Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, NC, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
Chapter 2
Aku bergegas meninggalkan restaurant Asia itu dan menuju jalan besar untuk segera kembali ke kantor, aku benar-benar diburu waktu sekarang. "Menelpon Baekki bisa lupa waktu," pikirku. Aku bekerja di salah satu perusahaan internasional dalam bidang online advertising. Salah satu alasanku memilih perusahaan ini karena letaknya yang bisa dibilang strategis, seperti sekarang ini aku bisa berjalan kaki dari restaurant tadi menuju kantorku dengan waktu kurang dari sepuluh menit. Karena kebanyakan perusahaan iklan, media, dan semacamnya terletak di daerah ini seperti pelengkap dari pusat turistik terkenal. Perusahaan tempat aku bekerja tidak hanya menangani online advertising, media cetakpun juga masuk dalam perusahaanku.
Tiga tahun bekerja di sini cukup membuatku paham bagaimana roda media London bekerja. Jika ditanya inikah passion kerjaku? Jawabannya bukan sama sekali. Kenapa? Entahlah sudah lama sekali aku ingin menjadi penulis, bisa dibilang itu cita-cita masa kecilku hingga 5 tahun yang lalu. Tiba-tiba keinginanku menjadi penulis lenyap sudah. Ketika baba meninggal 5 tahun lalu, aku memutuskan kembali ke China, salah satu tujuanku adalah menjaga mama, dan melanjutkan keinginanku menjadi penulis terkenal. Jujur saja, saat itu aku sedang setengah jalan untuk menghasilkan sebuah buku –ya buku pertamaku- dan saat itu aku mengharapkan bisa melanjutkannya ketika di China.
Hobi menulisku ini sudah ada ketika pertama kali aku bisa membaca dan menulis dengan benar, entah mengapa aku terus menerus ingin menulis dan membuat sebuah cerita. Kesukaanku pada menulis terus berlanjut dan tersalurkan cukup baik, ketika aku dan teman-teman Koreaku berjanji saling kirim surat, maka aku terus menerus mengirimkan surat pada mereka. Bahkan aku berhasil menciptakan beberapa karya pendek yang memenangkan beberapa perlombaan. Namun, hal yang kuanggap akan terus aku lakukan itu ternyata berhenti ketika aku di China.
Kedatanganku ke China membuat banyak masalah bermunculan. Keluarga besar mengarapkan aku agar menjadi pengganti baba di perusahaan, bahkan beberapa saudaraku terang-terangan ingin menjadi penerus perusahaan, saat itu yang terucap di bibirku adalah, "Aku hanya ingin terus menjadi penulis ma, jangan paksa Luhan."
"Kamu penerus baba sayang, kenapa kamu malah berkeinginan menjadi penulis?"
"Mama, Luhan sudah pernah bilang berkali-kali, Luhan tidak tertarik dengan perusahaan baba, passion Luhan itu nulis. Luhan gak bisa jadi pemimpin perusahaan ma,"
"Lu, siapa lagi kalo bukan kamu. Selama ini baba kamu mengembangkan perusahaan demi kamu Lu, kenapa kamu jadi egois?" entah mengapa saat mendengar mama mengatakan "egois" itu lebih kejam dari apapun.
"Mama bilang Luhan yang egois? Mama yg egois, Luhan ke China bukan buat bekerja di perusahaan baba. Luhan disini buat jagain mama!" mama meremas pakaiannya dengan kuat menahan tangisnya.
"Kamu bisa jagain mama dengan bekerja di perusahaan baba, kenapa kamu kayak gini Lu? Baba pasti kecewa melihat kamu yang seperti ini. Semua karena kamu terlalu cinta dengan Korea. Mama tidak suka kalo kamu jadi kayak gini Lu," salah satu hal yang aku tidak suka dari mama adalah, mama selalu menyalahkan diriku yang lebih memilih sekolah di Korea daripada di China, keputusan yang dari awal ditolak mama mntah-mentah tetapi disetujuin baba dengan tenang,
"Luhan juga butuh berkembang, biarkan saja dia di Korea," kata-kata baba yang selalu aku ingat dan terus melekat di kepalaku .
