TAEYUNG, JIMIN, AND HOSEOK

Kim Seokjin membuka ruangan rumah sakit dengan penerangan yang sangat minim. Dokter berkata, nenek Jungkook tidak biasa dengan cahaya dengan intensitas tinggi, itu akan menyakiti pengelihatannya. Atau, itu hanya sebuah persepsi yang terlanjur tertanam di dalam benak wanita yang kini terbaring tidur.

Seokjin tersenyum muram, mendekati wanita yang meceracau tentang suaminya yang sudah lama pergi, suami yang hanya meninggalkan tiga selongsong peluru dari Perang Dunia Kedua. Seokjin pun termangu, melihat kotak besi yang Jungkook ceritakan di dekat ranjang wanita paruh baya itu.

Kim Seokjin tercenung ketika melihat kotak perak itu kosong tak berisi.

Ia hendak menyalakan lampu meja ketika wanita itu mengerang, menangisi pria yang sudah meninggalkan hidupnya. Seokjin tersenyum lirih, menjauhkan jemarinya dari saklar sebelum menutup pintu ruang rawat sepelan yang ia mampu.[]

"Jungkook itu..seperti apa?".

Kim Seokjin menghadap seorang dokter yang sudah merawat nenek Jungkook sejak pria itu masih berusia delapan tahun. Dokter itu bercerita bahwa Jeon Jungkook adalah pria tertutup yang lebih senang menyendiri, bermain dengan dunia dan imajinasinya yang jauh di atas rata rata orang normal. Ayahnya sudah meninggalkan Jungkook sejak dia lahir dan ibunya gantung diri akibat tekanan dari suaminya yang pergi, menghilang begitu saja.

"Sebenarnya—", dokter itu tersenyum muram. "Nyonya Jeon meninggal akibat depresi".

"Depresi?", Jin memajukan posisi duduknya. Dokter itu mengangguk singkat, "Karena penyakit yang dideritanya".

Dokter itu menceritakan Seokjin bawah ibu Jungkook menderita penyakit mental yang kronis, wanita itu sungguh tersiksa dengan kondisi dan kewarasan otaknya yang tidak dapat ditolong. Ia tidak mampu menahah lebih lama lagi.

Wanita itu berakhir gantung diri di ruang tengahnya, untuk ditemukan Jungkook yang sedang berimajinasi bahwa dirinya adalah seorang pahlawan.

"Apa dia menderita Schizophrenia, Dokter?", tanya Seokjin yang tetap menjaga kesopanannya sebisa mungkin.

Dokter itu menggeleng, teringat akan perempuan dengan emosi yang dapat berubah sewaktu waktu, tidak terprediksi. Tentu saja itu wajar bagi seseorang yang menderita kelainan mental sepertinya.

"Nyonya Jeon menderita 'Diassociative Identity Disorder' atau lebih dikenal sebagai kepribadian ganda", Dokter itu melanjutkan ketika Seokjin tercenung di tempat. "Nyona Jeon mempunyai empat kepribadian yang dapat mengambil alih dirinya sewaktu waktu. Ia tidak pernah sadar kalau semua orang yang ia kenal adalah dirinya sendiri".

Kim Seokjin mematung sangat lama, sebelum ia melepas senyum gelisah kepada dokter yang menunggu jawaban agensi federal itu, "Apakah…penyakit itu dapat diturunkan secara genetika, Dokter?".

Dokter itu mengernyit, "Why yes".[]

Kim Seokjin melangkah dengan tergesa gesa menuju ruang interogasi markas besar Europol, seorang wanita mengikutinya, tersengal sengal sebelum berbicara dengan sang atasan. "Sir, saya sudah menemukan hasil analisa peluru yang membunuh ketiga korban".

"Tidak perlu", Seokjin menyahut tajam. "Peluru itu berasal dari Perang Dunia Kedua, benar?".

Wanita itu tercenung, "S-Sir, bagaimana anda bisa—".

Aku terengah kaget ketika pintu ruang interogasi terbanting membuka, memperlihatkan agen federal yang menatapku sangat tajam, sebelum ia membanting meja yang memisahkan kami. Bibir Seokjin bergetar, berusaha merangkai kata kata yang tidak bisa lepas dari ujung lidahnya.

Ia tidak pernah mengira semuanya akan menjadi seperti ini.

"Mengapa orang yang sangat tertutup dan memiliki kecemasan luar biasa sepertimu bisa mengancamku dengan informasi yang kau retas?".

