NO SYSTEM IS SAFE

Kim Taehyung menghilangkan rasa kecewa dan sakit hatinya dengan cara umum yang dilakukan seseorang dengan tingkat emosi labil. Ia memerintahku dan Jimin untuk mengganggu sinyal dalam sebuah saluran radio, menghentikan semua telepon masuk dari sepenjuru Berlin. Ia berakhir memangkan lotre mobil Porsche yang kini ia raung raungkan di tengah jalan raya seperti orang sinting.

Ia memberhentikan mobil itu dihadapan kami, senyum arogannya sudah kembali terukir pada bibir Taehyung, "Apa? Kalian tidak ingin bersenang senang?".

"Bukankah seharusnya kita menyusun rencana untuk BND?", Hoseok mengernyit tidak setuju, sendainya aku cukup berani untuk menentang Taehyung, aku akan berteriak tepat di wajahnya bahwa ia hanya pecundang bodoh yang membuang buang waktu kami. Ini adalah alasan terbesar mengapa MRX meremehkan CLAY, menganggap kita bukan apa apa selain lelucon kecil.

"Masuk".

Aku menggeleng.

"Aku bilang masuk!", ia menyeret kepalaku dengan kasar yang sejujurnya menumbuhkan emosi dalam diriku, tapi aku tetap bungkam dan menuruti kemauannya. Aku tidak menyukai sikap Kim Taehyung yang berubah seenaknya sendiri semenjak penghinaan besar besaran MRX. Dia memang bedebah kecil, tapi dia belum pernah mengontrol kami sedemikian rupa.

Control freak, aku mendengus, menggeleng berulang kali ketika pria tampan itu menginjak gas dengan kecepatan tinggi, tertawa terbahak bahak sembari berteriak kesetanan diikuti dengan aksi gila Park Jimin yang mencopot celananya, menjadi rekaman publik ketika kami melewati berbagai transportasi umum. Para penumpang merekam aksinya dengan tawa geli ataupun ekspresi jijik.

Aku kembali menggeleng, kami benar benar sudah keluar jalur.

Kim Taehyung memberhentikan mobil Porsche nya di hadapan dua wanita berpakaian minim yang mendekatinya seduktif, sudah berulang kali aku berbisik kepadanya untuk jalan terus, pulang ke markas dan membahas tentang aksi peretasan BND. Namun, pria itu justru mengundang mereka masuk.

Kim Taehyung berakhir menyewa kamar hotel di pesisiran Berlin, mengubahnya menjadi pesta ganja dengan minuman keras tersebar dimana mana. Aku kembali terperangkap dalam kegelisahan sosial, terbatuk sesak ketika Taehyung meniupkan asap ganja tepat ke wajahku. Aku ingin meneriakinya, menyadarkan bajingan itu kalau ini sudah melewati batas.

Namun, apa arti 'batas' bagi orang seliar Taehyung?

Aku terududuk kaku, bersebelahan dengan Jung Hoseok yang tercengang lebar, tidak menyangka akan Park Jimin yang sudah bertelanjang, hanya mengenakan boxer dengan lekuk tubuh terekspos jelas. Dia sudah mabuk berat, dia menghabiskan terlalu banyak minuman keras dan isapan ganja, menari seperti orang gila dengan tawa yang membahana di ruang hotel.

Sedangkan Taehyung, ia mendekatiku, mencengkeram wajahku ketika kesabaran yang kupendam sekian lama mulai menipis. "Seharusnya kau bersenang senang!", Taehyung menyeringai, menenggak lebih banyak alkohol yang menguarkan aroma memabukkan dan aku sangat membencinya.

"Kau tidak mau berakhir menjadi pecundang seumur hidup! Bersenang senanglah! Lakukan sepuasmu! Bukankah kau yang berkendali?!", aku ingin mengingatkan bahwa Taehyung berteriak teriak terlalu keras, bisa menyebabkan kami mendapat masalah dengan petugas keamanan hotel.

Tapi itu terlalu ironis, menyadari fakta bahwa kami sudah melakukan tindak kriminalitas melalui dunia cyber, melibatkan aparat penegak hukum di dalam prosesnya.

"Belajarlah dariku, Jungkook", Kim Taehyung terkekeh dengan pandangan mata yang tidak fokus sebelum berjalan ke arah sofa tempat kedua wanita berpakaian minim terkapar mabuk. Ia merangkul wanita yang menggelayutinya seduktif sebelum melumat bibirnya sangat kasar, menciptakan erangan panas yang membuat perutku terpelintir.

