THE TROJAN HORSE
Pekerjaan yang MRX berikan kepada kami tidaklah mudah. Ia menginginkan data rahasia dari Europol. Pusat Intelejensi Jerman adalah terobosan terbesar kami. Namun, berbeda dengan itu, Europol tidak memberikan secercah akses masuk pun bagi tikus pengerat seperti CLAY.
Kami tidak menemukan jalur lain atau jaringan yang dapat membantu kami menerobos sistem keamanan Europol yang dijaga ketat selama 24 jam. Kami sudah mencoba saluran bawah tanah dan terhambat oleh jeruji yang memblokade jalan masuknya. Kim Taehyung berusaha membuka besi itu dengan umpatan frustasi, hingga ia melukai telapak tangannya yang tertancap paku berkarat.
Pria itu menjerit keras, darah mengucur dari tangannya yang berlubang. Kami dilanda serangan panik ketika teriakan Taehyung bergema dalam saluran bawah tanah. Aku berusaha menghentikan pendarahan Taehyung sementara dua yang lain mengawasi apakah ada yang mendengar kita atau tidak. Semuanya pun kembali kacau sampai Taehyung berhasil mengendalikan emosinya.
"Tidak bisa, tidak ada jalan masuk sama sekali", Taehyung menyembur kesakitan di luar markas besar Europol, aku memegangi telapak tangannya yang dibalut perban, darah segar itu menembus kain kasa yang sudah ternoda merah. "Tidak ada muslihat atau teknik apapun yang akan berhasil menembus markas sialan itu".
Kami kembali terdampar pada keputusasaan. Hoseok pun memaksa kami kembali ke markas sebelum kami menarik kecurigaan dari petugas Europol yang sedang berjaga. Aku tidak mendengarkan umpatan Taehyung ketika mataku teralih pada barisan mahasiswa yang memasuki bus pariwisata. Dan aku melihat sebuah kartu identitas yang terjatuh di tanah.
Teman temanku telah berjalan jauh, dan aku kembali pada titik yang sama. Aku mengambil kartu identitas itu tanpa sepengetahuan yang lain, kembali melakukan tindakan sepihak di belakang punggung mereka sendiri.[]
"Jungkook", Taehyung tersenyum simpul di ujung pintu dapur markas malam harinya. Ia mendekatiku yang tengah mencampur berbagai bahan kimia yang menguarkan asap dalam sebuah baskom. Aku berpaling kepada Taehyung, melihat pria itu masih tersenyum manis⸺senyum tulus yang ia berikan kepada pengemis di malam kedua kami bertemu.
Ia membantunku mencampurkan bahan kimia yang sudah diintruskikan Hoseok, membumi hanguskan bukti bukti keberadaan CLAY. Kami akan mengincar MRX, berencana untuk menguak identitasnya dan mengalahkannya dari permainannya sendiri. Tuhan yang di usir dari dunia kekuasaannya.
"Hey, dengar", Taehyung menatapku lekat lekat, aku masih terlalu sibuk menyelesaikan pekerjaanku untuk balik memperhatikan pria berwajah tampan itu. Lebih tepatnya, aku tidak bisa menatap ke dalam matanya. Tidak setelah apa yang terjadi di kelab malam.
"Aku ingin meminta maaf soal Marie. Aku tahu kau sudah menceritakanku bahwa dia gadis pujaanmu, dan—", Taehyung mendengus menyesal. "Aku rasa aku memang bersikap seperti bajingan".
"Memang", aku tersenyum pahit, mengira ngira mengapa Taehyung tidak langsung memotong pada akar permasalahannya saja. Atau—aku berbalik, menatap Taehyung untuk yang pertama kali setelah kejadian di dalam kelab. Hazelnya memandangiku dalam, lembut, tidak ada kebohongan di dalam keliaran wajah Taehyung.
Dia tidak mengerti.
Hatiku mencelus ketika aku menyadarinya. Taehyung tidak mengerti bahwa bukan Marie lah yang kupermasalahkan. Dia tidak mengerti aku menyimpan perasaan untuknya.
