Seoul International Hospital

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sinar mentari perlahan mulai menyusup melalui celah-celah kecil gorden berwarna broken white di salah satu kamar rumah sakit besar itu. Kicauan burung dan suara pekerja kebersihan tak mengalihkan dunia Seokjin. Ia masih terjaga setelah beberapa malam sibuk mengurusi pasien favoritnya.

Ingatannya melayang ke hari dimana ia dengan kalut berseru ini itu pada beberapa paramedis yang membantunya. Membantu menyelamatkan nyawa orang yang sangat berharga baginya. Orang yang kini tengah terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan berbagai alat tersambung ke tubuh kecilnya.

Perlahan tangannya terjulur membelai pelan pipi pucat itu, merasakan betapa halus dan dinginnya kulit yang menyentuh jemarinya. Mencoba mencari-cari adakah rona merah tipis yang biasanya tersepuh di kedua belah pipi pucat itu. Mencari sedikit kehangatan yang kian hari terganti dengan suhu dingin tubuhnya.

Rasa kantuk tiba-tiba menyerang Seokjin, entah sudah berapa lama ia belum mengistirahatkan tubuhnya. Tubuh jangkung dokter tampan itu seolah menjerit untuk segera diistirahatkan, namun otaknya menolak dan memilih untuk tetap terjaga menjaga pasiennya.

Lelah karena perdebatan antara pikiran dan tubuhnya, Seokjin memilih untuk merebahkan kepalanya di sisi ranjang pasien itu. Berpikir istirahat sebentar dan tetap berada di samping pasien favoritnya adalah pilihan paling bijak untuk mendamaikan tubuh dan pikirannya. Belum sempat ia mengeksekusi niat luhurnya, seseorang tiba-tiba membuka pintu ruang rawat inap tersebut.

Seokjin menolehkan kepalanya ke arah pintu dan mendapati pemuda sebaya adik sepupunya tengah berdiri di ambang pintu. Pemuda itu tersenyum kecil, dan berjalan menghampirinya.

"Istirahatlah Uisa-nim, kau terlihat kelelahan. Biar aku saja yang menjaga Yoongi hyung,"

Seokjin ingin menolak, ia ingin terus berada disana. Tapi ucapan pemuda bernama Park Jimin itu memang benar. Ia memang sangat lelah, dan benar-benar butuh istirahat barang beberapa jam saja.

Lagipula sudah ada Jimin yang berstatus sebagai adik angkat Yoongi disini. Jadi ia tak perlu khawatir untuk meninggalkannya sebentar saja.

"Istirahatlah, aku tak mau Uisa-nim sakit karena kelelahan menjaga hyungku. Nanti Uisa-nim tidak bisa menyembuhkan Yoongi hyung," candanya.

"Hyung,"

"Ne?"

"Panggil aku hyung Jimin-ah. Kau adalah adik Yoongi, itu berarti kau adalah adikku juga. Yoongi dan aku berteman," jelas Seokjin, -dan aku mencintainya, lanjutnya dalam hati.

"Aa.. baiklah Seokjin hyung," balasnya malu-malu.

Dengan pelan ia bangkit dari kursi yang ia duduki, menanamkan bibirnya pada puncak kepala Yoongi yang masih tertidur. Dengan tatapan teduh ia menatap Jimin dan berlalu dari kamar tersebut.

.

.

Si cantik Hwang Minhyun saat ini tengah bergelung di atas tempat tidur kekasihnya. Sendiri tentu saja. Jangan tanyakan dimana kekasihnya yang bernama Kim Jonghyun itu. Sepertinya ia sedang balas dendam karena ditinggal Minhyun beberapa hari lalu. Ini pemahaman sepihak Hwang Minhyun tentu saja. Faktanya, seorang Kim Jonghyun tengah sibuk dengan urusan kampusnya. Mihyun sudah bilang kan kalau kekasihnya itu orang yang aktif dalam kegiatan kampus.

Tak bisakah Kim Jonghyun bersikap sedikit egois? Memberikan beberapa tugas yang tak terlalu berat pada beberapa teman kepanitiaannya, dan menemani kekasihnya disini. Tak tahukah ia bahwa kekasihnya sedang rindu?

