.

SEASONS

Autumn ― Tentang Hujan, Detensi, dan Quidditch

Harry Potter by J.K. Rowling

Story by Celestaeal

.

Draco Dormiens Nunquam Titillandus

.


Pertengahan bulan Oktober adalah yang terburuk.

Saat yang tidak dinantikan karena angin kencang yang nantinya akan membawa badai membuat badan semua murid bergemeletuk kedinginan. Tapi mungkin hanya sebagian kecil yang merasa pertengahan Oktober adalah saat yang ditunggu-tunggu.

Taehyung dan Jungkook, contohnya.

Kunjungan pertama ke Hogsmeade dijadwalkan pada pertengahan Oktober. Selalu menyenangkan kalau bisa keluar dari lingkungan kastil selama beberapa jam dan tentu, kedua orang itu lebih dari sekedar semangat untuk keluar.

Taehyung terbangun pagi-pagi pada hari kunjungan ke Hogsmeade. Hari itu berbadai, tapi tidak menyurutkan semangat Taehyung untuk turun dari kasurnya. Bersiap-siap dan melapisi tubuh dengan beberapa sweater rajutan, kemudian turun untuk sarapan membawa mantel, syal, dan sarung tangan.

"Pagi, Taehyung-ie."

Itu Jungkook, menuang saus tomat ke atas sosisnya, duduk di tempat Namjoon biasa duduk.

"Selamat Pagi, Jungkook-ie." Taehyung nyengir, sembari mengambil sosis.

"Sudah siap kunjungan ke Hogsmeade?" tanya Jungkook. Taehyung tersenyum lebar mengangguk-angguk semangat, dia sudah menyusun jadwal tempat yang akan mereka kunjungi hari ini. Tapi sebelum membuka mulut, Namjoon sudah datang dengan wajah tertekuk sebal.

"Apa yang kubilang untuk jangan duduk di tempatku, Jeon Jungkook?"

Jungkook tersenyum, memberikan penampakan dua gigi kelincinya kepada Namjoon, tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Namjoon mendesah lelah, kemudian mengangkat kerah Jungkook, menariknya pergi dari tempat duduknya. Kemudian seakan belum cukup, prefek Gryffindor itu menendang bokong yang lebih muda.

"Sana kembali ke tempatmu!" dengus Namjoon kesal dan duduk di tempatnya, di depan Taehyung, selalu.

"Aku juga ingin sekali-kali makan berhadapan dengan Taehyung! Namjoon hyung sekali-kali mengalah pada yang lebih muda!" Gerutu Jungkook. Alisnya menukik dan bibirnya mencebik sebal sembari menggeser piringnya ke sebelah Taehyung.

"Tidak, ini tempatku. Di depan Taehyung. Iya kan, Tae?" Namjoon melirik Taehyung, yang dibalas anggukan sepenuh hati dan cengiran lebar.

"Taetae.." Jungkook merajuk dengan nada sok imut, menggoyang-goyangkan lengan jubah Taehyung.

"Tidak, tidak. Aku mau Namjoon Hyung di depanku." Taehyung memakan sosisnya lahap. Kemudian dua bersaudara itu high five―Namjoon sempat memeletkan lidah ke Jungkook.

"Nah sekarang, kau jangan lagi duduk disini. Mengerti?" kata Namjoon tegas, menunjuk galak Jungkook dengan sosis. Namjoon dan Taehyung cekikikan saat Jungkook menatap mereka merajuk.

Usai sarapan, Namjoon memisahkan diri bergabung dengan teman-temannya menuju Hogsmeade. Sisa Taehyung dan Jungkook yang menghabiskan sarapan mereka―sebenarnya Taehyung saja, karena Jungkook sudah menghabiskan miliknya.

Setelah selesai mereka segera berangkat ke Hogsmeade. Perjalanan ke Hogsmeade tidak menyenangkan. Mereka melangkah memasuki angin dan hujan yang bercampus es. Taehyung dan Jungkook membungkus bagian bawah wajah mereka dengan syal, bagian yang tidak terbungkus segera terasa beku dan kebas. Jalan menuju desa penuh murid yang membungkuk menahan terpaan angin dingin. Dan ketika mereka akhirnya tiba di Hogsmeade, Taehyung dan Jungkook bergegas menuju list pertama mereka―toko lelucon Zonko namun sayangnya mereka berdua harus menghela nafas kecewa karena toko itu ditutupi papan. Jungkook menganggap kunjungan kali ini tidak ditakdirkan sebagai kunjungan yang menyenangkan. Taehyung menunjuk dengan tangan terbungkus sarung tangan tebal ke arah Honeydukes, yang untungnya buka, dan mereka berdua terhuyung masuk ke toko permen yangpenuh sesak dengan murid-murid Hogwarts.

