Desember adalah bulan di penghujung tahun. Akhir dari perjalanan musim gugur dan awal dari musim dingin yang membekukan. Terpaan angin dengan suhu dingin menggigit kulit hingga ketulang-tulang, gemericik air hujan, dan mulai mekarnya bunga plum adalah beberapa anomali yang terjadi di musim dingin.
Toko-toko pakaian mulai menanggalkan koleksi musim panas dan digantikan dengan berbagai macam mantel-mantel serta coat-coat berbahan lembut serta hangat terpajang di etalase depan. Berbagai macam sarung tangan dan pack penghangat makin laris terjual. Menjadi item yang benar-benar paling dicari oleh semua orang.
Bulan Desember merupakan bulan spesial untuk seorang pemuda dengan tiga bintik kecil berbentuk rasi bintang di pipi kirinya. Ong Seongwoo, pemuda manis dengan kepribadian seceria mentari pagi di musim semi. Baginya bulan di penghujung tahun ini adalah bulan yang sangat ia tunggu-tunggu. Pasalnya terdapat tanggal-tanggal spesial di bulan ini, selain perayaan natal dan tahun baru yang ditunggunya.
Bukan, Seongwoo tak dilahirkan pada bulan ini. Ia justru lahir pada bulan Agustus, sama dengan sahabat karibnya Hwang Minhyun. Kendati Minhyun lahir di awal-awal bulan dan Seongwoo di akhir bulan.
Ada dua tanggal yang dilingkari dengan spidol berwarna merah pada kalender kecil yang terletak di atas meja belajar Seongwoo. Tanggal 10 dan 18 Desember.
Tanggal 10 adalah hari dimana lahirnya seorang pemuda tampan dengan gigi kelinci yang saat ini tengah menjalin kasih dengannya, Kang Daniel. Sedangkan tanggal 18 adalah tanggal dimana seorang Ong Seongwoo menerima pernyataan cinta dari seorang junior berbadan bongsor itu dua tahun yang lalu.
Ahh mengenangnya saja sudah membuat rona merah menjalar dikedua pipi tirusnya. Ia ingat betul saat Daniel tiba-tiba datang kepadanya dan memintanya menjadi kekasih pemuda Kang itu. Seongwoo yang saat itu tengah berkumpul dengan teman-temannya tentu saja kaget ketika didatangi si adik tingkat. Terlebih lagi dia adalah Kang Daniel, junior yang terkenal popular di angkatannya.
Namun dengan tidak tahu malunya seorang Kang Daniel malah menyatakan cinta padanya dan membuat diri mereka menjadi pusat perhatian. Ughh mau tak mau Seongwoo harus segera menjawab pernyataan cinta pemuda itu jika tak ingin lebih banyak pasang mata lagi yang menonton mereka.
Dan puja kerang ajaib, si sialan Kang itu malah mengeluarkan senyuman kelincinya yang dengan sukses meluluhkan hati Seongwoo.
Jangan pikir Seongwoo murahan karena langsung menerima Daniel meskipun saat itu mereka kurang dekat. Sejujurnya mereka sudah sering bertemu dan bertegur sapa, atau hanya sekedar bertukar kabar. Namun hal itu tak cukup bagi seorang Ong Seongwoo untuk menyadari bahwa Daniel sedang menjalani pendekatan dengannya. Tak bisa dipungkiri memang kalau Seongwoo pernah mengagumi betapa tampannya pemuda yang pernah menetap di Kanada itu. Jadi tak ada salahnya kan jika Seongwoo menerimanya saat itu. Lagipula siapa orang idiot yang tak mau menjadi kekasih Kang Daniel hah?
Oh sudahlah, membahas kisahnya dengan Daniel akan memakan banyak waktu dan bisa-bisa Seongwoo akan lupa dengan rencananya hari ini. Menghabiskan weekend dengan sahabatnya untuk membahas acara surprise party untuk kekasihnya. Pagi tadi ia sudah mengabari Minhyun dan Jihoon agar mereka berkumpul di rumah Hyungseob saja.
Dengan kadar semangat di atas rata-rata Seongwoo segera tancap gas menuju kediaman Ahn Hyungseob. Minhyun bilang ia akan diantar Jonghyun, jadi Seongwoo tak perlu repot-repot menjemput si Permaisuri Hwang itu. Sedangkan Jihoon nantinya akan menyusul setelah acara paginya selesai.
.
.
"Aku sudah siap,"
"Ohh sebentar aku ambil dompet dulu, kajja." menyambar dompet dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja nakas, Jonghyun menggamit tangan putih kekasihnya. Menuntun Minhyun keluar dari apartemen mereka dan segera mengunci pintunya.
Hari ini ia bertugas menjadi supir Hwang Minhyun untuk mengantarkannya ke rumah si kelinci Ahn itu. Acara kumpul dadakan yang diadakan Seongwoo membatalkan rencana Jonghyun untuk menghabiskan minggunya dengan Minhyun.
Ingin rasanya Jonghyun menghasut Minhyun untuk menolak ajakan itu, tapi apa daya Jonghyun tahu betul bahwa kekasih hatinya itu tak pernah sampai hati untuk menolak permintaan Seongwoo, apalagi dengan suara memelas seperti itu. Dan berakhirlah ia, Jonghyun yang kadar kesabarannya turunan Mama Youngmin harus rela mengalah untuk Seongwoo. Membiarkan para uke yang menamai dirinya Quartet Sugar itu memonopoli sang kekasih.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Jonghyun terkesiap kala Minhyun menepuk pundaknya pelan. Memberitahukan bahwa ia hendak mampir di sebuah mini market di seberang jalan. Kebiasaan lain seorang Hwang Minhyun adalah membawakan sesuatu saat ia akan berkunjung. Entah itu jajanan ataupun barang-barang kecil yang ia temukan di tempat perbelanjaan.
