THE FUNNIEST CLOWN OF THEM ALL

"Maafkan aku".

Kim Seokjin berpaling ketika aliran air mata kembali turun dari wajah Jungkook. Tahanan itu tersenyum miris, pandangan mata kosong, seperti biasanya. Seperti ia sudah kehilangan harapan untuk melanjutkan hidup, sebuah keputusasaan.

Jeon Jungkook mendatangi Europol sehari setelah kematian tiga anggota organisasi terorisme bernama CLAY yang mencuri data informasi dari Pusat Intelejensi Jerman. Ia menyerahkan dirinya kepada aparat penegak hukum tanpa memberikan perlawanan, membiarkan dirinya digiring ke dalam ruang interogasi dan dipertemukan kembali dengan Seokjin.

"Mengapa kau menyerahkan dirimu?", Seokjin mulai merasa tidak nyaman duduk berseberangan dengan tahanan yang tidak mau menatapnya. Seseorang yang begitu hancur, jatuh ke dalam jurang dan tidak dapat tertolong lagi.

"Kau menginginkan MRX", Jungkook tersenyum miris, meremas jemarinya berulang kali, kali ini Seokjin menangkap luapan kebencian dan kemarahan. "Aku bisa mendapatkannya untukmu, asal kau memberikan program perlindungan saksi kepadaku".

"Identitas baru, semuanya", Jungkook menatap Seokjin tajam, membuat Kepala Divisi Cyber itu mengernyit bingung.

Seperti yang dia katakan sebelumnya, tahanan itu hanya memperlambat waktu yang terus saja bergilir, kesempatan untuk menangkap MRX dan FRI3NDS menjadi semakin sempit, kemungkinan Seokjin dapat mempertahankan karirnya juga menipis.

Sejak awal Jungkook melangkahkan kakinya ke dalam Europol, Seokjin mengerti—Pria itu sudah memprediksi apa yang akan terjadi kepadanya. Seokjin menghembuskan napas panjang, merasakan frustasi dan benang yang tidak kunjung terlihat ujungnya.

"Baiklah", Seokjin mengangguk. "Temukan MRX dan aku akan memberikanmu perlindungan".[]

MRX.

Aku sudah gagal lebih dari dua kali ketika berhadapan dengannya. Penguasa Darknet dengan pengikut setia yang selalu mematuhi perintahnya tanpa ada bantahan. Mengendalikan semua aktivitas cyber yang berada di kawasan kekuasaannya.

Seorang peretas. Seorang penyendiri. Seorang Tuhan.

Itulah istilah yang selalu kugunakan ketika memujanya. Namun, aku juga mengerti bahwa MRX adalah seorang manusia biasa dan seperti halnya manusia, mereka memiliki dosa yang berlimpah, tak terhitung banyaknya. Dan dosa terbesar seorang insan adalah kebanggaannya kepada diri sendiri.

Pride/noun/kebanggaan. kesombongan. harga diri.

Seseorang yang begitu berkuasa, mengendalikan orang lain di bawah kontrolnya, memerintah budak budak yang akan mematuhi semua kata katanya. Namun, kalau kau berhasil menyelipkan sebilah pisau tajam dan menjatuhkan harga dirinya, orang itu akan jatuh, bahkan bersujud di kedua kakimu.[]

MRX memasuki Darknet yang dingin dan berkabut, tudung hitamnya menyembunyikan baik identitasnya yang begitu dielu elukan di dunia maya. Ia melewati gelintiran peretas yang menatapnya dalam, makin menjepitnya di dalam lorong kereta yang bergeming statis.

"LOOK, IT'S MRX".

"HE'S HERE!".

Sampai ia mendengar sesuatu yang membuatnya menegang dari ujung kaki sampai kepala.

"HE SOLD IDENTITIES!".

MRX terhenti ketika mendengar bisik bisik tajam para penghuni Darknet yang mengerubunginya, ia berbalik badan, menghadapi para peretas yang menatapnya penuh kebencian dan pengkhianatan.

"HE KILLED KRYPTON".

"I KNEW IT!".

"MRX WORKS FOR THE GOVERNMENT".

MRX berjalan dengan kebingungan menuju komparten kereta, ia melihat para peretas yang mengerubungi seseorang—seseorang yang berpenampilan seperti dirinya.

Jeon Jungkook tersenyum dingin, mengetik pada laptopnya yang menampilkan layar Darknet di dalam ruang interogasi, "I sold identities", enter.

"I work for the government", enter.

"I'm the one who killed Krypton", enter.

MRX berteriak marah, seseorang baru saja merusak reputasinya. Keparat kecil yang berani menentang kekuasannya, tikus yang mencoba untuk menghancurkan MRX. Ia terengah ketika para peretas berbisik bisik tajam, menudingnya dengan pandangan jijik, merasa dikhianati.

"What the fuck?!", MRX menggedor pintu kompartemen yang terkunci rapat. Jeon Jungkook berbalik kepadanya, seringai dingin terpatri di dalam topeng berlambang 'X' yang menyebarkan fitnah tentang dirinya, merusak segala kekuasaan MRX akan dunia bawah.

Jeon Jungkook mengetik dengan lebih cepat, pesan demi pesan bergilir ke dalam Darknet.

"I SOLD IDENTITIES!", ENTER.

"I WORK FOR THE GOVERNMENT!", ENTER

"I KILLED KRYPTON!". ENTER.

