NoMinChanDo with JohnJae Side

.

.

Haechan merengut kesal saat handphone miliknya tidak ada notifikasi apapun. Jangankan telfon, sms saja tak ada. Doyoung yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka mengernyitkan dahinya bingung saat mendapati teman sekamarnya itu tengah mendumal tak jelas.

"Kau kenapa Haechan-ie?" Doyoung bertanya seraya mendudukkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Haechan menoleh, menaruh handphonenya di atas nakas lalu mendesah pelan. "Aku menunggu pesan dari Jaemin, tapi anak itu tidak membalas pesanku satupun," adunya lengkap dengan bibir yang mengerucut.

Doyoung terkekeh, ditatapnya yang lebih muda dengan pandangan yang menyendu. "Kau tahu? Kalian masih kecil, tapi kenapa kisah cinta kalian tak kalah rumitnya dengan kisah cinta para hyung kalian?" Pertanyaan Doyoung berhasil mengalihkan perhatian Haechan pada handphonenya.

Bibir Haechan terbuka, hendak menjawab pertanyaan Doyoung namun tidak ada suara yang keluar. Ditutupnya kembali mulutnya, dengan mata yang mengedar mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu.

Doyoung tersenyum maklum. Sudah ia bilang, Haechan itu masih kecil. Jadi, wajar jika Haechan susah menjawab pertanyaannya.

"Aku rasa, tidak ada yang rumit hyung, hubungan kami semua baik-baik saja.." Haechan bersuara setelah sekian menit hanya keheningan yang melanda mereka berdua. Aneh. Mereka berdua adalah sosok yang cerewet, jadi akan aneh jika di antara mereka hanya ada kesunyian.

Doyoung menggeleng, menolak dengan tegas apa yang baru saja Haechan katakan. Memang benar, jika orang awam yang melihatnya pasti akan mengatakan jika di antara mereka semua baik-baik saja. Tapi sekali lagi tidak! Tidak ada yang baik-baik saja; kecuali beberapa di antara mereka. Terlebih Doyoung yang memang cukup dekat dengan adik-adiknya, mengerti bagaimana hubungan yang terjadi di antara mereka semua.

Haechan menunduk. Naif. Begitulah, Haechan menyebut dirinya sendiri. Berpura-pura tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Doyoung dan berpura-pura jika semua yang terjadi pada teman-teman segrupnya adalah hal yang biasa. Memang hal biasa, namun bisa menyebabkan sesuatu yang luar biasa. Misalnya, patah hati, gagal move on berkepanjangan, dan hal-hal lain yang saat ini tengah dialami oleh kakak-kakaknya juga adik-adiknya. Mungkin?

"Hyung bertanya sekali lagi padamu Haechan-ie, kau sebenarnya mencintai siapa. Mark atau Jaemin?" Doyoung bertanya lagi, kali ini matanya tidak menatap Haechan, melainkan fokus pada handphonenya yang tengah menampilkan aplikasi chatting.

Haechan menghembuskan nafasnya perlahan, mengangkat kepalanya dan melihat pada Doyoung yang tidak terlalu memperhatikan tingkah lakunya. Haechan lalu mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Berpikir sekali lagi jawaban yang akan dikeluarkannya. Pertanyaan yang sering ia dengar; baik itu dari kakak atau adiknya. Seharusnya bisa dijawab dengan mudah oleh Haechan, sama seperti sebelum-sebelumnya. Seharusnya.

"Aku mencintai Jaemin," jawab Haechan dengan suara pelan. Namun suara Haechan yang pelan itu berhasil masuk ke dalam telinga Doyoung. Sehingga Doyoung mengalihkan pandangannya dan menatap lagi pada Haechan.

"Kau yakin?"

Haechan tersenyum, ia lalu menganggukan kepalanya, "Tentu saja hyung."

Doyoung membalas senyuman Haechan dengan senyum samar. Setelah meletakkan kembali handphonenya, Doyoung bangkit dari duduknya dan mendekati ranjang Haechan. Memilih untuk duduk di samping Haechan dan merangkul bahu yang lebih muda.

"Aku ingat dulu atau bahkan hingga kini, kau sering cerita jika Jaemin itu mencintaimu. Namun kau tidak bisa membalasnya karena kau mencintai Mark. Di sisi lain, ada juga Jeno yang mencintai Jaemin hingga kau tak enak pada Jeno dan memilih untuk menarik perhatian Mark agar melihatmu," Doyoung menghembuskan nafasnya selagi Haechan menatap dirinya dari samping.

