SEASONS

Winter 1/2 ― Tentang Natal dan Mistletoe

Harry Potter by J.K. Rowling

Story by Celestaeal

.

Draco Dormiens Nunquam Titillandus

.


Awal bulan Desember membawa angin dan hujan bersalju ke Hogwarts.

Taehyung lebih senang menghabiskan waktu di depan perapian ruang rekreasi atau di dalam tembok tebal Menara meskipun kastil diterpa angin dingin, bukannya berada di kebun labu, mengggigil kedinginan untuk kelas Pemeliharaan Satwa Gaib. Dia menatap hampa kotak-kotak besar di depannya sambil berdiri merapat pada Jungkook.

Kotak-kotak besar di hadapannya berisi Clabbert, hewan pohon yang bentuknya antara monyet dan katak. Kulitnya halus dan tak berbulu, berburik hijau, tangan dan kaki berselaput, lengan serta tungkai panjang dan luwes. Di kepalanya ada tanduk pendek dan mulutnya yang lebar, tampak menyeringai, dipenuhi gigi setajam silet.

Taehyung tidak memperhatikan Profesor Cho yang mulai menjelaskan tentang Clabbert yang dilarang dipelihara oleh Konfederasi Penyihir Internasional, karena dia sibuk merapatkan diri di belakang Jungkook dan menaruh dagunya ke bahu Jungkook. (Badan anak itu hangat sekali dan Taehyung suka dekat-dekat dengannya saat cuaca dingin.)

Sepertinya tidak hanya dirinya saja yang merasa kedinginan dan gemetaran sepanjang kelas, karena sepertinya hampir semua anak merapatkan mantel dan menaikkan syal hingga bawah hidung―kecuali Jungkook, yang masih serius memperhatikan penjelasan Profesor Cho dengan mata sangat serius. Pada akhirnya Profesor Cho menyerah; membubarkan kelas sebelum waktunya dan semuanya segera berlari menyeberangi kebun untuk ke kastil―Taehyung sempat menyikut rusuk Jungkook keras saat pemuda itu mendesah kecewa karena kelas dibubarkan lebih awal.

Pelajaran berikutnya adalah Transfigurasi, dan Taehyung sangat senang kembali berdiam di dalam kastil yang hangat. Profesor McGonagall menyuruh mereka melakukan tugas persilangan spesies, merubah burung kenari menjadi tikus dan pada akhir pelajaran memberikan PR untuk mereka―Jelaskan dengan contoh, cara-cara mengadaptasi Mantra Transfigurasi untuk Perubahan Spesies-Silang.

Sore harinya yang dingin dihabiskan Taehyung dan Jungkook di ruang rekreasi. Liburan musim dingin semakin dekat dan itu artinya adalah PR dan tugas. Mereka tidak membuang waktu untuk bermain-main, menyabotase meja di dekat perapian dengan buku dan setumpuk tinggi perkamen. Taehyung ingin mengeluarkan segala sumpah serapah dan kutukan untuk guru yang memberi mereka segunung PR―hei, libur semakin dekat. Kenapa pula semua guru memberi mereka pr?

"Dingin?" Jungkook bertanya khawatir pada Taehyung yang sedari tadi menyedot ingus.

"Hm'm." Taehyung mendengung, meneliti grafik angka Arithmancy yang tampak ruwet. Taehyung melirik Jungkook, pemuda itu tak ada bedanya dengan Taehyung. Pipinya pucat dan pucuk hidungnya memerah seperti orang sakit. Taehyung mendengus, kemudian beranjak berdiri.

"Mau kemana?" tanya Jungkook. Taehyung tidak menjawab, hanya melambaikan tangan sebelum keluar dari ruang rekreasi. Jungkook mengedikkan bahu tak peduli, dan kembali mengerjakan karangan Telaah Muggle miliknya.

Setengah jam kemudian Taehyung kembali, dua mug dengan kepulan uap di masing-masing tangannya dan sekantung plastik menggantung di lengan. Jungkook berjengit saat Taehyung menaruh mug di depannya―hampir mendamprat Taehyung karena meletakkannya sembarangan di atas perkamen Telaah Mugglenya yang berharga―tapi kemudian matanya berbinar antusias menyadari itu adalah mug penuh berisi coklat panas dan marshmallow di atasnya.