"I AM PART OF FRI3NDS!".

ENTER. ENTER.

MRX menggeram penuh kebencian, meraih palu yang bertengger di ujung pintu kompartemen, memecah kacanya ketika Jungkook berbalik dan mengacungkan dua jari tengah kepadanya.

/WHOAMI/ FUCK YOU/.

MRX merangsek maju dengan emosi meluap luap, membalikkan badan Jungkook dengan wajah yang ditutupi topeng berlambang 'X'.

"Just who the fuck are you?!", MRX menarik lepas topeng yang malfungsi, tidak kunjung memperlihatkan keparat kecil yang bersembunyi dibaliknya. Ia menarik dan menarik secara liar tetapi tidak ada yang terjadi. Topeng itu tetap menyembunyikan pemiliknya dengan baik.

Jeon jungkook tesenyum, melepas topeng yang mengungkapkan jati dirinya kepada sang pencipta. MRX mematung ketika kedua mata mereka bertemu. "Little Clown", MRX mendesis.

Jeon Jungkook tertawa.

/WHOAMI/You shouldn't have used that hammer/.

/WHOAMI/It's an IP transmitter/.

/WHOAMI/You taught me that/.

/WHOAMI/And now we're even/.

Kim Seokjin mengomando Interpol Amerika Serikat ketika lokasi MRX ditemukan di sebuah area di Washington D.C. Kepolisian segera mengepung kafe dengan para pengunjung yang berlarian keluar dengan panik. Polisi itu menyisir seluruh kafe dengan pistol teracung, mencari teroris yang selama ini menjadi incaran Europol. Ia mengomado seluruh pasukan untuk berpencar tanpa melewatkan setitik pun area, keresakan bunyi comms terdengar di antara meja dan kursi kursi yang sudah kosong.

Pria itu menunduk di sudut ruangan, penuh dengan kegagalan yang menyelimuti wajahnya ketika polisi mendekat, meneriakkan berbagai perintah yang tidak terdengar di dalam telinganya. Ia pun menutup laptop yang berada dihadapannya dalam keputusasaan ketika kedinginan borgol membelenggu kedua tangannya di belakang punggung.

THIS clown has the funniest trick of them all

Badut itu tersenyum lebar dari layar Darknet ketika Min Yoongi terseret kasar menuju mobil polisi yang tersebar di luar kafe. Aparat penegak hukum itu mendorong kepalanya masuk ke dalam, membanting pintu yang akan memenjarakannya seumur hidup.

Ia pun berbalik, menatap laptop satu satunya yang ditinggalkan begitu saja di meja kafe. Ia dapat merasakan senyum maniak yang terukir di balik topeng badut itu sebelum para polisi membawanya pergi dan menjebloskannya ke dalam penjara.[]

Aku kembali terdiam dalam kekosongan yang kurasakan di diriku. Aku berhasil menangkap MRX, memenjarakannya karena aksi terorisme yang dia lakukan di dalam Darknet. Aku hanya bisa diam sekarang, kalau kau bertanya apakah aku puas?

Tidak.

Aku membantu penangkapan MRX agar aku bisa mendapatkan program perlindungan saksi dari Europol, meskipun aku merasa sangat egois mengingat ketiga temanku yang telah kehelingan nyawa. Dan disinilah aku, terduduk di ruang interogasi dan akan dibebaskan dalam beberapa jam, berjalan keluar dengan sebuah identitas baru.

'We'll walk away a free man'.

Aku terenung miris ketinga mengingat kata kata Taehyung waktu itu. Kalau aku tidak menjual informasi BND kepada MRX apakah mereka bisa selamat? Mungkin. Dan mungkin saja aku yang akan menggantikan posisi mereka. Aku yang akan terbaring tak bernyawa di kamar hotel Berlin.

Kim Seokjin tersenyum simpul kepadaku, menginformasikan bahwa program perlindunganku sedang diurus dan tidak ada lagi yang perlu kucemaskan. Pertama kali Seokjin datang untuk menyelidikiku, dia menganggapku sebagai pembunuh, teroris.

Kini, ia melihatku sebagai seorang korban.

Sayangnya, aku bukan keduanya. Aku hanya seseorang yang terperangkap di antara dua benang yang tidak berujung. Tidak ada yang namanya ujung kanan dan kiri, semuanya sama saja.

Kim Seokjin berbicara dengan koleganya di luar ruang interogasi, aku memandang ke kaca satu arah yang tidak menampilkan apa apa selain rekfleksi diriku. Wajahku sangat cekung dengan kantung mata yang menghiasi, menyatakan betapa lelahnya diriku. Aku bahkan belum mengonsumsi Ritalin tiga hari penuh.

"Apa kau akan membebaskannya begitu saja?".

"Tentu, setelah aku menginformasikan neneknya".

Aku dapat merasakan tatapan Seokjin kepadaku dibalik kaca satu arah, sebelum pria itu berjalan pergi meninggalkanku di ruang interogasi yang dingin menggigit. Sepertinya, semuanya akan kembali terulang. Aku akan kembali menjadi 'bukan siapa siapa' yang tidak dipedulikan dunia.

Aku hanya akan menjalani hari hariku seorang diri, dalam kesendirian. Semuanya jauh lebih baik dari mengulang rasa sakit ketika kehilang seseorang yang begitu kau cintai.

Aku pun bersandar pada kursi besi, sesekali, mengusap luka yang menembus telapak tanganku.[]