Big Thanks To :

hopekies/Yuta Noona/JaeminNanana/ROXX h/Miss xk/CloveRine26/Rina Putry299/Seung yeon Kang/preetybeauty/kyungie love/me.

.

.

.

Melangkahkan kaki panjangnya, Johnny terus saja melihat-lihat sekitarnya dengan mata sesekali melirik Taeil yang berada tepat di sampingnya. Memberanikan diri, Johnny meraih tangan kanan dan menggenggamnya. Mata Taeil terlihat terkejut, dengan cepat ia mencoba melepaskan genggaman tangan Johnny namun sayang tidak bisa. Johnny menggenggam tangannya terlalu kuat. Menghembuskan nafasnya pasrah, Taeil akhirnya membiarkan Johnny untuk menggenggam tangannya sembari meneruskan langkah mereka.

Mata teduh Taeil melirik jam tangan yang terpasang indah di tangan kirinya, melirik gusar pada Johnny yang terus saja berjalan, ingin rasanya Taeil menghentikan langkah mereka dan bilang jika pada Johnny jika mereka harus pulang. Ini sudah larut. Pasti Jaehyun akan mencari mereka, terlebih Johnny.

"Hyung, kenapa diam?" Johnny bertanya setelah melepas masker hitamnya dan berhenti tepat di sebuah bangku terdekat.

Mengerjapkan matanya, Taeil kembali pada dunia nyata. Membuka maskernya, Taeil lantas duduk di bangku dan menatap sungai panjang di hadapannya. Sungai Han.

"Aku tidak apa-apa. Kenapa mengajakku kemari?" Taeil menatap Johnny dari samping. Tersenyum kecil, Johnny menolehkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Taeil. "Aku merindukanmu hyung. Sudah lama kan kita tidak keluar berdua?"

Johnny mengeluarkan sekaleng teh hangat berperisa lemon dari plastik yang dibawanya sedari tadi pada Taeil, sebelum mengeluarkan sekaleng kopi hangat untuk dirinya sendiri. Taeil menerima kaleng teh itu dan segera meminumnya setelah membuka pengaitnya. Dan setelahnya hening. Taeil tidak berniat untuk membalas ucapan Johnny barusan maupun Johnny yang berniat untuk memperpanjang percakapan mereka.

"Aku lihat, kau semakin dekat saja dengan Winwin." Johnny berujar setelah meneguk kopinya untuk yang terakhir kali. Ekor matanya melirik pada Taeil yang sedang memainkan kaleng minuman di tangannya itu. "Kau juga. Semakin lama semakin menempel pada Jaehyun."

Sinar mata Taeil meredup ketika ia mengatakan hal itu. Dan Johnny melihatnya. "Karena, dia adalah salah satu adik kesayanganku hyung. Dia juga kan partner DJ-ku. Tidak mungkin kan, jika aku tidak dekat dengannya?" Kekehan kecil terdengar begitu Johnny mengatakan hal itu.

Taeil berdiri dari duduknya, melangkah ke tepian dan menatap air sungai yang bergelombang dengan tenang itu. "Air sungai itu, sama sepertimu hyung." Suara Johnny terdengar begitu dekat dengan telinganya.

Menolehkan kepalanya, Taeil menatap bingung pada Johnny yang berdiri tepat di sampingnya. "Maksudmu?"

Tersenyum lebar, Johnny menunjuk air sungai yang tenang yang membuat Taeil ikut melihatnya. "Jika begini, kau terlihat sama tenangnya dengan sungai itu hyung." Johnny melemparkan sebuah krikil yang diambilnya tadi yang membuat sungai itu sedikit bergelombang. "Tapi kau juga terkadang seperti ini. Bergelombang. Perasaanmu terus saja merasa bimbang, kau ingin mengikuti kata hatimu tapi pikiranmu mengatakan tidak. Dan kau selama ini selalu mengikuti pikiranmu. Kapan kau akan mengikuti kata hatimu, hyung?"

Taeil terdiam. Tangannya meremat dengan kuat kaleng yang sedari tadi digenggamnya. Johnny meraih bahu Taeil agar pemuda yang lebih tua darinya itu menatapnya.