"Dari mana?" Jungkook menangkup mugnya, menghirup coklat panasnya dengan desah puas.

"Dapur." Sahut Taehyung pendek, meniup-niup cokelat panasnya sementara dahi Jungkook berkerut. Bagaimana mungkin Taehyung bisa ke dapur dalam waktu setengah jam dan kembali dengan mug cokelat yang masih panas?

"Jalan rahasia. Ah sudahlah, selesaikan karanganmu." Kata Taehyung seakan tahu apa isi pikiran Jungkook tanpa perlu dikatakan. Taehyung meletakkan mugnya, meraih kantung plastik yang tadi terlantar dan mengeluarkan isinya. Selusin pai daging dan roti buah serta beberapa kudapan permen dan sekotak krim beku. Jungkook melotot.

"Astaga―Kim Taehyung-ssi! Kau pencuri ulung!" kata Jungkook dengan mata berbinar-binar kemudian mencomot pai daging yang besar. Taehyung menoyor kepala Jungkook keras. Pemuda itu kemudian merogoh saku hoodie-nya dan Jungkook kembali melotot saat Taehyung mengeluarkan tiga pack cokelat kodok dan sekantung Jelly Kunyah.

"Dari mana semua ini?" Jungkook melotot tak percaya. Taehyung nyengir mendengarnya.

"Masih ada lagi banyak, tapi tidak bisa ambil. Kantungku penuh."

"Sial―harusnya tadi aku ikut." Jungkook tidak melepaskan perhatiannya dari Jelly Kunyah―favoritnya.

"Ambil saja." Taehyung menyerahkan sekantung Jelly itu ke hadapan Jungkook.

"Kau?" tanya Jungkook ragu-ragu.

Taehyung mengedikkan bahu. "Tidak suka. Aku mengambilnya karna kau suka." Jungkook tersenyum lebar mendengarnya, mengambil kantung Jellynya dan mendekatkan diri ke wajah Taehyung, mengecup pipi kanan dan kirinya cepat.

"Terima kasih!" katanya sambil tertawa-tawa lucu. Taehyung mengangguk, kembali berkonsentrasi ke grafik Arithmancynya dengan jantung berdegup kencang.

.


.

Hari terakhir kelas dilalui Taehyung dengan keluar dari ruang kelas, tangannya teracung ke atas, merasa bebas dari ujian selama berhari-hari.

"YEHEY!"

Jungkook memukul kepala Taehyung dengan buku Numerologi dan Gramatika miliknya, buku Arithmancy―kelas terakhir.

"Sombong. Memang kuis bisa?" Cibir Jungkook.

Taehyung menepuk jubahnya dengan gaya menyebalkan yang membuat Jungkook tidak tahan menggeplak kepalanya lagi. "Tentu bisa. Arithmancy mudah!"

Jungkook mencibir, merasa kesal―karena dia merasa tidak yakin di dua soal terakhir kuis mendadak. Mereka bersama anak-anak lain berjalan melalui koridor, Taehyung menatap langit-langit yang keruh. Sepertinya akan terjadi badai salju.

"Kau pulang ke Busan?" tanya Taehyung.

Jungkook menggeleng, menenteng tasnya di bahu. "Orang tuaku liburan dan kakakku pergi. Malas pulang ke rumah kalau sendirian." Respon Taehyung adalah mengangguk-anggukkan kepala. "Bagaimana denganmu?"

"Um…." Taehyung menunduk, menepuk-nepuk jubahnya yang kotor. "Tidak. Aku juga tidak pulang." Katanya kemudian mendongak.

"Wah―asik!" Jungkook tersenyum, matanya berkilat bahagia. Otaknya sudah merencanakan apa saja yang akan dia lakukan bersama Taehyung selama liburan.

"Oh iya!" Taehyung menepuk tangannya keras. "Aku baru ingat mau mencari Namjoon hyung. Duluan saja ke ruang rekreasi! Bye!" kemudian anak itu berlari, melesat meninggalkan Jungkook tanpa menunggu Jungkook membuka mulut.

.


.

"Apa?!"

