MarkRenNo Side
.
.
Mark menolehkan kepalanya begitu mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Di depan sana, ada Jaehyun yang berdiri dengan mata yang mengedar; seperti mencari sesuatu atau malah seseorang.
"Jay hyung? Ada apa?" Mark berdiri dari duduknya setelah sebelumnya memindahkan buku paket bahasa Inggrisnya ke atas nakas.
Jaehyun tersenyum tipis begitu Mark mendekatinya dan berdiri tepat di depannya. "Hyung mencari Winwin. Dia dimana?"
Mark mengangguk mengerti, ia pun tersenyum dan menjawab, "Tadi ku lihat Winwin hyung pergi keluar, bersama Taeil hyung."
Senyum Jaehyun luntur, digantikan oleh ekspresi kosong yang terlihat begitu menyedihkan di mata Mark. Mark mengernyitkan dahinya bingung begitu mendapati ekspresi hyungnya yang seperti itu. Mark menghela nafas pelan. Ia berbalik menuju nakas dekat ranjangnya dan mengambil buku paketnya sebelum kembali pada Jaehyun.
"Hyung tidak sedang ada pekerjaan kan? Ayo temani aku belajar. Besok kan aku ada ujian," Mark menarik tangan Jaehyun menuju ruang tengah dorm. Jaehyun menghela nafas pasrah dan menuruti kemauan Mark.
"Aku juga akan meminta bantuan pada Johnny hyung," Mark mengatakannya tanpa melihat wajah Jaehyun yang berada di belakangnya. Mark tidak melihat bagaimana ekspresi Jaehyun yang terlihat kaget dengan mata yang membulat.
"Hyung duduk dulu saja. Aku akan panggil Johnny hyung," Mark mendudukkan Jaehyun di sofa sebelum dirinya berbalik badan untuk menuju kamar JohnJae. Jaehyun mengusap kasar wajahnya. Mengatur nafasnya yang memburu karena emosi yang tiba-tiba mendatangi hatinya. Jaehyun marah, kesal, kecewa, namun juga senang. Entah karena apa.
"Nah Jay hyung, Johnny hyung sudah di sini," Suara Mark membuyarkan lamunan Jaehyun. Jaehyun menoleh dan menemukan Mark juga Johnny yang tengah berdiri berdampingan di dekat sofa. Jaehyun dapat melihat ekspresi wajah Johnny yang terkejut. Membuat Jaehyun mengulum senyumnya.
Mark menarik Johnny untuk duduk di sampingnya. Sementara Mark, duduk di antara Johnny dan Jaehyun. Mark kemudian membuka buku paketnya, mulai bertanya ini-itu yang dibalas oleh Johnny. Jaehyun hanya memperhatikan, meskipun sesekali ia juga turut menjawab pertanyaan Mark yang memang ia lontarkan pada Jaehyun.
"Aku merindukan Renjun," Ujar Mark di tengah sesi belajarnya. Jaehyun yang tengah membaca pesan di ponselnya langsung menoleh pada Mark. Sementara Johnny yang sedang memeriksa latihan soal Mark sontak melirik adiknya itu.
"Kalau rindu, kenapa tidak menemuinya saja?" Johnny berkata setelah meletakan buku latihan milik Mark. Mark menoleh pada Johnny dengan senyum kecil terpatri di bibirnya. Mark pun berucap, "Jika bisa aku sudah menemuinya, hyung."
"Kenapa tidak bisa memangnya?" Giliran Jaehyun yang bertanya. Mark mengalihkan pandangannya dari Johnny ke Jaehyun. Ia lalu menghela nafas berat. "Aku takut," Ujar Mark pelan.
Jaehyun dan Johnny sontak bertatapan bingung. Tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada adik mereka satu ini. Johnny kemudian merangkul bahu Mark, meremasnya sebentar guna menyalurkan semangat.
"Kenapa kau takut Mark?" Johnny kembali bertanya. Mark menatap Johnny dengan pandangan sendu. Mark lalu menundukkan kepalanya sembari berucap, "Kami sudah sangat lama tidak mengobrol berdua. Kau tahulah hyung, terakhir kami bersama di Jeju kemarin, tapi itupun kami tidak bicara banyak. Hanya saling menyapa dan selebihnya saling berdiam diri."