"Sekarang, dengarkan hatimu hyung. Kau mencintaiku, atau tidak?" Taeil menatap mata Johnny yang begitu teduh ditambah dengan senyuman lebar yang terpatri di bibir pemuda Chichago itu. Meremas pelan bahu Taeil, Johnny lantas menarik tubuh Taeil ke dalam pelukannya. "I love you, hyung." Johnny berbisik di telinga Taeil yang membuat pemuda bermarga Moon itu membalas pelukan hangatnya.

Tanpa banyak kata pun, Johnny tahu apa maksud dari Taeil. Taeil tidak perlu membalas secara lisan ungkapan perasaan Johnny padanya, karena dari tatapan maupun perlakuan Taeil selama ini, Johnny tahu, jika Taeil juga mencintai dirinya.

.

.

Jaehyun menatap dengan bosan tayangan televisi di hadapannya. Tangannya terus saja memencet-mencet remote untuk mengganti saluran televisi yang acaranya tidak seru, menurutnya.

Melihat jam dinding yang terpasang di dinding tepat di atas televisi, Jaehyun mendesah pelan mengetahui hingga larut malam begini, dua hyung tertuanya belum juga pulang. Padahal mereka sudah pergi sejak selesai melihat konser Yesung sunbae tadi.

Tubuh Jaehyun tersentak kaget, begitu seseorang dengan santainya meletakkan kepalanya pada bahu Jaehyun. Menolehkan kepalanya, Jaehyun menghembuskan nafasnya kesal begitu mendapati sang teman satu lini juga teman Chinanya yang melakukan hal itu.

"Kenapa masih di sini?" Winwin bertanya dengan pandangan yang mengarah lurus pada televisi di depannya. "Menunggu Johnny hyung." Itu bukan Jaehyun yang menjawab. Melainkan Winwin sendiri yang menjawab pertanyaannya sendiri.

Jaehyun menatap aneh pada Winwin. Tangannya ia gunakan untuk menyingkirkan kepala yang lebih muda dari bahunya. "Kau ini aneh sekali Winwin-ie. Kau bertanya, tapi kau sendiri yang menjawab."

Winwin melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap jengah pada Jaehyun. "Karena aku sudah terlalu hafal alasannya Jaehyun-ie."

"Aku tahu kau masih marah akan masalah kemarin." Winwin menaikan sebelah alisnya dan menatap bingung pada Jaehyun. "Masalah apa?"

"Kun hyung." Jaehyun tersenyum lebar yang membuat Winwin mendengus kesal. "Kau menyebalkan Jung Jaehyun! Tidak mengajakku saat akan bertemu dengan Kun-ge. Teman macam apa itu?" Winwin bersungut yang membuat Jaehyun tertawa. Dengan segera, Jaehyun menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, agar gelak tawanya tidak terdengar hingga ke kamar Taeyong maupun Doyoung. Bahaya jika salah satu di antara mereka bangun dan mendatanginya. Bisa-bisa ia tidak diizinkan tidur di kamarnya malam ini.

"Tertawa saja terus. Aku bilang ke Yuta hyung, baru tahu kau Jung." Winwin menatap tajam Jaehyun yang membuat Jaehyun hampir tertawa lagi. Karena sungguh, Winwin tidak ada seram-seramnya ketika menatapnya begitu. Yang ada malah kelihatan imut, ehh?!

"Kami pulang." Suara Taeil yang terdengar lirih membuat kedua pemuda bergaris lahir 97 itu tersadar dari lamunan mereka. Sejak kapan mereka bertatapan dan jarak mereka begitu dekat sekarang?

"Jaehyun, Winwin? Kalian belum tidur?" Taeil menghampiri keduanya setelah meletakkan sepatu yang dikenakannya pada rak sepatu. Johnny menyusul di belakangnya dan bergantian menatap Winwin maupun Jaehyun.

"Ya hyung. Kami menunggu kalian." Jaehyun berdiri dari duduknya dan menatap Taeil. Matanya juga sesekali melirik Johnny yang tengah melepaskan jaket yang dikenakannya.

"Taeyong hyung tadi sakit. Jadi, Yuta hyung malam ini tidur di kamar kalian, Taeil hyung." Winwin melaporkan hal yang terjadi di dorm pada Taeil. Membuat Taeil membelakakan matanya karena terkejut. "Lalu sekarang bagaimana keadaan Taeyong?"

