SOCIAL ENGENEERING

Kedua kakiku membawaku ke sebuah halaman rumah dengan lampu diskotik berpijar pijar dari jendelanya. Musik pesta bertalu talu di dalam telingaku yang serasa mau pecah. Sensasi mual kembali menyerangku ketika aku menyadari tempat apa ini, seperti tempat lainnya, sebuah area dimana manusia berkumpul menjadi satu, bersenang senang dengan canda tawa yang membuatku ingin bersembunyi, jauh jauh dari lautan manusia yang seperti menghimpitku ke titik sudut—sudut dimana aku tidak bisa bergerak dan merasa terperangkap.

Namun, aku justru memasuki pintu yang merupakan awal dari pilihanku.

Aku berjalan dengan kepala tertunduk, berusaha menghindari lautan massa yang menggelayut, menari sesuai dengan irama musik yang menggoncangkan dinding. Aku menyingkir ketika mereka melayangkan tangan di udara, wanita dan pria yang bercumbu mesra tanpa memedulikan orang yang melihat. Mereka justru bersorak sorai menyaksikan adegan panas tersebut, minuman keras bergelimpangan di lantai.

Aku terbatuk ketika asap ganja mulai menyelimuti udara di sekelilingku, aku berusaha menyingkir dari keraimaian hanya untuk menemukan Marie dan Stephen yang tengah berangkulan di dekat jendela. Aku tidak terkejut, aku tahu Marie adalah tipe wanita pesta yang sangat suka bersenang senang, bahkan mungkin memasuki pergaulan yang tidak akan pernah kusentuh.

Tak kusangka, pandangan Marie terkunci dengan milikku, membuat sekujur tubuhku bergetar dan jantung dalam rongga dadaku bertalu talu tak terkendali. Serangan panik membuatku terbata bata ketika perempuan itu melambaikan tangannya kepadaku, "Hey, it's the pizza guy!", ia tergelak keras, bersandar pada Stephen dengan botol alkohol di tangan kiri.

Aku tersenyum masam, dapat kujamin gadis itu sudah mabuk berat dan mungkin akan pingsan kalau dia terus saja memaksa minuman keras itu untuk mengalir ke dalam tenggorokannya. Aku hendak melanjutkan aksiku untuk menyingkir dari keraimaian ketika suara berat seseorang yang kukenali memecah musik diskotik yang berdentang.

"Hei, Jungkook!", Taehyung berteriak di antara gelak tawa mahasiswa, membuatku berharap pria itu tidak memanggilku dengan begitu keras dan memalukan. Walaupun aku berani menjamin, tidak ada yang cukup peduli untuk mendengarkan seruannya.

"Jadi? Kau menyukai istanaku yang sederhana?".

Tentu saja, aku seharusnya tahu Taehyung adalah tipe pria yang memiliki segalanya, dapat bertindak seenaknya dan mungkin memperlakukan orang lain semaunya sendiri. Seharusnya, aku membenci orang seperti Taehyung, seharusnya aku menyingkir dan menolak ajakannya untuk memasuki dunianya yang lebih gelap.

Namun, aku justru mengangguk. "Ya, ini bagus".

"Ayo, kita menjauh dari para parasit ini", Taehyung mengangguk angkuh kepada orang orang yang sibuk berpesta dengan pasangan mereka, menarik tanganku menaiki tangga menuju ke lantai dua, bebas dari kebisingan musik dan suara orang yang saling menimpali. Aku bersumpah kalau aku berada di bawah lebih lama lagi, aku tidak akan bertahan hidup.

Taehyung membawaku ke dalam kamarnya yang sangat luas bagi orang sederhana sepertiku. Korden berwarna krem menyingkap jendela yang memperlihatkan pemandangan Kota Berlin. Sebuah meja kerja terletak di depan jendela, sebuah laptop sudah terpasang apik. Seperti mengundangku untuk maju dan mengutak atiknya.

"Akhirnya aku bisa memperkenalkanmu dengan yang lain", Taehyung menyeringai lebar. Untuk sepersekian detik aku mengernyit tanpa mengerti apa yang pria itu maksudkan. Hingga, aku menangkap kehadiran dua pria yang berjalan mendekatiku dari sudut ruangan yang tidak kuperhatikan sebelumnya.

Jantungku bertalu talu ketika kedua tatapan pria itu mengulitiku, mereka semua memiliki mata yang tajam dan mengintimidasi, membuatku kesulitan menelan ludah.

