Big Thanks To :
Chevce/adaml8770/Siapa Sih2/JaeminNanana/ROXX/MyNameX/someonelol/Yuta Noona/Rina Putry299/haechantik/preetybeauty/Seung yeon Kang/JaeEun21/hopekies/leemitless/Guest.
.
.
.
Hansol menyenderkan tubuhnya pada tembok di belakangnya. Kun menyusul dengan bersender pada bahu Hansol. Hansol melirik sekilas sebelum menangkap botol minuman dingin yang dilemparkan oleh Jungwoo. Membuka botol minumannya, Hansol menegak minumannya hingga habis setengah. Kun menutupi wajahnya dengan handuk kecil miliknya, Jungwoo mendudukkan dirinya di depan dua hyungnya disusul oleh Yukhei yang tiba-tiba merapat ke arah mereka.
Hansol mengernyit, menatap tak mengerti adik-adiknya yang mendadak menjadi pendiam begini.
"Kalian kenapa?" Hansol menatap bergantian Jungwoo dan Yukhei yang duduk di hadapannya, kemudian beralih pada Kun yang masih bersandar di tubuhnya.
"Seharusnya kami yang bertanya, hyung kenapa? Merindukan Ten hyung? Atau Doyoung hyung?" Kata Jungwoo sambil mengusap kepala Yukhei yang kini jatuh di pahanya.
"Hyung kelihatan tidak semangat beberapa hari ini, merindukan Ten hyung yang jauh di Thailand sana eoh?" Yukhei ikut berkomentar sembari memainkan handuk kecil yang berada di tangannya.
"Kalian jangan bercanda. Sudah jelas Hansol hyung merindukan Doyoung. Kan semenjak Ten pergi, Doyoung jadi jarang ke sini, ditambah sekarang jadwal Doyoung makin banyak." Kun akhirnya membuka suaranya setelah membuka handuk kecil yang menutupi wajahnya.
Jungwoo terkikik pelan begitu melihat Hansol yang mendelik tak suka pada Kun akibat perkataannya barusan.
"Kalian semua ini sok tahu sekali." Hansol berdecak pelan, tangannya menyingkirkan kepala Kun yang masih belum mau pindah tempat itu.
"Kalau bukan karena mereka apa lagi hyung? Memikirkan kapan debut? Itu sih kami juga sama." Detik setelah mengatakan itu, Yukhei langsung mendapat lemparan handuk dari Hansol.
Yukhei mendengus kemudian bangkit dari tidurannya. Matanya menatap tak suka pada Hansol dan langsung berjalan pergi meninggalkan hyung-hyungnya.
"Kau mau kemana Yukhei?" Kun bertanya sambil menatap pemuda paling muda di antara mereka.
Yukhei berbalik dan membalas tatapan Kun. "Ke kamar mandi hyung, aku mau cuci muka."
"Aku ikut." Kun bangkit dan menyusul Yukhei dengan terburu-buru.
Setelah keduanya pergi dari ruang latihan, Jungwoo kembali mengalihkan fokusnya pada hyung tertua di ruang latihan itu. Matanya melirik ke arah lain, masih ada hidden trainee lain yang juga masih berlatih beberapa koreografi yang tadi diajarkan pelatih mereka.
"Aku heran hyung." Jungwoo berceletuk yang membuat fokus Hansol yang tadinya memperhatikan trainee lain menjadi langsung fokus pada Jungwoo.
Menaikkan sebelah alisnya, Hansol menatap tak mengerti pada Jungwoo. "Heran kenapa?"
"Kenapa kau tidak bersama Kun hyung saja? Padahal selama ini Kun hyung selalu menyemangatimu dan selalu berada di sampingmu hyung." Jungwoo mengerjapkan matanya menatap Hansol yang malah tertawa kecil.
"Kau ini bagaimana Jungwoo-ya, kau bahkan juga tahu, baik aku maupun Kun sama-sama mencintai orang lain. Tak mungkin jika kami bersama." Hansol menggeleng pelan mendengar perkataan Jungwoo.
"Memangnya apa salahnya mencoba mencintai orang lain. Lagipula, Doyoung hyung mencintai Ten hyung kenapa tak hyung relakan mereka berdua saja? Meskipun mereka berdua saling bertengkar, menurutku itu adalah tanda cinta mereka. Dan ya, meski sering juga Ten hyung bilang mencintaimu dan menolak perhatian Doyoung hyung, tapi aku lihat di mata Ten hyung ada tatapan yang berbeda pada Doyoung hyung."