"Hangatnya." Kata Jungkook menggigil kedinginan ketika mereka diselubungi udara hangat beraroma toffee, permen keras yang terbuat dari gula dan mentega.

Taehyung menggangguk setuju, "Kita disini saja sampai sore." Katanya kemudian mereka berdua tertawa cekikikan. Keduanya berjalan masuk di antara desakan murid-murid, mereka berdua menyelip-nyelip di antara kerumunan, memandang berkeliling.

Mata mereka berbinar-binar melihat berak-rak permen warna-warni yang menggiurkan yang tak mungkin bisa dibayangkan. Potongan-potongan krim nougat, permen kelapa, beratus-ratus jenis cokelat aneka macam berderet rapi. Ada juga tong besar berisi Kacang Segala Rasa dan Kerumunan Kecoak―yang membuat Taehyung dan Jungkook kompak mengernyit. Di dinding lainnya ada Permen Karet Tiup Drooble, Benang Gigi Segar Rasa Mint, Merica Setan yang kecil-kecil, Permen Meledak, satu nampan penuh Lolipop Darah, dan bertumpuk-tumpuk Cokelat Kodok. Taehyung mengambil setumpuk Cokelat Kodok dan sekantong kecil Krim Beku rasa Stroberi sementara Jungkook memilih dua kantong besar Jelly Kunyah, Permen Cokelat dan satu genggam Kacang Segala Rasa―berkilah kalau dia hanya butuh asupan manis-manis saat Taehyung tahu kebiasaan pemuda itu adalah mengunyah.

"Oh, lihat―Permen Pena-Bulu Deluxe!" seru Taehyung.

Taehyung dan Jungkook lagi-lagi berdesakan melewati lautan manusia, untuk membeli permen pena-bulu keluaran terbaru yang ekstra-besar―dan tahan berjam-jam. Sepakat untuk membeli satu yang nantinya mereka bagi berdua, Taehyung dan Jungkook membayar belanjaan mereka, karena berada di toko permen penuh sesak membuat mereka gerah. Keluar dari toko gigi mereka bergemeletuk. Bibir Jungkook sangat pucat hampir membiru.

"Yuk ke Three Broomsticks." Kata Taehyung. "Di sana hangat."

Taehyung dan Jungkook berjalan terseret-seret melewati angin dingin yang menerpa wajah mereka seperti pisau tajam setelah kehangatan manis Honeydukes. Jalan tidak terlalu ramai, tidak seperti biasanya banyak orang yang berhenti untuk mengobrol, semua bergegas ke tempat tujuan mereka.

Taehyung dan Jungkook memasuki Three Broomstick, tempat itu padat, bising, dan hangat. Mereka menempati meja pojok dekat perapian dan refleks mendesah lega saat udara hangat mengenai mereka. Kemudian Taehyung beranjak dari kursi memberi isyarat pada Jungkook kalau dia akan mengambilkan minuman. Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa dua botol Butterbeer.

"Lama. Apa kau digoda Madam Rosmerta?" komentar Jungkook.

Taehyung terkekeh saat Jungkook menatapnya masam, "Tidak ada Madam Rosmerta. Mungkin dia ada di belakang mengambil Mead saat aku kesana." Kata Taehyung. Madam Rosmerta, pelayan bar yang menarik dan bertubuh montok. Jujur saja―Jungkook separuh tidak senang saat Taehyung mengajaknya kesini, karena Madam Rosmerta akan melirik Taehyung, tapi sialnya disini hangat.

Jungkook tanpa sadar merengut, menghirup Butterbeernya dalam diam, yang dia anggap sebagai diam yang anggun. Taehyung mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di meja, matanya bergantian memandang Jungkook dan botolnya.

"Apa sih?" kata Jungkook akhirnya, setelah menahan diri tidak berkata apa-apa, tapi lama-lama gerah juga dipandangi bolak-balik oleh Taehyung.

"Jangan kesal begitu, dong?" katanya dengan mata dikedip-kedipkan.

Jungkook melengos dan Taehyung masih mengedipkan matanya berkali-kali. Akhirnya Jungkook menghela nafas, menggangguk. "Iya, iya."

Meski terdengar tidak ikhlas, Taehyung yang mendengarnya nyengir lebar. "Bagaimana kalau lain kali kita ke Madam Puddifoot's? Kalau kau tidak mau disini." Usulnya.

Jungkook melotot ke Taehyung, kemudian melempar sarung tangannya ke muka Taehyung yang tertawa menyadari telinga Jungkook memerah. Madam Puddifoot's, rumah minum yang sering dikunjungi pasangan-pasangan bahagia yang duduk mesra di dalamnya. Membayangkan mereka berdua kesana membuat Jungkook cepat-cepat menghirup hingga tetes terakhir dalam botolnya.

"Sudah selesai?" tanya Taehyung, Jungkook mengangguk. "Kita kembali ke sekolah atau ke Madam Puddifoot's?" tambah Taehyung.