"Perkenalkan, mereka kolegaku, Park Jimin dan Jung Hoseok".

Park Jimin adalah seorang pria yang menurutku kewarasannya sudah hilang beserta dengan urat malunya yang putus sejak lahir. Ia adalah pria yang selalu menantang maut, melakukan aksi aksi gila untuk kepuasannya sendiri, untuk bersenang senang. Dibalik semua kegilaan pria bermarga Park itu, dia ahli dalam bidang software. Ia yang selalu membobol sistem kemananan dan melakukan peretasan di berbagai misi yang sudah mereka jalani dua tahun silam.

Sedangkan Hoseok, dia ahli dalam bidang hardware. Kau hanya perlu menyerahkan seperangkat hardware dan motherboard kepadanya, pria berwajah lonjong itu akan merakit apa saja yang kau butuhkan, membuat kemustahilan menjadi sebuah kemungkinan. Taehyung berkata dia adalah otak dibalik mereka semua. Misterius dan tidak terprediksi.

"Ada apa ini, Taehyung?", tanya Hoseok yang menyeringai ketika melihat kehadiranku, pandangan pria itu menyelidik, senyum ramah terpatri pada bibirnya. Tapi, aku bahkan dapat merasakan keinginan luar biasa darinya untuk menyingkirkanku keluar.

"Kurasa bocah ini akan berguna", Taehyung menyeretku ke belakang laptop, dihimpit dengan Jimin dan Hoseok yang masih mengamatiku seperti menuntut sebuah jawaban. "Apa yang harus kulakukan?", aku bertanya dengan suara bergetar. Aku membenci lebih dari apa pun untuk berkomunikasi dengan orang lain dan Taehyung justru menyeretku ke sebuah perkumpulan kecil.

"Buktikan kepada kami", Taehyung menyeringai, diikuti Jimin yang mendorong kepalaku dengan kasar disertai tawa histerisnya yang membuatku semakin gelisah dan tidak nyaman. Hoseok tentu saja tidak banyak bicara, ia lebih banyak memperhatikan, seperti menanti diriku membuat suatu kesalahan besar dan mengecewakan mereka semua.

Dan itu akan menjadi kemenangan bagi Hoseok.

"Baiklah", aku bangkit, menyibak korden untuk melihat gemerlapan lampu disepenjuru Kota Berlin yang tampak seperti kunang kunang kecil dibalik jendela. Taehyung memberikanku kesempatan untuk merubah hidupku selamanya. Aku akan menjadi seseorang yang tidak terlihat namun berguna bagi orang lain, terlibat dalam suatu aksi.

Aku segera mengoperasikan laptop dengan jemariku yang bekerja sesuai dengan insting dan pengalaman, membuka 0Day Exploit yang banyak membantuku dalam terobosan meretas belakangan ini. Aliran data dan Bahasa Mesin mengalir di layar laptop, aku pun memasukkan kode kode yang sudah tercetak jelas di dalam otakku.

"Jadi?".

Aku mengerti langkah ini adalah langkah yang salah dan berbahaya. Aku baru saja menceburkan diriku ke dalam suatu dunia yang belum pernah kulihat, aku hanya penghuni Darknet dibelakang meja dan layar. Namun, semua peretas handal harus bisa melakukan aksi yang nyata, dan mereka akan membantuku untuk masuk ke titik itu. Sebuah titik perubahan, titik kesuksesan.

Aku ingin mereka melihat dunia tidak seperti apa yang ingin mereka lihat. Aku ingin mereka mengerti keputusasaan dan harapan hidup yang kian menipis untuk orang orang sepertiku. Diluar sana, dikucilkan dari masyarakat. Pertolongan yang tidak pernah datang. Sebuah kota tanpa harapan.

Aku mengklik 'enter' dan seketika semua lampu yang menyala terang dibelakangku lenyap menjadi kegelapan tak berujung, cahaya demi cahaya yang mengalir kubumihanguskan dengan kedua tanganku. Apakah mereka melihatku sekarang? Apakah mereka merasakan kesepian yang selalu kupendam selama ini? Apakah mereka merasa tersesat di dalam kegelapan tanpa penerangan?

Inilah duniaku.

Dunia tanpa harapan.