"Taeyong hyung sudah lebih baik hyung. Jadi malam ini, Taeil hyung tidur dengan Johnny hyung saja. Karena tadi aku dan Jaehyun sudah sepakat untuk tidur bersama dengan Doyoung hyung." Winwin berdiri dan berjalan menghampiri Jaehyun. Mata Jaehyun membulat kaget mendengar penuturan Winwin. Semenjak tadi, mereka bahkan tidak membahas hal seperti ini, kenapa Winwin tiba-tiba mengatakan hal ini? Sepertinya Jaehyun harus berhati-hati dengan Winwin. Karena Winwin itu, diam-diam menghanyutkan.

"Ayo Jaehyun-ie, kita harus tidur sekarang. Besok kita harus bangun pagi kan?" Winwin menarik tangan Jaehyun. Jaehyun hampir saja menyentak tangan Winwin jika saja tak melihat mata Winwin yang meliriknya tajam. "Kalau begitu, selamat malam Johnny hyung, Taeil hyung." Winwin tersenyum lebar yang dibalas anggukan oleh Johnny maupun Taeil. Lalu keduanya memasuki kamar DoYuWin yang membuat Jaehyun kembali mendesah pelan.

"Aku merasa ada yang aneh dengan mereka." Taeil bergumam, matanya terus saja menatap pintu kamar DoYuWin yang kini sudah menutup.

"Biarkan saja hyung. Mungkin mereka ingin lebih dekat." Johnny melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang diikuti oleh Taeil. "Hmm, mungkin saja."

.

.

Hansol tersenyum begitu melihat pemuda berambut hitam di hadapannya itu, meliukkan tubuhnya dengan apik. Mendesah pelan, Hansol mengusap peluh yang menetes membasahi lehernya.

"Hansol hyung." Hansol menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. "Kun-ah." Dengan senyum lebar, Hansol menyambut Kun yang berjalan menghampirinya. Kun duduk di samping Hansol dan ikut melihat pemuda Thailand yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.

"Ku perhatikan, akhir-akhir ini, kau semakin menjauh dari Ten maupun Doyoung. Apa yang terjadi, hyung?" Kun membuka mulutnya untuk bersuara setelah sekian menit keduanya berdiam.

Hansol tak mengalihkan pandangannya. Namun ia tetap menjawab pertanyaan dari Kun, "Karena aku sudah menyerah, tentang mereka, Kun-ah."

"Kenapa? Hansol hyung yang aku kenal bukanlah orang yang mudah menyerah seperti ini. Tapi kenapa baru seperti ini, kau sudah menyerah, hyung?" Kun menatap Hansol dengan mata yang memancar keingintahuan.

Menghembuskan nafasnya perlahan, Hansol menoleh ke arah Kun dan balas menatap Kun. "Karena aku tidak mau ada yang terluka lebih dalam Kun-ah. Cukup aku. Jangan mereka."

"Kau bilang cukup aku? Bukankah siapapun yang merasakan cinta, memang harus merasakan luka? Cinta itu juga luka hyung, bukan hanya kebahagiaan saja!"

Ten menatap Hansol dan Kun melalui dinding cermin yang berada di hadapannya. Ten sedikit mendengar perkataan mereka. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri yang menjadi begitu lemah untuk urusan cinta. Seharusnya ia bisa bersikap tegas, Doyounglah yang menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Hansol, tapi kenapa Hansol yang harus menyerah? Memikirkan hal itu, Ten menjadi bingung sendiri. Dia harus bertemu Johnny atau Yuta, iya, dia harus bertemu salah satu di antaranya agar ia bisa menumpahkan segala hal yang memenuhi pikirannya.

"Hyung, pikirkanlah kebahagianmu juga. Jangan hanya orang lain. Egois itu perlu hyung." Kun menepuk bahu Hansol guna menyemangati pemuda Busan itu.

"Tapi, jika aku menemukan cinta lain selain mereka, haruskah aku tetap menjadi orang ketiga di antara mereka sementara masih ada orang yang bisa mencintai diriku maupun orang yang aku cintai?" Hansol menatap Kun menggunakan mata besarnya yang entah mengapa membuat Kun sedikit tersihir. Tanpa sadar, Kun meneguk ludahnya gugup begitu balas menatap Hansol yang menatapnya begitu dalam.

