I'll Be Here
.
.
.
Author
mystar. jungwoo
Disclaimer
NCT milik SM Ent. Fic ini milik saya.
Main Cast
Moon Taeil, Ji Hansol, Seo Young Ho (Johnny), Qian Kun, Kim Dong Young (Doyoung), Chittaphon Leechaiyapornkul (Ten), Jung Yoon Oh (Jaehyun), Dong Sicheng (Winwin).
Support Cast
Lee Taeyong, Nakamoto Yuta, Lee Minhyung (Mark), Huang Renjun, Lee Jeno, Lee Donghyuck (Haechan), Na Jaemin, Zhong Chenle, Park Jisung, and SMTown Member.
Genre
Romance, Friendship, Hurt/Comfort.
Length
Chaptered
Rated
T
Summary
Kisah cinta segi sekian yang sudutnya tak menentu. #NCT #SMRookies #JohnIl #JohnJae #HanYoung #JaeKun #WinIl #DoTen #HanTen #WinKun #TaeYu #NoRen #MarkRen #ChanMin #MarkChan #NoMin #SungLe.
Warning
B x B, Shounen-Ai, Yaoi, OOC, Typo(s).
.
.
.
Big Thanks To :
essens, awhaechan, jaeDonoRen, kiyo, hopekies, Pika WarbenJaegerManJensen, grayesoul, Vitry413, ROXX, krystalizedjung, Rina Putry299, MyNameX, JaeminNanana, and Chevce.
Also for your favorite and follow this fanfic.
.
.
Chapter 1
.
.
Menatap indahnya malam, Johnny tersenyum ketika melihat bulan yang begitu terang menyinari langit malam ini. Bibirnya melengkungkan senyuman lebar ketika mengingat wajah seseorang yang mempunyai marga yang artinya bulan, jika dalam bahasa Inggris. Moon Taeil. Itulah namanya, seseorang yang selama ini dipuja Johnny, yang selalu menyemangatinya ketika lelah karena latihan, dan selalu menjadi tempatnya berbagi ketika Johnny merasa butuh tempat untuk bercerita.
Merapatkan jaket yang dikenakannya, Johnny masuk terburu-buru ke dalam dorm. Lampu sudah mati, karena jam yang memang sudah menunjukkan waktu tengah malam. Membuang nafasnya, Johnny meraih ponsel pintarnya dari saku celana jeans yang dikenakannya dan menyalakan fitur senter untuk membantunya berjalan agar sampai kamarnya. Johnny memilih hal seperti itu, agar ia tak menabrak apa pun itu benda di depannya nanti dan membuatnya dimarahi sang leader karena membuat keberisikan di saat semua orang sudah lelap dalam tidur mereka.
Membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk, Johnny terkejut ketika menemukan teman sekamarnya ternyata belum tidur. Di atas ranjang di sebelah ranjang miliknya, Johnny melihat Jaehyun yang sedang duduk di ranjang dengan ponsel di genggamannya. Meskipun dengan wajah yang mengantuk, bisa di pastikan jika Jaehyun menunggunya.
Menutup pintu kamar sepelan mungkin, Johnny dengan segera menghampiri Jaehyun. Menyentuh pundak yang lebih muda dengan sedikit sentakan yang membuat Jaehyun mengerjap seperti orang linglung.
"Johnny hyung? Kapan pulang?" Jaehyun mengucek matanya yang memerah karena mengantuk. Johnny tersenyum tipis, dirinya tak habis pikir dengan pemuda di hadapannya ini. Kenapa Jaehyun selalu menungguinya pulang? Menurutnya, tak ada alasan khusus yang membuat Jaehyun harus menungguinya. Bahkan jika boleh memilih atau meminta, Johnny sangat ingin ditunggui oleh Taeil saja.
"Hyung!" Johnny sedikit tersentak ketika mendengar suara Jaehyun yang memanggilnya dengan nada yang meninggi.
Menyunggingkan senyum tipis, Johnny mengacak gemas rambut Jaehyun.
"Baru saja Jay. Tidurlah, sudah terlalu larut."