"Mama selalu mengungkit hal yang tidak perlu, Luhan capek ma, masalah perusahaan ada Kris ge yang bisa menangani." Ucapku kesal. Kris ge adalah sepupu terdekatku sudah seperti kakak sendiri untuk ku.
"Lu, mama mohon coba dulu untuk menjalani perusahaan babamu. Mama akan membebaskanmu setelahnya, mama mohon Lu, hiks..hiks" mama menangis dan terduduk di depanku saat itu.
"Mama janji sama Luhan untuk membaskan Luhan setelah ini?"
"Mama janji"
Dan begitulah hingga aku berakhir di kota ini, aku memang mencoba menjadi pemimpin selama 2 tahun di sana, hanya saja aku terus menerus merasa tertekan karena tidak bisa menulis dan lebih sering jatuh sakit. Sehingga aku memutuskan pergi dari China dan memilih London untuk mencari suasan baru dan mama mengijinkanku untuk pergi. Semua urusan perusahaan aku serahkan kepada Kris ge. Ketika aku tersadar, aku sudah berdiri di depan kantorku dengan plat perak besar diatasnya.
Siang ini aku ada jadwal rapat dengan CEO perusahaan ini, cukup aneh memang perusahaan tempat aku bekerja memiliki cabang di berbagai negara. Bahkan yang di London ini bukan yang terbesar, namun CEO perusahaan ini memilih London sebagai pusatnya. Sebenarnya menjadikan London sebagai pusatnya baru berlaku 6 bulan yang lalu ketika pergantian jabatan, bisa dibilang pemimpin yang sekarang bukanlah pemilik asli hanya turunan dan resmi sekitar 6 bulan yang lalu.
"Luhan !" seseorang memanggilku dan reflek aku menoleh ke sumber suara
"Hay Chen," sapaku, Chen adalah satu-satunya teman Koreaku disini, sehingga membuat kita cukup dekat di kantor.
"Dari mana? Tumben gak makan siang di café biasa"
"Aku kangen masakan Korea, jadi memilih restaurant Asia disekitar sini" Chen membulatkan matanya.
"Mwo? Restaurant asia? Odie?" dan Chen adalah satu-satunya yang selalu mengajakku mengunakan bahasa Korea jika tidak banyak orang seperti sekarang ini.
"Tidak jauh, kapan-kapan aku ajak kesana,"
"Jinjja? Okee.. janji ya," aku tersenyum lalu mengangguk
"Luhan, aku duluan ya. Aku harus menyerahkan proposal ke bagian percetakan, sampai nanti" Chen melambai dan berlalu, satu hal lagi tentang Chen adalah kita di bidang yang berbeda. Aku online dan dia media cetak. Sehingga cukup sulit untuk terus-terusan bertemu dengannya kecuali jam makan siang, jam pulang kantor atau seperti tadi –tidak sengaja bertemu-. Selain beda bidang, aku dan Chen berbeda lantai. Chen bekerja di lantai 3 sedangkan aku di lantai 5.
Aku menuju lift dan menekan angka 4, dimana ruang rapat, lounge, dan bar serta tempat istirahat lainnya berada. Salah satu lantai yang menyenangkan di kantorku. Aku berjalan menuju pintu berwarna abu-abu gelap dan membukanya, tampak beberapa orang telah mengisi kursi di ruang rapat. Dengan bergegas aku mengambil posisi disebelah Cassie, patner kerjaku selama disini.