Dengan patuh Jonghyun menepikan mobilnya dan hendak turun untuk membukakan pintu untuk Minhyun. Namun tangan halus yang menahan lengannya membuat ia menoleh kea rah Minhyun.
"Biar aku sendiri yang turun, tunggulah disini. Aku tak akan lama,"
"Kau yakin?"
"Uhm, hanya sebentar Jong. Aku hanya akan membeli snack dan segera kembali. Lagipula aku bukan anak kecil yang setiap saat harus kau kawal sayang," kekehan kecil keluar dari mulut manis Hwang Minhyun, mengingat betapa protektifnya sang kekasih pada dirinya.
Dengan senyum teduhnya Jonghyun mengangguk, "Baiklah, hati-hati menyebrangnya Min," dan mengusak pelan rambut Minhyun.
Anggukan kecil diberikan Minhyun dan segera keluar dari dalam mobil. Menyebrang jalan dan berjalan memasuki toko tujuannya.
Tangannya dengan telaten memasukan beberapa snack dan bahan makanan mentah lainnya. Ia berencana akan memasakkan sesuatu yang spesial untuk Jonghyun nanti, sebagai permintaan maaf karena harus meniggalkan kekasihnya demi Seongwoo.
Tangannya terus mendorong troli belanjaan saat dilihatnya seseorang di rak bagian samping kirinya tengah kesusahan mengambil barang yang berada di rak bagian atas. Dengan pelan dihampirinya orang itu, berniat membantu. Naluri membantu seorang Hwang Minhyun tak akan mengizinkannya meninggalkan pemuda yang sedang kesusahan itu.
"Permisi, apa kau butuh bantuan?" tangan putihnya menepuk pundak pemuda yang lebih pendek darinya itu.
Kaget, pemuda yang tadi di tepuk Minhyun menoleh padanya. Ia mengerjap lucu dan wajahnya memerah malu, lucu sekali.
"Aa.. ahh iyaa, aku kesusahan mengambil biscuit di atas sana, raknya terlalu tinggi dan seperti yang kau lihat tanganku tak sampai hehe. Apa kau tidak keberatan untuk membantuku?" mata sipit pemuda itu berubah segaris saat tawa canggung terdengar dari belah bibir tebalnya.
"Tentu saja tidak," lengan panjangnya terjulur untuk menggapai biscuit yang dimaksud pemuda tadi. "Nah ini dia," dan memberikannya pada pemuda itu. Menanyakan apakah ada hal lain yang perlu ia ambil lagi dan dibalas gelengan pelan dari surai orange pemuda mungil di sampingnya.
"Aa terimakasih umm…"
"Minhyun. Namaku Minhyun,"
"Ah yaa, terima kasih Minhyun-sshi. Oh yaa namaku Park Jimin," pemuda itu menyodorkan tangan kecil berjari gemuknya pada Minhyun. Senyum lebarnya terlihat manis.
Minhyun segera meraih tangan yang terjulur di depannya, hingga ingatan masa kecilnya muncul saat mendengar nama yang disebutkan pemuda tadi. "Park Jimin? Namamu Park Jimin? Kau Park Jimin yang berasal dari Busan? Cucu nenek Jihyo?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari Minhyun membuat pemuda bernama Park Jimin itu bingung. Darimana pemuda cantik di depannya ini tahu kalau dia berasal dari Busan? Seingatnya dia baru memberitahukan namanya saja. Namun ia hanya bisa mengangguk mengiyakan saat pemuda itu menyebut Busan dan nama neneknya.
"Oh astagaaaa! Jiminie.. ini aku Minhyun, Hwang Minhyun. Temanmu saat di sekolah dasar, kau ingat aku?"
Belum selesai otak kecil Jimin menganalisa perkataan Minhyun, ingatannya kembali pada sesosok anak kecil berwajah manis yang menjadi sahabatnya di sekolah dasar dulu. Ia ingat anak itu, ia ingat Minhyun kecil yang sering berbagi bekal dengannya saat jam istirahat. Ia ingat sahabat kecil yang ditinggalkannya sebelum pindah ke Daegu bersama ayah dan ibunya. Ia ingat si kecil Hwang Minhyun.
"Waaaaaaaa… Minhyunieee! Oh Tuhaan, ini benar-benar kau Minhyunie?!" Jimin dengan heboh menangkup wajah manis Minhyun di depannya. Betapa rindunya ia dengan sahabat masa kecilnya ini. Bayangkan saja, sudah berapa lama ia tak bertemu dengan sahabat kecilnya yang manis ini.
"Iyaa, ini aku Chim! Ughh kemana saja kau hah? Aku merindukanmu Chim!" pelukan hangat diterima Jimin saat lengan panjang Minhyun menariknya ke dalam dekapan pemuda Hwang itu. Dielusnya pelan punggung sempit sang sahabat untuk menenangkan euphorianya. Panggilan kecil Minhyun masih sama seperti dulu, anak itu sering memanggilnya Chimchim karena terdengar imut.