Dunia tanpa seberkas cahaya.[]

Sirene polisi berkumandang dikejauhan, menyongsong rumah yang ricuh oleh jeritan mahasiswa. Park Jimin tertawa keras, diikuti dengan seringai Kim Taehyung yang merangkulku tanpa memedulikan dua polisi yang turun dengan sigap, mencari siapa saja yang telah menciptakan kekacauan di Kota Berlin.

Aku.

"Mereka akan menangkap kita!", aku berujar panik, belum sepenuhnya hilang kewarasan seperti pria berambut pirang yang terbahak bahak histeris, meneriakkan sumpah serapah kearah jendela yang dihiasi lampu mobil polisi. Kim Taehyung mengambil sebuah hiasan kecil dari meja kerja, mencurinya sebagai cinderamata, sama sepertiku, ia melakukan sesuatu yang sama persis denganku. Namun, aku mengernyit ketika pria berkulit tan itu menyongsong kearah pintu kamar dengan seringai licik pada bibirnya.

"T-Tunggu! Kalian mau kemana?", aku bertanya heran, memikirkan tempat untuk bersembunyi atau bagaimana caraku melarikan diri ketika Taehyung tergelak mengejek.

"Apa? Kau mengira kami tinggal disini?", Hoseok terpingak pingkal.

Seribu pertanyaan tersimpan rapat dalam mulutku ketika pria jangkung itu menyeretku keluar, menuruni tangga menuju lantai satu dengan mahasiswa yang berhamburan ke segala arah. Polisi sudah mendobrak pintu masuk, mengamati mereka dengan gesit, mencari biang onar di antara kerumunan massa yang berusaha melarikan diri.

"FUCK YOU!", Park Jimin tertawa histeris, mengangkat stool besi sebelum memecah jendela rumah dan melompat keluar, kaca berserakan diatas jeritan para mahasiswa ketika para polisi menodongkan senjatanya, mencari diantara lautan kekacauan ini.

Kim Taehyung melihat pria berkacamata yang sedang menggandeng gadis berambut ikal. Ia pun menyeringai sembari berteriak lantang, "It's his party!", Taehyung menunjuk Stephen yang langsung dirangsek oleh para polisi. Pria itu memekik tak percaya, memberontak dan membela diri ketika Taehyung tertawa tawa keras.

Aku hanya bisa memperhatikan dengan kepala yang terlalu pusing untuk berpikir sebelum Taehyung menarikku berlari keluar dengan Hoseok yang mengikuti dibelakang. Tanganku secara refleks menarik serta Marie ketika aku berpapasan dengan gadis yang linglung itu. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Apalagi, aku adalah biang kerok dari masalah ini.

Kami berlari dengan para mahasiswa yang sudah menyebar seperti kawanan burung dikejar predator, Taehyung dan Jimin tergelak puas, saling merangkul satu sama lain ketika Hoseok terkekeh remeh, "Kalian bocah ingin berpesta? Tunggu sampai kita aman dari anjing kepolisian itu", dan pria berwajah lonjong itu kembali memaksa kami untuk terus bergerak.

Kami berhenti di sebuah jalan yang sepi di pesisran kota Berlin, lampu sudah kembali menyala dengan warna oranye keemasan di atas kepalaku.

"Kurasa, ini dimana kita berpisah", Taehyung melayangkan senyum penuh arti, membuat sesuatu di dalam tubuhku berdesir, jantungku mengencang tanpa alasan yang masuk akal. "Sampai bertemu denganmu lagi, Script Kiddies", ia menyeringai nakal sebelum berpencar dengan Jimin dan Hoseok.

Aku terengah engah, belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi di sekelilingku. Dan aku baru saja menyadari kehadiran Marie yang mematung sembari memperhatikanku lekat lekat. Pandangan meneliti itu membuatku menjadi gugup, senyum sumringah terhapus dari wajahku yang menegang.

"Kau…Jeon Jungkook, benar?".

Aku menengadah terkejut.

"Kau duduk dibelakangku saat kelas lima. Aku mengingatmu sekarang", Marie tersenyum manis dan gadis itu berhasil membuatku membalasnya, tanpa segelintir pun paksaan. "Maaf kalau aku bersikap tidak sopan kepadamu tadi".

Aku hanya mengangguk.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi", ia tertawa kecil, "Tpi, kuharap kita akan bertemu lagi, Jungkook", Marie mengucapkan sebuah kalimat yang terdengar seperti kutukan. Dan ternyata, hal itu benar. Pertemuan awal kami dikarenakan oleh sebuah pesan antar sederhana, menjadi lebih rumit dan berakhir dengan konflik yang tidak pernah kuharapkan.

