THE LAST MEMBER
/MRX/I'm impressed./
Kim Taehyung tertawa bahagia melihat pesan yang dikirimkan MRX melalui Darknet pagi harinya. Ia memelukku dan berterimakasih karena telah mendorongnya untuk mengambil resiko, sekarang bahkan Tuhan Darknet telah menyadari kehadiran kami di dunianya.
Kami berakhir merayakan kesuksesan besar ini dengan berpesta di kelab malam, bahkan kali ini aku tersenyum, melompat bersama ketiga pria yang saling berangkulan. Walau Taehyung tidak pernah terlepas dari minuman keras yang ditenggaknya, ia tidak bersikap seperti kemarin. Ia merangkulku hangat, kali ini aku merasakan pertemanan yang terjalin di antara kita.
Kurang lebih, tujuanku dengan Taehyung selalu sama. Aku pintar meretas dan dia bermain rekayasa sosial, ketika kau mempersatukan kami dan mempekerjakan kami bersama, kami tidak bisa dihentikan.
Aku melihat Stephen yang mendelik ke arahku di antara kerumunan orang yang berpesta, aku tersenyum miring, megacungkan jari tengahku kepadanya dan tertawa puas ketika pria itu merangsek marah mendekatiku. Langkahnya terhenti ketika Taehyung merangkulku akrab, disusul dengan Jimin dan Hoseok yang juga menghimpitku di kedua sisi, menodongkan jari tengah mereka kepada keparat kecil yang memutuskan untuk menjauh.
"Hey, Jungkook, aku akan berkeliaran sebentar", Taehyung berteriak ditelingaku, mengatasi hiruk pikuk kelab malam dan musik diskotik yang berdengung sangat nyaring. Aku tersenyum dan mengangguk, tidak melepaskan pandanganku dari punggung Taehyung yang menjauh dan di telan massa yang menari penuh sensasi.
Aku berakhir berjalan kembali ke kamar mandi kelab, membasuh wajahku yang mulai memucat dan rasa mual yang kembali menggerogotiku. Kami telah mencapai kesuksesan, kami telah membuat MRX terkesan dengan kemustahilan yang kami buat menjadi kemungkinan.
Lalu, apa langkah selanjutnya?
Aku kembali ke dalam kelab setelah memastikan kondisi mentalku baik baik saja, aku tidak akan terkena serangan panik maupun kegelisahan yang membuatku terduduk di sudut ruangan, titik sudut yang memerangkapku dua bulan lalu. Namun, Kim Taehyung telah menarikku keluar, menolongku dari lubang hitam yang memangsa jiwa dan ragaku ketika aku tertidur.
Pria itu membangunkanku dari mimpi buruk akan dunia yang kejam dan dingin, ia memperkenalkanku kepada ekstasi dan sensasi dunia yang dapat kau tekuk sesuai dengan perintah kedua jemarimu.
Kim Taehyung bukan hanya rekan kerja bagiku, ia adalah sandaran agar aku dapat terus berdiri, seseorang yang memaksaku untuk bangkit dan berjuang, membawaku kepada kepuasan luar biasa untuk melihat dirimu sukses.
Dia adalah seorang teman bagiku.
Dan aku melihatnya tengah berciuman dengan Marie di sudut kelab.
Sekujur tubuhku membeku, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari pria yang mencumbui Marie dengan panas, Kim Taehyung melumat bibir gadis yang merangkul lehernya erat, memberikan remasan kecil pada rambut Taehyung sebelum mendesah di bawah sentuhannya.
Aku tidak pernah menyangka dapat merasakan sakit melebihi kematian kedua orangtuaku, kepercayaan yang dikhianati dan dihancurkan oleh seseorang yang membuatku berpikir bahwa aku tidak sendirian, bahwa aku memiliki seorang teman.
Kim Taehyung berpaling, melihatku terdiam menatap mereka, sebelum tersenyum sinis dan mencumbui Marie dengan liar.
Aku berbalik dan melangkahkan kakiku tanpa tujuan yang jelas, aku mengabaikan tawa histeris Park Jimin dan teriakan Hoseok yang berusaha menghentikanku. Aku membenci mereka semua, aku sangat membenci mereka yang menarikku ke dalam, hanya untuk mempersembahkan dunia yang jauh lebih pedih.