"Panjang ceritanya Minmin. Oh Minhyunieku, aku juga sangan merindukanmu,"
Kedua sahabat kecil yang berpisah lama itu masih betah saling berpelukan hingga suara dering ponsel Minhyun mengakhiri pelukan rindu mereka. Minhyun merogoh saku celananya dan mendapati nama kekasihnya tertera di layar ponsel pintarnya. Menggeser ikon bergambar hijau Minhyun menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Yeoboseyo Jong?... Ahh maaf, aku sudah selesai,.. iyaa aku bertemu seseorang disini.. baiklah aku akan segera kembali,"
"Siapa?"
"Pacarku hehe," Minhyun terkekeh pelan, Jimin hanya mendengus kecil mengetahui bahwa sahabat manisnya sudah mempunyai kekasih. Wah ia jadi merasa kalah langkah oleh Minhyun.
"Ne Chim apa kau sudah selesai? Aku akan ke kasir untuk membayar,"
"Bersama, aku juga sudah selesai. Kajja!" Jimin dengan cepat menggandeng lengan Minhyun yang tengah mendorong troli menuju kasir. Dua pemuda manis itu menyerahkan belanjaan masing-masing pada kasir yang berbeda. Berjalan keluar toko bersama dan menyebrang untuk menghampiri Jonghyun yang masih setia menunggu kekasihnya di dalam mobil.
Netra hitam Jonghyun menyipit saat mendapati kekasihnya tengah digandeng oleh pemuda asing yang sibuk berceloteh. Sesekali kedua pemuda manis itu tertawa dan membenarkan tas belanjaan mereka. Keduanya terlihat berjalan menghampiri mobilnya.
Ia heran, sebelumnya ia tak pernah melihat pemuda itu dimana pun. Ia tak ingat punya teman sekampus yang mempunyai rambut berwarna orange seperti milik pemuda yang kini tengah mencubit lengan kekasihnya gemas.
Setelah keduanya sampai di samping mobilnya, Jonghyun segera turun dan membantu Minhyun untuk memasukkan barang belanjaannya. Tipikal lelaki gentle yang sering diajarkan oleh ayahnya pada Jonghyun.
"Oh jadi ini pacarmu itu Minhyunie?" suara cempreng pemuda asing itu terdengar, "Tampannya.. cocok sekali denganmu."
Minhyun yang mendengar pujian untuk Jonghyun dan dirinya hanya bisa tersipu malu. Park Jimin dan mulut polosnya memang selalu membuatnya senang.
"Ah yaa, dia pacarku Kim Jonghyun. Nah Jju-ya kenalkan ini Jimin, sahabat kecilku di Busan dulu," Minhyun memperkenalkan mereka berdua.
Jonghyun yang baru selesai membereskan barang bawaan Minhyun berdiri tegap dan menyodorkan tangannya pada pemuda bernama Jimin tadi. "Kim Jonghyun, salam kenal Jimin-sshi," senyuman lembut ia berikan pada sahabat kecil sang kekasih.
"Park Jimin, salam kenal juga. Oh dan panggil saja aku Jimin, sekarang kita adalah teman!" ditepuknya pundak Jonghyun dengan semangat. Sepertinya pemuda bernama Park Jimin ini adalah pribadi yang periang seperti Minki dan Seongwoo, pikir Jonghyun. Pantas saja Minhyun jadi lupa waktu karena bertemu dengannya.
"Ne Chim sebaiknya kau ikut kami, kebetulan tujuan kita searah,"
"Kau mau kemana Jimin?"
"Jimin akan ke rumah sakit, kebetulan kita searah kan Jong? Dan aku tidak menerima penolakan Chim"
"Seoul International Hospital? Oh benar ikut saja Jim,"
"Baiklah-baiklah aku akan ikut kalian. Lumayan hemat bayar taxi hehe," dengan santainya Jimin mendudukkan dirinya di kursi belakang, membuat sepasang kekasih itu terkekeh melihatnya.
"Cepatlah kalian, kasian hyungku sendiri disana," dan dengan rengekan dari teman barunya, Jonghyun segera menjalankan mobilnya untuk mengantar Jimin dan kekasihnya.
Suasana di dalam mobil jadi ramai karena celotehan Jimin dan Minhyun. Kedua sahabat yang baru saja reuni itu terlibat perbincangan yang seru. Sesekali Jonghyun ikut tertawa saat mendengar kisah masa kecil kekasihnya dengan pemuda bernama Jimin itu.
Perjalanan yang tak terlalu lama itu diisi oleh cerita Jimin tentang kakak angkatnya yang dirawat di rumah sakit terbesar di Seoul itu. Ia menceritakan bagaimana kakaknya menjadi pasien spesial dari dokter yang menanganinya. Dia juga membocorkan rahasia kecil bahwa dokter tampan yang menangani kakaknya itu menyukai sang kakak. Minhyun yang mendengarnya hanya bisa tertawa saat Jimin mengatakan berbagai alasan yang memperkuat hipotesisnya tentang perasaan sang dokter pada kakaknya. Ia juga berencana akan memperkenalkan Minhyun dan Jonghyun pada sang kakak nanti.
Hingga dari jauh gerbang rumah sakit itu sudah bisa terlihat, membuat Jimin dan Minhyun yang masih asik berbagi rahasia tentang kisah dokter ganteng dan kakaknya harus menghentikan celotehannya. Ia berjanji akan mengajak Minhyun dalam misi kecil pengamatan isi hati si dokter ganteng dan dibalas dengan anggukan semangat oleh Minhyun.
