Kuroko No BasukeFujimaki Tadatoshi

100% Shio Shi Seo Shieo

Fanfic ini mengandung kadar OOC tingkat tinggi, TYPO yang bertebaran dimana-mana, NO EYD, AU/AT, PLOT amburadul, serta berbagai kekurangan-kekurangan lain yang tidak manusiawi :v

..

Ia menggenggam erat senjatanya dengan tangan berkeringat.

Harusnya ia tau. Mempercayai Kuroko hanyalah hal bodoh. Dan sialnya, pimpinannya—Hyuga Junpei melakukan hal itu.

Ruang kosong tanpa penerangan itu cukup rapuh. Lantainya berderit, sementara dindingnya sudah retak dan ditumbuhi lumut.

Ia sendiri tak yakin, berapa lama ia bisa bertahan, sebelum turut dimusnahkan oleh mereka.

"Taigacchi-sama~~ tak apa~~~ keluarlah, kami takkan menyakitimu."

Tanpa melihatpun Taiga tau, jika si pirang sialan itu yang tengah bicara. Nada suaranya terdengar menyenangkan dan kekanakan, padahal saat ia menghabisi anggota kelompoknya ia terlihat begitu dingin.

Harusnya Taiga tau, melakukan perjalanan konyol meninggalkan perkampungan mereka dengan iming-iming bodoh Kuroko yang katanya dapat membantu mereka memperbaiki kehidupan mereka jika mereka menuju ke Central City adalah sebuah kesalahan.

Taiga mendecih. Bau anyir tercium menusuk hidung.

Senjatanya hanya memiliki sisa baterai sepuluh persen lagi, dan melawan enam orang pimpinan pemusnah adalah hal bodoh yang sia-sia.

Taiga sangat jarang menggunakan otaknya untuk berfikir, selama ini ia hidup dengan mengandalkan instingnya, tapi saat ini ia dituntut untuk melakukan sesuatu dengan otak serta ototnya, atau dia akan segera menyusul anggota kelompoknya tanpa sempat membalaskan dendam mereka.

"Taiga-sama …" suara berat yang membuat ia berjingkat terdengar tepat dari arah belakang. "Kenapa Taiga-sama bersembunyi?" suara itu bertanya dengan polos.

Dan Taiga memutuskan untuk berhenti berfikir.

Karena itu sudah tidak berguna lagi.

..

Taiga benci dikasihani, dan tatapan si surai biru tua ini benar-benar membuatnya marah serta muak.

Sebagian wajahnya hilang terkena tembakannya, sementara kulitnya yang lain meleleh, menunjukkan besi tipis aneh dan kabel-kabel berwarna disana. Menjijikkan. Perutnya mual.

"Taiga-sama, tolong berhenti," sebuah suara halus dengan nada kasihan—lain—terdengar. "Tidak ada gunanya mengasihani mereka, mereka adalah bagian yang harus dimusnahkan, mereka bukan manusia murni."

"Siapa perduli dengan ocehan bajingan seperti mu!" Taiga berteriak sambil memukul-mukul si kulit dim didepannya. Tangannya lecet, dan terasa perih.

"Taigachin-sama~ tolong berhenti membuat diri anda berdarah," pinta si raksasa ungu dengan nada malas ia berdiri mengawasi dari jarak yang cukup jauh.

"Bagaimana bisa aku melakukan itu! Setelah apa yang kalian lakukan pada keluargaku sialan!"

"Taiga-sama tidak memiliki keluarga," ucap si biru muda dengan nada suram, "Begitupun kami, tidak ada siapapun yang memiliki keluarga. Semua itu hanya keinginan sepihak Taiga-sama saja."

Tubuh Taiga bergetar, tangannya mengepal, urat-urat didahinya semain terlihat.

"TUTUP MULUTMU BAJINGAN! KAU FIKIR KAU SIAPA SAMPAH!" teriaknya, sebelum berlari dan menghantam Kuroko dengan kepalan tangannya sekuat tenaga, hingga ia terpental cukup jauh. "Hanya karena kami tidak terikat dengan darah … bukan berarti kami bukan keluarga!"