Aku tidak lagi merasa kesepian, aku tidak lagi menunduk, aku berkomuninkasi dengan seseorang yang nyata, hanya untuk mengetahui bahwa mereka pun juga tidak peduli kepadaku.
Aku tak bisa menahan jeritan keras yang keluar dari tenggorokanku, rasa frustasi ketika aku membanting meja kerja di markas dengan membabi buta, tidak peduli akan alat meretas yang bergelimpangan di tanah. Tangisan itu kembali menyerangku, aku tidak percaya bahwa rasa sakit bisa sebegitu menyiksa.
Hal ini sangat menyiksa dan menghancurkanku karena aku tahu aku tidak lagi menaruh perasaan kepada Marie. Namun, kepadanya.
Kepada bom waktu yang sudah mencapai angka nol.
Aku menjerit lebih keras lagi, mengumpat kasar ketika mengingat wajah tampan Taehyung yang mengajakku bergabung dari awal kami bertemu di terowongan Berlin. Ia melihat menembus diriku dengan mudah, mengerti bahwa aku adalah pecundang yang tidak diacuhkan oleh lingkungan sekitarku.
Dia adalah teman yang membuatku percaya bahwa harapan itu ada, dia membuatku berteriak kepada dunia, menyadarkan mata sampah masyarakat yang buta akan kehadiran orang sepertiku disini. Aku ada. Aku hidup di antara kalian.
Social engeneering.
Mungin, aku tidak mengerti pada awalnya. Hanya memahami bahwa kau memanipulasi perasaan seseorang untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku tak pernah menyanga Kim Taehyung juga menjadikanku sebagai target sasaran.
Ia membuatku membuka diri kepada dunia luar, kepada orang asing yang tidak kukenal sama sekali. Ia membuatku mempercayainya, mengutarakan perasaan yang selama ini kupendam seorang diri. Hanya untuk membuktikan kepadaku bahwa aku bisa merasakan lebih banyak sakit. Bahwa sebuah harapan besar bisa berubah menjadi kehancuran hanya dengan suatu peristiwa.
Kim Taehyung mengerti aku menyimpan perasaan untuknya. Ia mengerti aku menganggapnya lebih dari yang lain. Namun, itu tidak membuatnya puas karena ia selalu menjadi pusat perhatian sejak kecil.
Ia ingin seseorang sepertiku, seorang pemisimis untuk jatuh kedalam pesonanya dan membuangku begitu saja. Seperti sampah masyarakat, seperti para keparat yang kubenci selama ini. Bodohnya aku baru menyadari bahwa Taehyung adalah salah satu dari mereka.
Apakah ini yang dia inginkan?
Melihatku hancur?
Melihatku terpuruk?
Tidak. Karena aku tidak sepenting itu baginya.
Aku hanyalah satu dari ribuan objek yang dapat menghibur Taehyung, aku hanya satu dari ratusan orang yang sudah dia permainkan, aku adalah satu dari sekain banyak korban dari manipulasinya.
Hal terburuk bukanlah mengetahui Taehyung menyakiti perasaannku secara sengaja. Hal yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa dia tidak melakukannya untuk menyakitiku, ia hanya melakuakan tindakan kurang ajar kepada semua orang yang berada disektiarnya, di bawah alam sadar pria itu.
Kau tahu apa yang begitu menyakitkan?
Fakta bahwa Kim Taehyung bahkan tidak mengerti aku sedang menangis karena dirinya.[]
Ketukan kasar pada jendela rumahku membuatku terbangun, kepalaku terasa sangat pusing akibat kejadian yang terus tengiang dalam kepalaku, dan juga butiran Ritalin yang tidak kutenggak sejak kemarin malam. Aku melihat bayangan tiga pria yang menggedor gedor jendelaku dengan tidak sabar, sebelum suara Kim Taehyung menyeru keras.
"Jungkook!".
"Pergi dari rumahku!", aku belum pernah merasakan emosi sebesar ini, kekuatan untuk memberontak yang memaksaku untuk balas meneriaki bajingan yang menghantam jendela rumahku hingga bergetar hebat.
"Buka pintunya sekarang!", Taehyung menendang kusen pintu yang berderik derik nyaring. "Berhenti bersikap seperti anak kecil!".
