Rated : M-T

Pair : Chanbaek

Purely my wild imagination.

Genre: Angst, Hurt, Romance.

Drama ++

(with some Humor feeling)

.

CERITA INI TIDAK DIBUAT UNTUK MENJATUHKAN PIHAK ATAU KARAKTER MANAPUN.

Ciee fast update cieee :p

Kan kemarin gue bilang "see ya really soon" :P

.

.

.

.

Sekali lagi !

(( CERITA INI TIDAK DIBUAT UNTUK MENJATUHKAN PIHAK ATAU KARAKTER MANAPUN))

4. That Is Why I Didnt Tell You (2).

Aku masih menjalankan hari-hari seperti biasa. Berlatih untuk proyek drama musikal, konser, dan menjadi pembawa acara musik. Syuting untuk asrama sudah dilakukan. Itu sedang dalam pengeditan dan variety shownya ada di agenda bulan depan .

Bahkan sengaja tidak aktif dalam sosial media karna manager belum memberi kode apa-apa.

Rasanya hari-hari buruk terjadi hampir sepanjang pekan. Aku tak fokus dalam apapun. Senior sekaligus pelatih drama cuma-cuma -Kyuhyun Drakuy Hyung, dia yang minta dipanggil begitu- berkali-kali mengingatkanku. Gayanya merangkulku dan memberiku petuah diantara sesi istirahat layaknya tetua yang hidup ribuan tahun. Tak masalah, itu cukup menghibur.

Aku bertemu Chanyeol hampir setiap hari. Konser semakin dekat dan jadwal latihan semakin menggila. Jadwal tidur semua orang mulai tidak teratur, walau kenyataannya memang tak pernah benar-benar teratur.

Anggota grup mulai terbiasa berlatih dengan jumlah ganjil. Aku akui, sejak Kris hyung tak ada, banyak yang kurindukan. Biasanya, dia yang paling bersikeras pada pelatih jika kami butuh istirahat. Dia dan segala teori perawatan wajahnya menjelaskan bahwa idol harus tidur cukup dan minum air putih sesuai aturan. Agar wajahnya tetap terjaga. Kadang itu hanya akal-akalannya saja. Aku tau dia hanya membantu anggota yang kadang tersandung kaki sendiri akibat tak kuasa menahan kantuk.

Chanyeol tak pernah pulang ke dorm sejak malam dia berbicara denganku. Mungkin dia harus terus syuting atau memang tak ingin berada dalam satu kamar tidur yang sama denganku, entahlah.

.

.

.

Aku dan Suho hyung sedang diruang tunggu Ingkigayo, bersiap-siap.

"apapun itu, jangan dengarkan, Baek"

Itu suara Suho hyung.

Aku tau, selama ini, aku memilih "bersembunyi". Hari ini, publik bisa melihatku secara nyata, dan dapat melakukan apapun secara nyata pula. Aku mengangguk dan tersenyum. Hari itu telah berlalu dan aku memilih untuk tidak membaca apapun yang merusak mood-ku.

Suho hyung masih menatapku, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Jika dia ingin mengatakan sesuatu yang rahasia. Kondisi sekarang sedang tidak tepat. Make up noona, manager, dan hairstyles masih disini, melakukan tugas masing-masing. Jadi, aku menggoyangkan ponsel didepan wajahku sambil tersenyum. Suho hyung langsung mengerti dan kemudian beralih mengetik sesuatu diponselnya. Satu pesan masuk.

"Baek, kemaskan barangmu dan pindah ke kamarku dan Sehun"

Kau dan keinginanmu kini terkabul.

.

.

.

.

.

'Itulah asalnya kenapa sekarang susunan teman sekamar adalah aku, Suho hyung, dan Sehun satu kamar. Dan aku mengalah, memilih tidur diruang tamu karna kamar luar biasa berantakan. Sekarang, kalian sudah tau kan?'

Aku masuk ke panggung Ingkigayo dengan perasaan gugup luar biasa. Hari-hari biasa saja, aku selalu gugup saat naik ke atas panggung. Apalagi saat memiliki skandal begini. Rasanya aku tak mampu berdiri dengan kaki sendiri.

Aku mendapatkannya. Teriakan-teriakan kata penghianat. Apa aku kabur saja? Atau bersembunyi lagi. "penghianat"terus saja menggema dikepalaku. Sulit hilang, seperti noda pada pakaian.

Setelah semua jadwal berakhir, aku memilih untuk menghela nafas sebentar- merenung-. Hari itu jadwal tak sepadat biasannya, namun aku merasa luar biasa lelah.

Aku tak ingat menggunakan berapa banyak waktu untuk merengung versi diriku sendiri. Saat aku kembali ke dorm keadaan sudah sunyi. Mungkin anggota lain sudah terlelap. Hari ini bisa dikatakan sebagai liburan latihan bagi seluruh anggota. Tapi biasanya Kai tetap sibuk menghafal dan mencari tambahan gerakan bersama Sehun. Ah, Sehun. Aku ingat aku akan pindah ke kamarnya. Lebih baik jangan hari ini, aku luar biasa lelah.

