Big Thanks To :

Kentang Goreng97889495 | Rina Putry299 | Dimytjx | hopekies | Lynx0104 | CloveRine26 | Babychickjojang | kiyo | guest | Mocinlee99 | Yuta Noona | ROXX h.

.

.

Jaemin tersenyum manis begitu Jungwoo datang menghampirinya. Keduanya lantas mulai berjalan meninggalkan gedung SM di belakang mereka. Jungwoo melirik Jaemin yang berjalan lurus dengan senyuman kecil terpatri di bibirnya.

"Kau kenapa?" Jungwoo bertanya, nada bingung terdapat dikalimat yang ia gunakan. Jaemin menoleh dan menautkan alisnya, "Kenapa apanya, hyung?"

"Kau senyum-senyum terus dari tadi. Kau sakit?" Jungwoo meraih bahu Jaemin dan merangkulnya. Keduanya tengah berjalan di jalanan yang cukup sepi, jadi sedikit lega karena tidak banyak orang, mungkin juga fans, yang dapat melihat mereka.

"Aku hanya sedang senang hyung. Teman-temanku sebentar lagi akan comeback. Aku tak sabar untuk melihat mereka," Kekehan kecil terdengar diujung kalimat yang Jaemin keluarkan.

Jungwoo terdiam. Matanya menatap sendu pada Jaemin, ia pun menghela nafasnya panjang.

"Kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu dariku, Jaemin-ah. Cukup jujur, karena aku bisa mengerti."

Keduanya lantas berhenti di dekat sebuah toko yang tutup. Keduanya berdiri berhadapan dan saling bertatapan. Tangan Jungwoo masih berada di atas bahu Jaemin.

"Aku senang hyung, sungguh. Meskipun juga, aku sedikit sedih karena comeback kali ini lagi-lagi aku tak bisa ikut. Apalagi ini comeback terakhir Mark hyung di NCT Dream. Aku ingin berdiri bersama mereka hyung, aku ingin menari, menyanyi dan bertemu fans bersama mereka lagi hyung.." Jaemin menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang menggenang di matanya dan siap jatuh kapanpun. "Tapi aku juga sadar, jika aku memaksakan diri, maka kondisiku akan memburuk. Aku tidak mau siapapun disalahkan karena kondisiku ini hyung. Aku juga mengerti, perusahaan pasti akan melakukan yang terbaik bagi para artisnya dan juga trainee-traineenya. Hanya saja, aku merasa bersalah pada fans. Aku belum menyapa mereka selama sepuluh bulan terakhir. Apalagi, di hari ulang tahunku pun, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk fansku. Hiks.."

Hancur sudah pertahanan Jaemin. Jadilah, ia menangis sejadi-jadinya. Jungwoo yang tak tega pun menarik Jaemin ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung Jaemin untuk menenangkan yang lebih muda. Jungwoo tidak bicara apa-apa, karena Jungwoo sangat mengerti bagaimana perasaan adiknya itu.

"Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja Jaemin-ah. Sebentar lagi, kau pasti akan kembali ke panggung. Bernyanyi lagi, dan menari lagi. Kau harus yakin itu, Jaemin-ah."

Jaemin mengangguk di dalam pelukan Jungwoo. "Aku mengerti," Jaemin mengangkat kepalanya, menatap Jungwoo dengan mata yang memerah hingga Jungwoo terkekeh kecil.

"Aigoo, kenapa kau sangat menggemaskan, Jaemin-ie~" Jungwoo menangkup wajah Jaemin dan mengusap air mata Jaemin dan mencubit gemas pipi yang lebih muda. "Hyung~!" Jaemin mengerucutkan bibirnya, memukul bahu Jungwoo dengan kuat hingga sang empunya meringis kecil.

Tanpa mereka berdua sadari, ada sosok pemuda lain di belakang mereka yang menatap pemandangan di depannya dengan pandangan yang terbaca.

"Aku kecewa padamu, hyung.." Gumam pemuda itu seraya menundukkan kepalanya. Berbalik badan, dan pergi meninggalkan Jungwoo serta Jaemin yang juga tengah melanjutkan jalan mereka.

.

Haechan mendesah pelan, matanya menatap bosan pada Renjun yang tengah mengusap-usap kepala Jisung di sofa yang berada di sampingnya.

