Big Thanks To :
VashaDita127 | anonym103 | Dimytjx | hopekies | ROXX h | Babychickjojang | CloveRine26 | Hana | Rina Putry299 | rusacadel.
.
.
Kun memperhatikan gerakan Hansol yang tengah memasukkan pakaiannya pada tas gendong milik pemuda asal Busan itu. Kun tetap diam, tidak berbicara sedikitpun sejak tadi. Hanya ada suara detak jam, AC yang menyala, juga helaan nafas dari kedua makluk adam itu yang terdengar dari kamar ini.
Kun ingin membantu Hansol berkemas sebenarnya, tapi, apa daya? Kun tidak sanggup. Kun sebenarnya tidak ingin Hansol pergi ke Paris, walaupun itu untuk berlibur. Kun hanya ingin, Hansol berada di sisinya, bukankah pemuda yang lebih tua darinya itu bilang akan selalu di sampingnya? Tapi apa ini? Kenapa Hansol meninggalkannya?
"Kun-ah.." Hansol memanggil nama Kun dengan suara pelan. Gerakannya sudah berhenti sejak tadi. Ekor matanya melirik ke arah Kun yang tetap berdiri di dekat pintu, dan tidak bergeming sedikitpun dari sana.
Kun mengatur nafasnya, menghembuskannya secara perlahan sebelum membalas panggilan Hansol, "Iya, hyung?"
Hansol tersenyum kecil. Membalikkan tubuhnya untuk menghadap pada Kun, Hansol pun mendudukkan dirinya di atas ranjang miliknya. "Kemarilah.." Hansol menepuk bagian ranjangnya yang kosong untuk diduduki oleh Kun.
Kun yang melihat itupun mengangguk lemah. Mendekatkan langkahnya pada ranjang Hansol, dan duduk tepat di samping Hansol. Hansol lalu meraih tangan kiri Kun dan menggenggamnya erat. Kun menoleh dan memperhatikan bagaimana Hansol yang tengah mencium punggung tangannya dengan begitu lembut. Pipi Kun memerah seketika.
"Hyung, tidak bisakah kau tinggal?" Kun bertanya dengan mata yang menatap penuh harap pada Hansol. Hansol tersenyum kecil, jari-jarinya bermain-main pada punggung tangan Kun dan membuat Kun mendengus kesal karena merasa diabaikan.
"Bukannya aku tidak mau. Tapi, kau tahu sendiri, aku sudah berjanji pada temanku untuk menemaninya ke sana.." Hansol mengalihkan pandangannya dan bertemu tatap dengan mata Kun yang kini berkaca-kaca. "Dan lagi, kau harusnya senang bukan? Besok kan kau akan menonton SM Town konser bersama yang lain. Harusnya kau senang, Kun-ie.." sambung Hansol dengan senyum yang lebih lebar.
Kun menggeleng, memang benar ia senang karena bisa menonton para sunbae juga teman-temannya beraksi di atas panggung besok. Tapi, tanpa Hansol, entah mengapa hati Kun juga merasa kosong.
"Kau harus menontonnya, Kun-ie. Dan setelah aku kembali nanti, kau harus menceritakan bagaimana megahnya panggung yang digunakan sunbae dan teman-teman kita.." Hansol menggenggam lebih erat tangan yang berada dalam genggamannya. "Harusnya kau juga menontonnya hyung! Aku ingin kita pergi bersama ke sana.." Kun berkata dengan nada lemah seraya menundukan kepalanya.
Hansol mengangkat dagu Kun agar pemuda yang lebih muda kembali menatapnya sebelum berkata, "Kau ingat kan? Kita punya janji untuk berdiri di panggung yang sama dengan mereka suatu hari nanti? Ingatlah ini. Apapun yang terjadi hari ini, memang harus terjadi. Dan yakinlah suatu hari nanti, aku, kau dan teman-teman yang lain, akan berada di satu panggung yang sama. Meski itu harus menunggu beberapa tahun lagi, percayalah, selama kita selalu bersama, kita pasti bisa mencapai mimpi kita."
Kun tidak lagi bisa menahan air matanya begitu mendengar perkataan Hansol. Dan dengan cepat, Hansol meraih tubuh Kun ke dalam pelukannya. Mengusap punggung Kun untuk menenangkan pemuda yang tengah menangis tersedu di dalam pelukannya. Hansol menyunggingkan senyum kecil yang tanpa disadari, air mata juga ikut menetes dari kedua mata bulatnya.
"Aku beruntung mendengarkan perkataan Jaehyun waktu itu. Jika tidak, kau mungkin tidak dalam pelukanku saat ini.." Hansol berencana untuk menggoda Kun dengan sengaja berbisik di telinga pemuda China itu. Kun pun mendongak, menatap Hansol dengan wajah yang merah juga matanya yang basah.
"Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa waktu itu!" Kun merengut kesal. Hansol tertawa kecil karenanya. Dan dengan sengaja, ia mencubit gemas pipi Kun yang membuat Kun mendengus kesal seraya tangannya ia gunakan untuk mencubit perut Hansol. "Akh!" Hansol berteriak begitu Kun mencubitnya dengan kekuatan yang tidak bisa dikatakan pelan.
"Rasakan.." Kun memeletkan lidahnya untuk meledek Hansol. Hansol hanya bisa menghela nafasnya pasrah dan menangkup wajah Kun. "Nah, aku lebih suka kau yang tersenyum begini, Kun-ie. Aku bukannya tidak ingin memberikanmu kesempatan untuk bicara, hanya saja, dilihat dari manapun, sudah sangat jelas kalau kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku.." Hansol berkata dengan nada yang penuh percaya diri. Kun meringis mendengarnya, tidak salah juga sih, tapi, Kun tak tahu jika Hansol bisa menjadi seperti ini.
"Ya, terserahmu saja hyung. Tapi berjanjilah, kau akan kembali dengan selamat.." Kun menatap Hansol tepat di kedua bola matanya. Hansol mengangguk mantap. Tangannya mengusap pipi Kun guna menghilangkan sisa air mata juga jarak di antara mereka. Kun yang mengerti pun menutup matanya, membiarkan bibir Hansol berada di atas bibirnya dan menikmati ciuman manis di antara mereka berdua yang mungkin beberapa hari ke depan tidak bisa mereka rasakan.
.
Taeil meletakan kepalanya pada meja makan. Matanya mengedar untuk menemukan sesuatu atau mungkin seseorang yang bisa menemaninya. Namun nihil, tidak ada siapa atau apapun yang bisa membuat dirinya merasa tidak kesepian. Wajar sebenarnya, ini sudah lewat dari jam dua malam, namun ia malah keluar dari kamar dan memilih untuk ke dapur. Salahkan insomnia yang tiba-tiba menyerangnya yang membuatnya tak bisa tidur malam ini.
"Taeil hyung!" Suara dengan nada terkejut di dalamnya berhasil membuat atensi Taeil yang tadinya fokus pada tatanan gelas di hadapannya kini beralih pada sosok pemuda tinggi yang berjalan menghampirinya.
"Winwin-ah?" Taeil membenarkan duduknya dan memperhatikan Winwin yang saat ini tengah mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Taeil mengernyitkan dahinya begitu melihat benda yang diambil Winwin.
"Susu strawberry? Untuk siapa?" Taeil bertanya dengan posisi yang masih sama. Sementara Winwin berpindah untuk mengambil salah satu gelas yang berada di atas meja sebelum menuangkan susu strawberry dalam kemasan itu ke dalam gelas.
"Untuk Mark. Dia terbangun dan bilang haus. Tapi dia ingin minum susu, jadi aku yang memang ikut terbangun berinisiatif untuk mengambilkannya.." jawab Winwin setelah menuangkan susu yang rupanya untuk Mark itu ke dalam gelas. "Hyung tunggu sebentar di sini. Aku akan segera kembali," sambung Winwin seraya melangkah kembali menuju kamarnya. Taeil hanya bisa menghela nafasnya dan mengangguk lemah. Meskipun ia tahu, tidak siapapun yang melihatnya.
Tiga menit berselang, Winwin keluar dari kamarnya dan mendekati Taeil yang masih dalam posisi yang sama. Duduk di atas kursi dengan mata yang mengedar. Untung lampu dapur memang dibiarkan menyala.
"Hyung tidak tidur?" Tanya Winwin setelah mendudukan dirinya di kursi yang berada tepat di sebelah kanan Taeil. Pandangan Taeil teralih untuk pemuda yang berada di sampingnya itu. "Aku terkena insom. Sepertinya, pikiranku dalam keadaan yang tidak baik sekarang," jawab Taeil seraya memijit pangkal hidungnya.
Winwin tersenyum tipis begitu mengamati wajah hyungnya yang satu ini. Wajahnya memang terlihat lelah, mungkin karena aktivitas mereka belakangan ini juga karena pikiran-pikiran yang belum bisa Taeil lepaskan dari otaknya.
"Tentang Johnny hyung, heh?"
Mata Taeil membulat begitu pertanyaan dengan nada mengejek itu keluar dari mulut pemuda yang lebih muda. Kembali, mata Taeil menatap Winwin dengan sinar mata yang membuat Winwin ingin menjerit karenanya.
