau dengar itu? Kami akan selalu ada untukmu Park Jihoon. Tak peduli seperti apa dirimu, mau kau kurus atau gemuk, pintar atau bodoh itu semua bukan masalah. Kau tetap Park Jihoon kami, dan akan selalu begitu. Seharusnya akulah yang berterimakasi pada bibi karena telah melahirkanmu ke dunia ini. Park Jihoonku yang manis dan menggemaskan. Tolong jangan pikirkan apa kata orang lain yang merendahkanmu, mereka hanya iri padamu sayang. Iri pada satu-satunya kekasihku ini. Kau harus ingat ini Park Jihoon, bahwa mencintai sebatas fisik bukanlah cinta yang sesungguhnya. Aku mencintaimu karena kau, kau adalah Park Jihoon, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu. Jadi jangan pernah berfikir bahwa kau tak pantas untuk berjalan di sampingku, kau mengerti?"

Itu adalah kalimat terpanjang Baejin yang Jihoon pernah dengar. Ia tak bisa menahan perasaan hangat yang membuncah di hatinya, melihat ketulusan Baejin. Air matanya mengalir pelan. Segera saja ia bangkit dari tidurnya dan memeluk Baejin erat. Menenggelamkan wajahnya pada dada Baejin, menikmati setiap usapan lembut Baejin di punggung dan kepalanya.

Hyungseob yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum bahagia. Ia tak menyangka bahwa Baejin yang terkenal pendiam itu bisa berkata begitu romantisnya. Ia jadi ingin melihat Woojin bersikap romantic seperti itu, mengingat si gingsul kesayangannya itu terkesan cuek dan apatis tapi Hyungseob tetap cinta. Uhh Hyungseob jadi rindu Woojinnya.

.

.

"Mau tambah lagi hyung?" Minhyun bertanya pada pemuda yang baru saja menyelesaikan mangkuk ramyun ketiganya. Dia tak habis pikir bagaimana hyungnya itu bisa makan sebanyak itu, entah lapar atau memang doyan. "Kau terlihat seperti tak makan berhari-hari hyung,"

"Kau tahu sweetie, sangat sulit menemukan ramyun seenak ini di Amerika sana. Jangan salahkan aku okey," jawabnya sambil terkekeh pelan dan meletakkan sumpit ramyunnya.

Beberapa tahun di Negara Adidaya itu membuat ia merindukan makanan khas Korea ini. Mengingat tak banyak restoran asia yang menjualnya disana. Ia harus puas hanya dengan roti, sereal, dan jangan lupakan junk food. Jadi jangan salahkan ia jika makan seperti orang kelaparan saat bertemu dengan mie kuah bernama ramyun.

Mereka memang memilih untuk makan siang di kedai ramyun pinggir jalan setelah dari bandara. Kedai kecil yang cukup ramai. Memarkirkan mobil mereka agak jauh dari kedai tersebut, mengingat ini sudah siang hari dan biasanya para pekerja keluar untuk membeli makan. Mengisi perut-perut kelaparan mereka setelah setengah hari berkutat dengan kesibukan.

Omong-omong kesibukan, Minhyun jadi teringat kekasihnya. Belakangan ini Jonghyun memang sedikit sibuk dengan urusan kampusnya. Itu sebabnya Minhyun menolak saat Jonghyun ingin mengantarnya kemarin. Ia tak ingin melihat kekasihnya itu kelelahan.

Ia baru akan menghubungi Jonghyun saat menyadari bahwa ponselnya tertinggal di dalam mobil. Oh Jonghyun pasti sudah khawatir sekarang karena Minhyun tak menghubunginya dari tadi. Buru-buru ia mengajak hyungnya untuk kembali dan segera pulang untuk meminta maaf pada Jonghyun.

Benar saja, ponselnya tergeletak dikursi kemudi saat mereka sudah memasuki mobil. Buru-buru Minhyun mengecek ponselnya, namun ponselnya tak mau menyala. Oh astaga ia lupa menchargernya tadi. Untung saja ia membawa power bank di tasnya. Membuka tas tersebut dan mencari benda itu, mata Minhyun melihat kertas yang kemarin ia pungut di rumah sakit. Ia juga lupa akan mengantarkannya hari ini, untung saja ia melihatnya.