"Kau kenapa, Haechan-ie?" Renjun mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk mengamati wajah Jisung yang terlelap di pangkuannya. Haechan kembali mendesah, ia mengacak rambut merahnya sebelum meraih remote tv di sampingnya.

"Memikirkan Jaemin?" Renjun kembali bertanya, setelah tahu bahwa pertanyaan yang sebelumnya pasti tidak akan dijawab.

"Itu kau tahu," jawab Haechan acuh seraya pandangannya yang masih mengarah ke televisi di hadapannya. Renjun menggeleng pelan, ia tersenyum tipis melihat Haechan yang tengah uring-uringan seperti ini.

"Sudah menelfon Jaemin?"

"Tidak diangkat."

"Sudah chat atau mengirim pesan?"

"Tidak dibalas."

Haechan lalu meletakkan remote tv dengan kasar yang diiringi gumaman samar. Renjun tersenyum kecil, ia kembali mengusap rambut Jisung ketika sang maknae bergerak tak nyaman. Mungkin terganggu akibat suara yang ditimbulkan antara remote dan meja.

"Aku dengar hari ini dia pergi bersama Jungwoo hyung. Tidak mau pergi ke dorm bawah? Siapa tahu Jaemin masih di sana."

"Kenapa tidak bilang dari tadi?!"

Haechan lantas berdiri. Berjalan cepat keluar dari dorm mereka yang disahuti oleh suara tawa yang keluar dari bibir Renjun. Tapi hanya sebentar. Karena Renjun takut, takut membangunkan Jisung yang sudah terlelap akibat kelelahan. Comeback mereka tinggal menghitung hari, jadilah, jadwal latihan mereka pun bertambah menjadi berkali-kali lipat yang membuat mereka semua kelelahan. Mereka senang karena mau comeback, tentu saja. Namun, mereka juga tidak bisa menyembunyikan rasa lelah mereka, terlebih diusia mereka yang masih sangat muda ini. Apalagi Jisung.

"Belum tidur, Renjun-ie?"

Renjun mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menoleh ke samping kirinya dan menemukan Mark yang berdiri tepat di ujung sofa. Renjun menggeleng dan tersenyum manis.

"Belum hyung. Kau sendiri?" Renjun balik bertanya, Mark duduk di single sofa dan memperhatikan wajah Renjun. "Aku belum ngantuk," jawab Mark seraya tersenyum tipis.

Renjun mengangguk sebagai balasan dan kembali mengarahkan pandangannya pada wajah Jisung. Berpura-pura sibuk pada kegiatannya dan mengabaikan Mark yang masih memperhatikannya.

"Jika ada yang ingin kau sampaikan, bicaralah hyung. Aku akan dengarkan," ujar Renjun pelan seraya mengangkat kepalanya. Menatap Mark dengan senyum tipisnya.

Mark mengulum senyumnya, bergumam samar sebelum balas menatap wajah Renjun.

"Aku tidak tahu ini waktunya tepat atau tidak. Hanya saja, aku ingin hubungan kita lebih dari teman Renjun-ie."

Mark menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Renjun yang menatapnya tak percaya.

"H-hyung.."

"Aku mencintaimu, Renjun. Dan ya, aku tak mau munafik dengan mengatakan aku tak butuh jawabanmu. Meskipun aku tahu, jawaban apa yang akan kau berikan, setidaknya aku ingin mendengar itu semua keluar dari mulutmu."

Renjun terdiam, kini giliran dia yang menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan tajam Mark yang mengarah ke arahnya.

"Nghh.. hyung~"

Suara lenguhan Jisung yang terdengar membuat suasana canggung di sekitar mereka berkurang. Jisung mengucek matanya dan langsung mendudukkan dirinya. Menatap bergantian Renjun dan Mark yang menatapnya dirinya.

"Aku haus."

"Biar aku ambilkan."

"Tidak usah hyung. Aku sendiri saja. Aku juga mau ke kamar mandi dulu.." Tolak Jisung dengan senyum lebarnya seraya berdiri dan berlari menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari ruang tengah.

