Thanks To :

Guest | Dimytjx | Yuta Noona | Rina Putri299 | Kentang Goreng97889495 | Babychickjojang | Mocinlee99 | Byunnie puppy

.

Jaehyun menatap datar pada Johnny yang tengah berdiri di depan almarinya. Johnny berdiri di sana sambil merentangkan tangannya. Mencoba menghalangi Jaehyun yang berniat mengemasi barang-barangnya yang sekiranya akan ia gunakan untuk di LOTJ nanti.

"Hyung, bisakah kau menyingkir dari sana? Aku ingin segera bersiap, hyung," Lama-lama Jaehyun jengah sendiri melihat kekasihnya yang seperti anak kecil begini. Johnny menggeleng dengan tegas. Menolak untuk bergeser apalagi menyingkir dari depan almari Jaehyun.

"Hyung, sungguh, jangan menjadi seperti anak kecil begini. Aku 'kan hanya mengikuti apa yang sudah menjadi jadwalku hyung. Kau jangan egois beginilah," Jaehyun berdecak kesal. Ia menghentakkan kakinya sementara matanya menyipit menatap Johnny.

Johnny tak bergeming. Ia tetap diam di tempat sementara matanya memperhatikan gerak-gerik Jaehyun. Jaehyun pun mendekati Johnny, menarik tangan yang lebih tinggi hingga sang empunya bergeser.

"Diam di situ, setelah aku selesai baru kita bicara." Jaehyun menatap tajam Johnny yang dibalas helaan nafas dari sang kekasih.

Jaehyun pun membuka almarinya, mengeluarkan tas ransel hitamnya dan juga beberapa pakaian yang cocok untuk hidup di hutan. Johnny melangkah mundur, duduk di atas ranjang Jaehyun. Matanya menatap punggung Jaehyun dengan pandangan sendu.

"Kenapa kau menerima pekerjaan ini sih, Jaehyun-ie? Kau masih marah padaku, gara-gara foto kita di Hongkong* waktu itu?"

Jaehyun melirik Johnny dalam diam. Jaehyun mendengus pelan, sudah pelan-pelan ia mencoba melupakan masalah itu, malah diungkit-ungkit lagi. Mau apa sih Johnny ini?

"Aku saja tidak marah saat kau sekamar dan foto bersama Taeyong di Jakarta** kemarin, tapi kenapa kau malah menerima pekerjaan ini yang membuat kita berdua jauh? Jika kau benar-benar ada masalah denganku, kau bilang saja. Tidak perlu kabur begini, Jaehyun-ah."

Jaehyun mencengkram kuat baju yang berada di tangannya. Ia berbalik dan menatap Johnny dengan pandangan lelah.

"Kau ini kenapa sih hyung? Sedari tadi mengoceh tidak jelas. Kau tahu sendiri jika ini juga bukan kemauanku, tapi aku harus bagaimana lagi? Manager hyung sudah menerima pekerjaan ini, mau tak mau aku harus tetap pergi hyung. Dan ini tidak ada hubungannya dengan foto-foto di Hongkong maupun Jakarta."

Jaehyun kembali berbalik. Mengambil dua buah kaosnya dan memasukkan asal ke dalam ranselnya. Jaehyun lantas menutup almari miliknya dengan kencang yang menimbulkan bunyi 'Brakk' kuat.

"Aku tidak tahu, ternyata berhubungan denganmu aku harus banyak bersabar. Aku cukup tahu jika kau pernah mencintai Taeil hyung atau malah masih mencintainya. Tapi hyung, tidak bisakah kau menghargai perasaanku sedikit saja? Aku kekasihmu sekarang hyung. Aku sakit melihatmu tersenyum bersama orang lain yang nyatanya mantan kekasihmu sendiri. Apa kau tahu itu hyung?"

Jaehyun menundukkan kepalanya setelah mengatakan hal apa yang membuatnya diam beberapa waktu ini. Johnny berdiri dari duduknya, memeluk dari belakang tubuh Jaehyun dan menaruh dagunya di bahu Jaehyun.

"Maafkan aku, Jaehyun-ah. Kau tahu, aku masih belum bisa mengontrol perasaanku sekarang. Maka dari itu, aku masih sangat membutuhkan bantuanmu. Seperti waktu itu aku bilang, jika ada sesuatu yang mengganggumu karena sikap dan tingkahku, katakan saja. Aku siap merubahnya, Jaehyun-ie."

Jaehyun memegang tangan Johnny yang memeluknya. Johnny semakin mengeratkan pelukannya, dikecupnya pipi gembil Jaehyun dengan gemas.

"Dan aku hanya khawatir padamu, Jaehyun-ie. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu di luar sana. Aku tidak ingin kau terluka Jaehyun," bisik Johnny di telinga Jaehyun.

