Thanks To :
Dimytjx | hopekies | Babychickjojang | PPine | Yuta Noona
.
.
"Jaemin!"
Jaemin menghentikan langkah kakinya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Menolehkan kepalanya, Jaemin menemukan Mark yang sedang berjalan ke arahnya seraya tersenyum lebar.
"Mark hyung!" Balas Jaemin dengan senyum yang terkembang di wajah manisnya.
Mark langsung memeluk Jaemin begitu ia sampai di depan Jaemin. "Akhirnya setelah sekian lama, Na Jaemin. Aku merindukanmu." Bisik Mark.
Jaemin mengulum senyumnya, tak lupa ia membalas pelukan Mark. "Aku juga merindukanmu, Mark hyung. Merindukan kalian semua."
Setelah beberapa saat, mereka berdua pun melepaskan pelukan mereka. Dan setelahnya, Mark merangkul bahu Jaemin dan mengajak Jaemin masuk ke gedung di mana tempat photshoot untuk foto season greeting mereka akan dilaksanakan.
"Oh iya, aku jarang mendengar kabarmu dari Haechan. Kau jarang menghubungi dia?" Tanya Mark seraya memperhatikan wajah Jaemin dari samping.
Jaemin mengangguk singkat, tak lupa senyum tipis ia berikan pada Mark. "Aku sengaja hyung. Aku tak ingin Haechan tambah kelelahan dan kurang istirahat jika terus-menerus menghubungiku."
"Aku mengerti sih. Tapi, Haechan semakin lama juga semakin berubah. Jika di belakang kamera, ia pasti akan merasa lesu dan tidak bersemangat. Jika aku tanya, dia pasti hanya akan menjawab 'Aku tidak apa-apa kok, hyung.' Dan aku sebenarnya ingin menanyakan hal ini padamu sejak lama." Balas Mark panjang lebar.
Jaemin menghela nafas panjang, "Maaf ya hyung."
Mark terkekeh, "Ini bukan salahmu, Nana. Kau tau sendiri, Haechan itu memang sangat sering menyembunyikan masalahnya sendiri. Dia tidak ingin orang lain tahu meskipun dia tahu, jika kita pasti akan membantunya."
"Tapi tetap saja hyung, aku pasti salah satu dari penyebab Haechan menjadi lesu," ujar Jaemin pelan.
"Percaya diri sekali!" Seru seseorang dari arah kanan Mark dan Jaemin.
Begitu menoleh, mereka berdua menemukan Haechan yang sedang berkacak pinggang seraya menatap keduanya dengan tajam.
"Dan kau Mark hyung—" Haechan menunjuk Mark dengan tidak sopannya. "Lepaskan rangkulanmu dari Jaemin, sekarang!" Sambung Haechan dengan nada suara yang tegas.
Mark diam-diam menyeringai tipis, bukannya mendengarkan Haechan, Mark malah memilih untuk mengeratkan pelukannya di bahu Jaemin dan menjulurkan lidahnya pada Haechan.
"Maaf Haechan, tapi Jaemin milikku sekarang." Teriak Mark seraya pergi dari hadapan Haechan sambil mengajak lari Jaemin.
"Yak! Mark hyung, tunggu!" Haechan pun berlari mengejar Mark dan Jaemin yang kini menertawakan Haechan yang berlari di belakang mereka.
.
.
"Beruntung sekali ya, jadi Jaemin?" Tanya seseorang pada Renjun yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Jaemin, Mark, dan Haechan.
"Jeno?" Renjun terkejut begitu Jeno sudah berdiri tepat di sampingnya.
Jeno tersenyum, ia kemudian mengalihkan pandangannya menatap tiga orang lain yang sedang bercanda bersama.
"Tapi sayang, aku tidak seberuntung Mark hyung ataupun Haechan." Gumam Jeno.
"Maksudmu?" Tanya Renjun dengan raut wajah bingung.
Jeno memiringkan tubuhnya untuk menatap mata Renjun. Renjun meneguk ludahnya gugup begitu mendapat tatapan yang sangat intens dari Jeno seperti ini.
"Kau tidak iri pada Jaemin?" Tanya Jeno lagi tanpa menjawab pertanyaan Renjun sebelumnya.