Jungwoo menghela nafasnya sebelum melanjutkannya lagi. "Lagipula, Kun hyung juga tidak pernah di notice oleh Jaehyun hyung. Winwin hyung juga hanya dianggap adik oleh Kun hyung. Jadi, apa salahnya jika kalian bersama? Kalian berdua sudah banyak menghabiskan waktu bersama dan sudah saling mengerti satu sama lain. Kalian juga saling menyemangati hyung, aku akan menjadi pendukung kalian nomor satu nantinya."
Jungwoo tersenyum lebar sambil menatap Hansol yang hanya terdiam mendengar kata-katanya. Mencintai dan bersama Kun, apa ia bisa?
.
.
Jaehyun mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur dengan bosan. Matanya menutup dan helaan nafas terdengar begitu jelas dari mulutnya. Jaehyun terduduk begitu saja begitu mendengar suara pintu berdecit, namun matanya masih menutup.
"Belum tidur Jay?" Johnny masuk dengan handuk hitam kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah di atas kepalanya.
Johnny membuka sebelah matanya sedikit untuk mengintip Johnny yang sedang mengganti bajunya.
"Merindukan seseorang Jay?" Johnny duduk di atas ranjangnya setelah mengganti pakaiannya.
Jaehyun menghela nafasnya perlahan. 'Merindukan siapa lagi? Kan orang yang aku sukai ada di hadapanku.' Bathin Jaehyun.
"Mungkin kau hyung yang merindukan seseorang." Jaehyun berujar lemah. Ini sudah lewat dari jam satu namun keduanya belum ada niatan untuk tidur. Beruntung yang lain sedang berada di Jepang, hingga keduanya bisa bebas dari ocehan sang leader jika besok bangun kesiangan.
"Kau benar, aku merindukan Taeil hyung. Padahal baru beberapa jam berpisah namun aku sudah merindukannya saja." Johnny tersenyum lebar tanpa mempedulikan Jaehyun yang hanya menatapnya melas.
Jaehyun tersenyum miris, setidak peka itu kah Johnny terhadap perasaannya? Kenapa Johnny tega sekali menghancurkan perasaannya begini?
"Aku juga merindukan Winwin." Hanya kata itu yang Jaehyun ucapkan, entah dari mana Jaehyun mendapatkan dorongan untuk mengatakan itu.
"Tumben merindukan Winwin? Tidak merindukan Doyoung?" Johnny bertanya dengan nada yang menggoda diiringi kerlingan mata. Jaehyun memutar matanya malas mendapat godaan seperti itu dari Johnny.
"Kenapa jadi bawa-bawa Doyoung hyung?"
"Memangnya salah? Kau kan juga dekat dengannya bukan?"
"Memang iya. Tapi, sudahlah. Aku mau tidur."
Jaehyun dengan segera membenarkan posisi tidurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut miliknya. Johnny terdiam, matanya terus memperhatikan Jaehyun yang sudah memejamkan matanya. Johnny bangkit dari duduknya, berjalan menuju ranjang Jaehyun dan membaringkan tubuhnya di samping pemuda berambut pirang itu.
"Johnny hyung." Jaehyun mencicit begitu merasakan pelukan erat di sekitar pinggangnya. Johnny memeluk Jaehyun dari belakang, menumpukan dagu pemuda jangkung itu pada bahu Jaehyun.
"Tidurlah Jay. Aku akan memelukmu terus sampai besok pagi."
Johnny menutup matanya, mencoba menjemput alam mimpi yang entah mengapa begitu susah untuk diraihnya sekarang. Jaehyun sendiri tertegun, dia mengerti, Johnny hanya merindukan Taeil kan? Jadi, Jaehyun tahu mungkin saja Johnny mencoba meredakan rasa rindu yang membelenggu hatinya dengan memeluk Jaehyun. Tapi, kenapa memikirkan hal ini membuat hati Jaehyun sakit? Apa begini rasanya menjadi pelampiasan? Begini sakitnya kah?
