Big Thanks :

duabumbusayur/hopekies/ROXX h/preetybeauty/JaeminNanana/Rfay17/Esa315/Yuta Noona/Mocinlee99/Pika WarbenJaegerManJensen/CloveRine26/Seung yeon Kang/Rina Putry299/Guest(1)/Guest(2)/akhfa,10.

.

.

.

Kun melangkahkan kakinya dengan terburu-buru tanpa mempedulikan beberapa orang yang ditabraknya. Dirinya memasuki ruangan kecil yang memang sering kali 'orang itu' gunakan untuk menenangkan dirinya. Mata Kun lantas mengedar mencari seseorang itu yang ternyata sedang berbaring di atas sofa membelakangi dirinya.

"Hansol hyung!" Kun berseru memanggil orang yang tengah berbaring di sana dan melangkah cepat mendekatinya. Dengan kasar, Kun mengguncangkan bahu Hansol namun pemuda asal Busan itu tidak bergeming sedikit pun.

"Ck! Hyung, bangun!" Kun berdecak, namun tetap tidak mendapat respon yang berarti sama sekali dari Hansol. Menghela nafasnya kesal, Kun memutuskan untuk duduk di lantai dan mengamati belakang kepala Hansol.

"Aku tahu hyung lelah, tapi setidaknya kau bisa belajar dari Johnny hyung." Kun mulai berceloteh dengan tangan yang memainkan rambut belakang Hansol. "Aku mengerti apa yang kau rasakan hyung, setidaknya kita senasib bukan? Tapi tidak seharusnya kau melakukan hal seperti ini, kau membuat banyak orang berspekulasi yang tidak-tidak. Kau tahu? Banyak fans yang tidak setuju jika kau mempunyai akun sosial media, karena mereka jadi beranggapan kalau kau keluar dari SM atau malah lebih memilih menjadi pelatih di SM Entertainment ini."

Kun menunduk, mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak karena kini air mata mulai menggenang di kedua belah matanya. "Hyung, kau sudah berjanji padaku untuk debut bersama dan juga bersama yang lainnya. Kau tidak mungkin mengingkari janjimu kan? Kau orang yang selalu menepati janjimu kan hyung?"

Hansol membalikan tubuhnya. Mengamati Kun yang bahunya mulai naik turun. Menangis. Hansol tahu betul, jika adiknya itu menangis. Menghela nafasnya, Hansol mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Kun hingga sang empunya mendongak dan menatap Hansol dengan mata yang basah.

Tangan Hansol turun untuk mengusap pipi Kun yang juga basah. Tangan Kun terangkat untuk memegang tangan Hansol yang masih setia di pipinya.

"Kau berjanji untuk tidak meninggalkan kami kan hyung?" Hansol menarik bibirnya untuk mengulas senyum tipis. "Kau pernah melihatku mengingkari janji? Kau tenang saja Kun-ah, aku lelaki sejati. Tidak mungkin aku mengingkari janji yang sudah aku ucapkan."

Mata Kun kembali berbinar, dengan cepat, Kun mengukir senyum manis. "Aku pegang janjimu hyung."

Hansol mengangguk dan menarik tangannya dari genggaman tangan Kun. "Bukannya kau harus pergi dengan Jungwoo? Kenapa masih di sini?"

Kun merengut kemudian. Matanya menyipit menatap tak suka pada Hansol. "Aku masih ingin di sini hyung." Hansol menggeleng. Mengganti posisinya, Hansol pun duduk di atas sofa dan mengacak gemas rambut Kun. "Kau tidak bisa begitu Kun. Sudah sana cepat pergi. Jungwoo pasti sudah menunggumu."

Kembali berdecak, Kun pun berdiri dari duduknya. Tak lupa, ia mengusap pipinya yang basah. "Baiklah, aku pergi. Tapi hyung, malam ini kau harus pulang ya? Beberapa hari lalu, Doyoung menanyakanmu karena tidak terlihat di dorm."

Hansol kembali mengangguk, sinar matanya sedikit meredup begitu Kun menundukan kepalanya lagi. "Jadi sebenarnya, kau benar-benar peduli padaku, atau kau hanya membantu orang lain untuk mencari keberadaanku?"

Bahu Kun menegang, menolehkan kepalanya, Kun dapat melihat tatapan intimidasi dari Hansol. "I-itu..."

"Aku hanya bercanda Kun-ah. Pergilah, Jungwoo sudah menunggumu." Hansol memberikan senyum terbaiknya. Tersenyum kaku, Kun pun membungkukkan badannya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

Hansol menghela nafas lelah, menyenderkan tubuhnya ke sofa di belakangnya, Hansol menatap langit-langit ruangan itu yang berwarna putih. Memejamkan matanya, Hansol bergumam dengan pelan, "Maaf."

.

.