"Iri? Sebenarnya, apa maksudmu, Lee Jeno?" Renjun semakin tak mengerti ke arah mana pembicaraan Jeno ini sebenarnya.
Jeno tersenyum miring, ia kemudian menunjuk Jaemin yang tengah tertawa bersama Mark dan Haechan juga hyung-hyung yang lain yang sudah bergabung bersama member NCT yang lain.
"Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaanmu saat ini. Kau tahu Renjun, aku memikirkan hal ini setiap hari. Dulu, sebelum kita debut, kami sangat suka bermain bersama Jaemin, bahkan kami bertiga selalu berebutan agar bisa bersama Jaemin. Tapi semenjak debut semua berubah. Jaemin sakit, dan kami bertiga berusaha untuk dekat denganmu." Jeno menghela nafasnya panjang sebelum kembali meneruskan perkataannya. "Dan sekarang, ketika Jaemin kembali, tentunya kami juga akan kembali pada Jaemin. Jadi, aku hanya ingin mengatakan, kau tetaplah member NCT, tapi jangan berharap untuk menaruh hati pada kami. Meskipun itu Mark hyung, aku yakin Mark hyung hanya butuh pelarian dari Jaemin." Jeno tersenyum lebar di akhir kalimatnya seraya menepuk bahu Renjun.
Renjun terdiam mendengar seluruh perkataan Jeno. Sungguh, Renjun tak menyangka jika Jeno akan mengatakan hal-hal seperti ini padanya. Renjun tahu, jika Jeno tidak mencintainya. Tapi, tidak perlu juga 'kan membuat hatinya semakin hancur seperti sekarang?
"Jeno, Renjun! Sudah waktunya berfoto, ayo cepat!" Taeyong berteriak memanggil keduanya.
Jeno mengangguk dan segera membalas dengan berteriak 'Iya'. Ia pun menarik tangan Renjun untuk bergegas berkumpul bersama yang lainnya.
"Jangan lupa hapus airmatamu, Injunie." Bisik Jeno di telinga Renjun.
Mendengar hal itu, sontak Renjun langsung meraba pipinya yang memang basah. Sejak kapan ia menangis?
.
.
Mark menghampiri Renjun saat semua sesi photoshoot mereka sudah selesai. Mark merasa ada yang aneh pada Renjun semenjak Renjun berbicara dengan Jeno. Entah membicarakan apa, yang pasti sejak saat itu, Renjun sepertinya berakting baik-baik saja di hadapan mereka semua.
"Renjun."
Mark duduk di samping Renjun yang kini duduk di sofa yang tak jauh dari tempat photoshoot mereka. Renjun bergumam membalas Mark namun tetap fokus pada ponsel yang berada di genggaman tangannya.
"Kau ada masalah?" Tanya Mark, sesaat tak ada perubahan yang berarti dari ekspresi wajah Renjun sebelum akhirnya pemuda China itu menghela nafas panjang.
"Kau mau cerita?" Tambah Mark lagi. Ia tak mau terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada pemuda yang sudah merebut hatinya itu.
Renjun menggeleng pelan, ia mengalihkan pandangannya dan menatap langsung pada mata Mark.
"Aku tidak apa-apa, Mark hyung. Hanya, sedikit lelah." Balas Renjun dengan senyum tipis yang terpatri di bibirnya.
Mark mengangguk lemah, ia ingin sekali memaksa Renjun untuk bercerita tapi mungkin memang belum saatnya Renjun untuk mengungkapkan apa yang tadi Renjun dan Jeno bicarakan.
"Jeno tidak bicara yang aneh-aneh, 'kan?" Pancing Mark. Karena bagaimanapun, Mark masih penasaran dengan apa yang tadi mereka berdua bicarakan.
"Tidak hyung. Jeno tidak bicara yang aneh-aneh. Kami hanya bicara seperti biasanya saja." Bohong Renjun. Matanya menatap arah lain selain mata Mark yang terus menatapnya seperti mengintimidasi.
Mark menghela nafas panjang, ia meraih sebelah tangan Renjun dan menggenggamnya erat.
"Baiklah. Tapi, jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk bercerita padaku. Aku akan mendengarkannya."
Renjun tersenyum manis dan mengangguk patuh. "Tentu saja, Mark hyung."
