Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, NC, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
bagian 3
Luhan melangkahkan kaki memasuki ruangan dengan perpaduan warna stone dan leal yang membaur jadi satu. Beberapa hari sebelum sang pemilik ruangan ini resmi bekerja,ruangan ini benar-benar diubah total. Sangat berbeda dengan pemilik sebelumnya yang lebih condong menyukai warna tawny dan cinnamon untuk ruangannya. Mungkin kesan yang ingin ditimbulkan pemilik sebelumnya dan pemilik sekarang sangat berbeda. Jika dulu Luhan memasuki ruang ini, Luhan selalu merasakan aura hangat dan kebapakkan. Entahlah, Luhan seperti merasakan masuk kedalam ruang kerja babanya sendiri. Selain itu aroma yang menguar dari dalam ruangannyapun persis dengan apa yang babanya suka, cinnamon.
Jauh berbeda dengan ruangan yang sekarang Luhan masuki, perubahan ruangannya jelas sekali terlihat. Selain pemilik baru menyukai warna stone dan leal, penataan ruanganpun cenderung berbeda lebih terlihat muda dan modern. Selain itu aroma yang menguar ketika pertama kali Luhan memasuki ruangan ini masih sama seperti 6 bulan yang lalu, perpaduan jeruk bergamot, lavender, dan verbena. Sangat maskulin dan menimbulkan kesan gentle dan dingin. Yang jelas Luhan mulai menyukai aroma ini, aroma yang sama yang dimiliki sang pemilik ruangan.
"Luhan? Sedang apa kamu berdiri disana? Silahkan duduk," suara baritone yang sudah sangat dihapal Luhan mengaktifkan bagian otaknya untuk sadar. Dengan sigap Luhan berjalan ke arah sofa panjang dan duduk dengan tenang, jujur saja perut Luhan masih sakit.
"Luhan, kamu kenapa akhir-akhir ini kurang fokus dalam pekerjaanmu? Beberapa kali kamu tertangkap tidak memperhatikan rapat? Kamu ada masalah?" Luhan terdiam bebera saat, pria ini entah bagaimana menurut Luhan memiliki aura yang sangat kuat, dan Luhan tidak bisa lama-lama menatap mata pria yang sedang duduk dengan tenang di depannya.
"Kamu tidak ingin menjawab pertanyaan aku, Luhan?" lagi-lagi Luhan tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Sangat gampang memang, tapi Luhan benar-benar merasakan kegugupan yang amat sangat.
"Baiklah, aku beri waktu kamu untuk berfikir," pria itu berdiri dari duduknya dan menuju meja kerjanya, menekan intercom dan mengucapkan beberapa kalimat,
"Lisca, tolong antarkan saya secangkir teh panas dan secangkir air madu hangat, oh iya tolong bawakan obat sakit perut juga segera," Luhan segera mengangkat kepalanya dan meoleh ke arah pria itu. Apakah dia tau Luhan sedang sakit perut?. Luhan membuang pikirannya jauh-jauh, bagaimana mungkin sosok yang sekarang sudah kembali duduk di depannya ini begitu pengertian, sangat tidak mungkin.
Luhan masih sama seperti pertama kali memasuki ruangan itu 10 menit yang lalu, hanya terdiam menahan sakit perutnya dan memikirkan jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan pria didepannya ini. 5 menit kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan tempat dimana Luhan terdiam. Dia Lisca, semacam tea girl perusahaan ini. Lisca memasuki ruangan dengan membawa baki berisi 2 cangkir minuman, Luhan sempat melihat Lisca tersenyum ke arahnya dan hanya dibalas anggukan kecil dari Luhan. Beberapa saat setelahnya Lisca menutup pintu dan kembali ke tempatnya.
Luhan bisa melihat cangkir di hadapannya berisi cairan bewarna coklat muda dan ada sebutir obat bewarna putih di sampingnya.
"Minumlah, itu obat sakit perut dan lagi itu air madu untuk menghilangkan pahitnya." Reflek Luhan mendongakkan kepalanya dan melihat pria itu mengangkat cangkirnya.
"Obat sakit perut?" beberapa kata yang bisa Luhan ucapkan dengan keadaan seperti ini -sangat tersiksa-.
"Hm minumlah, setelah itu kamu bisa pulang lebih cepat." Lagi-lagi Luhan mengecek pendengarannya, pulang lebih cepat? Apakah dia serius?.
"Kenapa? Kamu ragu? Kamu heran kenapa aku seperti ini?" satu hal lagi pria ini tidak pernah menggunakan kalimat terlalu formal jika berbicara dengan Luhan.
"Ah, tidak , saya akan meminumnya" Luhan pun memutuskan untuk segera meminum obat itu dan meneguk air madunya dengan cepat, dia benar-benar membenci pahitnya obat.
"Lagi? Sudah berapa kali sih aku bilang untuk tidak memanggilku dengan, dan lagi jangan menggunakan kata formal itu mengangguku," luhan terdiam mendengar omongan pria itu, dia mengambil tisu dan mengelap bibirnya dengan rencana.