"Aku mengerti hyung, jika kau begitu khawatir padaku. Tapi kau tenang saja, aku sudah bertanya banyak hal pada Yuta hyung. Juga nantinya aku akan bersama orang-orang yang sudah sangat berpengalaman, jadi kau tenang saja. Aku pasti akan baik-baik saja."

"Itu yang aku harapkan, Jaehyun-ie. Maaf sudah marah padamu tadi."

Jaehyun menggeleng pelan, ia berbalik. Jaehyun lantas mengalungkan tangannya di leher Johnny.

"Aku juga salah karena sudah marah tanpa alasan yang jelas padamu hyung. I'm sorry," Jaehyun kembali menunduk. Johnny terkekeh pelan, ia mengacak rambut Jaehyun gemas sebelum melingkarkan kembali tangannya di pinggang Jaehyun.

"Tidak Jaehyun-ah, aku senang kau marah padaku tadi. Setidaknya aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Bukan seperti beberapa hari ini yang kau hanya diam saja, kau tahu? Itu membuatku bingung."

Jaehyun mengangguk pelan, ia kemudian menaruh kepalanya di bahu Johnny dan memeluk tubuh kekasihnya erat.

"Aku mencintaimu, hyung."

Johnny tersenyum, ia membalas pelukan Jaehyun.

"Aku juga mencintaimu, Jaehyun-ie."

.

.

Taeyong mengernyitkan dahinya ketika matanya menemukan sosok Yuta yang duduk di balkon dorm. Melangkah pelan, Taeyong mendekatkan dirinya pada Yuta dan duduk di samping kekasihnya.

"Melamun saja," bisik Taeyong seraya berbisik di telinga Yuta. Yuta menoleh dan mendengus pelan melihat kekasihnya itu.

"Kenapa kau di sini?" Mata Yuta memicing menatap Taeyong. Kernyitan di dahi Taeyong bertambah mendengar suara datar kekasihnya. "Memangnya salah? Aku ingin menemanimu, Yuta-ya," balas Taeyong dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

"Aku tidak butuh kau temani. Kembali ke kamarmu sana!" Usir Yuta dengan ketus.

"Kau ini kenapa sih Yuta? Sikapmu aneh sekali," Taeyong menatap bingung pada Yuta.

Yuta menghela nafasnya, "Aku hanya ingin sendiri, Taeyong-ah. Pergilah, ku mohon.." Yuta memandang lurus pada mata Taeyong dengan mata yang berembun.

Taeyong menghembuskan nafasnya, "Tidak Yuta. Tidak sebelum kau cerita padaku apa yang terjadi padamu, apalagi membuatmu menjadi seperti ini. Sekarang kau cerita padaku dan setelah itu baru aku pergi."

Yuta menggigit pipi dalamnya ketika tatapan Taeyong berubah menjadi lebih tajam. Yuta pun mengangguk pelan, Yuta perlahan mendekatkan tubuhnya pada Taeyong dan menaruh kepalanya di bahu Taeyong.

"Aku hanya sedang rindu pada orangtuaku, Taeyong-ah. Entahlah, tiba-tiba saja aku memikirkan mereka dan membuatku menjadi merindukan mereka," gumam Yuta pelan seraya memejamkan matanya.

Taeyong menyunggingkan senyum kecil, satu tangannya melingkar dengan pas di pinggang Yuta dan tangan lainnya mengusap-usap rambut Yuta.

"Oh, jadi kau merindukan mereka? Kenapa tidak bilang padaku sedari tadi?"

Yuta mendengus pelan masih dengan menutup matanya. "Bukannya kau tadi sedang sibuk dengan Doyoung dan Johnny? Kalian 'kan sibuk membicarakan tentang pekerjaan kalian lusa," bibir Yuta maju beberapa centi setelah mengucapkan hal itu.

"Sepertinya ada yang cemburu ya?" Taeyong terkikik pelan melihat wajah Yuta yang bersemu merah.

"Aku. Tidak. Cemburu."

Mata bulat Yuta terbuka, ia menatap tajam Taeyong yang dibalas senyuman lebar.

"Tapi suaramu tadi terdengar kesal, lho. Yakin kau tidak cemburu? Kau cemburu karena tidak dapat menggantikan Jaehyun di Nnana FM hm?"

Tebakan Taeyong yang sepenuhnya betul itu membuat sorot mata Yuta meredup. Ia melepas pelukannya di tubuh Taeyong dan duduk menjauh. Taeyong kembali menatap Yuta bingung.