Ten menggembungkan pipinya begitu dua orang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya datang juga. Wajar jika ia kesal, sudah hampir satu jam ia menunggu tapi dua orang itu baru datang.

"Kalian lama!" Kata itulah yang menjadi sapaan selamat datang pada dua orang yang mendudukkan dirinya tepat di kursi di hadapan Ten.

Membuka masker putih yang dikenakannya, Yuta memutar bola matanya malas. "Kau saja yang tidak sabaran. Kan aku sudah bilang kami ada latihan untuk comeback."

Johnny mengangguk mengiyakan sembari tangannya mengambil minuman milik Ten dan langsung meminumnya.

"Iya, maaf karena sudah mengganggu waktu sibuk kalian." Ten berujar dengan nada menyindir yang hampir saja dibalas Yuta namun dengan sigap Johnny menengahi. "Aku rasa kau sudah cukup lelah dengan latihan tadi Yuta, jadi tidak perlu untuk bertengkar dengan Ten."

Yuta pun menghela nafas pasrah, tangannya melambai untuk memanggil waitres. Tak lama, seorang wanita muda menandatangi mereka. Yuta memesan segelas Ice Americano, Johnny Caffe Latte, dan Ten memesan segelas lagi Cappuchino. Juga beberapa cake yang akan mereka nikmati sambil mengobrol.

Setelah pelayan itu pergi, Johnny kembali memfokuskan perhatiannya pada Ten yang kini tengah mengaduk-aduk Cappuchinonya yang sudah mendingin. "Ada apa? Tumben kau mau bertemu secara khusus dengan kami?"

Yuta yang tadinya fokus pada ponselnya yang berbunyi pun kini mengalihkan fokusnya pada Ten yang tengah menghembuskan nafasnya sembari berfikir. Memilah kata yang tepat sehingga ia tak akan mendapat sindirin lain dari pemuda Jepang di hadapannya.

"Sebenarnya, aku ingin curhat." Ten menatap satu persatu orang di hadapannya. Yuta bergumam pelan yang sepertinya mengumpat, dan Johnny tersenyum maklum. "Tentang apa?"

Obrolan ketiga kembali terhenti begitu pelayan yang membawakan pesanan mereka, ada di dekat mereka. Setelah pesanan mereka tersaji, mereka pun berucap 'Terima kasih' hingga sang pelayan pergi.

Yuta menyeruput minumannya dan kembali menatap Ten. "Tentang Hansol hyung ya? Kenapa lagi dengan dia?"

Johnny hampir saja menginjak kaki Yuta jika saja tidak mengingat kalau pemuda Jepang itu teman satu lininya juga kekasih dari sang leader. "Tidak bisakah kau tidak menerka-nerka begini, Nakamoto? Biarkan saja Ten bercerita."

Yuta mengalihkan fokusnya pada Johnny dan menunjuknya menggunakan sendok kecil yang tengah di pegangnya. "Dengar Johnny Seo, aku bukannya menerka-nerka, tapi memang Ten jika curhat selalu tentang Hansol hyung. Apa yang salah memangnya?"

Ten berdecak kesal kali ini, di sini kan dia yang mengundang keduanya karena ingin curhat, bukan untuk mendengar mereka berdua bertengkar. Berdeham pelan, Ten mencoba menarik perhatian kedua orang di hadapannya itu.

"Kalian berdua bisakah berhenti berdebat? Karena di sini, akulah yang ingin bercerita, bukan mendengar kalian bertengkar tak jelas begini." Yuta berhenti bicara dan mengerjapkan matanya. Tatapan matanya beralih menatap Ten. "Kau fikir karena siapa kami bertengkar? Oh sungguh, seharusnya aku tidak usah ke sini saja tadi. Benar-benar membuang waktuku."

Johnny menggeleng, tangannya menggenggam tangan Ten agar pemuda Thailand itu tidak menanggapi apapun ucapan Yuta. "Abaikan saja Yuta, dia sedang PMS, jadi seperti itu. Sekarang ceritalah, kami akan mendengarkan."

Yuta hampir saja memprotes jika tidak mendapat tatapan tajam dari Johnny. Menghembuskan nafasnya pasrah, Yuta pun akhirnya kembali pada minuman dan makanan di hadapannya.

Ten tersenyum kecil, menghela nafasnya pelan, Ten pun menatap Johnny dan Yuta bergantian. "Jadi, begini..."

.

.

Doyoung tengah menyiapkan sayur-sayuran untuk di potongnya nanti. Matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 18.45 KST. Waktu yang cukup untuk menyiapkan makan malam. Tapi Doyoung sendiri sekarang, Johnny dan Yuta pergi untuk menemui Ten. Jaehyun dan Winwin masih berada di ruang latihan dance karena Winwin bilang ada beberapa bagian yang tidak ia pahami. Taeil dan Taeyong tadi di panggil manager hyung untuk koordinasi masalah jadwal. Mark dan Haechan tengah mampir ke dorm Dream untuk mengambil beberapa barang mereka yang tertinggal di sana.