Namjoon mengelus dahinya kesal. Taehyung di depannya mengatupkan tangan dengan pandangan memohon.

"Ayolah, Hyunggg. Setidaknya kalau Namjoon hyung yang bilang, mama papa percaya!"

Namjoon mengusap wajahnya, Taehyung yang bandel tiba-tiba datang, mencegatnya yang baru keluar dari ruang kelas dan menyeretnya ke koridor kosong. Memohon dengan wajah memelas seperti anak kucing untuk tinggal di Hogwarts selama liburan musim dingin. (Ini bahkan dua minggu sebelum liburan dimulai, Namjoon heran apa yang dipikirkan si Kim satu itu.)

"Hyungnim." Taehyung menggosok-gosok tangannya penuh harap. "Bilang saja kalau tugasku banyak tidak bisa ditinggal, dan aku butuh perpustakaan!" seru Taehyung.

"Tidak. Tidak." Namjoon menggeleng tegas. "Mana mungkin paman dan bibi percaya alasan bualanmu itu? Pergi ke perpusataan―cih. Lagipula kenapa harus aku?"

"Namjoon hyung kan prefek!" seru Taehyung. "Kau harus membantuku, Hyung." Taehyung menarik-narik lengan jubah Namjoon.

"Kenapa aku harus membantumu?" Namjoon bersedekap, bersender pada salah satu pilar, enggan membantu Taehyung. Karena―demi jenggot Merlin!―seluruh keluarga besar Kim akan berkumpul dan pasti mereka akan mencerca Namjoon dengan "Kenapa Taehyung tidak ikut pulang bersamamu?"

Taehyung cemberut. "Harus, hyung! Harus! Kalau tidak aku mau mengadu!" Namjoon menaikkan sebelah alis tidak tertarik.

"Aku akan mengadu ke Seokjin hyung kalau Namjoon hyung pernah mencium bibirnya diam-diam waktu tidur!" seru Taehyung dengan muka puas.

"Sial―dari mana kau.." Namjoon langsung berdiri tegak, matanya membola kaget kemudian mengusap wajahnya kasar. "Oke, baik, oke!"

Taehyung nyengir, mengangkat tangannya ke atas bahagia. "ASIKK!"

"Tapi kau harus jujur! Apa alasanmu tidak mau pulang?" Namjoon menatap Taehyung galak.

Taehyung menjilat bibir, nyengir tidak berdosa. "Anu―itu, hyung… Jungkook… Jungkook tidak pulang, aku mau menemaninya." Taehyung memainkan jari.

"Aku tidak mau dia sendirian, hyung. Please?" Tanya Taehyung, suaranya semakin lirih.

"Jadi.. semua karena Jungkook?" Namjoon terdiam. Kemudian dia menghela nafas. "Oke, baiklah." Namjoon menepuk bahu Taehyung, sementara pemuda itu berselebrasi di tempat, mengajaknya berjalan kembali ke Menara Gryffindor.

"Kalau kau sebegini perhatiannya, kenapa tidak sekalian saja jadikan pacar si Jungkook?" cibir Namjoon, dengan mata berkilat jahil. Taehyung tidak menjawab, hanya cengar-cengir mengeluarkan suara "hehehe" selagi mereka berjalan menjauhi koridor kosong.

Tanpa mereka tahu, Jungkook berdiri di balik pilar dengan muka merona.

.


.

Satu minggu sebelum semester berakhir, badai salju yang sebelumnya menghantam Hogwarts mereda. Langit mendadak terang menyilaukan dan tanah berselimut salju berkilau. Di dalam kastil, suasana Natal sudah terasa. Hagrid dan Filch membawa 12 pohon cemara dan pinus dari Hutan Terlarang untuk dijadikan pohon Natal. Profesor Flitwick sudah mendekorasi Aula Besar dan kastil dengan dekorasi Natal yang luar biasa indah lengkap dengan lampu kelap-kelip. Rangkaian tebal-panjang holly dan mistletoe dipasang sepanjang koridor-koridor, dua belas pohon Natal di Aula Besar berkelap-kelip dengan bintang-bintang emas.