Jungkook menendang kaki Taehyung di bawah meja sambil memakai sarung tangannya, sementara Taehyung meringis dan tertawa di saat yang bersamaan. Sekali lagi mereka merapatkan mantel dan melingkarkan syal, keluar melalui pintu Three Broomstick. Kedua orang itu berjalan menundukkan kepala, menghindari terpaan angin dan hujan kembali ke kastil Hogwarts.

.


.

Bagian terburuk lain dari pertengahan musim gugur bulan Oktober adalah latihan Quidditch.

Harusnya Kamis sore akan menjadi hari yang menyenangkan di ruang rekreasi bersama Jungkook, mengerjakan sejumlah besar PR dan belajar. Taehyung akan duduk di paha Jungkook dan memeluk badannya yang luar biasa hangat saat angin badai menerpa jendela ruang rekreasi.

Taehyung nyaris tak memahami setengah dari apa yang dikatakan di kelas Transfigurai, Mantra, serta Jampi dan Guna-Guna. Membaca buku pun Taehyung malas, dan Jungkook terpaksa mengulangi instruksi dan mendongeng untuk Taehyung yang menyamankan diri di pangkuannya.

"Apa mantra untuk menghapus ingatan, Tae?" tanya Jungkook.

Taehyung mengerutkan kening, matanya menatap langit-langit dengan muka berpikir keras dengan kepala bersandar di bahu Jungkook. "Um―Obliviate?" katanya ragu-ragu.

"Tepat!" seru Jungkook, rona wajahnya bahagia karena setidaknya Taehyung mendengarkannya yang berceloteh dari tadi.

"Hei, kalian!"

Mereka berpaling, itu Jean―Chaser Gryffindor. "Zach memberitahuku kalau besok malam kita latihan, jam tujuh." Kemudian dia berbalik setelah mendengar sahutan oke dari Taehyung, kembali ke kamar anak perempuan.

Jungkook mengerang lemah mendengarnya, dia sudah menjadwalkan besok malam untuk mengerjakan PR esai Astronomi-nya sehingga Sabtu pagi dia bisa bersantai dan latihan mantra untuk Flitwick. Tapi sepertinya rencananya harus diundur untuk latihan Quidditch.

"Sudah, sudah." Taehyung mengusap pucuk kepala Jungkook, saat pemuda itu memeluk Taehyung dan menduselkan kepalanya ke perpotongan leher. "Kau bisa mengerjakannya Sabtu pagi." Kata Taehyung separuh geli―padahal Taehyung sendiri belum mengerjakan esai miliknya.

Jungkook melepas pelukannya, menatap Taehyung cemas. "Esai sepanjang empat puluh senti, dua terjemahan, dan semua ini sudah harus selesai Selasa!"

"Tenang masih lima hari lagi." kata Taehyung separuh menguap. Terlihat santai luar biasa. Mata Jungkook menyipit iritasi melihat kelakuan super santai Taehyung.

"Sial. Aku tidak mau membantumu untuk mengerjakan esai milikmu." Balas Jungkook sebal.

"Yah, Kookie! Jangan begitu!" Taehyung berkata panik, memeluk leher Jungkook erat dan menolak turun dari pangkuannya saat Jungkook bersikeras ingin kembali ke kamarnya.

.


.

Hujan turun rintik-rintik saat Taehyung menjejakkan kaki di lapangan Quidditch.

Taehyung memasang wajah masam, menatapi gerimis dingin berkabut untuk latihan malam hari ini sambil menenteng sapunya di tangan kanan.

"Kau sudah membawa hot pack?" tanya Jungkook di belakangnya, dia menenteng pemukul di bahunya diikuti Namjoon di belakang mereka―Namjoon juga sama seperti Jungkook, Beater.

"Sudah." Taehyung tersenyum. "Kau?" tanyanya.

Jungkook nyengir dengan gigi kelincinya. "Satu badanku ditempeli hot pack." Katanya pamer sambil menepuk-nepuk bagian depan dadanya. Taehyung menaikkan alis tak percaya, kemudian dia berbalik menghadap Jungkook dan menubruknya tiba-tiba.

"Wah! Hangat!" seru Taehyung. Telinga Jungkook memerah saat Taehyung memeluknya erat mendadak seperti ini.

"Ya! Kalian! Berhenti peluk-pelukan!" Namjoon berseru sebal. Taehyung menjulurkan lidah mengejek dan mengatai "Namjoon hyung berisik."

Kemudian Zach―kapten tim Quidditch Gryffindor sekaligus Keeper, datang bersama dengan Jean, Lisa, dan Nico―para Chaser. Taehyung melepas pelukan mereka dan berjalan menuju Zach.

"Sudah berkumpul semua ya. Nah, ayo kita latihan!"

