JohnJaeWinIl Side
.
.
Johnny mempercepat larinya untuk mengejar Taeil yang berlari menghindarinya. Johnny menghela nafasnya pelan begitu Taeil memasuki ruangan yang bisa disebut, ruang latihan vokal. Menyenderkan tubuhnya pada dinding di belakangnya, Johnny mengatur nafasnya yang terasa berat.
Johnny menolehkan kepalanya begitu seseorang dari arah kanannya berdiri tepat di sampingnya.
"Kau kenapa hyung?"
Johnny menggeleng. Tangannya mengusap peluh yang mengucur di dahinya. Pemuda di sampingnya itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebungkus tisu dari saku celananya dan memberikannya pada Johnny. Johnny menerima tisu itu dan ia gunakan untuk membersihkan keringatnya.
"Thanks, Jay."
Jaehyun mengangguk dan melebarkan senyumnya, "Sama-sama hyung. Aku masuk dulu ya, hyung mau masuk juga?"
Johnny menggeleng, "Tidak. Aku harus bertemu dengan Ten sekarang."
"Kalau begitu, aku duluan hyung. Sampai bertemu lagi!"
Setelah itu, Jaehyun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan yang tadi juga dimasuki oleh Taeil. Johnny kembali menghembuskan nafasnya. Johnny menatap bungkus tisu di tangannya dan menggeleng pelan. Jaehyun itu baik, pengertian, perhatian, dan selalu bisa diandalkan. Johnny tahu itu, tanpa orang lain beritahu sekalipun. Tapi jika Jaehyun itu mencintainya, apa mungkin? Mengacak rambutnya frustasi, Johnny melanjutkan langkahnya. Seperti yang dikatakannya tadi pada Jaehyun, jika ia harus menemui Ten sekarang. Untuk curhat. Eh?!
.
Taeil mencuri pandang pada Jaehyun yang tengah sibuk membaca lirik pada selembar kertas di tangannya. Taeil tahu jika sejak tadi, Jaehyun itu tidak fokus. Terbukti saat waktunya take vocal, Jaehyun selalu salah nada atau bahkan tidak sampai nada. Karena Taeil lebih dari tahu, meskipun raga Jaehyun ada di sini, tapi tidak dengan pikirannya.
Menyemangati dirinya sendiri, Taeil melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Jaehyun. Taeil menyodorkan sebotol air mineral pada yang lebih muda. Jaehyun terkejut begitu melihat sebotol air ada di depan matanya. Mendongakan kepalanya, Jaehyun bertemu tatap dengan Taeil yang tengah tersenyum.
"Ambil dan minumlah. Kau sepertinya tidak sedang fokus."
Dengan ragu, Jaehyun mengambil botol minum itu. Membuka penutupnya dan langsung menegaknya hingga isi di botol itu tinggal setengah.
"Terima kasih hyung." Jaehyun tersenyum kecil dan menatap Taeil. Taeil mengangguk menanggapi ucapan terima kasih Jaehyun.
Lalu keheningan menyelimuti keduanya. Aura canggung menguar dengan kuat di antara mereka berdua yang membuat Taeil harus berpura-pura sibuk menghafal lirik lagu baru mereka. Jaehyun sendiri sudah kembali sibuk pada kertas di tangannya. Sebenarnya lidah Jaehyun sudah gatal untuk bertanya macam-macam pada Taeil, tapi entah kemana keberaniannya sekarang.
"Jae."
"Hyung."
Suara keduanya terdengar secara bersamaan. Keduanya lalu tertawa canggung sembari mengusap tengkuk mereka secara bersamaan juga.
"Ada apa hyung?" Jaehyun kembali bersuara setelah beberapa detik berlalu, Taeil tidak juga berbicara. Jaehyun dapat melihat Taeil meneguk ludahnya gugup dan membasahi bibirnya sebelum menjawab pertanyaan Jaehyun, "Aku ingin berbicara. Tentang Johnny."
Jaehyun mengulas senyum tipis. Memang iyakan jika mereka berdua bersama, memang siapa lagi yang akan mereka bicarakan, selain Johnny?
"Kenapa dengan Johnny hyung?" Jaehyun berjalan menuju sofa yang ada di ruang latihan mereka setelah sebelumnya mereka berdua berdiri di dekat jendela.
Taeil mengikuti langkah Jaehyun dan mendudukan dirinya di samping pemuda bermarga Jung itu.
