HanKunDoTen Side

.

.

Ten menekuk wajah manisnya karena kesal lantaran pemuda tinggi di hadapannya itu terus saja menggodanya. Sementara pemuda tinggi itu tertawa terbahak begitu melihat wajah Ten yang cemberut dan memerah karena menahan kesal.

"Berhenti menertawaiku Kim Dongyoung!" Ten berseru pada Doyoung yang malah bertambah keras menertawakannya. Membuat beberapa member yang berada di sekitar mereka mengernyitkan dahi mereka keheranan.

Yuta menghampiri mereka dan berdiri di antara keduanya. Ia lalu membuka mulutnya untuk bertanya, "Apa yang terjadi? Sepertinya seru sekali."

Doyoung belum menghentikan tawanya namun malah menunjukan ponselnya pada Yuta. Yuta pun melihat ponsel Doyoung dan mengerjapkan matanya begitu tak mendapat alasan kenapa Doyoung menertawakan Ten.

Doyoung menghentikan tawanya dan menghela nafas. Ia lalu mengotak-atik ponselnya sebelum kembali memperlihatkan isinya pada Yuta.

"Lihat dan baca komentar-komentar di foto itu hyung! Bukankah sangat lucu?"

Yuta pun menurut, tak lama kemudian ia terbahak begitu membaca apa yang ditunjukan Doyoung.

'Ten selalu berada di antara member NCT Dream, apakah dia member baru NCT Dream?'

'Oww, Ten-ie kiyowo~. Dia masih pantas berada di NCT Dream.'

'Tinggi Ten bahkan kalah dari Jisung, ku rasa dia cocok menjadi maknae di NCT Dream.'

'Taeil, Taeyong, Ten. Trio T ku yg malang T.T'

Dan komentar-komentar lain yang membuat kedua pemuda di hadapan Ten semakin terbahak. Ten menggembungkan pipinya lalu membalikan tubuhnya guna menghindar dari Yuta dan Doyoung.

Setelah melihat Ten jauh dari pandangan keduanya, baik Yuta maupun Doyoung menghentikan tawa mereka. Mereka berdua lantas saling bertatapan. Yuta menepuk bahu Doyoung guna menyemangati yang lebih muda.

"Aku tahu, kau pasti berusaha menghibur Ten kan? Tapi Doyoung, kau juga perlu berkaca. Kau bahkan tak kalah menyedihkan dari Ten."

Kasar. Begitu memang, tapi Yuta adalah orang yang blak-blakan akan pandangannya terhadap orang lain. Yuta memperhatikan bagaimana hubungan tiga orang itu selama ini. Apalagi Hansol selama ini juga sangat dekat dengannya, ia jadi sedikit tahu bagaimana perasaan pemuda asal Busan itu.

"Tapi menurutku Doyoung-ie, lupakan dulu masalah cintamu itu. Kita fokus dulu dengan tugas kita di Jeju ini. Baru setelah kembali ke Seoul, kau bisa menemui Hansol hyung dan membicarakan semuanya, bersama Ten tentunya."

Doyoung mengangguk dan membalas perkataan Yuta dengan senyum kecil. Ia kemudian mengikuti Yuta yang melangkah terlebih dahulu menuju tempat acara dimana SM Workshop tengah diselenggarakan.

.

Ten berjalan menuju balkon hotel di kamarnya setelah acara selesai. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya. Mengotak-atik ponselnya untuk menemukan sebuah foto seseorang yang begitu ia rindukan.

Ten tersenyum begitu melihat foto orang itu dengan potongan rambut terbarunya. Sekian detik menatap foto itu, Ten mendesah keras. Seperti ada hantaman batu besar yang menghimpit dadanya begitu ia memikirkan kisah cintanya yang tak seperti orang lain. Kisah cintanya begitu rumit. Kisah cinta yang mengharuskan adanya orang yang terluka dalam kisah cintanya itu.

Ten tersentak kaget begitu seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Menolehkan kepalanya, Ten menemukan Johnny yang berdiri di sampingnya lengkap dengan senyum tipis.

"Santai bro! Tegang sekali," Johnny terkekeh pelan ketika melihat wajah tegang Ten. Ten mendengus kesal lalu memukul bahu Johnny menggunakan kepalan tangannya, "Sialan kau!"

Johnny mengernyit, bukan karena sakit pada bahunya, melainkan karena Ten baru saja mengumpat padanya. Setahu dan seyakin Johnny, Ten itu jarang sekali mengumpat ketika sedang kesal. Jangan hitung pada Doyoung, itu pengecualian.

Johnny lantas menatap Ten dengan pandangan bingung, "Kau mengumpat padaku? Ada apa denganmu sebenarnya?"

Ten menghembuskan nafasnya dengan pelan sebelum menundukan kepalanya, "Maaf, tapi aku memang sedang banyak pikiran."