Sebelum benar-benar turun dari mobil Jonghyun, mereka sempat bertukar nomor ponsel. Jimin bilang agar ia bisa menghubungi Minhyun kapan saja dan bisa menagih janji Minhyun untuk menemaninya menjaga kakaknya di rumah sakit.
Dengan semangat Jimin melambai pada sepasang kekasih itu dan berlari ke dalam rumah sakit. Ia sudah tidak sabar untuk menceritakan pertemuannya dengan sepasang kekasih itu pada hyungnya nanti. Untung saja hyungnya sudah siuman beberapa waktu lalu.
.
.
Seoul International Hospital
Min Yoongi, pemuda dengan kulit seputih salju itu menerawang langit-langit kamar rawat inapnya. Tatapan mata sayunya begitu kosong, seolah jiwanya terbang entah kemana meninggalkan tubuh rapuhnya.
Ia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan sesingkat ini. Umurnya bahkan belum genap 25 tahun, namun sebentar lagi malaikat maut akan segera menjemputnya. Menjemput ruhnya untuk meninggalkan raganya yang lemah. Meninggalkan segala kesakitan yang mendera tubuhnya. Meninggalkan kehidupannya.
Memikirkan hal itu membuat sudut-sudut bibirnya bergetar. Ia merasa siap tak siap. Seperti hidup enggan tapi mati pun tak ingin.
Jujur saja ia lelah dengan hidupnya, tapi ia tak ingin meninggalkan hidupnya. Meninggalkan ayah dan ibunya, meninggalkan Paman Chanyeol dan Bibi Baekhyun. Terlebih lagi meninggalkan adik kecilnya, Park Jimin.
Pemuda manis yang kini menjadi adik kesayangannya. Jimin memang bukan adik kandungnya, pemuda itu hanyalah anak dari supir dan kepala pelayan di rumahnya, Paman Chanyel dan Bibi Baekhyun. Yoongi jatuh cinta pada pipi chubby serupa kue mochi milik si kecil Park Jimin saat supir pribadinya itu membawa sang anak bermain ke kediaman keluarga Min beberapa tahun silam.
Yoongi sebagai putra tunggal pasangan pengusaha Min Jiyong dan Min Chaerin terbiasa hidup sendiri dan hanya ditemani oleh pelayan-pelayan di rumah besarnya. Jangan tanyakan dimana orang tuanya, karena seperti yang kau tahu pasangan pengusaha itu sibuk untuk mengembangkan berbagai bisnis mereka di luar negeri. Membuat Yoongi kecil sangat mendambakan seseorang yang akan menemaninya bermain di dalam rumah besar itu.
Yoongi tak pernah protes dengan keadaan orang tuanya, ia sadar betul bahwa kedua orang tuanya melakukan hal itu demi masa depannya nanti. Namun tak dapat ia pungkiri bahwa rasa kesepian terkadang menyelinap di hati kecilnya. Oleh karena itu ia meminta supir dan kepala pelayannya itu untuk mengajak Jimin tinggal bersamanya. Menjadikan Jimin sebagai adik angkatnya. Dengan semangat ia meminta izin pada ayah dan ibunya untuk mengangkat Jimin sebagai adiknya.
Dengan sedikit campur tangan dari pasangan Min itu akhirnya permintaan Yoongi membuat Jimin yang dulu tinggal di Busan bersama neneknya harus pindah ke Daegu bersama orang tuanya. Mereka tinggal di rumah besar kediaman keluarga Min yang hanya dihuni oleh dirinya dan beberapa pelayan lainnya.
Park Jimin yang pada dasarnya berkepribadian ceria dengan cepat beradaptasi di lingkungan barunya. Apalagi disana ia mendapatkan hyung sehebat Min Yoongi. Kakak angkatnya itu sangat hebat di mata Jimin kecil, ia pandai bermain basket, piano, pintar, dan manis. Jimin sangat menyukai gummy smile milik sang hyung, terlihat sangat manis. Ia jadi heran dengan teman-teman barunya yang mengatakan bahwa putra tunggal keluarga Min itu sangat galak dan cuek. Padalah setahu Jimin hyngnya itu sangat manis dan penyayang. Itulah perkataan Jimin yang membuat Yoongi semakin menyayanginya.
Menyayangi Mochi kecil yang kini tumbuh besar bersamanya. Satu-satunya alasan seorang Min Yoongi masih bertahan hidup di dunia ini. Ia tak berani membayangkan akan seperti apa kehidupan setelah matinya nanti tanpa seorang Park Jimin.
Lagipula Jimin kecilnya pasti akan sedih jika ia tinggalkan, dan membuat kesedihan bagi Park Jimin adalah hal tabu bagi Min Yoongi. Namun realita kembali menyadari dirinya bahwa cepat atau lambat maut akan membawanya pergi jauh dari Jimin. Memutus tali persaudaraan yang telah sekian tahun dia rajut dengan kasih sayang bersama Jimin.
Kenyataan pahit itu seakan menampar keras pemikirian Yoongi, membuat kristal bening perlahan mengalir dari mata sayunya. Sudah berapa lama ia tak menangis? Yoongi hampir lupa caranya menangis semenjak kehadiran Jimin dalam hidupnya.