Jaehyun cemberut dan menatap tak suka pada Johnny. Lagi-lagi begini, kenapa Johnny tak pernah menghargai dirinya yang sudah menungguinya setiap malam? Pada hal Jaehyun hanya ingin mengobrol dengan Johnny saja.
"Selamat malam, Jay." Johnny berbaring di ranjangnya dan sudah menutupi tubuhnya dengan selimutnya.
Jaehyun mendengus sembari membaringkan dirinya di ranjangnya. "Selamat malam, hyung." Balas Jaehyun sambil menggerutu dan menutup matanya. Membiarkan alam mimpi menariknya dan mempertemukannya dengan sang pujaan hati di alam mimpi sana.
.
.
Matahari pagi datang, menyapa banyak orang yang siap untuk beraktivitas pada pagi ini. Salah satunya adalah trainee dari sebuah agency terbesar di Seoul, SM Entertaiment, yang bernama Ji Hansol. Hansol sedang berjalan-jalan di sekitar taman milik SM Entertaiment. Hansol memasukkan kedua tangannya pada saku jaket yang dikenakannya. Hidungnya mengeluarkan uap karena efek dingin yang masih dirasakannya.
Mata Hansol berpendar melihat ke sekeliling taman yang sepi itu. Dan matanya tertuju pada pandangan di hadapannya.
'Bukankah itu Johnny? Dan itu, bukankah itu Taeil hyung?' Pikir Hansol ketika melihat dua orang yang dikenalnya sedang, bertengkar? Kenapa mereka bertengkar? Ada masalah apa mereka berdua?
"Hansol hyung!" Dan suara seruan juga tepukan di bahunya membuat Hansol tersentak kaget.
Mengatur ekspresi wajahnya, Hansol kemudian menoleh pada orang yang berdiri di belakangnya itu. "Ten?"
Yang dipanggil tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya.
"Melihat apa hyung?"
Hansol melirik pandangan yang kini berada di belakangnya sebelum mengalihkan pandangannya lagi pada Ten.
"Bukan apa-apa Ten." Hansol tersenyum menjawab pertanyaan Ten.
"Benarkah?" Ten menatap tidak percaya akan jawaban Hansol yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Ten mencoba melihat ke belakang Hansol namun dengan cepat lelaki Busan itu menahannya.
Dengan tangan yang merangkul bahu Ten, Hansol mengajak Ten pergi dari sana. "Iya Ten. Sekarang lebih baik kita sarapan dulu."
Ten mengangguk dengan pipi yang memerah karena perlakuan Hansol tersebut. Mengabaikan perasaan ganjal yang menghampiri fikirannya.
.
.
Jaehyun keluar dari kamarnya dengan mata yang melirik ke seluruh ruangan. Doyoung yang kebetulan lewat pun menatap bingung pada tingkah Jaehyun itu.
"Mencari sesuatu?" Doyoung bertanya, langkahnya ia dekatkan pada Jaehyun. Jaehyun menoleh, menampilkan senyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Doyoung. "Lihat Johnny hyung?"
Doyoung mengangguk. "Tadi keluar bersama Taeil hyung. Entah kemana. Makanlah dulu Jae. Taeyong hyung dan yang lain sudah menunggu. Ayo." Doyoung menarik tangan Jaehyun agar mengikutinya ke dapur. Mereka ada jadwal latihan nanti, jadi mereka harus sarapan terlebih dahulu.
Jaehyun menghela nafasnya, otaknya terus memikirkan kemana Johnny hyung dan Taeil hyung pergi? Kenapa pagi-pagi sekali? Dan, bukankah Johnny baru tidur sebentar tadi, kenapa bisa bangun lebih awal begini?
Tukk
Jaehyun berjengit ketika rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya. "Jangan melamun di meja makan." Taeyong berujar datar dengan sendok di tangannya. Jaehyun tertawa garing, matanya menatap teman-teman satu grupnya yang sedang menahan tawanya karena melihat dirinya dimarahi oleh sang leader.