Aku masuk ke kamarku dan Chanyeol. Berfikir menghabiskan waktu terakhir sebagai teman sekamar dengan meringkuk sendirian. Tapi, aku menemukan Chanyeol disana. Tertidur dibalut selimut.

Suasana hatiku tiba-tiba membaik. Aku kekamar mandi hanya untuk mencuci muka dan cepat-cepat berganti pakaian.

Setelahnya, aku menemukan diriku menambah lapisan selimut Chanyeol dengan punyaku dan menyelusup ke dalamnya. Bertemu kulit tubuhnya yang tak dilapisi pakaian.

Kadang-kadang dia hanya mengenakan celana pendek, atau satu set lengkap piama, dan jika sangat lelah, hanya melepaskan baju dan terlelap dengan celana yang sama.

Aku melingkarkan sebelah tangan pada perutnya dan mengubah posisi tidurku. Menatap dirinya yang walau bagaimanapun mengharuskan kepalaku mendongkak.

"Chanyeol"

Seperti yang dilakukannya terakhir kali, aku membangunkannya. Menepuk pipinya beberapa kali dan menunggu reaksinya.

Aku melihat matanya perlahan terbuka, lalu tersenyum setelahnya. Bukan jenis senyuman idiot seperti biasa, senyum ini menenangkan entah karena efek dia melakukannya saat benar-benar bangun tidur dan lupa jika terakhir kali dia sedang marah padaku.

"hmm, Baek?"

Dia tersenyum lagi. Salah satu ekspresi Chanyeol favoritku.

"apa saja yang kau lakukan hari, Baekhyun"

Daripada menggodanya seperti biasa, aku menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tepat.

"berlatih drama musikal dan ke Ingkigayo"

Aku mengerucutkan bibir, dan menghadapkan wajah kearah rusuk Chanyeol.

"Bagaimana harimu?"

Aku menimbang-nimbang. Berfikir untuk tak mengatakannya pada Chanyeol, tapi nanti sama saja dengan berbohong. Atau lebih tepatnya, kami kehabisan obrolan, Chanyeol mengantuk, lalu memilih kembali tertidur daripada membahas hal yang membosankan denganku, itu artinya hari terakhirku sekamar dengan Chanyeol bisa berakhir buruk.

Tapi jika aku katakan pun, memangnya dia peduli? Mana peduli anak itu.

"buruk, kau tau? Hari ini aku dan Suho hyung ke Ingkigayo. Mereka mengatakanku penghianat"

Aku semakin mengeratkan pelukanku pada perutnya.

Biasanya kami hanya bertemu untuk berlatih. Chanyeol hanya bicara padaku jika keadaan memaksanya. Seperti jika posisinya disebelah atau dibelakangku, otomatis apabila aku melakukan kesalahan, dia yang pertama melihat dan harus menegurku.

Awalnya aku sempat ragu untuk mendekatinya. Bagaimana jika dia masih seperti tempo lalu. Bagaimana jika moodnya buruk dan dia menendangku dari kasurnya, atau memukulku. Bisa saja kan?

Tapi dia bertingkah baik-baik saja. Kadang Chanyeol memang seperti itu, bahkan bisa lebih manis daripada ini.

Chanyeol hanya bergumam dan mengusak kepalaku. Tapi, matanya tetap terpejam. Tiba-tiba ingatan bahwa hari ini terakhir kami berbagi kamar yang sama melintas dipikiranku.

"Chanyeol, yeol, yeol, Bangun !"

Aku mengoyang lengannya dan menepuk pipinya bergantian. Aku ingin hari terakhir kami sekamar bersama, aku menghabiskan waktu lebih banyak dengannya.

"Chanyeol, ayo ! temani aku. Aku tidak bisa tidur Chanyeol !"

Semakin terdesak, semakin semangat, dan semakin keras aku mengguncang bahunya.

Chanyeol -yang kalian cintai ini- sulit sekali bangun.

"Chan, Chan, Chaniee~"

Nah, itu dia mulai terbangun.

"apa yang ingin kau lakukan malam-malam begini, Baek?" matanya sudah sempurna terbuka, dan aku mulai tersenyum bahagia.

"ayo makan sesuatu, aku belum mengantuk, kita bisa makan diatas tempat tidur"

"tapi makan diatas tempat tidur tidak baik, Baek"

Memang ada masalah? Kyungsoo saja menonton film, bermain game, minum, bernafas diatas tempat tidur. Dan biasa saja, lalu apa masalahnya?

"sekali ini saja kok, mau ya?"