Usapan halus di ujung matanya membuat Yoongi menoleh ke sisi kanan ranjang pasiennya. Dilihatnya orang yang beberapa waktu ini selalu setia berada di sampingnya dan merawatnya.
"Kau menangis?" orang itu menyeret bangku kecil di samping ranjang pasiennya dan duduk disana. Tangan hangatnya masih menyeka buliran air mata yang turun dari sudut mata Yoongi.
"Apa ada yang sakit Yoon?"
Pikiran Yoongi masih mengawang, memudarkan kalimat-kalimat bernada khawatir dari orang di sampingnya. Lama ia bertahan menunggu jawaban dari pemuda pucat yang kini tangannya telah ia genggam. Hingga suara parau itu memecah keheningan diantara keduanya.
"Apa aku akan selamat Uisa-nim?"
Suara itu kecil dan lirih. Seokjin mendengar dengan jelas nada keputusasaan dari pemuda di depannya. Ingin sekali ia mendekap pemuda rapuh di hadapannya ini dan membisikkan kata-kata penyemangat padanya.
Namun rangkaian kalimat pada kertas laporan kesehatan Yoongi mengurungkan niat luhur Seokjin. Ia hanya bisa menggenggam erat tangan kecil milik Yoongi.
"Tentu saja Yoongi-ya, kau akan sembuh jadi berjuanglah sedikit lagi ne," Seokjin megelus pelan surai hitam Yoongi. "Oh dan panggil aku hyung seperti biasa,"
"Tapi sekarang kau adalah dokterku Uisa-nim,"
"Tapi aku adalah sunbaemu dulu Yoongi-ya."
Senyuman kecil terbit dibibir pucat Yoongi, membuat Seokjin yang melihatnya menghela napas lega. Sudah lama ia tak melihat senyum dari adik kelasnya yang terkenal dingin ini. Senyum yang telah membuat Seokjin jatuh untuk pemuda sedingin salju di musim dingin itu.
Jeblakan kasar dari pintu kamar rawat inap Yoongi mengalihkan perhatian dua orang yang berada di ruangan itu. Mendapati si ceria Park Jimin yang menenteng beberapa tas belanjaan di kedua tangannya.
Dengan riang ia menghampiri ranjang hyungnya, meletakkan barang yang ia bawa di lantai dengan sembarang dan menubruk Yoongi. Dikecupnya kening pucat sang hyung pelan.
"Aku kembali hyung. Apa kau merindukanku?"
"Kau habis dari mana Jiminie?" Seokjin bertanya. Ia baru sadar bahwa sejak tadi tak menemukan Jimin yang biasanya dengan setia menunggu Yoongi di kamarnya.
"Aku keluar sebentar untuk membeli beberapa barang dan snack. Kau tahu Seokjin hyung jajanan rumah sakit tak ada yang enak, jadi aku memutuskan berbelanja di luar sebentar. Lagipula Yoongi hyung bilang ia ingin cheesecake, benarkan hyung?" jawab Jimin yang dibalas anggukan pelan oleh Yoongi.
"Kau tahu hyung hari ini aku senang sekali! Coba tebak tadi aku bertemu dengan siapa?" dengan semangat Jimin mulai bercerita pada hyung kesayangannya itu, mengabaikan Seokjin yang hanya bisa menghela napas di depannya.
"Uh siapa? Apa Jungkook menyusulmu kesini?" suara Yoongi pelan dan lirih. Jimin yang mendengarnya tersenyum miris, ia tak sampai hati membiarkan sang hyung untuk berbicara lama-lama.
"Ani.. mana mungkin kelinci buntal itu mau repot-repot menyusulku ke sini hyung. Aish mengingatnya saja membuatku kesal," rengutan lucu Jimin membuat Yoongi terkekeh kecil. Yoongi memang senang sekali menggoda Jimin dengan Jungkook. Tetangganya yang suka sekali menarik ulur perasaan Jimin.
"Lalu?"
"Aku bertemu dengan Minmin, sahabat kecilku di Busan dulu. Aku pernah menceritakan padamu hyung, apa kau ingat? Kau tahu hyung Minhyunie jadi semakin manis dan tinggi, aku jadi merasa kecil di sampingnya. Ia membantuku untuk mengambil snack di rak atas, dan oh oh si Minhyunie itu juga sudah mempunyai pacar. Aku jadi merasa kalah langkah darinya, bisa-bisanya ia mendapatkan pacar setampan itu. Kau tahu hyung pacarnya tampan sekali, dan baik. Minhyunie dan Jonghyun mengantarku pulang tadi. Uuhh mereka benar-benar…"
"Apa maksudmu Hwang Minhyun dan Kim Jonghyun?" belum selesai cerita panjang Jimin tentang sahabat kecilnya, suara Seokjin tiba-tiba menginterupsi.
"Oh bagaimana kau tahu Seokjin hyung, apa kau mengenalnya?"
"Tentu saja. Jonghyun adalah sepupuku Jim." Seokjin menjawab pertanyaan Jimin. Sejak tadi ia juga menyimak cerita panjang Jimin dan tertarik setelah nama Minhyun dan sepupunya disebut bibir tebal pemuda Park itu.
"Woaahhh dunia memang sempit ya hyung….." dan cerita Pak Jimin mengenani sepasang kekasih itu kembali berlanjut. Hingga Seokjin undur diri untuk memeriksa pasien lainnya dan berjanji akan mengajak Jonghyun dan Minhyun untuk berkenjung ke rumah sakit.
.
.