Kunjungan ke Hogsmeade diadakan saat akhir pekan terakhir semester. Taehyung, Jungkook, Jimin janji untuk bersama-sama mengunjungi Hogsmeade. Pada hari kunjungan, Sabtu pagi, Taehyung dan Jungkook menuruni tangga pualam dengan terbungkus mantel dan syal menuju Aula Depan, dimana Jimin menunggu.

"Jimin!"

Jimin yang asyik bersender, menengok. Matanya menyipit. "Kalian lama." Kemudian dia separuh cemberut.

Ketiganya berjalan menuju pintu Aula Depan, dan terkejut saat melihat Min Yoongi yang berdiri di luar. Saat melihat ketiganya, Yoongi berjalan ke arah mereka.

"Halo, Jimin, Taehyung, Jungkook."

Jimin terlihat senang, membalas sapaan Yoongi dengan gugup. Yoongi tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya ke Taehyung dan Jungkook.

"Apa kalian keberatan kalau aku mengajak Jimin pergi bersamaku?"

"Tentu! Tentu tidak apa-apa!" Taehyung menjawab kelewat bersemangat. Jimin melotot, menyikut lengan Taehyung keras.

"Um―kita bisa pergi bersama-sama, kan?" Itu Jimin, terlihat sangat salah tingkah.

"Duh, Jim. Kita tidak mau mengganggu kencanmu." Taehyung nyengir dan mengedip.

"Ke-kencan?!" seru Jimin, matanya berkedip-kedip lucu.

Yoongi tak menjawab, tersenyum kecil yang membuatnya semakin tampan. Tangannya terjulur ke arah Jimin, yang disambut pemuda Hufflepuff itu dengan wajah tersipu-sipu.

"Terima kasih Taehyung, Jungkook." Yoongi menganggukkan kepala kemudian berjalan menjauh, bergandengan dengan Jimin. Taehyung terkekeh dengan tangan melambai antusias sementara Jungkook sedari tadi diam dan separuh menganga.

"Kau kenapa?" Taehyung menepuk pundak Jungkook yang membatu.

"Yoongi keren sekali ya?" ucapan mendamba Jungkook membuat Taehyung mengerutkan kening.

"Apa ini? Kau menyukai Yoongi?"

Jungkook langsung mengerjap, menoleh ke Taehyung. "Tidak, maksudku dia keren. Gagah dan pendiam." Jungkook mulai berjalan bersisian dengan Taehyung. "Dan dia cakep." Tambah Jungkook.

"Kau terdengar seperti penggemarnya." Tuntut Taehyung tidak menyembunyikan raut wajah tidak suka.

"Well―kau tidak tahu? Yoongi punya banyak penggemar. Dia Seeker baru Slytherin, dan wajahnya juga cakep."

"Kau memujinya cakep dua kali." Taehyung mengerutkan kening di sampingnya, Jungkook mendengus.

"Apa salahnya mengatai orang cakep dengan sebutan cakep." Cibir Jungkook.

"Tapi dia pendek, lebih pendek darimu juga."

"Lalu? Apa hubungannya? Cakep tidak ada pengaruhnya dengan tinggi badan." Jungkook berkedip. "Apa sih? Kau cemburu ya~?" Tebak Jungkook. Taehyung diam, berjalan mendahului Jungkook tergesa-gesa. Jungkook melongo, kemudian dia tertawa dan berlari kecil menyusul Taehyung.

"Jangan marah~ Kim Taehyung juga cakep, kok?" Jungkook tertawa, memeluk lengan Taehyung menariknya mendekat dan mengecup pipinya. Taehyung bergeming, tapi pipinya merona tipis dan Jungkook kembali tertawa sepanjang perjalanan mereka ke Hogsmeade.

.


.

Hosgmeade tampak seperti gambar di kartu Natal. Pondok-pondok dan toko-toko kecilnya yang beratap lalang diselimuti lapisan salju; di depan pintu-pintunya ada rangkaian holly yang melingkar dan untaian lilin sihir bergantungan di pepohonan. Taehyung dan Jungkook gemetar kedinginan. Setelah menghabiskan waktu di Kantor Pos―melihat burung hantu berbagai macam ukuran, toko lelucon Zonko, dan membeli cokelat dan permen di Honeydukes mereka memutuskan minum Butterbeer.