..

"Taigachin-sama, tolong makanlah. Taigachin-sama sudah tidak makan selama tiga hari. Memang Taigachin-sama tidak lapar?"

Taiga menatap sosok tinggi itu dengan mata nyalang, sebelum meludah dan melengos, menatap tembok putih disampingnya.

Pemuda tinggi dengan surai ungu itu menatap sedih pada Taiga. "Taigachin-sama … kumohon makanlah. Aku janji akan menuruti semua perintah Akachin tanpa membantah lagi seumur hidupku."

Dan Taiga memutar kedua bola matanya, lagi pula siapa si 'Akachin' ini? Seperti Taiga peduli saja.

..

Murasakibara membuka pintu ruangan besar itu dengan wajah lesu. Nampan berisi aneka makanan dan minuman ia bawa kembali.

"Apa Taiga-sama masih tidak mau makan?" yang bermata heterochromia bertanya dengan was-was.

Murasakibara mengangguk lemas.

"Bahkan … hanya sesuap?" kini giliran Kuroko yang bertanya.

"Iya, aku sudah mencoba membujuknya, tapi Taigachin-sama tetap tidak mau makan," adunya.

"Mungkin~ mungkin~ makanannya kurang enak-ssu~"

"Bagaimana bisa, Ryouta. Aku sangat yakin itu adalah makanan terenak yang pernah diciptakan."

"Yang dikatakan Akashi-kun benar. Tidak ada yang bisa menolak kelezatan steak daging dan ayam panggang."

Bunyi kursi yang digeser membuat semua kepala menoleh.

"Kise, ambilkan tali,"perintahnya.

"Eh? Ta-tali? Untuk apa Aominecchi?"

Bukannya menjawab, ia malah berjalan mendekat kearah Murasakibara. Dengan seringai khasnya ia berkata, "Jika Taiga-sama tidak mau makan, maka satu-satunya acara adalah dengan memaksanya makan."

..

Teriakan melengking yang cukup keras membuat mereka tergopoh menuju ke ruang khusus yang menjadi tempat isolasi Taiga.

"Ada apa, Daiki, Ryouta?"

"Taiga-sama! Beliau hilang!"

Tak ada sepatah katapun yang terucap kemudian. Satu-satunya yang teredengar hanya bunyi debuman dan retakan didinding yang dibuat oleh kepalan tangan Aomine.

"Saya yakin Taiga-sama masih belum jauh, mari kita cari bersama," usul Kuroko.

..

Tubuh besarnya begitu sering menabrak dinding sempit tempatnya merangkak. Pemuda seumurannya itu tenang memimpin jalan depan. Lorong panjang dan sempit ini membuatnya tidak nyaman. Belum lagi Taiga yakin, cepat atau lambat para pimpinan pemusnah yang aneh itu pasti akan segera menyusulnya.

"Kita, mau kemana?" Taiga bertanya sedikit dongkol, setelah belokan entah yang keberapa dan mereka belum juga menemukan tempat luas. Taiga sebal lama-lama merangkak dalam tempat sempit. Punggungnya sakit.

Pemuda didepannya tertawa, bahkan tanpa melihat wajahnya Taiga tau, jika pemuda itu pasti sangat girang sekarang. "Kita akan keluar dari tempat ini, kita akan pergi dari tempat busuk ini!" ujarnya penuh semangat.

"Kemana?"

"Kemana lagi? Tentu saja ke Old Capitol. Tempat dimana mimpi bisa menjadi kenyataan."

Taiga terbelalak. Ingatannya berputar pada keluarganya yang dibantai beberapa hari lalu. Ia ingat bagaimana Kuroko menipu semua orang dan bagaimana makhluk-makhluk itu membantai keluarganya.

"Kau …" ia menggeram, hampir akan menerjang pemuda didepannya jika saja ransel besar dipunggungnya tidak bersuara.