Ia berpaling kepada wanita kedua yang seperti memohon untuk dipuaskan, Taehyung melakukan permainan lidah menjijikkan dengan perempuan yang mendesah keras, sebelum Kim Taehyung mendorong kepala wanita itu seenaknya sendiri, tidak menghargainya barang sedikit pun. Merasa puas karena telah mencicipnya dan membuangnya begitu saja?

Dasar bajingan picik.

Aku tercenung dengan pemikiran itu sebelum Taehyung bangkit dan mendekatiku, botol alkohol yang sudah setengah habis di tangan kirinya, "Apa kau masih belum mengerti juga, Jungkook?", ia menyeringai lebar, mendorongku ke dinding apartemen dan aku bersumpah aku tidak pernah membenci berada di posisi ini lebih dari apa pun.

Aku merasa kecil, terintimidasi, dan direndahkan dengan segala cara terburuk untuk merendahkan seseorang.

"Taehyung, hentikan", aku berbisik lirih ketika pria gila itu meremas wajahku, memaksaku menenggak alkohol yang terasa sangat pahit, meninggalkan sensasi panas pada tenggorokanku yang terbakar. Sia sia saja tanganku memberontak untuk mendorong dada pria yang tidak bergeming, ia justru tertawa semakin keras.

"Apakah kau sebodoh itu, Jungkook?! Apa aku perlu mengajarimu seperti bayi?!", aku terkesiap ketika Taehyung melumat bibirku. Aku membeliak ketakutan ketika merasakan lidah panas Taehyung mendominasi seluruh tubuhku yang memanas.

Lebih dari apa pun, bajingan ini sudah kehilangan kewarasan!

Park Jimin terlalu mabuk dan menikmati pertunjukkannya sendiri untuk menolongku, sedangkan Hoseok tidak ingin terlibat dalam sebuah pertikaian.

Aku berusaha bernapas, mendorong Taehyung ketika pria itu merangkulku sangat erat, mencekik leherku di antara lengannya yang terjulur. "Ha? Begitu?! Aku harus mengajarimu, begitu?!", Taehyung kembali menciumku sangat kasar dan aku tidak bisa menahan air mata yang mengalir turun.

Rasanya begitu sakit dan menyiksa. Taehyung memberi gigitan keras pada bibir bawahku yang bergetar sebelum aku berhasil mendorongnya jauh.

"Hentikan!".

Ini kali pertama aku menjerit kepadanya, mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan kemauannya, mempertanyakan kekuasaan Taehyung dan pria itu tidak menyukainya sama sekali.

Aku mengusap air mataku dengan kasar, berlari keluar kamar hotel sebelum Taehyung dapat menyentuhku lebih jauh lagi dan berakhir pada sesuatu yang tidak kuinginkan. Aku tidak peduli ketika aku mencuri mobil Porsche-nya yang terparkir di depan hotel, aku tidak membutuhkan kunci untuk masuk, aku hanya ingin pergi darinya.

Aku mengendarai mobil yang melaju kencang di Kota Berlin, berhenti di dekat sebuah perpustkaan umum untuk kembali menangis. Aku tidak mengerti bahwa sesuatu yang kuinginkan terasa lebih menyakitkan dari kesendirian dalam hidupku yang lama. Bersosialisasi, berhubungan dengan orang lain terasa jauh lebih berat daripada hidup untuk dirimu sendiri.

Aku menguburkan wajah pada badan setir, terisak isak, tidak menyadari seorang gadis yang menghampiriku dengan mawar putih di tangan.

"Jungkook? Hey", Marie tersenyum manis dibalik jendela mobil, membuatku terkejut setengah mati. Aku segera membukakan pintu untuknya, berpaling ke pintu perpustakaan dan menemukan Stephen berserta teman lainnya sedang bersenda gurau.

"Apa yang kau lakukan disini?", Marie bertanya keheranan, duduk di sampingku yang untung saja sudah tidak menangis. Aku menggeleng, mengulas sebuah senyum terpaksa ketika teringat akan Kim Taehyung yang mungkin sedang berhubungan seksual dengan wanita wanita itu.

Aku mengangkat bahu, kembali menggeleng.

Marie memperhatikanku dalam diam sebelum sebuah tawa kecil terlepas dari bibirnya, "Aku mendengar desas desus bahwa ada seorang pria yang berusaha mencuri soal ujian Fakultas Hukum dan tertangkap oleh petugas kemananan". Ia terbahak geli, "Orang itu kau?".