"Selamat malam", Marie tersenyum singkat, melambai kepadaku sebelum berjalan pulang ke rumahnya. Aku pun berbalik, berlari kearah yang bertolak belakang dengan gadis yang baru saja memasuki hidupku. Namun, disinilah aku berada, dengan kedua kakiku yang menyongsong kehidupan baru.

Kehidupan yang dilengkapi oleh kehadiran bom waktu yang dapat meledakkan otakku kapan saja—Kim Taehyung.[]

"Itulah pertama kali aku bertemu dengan Taehyung", Jungkook berucap dengan suara yang bergetar, kalimat yang terpeleset dengan lidahnya sendiri. Pria itu sangat gugup dan gelisah, seperti diperlihatkan kembali dengan trauma terbesar dalam hidupnya. Seokjin menarik napas panjang, "Apa kau dekat dengannya?".

Jungkook tersenyum miris, "Seharusnya tidak", dan ia kembali bermain dengan jari jemarinya. Pandangan pria itu kosong, seperti nyawanya sudah terenggut dan hanya menyisakan raga yang tidak memiliki jiwa. "Tapi itu tidak berarti sekarang. Dia sudah meninggal, mereka semua sudah meninggal".

Seokjin dapat merasakan kesedihan yang terpancar dalam bola mata hitam itu, kesepian Jungkook yang membuat bulu kuduknya merinding. Ia tahu ia bersikap jahat, memaksa seseorang yang tengah berduka untuk membeberkan sebuah informasi.

Seokjin merasa seperti bajingan tak berperasaan.

"Ceritakan kepadaku lebih banyak tentang Taehyung".

Jungkook kembali tersenyum.[]

Kim Taehyung adalah kebalikan dariku. Ia sangat percaya diri, sangat arogan, dan dapat meyakinkan orang lain hanya dengan kata katanya. Aku bersyukur dengan fakta kalau pria itu selalu mengawasiku diantara yang lain, mengajarkanku banyak hal, memberikan pengalaman, membantuku untuk keluar dari cangkang yang memerangkapku selama ini.

Taehyung mengajakku keluar pada musim dingin di Bulan Desember, ia mengenakan jaket kulit yang selalu terlihat pantas untuknya, wajahnya selalu terlihat tampan dan pemberani. Pria narsistik yang sudah merubah segala aspek dalam kehidupanku, merubah sudut pandangku, mengajariku untuk melihat melewati hazelnya.

"Meretas itu sama seperti sihir", Taehyung menarikku berjalan ke atas eskalator disebuah mall yang masih ramai akan pengunjung, bahkan cara jalan Taehyung memperlihatkan betapa berkuasanya dia, bahwa dia yang memegang kendali, dan aku hanya bayangan kecil yang selalu mengikutinya kemana pun ia melangkah.

"Ketika kau meretas sesuatu, ada tiga hal yang perlu kau ingat", Taehyung menyeringai kepadaku, mengangkat tiga jemarinya yang lentik seperti seorang pianis. "Pertama, kau harus tahu bahwa 'No system is safe. Kedua, 'Aim for the impossible', dan ketiga⸺".

"Have fun in cyberspace", aku melanjutkan, membuat Taehyung terengah dan senyum puas terukir pada bibirku. "MRX", kami berdua berucap serempak. Pada akhirnya, aku menyadari walau aku dan Taehyung adalah dua kubu panah yang berbeda kami memiliki panutan yang sama.

MRX, Tuhan terbesar Darknet.

Taehyung seketika berhenti dan melesakkan tangannya yang berbalut jaket kulit ke dalam tempat sampah, mengundang tatapan keheranan dari orang orang yang melintas dan diriku sendiri yang tercengang lebar. Taehyung tidak tampak keberatan dengan seluruh atensi yang tertuju kepadanya, justru tersenyum semakin puas karena menjadi pusat perhatian.

"Apa yang kau lakukan, Taehyung?", pada akhirnya aku menyuara, gatal untuk menahan pertanyaan yang sedaritadi tertahan di ujung lidahku. Taehyung mengeluarkan sekotak donat yang sudah tidak ada isinya, membukanya dan tersenyum bungah ketika menemukan slip nota dengan data pesanan yang masih ditempel solatip pada ujung kardus.