Iya, Minhyun sedang rindu dengan kekasih tampannya itu. Sudah beberapa hari ini mereka kurang berinteraksi. Oleh sebab itu ia buru-buru datang ke apartemen kekasihnya. Berharap sang kekasih akan menyambutnya dengan pelukan hangatnya. Lalu ia akan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang kekasih, dan tentu saja mendengarkan detak jantungnya. Ahh.. membayangkannya saja membuat Minhyun semakin rindu.

"Yak, Jonghyun-ah cepatlah pulang…" rengeknya manja. "Aku kangen.."

Ia masih betah bergelung di tempat tidur kekasihnya, menghirup dalam-dalam wangi khas Jonghyun yang tertinggal di bantal serta selimutnya. Setidaknya aroma tubuh sang kekasih bisa mengobati sedikit rasa rindunya. Sampai ia tak sadar bahwa kantuk menyerangnya, dan berakhir terlelap disana.

.

.

Tumpukan proposal-proposal pengajuan acara dan sponsor terlihat menyebar acak di atas meja kebesaran Kim Jonghyun. Sedikit lagi pekerjaannya akan beres. Ia harus bekerja ekstra untuk beberapa hari ini karena adanya perombakan susunan acara. Untung saja beberapa teman kepanitiannya yang lain masih setia membantunya.

Diliriknya arloji yang melingkar manis di lengan kanannya, sudah pukul 8 malam ternyata. Pantas saja perutnya sedikit perih, ia tadi melewatkan makan siangnya dan sekarang sudah lewat jam makan malam. Jika Minhyun tahu soal ini, ia pasti akan habis diomeli. Jonghyun tertawa membayangkannya.

Omong-omong dari tadi ia belum menghubungi Minhyun, apa kabar kekasih rubahnya itu? Buru-buru ia mengambil ponselnya. Ada beberapa pesan dari Minhyun, dibukanya satu-persatu.

'Jonghyun-ah kau dimana?'

'Aku ke apartemenmu yah'

'Jangan lupa makan Jju-ya'

Minhyun ada di apartemennya, ia pasti lelah menunggu Jonghyun seharian ini. Kasian sekali kekasihnya itu. Segera saja ia membereskan barang-barangnya dan bergegas pulang.

.

.

"Aku pulang.."

Suasana apartemen yang gelap menyambut kedatangan Jonghyun. Dirabanya saklar lampu di dinding ruang tengah untuk menyalakannya. Seketika ruangan gelap itu tampak terang bermandikan cahaya dari lampu mahal yang tergantung cantik di tengah plafon ruangan.

Dimana kekasihnya? Ia melihat ada sepatu Minhyun di depan, berarti kekasihnya itu masih berada disini. Tapi kenapa tidak menyalakan lampu? Apa ia tertidur?

Dilihatnya pintu kamarnya yang sedikit terbuka, pasti kekasihnya ada di dalam sana. Dengan pelan ia melangkah memasuki kamarnya, tak ingin membangunkan kekasihnya kalau saja ia memang tertidur disana.

Dan apa yang dilihat Kim Jonghyun saat ini adalah sosok sang kekasih yang tengah terlelap di atas kasurnya dengan nafas teratur dan bibir yang sedikit terbuka. Matanya terpejam rapat menampilkan bulu mata panjang yang lentik. Pipi putihnya bersemu rona merah alami, manis sekali.

Bagaimana bisa Jonghyun tak jatuh untuk mahluk seindah ini?

Ia berjongkok di sisi tempat tidur, memandang lekat-lekat mahluk manis yang tengah pulas seperti bayi di depannya ini. Dielusnya pelas surai sehitam malam milik Minhyun. Menyibak pelan poni yang menutupi dahi putih Minhyun. Dikecupnya sayang dahi putih milik kekasihnya itu, seolah-olah menyampaikan betapa sayangnya Jonghyun padanya. Kecupan di dahi adalah ungkapan sayang bukan?

Bibirnya mengulas senyum simpul melihat sang kekasih perlahan-lahan membuka kelopak mata rubahnya.

"Jju-ya.."

"Maaf telah membangunkanmu, tidur lagi saja." Jonghyun masih betah berjongkok di sisi kasurnya, mengelus pipi Minhyun yang menggeleng-geleng lucu.