"Kau pasti mengerti apa maksudku Jaehyun." Jaehyun mengernyitkan dahinya begitu satu kalimat itu keluar dari mulut Taeil. Menaikan sebelah alisnya, Jaehyun menatap Taeil dengan tatapan bingung, "Aku tak mengerti hyung. Apa maksudmu sebenarnya?"
Menghembuskan nafasnya perlahan, Taeil menatap Jaehyun dengan seksama, "Kita berdua sama-sama mencintai Johnny. Tapi Johnny mencintaiku-"
"Oh! Sekarang aku mengerti. Hyung ingin bilang jika aku sudah kalah telak darimu kan?" Jaehyun memotong kalimat Taeil yang membuat Taeil menggeleng dengan cepat, terlebih melihat tatapan Jaehyun yang begitu sedih, "Aku tahu, jika Johnny hyung mencintaimu hyung. Tapi, apa tidak boleh jika aku menyimpan cintaku untuk Johnny hyung? Toh selama ini juga seperti itu. Dan tidak ada yang berubah kan?"
Taeil menggigit bibir bawahnya bingung, bukan ini maksud Taeil. Jaehyun benar-benar sudah salah paham padanya sekarang, "Bukan itu maksudku Jaehyun. Aku hanya ingin mengatakan, jika kau benar-benar mencintai Johnny, setidaknya buktikan padanya. Bukan hanya mencintai dalam diam dan berharap Johnny sadar akan cintamu. Kau tahu bukan, jika Johnny bukanlah orang yang peka?"
Taeil menghembuskan nafasnya panjang dan menatap Jaehyun yang juga menatapnya, "Tapi bagaimana hyung? Mata Johnny hyung hanya terarah padamu, bagaimana caranya agar dia melihatku sedikit saja? Bahkan yang ada di otaknya hanya bekerja, latihan, dan kau, Taeil hyung. Dia yang mengatakannya sendiri padaku hyung. Jadi aku harus berbuat apa?"
Keheningan kembali mengambil alih keadaan di antara keduanya. Taeil menunduk, menatap sepatunya dengan pikiran yang membenarkan apa yang diucapkan oleh Jaehyun baru saja. Jaehyun sendiri mendongak, menatap langit-langit ruangan itu mencoba menahan air mata yang entah sejak kapan menggenang di kedua matanya.
Tersenyum kecil, Taeil mengarahkan pandangannya pada Jaehyun, "Kau tenang saja Jaehyun-ah, aku akan membicarakan ini pada Johnny."
Mata Jaehyun terbelalak, seketika itu pula, ia menolehkan kepalanya dan menatap terkejut pada Taeil, "Maksudmu hyung?"
"Meski nantinya akan ada yang terluka, tapi setidaknya perasaan kita semua sudah jelas. Tidak ada yang tersembunyi lagi."
.
Johnny menatap tak minat pada makanan di hadapannya. Winwin yang duduk di depannya pun tersenyum kecil, melihat hyungnya seperti ini.
"Hyung, ada masalah?" Winwin bertanya setelah menelan kimbap yang tadi dikunyahnya. Johnny menghela nafasnya sembari menyeruput bubble tea coklatnya, "Entahlah." Johnny menggendikan bahunya pertanda bingung akan perasaannya saat ini.
"Kau bisa cerita padaku hyung. Meskipun kita tidak terlalu dekat, tapi setidaknya kau bisa percaya padaku."
Winwin tersenyum lebar menatap Johnny yang memandangnya ragu. Mereka bertemu secara tak sengaja begitu Johnny yang berniat bertemu dengan Ten malah sang pemuda Thailand tak ada di tempat biasanya berada, ruang latihan. Johnny terlalu malas mencari Ten yang bisa dipastikan tengah sibuk bersama Hansol maupun Doyoung, jadilah dia memilih untuk menemani Winwin yang memintanya pergi bersama untuk makan siang.
Johnny mendesah pelan, menyenderkan tubuhnya pada kursi di belakangnya, Johnny menatap Winwin dengan pandangan tak terbaca, "Sebelum aku bercerita, bisa kau jawab pertanyaanku dulu?"
Winwin menaikan sebelah alisnya dan tersenyum kecil, "Tentu saja hyung. Memangnya hyung mau bertanya apa?"
Johnny berdeham pelan, membasahi bibirnya dan menatap mata Winwin, "Kau sebenarnya mencintai siapa? Kun, Jaehyun, atau Taeil hyung?"
Winwin tersenyum polos, menyeruput bubble tea Taronya, Winwin balas menatap Johnny, "Menurut hyung, aku mencintai siapa?"