"Hei―Tae!"

Taehyung menoleh, setengah jalan, dan melihat Jungkook berjalan di arah berlawanan.

"Mau ngapain?" tanya Jungkook bingung dan ingin tahu melihat Taehyung.

"Minum Butterbeer, kan?" Taehyung memastikan, wajahnya berkerut bingung.

"Kenapa lewat situ? Three Broomstick di arah sana." Kata Jungkook, menunjuk arah yang sedang dia tuju.

"Loh? Bukannya kita mau minum di Madam Puddifoot's?"

"A―apa?"

"Kau tidak mau minum di Three Broomstick kan? Lebih baik kita kesana." Taehyung mengedikkan bahu, kemudian kepalanya teleng ke sebelah sisi melihat Jungkook dengan telinga merah.

"Kau kedinginan? Ayo cepat." Taehyung menarik tangan berbalut sarung Jungkook, panik sepertinya Jungkook terlalu lama berada di luar. Memang, angin bertiup kencang dan tangan Taehyung sudah beku meski berlapis sarung tangan.

"Tidak!" Jungkook menyentak tangan Taehyung, keduanya terperanjat kaget. "Maksudku―kita minum di Three Broomstick saja." Jungkook buru-buru meralat.

Taehyung menaikkan sebelah alis tak percaya. "Kau yakin?" tanyanya dengan gigi bergemeletuk.

Jungkook mengangguk cepat, tidak berniat berdebat dan langsung menuju Three Broomstick dan beberapa menit kemudian sudah sampai di tempat minum yang hangat itu.

Seorang wanita montok berwajah manis sedang meletakkan Wiski Api di meja dekat pintu masuk saat Taehyung dan Jungkook melangkahkan kaki.

"Oh Kimtae," kata Madam Rosmerta.

Jungkook mengerutkan kening tidak suka. "Sana kau yang beli." Dia berkata, wajahnya masam.

Jungkook meninggalkan Taehyung ke bagian belakang ruangan. Di sana, di antara jendela dan pohon Natal indah yang tegak di sebelah perapian, ada satu meja kecil kosong yang agak tertutup pohon Natal. Taehyung menyusul lima menit kemudian, membawa dua cangkir Butterbeer panas berbuih.

"Ini minumanmu." Taehyung mengangkat cangkirnya, tersenyum lebar untuk Jungkook. Taehyung menghirup minumannya. Butterbeer menghangatkan sekujur tubuhnya dari dalam.

"Aku tidak ada apa-apa dengan Madam Rosmerta, sungguh." Taehyung akhirnya berujar, jengah dengan kediaman Jungkook.

"Apa peduliku." Sahut Jungkook, menghirup minumannya dengan tenang.

Taehyung meletakkan cangkir kosongnya di meja, mengawasi Jungkook yang masih menghirup miliknya. Setelah Butterbeernya habis, Jungkook meletakkan cangkirnya di sebelah Taehyung.

"Aku dan Madam Rosmerta tidak ada apapun, sama sekali tidak ada. Jadi berhentilah bersikap menyebalkan."

"Mmm." Kata Jungkook, mendecap bibirnya yang masih tersisa Butterbeer, tangannya mengetuk-ngetuk meja.

"Dengar." Taehyung memajukan badan, memasang wajah serius. "Aku lebih memilih yang seumuran denganku―Madam Rosmerta jelas lebih tua dariku, atau yang pintar karena itu seksi, atau―" Taehyung menggelus punggung tangan Jungkook dengan ibu jarinya. "―dengan orang yang jelas-jelas seumuran denganku, pintar, dan membuatku nyaman."

Kedua pasang mata Taehyung dan Jungkook saling bertatapan untuk waktu yang lama, keduanya diam tanpa suara. Jungkook belum pernah melihat iris cokelat caramel Taehyung memandangnya sedalam ini, sangat tajam dan lembut di saat yang bersamaan. Cahaya dari api perapian menyinari separuh wajah Taehyung dengan cahaya kuning keemasan. Jungkook meneguk ludah, kemudian berdeham canggung.

"Se―sebaiknya kita pulang, sebelum ada badai salju dan terjebak disini…"

.