Jadilah, Doyoung yang memang tak ada kegiatan apapun memutuskan untuk pulang dan mencoba beberapa resep masakan yang ingin dicobanya semenjak beberapa waktu lalu. Inginnya Doyoung untuk menelfon Ten agar menemaninya, tapi baru ingat jika Ten tengah bersama Johnny dan Yuta. Ingin menghubungi Kun, tapi tadi pagi pemuda China itu bilang ada jadwal bersama Jungwoo. Lucas juga sedang berada di Thailand. Hansol? Inginnya sih begitu, tapi ada sesuatu yang seperti mengganjal hati Doyoung untuk menghubungi pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu.

Membuang nafasnya kasar, Doyoung meletakan ponselnya di atas meja dan kembali berkutat pada sayur-sayuran juga ditambah ayam dan daging yang tengah di potongnya sekarang.

Tak lama, Doyoung mendengar suara pintu terbuka dan suara langkah yang mendekat ke arahnya.

"Doyoung-ie, sedang apa?" Doyoung menoleh dan menemukan Taeil yang tengah menatapnya lengkap dengan senyuman. "Oh, Taeil hyung. Aku sedang memasak untuk makan malam hyung."

Taeil mengangguk, membuka kulkas yang berada di sampingnya, Taeil mengambil sebotol air minum dingin yang langsung ditegaknya. Taeil mengembalikan botol minuman itu dan menutup kulkas kembali. Setelahnya, Taeil mendekat ke arah Doyoung dan berniat membantu.

"Ada yang perlu ku bantu?" Taeil mengambil wortel di depannya dan melihat ke arah Doyoung. Doyoung menoleh sekilas dan mengangguk. "Hyung tolong potong-potong sayuran itu ya, aku yang akan mengurus ayam dan dagingnya."

Taeil mengangguk. Di ambilnya pisau yang lain dan mulai memotong-motong wortel di tangannya. Doyoung melirik ke Taeil dan tersenyum kecil.

"Aku lihat, hyung sekarang sangat dekat ya dengan Johnny hyung." Taeil hampir memotong jarinya sendiri begitu ucapan itu keluar dari mulut pemuda kelinci itu. "Sangat dekat?" Taeil bertanya ragu. Doyoung mengangguk, tangannya masih telaten memotong ayam di hadapannya.

"Tatapan kalian juga sangat kentara sekali, penuh cinta. Kalian punya hubungan khusus ya?"

Uhuk!

Suara batuk dari seseorang yang baru saja datang mengalihkan perhatian keduanya. Mata Taeil terbelalak, namun berbeda dengan Doyoung yang menatap orang yang baru datang tadi dengan bingung.

"Kau kenapa Jaehyung? Tersedak?" Jaehyun menggeleng. Dengan cepat, ia membuka kulkas dan mengambil dua botol minuman soda. "Aku tak apa kok hyung. Hanya haus." Memaksakan senyumnya, Jaehyun kembali menatap Doyoung dan Taeil.

"Aku akan memberikan minuman ini pada Winwin. Setelah itu, baru aku bantu kalian." Doyoung mengangguk mengiyakan. Taeil meringis kecil begitu Jaehyun menatapnya dengan pandangan yang terluka. Setelah beberapa detik, Jaehyun pun pergi meninggalkan dapur.

"Aku heran dengan Jaehyun." Doyoung kembali bersuara. Taeil melirik ke arahnya dan menatap Doyoung dengan tatapan heran.

"Kenapa?"

"Dia kan mencintai Johnny hyung, tapi kenapa dia tidak mencoba memperlihatkannya dan hanya menunggu Johnny hyung sadar akan perasaannya. Bukankah itu tidak mungkin, hyung?"

.

.

Mark melangkah dengan pasti untuk mendekat pada Renjun yang tengah duduk sendirian di sofa ruang tengah dengan televisi yang menyala. Mendudukan dirinya, Renjun sontak menoleh pada Mark yang tengah tersenyum lebar.

"Mark hyung?" Mata Renjun berkedip lucu begitu Mark menatapnya begitu intens. "Ada apa?"

Renjun menggeleng. Lalu pandangannya teralih pada tayangan televisi di depannya. "Tidak apa. Kau yang kenapa hyung?"

"Aku hanya sedikit senang." Renjun melirik sekilas. Kemudian mengganti channel televisi. "Kenapa?"

"Karena hanya berdua denganmu." Mark lalu terkekeh. Renjun menggeleng pelan, dan tertawa kecil setelahnya. "Kau ini hyung, ada-ada saja."