Johnny tersenyum kecil, ia lalu merangkul bahu Ten, "Tentang Hansol hyung? Doyoung?"

Ten mengangguk sebelum mendongak dan menatap langit Jeju yang terlihat terang karena kerlip bintang, "Ya, tentang mereka."

Johnny ikut menatap langit dan mendesah pelan, "Kisah kita sama, Ten-ie."

Ten tertawa pelan, ia lupa jika sang sahabatnya ini juga punya kisah cinta yang tak kalah rumitnya. Ten lalu menatap Johnny dari samping begitu pemuda Chichago itu berkata, "Kau mending hanya tiga orang yang terlibat. Sementara aku, ada empat orang yang sama-sama terjebak dalam satu ikatan yang mengatasnamakan cinta."

"Yang punya ikatan itu kau dan Taeil hyung, bukan kalian semua," Ten berkomentar. Johnny menggeleng, menolak argumen dari Ten, "Tidak Ten. Kami semua terikat. Hati kami terikat satu sama lain, sehingga kami bingung harus melepaskan ikatan yang mana."

"Aku rasa, kunci dihubungan kalian itu kau, Johnny hyung. Jadi, jika kau melepas satu ikatan yang mengikatmu, maka semuanya akan jelas."

Johnny terdiam memikirkan kata-kata Ten. Di dalam hubungannya, dia yang menjadi kunci? Apa benar?

Johnny tersenyum miring sebelum kembali menatap Ten, "Kau pintar ya memberi jalan keluar bagi orang lain. Kau sendiri bahkan belum menemukan solusinya. Begini saja Ten-ie, jika aku adalah kunci dalam hubunganku, maka kunci dalam hubunganmu itu siapa?"

Ten termenung begitu Johnny memberi pertanyaan itu. Benar juga, siapa sebenarnya kunci dalam hubungannya ini? Dirinya? Doyoung? Atau Hansol?

.

Kun tengah berbaring di atas lantai ruang latihan ketika Jungwoo masuk dengan tangan yang membawa dua botol minuman berperisa jeruk. Kun melirik sekilas begitu Jungwoo mendudukkan dirinya di samping tubuh Kun.

"Hansol hyung tidak menghubungimu hyung?" Jungwoo bertanya setelah menenggak minumannya. Kun tetap dalam posisinya, namun Jungwoo dapat mendengar Kun bersuara dengan pelan, "Tidak."

Jungwoo menghela nafasnya. Ia lalu membaringkan dirinya di samping Kun dan menatap langit-langit ruang latihan.

"Aku merindukan Lucas," Jungwoo bergumam. Ia tak mengharapkan respon apapun dari orang yang di sebelahnya, namun Jungwoo tahu, jika orang yang di sebelahnya tengah membuka matanya dan menatap dirinya.

"Lusa Lucas kembali, kau tenang saja," Kun membalas gumaman Jungwoo. Jungwoo terkekeh pelan, "Dan kau hyung, tidak merindukan Hansol hyung atau Jaehyun hyung?"

Kun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Karena hal itu yang mengganggu pikiranmu."

Kun menghela nafasnya begitu perkataan Jungwoo mengenai hatinya. Jungwoo memang benar, Kun itu merindukan Hansol, tidak dengan Jaehyun.

"Sudah bisa melupakan Jaehyun hyung?"

Kun membolakan kedua matanya begitu pertanyaan itu keluar dari mulut Jungwoo. Memang benar jika sudah sangat lama, Kun tidak lagi memimpikan atau berharap pada Jaehyun. Apalagi memang kenyataannya mereka hanya dekat pada saat NCT Life in Seoul saja, setelah itu, saat keduanya masih trainee bersamapun keduanya tak terlalu dekat. Terlebih Kun mengetahui jika Jaehyun mencintai Johnny, dan dari situ pulalah, Kun memutuskan untuk menyerah akan cintanya pada Jaehyun.

Kun memutuskan untuk bangkit dari acara tidurannya. Duduk di lantai, dan mengambil minuman yang Jungwoo bawa. Kun membuka penutupnya, menenggak isi hingga setengahnya yang kemudian ia taruh kembali di sisi tubuhnya yang kosong.

"Sudah," Kun bergumam pelan menjawab pertanyaan Jungwoo tadi. Jungwoo tersenyum lebar. Ia lalu ikut bangkit dan menepuk bahu orang yang lebih tua, "Jadi, apa kau sekarang sudah bisa mencintai orang lain?"

Kun mendengus, ia lalu mengambil handuk kecilnya yang kemudian ia pukulkan pada Jungwoo, "Cinta yang sebenarnya itu butuh waktu, Jungwoo. Aku memang 'Love First Sight' tapi setelah aku mengalaminya terlebih lagi cintaku bertepuk sebelah tangan, aku rasa lebih baik mencintai orang yang sudah bersama kita sejak lama."