Aku menatapnya dengan padangan memohon. Mengigit bibir, berharap dikabulkan

"sekali ini saja, mengerti? Kau ingin menonton sesuatu?"

"ya, ayo menonton film Chanyeol-ah"

Aku ingin memesan ayam goreng, tapi menimbang waktu menunggu yang lama aku urung melakukannya. Aku beralih masuk ke dapur dan membuka lemari es. Ada sebotol besar cola -sepertinya milik Luhan hyung- dan makanan ringan yang tak perlu ditebak sudah pasti milik Yixing. Mereka sedang di Tiongkok dan aku berinisiatif membantu mereka menghabiskan makanan ini, daripada nanti basi. Hehe.

Saat kembali ke kamar Chanyeol sudah menyiapkan laptop untuk memutar film. Aku meletakkan botol soda disamping tempat tidur dan langsung masuk kedalam selimut. Duduk di depan Chanyeol-oke, kalian benar, aku duduk dipangkuannya- dan memegang bungkus snack ditanganku.

Chanyeol dalam mode 'gencatan senjata tipe 1' selalu seperti ini. Bisa diajak berguling-guling dalam selimut seharian, mengajakku bermain game, makan bersama diluar, mandi bersama, memasakkanku makanan, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Tapi masalahnya, aku tak tau kapan saja dia melakukan 'genjatan senjata'. Tiba-tiba dia sudah baik saja seperti sekarang.

Selama menonton aku lebih banyak menghabiskan makanan dan minum soda, tenang Chanyeol sudah kubagi sedikit. Aku menoleh kebelakang dan langsung bertemu dengan wajahnya.

"Chan"

Aku memanggilnya sambil sedikit mendongkak. Dia merunduk dan menatap mataku, memberi padangan bertanya.

Perpaduan antara mataku yang mulai mengantuk, badan yang lelah, dan mungkin otakku yang mulai kurang sadar. Aku tiba-tiba saja sudah menciumnya.

Serius, aku menciumnya. Aku ini gila sekali, ya?

Bukannya berhenti, aku malah membalikkan tubuhku menghadapnya. Melingkarkan tangan disepanjang pinggangnya, memeluk posesif.

Pertama-tama, aku mengecup seluruh bibirnya. Memberi kecupan-kecupan kecil, aku melihat matanya, dan dia sedang memperhatikan apa yang kulakukan. Aku tersenyum dan kembali memberinya kecupan lain yang lebih terlihat seperti mengulum bibir bawahnya.

Park Chanyeol yang kalian lihat canggung saat pertama kali masuk rumah barunya di roommate, yang telat memberi makan anggota keluarga lain karna fokus pada acara kemah bersama, Park Chanyeol yang bertindak layaknya junior baru dan menerima ajakan semua orang kemana saja. Kini, aku memberinya ciuman perpisahan sebagai teman sekamar.

"aku mengantuk"

Ciuman itu kusudahi dengan langsung bersembunyi dipelukannya. Tapi dia tak balik memelukku, membiarkan tangannya terjatuh kedua sisi tubuhnya. Dia tak memelukku.

Aku bangkit. Keadaan canggung ini harus cepat diselesaikan.

"aku akan tidur, selamat tidur Chanyeol-ah" ujarku.

Kupaksakan agar bibirku dapat tersenyum lalu melambaikan tangan kearahnya. Aku cepat-cepat masuk kedalam selimutku sendiri. Semua terasa canggung sekali.

Sampai aku menyembunyikan kepala kedalam selimut -aku belum mengantuk-, aku tak mendengar suara apapun dari arah tempat tidurnya. Tidak dia mengumpat, bergumam, atau mematikan laptop.

Kau adalah yang selalu apa kuharapkan saat aku membuka mata. Harapan dan doaku kepada Tuhan. Maka aku tak mengatakanya padamu, karna itu hanya antara Tuhan dan aku.

.

.

.

.

.

That Is Why I Didnt Tell You (2).

((complete))

.

.

.

Fast Update kali ini disponsori oleh IKLAN NATURE REPUBLIC DAN REVIEW PEMBACA

Jadi manis gitu kan si ceye.

Sebenarnya gue udah mulai kehilangan feel nulis, berasa nggak nemu kata-kata yang bagus untuk penggambaran yang pas. Gue tipe orang yang sedikit perfeksionis, dan kalau ngulang kalimat-kalimat itu terus dalam satu chapter gue sendiri jadi males buat bacanya. (apalagi kalian)

Lah terus ini fast update?

Berterimakasihlah pada nature republik yang udah bikin gue semangat maksain diri buat ngetik dan mikir. Gue akan terus maksain diri buat nulis ini sampai adegan-adegan inti yang gue pengen dari awal. (semoga bisa terlaksana)

Coba aja di review lagi, kali aja fast update (?)

See Ya...

alias tibisi

terima saja kalau ada typo, *kecupin satu-satu pakai big nosenya sehun.