Memegang tangan Johnny yang memeluk pinggangnya erat, Jaehyun memejamkan erat matanya dan berdoa dalam hati, semoga suatu hari nanti, Johnny dapat membuka hatinya dan dapat melihat cintanya yang begitu besar pada Johnny.
.
.
Taeil memandang pemandangan kota Osaka yang terlihat dari balkon kamar penginapannya dengan sesekali helaan nafas yang terdengar. Tubuhnya menegang begitu seseorang memeluknya dari belakang. Menolehkan kepalanya, Taeil menemukan Winwin yang memeluknya dengan senyuman lebar yang terlukis di bibir pemuda tanggung satu itu.
"Belum tidur hyung?"
"Aku belum mengantuk, Winwin-ie."
Winwin mengangguk, lalu keduanya terdiam. Mencoba menikmati keheningan yang melingkupi mereka. Taeil mencoba menetralkan detak jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat.
"Hyung."
"Ya?"
"Kau mencintai Johnny hyung?"
Taeil terdiam, dengan terburu-buru, Taeil membalikkan tubuhnya dan membalas tatapan Winwin yang terlihat begitu mengintimidasi dirinya. Meneguk ludahnya gugup, Taeil mencoba melepaskan pelukan Winwin pada pinggangnya.
"Kenapa kau bertanya begitu Winwin-ie?"
"Karena begitu jelas terlihat hyung."
Taeil mengalihkan pandangannya dari mata Winwin yang kini menghela nafasnya lelah.
"Kau mencintai Johnny hyung, hyung. Hanya saja, kau tak mau menyakiti Jaehyun yang juga mencintai Johnny hyung. Dan kau menggunakanku sebagai topengmu."
Winwin menatap langit malam kota Osaka yang terlihat begitu gelap. "Aku tak masalah sebenarnya hyung, hanya saja, aku kasihan pada Johnny hyung juga pada dirimu sendiri. Aku yakin, Jaehyun pasti bisa mengerti jika kalian nantinya bersama hyung."
Taeil menggeleng, menolak semua yang diucapkan Winwin. "Kau tidak tahu Winwin. Aku menyayangi kalian semua. Aku bukan Yuta yang bisa dengan mudahnya bilang cinta pada orang yang aku cintai. Tidak Winwin." Menghela nafasnya pelan, Taeil kembali melanjutkan ucapannya. "Hubungan aku dan Johnny juga berbeda dengan hubungan Taeyong dan Yuta."
"Apanya yang berbeda hyung?" Winwin menyela dengan kobaran emosi yang terlihat di matanya. "Kalian berdua sama-sama saling mencintai!"
"Hubungan Taeyong dan Yuta itu mudah, karena di antara mereka tidak ada orang ketiga. Tapi aku dan Johnny? Ada Jaehyun di antara kami, Winwin." Mata Taeil memanas, setetes air mata turun dari matanya. Dengan segera, Taeil mengusap air matanya kasar yang malah semakin deras turun dari matanya.
Tak tega melihat sang hyung tertuanya menangis, Winwin langsung merengkuh tubuh mungil Taeil pada pelukannya. Diusapnya lembut punggung Taeil mencoba menenangkannya.
"Aku akan berada di sampingmu dan mendukungmu hyung. Semua tergantung keputusanmu. Apapun itu keputusanmu, aku harap kau tidak menyesal hyung." Winwin berbisik yang mana membuat tangisan Taeil bertambah deras.
.
.
Doyoung tersenyum lebar begitu mendapatkan notifikasi pesan dari seseorang yang jauh darinya. Dengan cepat, Doyoung membuka pesan itu, membacanya lalu dibalasnya. Membuat Yuta yang sedari tadi memperhatikan pemuda kelinci itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Dari Ten?" Yuta bertanya yang langsung diangguki semangat oleh Doyoung. Memutar matanya malas, Yuta membaringkan tubuhnya di samping pemuda kelinci itu.
"Senang sekali? Memangnya dia bilang apa?" Yuta berusaha mengintip pesan yang Ten kirim, namun gagal, karena Doyoung dengan cepat menyembunyikan ponselnya.
"Ini rahasia tahu." Doyoung memeletkan lidahnya yang dibalas dengusan kesal oleh Yuta.
Taeyong masuk ke dalam kamar dan memperhatikan mereka berdua.
"Yuta-kun." Yuta menoleh pada Taeyong dan bergegas bangkit untuk menghampiri sang kekasih.