"Oh iya, hyung." Mata Renjun, bertemu tatap dengan mata Mark yang masih menatapnya secara intens. "Bagaimana persiapanmu untuk comeback kali ini?"

"Aku rasa baik. Dan ya, aku akan selalu berusaha semaksimal mungkin di setiap penampilanku." Renjun tersenyum. "Itu harus hyung. Dan kau tenang saja, kami semua pasti akan mendukung kalian."

"Itu harus, Renjun-ie." Keduanya lantas tertawa bersama. Dan tawa Renjun terhenti, begitu seseorang dengan santainya menyenderkan kepalanya pada bahu Renjun.

Renjun menoleh, dan menemukan Jeno yang tengah memejamkan matanya. Mark berdecak kesal dan menatap tak suka pada Jeno.

"Jeno-ya!" Renjun tak tahu kenapa ia harus meninggikan suaranya begitu memanggil nama Jeno. Tapi ini semua juga karena salah jantungnya yang berdetak begitu cepat ketika Jeno berada di sampingnya.

"Ada apa, Renjun-ie?" Jeno membuka sedikit matanya dan menatap Renjun. "Kenapa denganmu?"

Jeno mendengus kesal. Lalu meraih remote di tangan Renjun dan mengganti channelnya. "Aku kesal dengan Haechan. Dia mengusirku begitu saja, padahal aku sedang asyik bermain bersama Jaemin. Jaemin juga, kenapa dia diam saja lagi."

Mata Renjun meredup begitu mendengar cerita Jeno. Ada rasa sakit yang menyusup hatinya begitu Jeno menyebut nama orang lain dengan begitu penuh cinta meski sedang kesal sekali pun. Mengatur nafasnya, Renjun mencoba mengusap tangan Jeno namun gagal karena Mark lebih dulu memegang tangannya dan menariknya.

"Renjun! Ikut aku." Renjun terkejut dan Jeno hanya menatapnya bingung.

"Kemana, Mark hyung?" Mark hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan Renjun. Dengan langkah lebar, Mark mencoba menarik Renjun agar jauh-jauh dari Jeno. Dia tidak ingin, Jeno menyakiti Renjun terlalu dalam. Cukup Mark yang tersakiti di sini. Jangan Renjun.

.

.

"Hei Jisung-ah, lihat kan? Aku yakin, Renjun-ge pasti akan bersama Mark hyung." Chenle berujar dengan semangat. Dua maknae itu sedari tadi memang bersembunyi di dapur dan mengintip interaksi ketiga hyungnya yang berada di ruang keluarga.

"Kalau menurutku sih, Renjun hyung pasti bersama Jeno hyung."

Chenle menggeleng tak setuju. Menggembungkan pipinya, Chenle menatap tajam pada Jisung.

"Tidak Jisung, Renjun-ge itu cocoknya dengan Mark hyung. Mark hyung itu sangat mencintai Renjun-ge, aku yakin cepat atau lambat pasti Renjun-ge akhirnya akan luluh juga."

"Kau itu kenapa keras kepala sih? Kan sudah jelas jika Renjun hyung sangat mencintai Jeno hyung. Pastinya mereka yang bersama."

"Tidak Jisung. Aku pokoknya dukung MarkRen. Titik!"

"Tidak! NoRen itu nomor satu!"

"MarkRen!"

"NoRen!"

"MarkRen!"

"NoRen!"

"Mark-"

"Bisakah kalian diam dan masuk ke dalam kamar saja? Aku tuli mendadak mendengar kalian berteriak-teriak tak jelas begitu." Suara Chenle terhenti begitu suara Haechan terdengar. Menyengir tak jelas, keduanya lantas saling menyenggol begitu mendapati aura gelap menguar dari tubuh Haechan.

"Kalian dengar apa perkataan ku tadi?"

"I-iya hyung!"

Keduanya pun langsung pergi dari dapur dan meninggalkan Haechan sendirian yang menggeleng pelan. "Tsk! Anak zaman sekarang, tahu apa sih mereka tentang cinta?"

Ehem, Lee Haechan, tidak kah kau mengaca?

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Awalnya mau bikin moment JohnJae and JohnIl di chap ini because lihat foto teaser mereka. Karena demi apa?! Taeilnya cantik, Johnny like a real daddy, and Jaehyun, his so cute, for me. Tapi nggak jadi, demi kepentingan cerita(? Dan juga karena niatnya mau update habis lebaran, tapi nggak jadi juga(?

Chap kemarin aku bilang aku punya firasat nggak enak kan tentang NCT? Dan ternyata itu untuk masalah mas Jihan. Dan mas, sumpah ya, aku nggak mau kalau mas Jihan beneran out. Kan aku HanKun/KunSol Hard Shipper, kalau mas out, entar mas Kun sama siapa? (ok abaikan ini). Pokoknya, doakan yang terbaik aja buat mas Jihan ya!

Sampai Jumpa!