Mark menghembuskan nafasnya perlahan sebelum kembali melanjutkan, "Aku takut karena jujur aku belum siap melepas Renjun. Aku ingin melihat dia bahagia meskipun itu bukan denganku. Aku ingin dia bahagia meskipun aku harus terluka. Aku tak masalah sebenarnya pada siapapun yang Renjun cintai, asalkan orang itu mencintai Renjun juga. Tidak seperti ini."
Johnny dan Jaehyun terdiam begitu mendengar perkataan Mark. Keduanya seolah tertampar dengan keras begitu anak seusia Mark bisa berpikir sedewasa ini tentang masalah cinta. Tidak seperti mereka berdua. Mengambil keputusan saja mereka masih bingung dan ragu. Keduanya lalu bertatapan yang beberapa detik kemudian salah satu di antaranya mengalihkan pandangannya.
Jaehyun menepuk bahu Mark, membuat sang empu menoleh dan mendapatkan senyum kecil dari Jaehyun. "Aku mengerti perasaanmu, Mark-eu. Tapi menurutku, untuk sekarang fokuslah pada ujianmu dan comeback kita kali ini. Baru setelah itu kau memikirkan cinta," Jaehyun terkekeh diujung kalimat. Entah karena apa.
"Benar kata Jaehyun, Mark. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan tidur. Kami harus pergi siaran sekarang," Johnny menimpali dan berdiri dari duduknya.
Mark mengangguk mengerti dan tersenyum tipis, "Aku mengerti hyung. Terimakasih sudah mau mendengar curhatanku. Dan Jaehyun hyung, ku harap kau segera menyelesaikan masalahmu ya. Para fans khawatir karena akhir-akhir ini wajahmu terlihat murung di depan kamera."
Jaehyun tersentak kaget begitu Mark mengatakan hal itu. Dengan senyum canggung, Jaehyun pun mengangguki pernyataan Mark itu. "Ya, akan hyung usahakan," Gumam Jaehyun pelan.
"Baiklah hyung, aku ke kamar dulu. Selamat malam~" Mark membawa buku-bukunya dan berjalan kembali menuju kamar YuWinMark.
"Selamat malam," Balas Johnny dan Jaehyun bersamaan. Keduanya bertatapan kembali sebelum Johnny mengeluarkan suaranya, "Manager sudah menunggu di luar, ayo kita berangkat."
Jaehyun menganggukan kepalanya dan berdiri dari duduknya. Melangkah di belakang Johnny dengan kepala menunduk. Memikirkan kata-kata yang tadi diucapkan oleh Mark. Pilihannya hanya dua, mempertahankan cintanya atau melepaskannya.
.
.
Renjun tengah duduk di kursi meja makan dengan mengotak-atik tab yang berada di atas meja. Matanya sibuk menelusuri foto barang-barang yang ada di situs penjualan online itu. Wajah manis Renjun terlihat cemberut begitu matanya menemukan barang yang menurutnya bagus namun entah mengapa menurut dirinya juga ada yang kurang.
"Serius sekali?"
Renjun tersentak kaget begitu mendengar suara seseorang yang begitu dekat dengan telinganya. Begitu menolehkan kepalanya, Renjun menemukan Jeno yang tengah menatapnya dengan seringai jahil. Renjun mendengus kesal melihatnya.
Jeno terkikik geli sebelum menarik kursi di dekat Renjun dan duduk di sana. Jeno melihat apa yang tengah Renjun lakukan, "Mencari apa?" Tanyanya dengan satu alis yang ia naikkan.
Renjun menghembuskan nafasnya dan kembali menggeser layar tabnya. Renjun lalu berkata, "Mencari hadiah untuk Taeyong hyung. Kau bagaimana?" Renjun melirik Jeno yang tengah menatapnya.
Jeno kemudian mengangguk mengerti dan tersenyum setelahnya. "Aku akan membelinya besok, bersama Jaemin," Kata Jeno lengkap dengan senyum lebarnya.