"Dan kau harus berhenti bersikap seperti bajingan!", aku kembali menjerit, lebih keras dari sebelumnya. Aku terlonjak kaget ketika Taehyung berhasil mendobrak masuk pintu rumahku, Jung Hoseok dan Jimin berusaha menahan kedua tangannya.
Aku dapat merasakan emosi luar biasa pada diri Taehyung ketika ia mendekat, wajahnya hanya seinci dari wajahku yang pucat pasi.
"Kau bukan apa apa tanpaku, Jungkook", Taehyung mendesis tajam, mencengkeram leherku erat. "Kau hanya sampah masyarakat, kau tidak akan berada diposisimu sekarang kalau bukan karenaku". Aku mendorong Taehyung dengan kasar, balas mendelik kepada pria yang melihat semuanya dengan arogansi terlalu tinggi, ia kehilangan fakta terbesar.
"Kau lucu, Taehyung. Karena apa?", aku memajukan dirku hingga sejajar dengan pria yang meggeram marah. "Akulah yang selama ini bekerja. Kalian yang membutuhkan aku, tanpa kemampuanku kalian hanyalah segilintiran idiot!".
"Kau bukan siapa siapa!", Taehyung menghantam wajahku hingga aku terpelanting menabrak rak koleksi, darah mengucur dari hidungku. Jimin dan Hoseok meneriakinya keras, berusaha menahan emosi Taehyung yang tidak terkendali.
Aku berteriak marah, menubruk pria yang jatuh bertumpukan denganku, aku melayangkan tinju namun Taehyung menangkisnya dengan mudah, kembali memberi pukulan pada wajahku yang sudah babak belur.
"Kau bukan siapa siapa, Jeon Jungkook", Taehyung menyeringai ketika aku tidak bisa bangkit untuk membalasnya lagi. "Kau tidak berarti tanpaku".
Kim Taehyung berjalan keluar dari rumahku dengan tawa merendahkan, diikuti oleh Hoseok dan Jimin yang kusadari hanya menjawab kepada perintahnya. Aku memang tidak pernah tergabung dengan mereka. Tanpa Taehyung, aku memang bukan siapa siapa.
Dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku.
Aku teringat aksi CLAY yang meretas mesin pencetak BND dua hari lalu. Apakah semuanya sebegitu sederhana? Hanya mempermalukan Pusat Intelejensi Jerman tanpa mendapatkan apa pun selain pengakuan dari 'Tuhan' berinisial MRX?
Kalau iya, mereka memang hanya segelintiran bocah tak berotak.
Aku meraih laptopku yang berhasil terselamatkan diantara kekacauan yang kuciptakan kemarin malam, membuka sebuah berkas yang menampilkan seluruh informasi lengkap akan anggota Pusat Intelejensi Jerman.
Aku mencurinya, tanpa sepengetahuan rekan kerjaku.
Aku memang tidak pernah menjadi bagian dari mereka.
Karena jika kau mengasingkan seseorang terlalu lama, membiarkannya sendiri tanpa seorang pun untuk menemani, kau akan membuat orang itu tidak memercayai siapapun.
Aku tersenyum penuh kebencian, menelusup masuk ke dalam jejaring Darknet dan mendapatkan undangan ke dalam private server MRX.
/WHOAMI/I've brought you a gift./
MRX membuka seluruh data yang kukirimkan kepadanya sebagai persembahan, mengungkapkan anggota lengkap BND yang membuat pria bertopeng 'X' itu mematung beku. Pada hari itu, aku pun mengungkap sebuah rahasia besar.
Bahwa Krypton—anggota organisasi terorisme Darknet yang tergabung ke dalam FRI3NDS bekerja sebagai agen ganda, ia justru bekerja di bawah naungan Kim Seokjin sebagai Kepala Divisi Cyber di Federal Intelejensi Jerman.
Kypton adalah mata mata yang hendak mengungkap seluruh identitas anggota kelompoknya.
MRX tersenyum miring kepadaku dibalik topengnya, menyodorkan tangan yang kujabat tanpa keraguan sedikitpun.