"Namun semua berubah sejak Renjun masuk ke dalam kehidupan kalian. Perhatian Mark mulai tertuju pada Renjun, dan kau pun mulai diabaikan, Haechan. Baik itu oleh Mark ataupun Jaemin. Jaemin lebih memilih untuk mendekat pada Jeno atau Mark, begitupun Mark yang lebih memilih untuk berdekatan dengan Renjun ataupun Jaemin. Meskipun kalian tetap kelihatan dekat, tapi bisa dibilang kedekatan kalian itu berbeda," sambung Doyoung diselingi desahan pelan.

Haechan mengangguk, benar apa yang dikatakan oleh Doyoung. "Dan sekarang, apa kau masih yakin jika Jaemin itu masih mencintaimu? Kau tidak takut jika cinta Jaemin sudah teralih pada Jeno maupun pada orang lain?"

Mata Haechan membulat begitu pula dengan bibirnya. Matanya mengeliling, mencoba mengabaikan Doyoung yang kini menatapnya dengan sinar mata jahil.

"Hyung, kenapa kau bicara begitu?" Haechan kesal. Tentu saja. Sudah tidak ada kabar dari Jaemin, sekarang ditambahi Doyoung dengan pertanyaan yang membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

"Aku kan hanya bertanya. Lagipula itu seandainya, Haechan-ie.." Balas Doyoung dengan tawa kecil diujung kalimatnya.

"Hyung tidak bilang seandainya tadi!" Haechan berseru yang mana membuat tawa Doyoung semakin keras.

"Haechan! Sudah malam, waktunya tidur. Doyoung juga, biarkan adikmu beristirahat!" Suara dari depan pintu kamar mereka terdengar. Suara member paling tua yang membuat Doyoung lantas menghentikan tawanya. Bukannya takut, ia hanya tak mau saja jika Taeil mengadu pada leader mereka dan membuatnya tidur di sofa malam ini.

"Dengar suara Taeil hyung kan? Kita sudahi dulu sesi curhatnya, besok kita sambung lagi.." bisik Doyoung yang diangguki begitu saja oleh Haechan.

Doyoung bangkit, kembali pada ranjangnya dan menidurkan tubuhnya di atas kasur. Begitu pula Haechan, ia menarik selimutnya hingga batas dada.

"Selamat tidur hyung~"

"Selamat tidur Haechan-ie~"

.

.

Jaemin memperhatikan bagaimana Jeno yang tengah bermain PS di rumahnya itu. Jeno bilang, ia akan menginap malam ini. Jeno sudah ijin pada manager mereka, Jeno bilang, ia ingin bertemu dengan orangtuanya. Benar sih, Jeno bertemu dengan orangtuanya, namun begitu sore menjelang, Jeno memilih untuk mampir ke rumah Jaemin dan memutuskan menginap di sana.

Jaemin tidak keberatan. Bagaimanapun juga, Jeno adalah sahabatnya. Temannya sejak kecil yang mana sudah sangat akrab dengan keluarganya juga. Tentu, orangtuanya tidak akan menolak jika sahabat anaknya itu ingin menginap di rumah mereka.

"Kau kabur Jen.."

Perkataan itu yang sudah sejak tadi Jeno dengar. Namun sekali lagi Jeno mengabaikannya. Berpura-pura tidak mendengar dan memilih fokus pada game di depannya. Mengabaikan Jaemin yang menatapnya kesal lengkap dengan pipi yang menggembung.

"Jeno, dengarkan aku! Kau ke sini tidak hanya untuk numpang main game saja kan?" Jaemin berkata dengan nada kesal yang begitu jelas. Jeno meliriknya, membuang nafas sebentar sebelum mematikan game dan beralih untuk fokus pada pemuda di sampingnya itu.

Jaemin mengerjapkan matanya, menggigit pipi dalamnya karena ditatap sebegitu intensnya oleh Jeno. Jeno meraih tangan Jaemin dan menggenggamnya erat dan matanya menatap lurus pada mata Jaemin. Pipi Jaemin bersemu merah, merasa malu karena ditatap seperti itu oleh Jeno. Jaemin pun menundukkan kepalanya, guna menghindari tatapan intens pemuda Lee di hadapannya itu.