"Ehmm, maaf Willis, aku cuma merasa canggung jika harus menyebut namamu langsung," Luhan benar-benar dibuat bingung dengan bosnya satu ini. Sudah 3 bulan lamanya sejak Willis menyuruhnya untuk memanggil namanya tanpa ada sebutan apapun selain itu dia juga menyuruh Luhan untuk berbicara informal padanya, bagaimana mungkin Luhan bisa seperti itu. Walaupun pada kenyataannya Willis lebih muda darinya tetapi tetap saja ia bosnya disini. Dan lagi, bagaimana si Willis ini tau jika Luhan tidak suka pahit dan menyiapkan air madu di samping obat sakit perutnya. Tiba-tiba dia mengingat mamanya yang selalu melakukan hal yang sama ketika Luhan harus minum obat. Willis benar-benar membuatnya bingung, di satu sisi Willis adalah orang yang sangan dingin, dan di sisi lain Willis bisa menjadi orang yang 180 derajat berbeda di depan Luhan.
"Kamu tidak perlu canggung, aku sudah membebaskanmu untuk hal itu, dan juga untuk masalah konsentrasi bekerja mu harus ditingkatkan, aku tidak mau perusahaan ini jadi jelek karena memiliki anak buah yang tidak benar melakukan pekerjaannya," Willis menyebutnya anak buah yang tidak benat melakukan pekerjaan? Ayolah, dia benar-benar mengerikan. Bahkan Luhan sempat berfikir, apakah Willis ini perpaduan dari malaikat dan iblis? Mengapa dia memiliki 2 sifat yang berkebalikan tersebut secara bersamaan. Baru saja dia bersikap hangat padanya lalu dengan mudah dia menjatuhkan Luhan? Sungguh tidak bisa dipercaya.
Luhan mengangguk tanda mengerti, apalagi yang dia bisa lakukan selain mengangguk? Tidak ada. Luhan pun segera berdiri dan pamit untuk kembali ke ruangannya
"Aku akan kembali bekerja Willis, aku akan berusaha lebih fokus lagi dalam pekerjaan," Willis pun menatap Luhan lamat-lamat, dan Luhan mulai gugup ketika ditatap seperti itu.
"Kamu benar-benar tidak mendengarkanku ya Luhan? Aku bilang kamu bisa pulang lebih cepat dari yang lain," Luhan menggeleng,
"Aku masih bisa bekerja Willis, dan akan pulang dengan yang lainnya,"
"Kamu masih membantah? Ini perintah Luhan, kamu harus pulang karena kamu sakit!" Luhan bisa merasakan nada dingin yang keluar dari bibir pria yang masih duduk di depannya ini.
"Ba..baik aku akan pulang Willis, tapi aku harus membereskan dokumen dulu di ruangan kerjaku, permisi," kaki Luhan mulai melangkah meninggalkan sofa itu,
"LUHAN!" bentakkan Willis benar-benar membuatnya terperanjat, jantungnya seperti berpacu lebih cepat. "Aku tidak terima alasan apapun, masalah dokumenmu serahkan saja ke Cassie, jika kamu tidak segera pulang, kamu saya pecat!" Luhan menolehkan kepalanya tidak percaya, dipecat? Dia akan dipecat?. Luhan benar-benar tidak mengerti karakter bosnya, yang hanya bisa Luhan lakukan adalah mengangguk,
"I..iya aku mengerti, aku akan segera pulang," Ia merasa tubuhnya benar-benar lemas sekarang dan segera pergi dari ruangan yang samakin berasa dingin tersebut.
Sepeninggal Luhan, pria berambut perak itu merasakan sesuatu yang aneh, seperti sebuah penyesalan. Dia menyesal membentak Luhan, entah mengapa dia ingin memeluk Luhan saat itu. "Tidak seharusnya aku membentak dia seperti ini, dan juga mengapa dia begitu keras kepala, benar-benar tidak berubah," ucapnya lirih lalu menghemuskan nafas dengan pelan. Ia berjalan menuju jendela besar di ruangannya. Mata elangnya menatap ke bawah ke arah seseorang dengan kemeja biru langit yang sedang tertunduk. Orang itu baru saja keluar dari kantornya, Luhan.
"Sedikitpun kamu tidak berubah, harus sampai kapan aku bertahan seperti ini?" Willis tersenyum getir masih menatap orang berambut caramel itu. Matanya menatap Luhan yang sedang menunggu taksi. Ingin sekali dirinya bisa mengantar Luhan, namun keinginannya hanya bisa tertanam di hatinya tanpa bisa di lakukan.
"Kamu benar-benar tidak berubah," Pria berambut perak itu mundur dan kembali duduk dikursinya.