Meninggalkan Mark dan Renjun yang kembali ke dalam suasana hening yang canggung. Renjun hendak beranjak namun tertahan karena pandangan Mark yang menusuk ke arahnya. Renjun menggigit pipi dalamnya, memainkan jari-jari tangannya seraya menatap lantai putih di bawahnya.

Mark berdiri, berjalan mendekat pada Renjun dan duduk di samping pemuda manis itu. Ia lantas meraih sebelah tangan Renjun dan menggenggamnya erat. Membuat sang empunya sontak menoleh ke arahnya dengan mata yang membulat.

"Aku hanya akan bertanya satu hal padamu Renjun-ie," Mark menghela nafasnya dan menatap dalam mata Renjun. "Bagaimana perasaanmu padaku?"

Renjun membeku. Pertanyaan mudah sebenarnya, hanya saja, Renjun merasa bibirnya kelu untuk menjawab pertanyaan Mark. Renjun melihat ke sekeliling, mencoba mengabaikan pandangan Mark yang semakin menuntut padanya.

"Renjun-"

"Maaf hyung," Renjun menarik tangannya yang berada dalam genggaman tangan Mark. "Maaf, tapi kau tahu 'kan hyung, aku belum bisa sepenuhnya melupakan Jeno. Aku juga tidak mau memaksakan diriku untuk menerima apalagi mencintaimu jika nantinya hanya akan menyakitimu hyung. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sendiri, sama seperti hyung-hyung yang lain. Jadi, aku harap, kau mengerti ya hyung. Maaf," Renjun mengulum senyumnya setelah mengatakan hal itu pada Mark.

Mark sendiri terdiam di tempatnya. Mengerjapkan matany sekali sebelum akhirnya menampilkan senyum kecil. "Aku mengerti Renjun-ie. Maaf sudah memaksamu. Dan, ayo fokus untuk comeback kali ini. Membuat senang semua orang apalagi fans yang sudah mendukung kita selama ini.." Ujar Mark seraya melebarkan senyumannya.

Renjun mengangguk, "Benar hyung. Karena ini sudah larut, ayo tidur. Besok kita harus latihan dari pagi 'kan?" Balas Renjun seraya berdiri dari duduknya. Mark ikut berdiri, berjalan di samping Renjun dan melangkah menuju kamar mereka masing-masing.

"Selamat malam Mark hyung."

"Selamat malam Renjun-ie."

.

"Kami pulang~!"

Jungwoo dan Jaemin memasuki dorm para trainee dengan beberapa kantong plastik putih di tangan mereka berdua.

"Akhirnya yang ditunggu, datang juga."

Seseorang dari hidden trainee SM Entertainment itu menghampiri keduanya. Mengambil alih plastik-plastik putih itu dari tangan Jaemin dan Jungwoo yang memang pesanan dari trainee-trainee lain.

"Terimakasih ya, Jaemin-ah, Jungwoo-ya."

"Sama-sama hyung."

Setelahnya, Jungwoo dan Jaemin pun melangkah menuju ruang tengah. Di sana, mereka menemukan Kun yang tengah bersantai dengan kacamata baca dan sebuah novel di tangannya.

"Kun hyung!" Jaemin berseru, ia lalu mendekati Kun dan memeluk Kun dari samping. Kun tersenyum, ia melepas kacamatanya dan balas memeluk Jaemin.

"Bagaimana kabarmu, Jaemin-ah?" Kun memegang tangan Jaemin yang memeluk tubuhnya. Jaemin tersenyum lebar dan membalas, "Sudah lebih baik hyung."

Jungwoo yang duduk tak jauh dari merekapun tersenyum. Lalu pandangannya jatuh pada Lucas yang baru saja keluar dari kamar. Namun Lucas hanya diam dan berjalan melewati mereka begitu saja. Jangankan menyapa, tersenyum saja tidak. Jungwoo pun menatap aneh pada Lucas, ia berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Lucas yang mengarah ke balkon dorm mereka.

Sesampainya di balkon, Lucas berdiri di dekat pembatas dan menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Jungwoo menyusul, ia berdiri di dekat Lucas dan mengamati bagaimana wajah Lucas yang terlihat sangat lesu.

"Kau tidak apa-apa?" Jungwoo berniat merangkul bahu Lucas namun ditepis begitu saja oleh Lucas. Membuat Jungwoo kaget dan menatap tak percaya pada Lucas.