Berbagai macam mobil terparkir di halaman rumah Ahn Hyungseob. Membuat pekarangan yang tak seberapa luas itu terlihat penuh sesak. Membuat satu dua mobil lainnya harus terpakir di pinggir jalanan komlplek perumahan yang didiami keluarga Ahn tersebut.
Dari arah dalam rumah terdengar beberapa pekikan dan seruan dari beberapa remaja yang tengah asik berdiskusi di ruang tengah tersebut. Remah-remah biscuit dan bungkus sisa makanan terlihat berserakan di bawah kolong meja. Satu dua lembar kertas penuh coretan tergelatak tak berdaya di atas meja, tertindih gelas-gelas plastic berisi minuman bersoda berwarna pekat.
"Jadi rencananya sudah fix?"
"Apa kau tak merasa bahwa itu sedikit kekanakan hyung?"
"Aku pikir lebih baik kita memberikan Niel hyung kejutan yang sederhana saja"
"Kau ingin aku menyusun ulang rencananya?"
"Oh astaga Lee Daehwi, aku sudah lapar tak bisa berpikir lagi!"
"Guanlin hyung aku minta keripiknya"
Kepala Jonghyun rasanya pening mendengar berbagai macam celotehan mahluk-mahluk di dekatnya ini. Ia menyesali pilihannya untuk menemani Minhyun berkumpul bersama teman-temannya. Jika ia tahu bahwa acara menyusun surprise party untuk Daniel akan semerepotkan ini, ia lebih memilih untuk mendekam di apartemennya seharian.
Bayangkan saja, sudah lebih dari 3 jam yang lalu mereka mendebatkan konsep acara kejutannya dan belum mendapatkan kata sepakat. Selalu ada saja yang tak sesuai dengan keinginan mereka. Terlalu banyak rencana dan ide-ide yang membuat alot diskusi tak penting mereka.
Dengan enggan ia ikut turun tangan menyelesaikan diskusi panas para uke itu. Lihat saja bahkan Seongwoo sampai mengundang pasangan Guanho dan Samhwi untuk membantu mereka mencari ide.
"Begini saja, kita pakai konsep awal yang dikatakan Seongwoo. Aku akan meminta Dongho dan Minki untuk mengajak Daniel keluar. Sementara itu kita semua harus membantu Seongwoo untuk mendekorasi apartemen Daniel selama ia pergi. Aku, Woojin, Baejin dan Guanlin yang akan membeli perlengkapannya. Dan sisanya akan mempersiapkan pesta kecil untuk Daniel, bagaimana?" jelas Jonghyun panjang lebar.
Yang lain terlihat manggut-manggut setuju. Jika sang ketua Organisasi Mahasiswa sudah turun tangan maka yang lain tak akan menolak usulannya lagi.
"Jadi bagaimana dengan Seongwoo hyung yang akan membuat kesal Daniel hyung?"
"Tak perlu, merepotkan saja." Woojin yang sejak tadi sibuk dengan game di ponselnya menjawab ketus pertanyaan sang kekasih. Membuat Hyungseob yang mendengar jawabannya jadi kesal.
"Aku tak minta pendapatmu Park Woojin," balasnya sengit.
"Aku hanya memberikan pendapatku,"
Jihoon yang melihat sahabatnya akan meledak segera menyeret Hyungseob yang sedikit lagi akan mencekik leher Woojin. Ia tahu betul bahwa Hyungseob sangat gemas dengan sikap cuek kekasihnya itu.
Seongwoo yang melihat Hyungseob dan Jihoon menjauh akhirnya melanjutkan diskusi mereka. Merampungkan waktu dan apa saja yang mereka perlukan untuk eksekusi kejutan Kang Daniel.
Setelah semua rencana beres, Seongwoo, Minhyun, Seonho dan Daehwi berjalan menuju dapur tempat Jihoon yang tengah menenangkan Hyungseob. Wajahnya masih merah menahan kesal, dan dengan sabar Jihoon mengelus lembut punggung tangan Hyungseob yang terkepal di atas meja.
"Kau tak apa Seobbie?" Seongwoo mengambil duduk tepat di samping Hyungseob. Merangkul pundak juniornya itu dengan sayang.
"Tak apa hyung. Aku hanya kesal dengan sikap Woojin. Dia selalu saja kasar kepadaku, maksudku tak bisakah ia bersikap sedikit lebih baik kepadaku? Aku jadi bertanya-tanya apa aku berbuat salah padanya? Apa pertanyaanku semenyebalkan itu sehingga ia selalu menjawabnya dengan ketus?" keluhnya pelan.
Sungguh Hyungseob tak habis pikir dengan sikap kekasihnya. Ia memang tahu betul bahwa Park Woojin adalah orang yang cuek dan masa bodoh. Tapi tak bisakah ia mengurangi sedikit sifat jeleknya itu pada Hyungseob. Selama ini Hyungseob selalu sabar ketika pertanyaannya dijawab ketus atau bahkan dihiraukan oleh Woojin. Namun lama kelamaan rasanya makan hati juga, dan Hyungseob mulai lelah.
"Aku lelah selalu diabaikan olehnya hyung. Aku lelah…" ditelungkupkannya kepalanya di atas meja, mencoba menyembunyikan air mata yang selama ini ditahannya.