"Tidak bisakah kau hyung melupakannya? Aku tahu itu memang tidak mudah. Tapi lihat bagaimana Johnny hyung sekarang. Dia nampak baik-baik saja, bahkan ia seperti tak peduli padamu!" Winwin berusaha mengatur nada dalam bicaranya agar tetap seperti biasa. Ia tidak mau, membangunkan para member yang membutuhkan istirahat.
Taeil menunduk, menyembunyikan matanya yang berair akibat perkataan Winwin. Taeil tidak menyalahkan Winwin sepenuhnya, karena memang ini salahnya juga. Dia yang meminta Johnny untuk memutuskan hubungan mereka. Ia yang meminta Johnny untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain. Ia juga yang meminta Johnny untuk menjalin hubungan bersama Jaehyun dan melupakannya. Jadi menurut Taeil, ialah yang bersalah di sini. Dirinya sendiri yang bersalah karena sudah melepaskan cintanya. Ia sendiri yang harus menderita karena cintanya yang tidak bisa memiliki. Tapi Taeil tahu, dibalik pengorbanan yang besar dari dirinya saat ini, akan ada kebahagiaan yang besar juga untuknya nanti.
"Aku tidak akan memintamu untuk melupakan Johnny hyung secara langsung. Aku hanya ingin, kau bisa membuka hatimu lagi, hyung. Meskipun itu bukan aku, aku harap, kau bisa menemukan cintamu yang lebih baik lagi nanti. Aku selalu mendoakanmu.."
Ucapan Winwin berhasil membuat Taeil mendongak dan lantas menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Taeil memperhatikan bagaimana raut wajah Winwin yang tenang nampak ada raut emosi di dalam ketenangan itu. Dan begitu mata keduanya bertemu, entah mengapa degup jantung Taeil berdetak begitu cepat.
"Karena, semua orang tahu, tidak baik memaksakan perasaanmu pada orang lain. Biarkan saja hubungan kita mengalir seperti seharusnya. Jika waktunya tiba, entah kita akan bersama atau tidak nantinya, pasti itu akan indah untuk diri kita masing-masing, Taeil hyung.." Winwin berkata dengan senyum lebar terpatri di bibirnya.
"Sudah hampir pagi, tidurlah hyung. Aku juga akan kembali tidur.." Winwin berdiri dari duduknya, hampir melangkah namun tertahan oleh tangan seseorang yang sedari tadi duduk di kursi tepat di sampingnya. Winwin lantas menurunkan pandangannya, menatap pemuda yang lebih tua dengan pandangan yang bertanya.
"Meski butuh waktu lama, tunggulah aku. Selamat malam~" Taeil lalu berdiri. Melangkah dengan cepat meninggalkan Winwin di belakangnya. Winwin tersenyum menyentuh tangannya yang baru saja dipegang oleh Taeil seraya memasang senyum tampan yang jarang ia perlihatkan.
"Aku selalu menunggumu, Taeil hyung."
.
Taeyong melangkah keluar dari kamar hotelnya dengan langkah yang bisa dibilang santai. Saat ini, para member NCT juga idol SM Entertainment, tengah berada di Osaka untuk pertunjukkan SM Town Konser yang memang akan dilaksanakan nanti dan besok malam. Taeyong berencana untuk mampir ke kamar sang kekasih dan mengajaknya untuk pergi bersama ke tempat acara untuk rehearsal. Namun memang sepertinya jodoh, mata Taeyong berbinar cerah begitu melihat Yuta yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Yuta!" Taeyong berseru memanggil Yuta yang membuat beberapa orang di sekitarnya melihat ke arahnya. Taeyong lantas membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf begitu menyadari kebodohan yang telah ia lakukan.
Yuta yang melihat itu tertawa kecil, lalu berjalan menghampiri Taeyong. "Baka!" Yuta berbisik di telinga Taeyong begitu sampai tepat di samping pemuda Lee itu. Taeyong meliriknya sekilas sebelum kembali melanjutkan jalannya.
"Bodoh-bodoh begini, kekasihmu juga kan, Nakamoto~" Taeyong balas berbisik dan lantas merangkul bahu Yuta. Inginnya sih, meraih pinggang sang kekasih, namun apa daya, mereka sedang di depan umum. Bahaya jika ada yang mengambil gambar mereka yang lalu disebarkan dengan caption-caption yang berlebihan yang akhirnya akan menjadi gosip. Meskipun mungkin gosip itu adalah sebuah fakta.