"Maaf hyung. Tapi aku ingin sendiri dulu sekarang," ujar Lucas seraya menundukkan kepalanya.

"Kau kenapa Lucas? Apa ada masalah? Atau ada yang mengganggumu?" Jungwoo tidak tahu apa yang terjadi pada pemuda yang sangat disayanginya ini. Hanya saja, melihat Lucas seperti ini, membuat sudut hati Jungwoo juga ikut merasakan sakit.

"Aku tidak apa-apa hyung, sungguh. Kau cukup tinggalkan aku sekarang, maka semuanya akan baik-baik saja.." Lucas berusaha untuk mengusir Jungwoo dari pandangannya. Lucas hanya merasa, ia sudah dikhianati. Meskipun Lucas tahu, Jungwoo tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi, rasa egois yang menyelimuti hati dan otaknya itulah yang membuatnya berfikir seperti ini.

Jungwoo menghela nafas panjang, ia mengacak sayang rambut Lucas sebelum berkata, "Baiklah, aku akan mandi dan setelah kau tenang kita bicara ya. Jangan terlalu lama di sini, angin malam tak baik untuk kesehatanmu."

Lucas hanya mengangguk. Ia kemudian kembali menatap langit dan mengabaikan Jungwoo yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca sebelum kembali ke dalam.

.

"JAEMIN-IE!"

Haechan berteriak memanggil Jaemin yang sedang tiduran di depan televisi dengan paha Kun sebagai bantalannya. Jaemin langsung saja terbangun dan duduk menunggu Haechan menghampirinya.

"Aigoo Haechan-ah, ini sudah malam. Tidak baik berteriak-teriak begitu," Omel Kun seraya berdiri dan pergi meninggalkan keduanya. Haechan tertawa tak jelas dan bergumam 'Maaf' sebelum mendudukkan dirinya di samping Jaemin.

"Kun hyung kenapa? Sedang PMS?" Tanya Haechan basa-basi. Jaemin menggedikkan bahunya dan membalas, "Mungkin. Mungkin juga karena Hansol hyung yang tak kunjung datang ke sini."

"Hansol hyung ya? Aku juga rindu Hansol hyung," gumam Haechan dengan pose berfikirnya. "Apalagi aku," sahut Jaemin dengan nada lesu.

"Ah iya, kenapa telfonku tak kau angkat? Chat dan pesanku pun tak kau balas? Mau menjauhiku ya?" Mata Haechan memicing menatap Jaemin. Jaemin mendengus, ia lalu memukul bahu Haechan sebelum menjatuhkan kepalanya di bahu yang lebih tua.

"Kau lupa ya? Handphoneku 'kan disita oleh orangtuaku. Selama pengobatan, aku 'kan tidak boleh memegang handphone."

"Aku heran, yang sakit 'kan punggungmu bukan otakmu. Kenapa malah handphonemu yang disita?"

"Ck! Itu agar aku tidak begitu memikirkan hal-hal yang mungkin saja bisa membuatku kefikiran dan bisa berakibat aku malas berobat."

"Misalnya?"

"Misalnya komentar hatters NCT yang terus saja menyalahkan kalian karena tidak memberikan kabar apapun tentangku. Menyalahkan kalian ketika kalian tidak menyebut namaku di saat speech kemenangan kalian. Orangtuaku tidak mau aku membaca komentar-komentar negatif seperti itu. Mereka cukup mengerti keputusan perusahaan, begitupun aku. Jadi aku ingin, semua fans kita di luar sana, bisa mengerti jika semua ini demi kebaikan kita semua."

Jaemin menghembuskan nafasnya panjang, ia kembali mengusap air matanya kasar. Haechan yang duduk di sampingnya tersenyum tipis, ia meraih tangan Jaemin dan menggenggamnya erat.

"Ini semua demi kebaikan kita semua. Terlebih dirimu, Jaemin-ie. Semua fans dan orang-orang yang mendukung kita selama ini selalu berharap yang terbaik untukmu. Mereka ingin kau sembuh dulu secara total. Sebelum kembali ke panggung untuk bernyanyi dan menari bersama lagi. Meski itu butuh waktu lama, yakinlah jika kita akan bersama lagi di atas panggung yang sama."