Jika boleh jujur Hyungseob iri pada teman-temannya yang lain. Ia iri pada Jihoon yang selalu diperhatikan oleh Baejin. Ia iri pada Minhyun yang selalu dijaga oleh Jonghyun. Ia iri pada Seongwoo yang selalu dihibur oleh Daniel. Ia iri pada Seonho dan Daehwi yang selalu dimanjakan oleh kekasih mereka. Hyungseob iri, karena Park Woojin selalu mengabaikannya.
Ia jadi berpikir bahwa Woojin memang tak pernah mencintainya. Mengingat bahwa Hyungseoblah yang menyatakan cinta terlebih dahulu dan meminta Park Woojin menjadi kekasihnya.
"Biar aku bicara dengan Woojin," lama-lama Seongwoo jengah juga melihat tingkah laku si Park itu. Ia tentu saja tak ingin melihat Hyungseob menangis gara-gara pemuda bergingsul bodoh itu.
"Jangan hyung!" dengan segera Hyungseob menahan lengan Seongwoo yang sudah bangkit dari duduknya. Ia tak ingin memperparah hubungannya dengan Woojin. Woojin pasti akan mengira dirinya cengeng dan berlebihan.
"Sudah biarkan saja Hyungseob-ah," Minhyun melepas genggaman tangan Hyungseob pada lengan Seongwoo. Ia merasa sikap Woojin memang sudah kelewat batas dan anak itu memang butuh ceramah singkat dari Seongwoo untuk menyadarkannya.
Sedangkan beberapa meter dari arah dapur sang target ceramah Ong Seongwoo terlihat tengah asik bermain game bersama Guanlin dan Samuel. Sedangkan Jonghyun dan Baejin terlihat menonton televise yang menampilkan siaran langsung Moto GP.
Ingin rasanya Seongwoo melempar sandal rumah yang ia pakai kearah muka serius Woojin. Dengan santainya pemuda itu tetap bermain game. Mengindahkan kekasihnya yang tengah marah akibat perkataannya. Benar-benar cuek dan tak peka pikir Seongwoo.
Untung saja Kang Daniel bukan Park Woojin. Kekasih bongsornya itu pasti akan segera membujuk Seongwoo jika ia ngambek, dan tak pernah sekalipun Daniel akan mengabaikannya. Oh kecuali jika ia sudah berkutat dengan lensa dan kamera kesayangannya. Maka Seongwoo akan sedikit diindahkan oleh pemuda bergigi kelinci itu.
"Woojin-ah bisa bicara sebentar?"
"Ada apa Seongwoo hyung? Bicara saja,"
"Ikut aku sebentar,"
"Disini sa…"
"PARK WOOJIN BERDIRI DAN IKUT AKU!" teriakan Seongwoo membuat kelima pemuda yang tengah asik dengan kegiatan mereka itu tersentak kaget. Bahkan Samuel sempat menjatuhkan konsol game yang dipegangnya.
Woojin yang diteriaki hanya mendengus kasar dan bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar rumah mengikuti Seongwoo yang menatapnya dengan tajam.
'Apalagi ini?' pikirnya dalam hati.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Jonghyun tiba di apartemen Minhyun. Kekasihnya masih terlihat kesal karena tadi ia membela Woojin yang tengah dimarahi habis-habisan oleh Seongwoo.
Tentu saja Jonghyun tak tega melihat Woojin dikeroyok oleh uke-uke manis yang tiba-tiba berubah menjadi ganas karena satu anggotanya tersakiti. Bahkan kekasih manisnya itu terlihat paling semangat memarahi Woojin.
Ia hanya tak ingin membuat masalah kecil menjadi besar. Oleh karena itu ia mencoba menengahi mereka. Namun delikan tajam dan raut kekesalan yang diterimanya dari sang kekasih.
Pupus sudah harapan Jonghyun untuk berlovey dovey dengan Minhyun. Ia kini harus berjuang membujuk kekasihnya yang sedang kesal.
"Aku tak ingat mengizinkanmu masuk ke apartemenku Tuan Kim Jonghyun," Minhyun berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol air dingin di dalam kulkas. Menenggaknya rakus hingga tersisa setengah.
"Dan aku tak ingat punya kekasih pelupa yang sudah berjanji akan memasakkan makan malam spesial untukku," Jonghyun menjawab santai sambil mendudukan dirinya pada loveseat di ruang tengah apartemen Minhyun. Memasang earphone dan memutar lagu favoritnya, ia merebahkan dirinya santai.
Hentakan botol pada meja di sampingnya membuat Jonghyun menoleh. Tatapan kesal Hwang Minhyun yang berdiri di sampingnya membuat ia memutar bola matanya bosan. Ditariknya pergelangan tangan Minhyun hingga kekasihnya itu terjatuh tepat di atas tubuhnya.
Kepala bersurai hitam milik Minhyun jatuh diatas dada bidangnya. Dengan gesit ia melingkarkan tangannya pada tubuh ramping Minhyun. Membuat Minhyun yang tiba-tiba terperangkap dalam dekapan hangat Jonghyun hanya bisa mendengus sebal.
Usapan hangat tangan Jonghyun pada surai hitamnya mau tak mau membuat Minhyun menyamankan posisinya dan membalas dekapan Jonghyun. Ia memang tak bisa benar-benar marah pada kekasih tampannya ini.
"Maafkan aku.."
"Untuk?"
"Marah padamu. Ugh kau tahu, aku hanya terbawa emosi Jju-ya," Minhyun mendongak menatap wajah tampan kekasihnya. Mata rubahnya sudah memasang binar bersalah, menjadikan wajahnya semakin imut di mata Jonghyun.