.

Liburan musim dingin pada pagi Hari Natal, Taehyung meloncat dari ranjangnya. Bergegas ke kamar Jungkook―menjeblak pintunya keras―dan mengguncang-guncangkan lengan pemuda Jeon.

"Hadiah! Hadiahh! Oiii, Jungkook! Hadiah!"

Jungkook menyipitkan mata, belum sepenuhnya sadar dan segera ditarik turun dari kasurnya, diseret oleh Taehyung ke ruang rekreasi. Pohon Natal kecil berada di atas perapian dan di kaki sofa terdapat setumpuk hadiah. Taehyung meloncat-loncat semangat dan segera bersila di dekat kotak-kotak hadiah. Taehyung mendapat berkotak-kotak cokelat dari anak-anak perempuan, selusin kue-kue manis strawberry dari teman-temannya, dan beberapa baju dari keluarganya―tambahkan pena bulu baru dan setumpuk perkamen baru dari Namjoon yang disambut decihan dari Taehyung. Taehyung menyisihkan hadiah-hadiah ini ke tepi, kemudian melihat Jungkook yang merobek bungkus hadiahnya sendiri.

"Hadiahku?" tanya Taehyung.

Jungkook merengut. "Hadiahku?"

"Itu hadiah dariku." Taehyung menunjuk kotak berwana silver di tangan Jungkook. Jungkook nyengir, membuka hadiahnya dan terperangah melihat kamera muggle yang dia inginkan selama ini.

"Wow! Astaga, Tae!"

"Nah―mana hadiahku?" tuntut Taehyung, tangannya tengadah. Jungkook mengabaikan, merobek tuntas kertas pembungkus kameranya dan segera mengeluarkan isinya.

"Woah keren! Terima kasih, Tae!"

"Tentu, tentu. Tapi mana hadiahku?" Taehyung mulai berwajah masam, membongkar kotak-kotak hadiahnya, tetap tidak menemukan kartu bertulisan dari Jungkook. Jungkook meringis, menggaruk tengkuknya yang Taehyung yakini sekali tidak gatal.

"Um―hadiahmu ada, tapi nanti."

.


.

Taehyung menelungkupkan kepala di atas buku Sejarah Sihirnya dengan muka melongo. Setelah tidak mendapat hadiah dari Jungkook―katanya nanti―dan makan siang yang sangat enak kini dia diseret Jungkook untuk belajar di ruang rekreasi. Tolong dicatat, belajar! Saat liburan musim dingin dan hari Natal!

"Aku tak percaya." Gumam Taehyung, tampak sengsara. "Di hari Natal aku menghabiskan waktu terjebak dengan manusia yang kecanduan belajar."

Jungkook memutar bola mata jengah. "Oh ayolah, Tae. Sejarah Sihir tidak seburuk itu―"

"―Ini seperti cerita-cerita di video game, tahu. Dengar―ilmu sihir dipercayakan kepada umat manusia oleh dewa-dewa Mesir, tidak seperti di kebudayaan lain. Sebagai perbandingan, menurut mitologi Yunani sang pahlawan Prometheus―yang namanya berarti "berpikir ke depan" ―harus mengakali para dewa agar memberikan api, yang melambangkan kehidupan dan pengetahuan. Menurut agama di Mesir, sihir diciptakan dalam wujud Dewa Heka segera setelah dunia diciptakan. Nama Heka sebenarnya menjadi kata yang berarti "sihir". Setelah sampai di telinga orang Yunani, lalu diberi ejaan dan pengucapan lokal, kata itu berubah menjadi mageia, yang merupakan akar kata dalam Bahasa Inggris yang digunakan sekarang, magic. Dan salah satu dewa Mesir, Tho―Taehyung!"

Jungkook memekik saat Taehyung yang memainkan tongkatnya hingga bunga-bunga api bermunculan di ujungnya dan salah satunya memercik ke buku yang dipegang Jungkook. Taehyung mendengus, menghilangkan bunga apinya dan merebahkan kepala di atas meja, memandang Jungkook di sebelahnya penuh damba.

"Hadiahku, Jungkook-ah Hadiahku." Gumamnya tanpa henti.