"Hyung kau tidak keberatan kalau kita mampir ke rumah sakit sebentar?"

"Ke rumah sakit? Untuk apa? Apa kau sakit sweetie?"

"Tidak, ada yang ingin aku antarkan, tapi jika kau kelelahan kita bisa langsung pulang saja," ucap Minhyun. Ia tak enak melihat hyungnya. Ia pasti kelelahan setelah menempuh penerbangan berjam-jam dari Amerika ke Korea.

"Tak masalah sweetie," dan dengan itu Minhyun mulai menjalankan mobilnya menuju Seoul International Hospital.

.

.

Seoul International Hospital

Seokjin yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan rutin segera kembali ke ruangannya. Meletakkan berkas-berkas laporan pasien di atas meja dan menyenderkan punggungnya di kursi kerja. Melepas penatnya sejenak sambil memijit pangkal hidungnya. Dia memang tak menangani banyak pasien, namun beberapa pasien khusus yang ditanganinya memiliki kondisi yang cukup buruk, terlebih lagi pasien favoritnya itu. Seokjin masih merasa ngeri saat membaca kembali berkas-berkas laporan pasiennya dari dokter lamanya.

Ketukan pelan pada pintu ruang kerjanya mengalihkan atensi Seokjin. Ini masih jam istirahat, jadi siapa gerangan yang ada dibalik pintu tersebut? Setahunya suster-suster yang bekerja bersamanya sedang beristirahat. Ataukah ada kondisi darurat? Ia menahan napas. "Masuk," katanya pelan.

Sebuah kepala bersurai hitam menyembul dari balik pintu. Gigi-gigi putihnya yang rapi tampak manis saat si pemilik tersenyum ke arahnya. Dengan perlahan ia melangkah memasuk dan menghampiri Seokjin di meja kerjanya.

"Bolos lagi Hwang Minhyun?"

"Ani.. aku sudah izin pada Jonghyun tadi pagi hyung,"

Seokjin hanya tersenyum mendengarnya. "Harusnya kau izin dengan dosenmu, bukan dengan Jonghyun, Minhyunie. Duduklah! Sampai kapan kau mau berdiri di depanku. Leherku pegal harus mendongak melihatmu," candanya.

Segera saja Minhyun menarik kursi di depannya dan menyamankan diri disana. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan kertas yang hendak ia serahkan pada Seokjin.

"Apa itu?"

"Anu.. itu.. aku ingin menyerahkan ini padamu hyung," jawab Minhyun sambil menyodorkan kertas yang berada di tangannya pada Seokjin.

"Kemarin aku tidak sengaja menabrak seorang suster dan menjatuhkan berkas yang ia bawa. Kertas ini sepertinya tertinggal saat kami mengumpulkannya. Aku ingin mengembalikannya pada suster itu tapi aku tak menemukannya, jadi aku ingin minta tolong pada hyung untuk menyerahkannya."

"Ohh arraseo.."

"Sebelumnya maaf merepotkanmu hyung tapi saat ini aku sedikit buru-buru jadi aku akan segera pamit, maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu dan terima kasih hyung," setalah Seokjin mengangguk memperilahkannya, segera saja Minhyun berdiri dan pamit dari hadapan Seokjin. Ia tak ingin meninggalkan hyungnya lebih lama di dalam mobil.

Beberapa langkah setelah ia keluar dari ruang kerja Seokjin, seorang pemuda melangkah melewatinya. Ia seperti familiar dengan wajah pemuda itu. Tapi siapa? Bibir tebal dan mata sipitnya sungguh tak asing bagi Minhyun. Ia terus mengingat-ingat, sampai sebuah nama muncul dalam ingatan masa kecilnya. Park Jimin? Pikir Minhyun ragu. Baru saja ia akan berbalik untuk memanggil pemuda itu, namun suara deringan ponselnya membuat ia mengurungkan niatnya. Ternyata Minki.