Aku menelan ludah, berkonsentrasi pada penghapusan jejak CLAY ketika Taehyung semakin mendekat kepadaku, ia menyerahkan lateks bening yang kutolak sesopan mungkin. Sebelum pria itu meraih tanganku dan memakaikannya.
"Jungkook, kau tak perlu takut denganku", ia melesakkan jari jemariku dengan lembut, memastikan telapak tanganku tidak tersentuh oleh bahan kimia. Taehyung tersenyum miris, "Aku bukanlah siapa siapa".
Aku menaruh atensiku sepenuhnya pada pria berkulit tan yang menunduk muram, sisi Taehyung yang merasa gelisah dan cemas, merasa kesepian sama seperti diriku, Jung Hoseok, dan juga Park Jimin.
"Kau tahu—", Taehyung tertawa lirih. "Aku bersikap arogan untuk menutupi semua kelemahanku. Karena aku hanyalah sampah tak berguna dibandingkan dengan kalian". Ia menatapku dengan ekspresi kagum yang membuat jantungku mencelus. "Jungkook, aku tidak bisa apa apa. Aku selalu memerintah kalian seenaknya sendiri untuk menutupi bahwa aku tidak bisa melakukan apapun".
Aku terengah ketika Taehyung menguburkan wajahnya pada pundakku, aku merasakan setitik air mata menetes ke leherku, menyentuh kulitku yang seperti terbakar api. "Aku tidak bisa memprogram, aku tidak mengerti apa pun tentang sistem dan kode. Aku bukan peretas".
Taehyung menghela napas panjang, "I'm just a Script Kiddies".
Aku menyentuh pundak Taehyung lembut, mengabaikan detak jantungku yang berdentam dentam liar sebelum tersenyum miris, "I know".
Taehyung terengah, menatapku yang sudah melanjutkan pekerjaan. Tentu saja aku tahu, aku menyadari bahwa yang pernah ia lakukan adalah memerintah, memerintah, dan menyuruh kami seenaknya. Sedangkan dia hanya menunggu hasil.
Aku tidak pernah sekali pun melihat jemari lentik Taehyung memprogram sesuatu.
Aku sudah tahu sejak awal.
"Hey, bocah. Apa aku menganggu momen panas kalian?", Park Jimin tertawa mengejek, Taehyung justru merangkulku alih alih merasa terangkap basah. Hoseok masuk dari ruang tengah nenekku, melihat hasil pekerjaan kami dengan decakan puas.
"Tidak ada yang tersisa?".
Aku menggeleng, "Tidak ada".
"Bagus".
Kami bagaikan hantu sekarang.[]
Aku telah melakukan kesalahan yang besar, membahayakan nyawa Kim Taehyung, Park Jimin, dan Jung Hoseok karena pertemuan rahasiaku dengan MRX. Sekarang, kami adalah organisasi terorisme buronan Europol, dibawah perintah Kim Seokjin yang sedang mempertaruhkan karirnya.
Dan aku mempertaruhkan empat nyawa.
Aku bukan siapa siapa.
Kim Taehyung membawaku untuk mengenal dunia yang baru, berkerja bersama dengan mereka merupakan sebuah keajaiban yang tidak pernah kurasakan. Diluar sikap mereka yang liar dan anarkis, aku tahu mereka hanya kesepian, terluka, dikucilkan. Seberapa besar pun Taehyung percaya kepada dirinya, aku tahu dia hanya berusaha menutupi rasa takutnya akan pandangan orang lain.
Ia begitu memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya sendiri, ia terpaksa melakukan rekayasa sosial, memanipulasi perasaan seseorang agar tunduk di bawah pengaruhnya.
It's either him or them, and he never choose to lose.
Social engeneering.
Kim Taehyung mengajarkannya kepadaku ketika aku masih pecundang yang tidak bisa bersosialisasi dengan baik, terkagum kagum hanya dengan peretasan manusia perihal sebuah donat. Aku masih bocah ingusan yang memikirkan perasaanku kepada Marie, gadis idamanku sejak aku duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Namun, semua sudah berbeda sekarang. Aku tahu aku berguna, aku berpengaruh di dalam dunia yang menguclikanku sejak dini, dan aku sudah membuat kesalahan besar. Maka, disinilah aku, berdiri dengan wajah babak belur di depan markas besar Europol. Gelisah, cemas, diliputi rasa takut yang selalu kurasakan selama hiudpku.