Renjun membalas dengan senyum tipis yang ia paksakan sebelum kembali fokus pada layar tabnya. Tidak menghiraukan Jeno yang terus saja menatapnya. Renjun risih? Tentu saja. Tapi bagaimana lagi? Renjun tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Meskipun hatinya sudah ia persiapkan untuk menerima rasa sakit yang terus-menerus Jeno berikan padanya, tetap saja Renjun tidak merasa baik-baik saja.
Renjun berdehem, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Renjun menengokan kepalanya ke samping dan tetap menemukan Jeno yang masih menatapnya.
"Kau itu kenapa Jeno? Kenapa menatapku terus?" Renjun berkata dengan nada kesal yang dibuat-buat. Karena sebenarnya Renjun itu tidak kesal, ia hanya merasa gugup. Renjun gugup begitu mata Jeno menatapnya intens yang membuat jantungnya berdetak dengan keras. Membuat Renjun hampir tak bisa mengontrolnya. Dan itulah yang membuat Renjun kesal.
"Aku hanya sedang mencoba," Jeno berkata setelah sekian menit berlalu. Renjun mengernyitkan dahinya dan kembali menatap Jeno, "Maksudmu?"
"Ya, mencoba untuk menatap seseorang hingga pipi orang yang ku tatap memerah," Renjun tidak habis pikir, apa yang sebenarnya Jeno pikirkan? Kenapa setidak ada kerjaannyakah Jeno?
"Kau gila?" Jeno tertawa mendengar pertanyaan Renjun. "Habisnya aku penasaran, katanya jika orang yang kau tatap itu pipinya memerah itu artinya orang itu menyukaimu," Jawab Jeno dengan nada polos.
Renjun menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir. "Dengar Lee Jeno, kau sungguh kurang kerjaan. Jika kau mau melakukan hal ini, lakukan pada fansmu. Aku yakin pipi mereka akan memerah bahkan sampai ada yang mimisan," Ujar Renjun dengan kesal hingga pipinya memerah.
Membuat Jeno yang melihat itu tertawa terbahak. Mengatur nafasnya pelan, Jeno menghentikan tawanya begitu mendapat tatapan Renjun yang menatapnya tajam namun tidak terlihat menakutkan sama sekali.
"Tanpa bertemu fans pun, aku sudah mendapatkan satu," Renjun menyipitkan matanya begitu mendengar Jeno berkata begitu. Tak mempedulikan tatapan Renjun, Jeno kembali berkata, "Lihat Huang Renjun, pipimu memerah. Artinya kau menyukaiku kan?"
'IYA' Renjun berteriak dalam hati. Namun tentu saja tidak bisa ia ungkapkan begitu saja sekarang. Apalagi pipinya bertambah merah hingga ke telinga, membuat Renjun harus menyembunyikan wajahnya. Di manapun itu.
Renjun menghembuskan nafasnya perlahan, ia kemudian menggigit pipi dalamnya guna menahan gejolak dalam hatinya.
"Kau, sangat mencintai Jaemin, ya?" Pertanyaan Renjun berhasil membuat tawa Jeno yang sempat terdengar, kembali terhenti. Sinar mata Jeno berubah, menjadi lebih redup. Renjun sendiri tak tahu, kenapa kalimat itu yang malah keluar dari mulutnya. Renjun merutuki dirinya sendiri sekarang.
"Begitulah," Renjun tersadar dari lamunannya begitu suara Jeno terdengar begitu pelan. Renjun dapat mendengar helaan nafas Jeno yang begitu keras hingga akhirnya Renjun memutuskan untuk memperhatikan Jeno.
"Aku dan Jaemin sudah bersama sejak kami kecil, jadi tak heran jika cinta ada di antara kami. Eum, maksudku, aku. Seperti kebanyakan orang, cinta datang karena terbiasa, begitulah perasaanku pada Jaemin," Sinar mata Jeno kembali. Dan kini penuh dengan cinta. Itu semua karena mereka membicarakan tentang cinta Jeno pada Jaemin. Renjun menyesal bertanya, dan juga ia iri sebenarnya.