"Kiseki No Sedai yang sekarang, bukanlah Kiseki No Sedai yang dulu. Melihat bagaimana Anda dikurung dan respon Anda barusan, saya bisa menyimpulkan bahwa mereka sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Anda."

"Eh? … EEEEEEHHHH?!"

Pemuda didepannya berhenti, sebelum tertawa.

"Namanya Midorima Shintarou, aku menculiknya dari Kiseki No Sedai saat dia mengejarku."

"Kenapa dia harus mengejarmu?"

"Karena itu perintah," jelas sesuatu yang ada didalam ransel pemuda itu. "Perintah itu tidak bisa dibatalkan dan sifatnya meutlak mengikat."

"Lalu … bagaimana bisa kau dalam keadaan seperti ini sekarang?"

"Shin-chan menyerang desaku setelah berpura-pura sebagai pengembara dua tahun lalu, aku berhasil melarikan diri, tapi terluka lumayan parah. Dan kabar buruknya, Shin-chan mengejarku," terang pemuda itu sambil terus melanjutkan arah perjalanan mereka menyusuri lorong sempit ventilasi udara.

"Perintah yang kami terima adalah untuk memusnahkan semua yang bukan manusia murni, karena dalam perintah kami hanya manusia murnilah yang perlu kami lindungi. Dimasa lalu, kami, Kiseki No Sedai adalah makhluk buatan manusia yang ditugaskan untuk menjaga manusia, dan karena semakin banyaknya makluk buatan dan semakin sempurna teknologi, beberapa manusia murni menikah dengan manusia buatan. Sehingga tugas kami pun bertambah, untuk melindungi seluruh umat manusia, entah itu manusia murni, atau bukan. Namun, seribu tahun lalu, sebuah virus aneh menyerang dan memusnahkan hampir semua manusia murni, atas hal itu, system kami memberi perintah untuk memusnahkan semua manusia dengan kadar kemurnian kurang dari sembilan puluh persen. Saya kira, system kami mengira jika virus itu terjadi karena manusia dengan kadar kemurnian rendah, atau bisa juga karena campur tangan pihak tertentu."

"Dan begitulah bagaimana aku bertemu dengan Shin-chan. Aku berhasil menghancurkan tubuhnya, dan mengacaukan programnya, saat itulah dia mendapatkan kesadarannya kembali sehingga dia bisa melawan perintah dari system pusat."

"Jadi … tujuan kita pergi ke Old Capitol…"

"Yap, hanya kau yang bisa merubah perintahnya, karena kau manusia murni, Taiga. Kau bisa masuk ke Center System dan merubah perintah dasarnya."

"Tapi … bukankah cepat atau lambat mereka akan mengejar kita?"

"Benar, bahkan sekarang mereka mungkin sudah menunggu kita di pintu keluar, nanodayo."

"Lantas kita harus bagaimana?!"

Pemuda bersurai hitam itu mendecih "Kita tak bisa menghindari pertempuran, berarti satu-satunya harapan adalah dengan negosiasi."

"Ne—negosiasi?"

"Kau harus berpura-pura sakit dan butuh obat, dan aku akan mengatakan jika obat tersebut hanya bisa kita dapatkan di Old Capitol."

"Kau gila! Mereka pasti tau jika aku berbohong!"

Midorima berdehem "Tentu saja tidak, mereka tidak perduli kau berbohong atau tidak. Karena pada dasarnya Kiseki No Sedai adalah pelayan yang setia, mereka akan menuruti apapun perintahmu asal kau menunjukkan pada mereka kau pantas itu."

"Tapi … aku sudah mencoba untuk memerintahkan mereka berhenti saat mereka membantai keluargaku!"

"Bukanlah sudah kubilang kalau perintah system itu mutlak dan mengikat."

"Shin-chan, dimana posisi mereka sekarang?"

"Aku tidak bisa memastikannya secara jelas tapi sepertinya jalan keluar kita sudah dihadang oleh mereka."

"Lalu … bagaimana?" Taiga bertanya dengan nada khawatir.

..

tbc