Minki mengabarkan bahwa ia sedang berada di apartemen Jonghyun bersama dengan Dongho. Ia heran kenapa seharian tak melihat Minhyun. Dan mengeluh betapa menyebalkan seorang Kim Jonghyun saat ini. Memonopoli Kang Dongho dengan mengajaknya untuk bermain video games yang berakhir dengan diabaikannya seorang Choi Minki. Ia menyuruh Minhyun untuk segera menyusul mereka ke apartemen Jonghyun. Minki sudah tidak tahan diabaikan oleh dua orang itu. Sebagai permintaan maaf, Minhyun berencana untuk membelikannya pizza saat pulang nanti.

.

.

Dua dari tiga mahluk yang mengisi ruang tengah apartemen Kim Jonghyun terlihat serius memerhatikan tv flat di depannya. Menampilkan games yang saat ini Kim Jonghyun dan Kang Dongho mainkan. Sesekali umpatan atau ejekan terdengar dari bibir keduanya. Menghiraukan satu lagi mahluk yang sedari tadi mendengus sebal karena diabaikan oleh kekasih dan sahabatnya.

Minki menatap bosan keduanya, ia sudah lelah meminta keduanya untuk menghentikan game mereka. Namun apa daya, game dan seme adalah dua kombinasi yang susah untuk dipisahkan. Game sudah seperti pacar kedua, atau bahkan pertama bagi mereka.

Memilih untuk beranjak ke dapur, Minki membuka lemari es dan mencari beberapa cemilan disana. Namun harapannya pupus saat melihat barisan botol berisi air mineral saja yang berjejer indah. Beberapa bahan makanan mentah juga ada, hanya saja Minki terlalu malas untuk memasak. Dengan kesal ia membanting pintu lemari es dan berteriak lapar. Dongho yang mendengar kekasihnya berteriak hanya menoleh sebentar dan melanjutkan permainannya. Kasihan sekali kau Choi Minki.

Berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki, Minki kembali menaiki sofa di belakang Dongho. Mencolek punggung Dongho yang duduk di bawah sofa, memintanya untuk membelikan ia makanan.

"Pesan saja, biar nanti aku yang bayar," itu kata Dongho tanpa menoleh ke arah Minki.

Belum sempat Minki memesan makanan di salah satu restoran cepat saji, pintu apartemen Jonghyu terbuka. Derap langkah seseorang yang mendekati ruang tengah terdengar samar. Pasti Minhyun, pikir Minki. Ia bisa meminta Minhyun untuk memasakkan makanan untuknya haha.

"Aku pulang," itu suara Minhyun.

Benar saja, pemuda Hwang itu muncul di hadapan ketiganya dengan membawa kantong plastik besar berisi beberapa kotak pizza dan berbagai macam camilan di dalamnya. Ketiganya menatap Minhyun yang berdiri di depan mereka bersama seseorang.

"Aron hyung!" koor mereka.

"Oh my God! OH. MY. GOD! What happen?" itu Minki yang segera lompat dari atas sofa dan berlari ke arah dua orang di depannya dengan wajah shock.

Segera saja ia merebut kantong plastik berisi pizza dari tangan Minhyun dengan wajah berbinar. Minhyun hanya bisa bengong melihatnya.

"Ternyata aku kalah oleh sekantung pizza. Lihat, Minki bahkan lebih merindukan pizza daripada aku," kata Aron pura-pura sedih. Ia menampilkan wajah terluka melihat kelakuan Minki. Dalam hatinya ia menertawakan ekspresi terkejut dari tiga dongsaengnya.

"Aron hyung!" Minki yang mendengar suara Aron tentu saja langsung menoleh kaget ke arah Aron dan segera memeluknya. Ia tadi memang melihat Minhyun datang dengan seseorang, namun tak memperhatikannya. Ia terlalu fokus pada pizza yang dibawa Minhyun.

