Eccedentesiast

Rated : M-T

Pair : Chanbaek

Purely my wild imagination.

Genre: Angst, Hurt, Romance.

.

.

.

.

01. Its Just Me ( and You )

.

.

Hai, aku Byun Baekhyun. Terlalu basa-basi? Maaf, Sejujurnya aku bingung harus menceritakan darimana. Kalian pasti mengenalku, iya Byun Baekhyun yang itu, kenal? kalau pun tidak, tak masalah, karna disini aku akan menceritakan bagaimana aku dan hidupku. Kata menceritakan sebenarnya tidak tepat, karena sejujurnya bercerita bukan keahlianku. Aku hanya akan membagikan apa yang terjadi padaku, semacam transfer kejadian atau perasaan, atau apalah kalian menyebutnya.

Apa yang ingin kalian tau? hidupku? Biasa saja, dikelilingi banyak orang yang mengaggumiku, punya karir bagus, dikenal hampir seantero dunia, punya cukup uang bahkan untuk memenuhi bagasi demi mobil yang tak bisa kukendarai, tumpukan baju yang sengaja dibeli guna jepretan kamera dibandara, karna demi tuhan, dunia bahkan akan menghitung semua yang kau pakai walau hanya sekedar sebuah jarum atau bahkan papperbag. lalu apa? Seseorang yang aku cintai?

Mungkin dari situ lah kisah ini akan dibagikan.

.

.

Aku dan dia adalah satu grup yang sama, hampir separuh dari orang-orang yang mengaggumi menginginkan aku dan dia bersama. Kami nampak bahagia, saling tertawa, berbagi candaan, mencintai satu sama lain, saling melengkapi bahkan kadang seolah-olah saling cemburu. Itu yang terlihat, tapi apa kau ingin tau yang sebenarnya?.

Pernah mendengar hubungan settingan agensi? Aku mendapatkannya dua kali. Kalian pasti mengingat beberapa tahun silam, ya itu salah satunya. Ingin tau salah satu yang lain? Jawabannya, aku dan dia. Awalnya agensi mengatakan kami dua orang yang sangat cocok bila bersama, dalam artian mata fans yang tergila-gila akan menguntungkan agensi dalam bidang finansial. Kami diharuskan kemana-mana bersama. Aku turut hadir dalam program yang diikutinya, atau memang mengisi program yang sama, kami memiliki jadwal dadakan yang membuat kami seolah-olah pergi bersama tanpa direncanakan perusahaan. Semua terlihat natural dan diatur dengan amat sangat baik.

Kalian pernah mendengar bahwa kami memiliki apartemen yang sama? Ah, maafkan aku banyak bertanya, aku hanya ingin tau, sebanyak apa hal baik antara kami berdua dimata kalian. Ya, kami tinggal di apartemen yang sama, walau dorm adalah hal yang paling sering untuk ditinggali. Menghabiskan waktu berdua, sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Kami membeli kebutuhan bersama, saling mengisi waktu, memposting foto satu sama lain diakun media sosial masing-masing atau membicarakan salah satunya diberbagai kesempatan.

Aku mungkin melakukannya tanpa sadar dan tulus tapi kau tidak. kau hanya akan mendengarkan arahan manager dan selanjutnya berkata "ya".

.

.

Dia memelukku beberapa kali disaat kurasa sebuah pelukan amat perlu, menyediakan makananku, mengobati demamku, menahanku apabila tekanan dunia terlalu kuat hingga kurasa segelas Johnny Walker atau Grappa dapat membantu. Dia kadang mengacuhkanku, membentakku, meninggalkanku yang terlalu lama menunggu digedung agensi setelah kami berlatih tari, ikut menjatuhkanku didepan ibunya, melemparku dengan makanan yang dibuatnya.

Kadang dia akan menghapus tangisku, meminjamkan tubuh dan punggungnya agar dapat menggendongku dari parkiran hingga lantai 24 apartemennya, atau menyuruhku beristirahat dan dia akan membersihkan semua penjuru tempat tinggal kita akibat aku terlalu lelah tapi tidak bisa terkena debu.

Aku tidak dapat menebak perasaanmu.

.

.

Aku kadang bertanya, siapa diantara kita yang akan lebih dulu lelah, atau mungkin menyerah. Dia akan menyerah dari semua settingan dan permintaan agensi yang melibatkan aku dan dia. Atau mungkin aku duluan yang akan menyerah karna terlalu lama mencintainya namun tak mampu menebak hatinya.

Yang sebenarnya ku tau, kau membenciku.