"Aku tidak cemburu Taeyong-ah. Aku hanya, ya sedikit iri pada kalian. Kalian mempunyai pekerjaan individu yang dapat membuat orang-orang lebih sering mendengar, melihat dan mengenal kalian sebagai bagian dari NCT. Tapi aku? Banyak orang yang belum tahu aku sebagai bagian NCT. Bakatku juga tidak begitu dapat aku tunjukan dengan baik sekarang," Yuta menundukkan kepalanya.

"Aku ingin juga seperti kalian, tapi seperti kata Hansol hyung, semua butuh waktu. Dan aku akan menunggu itu," sambung Yuta seraya mengangkat kepalanya dengan senyum tipis yang mengembang.

"Membicarakan Hansol hyung, aku baru ingat jika aku ada janji dengan dia dan Ten. Aku pergi dulu Taeyong-ah. Jangan khawatir, aku tidak akan pulang malam," senyum Yuta melebar ketika dua mata keduanya bertemu.

Taeyong dapat melihat pandangan sendu dari mata orang terkasihnya itu.

"Hati-hati. Dan jika ada apa-apa, segera hubungi aku," pesan Taeyong.

Yuta menganggukkan kepalanya sebelum menghilang di balik pintu. Taeyong mendesah pelan, ia tak menyangka jika kekasihnya memiliki perasaan dan pemikiran seperti itu. Sepertinya, Taeyong memang bukan orang yang begitu peka. Apalagi dengan perasaan Yuta. Tapi, Taeyong bukan Johnny kedua, 'kan?

.

.

"Sudahlah hyung, kau jangan bersedih begini. Lagipula 'kan Jaehyun hyung hanya pergi sebentar," Haechan yang sedang duduk di sofa depan televisi dengan Johnny yang duduk di samping kanannya. Johnny hanya diam tak merespon, matanya menatap lurus pada acara televisi yang tengah menampilkan acara variety show.

"Benar hyung. Lebih baik kau segera bersiap-siap untuk pergi bersama Doyoung hyung ke Nnana," sahut Mark seraya menepuk bahu Johnny. Mark duduk di samping kiri Johnny, yang berarti Johnny duduk di tengah-tengah Mark dan Haechan.

Johnny tetap diam. Membuat Mark dan Haechan mengedikkan bahu mereka acuh sebelum kembali fokus pada televisi di depan mereka.

"Ada yang lihat Yuta?" Taeyong tiba-tiba muncul di belakang mereka. Haechan yang menoleh pertama kali dengan anggukan kepala, "Aku lihat. Dia pergi keluar bersama Winwin hyung tadi."

"Kemana?"

"Aku tak tahu. Mereka tidak bicara apa-apa tadi," Haechan menjawab acuh tak acuh pada Taeyong yang sepertinya tengah menahan amarahnya itu.

"Kalau begitu jika dia pulang, bilang untuk menemuiku di kamarku. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya," pesan Taeyong yang kemudian berlalu menuju kamarnya.

Haechan mengangguk pelan. Mark pun menatap sang maknae penuh dengan keingintahuan.

"Kira-kira, Taeyong hyung kenapa ya?"

Haechan mengangkat sebelah bibirnya membentuk seringai kecil, "Aku tahu Taeyong hyung kenapa."

"Kenapa?" Mark kembali bertanya. Johnny yang tertarik pun melirik pada evil maknae di grupnya itu.

"Pasti ada hubungannya dengan Yuta hyung yang memanggil Taeyong hyung, Taeyong-chan."

Lalu keduanya pun saling menatap satu sama lain sebelum tertawa bersama. Johnny yang turut mendengar pun hanya bisa tertawa dalam hati.

"Sepertinya, aku harus menginap di dorm Dream malam ini." -Mark Lee.

"Aku tiba-tiba rindu dengan Ten hyung. Tidur di dorm bawah sepertinya bukan hal buruk." -Lee Haechan.

"Menginap di studio Nnana bukan masalah kok. Lagian Jaehyun juga tidak di sini." -Johnny Seo.

.

TBC

.

A/N

* : Foto di backstage habis konser di Hongkong beberapa waktu lalu yg ngebuat Wi kepikiran. Soalnya ekspresi JohnIl di foto itu happy banget sementara ekspresinya Jaehyun sepet. Senyum aja ngga.

** : Foto pas di Jakarta, yg membuat beberapa shipper bahagia dan beberapa shipper patah hati.

Wi cuma mau nepatin janji. Meski ini pendek dan mungkin ngga sesuai sama yg kalian harapkan. Tapi bener deh, Wi lagi sibuk banget buat dua bulan ke depan. Jadi, Wi harap kalian ngerti ya. Wi juga cari-cari kesempatan buat ngetik.

Wi ngga janji bisa update buat chap selanjutnya. Tapi diusahakan buat update!

Wi!