Kim Seokjin mendekatiku dengan pandangan tidak percaya dan sakit, mensejajarkan wajahnya dengan milikku. "Mengapa orang pendiam sepertimu dapat menunjukkan arogansi setinggi Taehyung ketika mengintimidasi lawannya?".

"Mengapa kau mengerti batas batas kewarasan dan bisa menahan diri seperti Jung Hoseok?".

"Mengapa kau bisa memiliki kenekatan mengambil resiko untuk meretas Pusat Intelejensi Jerman seperti kegilaan Park Jimin, Jungkook?!".

"JAWAB AKU!".

Aku tidak memberikan jawaban apa apa, terlalu terkejut untuk bahkan membuka mulut. Aku hanya menatap Seokjin, tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini sebenarnya melaju.

Seokjin terduduk pada kursinya, meremas rambutnya berulang kali. "Mereka semua adalah kau".

"Kim Taehyung adalah kau. Park Jimin adalah kau. Jung Hoseok adalah kau, dan CLAY adalah kau seorang", Seokjin kembali mengulitiku dengan tatapannya yang kian menajam.

"Teman temanku sudah meninggal", aku membalas marah.

"Teman temanmu itu tidak ada!", Seokjin berteriak. "Mayat mereka tidak ditemukan disebuah hotel di Berlin karena hotel itu juga tidak pernah ada!".

Seokjin berbisik lirih, "It has always been you, Jungkook".

"It's only you".[]

Semuanya berawal dari musim dingin di Bulan Desember. Dimana aku merasa tidak pernah diinginkan di dunia ini, merasa dikucilkan dan tidak ada yang peduli pada eksistensiku. Titik puncak kesepianku datang ketika aku sedang mengapdi kepada masyarakat yang membuangku dari lingkar kehidupan.

Disanalah aku bertemu dengan seorang teman yang sangat arogan dan memperlakukan orang lain seenaknya sendiri. Gila kontrol, tergila gila dengan kebanggaan dirinya.

Seseorang yang selalu mengangkatku berdiri ketika aku terjatuh, seseorang yang mempunyai pemikiran yang sama denganku namum memiliki nyali yang jauh lebih tinggi. Sebagian dari diriku yang selalu memberikan perhatian lebih kepada—.

Aku menggigit bibir sekencang yang aku mampu ketika aliran air mata itu membanjir deras, aku tidak bisa menahan isak tangis yang mengisi ruang interogasi. Aku merindukannya.

Aku selalu merasa takut selama hidupku, merasa kecil, merasa tertindas di bawah kaki para manusia yang memijak bumi, melangkah di atasku setiap harinya.

Dan dia selalu berada disampingku.

Seseorang yang memiliki keberanian melewati batas kewarasan. Dia yang tidak tahu kapan harus berhenti, menyongsong maut tanpa peduli apa yang akan terjadi kemudian. Kegilaan dan juga ketulusan yang melekat pada dirinya.

Aku dikelilingi oleh orang orang yang peduli kepadaku, selalu menjagaku, menahanku dari segala hasrat sinting yang bisa membuatku terluka.

Ia membuatku tetap aman dan berada sejauh jauhnya dari masalah.

Aku ingin bertemu dengan teman temanku kembali, aku ingin berbicara dengan mereka, merasakan rasanya disayangi oleh orang lain.

Namun, bagaimana kalau mereka tidak pernah ada?

Aku tersenyum miris ketika menyadari rasa sakit yang terus mengalir ditelapak tanganku. Paku yang menusukku disaat aku mencoba untuk menerobos Europol melalui saluran bawah tanah.

Mungkin, memang aku merasa sangat kesepian, mungkin aku memang menciptakan realita sebagaima aku ingin melihatnya.

Dunia yang penuh dengan harapan.

Dunia dimana aku tidak sendiri.

Aku mengerti mengapa aku tidak bisa merasa puas ketika aku merusak reputasi seorang politikus ternama di depan publik. Aku mengerti mengapa meretas sistem Federasi Jerman tidak bisa mengisi kekosongan di dalam hatiku. Penyerangan terhadap sistem Europol, penangkapan hacker terkemuka di Darknet.

Tidak ada yang bisa membuatku bahagia.

Karena selama ini, aku hanya menginginkan seorang teman.[]

"Jungkook", Jin memulai. "Aku tidak bisa memberikanmu program perlindungan saksi".

Aku menengadah dari lamunanku, mengernyit.

"Seseorang yang menderita penyakit mental…tidak bisa dilindungi", Seokjin menggeleng lirih. "You're sick".