Menghembuskan nafasnya, Jaehyun mencoba fokus pada makanan di hadapannya tanpa mempedulikan otaknya yang terus berfikiran, sedang apa Johnny hyung dan Taeil hyung? Mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak ingin Jaehyun bayangkan kan? Semoga saja tidak.
.
.
Setelah sarapan, Winwin langsung pergi ke tempat latihan. Tersenyum melihat bayangannya sendiri di depan kaca, Winwin merapihkan kembali pakaiannya. Winwin sudah membuat janji dengan Kun agar mereka bisa berlatih bersama. Keluar dari kamarnya, Winwin disambut oleh Jaehyun yang berdiri di depan pintu kamarnya. Teman satu lininya itu terlihat begitu mengenaskan sekarang. Lihatlah, wajahnya yang cemberut belum lagi aura gelap yang melingkupi tubuh pemuda kelebihan putih itu.
"Mau kemana?" Jaehyun menatap malas pada Winwin. Moodnya masih buruk karena sampai sekarang Johnny maupun Taeil belum ada yang kembali satu pun.
"Latihan." Winwin menjawab santai, matanya melirik jam tangan yang ia kenakan di pergelangan tangan sebelah kirinya. "Apa lagi?" Winwin balas menatap Jaehyun yang kini mengernyitkan dahinya. Winwin ini buru-buru sekali? Memangnya dia kenapa, mau latihan atau kemana sebenarnya?
"Aku ikut." Dari pada uring-uringan tak jelas di dalam kamarnya nanti, lebih baik Jaehyun ikut Winwin latihan saja. "Baiklah." Winwin mengangguk mengiyakan, sebelum akhirnya ia tersadar akan sesuatu hal. Menepuk dahinya, Winwin tersadar jika ia mengajak Jaehyun, bukankah Jaehyun juga akan bertemu Kun? Lalu, jika Kun bertemu Jaehyun, maka fokus lelaki itu pasti pada Jaehyun bukan dirinya. Bagaimana ini? Apa yang harus Winwin lakukan sekarang?
"Tunggu sebentar. Aku ambil barangku dulu di kamar." Menghela nafasnya, Winwin menganggukan kepalanya ketika Jaehyun berlalu menuju kamarnya. Sinar mata Winwin meredup namun tetap Winwin coba untuk tersenyum. Lagi pula, sepertinya Jaehyun dalam mood tak baik, jadi tak ada salahnya ia coba untuk menghiburnya.
.
.
Doyoung melangkahkan kakinya dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya. Langkahnya ringan dengan sesekali menggumamkan lagu kesukaannya.
"Doyoungie!" Langkah Doyoung terhenti begitu mendengar teriakan seseorang dari arah depannya. Dan senyuman Doyoung bertambah lebar melihat orang yang memanggilnya itu.
Melanjutkan langkahnya, Doyoung pun berjalan mendekati orang itu. "Ten-ah." Ten balas tersenyum saat Doyoung berhenti tepat di hadapannya.
"Sedang apa di sini?"
"Aku habis sarapan. Bersama Hansol hyung, itu." Ten menjawab dengan senyum lebarnya dan tangannya ia gunakan untuk menunjuk Hansol yang berjalan di belakangnya.
"Aku tak tahu jika kau akan ke sini Doyoung-ah." Hansol yang kini sudah berdiri di samping Ten pun menyapa Doyoung. Doyoung balas tersenyum sebelum membalas ucapan Hansol. "Memangnya salah hyung? Aku kan juga mau latihan."
Hansol terkekeh pelan, tangannya terulur untuk mengacak gemas rambut Doyoung. "Kenapa kau sensi sekali? Aku kan hanya bercanda Doyoung-ah." Doyoung merenggut. Ten melirik keduanya dengan tatapan tak suka yang begitu kentara.
"Ayo kita ke studio hyung, Doyoungie." Ten yang tak mau melihat adanya skinship yang berkelanjutan antara Doyoung dan Hansol pun akhirnya merangkul lengan Hansol dan berjalan menuju tempat latihan. Doyoung mengikuti di belakang mereka dengan bibir yang ia majukan, Hansol sesekali melirik Doyoung.