Jaemin tersenyum mendengar ucapan Haechan. Ia pun menengadah dan menatap mata Haechan. "Besok ulang tahunku, kado untukku mana?" Tanya Jaemin dengan nada polosnya.

Haechan terkekeh canggung, ia pun mengusap lembut rambut Jaemin dan mengeratkan genggaman tangannya.

"Aku belum beli apapun untukmu. Aku hanya ingin memberikan ini padamu."

"Apa?"

Haechan tersenyum lebar, sebelum mengecup pipi Jaemin yang membuat wajah sang empunya memerahnya malu.

"Aku mencintaimu. Jadi, aku akan memberikan hati dan cintaku padamu. Jaemin-ie, kau mau jadi kekasihku 'kan?"

Kini, wajah Jaemin sudah sepenuhnya memerah. Ia pun mengangguk samar sebelum menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Haechan.

"Aku juga mencintaimu, Haechan-ie."

Dan Haechan, tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya sekarang.

.

"Yakk Chenle! Bangun~!"

Jisung melompat-lompat di atas kasur Chenle dengan semangat. Pagi ini, Jisung bangun dengan sendirinya tanpa perlu dibangunkan oleh Renjun ataupun Manager hyung. Apalagi Manager hyung yang memang tidak kembali ke dorm sejak semalam karena ada urusan dengan manager-manager artis SM yang lain.

Chenle melenguh pelan, ia kemudian duduk di atas ranjang seraya mengucek-ucek matanya. Chenle masih mengantuk, hanya saja, ia merasa ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh Jisung padanya.

"Ada apa Jisung-ie? Kau tidak tahu apa, jika aku masih mengantuk?" Chenle mengerucutkan bibirnya. Jisung berhenti melompat-lompat dan duduk di dekat Chenle.

"Aku mau menyampaikan sesuatu yang penting Chenle. Tentang Mark hyung dan Renjun hyung."

Mata Chenle membulat begitu mendengar dua nama hyungnya itu disebut. "Kenapa dengan mereka, Jisung-ie?" Chenle bertanya dengan antusias.

"Semalam aku 'kan tidur di pangkuan Renjun hyung. Nah, saat tidur itu, aku samar-samar mendengar suara Mark hyung yang sedang menyatakan cinta pada Renjun hyung."

"Tu-tunggu dulu. Kau, tidur di pangkuan Renjun hyung?"

"Iya, kenapa?"

Chenle menggeleng begitu Jisung balik bertanya dengan wajah polosnya. Chenle pun tersenyum dan kembali bertanya, "Setelah itu, apa yang terjadi?"

"Aku tidak tahu."

"Hah? Tidak tahu?"

"Habisnya aku kebelet. Jadi, aku langsung bangun dan pergi ke kamar mandi. Aku juga tidak sempat kembali ke dapur karena Jeno hyung sudah menarikku ke kamar. Dia bilang, 'Kau masih kecil. Harus segera tidur' jadilah, aku kembali tidur di kamar tanpa tahu apa yang terjadi pada Mark hyung dan Renjun hyung."

Chenle memasang pose berfikirnya dan menggaruk kepalanya. "Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada Renjun hyung?"

"Ide bagus!"

"Ayo!"

Keduanya lantas berlari keluar dari kamar Chenle untuk menemui Renjun dan Mark. Yang sayangnya, harus gagal karena Manager hyung yang tiba-tiba pulang dan menyuruh mereka untuk segera mandi dan sarapan agar bisa cepat pergi latihan.

'Mungkin nanti saja.' Bathin Chenle setelah berkontak mata dengan Jisung yang juga menatapnya.

.

.

TBC

.

.

A/N :

TBCnya nggak elit ya? Biarkan, Wi habis ide. Siapa yang teriak begitu semalem liat foto Jaemin yg diupdate SM? Wi termasuk. Jika kalian baper pas baca ff ini, ketahuilah, Wi juga baper. Apalagi bikinnya semalem habis liat foto Jaemin dan baru selesai sekarang karena Wi sibuk, tidur. Jangan ditiru.

Bagi yg mau JohnJae dan TaeYu, harap tunggu chap depan. Chap depan spesial JohnJae + TaeYu. Wi janji!

Wi!