Diraihnya tangan Jonghyun yang tengah mengelus pipinya, digenggamnya erat dan diciumnya telapak tangan itu.

"Kenapa?"

"Aku kangen, peluk aku Jju-ya!" direntangkan tangannya lebar-lebar untuk menyambut pelukan Jonghyun. Sementara yang ditunggu hanya tersenyum dan langsung meraih badannya. Menenggelamkan kepala Mihyun pada dekapan hangatnya. Menghirup segarnya aroma shampoo yang menguar dari rambut halus Hwang Minhyun.

Lama mereka menikmati kehangatan dekapan masing-masing sampai suara perut Jonghyun merusak momen mesra mereka. Dengan cepat Minhyun melepaskan diri dari kekasihnya.

"Kau belum makan? Jam berapa ini?" ditolehkannya kepalanya menatap jam dinding di kamar jonghyun. Jarum pendeknya hampir menunjuk angka sembilan, sedangkan jarum panjangnya sudah menyentuh angka delapan.

"Oh astaga hampir jam 9, dan kau belum makan? Kenapa tidak membangunkanku sejak tadi?"

"Aku baru sampai sepuluh menit yang lalu sayang,"

"Apa? Astaga.. apa yang kau lakukan sampai kelaparan begini Kim Jonghyun?"

"Aku kan sudah bilang, jangan lupa makan! Apa kau tidak membaca pesanku? Dan blablabla-" dan berlanjutnya omelan Hwang Minhyun tentang betapa pentingnya Jonghyun menjaga pola makan. Kebutuhan gizi yang seimbang dan segala hal yang berkaitan dengan buruknya seorang Kim Jonghyun dalam menjaga kesehatannya.

Kalau sudah begini Minhyun terlihat mirip sekali dengan ibunya saat mengomeli ia ataupun ayahnya dulu. Kim Donghyun yang terkenal sebagai kuda hitam dalam dunia bisnis itu tetap saja akan mengkeret saat ibunya yang anggun itu sudah berada dalam mode bahayanya. Sedangkan Jonghyun kecil hanya akan duduk di samping sang ayah dengan tatapan memelas.

Mengingat kedua orang tuanya membuat pikiran Jonghyun berkelena kesana kemari. Jika ia berkelurga nanti, ia ingin memiliki keluarga kecil seperti keluarganya yang sekarang. Ia membayangkan akan selalu ada Minhyun di samping tempat tidurnya. Menjadi orang pertama yang Jonghyun lihat saat terbangun, dan menjadi orang terakhir yang Jonghyun lihat saat akan tidur. Lalu bagaimana Minhyun akan mengomelinya bersama anak mereka kelak. Persis seperti apa yang dilakukan Youngmin.

Tanpa sadar ia tersenyum membayangkannya, membuat Minhyun yang masih betah mengomel mengernyit bingung.

"Yak! Kim Jonghyun, kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Kau mendengarku tidak?" suara Minhyun menarik kembali Jonghyun dari hayalan masa depannya. Mendapati wajah kesal Hwang Minhyun yang masih mengomelinya. Kali ini karena Jonghyun tidak mendengarkan petuah-petuah tentang menjaga kesehatan milik Hwang Minhyun.

Bibir tipis semerah ceri itu masih terus mengeluarkan kata-kata, hingga-

CUP!

-kecupan hangat mendarat diatasnya.

"Sudah ngomelnya?"

"A-apa yang kau lakukan Kim Jonghyun?" rona merah dengan cepat menjalar di pipi Minhyun. Oh telinganya pun ikut memerah lucu. Manis sekali.

"Menghentikan omelanmu tentu saja," dengan cepat Minhyun memalingkan wajahnya ke samping, menyembunyikan wajah meronanya. Jonghyun hanya terkekeh pelan melihat kekasihnya menahan malu.

.

.

Mobil hitam itu melaju membelah jalanan kota Seoul. Berbelok dan memilih jalur yang tak banyak dilalui oleh kendaraan. Jam digital di dalamnya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun kedua penumpangnya tak terlihat mengantuk sedikitpun.