"Dan lagi Renjun, kami berdua sudah dipasangkan semenjak kami masih di SM Rookies. Hanya saja, sejak kita debut, Jaemin menjadi lebih dekat dengan Mark hyung dan juga Haechan. Ditambah dengan sakitnya itu membuat kami terasa semakin jauh," Jeno menundukan kepalanya dan membuang nafasnya. "Tapi aku sedikit bersyukur karena Mark hyung dan Haechan bergabung di NCT 127, jadi aku bisa sedikit leluasa mendatangi Jaemin tanpa gangguan dari keduanya."
Renjun mengepalkan kedua tangannya. Matanya sudah memerah menahan tangis dan emosi dalam hatinya sudah sangat siap untuk meledak. Jeno itu egois, tidak peka, brengsek. Umpatan-umpatan yang Renjun ketahui telah terucap dalam hatinya untuk pemuda yang lebih muda darinya itu. Renjun sangat mengerti bagaimana perasaan Jeno, tapi tidak bisakah Jeno menghargainya sedikit, saja?
Renjun memundurkan kursinya. Berdiri sambil membawa tabnya, dan ia membalikkan tubuhnya, membelakangi Jeno.
"Sudah malam, lebih baik kau segera tidur. Aku akan tidur di kamar Mark hyung. Selamat malam, Jeno-ya," Renjun berujar menahan getar disuaranya disertai dengan langkah kakinya yang membawanya menuju kamar yang berada di sebelah kamarnya. Renjun ingin menangis sepuasnya, jadi ia memutuskan untuk tidur di kamar MarkChan. Toh kedua orang itu sedang tidur di dorm NCT 127, jadi tidak akan ada yang memarahinya.
Jeno menghembuskan nafasnya pelan. Ekor matanya memperhatikan bagaimana bahu Renjun yang bergetar. Menangis. Sudah dipastikan pemuda manis itu menangis. Jeno mendesah pelan, tangannya mengacak frustasi rambutnya.
"Maaf Renjun, aku hanya tidak ingin memaksakan diriku dan nantinya akan semakin melukaimu. Aku memilih untuk melepasmu dan juga Jaemin, karena aku yakin kalian akan mendapatkan yang lebih baik dariku. Aku harap kalian mengerti," Gumam Jeno pelan. Matanya menatap gelas kosong yang berada di depan matanya, "Dan, selamat malam, Renjun."
.
.
Mark berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Mark mendesah pelan, bingung. Ingin tidur tapi mata tak mau menutup. Jadilah, ia meraih handphonenya untuk menghubungi seseorang. Berhubung Winwin hyung belum pulang, dan Yuta hyung sedang bersama Taeyong hyung di kamar sang leader, jadi inilah kesempatannya. Begitu pikir Mark.
Mark mencari-cari nomor yang sangat ingin dihubunginya itu.
'Huang Renjun'
Mark tersenyum lebar sebelum menyambungkan panggilannya dan menempelkan handphonenya pada telinga kanannya. Mark menunggu dengan sabar, apa mungkin Renjun sudah tidur? Mark hampir memutuskan panggilannya sebelum ia mendengar suara dari seberang sana.
"Ha-halo," Mark mengernyit begitu pendengarannya mengenali suara itu. Suara Renjun, namun serak. Bisa dipastikan, orang yang sangat disayanginya itu tengah menangis sekarang.
"Renjun-ie, kau menangis?" Mark bukannya tidak mau membalas sapaan Renjun. Hanya saja dia lebih butuh alasan yang membuat Renjun menangis di sana.
"Mark hyung?" Sesegukan. Renjun memanggil namanya dengan sesegukan. Membuat hati Mark terasa diremas oleh sesuatu yang membuatnya susah bernafas.
"Ada apa Renjun?" Mark kemudian bangkit. Terduduk di ranjangnya, dan menunggu Renjun untuk kembali berkata, "Aku menyerah."
"Maksudmu?" Mark mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti akan apa yang dimaksud Renjun. Hening sekian lama, namun Mark tetap sabar menunggu Renjun kembali bersuara. Mungkin Renjun butuh menenangkan dirinya dulu sebelum kembali menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda China itu.