Ten terus saja memperhatikan keduanya tak mempedulikan jika musik yang diputarnya sudah berhenti. Otak Ten terus saja menyuruhnya untuk menatap bayangan kedua pemuda berbeda negara di belakangnya yang tengah saling menatap. Sudut hati Ten tiba-tiba terasa perih begitu melihat Hansol yang menatap Kun begitu intens. Karena sungguh, mengenal Hansol sekian tahun, Ten belum pernah ditatap sebegitunya oleh Hansol. Cemburu? Tentu saja.

"Jika memang itu alasanmu, aku rasa aku tidak harus memaksamu kan hyung? Bagiku, itu malah lebih baik." Kun mengerjapkan matanya dan setelah itu, ia mengalikan pandangannya dari mata Hansol.

Hansol tersenyum lembut. Matanya mengarah ke depan untuk melihat Ten lagi. Namun ketika matanya bertemu tatap dengan pantulan mata Ten di cermin, seketika itu pula hati Hansol seperti di cengkereman sesuatu begitu melihat senyum sedih yang terpasang di wajah pemuda berparas manis itu. Ditambah dengan ucapan tanpa suara pemuda Thailand itu yang membuat Hansol ingin memeluk yang lebih muda.

"Maaf."

.

.

Haechan tersenyum lebar begitu membuka pintu dorm, muncullah pemuda lain berparas manis yang juga tersenyum lebar.

"Jaemin-ie!" Haechan berseru senang, dengan cepat, ia meraih tubuh Jaemin dan memeluknya erat. Menggoyangkan tubuh Jaemin ke kiri dan kanan yang membuat sang empunya tubuh terbahak.

"Astaga Haechan! Lepaskan Jaemin sekarang!" Yuta tiba-tiba muncul di belakang mereka dan mencoba melepaskan pelukan Haechan pada adik kesayangannya, Jaemin.

Haechan pun mempoutkan bibirnya begitu Yuta dengan cepat mengajak Jaemin untuk masuk ke dalam.

"Kau tidak mau mengajak kami masuk juga?" Suara seseorang di belakang Haechan membuat Haechan terkejut. Menolehkan kepalanya, Haechan mendecak begitu melihat Jeno juga Jisung yang berdiri di depan pintu.

"Kenapa kalian di sini?" Haechan tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya pada Jeno, meskipun itu hanya dari nada bicaranya. Entah mengapa Haechan merasa kesal pada Jeno begitu mendapati Jaemin ke sini bersama Jeno, meskipun nyatanya Jisung juga ikut bersama mereka berdua.

"Kami ingin berkunjung. Terlebih Renjun dan Chenle juga sedang tidak ada." Jeno menjawab dengan nada biasanya. Tak mempedulikan nada kesal Haechan yang pemuda tanggung itu gunakan padanya tadi.

"Jadi hyungdeul, sampai kapan kalian akan terus tanya jawab? Aku sudah pegal." Jisung melontarkan komentarnya setelah melihat Haechan yang sepertinya akan membalas ucapan Jeno dengan pertanyaan lagi.

Mengatur nafasnya perlahan, Haechan akhirnya tersenyum tipis pada keduanya. "Masuklah, di dalam hanya ada Yuta hyung, Taeil hyung, Winwin hyung, dan Mark hyung."

Jeno mengangguk, lantas memasuki dorm 127 yang memang lebih luas daripada dorm Dream. "Memangnya yang lain kemana?"

"Ada kerjaan juga urusan." Haechan menjawab singkat. Berjalan lebih dulu yang lalu diikuti oleh Jeno juga Jisung.

"Oh! Kalian ke sini juga?" Taeil yang baru saja meletakkan nampan yang terdapat beberapa gelas berisi jus jeruk itu pun berseru ketika melihat Jeno dan Jisung yang berjalan bersama Haechan.

"Iya hyung. Aku yang mengajaknya. Katanya mereka bosan hanya berdua di dorm." Jaemin menjawab setelah menelan takoyaki yang Yuta berikan padanya tadi.

"Ah iya, Renjun dan Chenle sedang ada kegiatan di Nanjing kan?" Taeil bertanya yang diangguki oleh Jisung. "Iya hyung."

"Mark hyung dimana?" Jeno bertanya setelah matanya menjelajah namun tidak menemukan sosok salah satu hyungnya itu.

"Dia di kamar mandi." Winwin yang menjawab. Matanya menatap Jeno penuh intimidasi. "Ada apa?"