/MRX/Welcome to the underworld/.[]
Aku terkejut ketika Kim Taehyung dan anggota CLAY yang lain mendatangi rumahku. Aku ingin mengatakan tepat di wajah bangsat arogan itu bahwa aku telah membuat MRX terkesan—ketika, Hoseok menyalakan televisi yang menyiarkan kematian Krypton—hacker sekaligus agen ganda yang tergabung dengan FRI3NDS untuk memata matai aktivitas mereka, bekerja dengan BND tepat di bawah hidung mereka sendiri.
Pria bernama asli Kim Namjoon itu ditemukan meninggal di apartemennya di New York dengan luka tembak di kepalanya. Sebuah lubang pun terkuak di depan mataku, menghantamku tepat di ulu hati ketika aku menyadari aku telah membuat kesalahan besar.
MRX adalah anggota terakhir FRI3NDS, ia adalah ketua organisasi terorisme itu. Krypton bekerja sebagai bawahannya, tanpa sepengetahuan MRX membeberkan informasi FRI3NDS kepada Federasi Jerman. Itulah mengapa MRX terkejut ketika aku memberinya sebuah hadiah. Ia tidak terkesan, ia murka.
Dan Ia membunuh pengkhianat itu tanpa membuang waktu sedetik pun.
Seperti belum cukup menghancurkan kami semua, berdasarkan peretasan besar besaran CLAY akan Federal Intelejesi Jerman dua hari silam, mereka pun menjadikan CLAY sebagai tersangka pembunuhan Krypton sekaligus organisasi terorisme paling dicari karena mencur informasi penting negara.
Untuk sesaat yang singkat, aku berpikir aku telah memenangkan segalanya. Aku selalu berpikir bawha Taehyung adalah keparat arogan yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Sampah masyarakat yang terlalu bodoh untuk memecahkan sistem dan kode.
Namun, kenyataannya—I am the idiot.
Aku yang menghancurkan teman temanku, aku terlalu memikirkan diriku sendiri sampai mengkhianati CLAY dengan memberikan informasi rahasia kepada MRX, bekerja seorang diri dibelakang punggung mereka. "Sudah berapa kali kuperingatkan kepada kalian untuk tidak menyentuh apa pun?!", Taehyung berteriak marah, dan aku sadar, diatas segala sikap kurang ajarnya, ia adalah orang yang menjaga keselamatan anggota CLAY lebih dari nyawanya sendiri.
Meski dia bisa membuat MRX terkesan dengan mencuri data data penting dari Federasi Jerman, ia justru merelakannya begitu saja. Dia bukan idiot karena menerobos markas teraman di Jerman hanya untuk melipat gandakan poster berlukiskan badut.
Ia bukan orang bodoh dengan ambisi seperti anak kecil.
Ia hanya berusaha menjaga nyawa teman temannya, karena ia bertanggung jawab atas pendirian CLAY, dan dia menjaga kewajiban itu dengan baik. Hingga aku membocorkan segalanya, kepada orang yang salah.
Aku tidak pernah tahu bahwa MRX adalah bagian dari FRI3NDS, aku tidak tahu bahwa dia adalah ketua organisasi yang dikhianati oleh Krypton.
Aku tidak mengerti dia akan membunuh pria malang itu.
"Jungkook", Taehyung menatapku tidak percaya, aku menunduk dalam, tidak bisa menatap manik yang memancarkan kegelisahan, keresahan, bahka Jimin meringkuk dengan cemas. "Kau satu satunya orang yang berada di server utama. Apa kau yang membocorkan informasi itu?".
Aku mengangguk tanpa memberikan pembelaan.
"FUCK!".
Aku terdiam ketika Taehyung mengumpat keras, membaca ekspresiku yang tertekan dan merasa bersalah. Bagaimana tidak? Federal Intelejensi Jerman sedang memburu kami, organisasi terorisme Darknet menginginkan nyawa kami.
"FUCK! FUCK! FUCK!", Taehyung menggigit jarinya, aku belum pernah melihat pria itu begitu kacau dan tidak terkendali. Dan aku justru melihat air mata yang merebak dalam mata Taehyung. Bukan ini yang kami inginkan, kami bukan sebuah organisasi rahasia yang melancarkan aksi terorisme.
Kami hanya sekumpulan peretas yang ingin didengar oleh masyarakat.