Aku mengangguk, kalau mengingat kembali pada masa ketika aku begitu ceroboh, aku hanya bisa tertawa bersamanya. "Semua orang membutuhkan Superman", ujarku lirih, dan tak kusangka gadis itu kembali tergelak, bahkan aku tidak menemukan unsur kelucuan dalam kalimatku sendiri.

"Ada apa dengan Porsche ini?".

"Aku meminjamnya dari Taehyung", aku berujar dan menyesalinya satu detik kemudian. Air mata itu sudah menggenang di pelupuk mataku lagi. Kejadian di kamar hotel terus saja terngiang di kepalaku.

Aku berdeham pelan, "M-Maksudku..temanku".

Marie tidak mengenal Taehyung, maupun anggota ClAY yang lain. Mereka hanya bertemu sekali ketika kami kabur dari polisi di pesta tak direncakan itu.

Keheningan kembali mencekam kami berdua dan sialnya itu kembali menyeret pikiranku kepada bajingan Kim yang sedang bersenang senang dengan wanita yang bahkan tidak dikenal pria itu. Aku merenungkan kepercayaan dirinya, kesuksesannya dalam menaklukan orang lain, caranya bersosialisasi dengan meyakinkan, dapat membuat seseorang melakukan apa pun atas perintahnya, termasuk diriku.

Aku pun berpaling kepada Marie yang masih setia tersenyum, sebelum menarik napas panjang dan mendaratkan ciuman pada bibirnya.

Sentakan pada dadaku membuatku mematung beku, Marie melebarkan bola matanya tidak percaya, menyentuh bibirnya dimana aku mendaratkan milikku tanpa peringatan. "Ya Tuhan, Jungkook".

Semuanya menjadi hancur berantakkan, kecanggungan meliputi kami berdua dan aku merasa sangat bodoh—lebih dari apa pun—aku benar benar manusia yang bodoh.

"Sebaiknya aku pergi", aku tidak memberikan respon ketika Marie melangkah kelaur, rasa frustasi itu kembali menyerangku. Ketika aku mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan gadis yang kucintai, setelah sekian lama, aku menghancurkan semuanya hanya karena aku percaya kepada Taehyung—seluruh omong kosongnya.

"Aku akan meninggalkan ini disini", Marie menyampirkan mawar putih pada kursi kosong disampingku, "Porsche terlihat cocok dengan setangkai bunga mawar", sebelum berjalan kembali menuju teman temannya dengan wajah tidak nyaman.

Aku hanya terdiam ketika melihat Stephen berjalan ke arahku, aku menahan air mata yang nyaris bergulir lagi, diam saja ketika pria itu membuka paksa pintu mobil dan menyeretku keluar. Aku mendengar jeritan ketika Stephen melayangkan tinjunya dan menghantam wajahku, sampai aku jatuh terkapar di pelataran perpustakaan umum.

"Jauhi Marie, kau mengerti?!".

Aku tetap diam, mengabaikan rasa sakit yang berdenyut denyut di seluruh wajahku, darah yang mengalir dari hidungku karena pukulan sadis pria yang tentu saja memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Marie dibandingkan denganku yang tetap bukan siapa siapa.

Aku tersenyum miris ketika mengingat Kim Taehyung lagi, pria yang berulang kali meyakinkanku untuk menyatakan perasaanku kepada Marie, meyakinkanku untuk percaya diri dan mengambil resiko yang besar. Perbedaannya, dia sukses dan aku gagal.

Dan aku berani bertaruh Taehyung sudah tahu akan hasilnya dari awal.

Ia hanya ingin mempermalukanku.[]

Keesokan paginya, aku kembali ke markas besar CLAY dan menemukan Taehyung yang mencengkeram kepalanya kepusingan akibat minuman keras yang ditenggaknya secara liar kemarin malam. Setidaknya, sebuah laptop terpangku di pahanya, mereka kembali fokus kepada misi sebenarnya yaitu peretasan BND. Aku hanya berharap Kim Taehyung tidak menimbulkan perkara ketidakstabilan emosi yang lain.

"Ada apa dengan wajahmu?", Taehyung mengernyit, menuntut jawaban yang tidak kuberikan ketika melihat sudut bibirku yang membengkak akibat pukulan Stephen.

Aku hanya mengangkat bahu.

Hoseok berdeham ketika Taehyung mendengus malas, "Jadi, aku mempunyai rencana untuk masuk ke BND".