Aron balas memeluk si manis bungsu Choi itu. Mengusap pelan kepalanya dan berputar-putar seperti anak kecil. "Kalian juga tidak merindukanku?" tanya Aron pada dua dongsaengnya yang lain.

Serta merta Jonghyun dan Dongho berlari untuk memeluknya juga. Minki yang masih berada dalam pelukan Aron tak mau lepas. Jadilah mereka melakukan group hug. Minhyun yang melihat mereka hanya tertawa senang, ia pun menyusul keempatnya untuk saling berpelukan.

Setelah selesai dengan acara melepas rindu mereka, kelimanya duduk di ruang tengah sambil memakan makanan yang dibawakan Aron dan Minhyun. Minki dan Minhyun sedari tadi tak mau jauh dari Aron, mereka terus saja menempeli hyung tertua mereka itu. Mengabaikan keluhan Dongho dan Jonghyun yang juga ingin bersama Aron. Balas dendam katanya, karena seharian tadi ia diabaikan oleh keduanya.

"Hyung kenapa kau tak memberi tahu kami kalau kau akan pulang?" kali ini Jonghyun yang bertanya.

"Hm? Sengaja.. aku ingin memberikan kejutan untuk kalian, jadi aku hanya memberi tahu Minhyunie haha,"

"Kenapa hanya Minyeon yang kau beritahu? Aku kan juga bisa hyung," protes Minki.

"Kau tak tahu resikonya jika membiarkan Minhyun menjemputmu dan menyetir sendiri hyung,"

"Sebenarnya aku ingin mengabarimu Princess, tetapi mengingat kalau kau gampang keceplosan aku jadi ragu. Sementara itu aku tak mungkin meminta Dongho untuk menjemputku, aku tak yakin dia bisa bangun pagi haha.." suara dengusan Dongho terdengar setelahnya. Ia ingin mengelak, tapi apa yang dikatakan hyungnya itu memang benar. Dia memang susah bangun pagi.

"Jika aku meminta Jonghyun untuk menjemputku, ia pasti juga akan mengajak Minhyun bersamanya. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau tak betah berpisah dengan kekasihmu ini, hey Kim Jonghyun!" ledek Aron. "Nanti kejutanku bisa batalkan haha. Makanya aku hanya mengabari Minhyun dan memintanya untuk menjemputku tadi pagi," lanjutnya.

Ketiganya hanya mengangguk mendengar penjelasan Aron. Aron paham betul kelakuan dari keempat dongsaengnya. Mereka sudah bersama dari kecil. Ia sebagai yang tertua diantara mereka sudah berjanji akan melindungi dan menjaga keempat adik kecilnya ini. Namun janjinya harus terhenti sementara karena ia harus kembali ke tanah kelahirannya untuk melanjutkan pendidikannya. Keluarga Aron memang tinggal di Amerika, mereka sempat tinggal di Korea dan memutuskan untuk kembali ke Amrika dan melanjutkan pendidikan Aron disana.

Terpisah beberapa tahun dengan adik-adiknya membuat Aron semakin merindukan mereka. Itu sebabnya setelah pendidikannya selesai, ia kembali ke Korea untuk bertemu adik-adiknya. Ia memutuskan untuk menetap disini, mengingat ia sudah cukup dewasa untuk hidup mandiri dan jauh dari orang tuanya. Lagipula ia tak akan sanggup berpisah lebih lama lagi dari keempat adik kecilnya yang kini juga sudah mulai dewasa. Namun bagi Aron, mereka tetaplah adik kecilnya.

"Oh iya, aku ada sedikit oleh-oleh untuk kalian. Dongho bisa tolong ambilkan koperku,"

Segera saja Dongho berjalan keluar untuk mengambil koper Aron. Ia meletakkan koper tersebut di tengah-tengah mereka. Minki dan Minhyun sangat excited mendengar kata oleh-oleh, sedangkan kedua seme itu hanya menunggu apa yang akan diberikan Aron pada mereka.