Perbedannya—
Itu hanyalah sebuah topeng.
Aku menghampiri penjaga keamanan yang sedang berjaga di depan gerbang, bibirku yang sobek bergetar, napas dingin terhembus dari mulutku. "P-Permisi, Sir", aku mendekat, cahaya lampu menerangi lebam dan luka yang melintangi dahi dan mata kiriku.
"Aku adalah bagian dari tur wisata", aku tergapap, mengeluarkan tanda pengenal yang kucuri pada malam sebelumnya, berusaha menenangkan perasaan gelisah yang hanya sebatas ilusi.
Petugas itu mengecek tanda pengenal yang sudah kuganti dengan identitasku sendiri dan mengangguk.
"Aku meninggalkan dompetku di kafeteria. Kalau anda memperbolehkanku untuk masuk sebentar saja dan mengambilnya—".
Petugas itu menggeleng, menghela napas menyesal, "Maaf, Nak. Tidak ada yang boleh masuk diluar waktu kunjungan. Kau bisa kembali besok".
"T-Tapi, Sir", aku menunduk dalam, meremas jemariku berulang kali dengan rasa takut dan kegelisahan yang membuat penjaga itu mendekat. "Ayahku—kau melihat apa yang ia lakukan kepadaku", aku menggeleng lirih, memejamkan mata untuk mengatur napasku yang tersendat sendat.
Pria itu mengamati wajahku yang babak belur dengan perasaan iba.
"Kalau dia tahu aku kehilangan dompetku. Dia akan—", suaraku pecah di tengah kalimat, aku berusaha menahan air mata yang hendak mengalir turun, pandanganku sudah memburam. Penjaga keamana Europol itu bergerak gelisah, tidak bisa mengkhianati pekerjaannya sendiri. Tapi, hati nuraninya juga tidak bisa melihat bocah malang yang terlihat sangat putus asa.
"Maaf, Nak", pria itu menggeleng penuh penyesalan.
Air mata itu mengalir turun dari pipiku sebelum aku memaksakan seulas senyum lirih, "Aku mengerti, Sir. Terimakasih", aku berbalik badan dengan langkah yang goyah, mengarungi jalanan Berlin seorang diri ketika penjaga itu menyeru.
"Tunggu!".
Ia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat tindakannya sendiri. "Dua menit, okay? Kau bisa menemukannya, kan?".
Aku mengangguk kecil, sebuah senyum dingin terukir pada bibirku ketika penjaga keamanan Europol membuka pintu markas lebar lebar, membuka akses masuk bagiku untuk menghancurkan seluruh sistemnya.
Aku berbalik badan, berjalan dengan tergesa gesa dan wajah panik, diikuti penjaga yang menuntunku ke dalam kafetaria.
Pria itu berjaga di depan pintu kantin yang sudah gelap dan sepi, aku menelusup ke dalam, berjalan cukup jauh dan membongkar ranselku. Tanganku bergerak cepat ketika aku mengeluarkan alat peretas dan mengoperasikannya.
Satu menit.
Konsentrasiku tertuju penuh pada alat yang berkedip kebiruan, aku mendengar petugas itu mengumpat sebelum malangkah tergesa gesa ke arahku. Aku mengertakkan gigi, menempel alat peretas di bawah meja kafeteria sebelum mengeluarkan dompet kulitku dari saku celana.
Dua menit.
"Aku menemukannya!", aku tersenyum bungah, melayangkan dompet dijemariku ketika petugas itu sampai pada meja barisan ketiga. Ia melihat ke sekeliling, sebelum mengangguk kepadaku dan mengomandoku untuk keluar dari markas besar Europol.