Johnny berdecak kesal, tak seharusnya Winwin mempermainkan dirinya seperti saat ini. Winwin terkikik geli, mengusap sudut bibirnya, Winwin menatap polos pada Johnny.
"Jika aku bilang aku mencintai Johnny hyung, apa hyung percaya?"
Johnny tersedak ludahnya sendiri begitu ucapan bernada polos itu meluncur keluar dari mulut Winwin. Winwin terbahak melihat ekspresi kaget dari hyung Chichagonya itu, "Aku bercanda hyung."
Johnny mendengus kesal, lalu memperbaiki duduknya dan menatap penuh intimidasi yang pada lebih muda, "Dengar Dong Sicheng, aku tidak sedang bercanda dan tidak ingin bercanda untuk saat ini." Johnny berbicara dengan nada memperingati.
"Iya hyung, maaf," Winwin menghabiskan bubble tea miliknya sebelum kembali menatap Johnny dan berujar, "Jika boleh jujur, perasaanku terhadap Kun-ge itu sama seperti perasaanku terhadap Yuta hyung dan para hyung yang lain. Perasaan seperti kakak, itu yang aku rasakan padanya. Sementara perasaanku terhadap Jaehyun, dia seperti saudara kembarku hyung. Kau tahu? Aku seperti bisa merasakan saat dia sakit ataupun bahagia. Meskipun kami tidak terlalu dekat, tapi kami itu saling memperhatikan satu dan lainnya."
Johnny meneguk ludahnya dan kembali menatap Winwin, "Artinya, kau juga menganggap Taeil hyung sebagai kakakmu kan?"
Winwin menyeringai tipis, matanya mengedar untuk melihat keadaan sekitar sebelum mendekatkan mulutnya pada telinga Johnny, "Sayangnya, aku mencintai Taeil hyung."
.
Taeil melihat jam dinding yang sudah menunjukan waktu sudah tengah malam. Matanya melirik handphone di tangannya dengan sesekali bergumam kecil. Taeyong yang duduk di atas kasurnya melihat Taeil dengan pandangan bingung.
"Taeil hyung," Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok jangkung yang sedari tadi Taeil tunggu akhirnya muncul juga, "Kau bilang ingin bicara denganku?"
Taeil mengangguk dengan cepat. Berdiri dari duduknya, Taeil menatap Taeyong yang masih menatap bergantian antara Taeil dan Johnny.
"Kami izin keluar. Tak lama."
Setelah itu, Taeil melangkah menuju Johnny dan menarik tangan yang lebih muda tak mempedulikan jawaban Taeyong yang hanya bisa menghela nafasnya pasrah.
Kini keduanya tengah berjalan menyusuri taman yang tak jauh dari dorm mereka. Semenjak keluar dari dorm, tak satupun dari mereka yang membuka mulut untuk memulai pembicaraan. Dan ketika mereka sampai di bangku taman, keduanya memilih untuk duduk di sana namun tetap keheningan menyelimuti mereka. Hanya ada suara angin dan hewan-hewan malam yang bersahutan.
Taeil mengusapkan kedua tangannya begitu angin malam yang mengenai dirinya terasa begitu dingin. Johnny yang melihat itu pun tersenyum kecil, tangannya meraih kedua tangan Taeil yang lalu digenggamnya erat. Mencoba menyalurkan kehangatan pada orang yang dikasihinya.
Taeil tersenyum tipis, matanya menatap Johnny yang tengah meniupi kedua tangannya. Pipi Taeil memerah malu, mengatur degup jantungnya yang tak teratur, Taeil mencoba menarik tangannya yang berada di genggaman tangan Johnny. Membuat pemuda blasteran itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Ada apa, hyung?" Johnny bertanya dengan mata menatap Taeil. Taeil menghela nafasnya, lalu mengalihkan pandangannya dari Johnny, "Aku tidak apa-apa. Hanya ada yang ingin aku bicarakan."
Johnny mengangguk, sebenarnya ia juga penasaran, apa yang sebenarnya ingin Taeil bicarakan padanya hingga hyung tertua digrupnya itu ingin bicara berdua dengannya meskipun waktu sudah lewat dari tengah malam.
"Tentang apa hyung?" Taeil menggigit bibir bawahnya dan memainkan jemarinya yang bertautan. Helaan nafasnya terdengar begitu berat sebelum Taeil berujar, "Tentang aku, kau, Jaehyun, dan Winwin."
Johnny membulatkan matanya terkejut. Bola matanya bergerak cepat, Johnny tidak, atau sebenarnya belum siap untuk membicarakan hal sensitif ini. Sensitif karena hal ini memang bisa melukai siapa saja, tak ada yang tidak terluka di antara mereka berempat.