.
.
Kun menghembuskan nafasnya begitu ia melihat penampilan kekasihnya dari layar laptopnya. Ia mengusap air mata yang terus saja mengalir saat ia melihat berulang kali penampilan Hansol di The Uni+ itu.
'Kling'
Suara pesan masuk mengalihkan perhatian Kun pada ponsel yang ia letakan di samping laptopnya.
From : JiHan
'Aku tunggu di tempat biasa, sekarang.'
Senyum mengembang di wajah Kun. Ia pun segera membalas pesan dari kekasihnya itu.
To : JiHan
'Baiklah. 10 menit lagi aku akan sampai.'
Kun pun segera mengganti pakaiannya dan memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan itu.
Kun keluar dari kamarnya dan bertemu Jungwoo yang sepertinya akan memasuki kamarnya.
"Kun hyung, kau mau kemana?" Tanya Jungwoo bingung saat melihat penampilan Kun yang begitu rapi.
"Aku akan bertemu Hansol hyung, Jungwoo-ya." Jawab Kun dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Tapi kita ada latihan setengah jam lagi, hyung."
"Aku tahu. Tapi ini cuma sebentar, Jungwoo-ya. Tunggu aku di ruang latihan saja, nanti aku menyusul. Dan sekarang aku sudah terlambat. Bye Jungwoo!"
"Tunggu hyu—"
Brakk!
Jungwoo pun menghela nafas pasrah jika ia dimarahi pelatihnya nanti.
.
Hansol membuka masker putih yang menutupi wajah tampannya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menikmati pemandangan yang sudah lama tak ia lihat ini.
Hansol tersenyum tipis, tempat ini, gedung ini, adalah tempat yang biasanya ia dan Kun juga teman-temannya —saat masih di SM— gunakan untuk menghilangkan penat dan lelah karena seharian latihan. Gedung ini adalah gedung tak terpakai yang berada tak jauh dari gedung SM sendiri. Maka dari itu, biasanya para trainee akan kabur ke sini jika mereka sudah tak kuat lagi untuk latihan.
Brug
Hansol terkejut saat mendapat pelukan hangat dari belakang oleh seseorang. Namun saat melihat tangan orang yang tengah memeluknya, senyum Hansol bertambah lebar. Kekasihnya sudah tiba. Pemuda yang sangat dirindukannya sudah datang sekarang.
"Jangan menangis, Kun." Ucap Hansol seraya menggenggam tangan yang lebih muda.
Kun tidak membalas, hanya suara sesegukan yang terdengar membalas ucapan Hansol. Hansol mendesah pelan, ia memutar tubuhnya dan berbalik untuk memeluk pemuda yang ia cintai itu.
"Sst, tenanglah. Aku di sini," bisik Hansol sambil mengusap sayang rambut milik Kun.
Namun bukannya mereda, tangisan Kun malah semakin keras. Membuat Hansol bingung dan tak tahu harus bagaimana untuk menghentikan tangisan pemuda China itu. Hansol pun memilih diam dan membiarkan Kun untuk meluapkan emosinya.
Beberapa menit berlalu, Kun pun mulai tenang. Kun mendongak, menatap Hansol yang kini menatap gemas dirinya. Bagaimana tidak? Wajah Kun sehabis menangis itu lucu. Wajah Kun akan memerah, terlebih hidungnya. Belum lagi matanya yang masih berkaca-kaca seakan siap untuk menangis lagi. Mirip sekali dengan anak anjing yang beberapa waktu lalu Hansol temui di pinggir jalan.
"Aigoo, My Kun-ie menangis." Goda Hansol seraya menangkup wajah Kun sambil mengusap pipi Kun yang basah.
Kun merenggut kesal, ia memukul bahu Hansol dengan keras. "Bodoh! Memangnya gara-gara siapa aku seperti ini?!" Kesal Kun sembari mencebikan bibirnya.
Hansol tertawa, ia kembali meraih tubuh Kun dan membawanya ke pelukannya, lagi. "Maafkan aku. Aku tahu aku salah karena lama tak menghubungimu, kau tahu sendiri 'kan, aku sedang sangat sibuk. Aku harus bisa mengembangkan kemampuanku agar aku bisa terus dilihat setiap orang dan mereka akan memilihku. Sehingga aku bisa debut nantinya."