"Aku mencintaimu, Na Jaemin." Jeno meraih dagu Jaemin agar wajah mereka sejajar. Menatap kembali mata Jaemin dengan pandangan lurus yang memancarkan ketulusan. Jaemin meneguk ludahnya gugup, tubuhnya membeku dan lidahnya kelu, tidak tahu harus mengatakan ataupun melakukan apa. Tidak pernah Jeno memperlakukannya seperti ini.

Jaemin mengatur nafasnya, mencoba membalas tatapan Jeno dengan menyunggingkan senyum kecilnya. "Terima kasih, tapi, kau tahu aku mencintai siapa kan?" Jaemin menatap Jeno dengan mata yang menyendu.

Jeno mengangguk, tangannya menggenggam erat tangan Jaemin yang berada dalam genggamannya. Jeno lantas menampilkan senyum lebarnya hingga matanya menyipit, senyuman yang selama ini disukai Jaemin; juga orang banyak, dan selalu bisa membuat Jaemin tenang.

"Aku tahu Jaemin. Aku hanya ingin mengatakannya saja. Aku sudah terlalu lama memendamnya, sekarang aku sedikit lega.." Ucap Jeno masih dengan senyumannya. Jaemin tertegun sesaat sebelum menganggukan kepalanya. "Dan aku berharap, kau bisa cepat jadian dengan Haechan ya. Aku bosan melihat Haechan uring-uringan terus," sambung Jeno dengan kekehan kecil di akhir kalimat.

Jaemin tertawa, tangannya tak sengaja ia lepas dari genggaman Jeno untuk memukul bahu Jeno. "Semoga saja. Lagipula, Haechan kan sedang sibuk, pasti tidak akan ada waktu untuk menemuiku.." Kata Jaemin setelah tawanya mereda.

"Menembak orang itu, tidak perlu untuk bertemu langsung kan?" Jeno bertanya dengan mata meredup yang menatap kedua tangannya yang kini sudah kosong. Hatinya juga sebentar lagi akan kosong. Pikir Jeno seraya menghela nafasnya panjang.

Jaemin berdecak kesal, matanya menatap tak suka pada Jeno. "Itu tidak benar Jeno. Lebih romantis jika kita menyatakan cinta secara langsung, bukannya lewat pesan singkat atau telfon!" Jaemin berujar dengan sedikit menggebu. Jeno yang melihat hal itu memutar matanya malas.

"Sayangnya, Haechan bukan ti-"

"Kau jangan sok tahu Lee Jeno! Haechan itu tipe romantis kok, apalagi denganku!" Jaemin memotong perkataan Jeno yang belum selesai pemuda Lee itu ucapkan. Ditambah dengan mata yang berbinar ketika mengatakan hal itu, entah mengapa membuat hati Jeno merasa sakit.

"Sudahlah, aku mau tidur saja.." Jeno bangkit dari duduknya, berjalan menuju ranjang Jaemin dan membaringkan tubuhnya di atas sana.

Jaemin mengerjapkan matanya beberapa kali ketika Jeno berjalan melewatinya. Jaemin kemudian mengatupkan bibirnya, mengunci mulutnya untuk tidak mengatakan hal apapun. Jeno sepertinya sudah mengantuk. Jaemin memang lebih memilih untuk berpikir positif dibandingkan berpikir yang tidak-tidak akan sahabatnya itu.

Jaemin lantas membaringkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan Jeno sebelum membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Jeno. Tangannya terulur untuk mematikan lampu kamarnya sebelum telinganya menangkap suara Jeno.

"Selamat malam, Jaeminie."

.

.

Johnny menunggu Jaehyun di depan mobil yang biasanya manager mereka gunakan untuk mengantar dirinya dan Jaehyun ke gedung studio biasanya mereka bersiaran radio. Johnny melihat ke dalam gedung sekali lagi sebelum mendesah pelan. Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu, namun Jaehyun tidak kunjung keluar juga. Tadi Jaehyun bilang, dia ada urusan dengan manager mereka, jadi Johnny disuruh menunggu di depan mobil.

Tak lama, mata Johnny menangkap sosok Jaehyun yang keluar dari gedung. Sendirian. Dimana manager hyung? Begitulah kira-kira isi kepala Johnny begitu matanya tidak menemukan sosok manager hyung di samping maupun di belakang Jaehyun.