Jungkook menghela nafas frustasi, menggabrukkan bukunya sampai menutup. "Baik. Hadiah kan? Kau ingin hadiah?" Jungkook memicingkan mata setelah itu berdiri dari duduknya cepat hingga kursi berdenyit menyakitkan.

"Tunggu disini. Jangan kemana-mana!" kata Jungkook galak, kemudian berjalan menghentak ke kamar anak laki-laki.

Taehyung melirik Jungkook hingga pergi dari pandangan, kemudian duduk tegak dengan tangan terangkat ke atas gembira. "Asik! Hadiah!" pekiknya dengan suara kecil. Kemudian suara langkah kaki menghentak kembali terdengar dan Taehyung buru-buru kembali ke posisinya merebahkan kepala di atas meja.

Jungkook kembali dengan muka merengut, duduk dengan kotak hadiah berwarna merah dengan pita putih di pangkuannya.

Taehyung melongok antusias, "Hadiahku?"

Jungkook mendengus tidak rela. "Jangan protes. Jangan tertawa. Jangan―"

"―Iya. Iya. Iya. Sini kemarikan." Taehyung merebut hadiahnya, membukanya tak sabaran. Matanya membesar melihat isinya dan langsung mengeluarkannya.

"Wow―sweater!" Taehyung berseru antusias, membentangkan sweater rajutan berwarna merah, mukanya berseri-seri. "Tunggu―kau merajutnya sendiri?" Taehyung memicingkan mata, melihat tulisan KTH kecil terajut di bagian dada kiri. Taehyung menatap Jungkook, sementara yang ditatap mengangkat tinggi-tinggi buku tebalnya sejajar dengan kepalanya. Taehyung terkekeh, bergeser mendekat dan mengangkat tangannya, menarik turun buku itu.

Taehyung mengulum senyum melihat Jungkook yang mengalihkan pandangan dengan alis mengerut lucu. Taehyung menjilat bibir sekilas.

"Jung?"

Jungkook menaikkan pandangan, bertatapan dengan Taehyung yang tersenyum tulus.

"Terima kasih." Taehyung berbisik lirih. Keduanya bertatapan tanpa suara, hingga suara derak halus membuat keduanya sedikit mendongak, menatap jalinan dedaunan dan bunga bulat kecil silver bertumbuh di atas kepala mereka. Taehyung tertawa dengan kedua alis terangkat dan mendekatkan wajahnya. Jungkook langsung memejamkan matanya erat, tangannya mengepal erat di atas pahanya. Taehyung semakin dekat, hidung mereka bersentuhan kemudian mengikis jarak dengan mempertemukan bibir mereka.

Taehyung menciumnya.

Jungkook merasa perutnya mulas dan badannya menggigil. Tangannya beralih meremat jubahnya kasar. Taehyung melumat bibir bawahnya lembut untuk beberapa saat kemudian melepasnya, memberikan kecupan halus sebelum sedikit menjauhkan wajah mereka berdua.

Taehyung tersenyum simpul saat melihat Jungkook dari jarak sedekat ini. Pipinya bersemu kemerahan dan mata yang terpejam erat itu perlahan-lahan membuka, bibir ranumnya bergetar kecil dengan gigi kelincinya sedikit terlihat.

"Well?" Taehung bersuara pelan dan Jungkook mendecap bibirnya singkat, tersenyum kecil malu-malu. Kemudian Taehyung tersenyum lebar, meletakkan tangannya di pipi Jungkook menariknya semakin dekat.

Dan keduanya kembali berciuman di bawah Mistletoe.

.

.

.

SEASONS

WINTER 1/2

FIN


.

.

Celestaeal's Note

Haloo! Bagaimana musim dinginnya? Apakah dingin? Atau―hangat?

Ya, saya ganti nama menjadi celestaeal ehehehe

Well―jangan kebanyakan mikir soal Mistletoe yang tiba-tiba nongol. Bayangin aja semacam harpot film ke-5 yang harry sama cho chang :")

Sampai bertemu di musim dingin jilid dua~ 😊

Ditunggu selalu tanggapanny~

.

.

.

Feel free to chat me!
[Wattpad : celestaeall || Instagram : celestaeal]