Serentak semua pemain naik, latihan berjalan cukup lancar malam itu meski ditemani gerimis dan kabut yang menutupi pandangan. Pertandingan pembuka musim ini di awal bulan November dan tim Gryffindor rutin untuk latihan dengan cermat hingga lewat jam Sembilan untuk membabat habis Ravenclaw.

"Kerja bagus, kawan-kawan. Kurasa kita akan menggilas Ravenclaw." Zach berkata cerah, dan para pemain meninggalkan ruang ganti dengan wajah cerah. Namjoon, Taehyung dan Jungkook berjalan beriringan sepanjang perjalanan pulang ke kastil, mulanya mereka berjalan dengan tenang, sampai pada akhirnya Taehyung dan Jungkook tidak bisa diam. Sesekali berlarian atau melompat-lompat kecil hingga Namjoon harus mengejar mereka seperti papa mengejar anaknya.

Hingga Namjoon memutuskan untuk menarik kerah mereka berdua seperti membawa kucing―karena Taehyung dan Jungkook berlari-lari sepanjang koridor kosong karena suara langkah mereka bergema dan cekikikan berdua―kemudian menyeret mereka hingga ke depan lukisan Nyonya Gemuk.

"Dilligrout." Kata Namjoon dan pintu lukisan mengayun terbuka, mereka memanjat masuk melalui lubang lukisan ke dalam rekreasi.

"Segera cuci kaki dan naik ke tempat tidur kalian. Jangan berani-berani menyelinap keluar!" kata Namjoon tegas setelah mendudukkan mereka di sofa rekreasi. Taehyung dan Jungkook mengangguk-angguk patuh hingga Namjoon berbalik menuju kamar anak laki-laki. Taehyung dan Jungkook berpandangan, kemudian terkikik geli karena berhasil menjahili Namjoon hingga lelah malam itu.

Dasar anak nakal.

.


.

Salah satu keuntungan bersama dengan Jungkook yang rajin adalah Taehyung tidak perlu repot-repot menghapal daftar pelajarannya atau telat masuk ke kelas.

Tapi mungkin hari itu bukan salah satu hari keberuntungan, karena mereka berdua berlari tergesa-gesa ke kelas Herbologi, melompati kebun sayur dan menyipratkan air kemana-mana, karena gerimis hari itu membuat mereka berputar-putar mencari rumah kaca yang benar. Saat mereka sampai, Profesor Sprout telah mulai mengajar dan guru itu memandang tidak senang Taehyung dan Jungkook yang terlambat.

"Aku tidak suka kalian terlambat. Jadi detensi untuk Mr. Kim dan Mr. Jeon, esai dua gulung perkamen tentang Tentakula berbisa, tanpa coretan, dikumpulkan Senin jam delapan pagi."

Taehyung dan Jungkook tersenyum merana, kemudian melesat menuju ke meja mereka setelah Profesor Sprout mengijinkan. Di sana, Jimin dan Yugyeom nyengir lebar, merasa bahagia saat teman mereka mendapat detensi.

"Asik, tugas tambahan!" Sambut Jimin. Jungkook menggerutu dan Taehyung menoyor kepala Jimin keras.

"Yah, setidaknya tidak detensi selama seminggu membersihkan rumah kaca." Timpal Yugyeom, mengetuk-ngetuk buku Pohon-Pohon Pemakan Daging di Dunia miliknya tanpa berniat membukanya. Jimin mengangguk-angguk setuju dengan senyum lebar, sebelum senyumnya pudar dan buru-buru menundukkan kepala dengan wajah merona saat tanpa sadar bertatapan dengan Yoongi yang dari tadi memperhatikannya.

Taehyung memandang ke arah Jimin tadi menoleh, kemudian tersenyum jahil menatap Yoongi yang terkekeh kecil di tempatnya karena tingkah Jimin. "Hum―kalau aku tidak salah lihat Yoongi baru saja tertawa sambil melihat ke arah sini. Apa itu alasanmu merona, eh, Park Jimin?"

"Tidak. Kau ngomong apa sih?" Jimin merengut, keningnya bertautan dan buru-buru menarik buku Yugyeom, dan segera sibuk membuka-buka buku itu salah tingkah. Tiga orang itu menahan tawa―beresiko ketahuan Profesor Sprout―dan cekikikan sambil saling menyikut lengan.

"Eh, Park Jimin?" kata Jungkook, akhirnya berbicara setelah tawanya cukup mereda dibanding dua yang lain. Jimin mendongak dari buku yang tampak serius dibacanya, matanya melotot garang ke Jungkook.

"Apa?"

Jungkook mengulum senyum, menahan tawa terlepas dari mulutnya. "Bukumu terbalik, loh?"

Jimin langsung refleks mengumpat dengan wajah merona sampai telinga.

.


.