"Ini," Johnny tersentak kaget begitu Jaehyun sudah ada di depannya dengan wajah datar dan tangannya yang tengah mengulurkan sebuah kunci. Kunci mobil.

Johnny menerima kunci itu. Segera memasuki mobil yang disusul juga oleh Jaehyun. Johnny kedinginan. Meskipun ini sudah mulai memasuki musim panas, tetap saja udara musim semi masih terasa. Begitu masuk mobil, Johnny melirik Jaehyun yang masih dengan ekspresi yang sama. Datar.

"Kemana manager hyung?" Johnny bertanya seraya memasukkan kunci mobil pada tempatnya. Mulai menyalakan mobil berwarna silver itu dan menjalankannya melewati jalanan kota yang masih ramai walaupun sudah sangat larut.

Jaehyun yang tadinya sibuk dengan handphonenya, melirik sekilas Johnny sebelum menjawab pertanyaan yang lebih tua. "Manager hyung bilang, dia memberi kita waktu bicara. Dia mau masalah kita selesai saat ini. Jadi, dia minta kau untuk membawa mobil ini sementara dia akan menumpang pada yang lain," jawab Jaehyun dengan mata yang mengarah pada handphonenya.

Johnny terdiam begitu mendengar jawaban Jaehyun. Ia melihat jalanan di hadapannya sebelum menepikan mobilnya di tepi jalan. Jaehyun mengernyitkan dahinya bingung begitu merasa mobil yang ia naiki berhenti. Mengalihkan pandangannya pada Johnny, mata Jaehyun langsung bertemu tatap dengan mata Johnny yang memang tengah menatapnya.

Jaehyun membasahi bibirnya yang terasa kering. Mata Johnny yang menatapnya terasa amat berbeda. Berbeda dengan tatapan yang selama ini pemuda Chichago itu berikan padanya.

"Kita harus bicara 'kan? Ku rasa, di sini tempat yang tepat.." Johnny berkata setelah sekian menit hanya keheningan yang melanda keduanya. Jaehyun kemudian mengangguk mengiyakan. Memang benar, jika mereka bicara di dorm, pasti akan menimbulkan keributan yang membuat keduanya -mungkin- akan diusir dari dorm mereka.

"Kau benar, hyung.." Jaehyun kemudian menghembuskan nafasnya. Mengatur debar jantungnya yang terasa begitu cepat dengan darah yang berdesir.

"Tapi, aku bingung. Harus memulai ini dari mana," Johnny menyenderkan tubuhnya pada bantalan jok di belakangnya. Membuang nafasnya diikuti dengan usapan di wajahnya yang ia lakukan dengan kasar.

Jaehyun masih menatap Johnny, meneguk ludahnya gugup dan bertanya, "Aku hanya ingin bertanya ini hyung. Antara aku dan Taeil hyung, siapa yang akan kau pilih?"

Johnny terlihat berpikir. Matanya menatap jalanan sepi di depannya sebelum kembali beralih untuk menatap Jaehyun. "Taeil hyung," Nafas Jaehyun tercekat. Harusnya ia sudah tahu akan hal ini, tapi kenapa hatinya masih terasa sakit?

"Tapi itu dulu jika kau bertanya seperti itu," sambung Johnny dengan senyum yang merekah di bibirnya. Mata Jaehyun sedikit terbelalak begitu mendengar perkataan Johnny itu. "H-hyung?" Jaehyun menatap tak percaya pada Johnny.

"Aku tahu, selama ini aku salah. Aku tak pernah mempedulikan perlakuanmu, selalu bersikap tak peduli padamu. Dan selalu menyakiti hatimu," Johnny meraih sebelah tangan Jaehyun dan menggenggamnya erat. Jaehyun mengerjapkan matanya, kembali mengontrol jantungnya yang berdetak tidak karuan.

"Tapi sekarang aku sadar, jika aku juga mencintaimu, Jaehyun. Maaf karena ketidakpekaanku selama ini, maaf karena kebodohanku sendiri yang selama ini tidak sadar akan perasaanku sendiri terhadapmu," Johnny menatap mata Jaehyun dengan pandangan sayunya yang sarat akan cinta dan ketulusan. Jaehyun melihat itu.

"I love you, Jaehyun Jung," Johnny mendekatkan wajahnya pada wajah Jaehyun. Jaehyun mengerjap pelan, lalu menutup matanya seraya berkata, "I love you too, Johnny hyung."