Tidak mendapat respon yang berarti dari lawan bicaranya, Taeil kembali melanjutkan, "Kau pasti sudah tahu jika Jaehyun itu mencintaimu meski kau tak sadar. Tapi John, Jaehyun sudah mencintaimu sejak lama."
Johnny beralih menatap tanah di bawahnya. Ia memang sering kali mendengar beberapa member grupnya mengatakan jika Jaehyun mencintainya. Tapi memang ia tidak, atau setidaknya belum, sadar akan hal itu. Johnny fikir, perhatian Jaehyun padanya sama seperti perhatian Jaehyun pada hyung-hyungnya yang lain. Meskipun Johnny sadar, jika Jaehyun memperlakukannya berbeda.
Taeil meraih sebelah tangan Johnny dan menggenggamnya, membuat perhatian Johnny teralih dan berpindah pada pemuda lain yang duduk tepat di sampingnya, "Sekarang kita memang saling mencintai. Tapi coba tanyakan hatimu sekali lagi, kau benar-benar mencintaiku atau tidak?"
Dan setelah mendengar ucapan Taeil, entah mengapa pikiran Johnny langsung terarah pada sosok yang selama ini ada di sampingnya, selalu memperhatikannya, dan selalu ia andalkan. Jung Jaehyun.
.
Jaehyun memasuki kamarnya dengan langkah lesu. Wajahnya terlihat lebih lelah ditambah dengan matanya yang bertambah sayu. Dengan segera, Jaehyun menidurkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Tak peduli jika ranjang di seberangnya kosong walau ini sudah lebih dari larut malam. Jaehyun hanya butuh tidur. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang begitu lelah.
Mata Jaehyun hampir menutup begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Jaehyun mengerang kesal. Begitu melihat ke arah pintu, mata sayu Jaehyun menemukan Winwin yang tengah berdiri di sana lengkap dengan senyum polosnya.
"Maaf mengganggumu, Jaehyun-ie," Winwin melangkah mendekat setelah menutup pintu kamar JohnJae itu. Jaehyun bergumam tak jelas membalas ucapan Winwin dan kembali menutup matanya.
Winwin menyeringai kecil, langkah kakinya ia ayunkan untuk lebih dekat pada Jaehyun dengan duduk di atas ranjang Jaehyun. Jemari panjangnya memainkan helai rambut Jaehyun membuat sang empu menyamankan posisi tidurnya.
"Jaehyun-ie," Winwin memanggil Jaehyun dengan tangan yang tak lepas dari kepala Jaehyun, "Hmm," Jaehyun bergumam menanggapi panggilan Winwin.
"Aku sudah mengatakan semuanya pada Johnny hyung, menurutmu, Johnny hyung akan melepaskan Taeil hyung tidak?" Winwin memang sengaja tidak akan membiarkan Jaehyun tidur. Ia butuh curhat sebenarnya. Ingin curhat pada Kun-ge, tapi dia sepertinya juga punya masalah. Pada Yuta hyung, hyungnya itu sedang sensitif sekali. Pada Mark atau Haechan? Dia tidak mungkin kan curhat pada member minor? Jadilah, Winwin memilih untuk mengganggu tidur Jaehyun karena ia pun tidak bisa tidur sebelum hatinya lega. Egois? Memang.
Jaehyun membuka matanya dan menatap Winwin menggunakan mata sayunya yang kini memerah. Jaehyun menghela nafasnya, tangannya menyingkirkan jemari Winwin yang berada di atas kepalanya.
"Sungguh Dong Sicheng, aku butuh tidur. Tidak peduli jika Johnny hyung akan melepaskan Taeil hyung atau tidak, aku hanya butuh tidur."
Jaehyun menarik selimutnya menutupi tubuhnya hingga ke kepalanya. Winwin mengerjapkan matanya dan kembali menatap Jaehyun yang kini tak terlihat seinchipun.
"Jadi kau sudah menyerah? Kau bahkan belum usaha untuk menyadarkan Johnny hyung akan cintamu. Jadi ini Jung Jaehyun yang sebenarnya? Mudah menyerah begini? Kau seperti bukan Jaehyun yang ku kenal! Baiklah, kalau kau sudah menyerah, aku berharap kau bisa mendapatkan cinta yang lebih baik dari ini."
Setelah itu, Winwin dengan cepat memutar arah tubuhnya, melangkah dengan lebar meninggalkan kamar JohnJae itu. Tak mempedulikan jika sang empu kamar tengah menangis dalam diam dan tertutupi selimut tebalnya.