Taehyung duduk bersama Jungkook di perpustakaan.

Di luar matahari terbenam, dan Taehyung terjebak di perpustakaan. Membuka halaman demi halaman buku Herbologi dengan menahan kantuk. Jungkook bolak-balik dari duduknya ke rak, mengambil buku-buku berbau Herbologi yang sekiranya membantu esai mereka―karena Taehyung tidak bisa diharapkan, dia bahkan tidak tahu rak buku bagian Herbologi di sebelah mana. Taehyung mendesah lega saat Jungkook kembali dengan buku-buku tebal di tangan, kalau hanya Taehyung seorang, tentu saja dia hanya akan bergantung pada satu-satunya buku yang dia tahu. Pohon-Pohon Pemakan Daging di Dunia―tanpa berniat mencari referensi tambahan.

"Ah, kau benar-benar malaikat penyelamatku." Desah Taehyung, saat Jungkook sudah berkutat dengan perkamennya, kepalanya tersembunyi di balik tumpukan buku.

"Cepat kerjakan tugasmu, Tae." Gumam Jungkook, memindahkan lilin ke dekatnya. Dia membaca tulisan kecil-kecil buku Herbologi dan Khasiatnya dengan hidung cuma tiga senti dari halaman.

"Aku pusing." Taehyung menelungkup, mengistirahatkan kepalanya di atas buku Rahasia Ampun Penanganan Pohon Pemakan Daging, "Kepalaku berputar melihat tulisan sebanyak ini."

"Ah, ini tak ada gunanya." Kata Jungkook, menutup buku tulisan kecilnya yang ternyata berisi tanaman herbal. "Sudah sampai mana, Tae?"

Jungkook menarik lembaran perkamen Taehyung, kemudian mengumpat kecil saat melihat dua paragraph di dalamnya. "Apa sih yang kau lakukan? Cepat tulis, Tae!" desaknya.

Taehyung mengerang, menarik kepala dari buku dan ganti menarik perkamen Jungkook. "Gila!" Mata Taehyung membelalak, sudah ada tujuh paragraph di perkamen Jungkook.

"Makanya, cepat tulis dan berhenti mengeluh."

Taehyung melirik Jungkook sebal. "Aku sudah ganti dua perkamen karena tadi tercoret." Tak ada tanggapan dari Jungkook, dan Taehyung melanjut menulis esainya. Sesekali menguap.

Hening sejenak, kemudian Taehyung melirik Jungkook yang serius dengan perkamennya. "Jungkook, lanjut besok saja ya? Aku ngantuk."

"Kau duluan saja kalau mau kembali ke ruang rekreasi. Aku masih mau lanjut." Jawab Jungkook, tanpa mengalihkan perhatian dari perkamennya. Taehyung memutar bola mata malas, Jungkook bisa menjadi sangat menyebalkan kalau menyangkut tentang pelajaran dan tugas. (Seharusnya Jungkook jadi murid Ravenclaw saja!)

Taehyung baru menyelesaikan delapan paragraph di perkamen pertamanya saat Jungkook meregangkan badan. Akhirnya bergerak setelah dua setengah jam berkutat dengan esainya.

"Sudah selesai?" tanya Taehyung. Jungkook mengangguk-angguk. Taehyung menghela nafas iri, dan kembali melanjutkan esainya.

"Sudah jam setengah delapan, Tae." Gumam Jungkook.

Taehyung mengerutkan kening, "Sebentar lagi." Taehyung tahu, jam delapan Madam Pince memadamkan semua lampu dan menyuruh murid yang tersisa meninggalkan perpustakaan―jangan tanya kenapa Taehyung tahu, kebiasaan Jungkook adalah kembali dari perpustakaan jam delapan karena diusir.

Jungkook beranjak dari duduknya dengan suara berkerit, Taehyung mengerutkan kening berpikir kalau Jungkook akan pergi duluan. Dia mendongak, melihat Jungkook yang berdiri.

"Apa? Aku mau mengembalikan buku." Kata Jungkook, seolah tahu apa yang ada di pikiran Taehyung.

"Tapi aku belum selesai." Kata Taehyung.

"Nanti aku bantu di ruang rekreasi yang kurang." Kata Jungkook sambil berjalan menjauh. Mengangkat tongkat sihirnya dan menjentikkannya―secara otomatis buku-buku itu terangkat kembali ke tempatnya.

Kemudian Jungkook membereskan perkamen, buku, dan pena bulunya, diikuti Taehyung, keduanya kembali ke ruang rekreasi Gryffindor.

"Kookie, gendong." Taehyung menarik lengan jubah Jungkook saat mereka satu koridor lagi sampai di lukisan Nyonya Gemuk. Jungkook mendengus, tapi menerima Taehyung yang melompat ke punggungnya sambil tertawa-tawa.