"Jika pikiranmu tentang cinta itu seperti itu, bagaimana dengan Hansol hyung?"

Kun hampir menyemburkan minumannya begitu nama Hansol lagi-lagi keluar dari mulut Jungwoo, "Kenapa kau bawa-bawa Hansol hyung sih?!"

"Ada yang salah? Aku benar kan hyung? Kau sudah kenal dan bersama Hansol hyung cukup lama. Apa kau tak berfikir untuk mencintainya?"

Kun menggeleng samar, ia memainkan botol minumannya dengan kepala yang menunduk, "Aku tidak pernah berfikir untuk mencintai Hansol hyung. Aku cukup tahu dan mengerti bagaimana susahnya diri Hansol hyung yang terjebak dalam cinta segi cinta. Aku tak mau menambahnya, jika aku benar-benar jatuh cinta pada Hansol hyung."

Jungwoo tersenyum tipis, matanya beralih untuk menatap pintu ruang latihan yang terbuka dan menampilkan sosok Hansol di depan sana.

"Tapi Kun hyung, cinta itu datang tak terduga. Mengalir begitu saja tak mengenal apapun meski banyak rintangannya. Karena cinta itu hanya perlu satu, yaitu keyakinan."

.

Ten memeluk dirinya sendiri begitu rasa dingin karena angin musim panas yang mulai terasa menusuk ke dalam kulitnya. Ten mengutuk dirinya sendiri karena lupa tidak membawa jaket. Tak lupa, ia juga mengutuk pemuda yang tengah berjalan di sampingnya itu dengan sumpah serapah. Menyumpahi yang lebih tua karena menyeretnya keluar hotel tanpa persiapan apapun.

"Kenapa kau cemberut sih?! Udara di sini enak tahu~" Pemuda di sampingnya bersuara, membuat Ten bertambah kesal hingga mencebikkan bibirnya.

"Kau gila Kim Doyoung! Kau tidak lihat aku kedinginan?!" Ten berkata dengan nada kesal. Matanya menatap tak minat pada pemandangan di hadapannya itu. Ten hanya ingin sebuah jaket untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan ini.

Ten tahu jika besok pagi mereka memang harus kembali ke Seoul, dan dia juga sangat mengerti jika Doyoung sangat ingin berjalan-jalan di Jeju ini. Tapi tidak bisakah Doyoung mengajak orang lain? Kenapa harus dirinya? Kan bisa saja Doyoung mengajak Yuta yang saat ini tengah bertengkar dengan Taeyong, atau Jaehyun yang sepertinya butuh hiburan. Bukan dirinya yang saat ini hanya membutuhkan Hansol. Eh?

Grep

Ten tersentak kaget begitu seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Hangat. Ten merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dari pelukan orang lain. Pelukan ini berbeda. Berbeda dari pelukan orangtuanya, adiknya, teman-teman satu grupnya, atau bahkan Hansol. Ini sangat nyaman. Menolehkan kepalanya dengan perlahan, Ten dengan mata yang masih membulat, mata Ten bertemu tatap dengan mata Doyoung yang tengah menatapnya intens.

"Sudah lebih baik?" Doyoung bertanya lengkap dengan senyum lebarnya yang entah mengapa malah seperti menghipnotis Ten hingga pemuda Thailand itu menganggukan kepalanya, "Ya."

Doyoung mengeratkan pelukannya pada tubuh Ten dan menaruh dagunya pada bahu sempit Ten. Wajah Ten memerah hingga akhirnya Ten memilih untuk menghadap ke depan agar Doyoung tidak melihat wajahnya yang merona malu.

Doyoung terkikik geli mendapati Ten yang salah tingkah. Doyoung lalu menghembuskan nafasnya pelan sebelum berbisik di telinga Ten, "Kau lebih suka pelukanku atau Hansol hyung?"

Tubuh Ten menegang. Ten tak menyangka jika Doyoung akan menanyakan hal ini. Ten mengakui jika pelukan Doyoung lebih nyaman dari pelukan orang lain. Namun sudut hatinya juga memilih pelukan Hansol adalah yang terbaik. Ten menggigit bibir bawahnya begitu kebimbangan menyelimuti dirinya.

"Jawabanmu yang akan menentukan keputusanku ke depannya, Ten," Doyoung kembali berbisik di telinga Ten hingga membuat pemuda manis itu menggigit bibirnya semakin kuat.

Selama ini Ten selalu meyakinkan dirinya jika ia mencintai Hansol. Tapi Ten juga tidak memungkiri jika ia teramat nyaman dengan perlakuan Doyoung selama ini; meskipun itu lebih banyak Doyoung yang mencari ribut dengannya, namun Ten lebih dari tahu jika itu adalah cara Doyoung agar Ten memperhatikannya.