"Apa Taeyong-ie?" Taeyong hanya menepuk sofa kosong di sampingnya yang membuat Yuta mengangguk mengerti dan duduk di samping pemuda berwajah anime itu.
"Kalian tidak berniat bermesraan di sini kan?" Doyoung menatap tak suka pada Taeyong dan Yuta yang kini mulai dengan acara 'Dunia milik berdua' mereka.
"Kenapa? Tak suka?" Yuta menatap nyalang pada Doyoung yang mendengus kesal. "Kau bisa ke kamar Winwin-ie dan Taeil hyung jika kau mau."
"Tidak! Aku mau tetap di sini."
"Kenapa memangnya?"
"Karena aku mau di sini."
Taeyong memijit pelipisnya begitu melihat kedua orang yang berada di samping dan di depannya itu mulai berdebat lagi. Memangnya mereka tidak lelah apa setelah syuting seharian ini?
"Kalian berdua. Sudah hentikan! Kalian tidak lelah apa?" Keduanya terdiam begitu mendengar suara Taeyong yang terdengar kesal.
Taeyong menghela nafasnya pelan sebelum berdiri dan menarik lengan Yuta agar mengikutinya menuju ranjang.
"Aku tadi mendengar Taeil hyung dan Winwin bertengkar."
"Hah? Apa?" Doyoung dan Yuta sontak membulatkan mata mereka begitu mendengar penuturan Taeyong.
Taeyong mengangguk, mendudukkan dirinya di tepi ranjang, matanya menatap Yuta dan Doyoung bergantian. "Mereka bertengkar karena ya, kalian tahu apa yang terjadi pada dorm kita bukan? Maka dari itu, aku mau membantu kalian. Termasuk kau Doyoung."
Doyoung mengerjap begitu Taeyong menunjuk dirinya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Memangnya kenapa denganku?"
"Karena kau juga terjebak dalam cinta segitiga bukan?" Yuta berujar sambil melirik Doyoung yang menggembungkan pipinya.
"Tidak mungkin ada cinta segitiga jika salah satu di antara kalian ada yang mau mengalah."
Doyoung menunduk mendengarkan perkataan Taeyong. Tangannya menggenggam selimut di bawahnya dengan begitu erat.
"Jadi, silahkan kau fikirkan Doyoung-ah, kau mau bertahan atau mengalah? Kau tahu sendiri jika Ten begitu mencintai Hansol hyung."
"Tapi Taeyong-ie, jika Doyoung melepaskan Ten untuk Hansol hyung, apa Hansol hyung juga bisa bahagia? Karena ya, Hansol hyung itu kan mencintai Doyoung." Yuta ikut berkomentar dengan mata menatap polos pada Taeyong. Taeyong mendesah pelan, benar, tidak seharusnya ia membicarakan hal begini pada satu orang saja. Jika ia mau membantu, ia harus membicarakannya pada semua orang yang terlibat, bukan hanya pada satu orang saja.
"Baiklah. Aku rasa, kita bahas ini nanti saja jika kita sudah sampai di Korea. Sekarang, tidurlah, ini sudah sangat larut."
.
.
Renjun melangkah dengan pelan menuju ruang latihan. Dengan sesekali membalas sapaan orang-orang yang ditemuinya, Renjun tersentak begitu seseorang merangkul pundaknya.
"Mark hyung?"
Mark tersenyum lebar dan membukakan pintu latihan yang lantas keduanya masuk ke dalam. Mark kemudian melepas rangkulannya dan melangkah mendekati tape musik yang berada di ujung ruangan.
"Mau latihan lagu apa?"
Renjun terlihat berfikir sebentar sebelum menggendikan bahunya. "Apa saja."
Mark mengangguk, dinyalakan tape itu dan terdengarlah lagu 'Chewing Gum'. Kedunya pun sibuk dengan latihan dance mereka yang sesekali di selingi canda tawa.
Satu jam kemudian, keduanya memilih untuk beristirahat sebentar. Renjun berbaring di atas lantai sementara Mark duduk bersandar pada tembok cermin di belakangnya.
"Jeno kemana? Biasanya kalian selalu berdua."
Renjun menghela nafasnya pelan sembari mengusap keringatnya. "Pergi bersama Jaemin."