Kim Taehyung menangis sembari menjambak rambutnya, aku tidak kuasa selain berpaling untuk menemukan Jimin yang meringkuk di sudut. Pandangan matanya liar, melirik ke segala arah, menunggu desingan peluru yang akan melubangi kepalanya.
Jung Hoseok menatapku dalam, sebelum seringai geli terpatri pada bibirnya.
Akhirnya, aku membuat kesalahan fatal. Akhirnya, aku mengecewakan mereka semua.
"Apa kau sinting, Jungkook?! Taehyung menatapku sembari terisak isak. Ia bukan lagi bajingan kurang ajar yang memerintah orang seenaknya. Ia hanya seorang pria berumur 22 tahun yang sangat amat ketakutan, menanggung beban nyawa teman temannya di pundak.
"Aku mempunyai rencana", Hoseok mengambil laptopnya dari koper. Jung Hoseok mengamati Taehyung yang menangis sembari mencengkeram rambut di sampingnya, Jimin yang berulang kali membuka korden, sebelum kembali meringkuk di sudut.
Ia hanya bisa bekerja bersamaku.
"Jungook, apa kau mengerti Trojan Horse?".
Aku mengangguk pelan.
Kuda Troya adalah perangkat lunak komputer yang menyamar menjadi sebuah file yang tidak berbahaya, bertujuan untuk merusak sebuah sistem atau jaringan. Hoseok segera mengoperasikan kode.
"Kau telah membuat MRX terkesan, kita akan berpura pura untuk meminta bergabung ke dalam FRI3NDS", Hoseok menayangkan perangkat lunak dengan kode yang bergilir seperti aliran air. Aku mengangguk paham, Taehyung dan Jimin mendekat setelah mengendalikan emosi mereka.
"Ketika MRX menyentuh Trojan Horse, aku akan mendapatkan akses ke dalam jaringannya, menguak identitas MRX dan nama kita akan dibersihkan". Ia menambahkan sembari tersenyum miris. "Federasi Jerman menginginkan FRI3NDS, kita hanya kelompok kecil yang menampilkan sebuah lelucon, mereka tidak akan peduli. Kita serahkan FRI3NDS⸺".
"And we'll walk away a free man", Taehyung bersuara lirih. Namun, kepanikan kembali mengalir pada diri kami ketika suara mobil berangsur angsur mendatangi rumahku. Taehyung membawa kami berlari melewati pintu belakang, berjalan ke perpustakaan terdekat.
Mungkin kami sudah gila.
Mungkin kami sangat putus asa sampai menggunakan server dari sebuah komputer umum.
Kami meluncur masuk ke dalam Darknet yang berisi dengan peretas dari sekian banyak negara, berkumpul di dalam kereta yang berkabut, topeng menghiasi tiap wajah mereka yang tersembunyi dengan baik.
Aku melihat MRX di ujung kompartemen kereta, menelengkan kepalanya kepadaku, aku dapat merasakan sebuah senyum dingin di balik topeng berlambang 'X' itu.
/CLAY/We want to join FRI3NDS/.
/MRX/You did a great job with BND, Little Clowns/.
/MRX/I'll send you your first mission/.
"Hey, kita sudah terlalu lama tersambung. Kita terlalu lama!", Hoseok mendesakku yang berusaha berkonsentrasi dengan layar komputer, menerima kiriman dari MRX, mengunduhnya ke dalam flashdisk.
40%.
—
Kim Seokjin mengumpulkan orang terbaiknya yang sedang melacak keberadaan CLAY, organisasi terorisme yang telah mencuri data Pusat Intelejensi Jerman. Salah seorang anggotanya memanggil Seokjin untuk mendekat. "Sir, Aku mendapatkan sebuah sinyal dari akun palsu, sinyalnya berpindah pindah lokasi tiap 3 detik sekali".
"Apa kau bisa mempersempitnya?".
Wanita itu mengangguk, "Sinyalnya selalu saja kembali pada satu titik".
"Pinpoint the location. Now!", Seokjin mendesak keras, pekerjaannya sedang berada di ambang kehancuran. Ia telah gagal mengunkap identitas MRX dan FRI3NDS setelah sekian lama. Ia tidak akan membiarkan badut anarkis itu menghancurkan kesempatan terakhir Seokjin.