Pusat Intelenjensi Jerman.

Federal Intelejensi Jerman bukanlah hal yang sepele, melainkan salah satu peretasan mustahil dalam sejarah peretasan. Kami tidak akan mendapatkan akses masuk semudah sebelumnya. Hanya dua teknik yang akan membantu terbososan aksi CLAY.

Pertama. Phishing.

Phising adalah metode untuk mendapatkan informasi krusial seperti username, password, dan informasi detail kartu kredit seseorang dengan cara menyamar sebagai pihak terpercaya dalam bidang komunikasi elektronik. Kedua, kami juga harus melakukan sebuah teknik yang tidak terlalu terpuji, dumpster diving.

Aku memilah milah ribuan kertas BND di tempat pembuangan sampah secara sabar, berusaha menemukan informasi tentang sasaran yang akan ditaklukan Taehyung dengan social engeneering-nya. "Bingo", Taehyung menyeringai lebar, emosinya sangat terkendali sekarang dan dia menjadi lebih berguna bagi kami.

Semuanya terlalu sederhana.

Ia menemukan sebuah kartu ucapan yang ditujukan kepada Kepala Divisi Keanggotaan BND. Divisi yang memegang akses ke dalam markas Pusat Inteljensi Jerman. Tak kusangka, wanita paruh baya ittu sangat mudah ditipu hanya dengan menemukan detail konyol yang ternyata dapat membant kami mencapai sesuatu yang sangat besar.

Wanita itu pecinta kucing.

Kim Taehyung menyamarkan namanya menjadi 'Stephanie', sebagai tertanda yang menulis ucapan selamat ulang tahun kepada Kepala Divisi Keanggotaan BND. Ia mengirimkan tautan kucing yang nyaris membuatku tertawa sinis kalau saja rencana itu tidak berhasil. Namun, wanita paruh baya itu tertipu begitu saja, siapa yang dapat menyalahkan permaian dalam memanipulasi kejiwaan seseorang?

Ini adalah bidang keahlian Taehyung.

Respon yang diberikan wanita itu membuka akses bagiku dan Jimin untuk mengutak atik jejaring BND, kami mulai menyusup dengan teknik Phising, menyamar menjadi unit kesatuan terpercaya yang akan menangani masalah teknis di Pusat Intelejensi Jerman. Dan puji Tuhan ia memberikan kunci kepada kami secara cuma cuma.

"Idiot", Jimin tertawa geli.

Kami memasuki markas besar BND dengan topeng badut dan jaket biru, menyingkap seluruh identitas asli kami dari eksploitasi publik. "Kalian mengerti pekerjaan kalian masing masing", Taehyung mengangguk kepadaku sebelum kami berpencar sesuai dengan rencana. Kami berjanji untuk menahan hasrat dan tidak menyentuh atau mencuri informasi apa pun dari markas.

Kami disini hanya untuk satu tujuan, mengambil resiko besar dan menyatakan kepada dunia kalau kami berhasil menaklukan yang mustahil.

Aku bekerja di ruang server utama BND. Laptop, alat peretas, dan semua perlengkapan yang kubutuhkan berada disekitarku—sesuai dengan arahan Taehyung yang sudah kami diskusikan. Kim Taehyung bersiul dengan seringai lebar di lobi markas Federal Intelejensi Jerman, menaikkan kedua kakinya pada meja yang menampilkan rekaman keamanan seluruh bagian markas BND.

Sedangkan aku, Jimin, dan Hoseok mempunyai tugas masing masing yang melibatkan peretasan, sistem, dan kode. Membuat sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana. Aku berhasil megambil akses kepada seluruh printer yang terpasang di markas besar. Jimin juga sudah mengoperasikan file yang akan dicetak dari komputer utama BND, menyebar ke seluruh mesin printer markas Intelejensi.

Jung Hoseok telah memanipulasi rekaman keamanan, mengubah tautan videonya dengan animasi burung RPG yang bersorak sorak ceria.

Setelah mendapatkan semua akses dan saling menyambungkan jejalin benangnya, Taehyung hanya perlu menekan 'enter'.

Secara serempak, seluruh printer markas BND mencetak lembar demi lembar yang terus bergulir secara bertubi tubi, kertas kertas itu berjatuhan di seluruh lantai markas Pusat Intelejensi Jerman, menyebarluaskan pesan penghinaan yang diberitakan diseluruh dunia keesokan harinya.

'CLAY WAS HERE'.

'NO SYSTEM IS SAFE'.[]