Di ruang rekreasi, Jungkook menarik meja ke sudut. Duduk bersisian di depan meja, dia membaca perkamen Taehyung dan menyerahkannya kembali, membantu Taehyung mengerjakan hingga selesai. Ruang rekreasi perlahan menjadi kosong. Anak-anak bergantian mengucapkan "selamat malam" kepada Taehyung dan Jungkook sebelum ke kamar mereka. Satu jam sebelum tengah malam, esai Taehyung selesai. Jungkook menunggunya hingga terkantuk-kantuk. Saat Taehyung selesai dia membaca ulang miliknya dan milik Taehyung, memastikan tidak ada salah dan coretan dengan mata lelah. Setelah mengangguk dan menggulung perkamen mereka, Jungkook mengangkat tangan―menatap Taehyung dengan wajah mengantuk.

"Gantian gendong." Katanya. Taehyung terkekeh, menarik Jungkook dan menggendong Jungkook yang matanya sudah terpejam ke kamarnya.

Well―setidaknya sekali-kali detensi tidak apa-apa. Taehyung tidak keberatan, asalkan bersama Jungkook.

.


.

Semakin dekat pertandingan pertama Quidditch, cuaca semakin buruk.

Tanpa gentar, tim Gryffindor berlatih lebih keras dari sebelumnya untuk pertandingan hari sabtu. Hari sebelum pertandingan, angin menderu-deru dan hujan turun semakin lebat. Koridor dan ruang kelas gelap sekali, sehingga obor dan lentera tambahan dinyalakan. Zach mondar-mandir cemas mendatangi anggota tim selama sarapan, di sela jam istirahat bahkan hingga di ruang rekreasi―merecoki mereka. Hingga Jungkook harus turun tangan dan mulai mengomel bahwa anggota tim baik-baik saja dan tidak perlu cemas dengan cuaca buruk dan sebagainya.

Taehyung dan Namjoon terkekeh di atas sofa ruang rekreasi saat Jungkook dan Zach mulai berdebat tentang keselamatan anggota dan pertandingan dan strategi melawan Ravenclaw―jangan lupakan tentang Jungkook dan sifatnya yang tak mau kalah itu.

Esok paginya Taehyung terbangun saat hari masih gelap. Dia mendengung dalam selimutnya menyadari ini masih terlalu pagi untuk bangun, tapi sesudah bangun, susah tidur lagi dan mengabaikan gelegar guruh, empasan badai dan derak pepohonan di kejauhan di Hutan Terlarang. Taehyung berkedip-kedip memandang langit-langit kamarnya, beberapa jam lagi dia akan berada di lapangan Quidditch, berjuang melawan badai. Dan hal itu membuatnya urung untuk terus berada di kasur. Jadi dia bangun, berpakaian, mengambil sapunya dan berjalan mengendap-endap keluar kamar.

Badai terdengar lebih keras dari ruang rekreasi, dan tentu saja pertandingan tidak akan dibatalkan hanya karena soal kecil semacam hujan badai dengan guruh dan petir. Taehyung bersila di depan perapian menunggu hingga subuh, api yang berderak-derak di perapian membuatnya hangat. Dia melamun di depan perapian sampai tidak sadar ada suara langkah kaki menuju ruang rekreasi.

"Tae―"

Itu Jungkook, dengan rambut berantakannya. Taehyung tersenyum cerah saat ada anak yang akhirnya bangun. Dia beranjak berdiri dan menuju Jungkook, menyeret sofa ke depan perapian menyuruh Jungkook duduk di atasnya. Kemudian pemuda itu menghempaskan diri di atas pangkuan Jungkook.

"Berat, Tae." Jungkook mengeluh, matanya masih tertutup dan kepalanya bersandar ke sofa setengah sadar. Taehyung tertawa pelan dan semakin menyamankan duduk di atas paha Jungkook, mengalungkan lengannya ke badan pemuda itu mencari kehangatan.

"Kenapa sih kau suka sekali duduk disini, berat." Jungkook cemberut, tapi tetap mengalungkan tangan untuk memeluk Taehyung.

"Pahamu empuk!" seru Taehyung semangat.

Jungkook menautkan alis sebal. "Aku tidak gemuk." Katanya gusar.

"Aku tidak bilang kau gemuk?" Taehyung balas berkata separuh bertanya. Jungkook tidak menjawab apa-apa, hanya mendesah kecil dan memeluk Taehyung lebih erat. Keduanya menghabiskan waktu berpelukan hingga matahari terbit, menyinari ruang rekreasi melalui jendela-jendela tinggi sehingga lebih hangat. Taehyung menghitung sudah waktunya sarapan, jadi dia memaksa Jungkook untuk keluar lewat lubang lukisan.