"Bagaimana kalau aku mengajarimu tentang social engeneering?". Ia menyeringai meremehkan ketika aku menampilkan eskpresi bingung. "Tidak sepertimu yang selalu saja bermain dengan sistem dan kode. Bagaimana kalau aku berkata aku tahu caranya meretas manusia?".

Kebingungan kembali menyuara dalam kepalaku, tapi aku hanya diam sembari mengikuti Taehyung yang berjalan menuju toko donat yang diramaikan oleh para pengunjung, kebanyakan tengah bersantai sembari menikmati camilan ringan. "Manusia adalah orang yang mudah percaya dan cenderung tidak peduli, menghindari konflik sebisa mungkin", Taehyung melirik singkat pemulung yang menengadahkan kedua tangan di depan pintu toko.

Aku berdiam canggung ketika Taehyung menerobos barisan antrian, mengundang gerutuan protes dari para gadis remaja yang langsung terdiam ketika Taehyung tersenyum seduktif kepada mereka, entah mengapa, dasar perutku terkocok kocok dan aku kembali merasakan mual.

Aku berkonsentrasi untuk tidak muntah di depan umum sehingga tidak menyadari Taehyung yang menyeringai nakal kepadaku sembari berbicara tanpa suara, "Watch and learn".

Taehyung berdeham keras, menarik perhatian karyawan yang sedang mengkalkulasi dibalik kasir, "Ada yang bisa saya bantu, Sir?".

"Ya, aku tidak mendapatkan dua donat gula pesananku".

Karyawan itu menatap bingung, menerima struk yang diserahkan Taehyung kepadanya dan meneliti pesanan yang tercetak di kertas nota. "Apa kau yakin kau tidak menerima pesananmu?".

"Menurutmu, untuk apa aku berdiri disini?", Taehyung bertanya dengan wajahnya yang arogan. Wajah yang begitu kubenci dan anehnya⸺justru membuatku terpukau.

"Siapa yang melayanimu, Sir?", karyawan itu bertanya menyelidik, aku menelan ludahku ketika Taehyung terengah dengan ekspresi yang kehabisan sabar. "That blonde", ujarnya sembari menunjuk gadis berambut pirang yang sedang sibuk menyajikan minuman panas.

Karyawan itu masih kukuh tidak merespon Taehyung yang kemudian membanting kasar kardus rotinya di konter kasir. Ia menatap tajam pria yang menunduk dibalik mesin hitungnya, tampak ingin segera menyelesaikan konflik dengan pelanggan yang tidak diharapkan.

"Apa aku perlu berbicara dengan manajermu?".

Sampai akhirnya, karyawan itu mengambilkan dua donat gula dan menyerahkannya kepada Taehyung. Kim Taehyung tersenyum puas, menarik tanganku keluar toko. Aku masih terkagum kagum dengan cara Taehyung memanipulasi keadaan, pembawaan dirinya yang begitu percaya diri seakan akan meruntuhkan segala pertahan 'musuhnya'.

"Tadi itu keren", aku bukan tipe pria yang dengan mudah melontarkan sebuah pujian. Tapi harus kuakui, Kim Taehyung membuatku sedikit terkesan. Terlebih lagi, aku tergolong ke dalam kategori manusia yang tidak pandai bersosialisasi.

"Semoga kau dapat belajar dari ini, Jungkook", Taehyung berpaling kepada pemulung yang mengusap perutnya kelaparan, sebelum menyerahkan dua donat itu dengan sebuah senyuman tulus, tidak ada arogansi sedikitpun dalam wajahnya.

Dapat kukatakan, disitulah disaat aku merasakan sesuatu yang berbeda. Saat yang sama ketika aku bertemu Marie dengan kotak pizza bertumpuk tumpuk dikedua tanganku, perasaan yang sama ketika aku bertemu kembali dengan gadis yang kucintai selama ini.

Aku mengakui bahwa aku terpukau dengan Kim Taehyung, aku menjilat ludahku sendiri dan mengakui bahwa aku kalah. Dia sudah menghancurkan seluruh pertahananku yang seharusnya melangkah sejauh jauhnya dari manusia bermarga Kim itu.

Namun, disnilah aku, kembali mengikutinya kemana pun ia melangkah. Disinilah aku, justru tertarik semakin dalam ke hiruk pikuk dan pesona seorang Kim Taehyung.[]