Kecupan kecil mendarat di pucuk hidung mancung Minhyun. "Sudah jangan dipikirkan sayang,"
Jonghyun bangun dari posisi tidurnya, bersandar di punggung sofa. Membuat Minhyun yang berada di atasnya kini terduduk di pangkuannya. Kekasihnya itu semakin mengeratkan pelukan di lehernya. Menyembunyikan wajah manisnya di perpotongan leher Jonghyun.
"Hey bangunlah, kau berat Minhyunie-aduhh!" satu gigitan gemas dihadiahkan Minhyun pada pundak Jonghyun karena telah memuji berat badannya. Menghasilkan ringisan pelan dari bibir tipis milik kekasihnya.
"Nakalnyaaa.. kenapa tidak bibirku saja yang kau gigit eh Minhyunie," mendengar godaan kekasihnya Minhyun segera duduk tegak dan mencubit gemas hidung mancung Jonghyun hingga memerah.
"Dasar mesum!" omelnya dan disambut suara kekehan sumbang Jonghyun karena hidungnya yang masih dicubit Minhyun.
"Tapi kau cinta kan," dan semburat merah itu kini menghiasi pipi pluffy Hwang Minhyun, menambah kadar kemanisan dari wajah pemuda Hwang itu. Dengan cepat Jonghyun mencuri satu ciuman dibibir semerah cherry kekasihnya.
Dan dibalas dengan kalimat 'tentu saja' yang diucapkan Minhyun setelahnya. Keduanya saling pandang, mencoba menyelami jendela hati yang tersuguh di depan mereka. Mencari adakah sedikit kebohongan dari kata-kata yang merek ucapkan, namun nihil. Hanya ada ketulusan dan cinta murni yang mereka temukan dalam netra pasangannya.
Minhyun yang terhanyut dengan indahnya kilau jernih mata Jonghyun perlahan mendekatkan wajahnya. Mendaratkan satu kecupan lembut seringan kapas pada bibir kekasihnya. Menyalurkan perasaan cinta dan kasih sayang melalui ciuman polos selembut beledu itu.
Betapa ia sangat mencintai pemuda tampan di hadapannya ini. Pemuda yang telah mencuri hatinya saat ia baru pertama mengenal kata cinta. Pemuda yang mengajarinya banyak hal. Yang selalu menjaga dan melindungi dirinya. Pemuda yang memprioritaskan dirinya di atas segalanya.
Dengan pelan Minhyun melepas tautan bibir mereka, memandang penuh kasih wajah tampan itu. Mengusapnya pelan dan penuh perasaan. Mencoba merekam pahatan-pahatan sempurna di wajah Kim Jonghyun. Dan dengan pelan ia kembali memeluk erat kekasihnya.
Tempat ternyaman dan teraman bagi Minhyun adalah di dalam dekapan hangat Kim Jonghyun. Dada bidang yang selama ini menjadi sandarannya. Tempat ia mendengar dengan jelas suara yang menjadi favoritnya selama ini. Suara detakan jantung kekasih hatinya yang kencang, sama seperti miliknya. Suara kehidupannya.
"Aku mencintaimu Jju-ya,"
"Nado jeongmal saranghaneun Min,"
.
.
Seoul International Hospital
Jimin tengah menyuapi Yoongi dengan potongan kecil cheesecake yang tadi dibelinya. Hyungnya ini memang penggemar berat kue lembut dengan wangi gurih dan manis itu.
Getaran kecil yang berasal dari ponsel yang terletak di meja di samping ranjang Yoongi mengalihkan atensi Jimin. Diraihnya benda pipih tersebut, beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab memenuhi notifikasi ponsel Yoongi.
Jimin mengernyit saat semua notifikasi itu berasal dari satu nama yang sama 'Alien Kim'. Setahunya sang hyung tak memiliki teman atau kerabat bermarga Kim. Oh apa jangan-jangan si dokter tampan itu? Yang Jimin tahu dokter tampan itu juga bermarga Kim bukan?
"Siapa?"
"Alien Kim, aku tak tahu hyung berteman dengan mahluk planet lain," Jimin memberikan ponsel itu pada Yoongi. Semburat merah muda tipis tersepuh dipipi pucat hyungnya saat Jimin menyebut nama kontak yang memenuhi notifikasi ponsel hyungnya itu.
Yoongi mengecek semua notifikasi yang ada, dan memang si Alien Kim itu memborbardir ponsel Yoongi dengan ratusan pesan singkat dan telepon. Isi pesannya sama saja, mengatakan bahwa ia merindukannya. Tanpa sadar Yoongi tersenyum mengingat pemuda yang ia panggil Alien itu.
Hingga satu pesan dari nomor yang tak dikenalnya membuat Yoongi meremat benda pipih yang ada di genggamannya.
Satu pesan yang dikirimkan Min Chaerin,
Sayang apa kau baik-baik saja?
Mama dan Papa merindukanmu.
Kami akan akan pulang sebelum natal, jadi kita bisa merayakan natal bersama-sama.
Bagaimana, apa kau senang?
Jaga dirimu baik-baik Yoongi, kami menyayangimu.
See you soon my dear.
Dan satu tetes air mata lolos dari mata sewarna hazel itu, mengalir pelan menuruni pipi pucat dan terjatuh di atas jemarinya yang tergenggam erat.
.
.
TBC
.
.