Memberanikan diri, Hansol menggenggam tangan Doyoung yang membuat pemuda kelinci itu terkejut. Doyoung pun mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Hansol yang dibalas dengan Hansol yang tambah mengeratkan genggamannya dengan senyum lebar terpatri di bibirnya. Membuat Hansol menghela nafasnya berat dan tetap berjalan di belakang Ten dan Hansol.
.
.
"Hyung, dengarkan aku." Johnny menatap ke dalam mata Taeil. Taeil mencoba melepaskan genggaman tangan Johnny yang begitu erat pada tangannya.
Mengalihkan pandangannya, Taeil mencoba mendorong bahu Johnny. "Menjauhlah Johnny. Tak enak jika ada orang yang melihatnya." Johnny tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Johnny hanya ingin bicara pada Taeil yang beberapa hari ini menjauhinya. Entah karena alasan apa.
"Tatap mataku hyung." Johnny semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Taeil, membuat Taeil harus memundurkan langkahnya yang mengakibatkan dirinya terjebak di ujung dinding kamar mandi.
Taeil memejamkan matanya, menolak untuk menatap mata tajam Johnny. Menghembuskan nafasnya berat, Johnny mendekatkan wajahnya pada wajah Taeil. Genggaman pada tangan Taeil, Johnny lepaskan. Dan ketika Taeil membuka matanya, matanya terbelalak lebar mendapati bibir pemuda yang lebih muda darinya itu, menyatu dengan bibirnya. Johnny mulai melumat bibir Taeil, mengulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian meskipun Taeil tak membalasnya.
Taeil mengerang tertahan ketika gigi Johnny menggigit bibirnya, mencoba mengeksploitasi bibir dan mulutnya. Taeil meremat baju depan Johnny saat lidah panjang milik Johnny melilit dan menghisap kuat lidah miliknya. Setelah beberapa menit, Taeil pun memukul dada Johnny untuk memberitahu pemuda jangkung itu jika dirinya kehabisan nafas.
Sedikit tak rela, Johnny pun melepaskan ciumannya dengan Taeil. Menjauhkan wajahnya dari wajah Taeil, Johnny mengusap bibir kemerahan Taeil dan mengecupnya sekali lagi.
Brakk
Suara pintu terbuka dengan kasar membuat keduanya menoleh secara bersama ke arah pintu. Menemukan seorang pemuda tinggi dengan wajah memerah dan tangan yang mengepal, menahan emosi tengah berdiri di sana.
"Winwin." Taeil mencicit memanggil orang yang berdiri di sana. Winwin mengerjapkan matanya begitu melihat pemandangan di hadapannya.
"Ma-maaf." Dengan wajah yang masih memerah, Winwin berlari menjauhi kamar mandi.
Taeil dengan segera mendorong bahu Johnny dan ingin mengejar Winwin, namun tertahan karena Johnny menahan tangannya.
"Taeil hyung."
"Maaf Johnny, aku harus menemui Winwin."
Setelahnya, Taeil pun melepaskan dengan paksa tangan Johnny dan berlari untuk mengejar Winwin. Johnny menggeram, tangannya yang terkepal, ia pukulkan pada dinding di hadapannya. Tak peduli jika tangannya terluka dan berdarah. Hatinya lebih terluka sekarang.
.
.
Taeyong menatap malas pada Yuta yang masih sibuk dengan TV di hadapannya. Bukannya bersiap-siap untuk latihan, malah menonton TV begitu.
"Yuta, kenapa tidak bersiap?" Taeyong sedang memeriksa tas kecil yang akan ia bawa ke tempat latihan. Mendengus pelan, Yuta menolehkan kepalanya untuk menatap sang leader.
"Kau duluan saja Tae."
"Memangnya kenapa?"
Bukannya menjawab, Yuta hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Taeyong. Tersenyum tipis, Taeyong berjalan mendekati Yuta, mendudukkan dirinya di samping sang kekasih dan menggenggam erat tangan Yuta.
"Kau pasti berfikiran tentang anak-anak ya?"
Taeyong memainkan jemari milik Yuta, membuat Yuta menatap tangan mereka yang bertaut dan menganggukan kepalanya.