Aku memutuskan untuk melakukan semuanya seorang diri karena aku menyadari kesalahan fatal yang membuat kami terjepit dalam situasi hidup atau mati. Semua yang begitu sederhana, sekarang terbelit belit oleh jejaringan konflik yang harus segera kuselesaikan. Mengambil resiko sudah menjadi keseharianku. Namun, aku tidak akan bersikap ceroboh.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Aku akan mengungkap jati diri MRX.[]
Aku menaikkan tudung jaket biruku menutupi wajah, mengabaikan para pengunjung kafe yang saling bercakap cakap dengan teman atau pasangannya. Aku sendiri berkutat dengan latop dan jalan terakhir yang harus kuputuskan sekarang.
Aku menyelam ke kedalaman Darknet, topeng badut menutupi parasku yang tersembunyi dengan baik, WHOAMI sudah menghilang, menjadi satu kesatuan bernama CLAY yang menyala nyala di atas kepalaku.
Aku menyusuri kereta yang gelap dan berkabut, mengabaikan ketika para peretas lain berkerumun sembari berbisik bisik, mungkin mereka sudah mendengar desas desus akan pertemuanku dengan MRX di dalam server pribadinya.
Aku melihat MRX berdiri di tempatnya yang biasa, di ujung lorong kompartemen. Kedua tangannya terjalin dibelakang punggung, menyatakan kekuasaannya akan dunia gelap sembari mengawasi tikus tikus yang berkeliaran di dalam.
MRX tersenyum dingin kepadaku dibalik topeng, mengajakku masuk ke jaringan pribadinya, melangkah ke Darknet yang lebih dalam lagi, ke kompartemen yang belum pernah aku kunjungi. Trojan Horse tergenggam erat ditanganku, seperti persembahan kepada Tuhan.
/MRX/Did you get what I want?/.
/CLAY/Yes. It's right here/.
Aku tersenyum dingin ketika MRX menjulurkan tangannya, aku menyodorkan Kuda Troya kepada Tuhan yang akan jatuh dan hancur terlalap api di belahan bumi. Seperti seorang mansuai yang menentang penciptanya sendiri, aku pun menyodorkan Trojan Horse pada jemari MRX.
Aku menyeringai penuh kemenangan ketika jari MRX mendekat kepadaku. Kepada manusia yang tidak pernah berkati kepada Tuhan-nya, sebelum suara pecahan membahana di seluruh kompartemen.
Aku terkejut bukan main ketika MRX menjatuhkan Kuda Troya yang pecah berkeping keeping pada lantai kereta.
/MRX/Oops..!/.
Ia menyeringai lebar, aku mengumpat ketika sebuah rentetan kode muncul pada layar laptopku dengan aliran data yang malfungsi.
'LOOK AT ME, BITCH'.
Webcam pada laptopku tiba tiba berderak, mengambil profil wajahku atas perintah tangan yang berkuasa di dalam Darknet. "FUCK!", aku menyumpah keras, terlalu panik untuk melakukan sebuah tindakan, figure MRX tersenyum penuh kemenangan dibalik layar.
/MRX/You shouldn't have used the key/.
/MRX/It's an IP transmitter/.
/MRX/Now we know who you are/.
/MRX/And where you are/.
Aku melihat dua pria bersetelan hitam yang memasuki pintu kafe, para anggota Russian Cybercrime.
MRX telah menjebakku
Dan mereka datang untuk membunuhku.
/MRX/Now run along, Little Clown/.
Aku tidak sempat mengemas laptopku atau menutup semua program yang terblokade oleh foto profil wajahku yang dipublikasikan. Aku dapat mendengar MRX tertawa di dalam Darknet ketika kedua kakiku berlari.
Aku berlari sekuat tenaga ketika organisasi terorisme itu mengejarku dengan pistol teracung, napasku tersendat sendat, bayangan akan Kyrpton yang dibunuh dengan luka tembak di kepala terngiang dalam benakku.
Ranselku terayun liar ketika aku nyaris tersandung pada tangga yang menuju kereta bawah tanah, aku menabrak pejalan kaki yang meneriakiku kasar, berusaha bangkit dari jatuhku ketika aku melihat bayangan para teroris itu di permukaan terowongan.