Kantuk Jungkook sedikit berkurang setelah dia makan semangkuk besar bubur―dan beberapa suapan sup krim milik Taehyung―dan pada saat dia makan roti panggangnya, Namjoon muncul sambil bersedekap. Jungkook nyengir dan langsung berpindah dari tempat duduknya, tidak mau membuat mood Namjoon buruk di pagi hari sebelum pertandingan Quidditch―bisa-bisa bukan hanya Bludger yang melesat tapi juga pemukulnya yang ikut terlempar kalau Namjoon badmood.

"Pertandingan hari ini akan sangat berat." Kata Namjoon, mengaduk-aduk sup krimnya tanpa minat. Sesekali matanya akan melirik langit-langit Aula Besar, yang berwarna abu-abu gelap dan pusaran awan hitam.

"Berhentilah cemas, Hyung. Semua akan baik-baik saja." Kata Taehyung berusaha menghibur. Meski sebenarnya dia cemas juga, bukan persoalan cuaca buruk. Tapi tim Quidditch Ravenclaw itu cerdik dan mereka kuat-kuat. (Ravenclaw membabat habis Hufflepuff dengan skor memalukan yang membuat asrama kuning kenari itu langsung merosot jatuh ke urutan empat awal pertandingan kemarin.)

"Yeah, sedikit kehujanan itu asik." Tambah Jungkook.

Tapi jelas tidak hanya sedikit kehujanan. Seluruh sekolah muncul untuk menonton, mereka berlarian menyeberang padang rumput yang basah menuju lapangan, kepala tertunduk menahan angin kencang dan beberapa payung terlepas terbawa angin.

Tepat sebelum masuk ke ruang ganti, Seokjin datang ke tim Gryffindor, membagi-bagikan hot pack untuk tim Gryffindor dan mengucapkan hati-hati dan semoga sukses untuk mereka masing-masing―Jean dan Lisa kompak menahan pekikan untuk Seokjin, bahkan Zach merona saat Seokjin memberinya hot pack. (Dan di belakang mereka semua Namjoon mendecih dengan muka kusut seperti origami yang terlipat-lipat.)

Tim Gryffindor memakai jubah merah tua seragam mereka dan mengikuti kapten tim memasuki lapangan. Angin begitu kencang hingga mereka terhuyung miring berjalan ke lapangan. Penonton yang bersorak tidak terdengar, tertelan oleh guruh.

Tim Ravenclaw menyongsong dari sisi yang berlawanan, memakai jubah biru. Taehyung bisa melihat anggota mereka yang bertubuh besar dan tegap―Beater mereka berwajah datar separuh bengis membawa tongkat pemukul seperti milik Jungkook. Kedua kapten saling mendekat dan berjabat tangan.

Madam Hooch mengucapkan perintanya. "Naik ke sapu kalian."

Taehyung menarik kaki kanannya dari lumpur dengan bunyi berkecipak karena becek dan mengayunkan ke atas sapunya. Madam Hooch mendekatkan peluit ke mulutnya dan meniupnya. Bunyinya terdengar nyaring seakan dari kejauhan.

Pertandingan dimulai.

Taehyung meluncur naik dengan cepat, tapi sapunya terombang-ambing tertiup angin. Sebisa mungkin dia menggenggam erat gagang sapu, kemudian menyipitkan mata mencari Snitch.

Taehyung berdiam lama di atas ketinggian seratus meter, tidak melihat teman-teman setimnya―apalagi Snitch kecil―dan sudah basah kuyup kedinginan. Dia terbang beputar-putar di atas, melewati sosok merah dan biru. Dia tak tahu bagaimana jalan pertandingan, karena suara komentator kalah oleh deru angin. Nyaris tiga kali Taehyung tergelincir dari sapunya saat Bludger melesat melewatinya―Taehyung beranggapan itu antara pukulan mematikan Jungkook atau balasan penuh dendam Beater berwajah bengis.

Bertepatan saat petir menyambar pertama kali, peluit Madam Hooch terdengar. Dia turun ke tepi lapangan bersama timnya, berkerumun karena time out yang diminta kapten tim Ravenclaw. Taehyung meringis saat melihat bibir Namjoon berdarah, mungkin terhantam Bludger dan jubah merah Jungkook sudah berganti warna menjadi coklat lumpur―entah anak itu masuk ke got atau menceburkan diri dengan sengaja ke kubangan.

Zach memberi mereka arahan-arahan singkat di antara gelegar guruh, Taehyung separuh mendengarkan karena dia tahu tugasnya adalah menangkap Snitch.

"Kau oke?" tanya Taehyung pada Jungkook sebelum mereka kembali ke atas.

"Tentu. Hanya Beater mereka sepertinya dendam karena pukulan yang tadi kena muka Keeper mereka." Jungkook meringis kecil.

"Hati-hati, jangan terluka." Itu kata Taehyung terakhir kali sambil mengelus tengkuk Jungkook cemas, sebelum mengayunkan kaki kembali ke atas lapangan.