Keduanya sibuk bercanda dan melemparkan beberapa lelucon. Mengisi keheningan malam dengan suara tawa dan obrolan mereka. Sesekali usapan sayang mendarat di puncak kepala bersurai hitam itu, dibalas dengan senyuman manis darinya.

"Tutup kacanya sayang,"

"Shireo!" sang penumpang masih setia menjulurkan tangan dan kepalanya ke luar jendela mobil. Merasakan dinginnya angin malam yang membelai kulitnya. Segar pikirnya.

"Angin malam tak baik untuk kesehatanmu Minhyunie," Jonghyun tahu betul bahwa Minhyun sangat menyukai berkendara di tengah malam. Menikmati suasana yang lengang dan udara yang segar. Namun malam ini udaranya cukup dingin, dan ia tahu betul bahwa kekasihnya tak bisa menahan dingin.

Harusnya tadi Jonghyun langsung pulang saja dan menolak keinginan Minhyun untuk jalan-jalan malam. Mereka memang keluar untuk mencari makan malam mereka yang terlambat. Memutuskan untuk mengisi perut mereka di salah satu kedai yang buka 24 jam. Mengingat tak banyak rumah makan yang buka sampai larut.

Sudah terlanjur keluar pikir Minhyun, kenapa tak sekalian saja mereka jalan-jalan? Hitung-hitung sebagai kencan dadakan karena beberapa hari ini mereka jarang bertemu. Lagipula besok hari Minggi, jadi tak masalah. Maka disinilah mereka berada sekarang. Mengelilingi kota dan berkendara tak tentu arah hingga dini hari untuk menghabiskan bensin mobil Jonghyun katanya.

Dan tentu saja Kim Jonghyun tak bisa menolak keinginan kekasihnya itu. Ingat Kim Jonghyun sudah mendeklarasikan dirinya sebagai supir pribadi Hwang Minhyun. Jadi tak ada alasan untuk menolak keinginan majikannya bukan? Ia tak mau mengambil resiko dipecat dari pekerjaannya ini.

"Dingin…" gumam Minhyun sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Kaca jendelanya sudah ia tutup tadi.

"Kemarikan,"

"Ne?"

"Tanganmu. Kemarikan tanganmu Minhyunie," sebelah tangan Jonghyun menggapai tangan Minhyun yang masih ia tiup dan gosok-gosokkan untuk mencari kehangatan. Digenggamnya tangan halus kekasihnya, berharap bisa menghangatkannya sedikit.

Namun apa yang Minhyun rasakan adalah kehangatan yang menjalari seluruh tubuhnya, hingga jiwanya. Hangat suhu tubuh Jonghyun seolah-olah mengalir dari ujung-ujung jari yang bertaut dengan miliknya itu. Dan Minhyun hanya bisa mengeratkan genggaman tangan mereka.

.

.

Jauh dari dua kekasih yang tengah menikmati kebersamaan mereka, seorang pemuda bermarga Kang tengah sibuk berkutat dengan film-film foto yang baru saja ia cetak. Ruangan dengan pencahayaan yang kurang itu terlihat sedikit berantakan. Ratusan foto tertempel memenuhi dinding ruangan itu. Beberapa ada yang masih tergantung.

Tangannya dengan cekatan memilah foto-foto yang baru saja ia cetak. Lembaran-lembaran foto itu ia pandangi satu persatu. Rasa cinta dan kepuasan ia dapatkan saat memandang hasil bidikannya. Ribuan koleksi fotonya kini makin bertambah.

Binar matanya makin menyala melihat objek fotonya. Objek dari semua foto-fotonya dari beberapa tahun silam. Tetap sama dan tak berubah. Seorang pemuda yang tengah bercanda dengan kekasihnya.

.

.

TBC

.

.

.

Aduh apa ini?

Ceritanya jadi makin ga jelas. Tau kok.

Belakangan tugas lagi banyak, jadi agak susah nyari waktu buat nulis, ditambah lagi plotnya cerita yang udah aku susun malah ilang haha.

Yaa jadi harus mikir lagi. Tapi tenang aja, plot buat chapter depan udah ada, dan sedang dikerjakan.

Jadi aku makasih banget sama yang sudah mendukung dan masih menunggu.

Regards,

Gheeks