"Tentang Jeno. Aku menyerah dengannya hyung. Sekuat apapun aku berusaha, Jeno tidak akan dapat melihat usahaku. Jeno hanya akan melihat dan mencintai Jaemin. Dan aku tidak lagi bisa bertahan, hyung."
Mark tidak bisa menahan rasa senang yang membuncah dalam hatinya. Tapi ia juga sadar, Renjun pasti berat mengambil keputusannya ini. Mark tersenyum; meskipun Renjun tidak dapat melihatnya, dan kembali membalas perkataan Renjun.
"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka aku akan mendukungmu Renjun. Aku yakin ini pasti berat, tapi aku akan selalu bersamamu. Aku tak akan bilang jika ini adalah keputusan terbaikmu, tapi aku harap kau tak menyesal akan keputusanmu."
Kembali keheningan mengambil alih obrolan keduanya. Mark bisa mendengar suara helaan nafas panjang dari ujung sana.
"Aku yakin hyung, aku tidak akan menyesal."
Mark mendengar suara Renjun lebih baik dari sebelumnya. Dan itu membuat senyum Mark bertambah lebar.
"Kalau begitu baguslah. Sekarang kau lebih baik istirahat. Sudah hampir larut."
"Ya hyung, kau juga. Selamat malam~"
"Ya. Selamat malam."
Dan sambungan pun terputus. Senyum Mark masih bertahan hingga suara pintu terbuka menyadarkan Mark. Mark menoleh dan menemukan Winwin di depan sana.
"Kau kenapa Mark?" Winwin melangkah mendekat ke ranjang setelah menutup pintu kamar. Mark hanya tersenyum dan langsung merebahkan dirinya lagi.
"Aku rasa, aku akan mimpi indah malam ini," Gumam Mark sambil menutup matanya. Winwin hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Mark yang seperti itu.
.
.
TBC
.
.
.
A/N :
Awalnya Wi bingung mau update yg MarkRenNo atau NoMinChan dulu, tapi berhubung banyak yg nungguin JohnJae juga, jadilah Wi selesaiin yg MarkRenNo dulu. Karena memang, JohnJae itu Wi sengaja adain moment di partnya MarkRenNo. Dan untuk ff baru dengan cast yg lain, nanti dulu ya. Wi mau fokus selesaiin 3 ff yg on-going ini dulu. Baru setelah itu bikin ff baru.
.
.
JohnJae Side
.
.
Jaehyun melangkah lebih dulu untuk memasuki dorm mereka, tidak mempedulikan Johnny yang menyusul di belakangnya. Jaehyun lebih dulu memasuki kamar mereka diikuti Johnny yang lalu menutup pintu.
Biasanya, Johnny akan lebih memilih untuk ke kamar mandi terlebih dahulu; sekedar cuci muka, tapi untuk sekarang tidak. Ada hal yang harus ia bicarakan pada Jaehyun. Johnny menahan gerakan tangan Jaehyun yang sedang membuka lemari pakaiannya. Jaehyun mengerjapkan matanya pelan, ia lantas menarik tangannya dari genggaman tangan Johnny.
"Ada yang harus kita bicarakan," Suara khas Johnny terdengar. Namun Jaehyun mengabaikannya, berpura-pura tak mendengarnya dan memilih untuk mengambil piyama miliknya sebelum menutup lemarinya kembali.
"Ini sudah larut hyung. Pagi malah. Aku mau tidur, jika ingin bicara besok saja," Jaehyun membalas dengan nada lelah. Jaehyun lelah dengan tubuh dan perasaannya. Meskipun lebih lelah dengan perasaannya sendiri. Jaehyun tidak memungkiri mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakan masalah mereka, tapi jujur, Jaehyun belum siap.
"Tapi Jay," Belum sempat Johnny menahan Jaehyun, Jaehyun sudah lebih dulu keluar dari kamar mereka. Membuat Johnny menghela nafas lelah dan memilih untuk membaringkan dirinya di atas ranjang miliknya.
Mungkin Jaehyun benar, masih ada hari esok untuk bicara. Dan semoga dihari esok, hatinya sudah lebih mantap dan berani. Semoga saja.
.
.
Wi!