"This yours, Luhan" Cassie menyerahkan buku agenda dan alat tulis. Cassie adalah wanita berciri kaukasian-alpine, berkulit putih, rambut panjang bergelombang, salah satu ciri khas Cassie adalah cara bicaranya. Karena dia bukanlah penduduk asli, dia memiliki cara berbicara cukup unik menggunakan bahasa inggris dengan nada orang Jerman, ya dia benar-benar kaukasian-alpine. Cassie bukanlah satu-satunya orang Jerman disini, karena perusahaan ini berbasis Internasional maka tidak heran perusahaan ini memiliki tenaga kerja dari berbagai ras. Hanya saja orang Asia cukup jarang disini, contohnya saja hanya aku dan Chen yang berasal dari Korea Selatan -ya aku mendaftar sebagai orang Korea disini-. Selebihnya bisa dihitung dengan jari beberapa yang berasal dari Asia selain Korea.
"Thanks Cas, you're the best" Cassie hanya tersenyum, sebagai patner Cassie benar-benar membantu banyak, salah satunya seperti ini. Dia akan membawakan perlengkapan rapatku ketika aku datang dalam waktu yang mepet. 5 menit kemudian seseorang masuk ruangan rapat dan duduk di kursi utama. Itu dia, pemimpin baru perusahaan ini.
"Hallo everyone, will start our meeting now," ucapnya lalu meperbaiki letak dasinya. Kesan pertama saat dia muncul di depan untuk penerimaan jabatan 6 bulan yang lalu adalah "dingin". Entah mengapa aku bisa melihat aura dingin dari dalam dirinya, kulitnya yang kelewat putih, tatapan matanya terlalu tajam, ekspresinya yang tak terlihat, tubuhnya yang terlihat kuat cukup bisa membuatku menyimpulkan dia orang yang dingin. Jangan berfikir dia adalah orang tua atau sejenisnya, dia itu seumuran denganku -tidak- dia lebih muda dariku setahun. Penampilannya memang tidak memperlihatkan seperti itu apalagi dengan rambut bewarna peraknya seperti menegaskan dia adalah pemimpin yang sangat dewasa dan bijaksana. Entah darimana aura pemimpinnya benar-benar terasa kuat jika dia berdiri di depan untuk memimpin rapat atau apapun.
"Mr. Luhan? Do you understand?" aku terkesiap dan langsung memandang kedepan -bukan- aku memandang matanya.
"Eh? Oh ? hm sorry" ucapku salah tingkah, satu hal lagi yang membuatku tidak suka dengannya adalah. Dia selalu memperlakukan aku seenaknya dan selalu membuatku malu atau salah tingkah di depan umum seperti ini.
"Kamu harus lebih konsentrasi Luhan, ini rapat penting. Saya tidak butuh orang yang suka melamun di kantor saya." Sungguh saat ini juga aku ingin keluar dari ruangan yang menyebalkan ini,
"I'm sorry ," hanya itu kata yang bisa terucap dari diriku, lagi-lagi aku hanya bisa meminta maaf, menyebalkan sekali. Dan ya namanya Willis, sejauh ini aku tidak tau nama lengkapnya. Di awal perkenalan dia hanya menyebutkan Willis, menurutku nama itu memang cocok untuk orang dingin seperti dia.
Rapat berjalan sekitar 1 jam tapi menurutku rapat seperti berjalan lebih dari itu. Aku benar-benar tidak nyaman, si Willis itu terus saja menatapku dengan mata kelewat tajamnya, belum lagi tiba-tiba perutku terasa sangat sakit. Aku benar-benar butuh pulang sekarang.
"Luhan?" suara berat yang sudah aku hapal memanggil namaku, akupun menoleh
"Iya Mr. Willis?" aku benar-benar sakit perut sekarang.
"Bisa keruangan saya sekarang?" sebuat pertanyaan yang tidak ingin aku dengarkan disaat seperti ini.
"Heh? Oke," dan lagi-lagi aku hanya bisa menjawab sebisanya sambil menahan sakit perut ini.
"Ikuti saya sekarang," dan dengan berat hati aku mengikuti langkah dia memasuki lift dan menuju lantai 6.
.
.
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa
silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan
Sarangahaeee chinguu