"Sir, Aku mendapatkannya!", wanita itu menyeru. "Mereka berada di sebuah perpustakaan umum di Berlin".
—
"Cepat! Cepat! Cepat!", Hoseok berteriak tepat di telingaku, jari jemariku bergetar hebat ketika aku mendengar sirene polisi di dasar gedung, langkah kaki para agen rahasia yang menaiki tangga. "Jungkook!".
100%.
"Sudah!", aku mencabut lepas flashdisk itu dari soket komputer umum, meraih ranselku dan berlari secepat kilat di lorong perpustakaan. "Kita berpencar! Sekarang!", Taehyung berlari berlawanan arah denganku, begitupula Hoseok dan Jimin yang berpisah dengan raut panik terlintas pada wajahnya.
Aku menuju tangga darurat, mematung ketika melihat dua pria bersetelan hitam yang menyongsong naik dengan pistol di kedua tangan. Aku berbalik badan, memasang topeng badut dan menaikkan tudung jaketku sebelum berlari seperti nyawaku berada di ambang kematian.
Aku berbelok pada lorong perpustakaan yang bercabang, jantungku bertalu talu ketika aku berhenti di sebuah ruangan yang dikelilingi dengan pembatas kaca. Aku terengah engah, sebelum melihat bayangan yang melintas di sampingku dan waktu terasa seakan akan berhenti.
Aku berbalik badan, mataku yang tersembunyi dibalik topeng menatap tepat ke dalam mata Kepala Divisi Cyber yang tercenung. Aku bertatap tatapan dengan Kim Seokjin yang terlalu terkejut ketika menemukanku sebelum ia berlari secepat kilat ke balik pembatas.
Aku langsung menggerakkan kedua tungkaiku menaiki tangga, ranselku tersemat erat di kedua pundak, aku hendak memasuki ruang makan ketika melihat wanita berseragam yang berkomunikasi melewati comms ditelinganya.
"Sial. Sial. Sial!", aku mengumpat keras, menyusupkan diriku ke dalam ruang komputer tempat CLAY berkumpul lima menit yang lalu. Aku bersembunyi di bawah meja, menahan napasku yang berhembusan liar ketika aku mendengar keletukan sepatu Kim Seokjin yang sudah memasuki ruangan.
Agen rahasia itu berjalan dengan telinga yang terpasang tajam, mendengarkan suara sekecil apa pun, matanya meneliti tiap sudut. Aku memejamkan mata, memikirkan ketenangan yang kudapatkan ketika berada di depan layar laptop, sistem dan kode yang selalu menjadi hiburan dari kesendirianku.
Langkah itu pun berhenti.
"Jin!", seorang pria berlari masuk, terengah engah sembari memegangi lututnya. "Mereka hilang, lenyap begitu saja di telan bumi".
"There's nothing here", ia menggeleng putus asa, membutuhkan jeda yang sangat panjang sebelum Kim Seokjin berjalan mengikutinya, rasa kecewa terlintas jelas pada wajah pria yang kembali dihadapkan dalam kegagalan.
Aku menghembuskan napas lega yang kutahan selama aku bersembunyi, sebuah senyum terlintas pada bibirku ketika aku melepas topeng dan berjalan keluar dari perpustakaan umum secepat yang kubisa. Kim Taehyung tengah merokok di dinding perpustakaan, bersama dengan Jimin dan Hoseok yang berpencar agar tidak mengundang curiga.
Taehyung menangkap kehadiranku, tersenyum sinis.
"Kau tahu? Aku telah berdoa kepada Tuhan seumur hidupku dan dia tidak pernah menjawabnya. Dia menelantarkanku begitu saja, sama seperti ia membuangmu", Taehyung mendekat kepadaku, mengusap kepalaku dengan seringai nakal yang sudah menjadi ciri khasnya. Satu dua hal yang membuatku jatuh cinta kepada Taehyung.
"Hari ini benar benar kacau, dan kita akan memperbaikinya".
Aku mengangguk, merasa tenang ketika Taehyung kembali mengusap puncak kepalaku.
"Apa kau siap membalas semua perbuatan Tuhanmu, Jungkook?".
Aku mengangguk, tersenyum asimetris sembari berjalan kembali ke markas besar. "Mari hancurkan MRX".[]