"Aku tak tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Tapi, suasana di sini benar-benar membuatku gerah." Yuta bergumam yang masih dapat di dengar Taeyong. Taeyong mengangguk setuju dengan ucapan Yuta. Meskipun dirinya sebagai leader di sini, tapi untuk perasaan masing-masing membernya, Taeyong tak mungkin bisa untuk mengaturnya.
"Tak perlu difikirkan Yuta. Semuanya akan baik-baik saja." Taeyong tersenyum, tangannya ia gunakan untuk mengelus pipi Yuta. Yuta menghela nafasnya pelan sebelum balas tersenyum.
"Semoga saja."
.
.
Mark dan Haechan berjalan berdampingan menuju ke dorm NCT Dream. Haechan yang sibuk dengan ponsel di tangannya tak mempedulikan Mark yang sibuk dengan lamunannya.
"Ada apa hyung?" Setelah mengirim pesan untuk seseorang yang jauh di sana, Haechan akhirnya membuka suaranya. Mark terlihat terkejut saat menoleh pada Haechan.
Menggaruk tengkuknya, Mark menggeleng sembari tersenyum. "Tak ada apa-apa, Haechan-ah." Haechan hanya mengangguk, tak berniat untuk memperpanjang percakapan mereka.
Mark kembali pada lamunannya, otaknya masih memikirkan apa saja yang terjadi pada grupnya. Setelah berpamitan dengan Taeyong dan Yuta tadi, Mark tak sengaja melewati lorong yang juga dilewati oleh Hansol, Doyoung dan Ten. Mata Mark langsung terpaku pada tangan Ten yang merangkul lengan Hansol, Hansol yang menggenggam sebelah tangan Doyoung, dan Doyoung yang menatap penuh arti pada punggung Ten. Mark memang polos, tapi ia tak bodoh untuk menyadari adanya cinta segita di antara mereka bertiga.
Menghela nafasnya, Mark dan Haechan pun akhirnya sampai di dorm NCT Dream. Ketika memasuki dorm, mata Mark langsung mengarah pada Jeno dan Renjun yang sedang duduk di meja makan, dan melirik ke arah ruang tv, ada Chenle dan Jisung yang sedang menonton tv bersama.
Mengacak rambutnya, Mark juga sadar, bahwa percintaan dalam grup yang ia pimpin, juga tak kalah dengan grup hyung line.
Mark itu mencintai Renjun, dan Renjun mencintai Jeno. Namun di sisi lain, Jeno mencintai Jaemin, tapi, Jaemin mencintai Haechan. Dan Haechan, ia mencintai Mark.
Mengerang pelan, Mark dengan terburu-buru melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Membanting pintu kamarnya, Mark tak peduli jika adik-adiknya yang terkaget mendengar suara bantingan itu.
"Kenapa dengan Mark hyung?" Dan kata-kata itulah yang berada dalam otak para member NCT Dream.
.
.
.
TBC
.
.
A/N :
Akan menjawab beberapa pertanyaan.
-Siapa seme siapa uke?
Untuk sementara
Seme : Johnny, Hansol, Winwin, Taeyong, Mark, Jisung, Jeno.
SeKe : Jaehyun, Doyoung, Haechan.
Uke : Taeil, Ten, Kun, Yuta, Renjun, Chenle, Jaemin.
Kenapa sementara?
Karena kita tak tahu, endingnya siapa-siapa saja. Yang pasti, TaeYu dan SungLe tak bisa diganggu gugat. Mereka adalah pemanis dalam ff ini.
- Ini no pair atau bagaimana? Banyak banget.
Ini pairnya masih acak, jadi pairnya suka-suka author setiap chapternya. Tapi, endingnya terserah readernim *ini serius.
-Authornya nggak bingung?
Kayanya bohong banget kalau bilang nggak bingung, tapi karena ini emang sudah niat, jadi sebingung apapun pasti bakal di coba cari jalan keluarnya.
Jika ada yang ingin ditanyakan tentang ff ini, tinggal review saja. Terus, jika ada yang mau request moment untuk chapter depan, bisa diketik di review ya.
Terima kasih!