Lalu kedua belah bibir itu menempel. Saling menyalurkan rasa cinta lewat ciuman itu. Ciuman manis yang tanpa sadari dibumbui air mata oleh Jaehyun. Jaehyun tersenyum dalam ciuman pertama mereka. Akhirnya, setelah sekian lama, ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Cinta Johnny.

Jaehyun melepas ciuman mereka setelah dirasanya pasokan oksigen dalam paru-parunya terasa semakin menipis. Jaehyun menatap mata Johnny dengan pipi yang memerah. Johnny yang melihat itu tersenyum, lalu ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap permukaan bibir Jaehyun yang masih basah. Wajah Jaehyun semakin memerah bahkan hingga ke telinga, karena perlakuan Johnny itu.

"Jadi, kita sepasang kekasih 'kan, sekarang?" Kedua mata mereka saling bertatapan lagi. Jaehyun menggigit bibir bawahnya sebelum mengangguk. Namun dalam pikirannya tiba-tiba terlintas bayangan Taeil. Membuat Jaehyun kembali menatap ragu pada Johnny.

"Bagaimana dengan Taeil hyung?" Tanya Jaehyun yang ditanggapi kekehan kecil oleh Johnny. Tangan Johnny lalu mengacak gemas rambut Jaehyun. "Justru aku mengatakan hal ini setelah mendapat ceramah dari Taeil hyung. Taeil hyung yang membantu menyadarkan perasaanku terhadapmu Jay. Kau tahu? Aku benar-benar tak enak padanya sebenarnya, tapi dia berkata kalau dia akan baik-baik saja." Jelas Johnny yang membuat Jaehyun menundukan kepalanya.

"Aku jadi merasa tak enak dengan Taeil hyung. Aku pasti membuatnya sakit hati, hyung, aku harus bagaimana?" Jaehyun kembali mendongak dan menatap Johnny dengan sinar mata khawatir.

Johnny kembali tersenyum, tangannya kembali menggenggam tangan Jaehyun guna memberikan semangat. "Kau tenang saja, lagipula, ada sosok yang akan selalu ada di samping Taeil hyung dan selalu mencintainya," ujar Johnny dilengkapi seringai kecil.

Jaehyun mengangkat sebelah alisnya. Menatap tak mengerti pada sang 'kekasih', "Siapa?"

Johnny melebarkan seringainya, lalu mencuri sebuah kecupan di pipi Jaehyun sebelum berbisik, "Tentu saja, Winwin-ie."

.

.

"Sudahlah hyung, kau tahu 'kan, akhirnya memang akan seperti ini?" Pemuda tinggi itu memeluk yang pemuda yang lebih mungil dengan erat. Sementara pemuda mungil di pelukannya, hanya bisa mengangguk dan membalas pelukan itu dengan erat.

"Aku mengerti, dan aku sudah lebih dari siap melepasnya, Winwin-ie." Namun matanya tak lepas untuk menatap mobil yang berada di seberang mereka, dengan mata yang berkaca-kaca.

.

.

TBC

.

.

A/N :

Terima kasih untuk reviewnya!

Maaf Wi update lama! Harusnya ini diupdate sehari setelah chap yg kemarin. Tapi, berhubung tiba-tiba Wi disuruh pulang kampung, jadilah, Wi mendekam di sana tanpa akses internet yg mencukupi. Belum lagi laptop yg harus ditinggal karena ga boleh dibawa.

Seharusnya ini bukan partnya JohnJae, tapi berhubung banyak yg minta JohnJae, jadi Wi ubah lagi pairnya biar bisa Wi taro sini. Dan emang sengaja dipercepat alurnya. Dan chap depan, jangan harap ada JohnJae /ketawa setan. Tapi nanti akan ada chap spesial (mungkin) buat mereka.

Iya, ini jadinya JohnJae, soalnya kalo dibuat JaeWin, terlalu maksa. Sifat Winwin di sini ama Kak Tia udah dibuat seme, jadi susah kalo Wi mau ubah lagi. Buat JohnIl Shipper juga, Wi minta maaf. (padahal akhir-akhir ini lagi greget banget sama mereka. Apalagi foto mereka berdua pas lagi payungan berdua duh! Ambyar jiwa JohnSol Wi! *ups)

Mau diupdate cepat? Reviewnya ya~!

Wi!