Mark terpaku, pantas saja dia merasa ada yang berbeda dengan Renjun sejak tadi. Jadi, karena ini?
"Kemana?"
"Aku tak tahu. Yang pasti, Jaemin sepertinya akan membelikan hadiah untuk Jeno." Renjun menjawab dengan malas. Terlihat begitu jelas dari nada bicaranya dan matanya yang menutup.
"Apa Haechan tahu?"
"Iya. Makanya tadi dia langsung marah-marah di dorm."
"Aku heran dengan anak satu itu."
Renjung membuka matanya dan bangkit dari acara tidurannya. Di tatapnya bingung leadernya satu itu.
"Heran kenapa?"
"Ya, dia bilang dia mencintaiku. Tapi nyatanya dia begitu cemburu begitu tahu Jaemin dan Jeno pergi bersama."
Renjun mengangguk dan tersenyum tipis melihat Mark yang tertawa.
"Hyung."
"Hmm?"
"Aku ini, orang ketiga ya?"
Kini giliran Mark yang menatap Renjun bingung. Renjun menghela nafasnya lelah dan menatap langit-langit ruang latihan dengan tatapan kosong.
"Apa maksudmu Renjun-ah?"
"Banyak orang bilang kalau aku itu orang ketiga di antara hubungan NoMin juga MarkChan, emang iya ya?"
Mark dengan cepat menggeleng, membantah semua ucapan yang Renjun katakan.
"Tapi setelah aku fikir-fikir, mereka ada benarnya juga hyung. Kalian semua itu kan sudah bersama sejak zaman SM Rookies, sementara aku, aku hanya baru beberapa bulan di sini dan langsung dekat dan debut dengan kalian. Jadi menurutku, wajar jika banyak yang bilang aku ini orang ketiga."
"Kau ini bicara apa sih Renjun?!"
"Apalagi fakta bahwa Jeno mencintai Jaemin dan Haechan yang mencintaimu. Aku yang berada di tengah-tengah kalian, tentu saja banyak orang di luar sana menyebutku begitu."
Mark mengepalkan tangannya emosi, Renjun itu terlalu mendengarkan omongan orang di luar sana yang padahal tak tahu apa-apa sama sekali.
"Kau tidak perlu mendengarkan omongan orang yang tidak penting begitu Renjun."
"Lalu aku harus apa hyung?! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat membaca komentar orang-orang yang mengataiku sebagai orang ketiga di antara Jeno dan Jaemin."
Air mata Renjun turun, ia kesal. Sudah sekian lama ia menahan semua emosi yang ada di hatinya. Mark terdiam, ada rasa sakit yang merasuki relung hatinya begitu melihat air mata Renjun.
"Renjun."
Renjun bangkit dari duduknya dan melangkah dengan cepat meninggalkan ruang latihan, meninggalkan Mark yang menatap punggung sempitnya dengan helaan nafas lelah.
.
.
Jaemin melangkah mendekati Haechan yang tengah merenung di atas ranjang miliknya.
"Haechan-ie." Jaemin memeluk erat Haechan dari samping. Haechan meliriknya malas dan dengan segera mencoba melepaskan pelukan Jaemin.
Jaemin mengernyit, kenapa dengan Haechan?
"Kenapa Haechan-ie?"
"Kau dari mana saja?"
"Aku baru saja keluar dengan Jeno. Kenapa?"
Haechan mendengus. Katanya Jaemin mencintainya? Tapi mana? Dia malah memilih keluar bersama Jeno? Yang benar saja!
"Terus kenapa di sini? Sana keluar! Temani saja Jenomu itu." Haechan merengut yang membuat Jaemin terkekeh. Haechan cemburukah? Lucu sekali!
"Uhh~ Haechan-ie cemburu eoh?" Dengan cepat Jaemin memeluk Haechan lagi. Dan di goyang-goyangkannya tubuh Haechan ke kiri dan ke kanan.
Wajah Haechan memanas, menggeleng cepat Haechan lagi-lagi melepaskan pelukan Jaemin pada tubuhnya.
"Apa?! Cemburu? Itu tidak mungkin."
"Kau bohong eoh? Lihat, pipimu memerah." Jaemin terkikik begitu Haechan mengalihkan pandangannya dari Jaemin.
"Oh iya, Haechan-ie. Aku punya sesuatu untukmu."