.
Jaehyun berjalan dengan pelan begitu melihat Johnny dan Taeil yang berjalan berdampingan dengan sesekali mengobrol di depannya. Di belakang Jaehyun, ada Winwin yang tengah mendengarkan lagu memalui earphonenya dan sesekali memperhatikan ekspresi wajah Jaehyun yang terlihat sendu.
Winwin ingin mengabaikan Jaehyun, tapi melihat wajah sendu itu membuat hati nurani Winwin sedikit tersentuh. Sudah Winwin bilang kan, Jaehyun itu seperti saudara kembarnya, jadi apa yang Jaehyun rasakan, Winwin juga bisa merasakannya.
Melukiskan senyum lebar, Winwin melangkah cepat menghampiri Jaehyun dan merangkul yang lebih tua, "Hei, Jaehyun-ie!"
Jaehyun sedikit kaget dengan yang dilakukan Winwin. Setelah beberapa hari lalu sepertinya pemuda itu marah padanya, dan sekarang pemuda China itu yang mendatanginya seolah tak terjadi apa-apa pada malam itu.
"Hai, Winwin-ie," Jaehyun membalas sapaan lengkap dengan senyum lebarnya. Winwin membalas senyum itu, matanya lalu beralih untuk menatap kedua orang yang berada di depannya lalu berkata, "Di Jeju nanti, ayo kita sekamar."
Johnny dan Taeil yang mendengar suara Winwin pun agak terkejut. Keduanya menoleh ke belakang dan menemukan Jaehyun dan Winwin yang tengah tertawa bersama. Jaehyun dan Winwin pun berjalan melewati keduanya, tak mempedulikan jika Johnny dan Taeil, tengah menatap sendu ke arah mereka.
"Ku rasa, kita harus lebih keras berjuang."
.
.
TBC
.
.
A/N :
Minal 'aidzin wal fa idzin
Mohon maaf lahir dan batin.
Jadi untuk chap 6 ini akan jadi 2 part khusus untuk hyung line. Sementara chap 7 juga jadi 2 part khusus maknae line. Tapi bukan berarti semua masalah selesai di chap itu ya, karena memang masalahnya panjang.
Dan aku juga mau bilang maaf banget, mungkin ini terakhir kali aku ikut campur dalam ff. Karena aku bakal sibuk kerja nantinya, jadi semua ff aku, bakal ku serahin ke adik aku. Kalian pasti bisa tahu perbedaan tulisanku dan adikku ya? Mulai dari chap ini juga udah sama dia. Dan semuanya pasti bakal lanjut kok, karena memang aku udah kasih konsep ffnya ke dia.
Oke, sebelumnya, terimakasih untuk segala bentuk dukungan kalian para readers-nim selama ini. Mulai dari review, favorite, dan follow ff-ff ku selama ini, terimakasih banyak!
.
.
TaeYu Side
.
.
Yuta menatap Taeyong yang tengah menulis beberapa kata di buku yang berada di pangkuannya. Matanya mencuri pandang dan mencoba membaca lirik yang tengah Taeyong tulis itu. Taeyong yang menyadari hal itu pun segera menutup bukunya, membuat Yuta mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Pelit sekali sih!" Yuta berujar kesal, Taeyong menatap Yuta menggunakan mata tajamnya dan berkata, "Aku bukannya pelit. Hanya, untuk apa kau melihatnya? Ini bahkan belum apa-apa."
"Aku hanya ingin melihat dan siapa tahu bisa membantumu. Begini-begini, aku juga bisa membuat lirik lagu," Yuta membusungkan dadanya dan berucap dengan nada bangga.
Taeyong memutar bola matanya, "Kau kan bisanya merayu para fans."
Yuta mendengus sekali lagi dan menatap kesal Taeyong, "Dasar Lee Menyebalkan Taeyong, tidak berkaca huh?"
Taeyong menyeringai kemudian, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Yuta yang membuat pemuda Jepang itu mengerjapkan matanya.
"Aku memang suka merayu fans, tapi aku lebih suka merayumu," Taeyong berbisik dan mencuri satu kecupan di pipi Yuta sebelum berlari keluar dari kamar hotel tempat mereka menginap.
Yuta mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sadar apa yang baru saja terjadi, menggeram kesal Yuta pun berdiri dari duduknya dan mengejar Taeyong.
"Tunggu kau Lee Taeyong! Mati kau di tanganku!"
.
.
Sampai Jumpa di lain waktu!