Setelah membuka kopernya Aron memberikan oleh-oleh yang memang sudah ia siapkan untuk keempatnya. Oleh-olehnya sudah dibungkus rapi. Satu persatu ia bagikan pada Jonghyun dan Dongho yang dibalas ucapan terima kasih oleh keduanya.

Tiba-tiba Aron menutup kopernya, membuat Minki dan Minhyun yang sedang menunggu hadiah mereka saling pandang heran.

"Hyuuung mana hadiah untukku?" tanya Minki. Minhyun hanya menatap Aron heran.

"Hmm.. sepertinya aku lupa memasukkannya,"

"Apa? Yang benar saja hyuuuuung," keduanya sudah memasang tampang kecewa mereka. Ternyata tak ada hadiah untuk mereka.

Aron yang melihat tampang sedih kedua uke manis itu hanya tertawa kecil, ia memang berniat untuk mengerjai mereka.

"Kalian mau hadiah?" keduanya kembali menatap Aron dengan penuh harap dan menganggukkan kepalanya bersamaan. Uhh lucu sekali, Aron jadi tak tahan untuk mencubit hidung mancung mereka.

"Baiklah kalau begitu hyung akan memberikan kalian hadiah, tapi… ada syaratnya!"

"Apa apa apa?" tanya keduanya antusias.

"Syaratnya adalah… poppo hyung dulu.." kata Aron sambil menunjuk kedua pipinya. Dua seme di depan Aron tercengang mendengarnya. Sedangkan kedua uke itu sudah memerah saja mukanya.

Demi hadiah, segera saja Minki dan Minhyun memposisikan diri di samping kiri kanan Aron. Mengecup kedua pipinya bersamaan dan memeluk hyung mereka. Aron yang menerima double attack dari dua mahluk manis di sampingnya ini hanya bisa tersenyum bahagia. Ia menaik turunkan alisnya untuk menggoda dua seme yang sedang merengut di depannya.

"Dasar licik!"

"Dia menang banyak,"

Dan Aron hanya tertawa mendengar dua adiknya yang lain misuh-misuh. Setelahnya Aron memberikan dua buah hadiah yang memang sudah ia persiapkan untuk Minhyun dan Minki.

"Oh My God! Oh my God hyung! Thank you so much much much, you are the best hyung!"

"Berhentilah Choi Minki,"

"Sepertinya kekasihmu terkena sindrom bule Kim Samuel, Dongho-ya,"

"Apa masalahmu? Aku hanya ingin menunjukkan pada Aron hyung kalau aku juga bisa bahasa Inggris seperti Samuel dan Daniel,"

Aron tak habis pikir, keempatnya tetap saja seperti dulu. Selalu bertengkar untuk masalah sepele, dan semua pertengkaran kecil mereka selalu dimulai oleh Choi Minki.

.

.

Seoul International Hospital

Satu pagi yang tenang di awal bulan Desember, ada tekanan darah dan tanda vital yang anjlok. Seokjin mendorong brankar dimana tubuh pucat seorang pemuda terbaring di atasnya. Secepatnya ia membawa sang pasien memasuki ruang ICU. Beberapa perawat mengekori Seokjin dengan papan jalan di tangan. Seokjin mendengar mulutnya sendiri berseru pada perawat akan beberapa perintah. Lalu beberapa alat-alat medis segera terhubung pada tubuh pucat si pemuda yang tengah tak sadarkan diri itu.

Suntikan epinefrin, suara kardiograf, dan beberapa tindakan medis lainnya semakin membuatnya takut.

"Demi Tuhan, bertahanlah, buka matamu, buka-"

Dan suara kardiograf menelan kalimat Kim Seokjin.

.

.

TBC

.

.

Note:

Ketahuan yaa kalau Minhyun ngejemput Aron? Hahaha gapapa, aku kasih gingsul Ujin buat kalian yg udah nebak.

Jadi yaa, updatenya segini dulu ya. Nah ada yang bisa nebak lagi, kira-kira siapa yang sakit?

Kalau ada kritik atau saran atau request, kalian bisa langsung pm.

Terimakasih untuk dukungan kalian semua.

With love,

Gheeks