Haechan melirik Jaemin yang mengarahkan sebuah kantong plastik putih padanya.
"Apa itu?"
"Kau ambil saja dulu."
Dengan sedikit rasa penasaran, Haechan akhirnya mengambil plastik putih itu dari Jaemin dan membukanya. Dilihatnya ada sebuah kotak yang tersimpan di kantong plastik itu. Diambilnya pelan dan dilihatnya bingung.
"Ini apa?" Haechan mengernyit begitu Jaemin tersenyum lebar ke arahnya.
"Kalau kau penasaran, kau buka saja."
Dengan berhati-hati, Haechan membuka kotak itu. Setelah terbuka, Haechan membelalakan matanya begitu melihat isinya.
"Ini-"
"Ya, itu untukmu."
Haechan tersenyum lebar dan memeluk Jaemin begitu erat.
"Terimakasih Jaemin-ah."
.
.
Jisung membolak-balikkan buku pelajaran yang ada di hadapannya tanpa minat. Menggembungkan pipinya, Jisung melirik Chenle yang sedang tiduran di atas sofa di belakangnya. Mata sipit anak pemilik nick name 'Anak Lumba-lumba' itu fokus pada game yang berada di tangannya.
Jika tidak ada Jeno yang duduk di sofa single di dekat mereka, sudah dapat dipastikan Jisung akan merebut game itu dari Chenle. Bukannya Jisung tidak berani membantah Jeno sekarang, hanya saja Jeno saat ini sedang dalam mood yang tidak baik. Dilihat dari aura gelap yang menyelimuti tubuhnya dan matanya yang akan menatap tajam pada Jisung jika Jisung tidak mengerjakan tugas sekolahnya dengan benar.
Jisung tidak tahu apa yang terjadi pada hyung kalemnya itu, yang dia tahu sejak Jeno pulang tadi bersama Jaemin, aura hitam langsung menguar dari dalam tubuh pemuda tampan itu.
Dan ketika Jeno akhirnya bangkit dari duduknya untuk menuju kamarnya, Jisung akhirnya bisa bernafas lega. Dengan cepat, ia menyenggol lengan Chenle yang membuat anak satu itu melihatnya malas.
"Apa Jisung?"
"Kau tahu kenapa Jeno hyung?"
Chenle menggeleng dengan cepat.
"Mungkin sedang bad mood."
"Tapi dia begitu, semenjak pulang bersama Jaemin hyung."
"Apa Jaemin hyung mengapa-apakan Jeno hyung ya?"
"Kau ini bicara apa sih Chenle!"
"Bisa saja kan Jisung! Kau tidak tahu ya? Kan akhir-akhir ini banyak yang beranggapan Jeno hyung itu uke."
Jisung menepuk dahinya, Chenle ini terlalu banyak membaca fanfiction kali ya? Mana mungkin Jeno hyung jadi uke?
"Kau itu kenapa menjawabnya jadi melantur begitu sih?!"
"Habisnya aku juga tak tahu mau jawab apa."
Mendengus malas, Jisung akhirnya membereskan buku-bukunya. Setelahnya, Jisung menyuruh Chenle untuk duduk di sampingnya yang dituruti oleh Chenle.
"Aku lelah." Ujar Jisung seraya menyenderkan tubuhnya pada pundak Chenle. Chenle fokus pada game di tangannya dengan sesekali melirik Jisung.
"Baru belajar segitu saja lelah." Chenle mencibir. Jisung mendengus pelan. Chenle ini benar-benar tak peka ya? Maksudnya ia lelah itu, lelah melihat para hyung-hyungnya yang semakin hari semakin terlihat tidak enak untuk dipandang.
Tapi, biarkanlah saja. Toh, dirinya masih kecil. Belum saatnya ia ikut campur urusan hyung-hyungnya. Jika waktunya tiba, pasti semua masalah hyung-hyungnya akan selesai. Semoga saja.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N :
Jika kalian tambah bingung atau pusing pas baca ff ini, artinya kalian sama sepertiku. Apalagi aku bikin ini ketika kepala lagi pusing-pusingnya. Maaf jika ini lama dan pendek. Karena sungguh, idenya itu turun-naik. Dan maaf jika moment request yg kalian mau tidak ada di chap ini, mungkin di chap selanjutnya ada ya.
Sampai jumpa!