Yuta hanya bisa menggembungkan pipinya dengan rona merah tipis yang menjalar di pipinya. Keduanya lantas memasuki lift yang hanya berisi dua orang itu saja. Jangan tanyakan member NCT yang lain, mereka semua sudah berada di tempat rehearsal. Tapi, mungkin juga tidak.
Setelah lift berbunyi 'Ting' keduanya pun melangkah keluar. Memperhatikan sekeliling sebelum merapihkan penampilan mereka sebentar. Mereka tidak melakukan apa-apa kok di dalam lift, memang apa yang bisa dilakukan jika hanya dalam hitungan detik pintu lift sudah kembali terbuka?
Yuta melangkah terlebih dahulu untuk keluar hotel disusul Taeyong di belakangnya. Mereka memilih untuk tidak saling merangkul ataupun bergandengan karena takut orang-orang berspekulasi macam-macam tentang mereka. Mereka itu idola, jadi mereka harus menjaga image 'baik-baik' mereka di muka umum. Cukup sulit memang, tapi, harus bagaimana lagi?
Keduanya lalu berjalan berdampingan menuju tempat rehearsal yang memang lumayan dekat dari hotel tempat mereka menginap. Kedua terlibat percakapan santai entah itu tentang persiapan mereka untuk nanti malam maupun mengomentari hal-hal yang mereka temukan di jalan.
"Yuta, apa kau tidak mau pulang?" Tanya Taeyong begitu keduanya sampai di tempat rehearsal. Yuta mengerjapkan matanya sebelum akhirnya terkekeh kecil, "Aku sudah pulang Taeyong. Apa maksudmu?"
Taeyong memutar matanya malas. Dengan gemas, ia menarik hidung Yuta hingga sang pemilik mengaduh kesakitan.
"Sakit Tae!"
Taeyong hanya menggindikan bahu tanda tidak peduli dan melangkah menuju manager mereka yang memang berada tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri. Yuta yang melihat itu pun menggembungkan pipinya kesal.
"Awas kau Lee Taeyong!" Yuta berteriak, tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang menatapnya aneh. Taeyong sendiri menoleh, ia hanya tersenyum dilengkapi dengan jarinya yang membuat love sign untuk Yuta.
Wajah Yuta memerah. Entah marah ataupun malu. Meskipun dalam hati, Yuta ingin sekali berteriak.
Dasar, Tsundere!
.
.
TBC
.
.
Balasan Review
VashaDita127 : Baca review kamu seneng deh, meskipun panjang tapi itu malah buat Wi semakin semangat. Jangan kapok buat review panjang lagi ya! Nasib punya kapal banyak ya begitu, apalagi harus milih. Yg buat juga sebenernya baper kok! Untung ga JohnSol ga ikutan ya, coba ikutan, udah pasti makin bingung yg bikin. Makasih udah review!
anonym103 : Horeeee~ /potong kue :o Makasih udah review!
Dimytjx : Nah, kalo yg ini senyum-senyum sendiri ga? Atau mau gampar authornya? Hehe. Makasih udah review!
hopekies : Ga peka tapi akhirnya jadi juga ya? Hehe. Makasih udah review!
ROXX h : Maklum aja, anak sekarang gitu hehe. Iya dong santai, ngapain dibikin ribet. Haha. Makasih udah review!
Babychickjojang : Jangankan kamu, Wi aja pusing. Emang iya, lama-lama ini fic kaya sinet indo yg ga kelar-kelar. Haha. Makasih udah review!
CloveRine26 : Iya dong. Tunggu ya, mungkin chap depan kok, hehe. Makasih udah review!
Hana : Pengen buru-buru ditamatin sih, jadi ya harus dijelasin satu persatu. Makasih udah review!
Rina Putry299 : Sabar ya, bukan jodohnya di sini mereka tuh. Hehe. Makasih udah review!
rusacadel : Padahal part terakhir cuma tambahan yg ga pernah Wi pikirin sebelumnya. Hehe. Makasih udah review!
A/N :
Insomnia yg membuat Wi berhasil untuk menyelesaikan chap ini. (padahal awalnya mau lanjutin yg Broken Home? Tapi ide tiba-tiba ngilang). Hamdalah. Untung libur, jadi Wi bisa bebas tidur nanti. Ga bisa update fast kemaren tuh, soalnya tiba-tiba ada WA masuk 'Wi, ke sekolah ya, kita butuh lu sekarang!' Jadi intinya, seminggu kemaren Wi jadi panitia MPLS yg membuat Wi sibuk. Ga sempet pegang laptop buat ngelanjutin ff, jadilah Wi nunggu saat yg tepat yaitu hari ini. Maaf, jadi curhat.
Chap depan mau JohnJae? (with DoTen maybe)
Wi!