Aku menggeleng. Seandainya teman temanku masih ada disini, mereka akan membantuku menyusun sebuah rencana.

Seandainya mereka belum meninggal.

Kim Seokjin berpaling ketika air mataku meluncur turun, menetes ke permukaan meja interogasi sebelum berubah menjadi isak tangis deras. Rasa frustasiku mengambil alih, apa yang harus kulakukan sekarang? Mereka akan membunuhku. Begitu aku melangkah keluar dari markas besar Europol, mereka akan mencariku.

Mereka semua akan membunuhku.

"K-Kumohon", suaraku bergetar, menggeleng ketika mengingat wanita yang pernah menjadi ibuku. Aku tidak ingin berakhir sepertinya.

"Maafkan aku, Jungkook", Seokjin bangkit dari meja interogasi, "Kami akan segera membawamu ke pengadilan", ia berucap dengan suara yang pecah, tidak bisa mengabaikan hatinya yang teriris iris ketika aku menguburkan kepalaku dalam keputusasaan sembari menangis.

Mengapa teman temanku tidak datang?

Seokjin membawaku ke pengadilan keesokan harinya. Ia sedang menggiringku menuju pintu keluar markas besar Europol untuk diadili atas kejahatanku di dalam dunia maya. Aku melangkah dengan perasaan kosong, tidak memedulikan nasib yang akan segera menjemputku. Aku sudah cukup menderita dan inilah saatnya aku menyerah.

Seokjin terhenti ketika kami hampir mencapai pintu keluar. Pria itu menatapku sungguh sungguh, aku dapat melihat penyesalan yang sangat besar dalam matanya. Sebelum ia memejamkan mata dan tersenyum lemah kepadaku, "Berjanjilah kau akan berhenti meretas".

Aku tercenung tak mengerti sebelum pria itu menarikku pergi dari pintu keluar markas, ia mendorongku memasuki sebuah ruangan, memberikanku berkas yang sudah dipersiapkannya kemarin. "Ini identitas barumu, aku yang akan mengantarmu pergi".

Aku hanya diam dalam kebingungan ketika Seokjin menarikku ke dalam mobilnya, membahayakan seluruh karirnya demi membebaskanku. Kami berkendara menuju pelabuhan dengan suara kapal yang mendengung keras.

Jin menatapku lembut dan untuk yang pertama kalinya, ia tersenyum tulus, "Kau orang yang baik, Jungkook. Kau hanya telah salah melangkah".

Ia mengusap puncak kepalaku lebih lembut dari yang kubayangkan, menghantarkan kehangatan menuju sekujur tubuhku. "Berjanjilah kau akan berhenti meretas".

Aku terdiam cukup lama, sebelum mengulas sebuah senyum muram dan mengangguk. Darknet telah menyeretku ke dalam konflik yang tidak pernah kuinginkan, aku sudah terlalu banyak mengacau dan kehilangan jati diriku di dalam prosesnya.

Aku harus melepaskan semua itu.

"Sebelum kau pergi, aku ingin menanyakan sesuatu", Seokjin mendekat kepadaku, tersenyum penasaran sekaligus malu. "Bagaimana…caramu melakukan trik dengan bongkahan gula itu?".

Aku tertawa pelan, mengeluarkan empat bongkahan gula dari saku jaketku, "Kalau kau mengetahui kebenarannya, kau akan kecewa".

Aku mengusapkan jemariku di atas bongkahan gula, menyisakan hanya satu di telapak tangan. Aku membalikkan tangan kiriku, memperlihatkan tiga bongkahan gula yang kusembunyikan di dalam jemariku yang lain.

Kim Seokjin tertawa hangat, meremas pundakku sekali sebelum memberikanku salam perpisahan. Kami memang tidak mengenal satu sama lain, tapi kami sudah berbagi sangat banyak rahasia hanya dalam waktu sehari.

Seokjin tersenyum lirih, mengamati ketika pria itu berjalan meninggalkan mobil, menghilang dari pandangannya, menuju ke dalam kehidupan yang baru.

Kim Seokjin pun kembali memandangi empat bongkahan gula yang akan selalu mengingatkannya kepada pria bernama Jeon Jungkook.

Gula gula itu…

There were four.

And now it's one.

I kept the other three hidden in my palm.

Kim Seokjin kembali menatap jalan setapak yang sunyi, Jeon Jungkook tidak berada dimana pun. Jantungnya mencelus ketika ia kembali menatap empat gula yang tergeletak di atas dashboard mobilnya, menyadari sebuah kenyataan besar.[]