Kun berontak, ia melepaskan pelukan Hansol dan menatap mata besar milik Hansol.
"Kau fikir aku tak sibuk, hyung? Kau kira hanya kau yang mempunyai urusan penting? Apa kau fikir hanya kau yang mempunyai mimpi untuk debut? Aku juga hyung! Aku juga punya. Bahkan kau yang membuat janji yang kau ucapkan itu batal! Kau dengan segala keegoisanmu itu hyung, membuatku kesal." Kun terengah. Ia kesal pada Hansol yang seolah tak pernah memikirkan dirinya. Kun hanya ingin diperhatikan, tidak salah 'kan sebagai kekasih Kun ingin seperti itu?
"Jika aku egois, mungkin aku akan tetap tinggal di dormku dan terus latihan, Kun. Aku mungkin tidak akan di sini untuk menemui meskipun hanya satu menit. Tapi sepertinya, pilihanku saat ini salah. Seharusnya aku memang tetap tinggal di dorm ku saja."
"Teruslah bertingkah seperti itu, hyung! Kau tidak tahu 'kan bagaimana frustasinya aku saat kau memilih keluar? Kau tidak tahu bagaimana aku menjalankan hidupku tanpa dirimu di sini hyung? Kau adalah penyemangatku, tapi kau malah memilih pergi. Aku hancur hyung! Aku hancur." Kun merosot jatuh ke bawah lantai. Air mata kembali bercucuran di wajahnya. Kun tidak peduli.
Kedua tangan Hansol mengepal. Tidak seharusnya pertemuannya dan Kun seperti ini, tapi apa daya? Ini semua gara-gara perkataannya yang sepertinya salah tadi.
Kun mengatur nafasnya, ia kembali berdiri dan mencoba mengusap air matanya namun percuma. Air matanya terus mengalir sejak tadi.
"Mungkin memang kita butuh waktu untuk sendiri-sendiri dulu, Hansol hyung. Jangan hubungi aku dulu, dan fokuslah pada acara survivalmu itu. Aku akan selalu mendukungmu, tenang saja."
Kun mendekati Hansol, ia mendekatkan wajahnya dan mencuri satu ciuman pada bibir Hansol yang membuat sang empu kembali pada realitanya.
"Aku pergi." Bisik Kun pelan seraya memundurkan langkahnya.
Hansol membuang nafasnya dan segera menarik tangan Kun. Ia memeluk tubuh Kun erat-erat dan berbisik, "Maafkan aku."
Yang membuat Kun kembali menangis sesegukan.
Dan di hari itu pun, pertemuan mereka ditutup oleh ciuman panjang yang Hansol berikan pada bibir Kun.
.
.
TBC
A/N :
Hallo! Apa kabar? Wi disini ya! Buat yg nanya Kak Tia / Author Star, dia ada kok. Bakal comeback dengan karya baru nanti. Doain aja. Udah lama banget ya, ff ini maupun ff yg lain ngga di update. Alasannya, pertama, sibuk. Pas terakhir update ff ini Wi bilang Wi bakal sibuk kan? Dan iya, itu emang bener. Meski ngomongnya cuma 2 bulan, tapi malah nyampe berbulan-bulan, dan itu ada alasannya. Kedua, pas mau comeback, ternyata banyak isu yg ngga mengenakan termasuk bang Jihan yg out, buat Wi jadi males buat bikin ff. Ketiga, WB, alasan biasa sih, tapi ya gimana lagi. Dan alasan Wi kenapa mau nerusin ff ini, karena Wi seneng akhirnya Nana muncul. Meski ngga nyampe teriak-teriak, tapi Wi seneng banget. Sampai ide ff ini muncul lagi! Hehe. Maaf ya, jadi curhat ngga jelas alias nyampah.
Ps : ff lain akan dilanjut kalau Wi ada ide. Lagi stuck soalnya.
Pss : Buat dek Jeno, maaf Wi buat image dedek jelek di ff ini.
Psss : Kak Tia / Author Star buka request. Terserah mau drabble, ficlet, songfic, oneshot, atau chapter. Yang penting castnya NCT Hyung Line. Genre, cantumkan di review juga!
Wi!