"Ten-ie~"

Entah sejak kapan Ten merasa jika Doyoung menurunkan suaranya hingga titik terberatnya. Membuat bulu kuduk Ten berdiri hingga ia menelan ludahnya secara gugup, "Kau."

Dan entah mengapa kata itulah yang terucap dari bibirnya. Ten bisa merasakan ketika Doyoung membalik posisi tubuhnya hingga mereka berhadapan, ditambah dengan bibir Doyoung yang Ten rasakan langsung menyesap bibirnya. Menghisapnya bergantian antara bibir atas dan bawahnya yang membuat Ten mau tak mau menerima itu semua. Tapi Ten tak tahu mengapa, hatinya berdebar begitu mendapat ciuman ini, dan Ten juga tak memungkiri ada sedikit rasa bersalah yang memenuhi sudut hatinya.

.

Kun menundukan kepalanya begitu Hansol menatapnya begitu intens. Kini mereka tengah berada di ruang makan dorm mereka, hanya berdua. Trainee lain sudah berada di kamar mereka masing-masing, efek kelelahan latihan juga karena masih ada latihan yang harus mereka jalani esok pagi. Begitupula dengan Jungwoo, ia memilih untuk meninggalkan kedua hyung yang sangat dekat dengannya itu untuk pergi tidur terlebih dahulu. Seharusnya Kun juga, tapi berhubung Hansol ingin berbicara dengannya, mau tak mau Kun harus menuruti kemauan Hansol.

Kun memainkan jemari tangannya yang berada di bawah meja dengan gugup. Kun merasa gugup karena sedari tadi Hansol hanya terus menatapnya tanpa sedikitpun bersuara. Membuat Kun bingung harus memulai pembicaraan bagaimana. Apakah harus menanyakan kabar, atau menanyakan hal apa yang ingin Hansol bicarakan? Kun bingung untuk saat ini.

Saat suara helaan nafas terdengar, Kun memberanikan dirinya untuk melirik Hansol yang kini tengah mengetik sesuatu di atas ponselnya. Kun tak mau tahu, tapi ia penasaran. Namun Kun yakin, jika itu adalah teman-teman Hansol yang menanyakan keberadaan pemuda asal Busan itu sekarang.

"Kun-ah," Kun sedikit gelagapan begitu Hansol memanggil namanya. Menghembuskan nafasnya, Kun mengangkat wajahnya dan melihat Hansol, "Ya, hyung?"

Hansol melukis senyum tipis, ia memundurkan kursinya dan bangkit dari duduknya. Berjalan menuju Kun dan berhenti tepat di samping pemuda China itu. Kun mengerjapkan matanya beberapa kali begitu Hansol menundukan tubuhnya dan mendekatkan wajah mereka.

"Aku hanya ingin berkata ini satu kali. Meskipun sekarang kita tidak saling mencintai, tapi aku minta, tolong lihat aku. Bantu aku melupakan cintaku yang lalu untuk melihatmu sebagai cintaku di masa yang akan datang."

Hansol mengecup bibir Kun sekilas yang membuat sang empu membulatkan matanya kaget. Kun tahu perasaan apa yang membuat jantungnya berdegup dengan cepat juga perasaan seperti perutmu yang dikelilingi ribuan kupu-kupu ketika Hansol mengecup bibirnya. Kun lebih dari sekedar tahu. Hanya saja, Kun tidak menyangka jika ia bisa merasakan hal itu pada Hansol.

"Karena kita tidak tahu siapa jodoh kita nantinya, tapi aku ingin Tuhan menjodohkan kita."

.

.

TBC

.

.

A/N :

Hai, author pengganti di sini. Panggil saja Wi. Wi akan melanjutkan semua ff yg Kak Tia; author sebelumnya, belum selesaikan. Kecuali, NCT Love Story karena itu emang bukan keahlian Wi. Dan kalo feel ffnya aneh atau ga berasa, maaf.

Wi itu NCTZEN, bias Doyoung. DoTen hardshipper, TaeYu shipper dan MarkNo shipper. Dan sebenarnya pas awal bikin ff ini kita berdua sempat debat buat nentuin couplenya. Tapi ff ini akan sesuai sama konsep yg udah Kak Tia kasih ke Wi. Jadi, Wi cuma tinggal lanjutin aja. Kami berdua itu pecinta super crack couple sebenarnya. Makanya kami buat ff ini.

Sebelum lupa, #HappyTaeyongDay

Semoga terus jadi Leader kebanggaan kami; member & NCTZen, tambah tampan, kalau bisa absurdnya dikurangin sedikit, pokoknya Wish You All The Best, Our Best Leader Lee Taeyong. Also, #HappyLeeteukDay.

Mohon bantuannya ya, saran dan kritik selalu diterima. Jika ada yg ingin ditanyakan tinggal ketik di kolom review. Salam kenal semua~

Wi!