Ditatap seperti itu, tentu saja membuat Jeno mendadak salah tingkah. Tersenyum canggung, Jeno menggeleng lalu menjawab pertanyaan Winwin, "Hanya bertanya, Winwin hyung."

Winwin pun mengangguk mengerti. Tangannya meraih jus jeruk yang Taeil sediakan dan meneguknya. Matanya berpindah menatap Haechan yang terus saja cemberut dengan mata menatap Yuta dan Jaemin yang tengah berbincang. Tersenyum miring, Winwin pun berniat untuk membantu Haechan.

"Yuta hyung, sepertinya Haechan ingin berbicara sesuatu padamu." Haechan tersedak ludahnya sendiri begitu namanya dengan lancar disebut oleh Winwin. "Oh ya? Kau ingin bicara apa, Haechan-ie?"

Haechan awalnya berniat untuk menatap tajam Winwin jika saja suara Yuta tidak terdengar. "Hmm itu hyung. Aku ingin berbicara dengan Jaemin, boleh?"

Tawa Winwin juga Jisung meledak begitu melihat Haechan yang saat ini tengah bersikap seolah malu-malu. Ini mungkin bukan pertama kalinya Haechan bertingkah begini, tapi tetap saja, yang biasanya Haechan bertingkah memalukan tapi hanya karena Jaemin ia bertingkah malu-malu begini, jadi terlihat menggemaskan? Entahlah.

Jaemin tersenyum lembut dengan mata memandang Haechan. "Kenapa kau bertingkah seperti ini sih Haechan-ie? Kau terlihat semakin lucu, tahu?" Jaemin tertawa kecil.

Yuta tersenyum maklum meskipun tadi sempat ikut tertawa. "Tentu saja boleh Haechan-ie. Tapi ingat, kau tidak boleh berbuat hal yang aneh pada Jaemin."

"Tentu saja hyung!" Haechan berseru dengan semangat. Berdiri dari duduknya, Haechan lantas menggandeng tangan Jaemin. "Dan bilang pada Mark hyung, jangan masuk ke kamar kami."

Setelah itu, Haechan dan Jaemin pun pergi meninggalkan para member yang masih saja tertawa melihat tingkah laku Haechan. Tak lama, Mark keluar dari kamar mandi dan menatap para hyungnya dengan bingung.

"Ada apa hyung?" Mark bertanya setelah melihat tawa Winwin sudah berhenti. "Bukan apa-apa Mark-eu. Dan ya, kau jangan ke kamar ya. Nanti ada perang dunia ketiga aku tak ikut-ikutan." Winwin menjawab dengan nada jahil.

"Lebih baik sekarang kau temani Jeno dan Jisung saja." Mata Mark membulat ketika melihat Jeno dan Jisung yang juga berada di dorm mereka. "Kalian di sini?"

"Iya hyung." Jisung mengangguk dengan mulut penuh akan cemilan yang disediakan oleh Taeil. Dan ketika mata Mark bertemu tatap dengan mata Jeno, Mark lantas mengangguk samar begitu melihat ekor mata Jeno yang mengarah ke balkon dorm.

"Hyung, aku dan Jeno, izin ke balkon dulu ya?" Mark berucap dengan langkah lebih dulu menuju balkon yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang tengah.

"Ya. Tapi ingat, jangan bertengkar hingga kalian saling melompat dari atas balkon." Yuta berujar dengan nada jahil yang diakhiri dengan tawa kecil.

Jeno mengikuti langkah Mark dan menatap punggung Mark seraya bergumam, "Semoga saja tidak."

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Selamat berpuasa bagi yang menjalankan!

Maaf ini lama. Padahal moment NCT sekarang lumayan, tapi ada moment nggak ada ide? Sama saja bohong kali ya! Dan kalau pendek, biasalah ya. Aku lagi malas ngetik akhir-akhir ini, padahal udah niat mau namatin salah satu atau dua ff sekaligus di bulan puasa ini. Tapi itu, malas banget buat ngetiknya. Jadi, harap maklum ya!

Ps : NCT 127 comeback, aku ada firasat nggak enak tapi (ups!

Pss : Maaf untuk beberapa shipper, di chap ini moment mereka nggak ada.

Psss : Buat Winwin biased juga aku minta maaf karena udah bikin Winwin seperti ini.

Pssss : Review juseyo~ (mungkin dapat menambah semangat ku buat ngetik)

Sampai Jumpa!