Taehyung mendesak sapunya menerobos cuaca buruk. Kali ini penuh tekad baru, menyelamatkan timnya dari serangan Beater ganas Ravenclaw. Dia memandang ke segala arah mencari Snitch, menghindari Bludger, berkelit di samping Keeper Ravenclaw yang memakai pelindung kepala penyok hingga dia melihat setitik emas mungil berkilau di udara berguyur hujan di samping tiang Gryffindor.

Taehyung segera melesat menuju tiang dengan kecepatan ekstra, "Ayo!" Dia berseru kepada sapunya, Taehyung menggeleng mengibas poni yang basah dari matanya. "Lebih cepat lagi!" serunya sementara hujan melecuti wajahnya.

Taehyung tidak memalingkan pandangan dari Snitch hingga Snitch kecil itu berbelok, meluncur menuju Jungkook. Taehyung segera menukik memutari tiang, dan sepertinya gerakan tiba-tibanya membuat perhatian penonton dan tim terarah kepadanya. Taehyung bisa melihat Daniel Kang―Seeker Ravenclaw―melesat membuntutinya. Taehyung menjulurkan lengan, hanya berjarak sesenti dari telinga Jungkook. Untuk sedetik yang menegangkan, antara Jungkook yang melotot kaget, Snitch yang ingin kembali melesat dan Daniel yang bersamaan mengulurkan tangan―Taehyung berhasil mengatupkan jari pada Snitch yang memberontak.

Dan peluit bertiup tanda Pertandingan Quidditch berakhir dengan dimenangkan Gryffindor.

.


.

Pesta kemenangan Gryffindor diadakan di ruang rekreasi sampai malam. Hoshi, DK dan Seungkwan menyelundupkan berbotol-botol Butterbeer, jus labu kuning, dua nampan penuh pai daging, pudding, kue cokelat dan berkantong-kantong permen warna-warni. Namjoon sebagai prefek melotot saat ketiga orang itu membawa barang selundupan mereka dengan cengiran tidak berdosa. Tapi pekikan girang seluruh anak di ruang rekreasi membuat Namjoon geleng-geleng kepala.

Taehyung dipeluk sana-sini, ditepuk pundaknya dan diberi ucapan selamat oleh seluruh anak Gryffindor. Taehyung sibuk mondar-mandir sana-sini. Dia baru berhenti saat melihat Jungkook yang duduk tenang di sofa merah. Pemuda itu nyengir lebar, kemudian menyusul Jungkook duduk di sampingnya.

"Tangkapan yang hebat." Puji Jungkook sambil mengirup botol Butterbeernya.

"Tentu, Aku bisa menaiki sapuku sepuluh kali lebih cepat darimu." Tambah Taehyung. Jungkook mengangguk-angguk, ikut tersenyum saat Taehyung juga tersenyum. Dia mengakui kegesitan Taehyung di atas sapu―salah satu alasannya menjadi Seeker andalan Gryffindor.

"Apa aku tidak diberi hadiah?" Taehyung menaik turunkan alisnya. Jungkook mendengus mendengarnya.

"Kita bahkan satu tim. Harusnya aku juga dapat hadiah."

Taehyung cemberut, mengambil sebatang cokelat dan mengunyahnya ganas. Jungkook terkikik, kemudian dia memajukan wajah, mengecup pipi kanan Taehyung cepat. "Yeah―kau hebat. Yang terbaik."

Taehyung mengerjap, pipi kanannya terasa hangat di tempat tadi Jungkook mengecupnya. Tangannya yang memegang cokelat membeku di tempat.

"Ah! Kau merona!" Jungkook terkikik, menyadari tulang pipi Taehyung yang perlahan bersemu.

Taehyung berdecak, merasa tolol dijahili Jungkook. Kemudian dia membalas, mengecup pipi Jungkook cukup lama hingga saat dia melepasnya, telinga Jungkook merah padam.

"Ah! Kau merona!" Taehyung membalas, menjulurkan lidah mengejek mengutip perkataan Jungkook barusan. Jungkook berkedip-kedip, dan kemudian balik mengecup pipi Taehyung―tidak mau kalah. Kemudian mereka berdua saling mengecup pipi, tertawa cekikikan di atas sofa merah, di antara hiruk pikuk ruang rekreasi dan hujan badai musim gugur yang dingin menerpa dinding kastil.

.

.

.

SEASONS

AUTUMN

FIN


.

.

Celestaeal's Note

Haloo! Kembali lagi bersama musim selanjutnya, musim gugur!

Siapa yang tebakannya benar? Yap, Jungkook Gryffindor. Nah, sampai jumpa di musim selanjutnya!

Ditunggu selalu tanggapannya~

.

.

.

Feel free to chat me!
[Wattpad : Celestaeal || Instagram : celestaeal]