Luhan POV
"Bagaimana mungkin dia seperti itu? Benar-benar menyebalkan, perpaduan malaikat dan iblis yang sempurna," gerutuku. Aku benar-benar tidak menyangka diperlakukan menyebalkan sepertu itu. Ahhh rasanya aku ingin cepat-cepat sampai di apartemen. Selama di London aku memiliki sebuah apartemen elite yang tidak jauh dari tempatku bekerja, ya bahkan bisa dijangkau dengan sepeda atau kereta listrik. Hanya saja aku benar-benar ingin cepat sampai dan memilih menggunakan taksi. Sebenarnya banyak sekali teman kantor yang bertanya dimana aku tinggal,hanya saja aku selalu menjawab jika aku tinggal dipinggir kota. Satu-satunya teman yang pernah ke apartemenku hanya Chen, aku merasa karena Chen dan aku memiliki banyak kesamaan yang membuatku lebih terbuka padanya. Alasanku tidak jujur dengan teman kantorku, karena aku tidak ingin mereka tau kehidupanku lebih jauh. Cukup sebatas teman kerja saja.
Taksi berhenti tepat di depan apartemenku, setelah membayar beberapa pounds aku pun bergegas turun dan menuju lobby.
"Luhan!" suara perempuan itu menghentikan langkahku, dengan segera aku tersenyum ke arahnya.
"Cindy? Why?" Cindy, tetangga apartemenku -lebih tepatnya tetangga lantai atas apartmenku-.
"Tumben kamu pulang cepat? Why?" aku tersenyum
"Aku sedang tidak enak badan Cindy, jadi aku butuh istirahat yang cukup," balasku lalu berjongkok berhadapan langsung dengan anjing Cindy yang bernama Lucky.
"Hallo Lucky, how are you?" tanyaku lalu mengelus kepalanya. Lucky adalah anjing berjenis shih-tzu. Dari pertama kali aku melihatnya, aku langsung suka dengan anjing Cindy, mungkin karena asal anjing ini sama denganku.
"Kamu benar-benar banyak bekerja Luhan, kamu harus berlibur sekali-kali." Aku berdiri lalu tersenyum,
"Aku belum butuh liburan Cindy, ngomong-ngomong kamu mau kemana dengan Lucky?"
"Lucky harus menjalankan pemeriksaan rutin hari ini, mungkin akan pulang cepat, kamu ingin nitip sesuatu?" Cindy adalah wanita yang baik. Semenjak kepindahanku 3 tahun yang lalu, aku dan Cindy sudah berteman. Cindy juga bukan orang lokal, dia pindah dari New York kesini karena pekerjaannya, 8 tahun yang lalu.
"Tidak perlu, mungkin aku akan tidur sampai malam," aku menggeleng dan tersenyum, menolak halus tawarannya.
"Okay, setidaknya kamu memiliki peliharaan Luhan agar tidak kesepian, siapa tau bisa berteman dengan Lucky," Ucapnya lalu melihat ke arah Lucky dan tersenyum.
"Akan aku pikirkan, hehehe" aku terkekeh, salah satu keinginanku adalah memiliki peliharaan, namun entah mengapa aku belum berkeinginan membelinya.
"Okay luhan, aku pergi dulu ya sampai nanti," aku pun tersenyum ke arah Cindy dan melambai kepada Lucky. Sunggu menyenangkan jika memiliki peliharaan seperti Lucky.
Apartemenku berada di lantai 18, sebenarnya aku memiliki penyakit -bukan- aku terkena acrophobia, ya phobia terhadap ketinggian. Phobia ini sudah aku miliki dari kecil tepatnya ketika umurku 7 tahun dan sampai sekarang phobia ini masih melekat dalam tubuhku, hanya saja tidak sekuat sebelumnya. Selama masa pertumbuhan, orang tuaku melakukan berbagai cara agar aku terlepas dari phobia ini, walaupun tidak berhasil seratus persen tetapi ini cukup mengurangi phobia dalam diriku. Seperti sekarang ini, aku bisa menatap ke bawah dari jendela kamarku, hanya saja itu tidak bertahan lebih dari 20 menit. Karena aku akan langsung merasakan pusing, sesak nafas dan perut melilit secara tiba-tiba.
Aku merebahkan tubuh di atas kasur berwarna seafoam. Warna yang menenangkan akhir-akhir ini. Aku melirik jam di atas nakas, 4 p.m. sejam lebih cepat dari jam pulang kantorku. Sebenarnya tidak masalah jika aku harus bertahan sejam lagi, tapi bentakan dari si Willis itu membuatku sangat kesal. Pria itu bisa berubah menjadi iblis secepat kilat setelah menjadi malaikat untuk sesaat. Aku merogoh saku celana ketika merasakan getaran dari ponselku. "Kris Ge"
"Tumben sekali Kris ge menelpon jam segini, bukannya di sana sudah larut malam?" gumanku lalu berganti posisi menjadi duduk
"Wèi?" sapaku setelah kugeser lambang hijau di layar ponsel.
"Lu?"
.
.
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa
silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan
Sarangahaeee chinguu