Well, dia pernah mengatakan ini berkali-kali, bahkan mengusirku. Dia banyak menangis karna itu. Aku tak tau, dia menangis karna terlalu lama tertekan harus bersama denganku yang notabenenya adalah seorang laki-laki sedangkan dia ingin punya pacar perempuan atau frustasi karna aku yang tak ingin pergi begitu saja dan tak dapat pergi begitu saja. Aku kadang kasihan padanya. Dia amat membenci, aku tau. Tapi harus bertemu denganku nyaris 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Bersama dengan orang yang kau benci hampir sepanjang pekan. Melelahkan, bukan?

Aku tak ingin mengusikmu, namun hatiku terlalu egois bahkan untuk sekedar pergi dan membahagiakanmu.

Jadi, aku tak dapat menyalahkannya ketika tiba-tiba dia akan membanting piring didapur apartemen, atau bersikeras pada ketua grup meminta bertukar kamar di dorm, atau sekali-sekali akan mengajakku pergi lalu meninggalkanku sejauh yang dia mampu dan tak menjemputku setelahnya, kadang dia melakukan ini jika besok kami benar-benar tak ada jadwal apapun, dia mengetahui semua jadwalku baik untuk kegiatan individu, jadi dia dapat berlibur kemanapun yang dia mau.

Apakah dengan begitu kau bahagia?

.

.

Hei, kalau kau bertanya, kenapa tidak melawan atau pergi saja. Aku mungkin menghabiskan beberapa tahun terakhir di Seoul, hafal Myeongdong atau sekali-sekali ke Hongdae, tapi tetap saja, keluargaku di Bucheon. Aku tidak punya siapa-siapa di Seoul, maksudku keluarga. Kalau dia bosan melihatku berkeliaran disekitarnya, dia bisa kembali kerumahnya, walau esok hari kami punya jadwal pagi-pagi buta. Tapi aku?. Jarak Bucheon dan Seoul memang tidak sejauh Korea Selatan ke benua Amerika, tapi tetap saja daripada menghabiskan waktu diperjalanan dengan hasil nyaris nihil, aku lebih baik mengalah dan kembali ke dorm.

Aku hanya terbiasa pergi bersamamu, mengikutimu sebanyak yang kumampu.

Di beberapa konser, terkadang dia akan menjagaku di bandara, yang kemudian gambarnya akan menyebar kesuluruh dunia, kadang dia akan tiba-tiba meilirikku -seperti skenario manager grup-, atau jika sudah terlalu muak dia akan mengacuhkanku, bermain bersama member lain walau aku sudah berusaha menarik perhatiannya dengan melilitkan seluruh tubuhku dengan tali-tali confeti yang akhirnya membuatku sulit sendiri untuk melepaskannya, atau dia akan pura-pura memukulku ditengah konser alih-alih untuk bercanda kemudian benar-benar memukulku setelahnya, atau dia akan mencengkram tanganku terlalu kuat jika sesudah konser aku tak mampu mengimbangi jalannya yang terlalu cepat karna kakiku dan dia berbeda.

Apakah semua bencimu perlahan tersalurkan?

Sebenarnya aku cukup memikirkan banyak hal, seperti kapan dia akan menyerah dan benar-benar mengusirku. Aku sudah bersiap-siap untuk hal ini, menyediakan hampir semua persedian pakaianku di dorm dan hanya beberapa potong di apartemenya. Aku juga sudah membeli kendaraan sendiri jika dia sudah tak mau lagi mengantarku, sudah melihat beberapa apartemen baru dan memilih yang kurasa sangat aman dan cocok, aku tak ingin siapapun tau dimana aku bisa bersembunyi. Didepan kamera mungkin aku akan terlihat sangat berisik, semua member juga mengatakan hal demikian, tapi bukannya setiap orang punya sisi pendiam dan menyedihkan?. Semua persiapan sudah kulakukan. Jika diibaratkan peperangan, aku sudah mengintai dan hanya tinggal menunggu tanggal penyerangan. Semua sudah kupersiapka. Kecuali satu hal, hatiku.

Jika tiba-tiba dia bertemu seseorang yang membuatnya benar-benar jatuh cinta, dan aku tau, itu bukan aku.

Aku belum mempersiapkan hatiku.

.

.

TBC/END

Berakhir dengan tidak elitnya

.

hei hei hei... sebenarnya ff ini dibuat dalam rangka ngeliat apa yang terjadi sama mereka akhir-akhir ini, bukan bermaksud mereka hancur atau gimana, ini cuma bentuk analisis kejadian dibelakang chanbaek yang tertuang dalam cerita. nggak selalu hurt kok, karna gue suka angst dan bakal gue campur sama romance. gue sangat percaya mereka baik-baik aja plus bahagia.

dilanjut atau berakhir tergantung kalian yang baca :).

Last, REVIEW JUSEYOOOOO, soalnya gue butuh banget ada yang ngoreksi tulisan dan kata-kata gue.

see yaaa, love you like Sehun loving his Luhan, Chanyeol treats his Baekki.