Keringatku membanjir deras, serangan panik dan ketakutan luar biasa mulai menggerogotiku, tawa dingin MRX terngiang dalam telingaku yang berdenging. "Fuck! Fuck! Fuck!", aku bersembunyi di balik terowongan kereta dengan napas yang tidak stabil.
Semuanya masuk akal sekarang.
Aku kembali terjatuh dalam permainan kita.
Aku tidak seharusnya menentang seorang Tuhan.
Aku merasa air mataku mengalir ketika langkah kaki para teroris itu mendekat, mereka memindai dengan perlahan, aku bisa melihat laras pistol dari sisi terowongan. Satu langkah lagi, dan dia akan menemukanku.
Dan menghabisiku sampai mati.
Aku sudah merasakan kehidupan melayang dari tubuhku, jiwaku yang terkikis, aku hampir menyerah pada kematian ketika sebuah kereta melintas dengan cepat, menerbangkan helai rambutku yang bersandar tegang pada dinding terowongan.
"Aku tidak melihatnya", seorang pria bersuara berat menyuara dari sisi kiri, diikuti langkah kaki lelaki yang nyaris menangkap basah diriku, mulai menjauh. "Ayo!".
Aku merasa telah diberikan kesempatan kedua untuk menjalankan hidup, memilih pilihanku dengan lebih bijaksana, mempertimbangkan segala kemungkinan dan selalu saja, kepercayaan diri yang membuatku buta. Aku terlalu arogan sampai mengira MRX berhasil jatuh ke dalam perangkapku.
FRI3NDS adalah organisasi tetap, mereka tidak akan merekrut orang lain.
Detail yang sangat kecil, lenyap begitu saja dari radar kepalaku karena kesombongan yang sudah menggagalkanku berulang kali. Dan pada kesempatan yang terakhir, aku tidak akan menyia nyiakan nyawaku.
Tapi, apakah benar aku diberi kesempatan sekali lagi?
Aku berlari menyusuri lorong hotel yang dijadikan markas besarku setelah rumah nenekku dibakar habis dengan segala bukti yang lain. Napasku terengah engah, wajahku masih babak belur akibat pertengkaranku dengan Taehyung dua malam yang lalu.
Dua malam yang lalu.
Sampai aku menemukannya terbaring tak bernyawa di kamar hotel dengan luka tembak melubangi kepala.
Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi, aku tidak akan pernah memilih untuk bergabung dengan mereka. Aku akan menjadi diriku yang 'bukan siapa siapa' dan menghilang tanpa jejak, tidak terlihat di luasnya bumi ini, dikucilkan dari masyarakat yang selalu menganggapku sebagai orang aneh.
Seandainya aku bisa memutar balik waktu, aku tidak akan pernah keluar dari sudut itu—titik sudut dimana aku terperangkap dan tercekik oleh kerumunan massa. Karena kesepian dan kesendirian sungguhlah lebih baik dari rasa sakit yang membekas pada hatiku ketika melihat pria yang begitu kucintai meninggal tak bernyawa di hadapanku.
Aku jatuh terduduk di samping tubuh Taehyung yang terkapar dengan darah mengaliri kepalanya. Meja terbalik dengan kaca yang berserakan, menandakan Taehyung melawan keras para teroris yang berhasil merenggut nyawanya.
Pandangan mataku kosong, air mataku mengalir tanpa dapat melakukan apa apa.
Aku menemukan mayat Jung Hoseok yang dicekik sampai mati di ranjang hotel, lampu malam bergelimpangan dengan kabel yang berserakan kemana mana. Segala usaha dan rasa takut yang pasti dihadapi pria yang membeliak ngeri sebelum kematian menjemputnya.
Tangisku pecah ketika aku menemukan mayat Park Jimin yang disandarkan ke badan bathub, darah menyiprat ke seluruh dinding, merah segar, menetes netes dari jemarinya yang mengukirkan tato 'CLAY' yang tidak memiliki arti apa apa lagi sekarang.
Kami diberantas habis.
Aku kehilangan Taehyung. Aku kehilangan Hoseok. Aku kehilangan Jimin.
Aku kehilangan semua yang pernah kumiliki.[]
