Kuroko No Basuke — Fujimaki Tadatoshi
100% — Reraibussu
Fanfic ini mengandung kadar OOC tingkat tinggi, TYPO yang bertebaran dimana-mana, NO EYD, AU/AT, PLOT amburadul, serta berbagai kekurangan-kekurangan lain yang tidak manusiawi :v
..
Saat mereka keluar, didepan mereka hanya ada Akashi. ia memandang dengan iris heterochromia yang menyorot tajam.
Sesuai dengan apa yang mereka rencanakan. Taiga pura-pura terbatuk dengan keras sampai-sampai ia pura-pura jatuh. Membuat Akashi berjalan mendekatinya dengan segara.
"Cukup!" pemuda yang mengajak Taiga untuk kabur itu member gesture berhenti pada Akashi.
"Berani juga kau Takao Kazunari, member perintah padaku," balasan dingin dengan percikan aneh terlihat dimata heterochromianya.
Taiga terbatuk lagi, sembari tangannya memegang lengan pemuda bersurai belah itu dengan erat.
"Aku takut kau harus menuruti perkataanku, Akashi," balas Takao sengit. Ia memandang lurus tanpa rasa takut, meski telapak tangannya dingin dan berkeringat.
"Karena kalian menyekapnya, dia jadi terserang penyakit berbahaya."
Akashi terbelalak. Bibirnya terbuka dan raut wajahnya berubah.
"Alasan aku membebaskannya adalah untuk membawanya ke Old Capitol."
"Kenapa harus kesana?" Kise bertanya, sebagai perwakilan dari anggota Kisedai yang baru tiba.
Takao menyeringai "Bukankah kalian sudah tau jawabannya."
"Memang apa saja isi obatnya? Kita bisa membuatnya disini kan, tidak perlu ke Old Capitol. Apa lagi keadaan Taiga-sama cukup buruk sepertinya." Kini Aomine yang angkat bicara.
"Ya, dan kalian akan menyekapnya lagi." sindir Takao.
"Aku takut kita tidak punya banyak waktu untuk mengobrol, kami punya sedikit obat, tapi itu takkan mampu menyembuhkan Taiga-sama seutuhnya." Suara yang begitu dikenal para kisedai membuat mereka terbelalak.
"Mido … rimacchi …" bisik Kise, wajahnya terkejut Dan bibirnya terbuka lebar.
Akashi menghembusakn nafas lega. "Aku senang kau masih hidup."
"Tidak sebaik itu, hanya tinggal menunggu waktu sampai aku dinonaktifkan."
"Bukannya penjaga yang tidak berguna memang sewajarnya dimusnahkan, lagi pula sepertinya tubuhmu sudah tidak dapat diperbaiki." Murasakibara berkomentar setelah melihat Takao menunjukkan isi tas ranselnya.
Wajahnya retak dan kulit luarnya menghangus sedang beberapa bagian lainya mengelupas. Keadaanya benar-benar buruk. Yang terlihat jelas hanya sejumput ramput hijaunya.
"Kita tidak benar-benar akan pergi dengan Midorima-kun, bukan?" Kuroko bertanya dengan was-was saat melihat bagaimana keadaan Midorima yang begitu rapuh.
Takao menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu? Bukannya sudah jelas, Shin-chan adalah peta kita, kau pikir siapa lagi yang bisa membawa kita ke Old Capitol jika bukan Shin-chan?" jawabnya sambil memutar mata. "Nah, sekarang biarkan aku mengobati Kagami."
..
Cukup sulit membujuk Akashi untuk membuatkan tubuh baru bagi Midorima. Untunglah Taiga berhasil memerintahkannya untuk patuh, sehingga Midorima berhasil mendapat tubuh baru.
Setelah menyiapkan bekal makanan dan berbagai senjata untuk keselamatan, mereka memutuskan untuk segera berangkat.
Jarak yang mereka tempuh lumayan jauh. Meski beberapa jalan dapat dilewati dengan kendaraan, banyak jalan-jalan kecil dan rusak yang takkan mampu dilewati oleh kendaraan, sehingga rombongan itu tetap harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Bahkan dengan kecepatan normal, mereka perlu lebih dari dua minggu untuk dapat sampai ke perbatasan Old Capitol, waktu yang jauh lebih lama lima hari dari yang diperkirakan.
Tidak banyak rintangan yang mereka hadapi. Selain para pengawas yang datang silih-berganti karena mengejar Takao.
..
Taiga menatap gerbang didepannya dengan tubuh bergetar.
Setelah semua perjalanan panjang ini, ia benar-benar tidak percaya dia bisa sampai ke Old Capitol.
Aomine menatap Taiga yang sedari tadi sibuk memandang gerbang kota dengan wajah serius. Pemuda tegap dengan kulit coklat itu berjalan mendekat kearah Kagami.
"Taiga-sama," panggilnya pelan, berharap Taiga akan mengalihkan perhatiannya sejenak. "Kita harus bergegas," lanjutnya, setelah menunggu hampir lima menit ditempat.
Melihat Tuannya tak memberi jawaban, Aomine memutuskan untuk menepuk pipinya.
"Taiga-sama."
"Ah …" pekik Taiga sembari mengerjap dan meloncat mundur beberapa langkah. "Ada apa?
"Kita harus bergegas."
..
Taiga tidak benar-benar tidur saat itu. pikirnya melayang pada saat-saat ia masih muda.
Saat itu, ia mungkin masih berusia tujuh tahun, saat tetangganya mengabarkan jika ayahnya menghilang setelah disapu oleh gelombang dilaut lepas.
Saat itu, ia mungkin masih berusia delapan tahun, saat ia untuk pertama kalinya mengangkat dayung dan mendorong perahu kecilnya untuk melaut.
Saat itu, ia mungkin masih sembilan tahun, saat ia pergi lebih ke tengah laut bersama teman-teman sepermainannya.
Dan saat itulah ombak besar menghantam mereka. Membuat kapal mungil yang mereka naiki hancur, serta membuat mereka berpencar.
Taiga tidak benar-benar tau bagaimana nasib yang lain, tapi ia melihat sendiri bagaimana tiga orang temannya meregang nyawa dilautan karena dehidrasi.
Sebuah badai besar membuat Taiga berfikir ia juga akan segera bergabung bersama ayah dan ketiga temannya dikedalaman samudra. Namun, takdir berkata lain. Meski ia terluka cukup parah, ia berhasil bertahan.
Saat itu ia tidak tau separah apa kondisinya.
Tapi, Aida Kagetora berkata jika tulang rusuknya patah, pahanya memar, tulang selangkanya sepertinya keluar dari tempatnya, dan tulang keringnya hampir hancur.
Sebuah keajaiban Taiga dapat berjalan—dengan terseok untuk masuk kedalam kota dan mencari bantuan. Belum lagi fakta jika ia harus berjalan cukup jauh karena lokasi pemukiman Seirin cukup jauh dari laut.
Dari situlah Taiga tau, kehidupan mereka benar-benar berbeda dengan kehidupan Taiga sebelumnya.
Taiga hanya berharap jika teman-temannya yang lain dapat selamat seperti dirinya.
Tapi … jika Taiga pikir sekarang. Nampaknya benar-benar masuk akal. Bagaimana Taiga bisa lolos dari para pengawas dengan keadaan separah itu. Saat itu Taiga masih kecil dan tidak terlalu memikirkannya, namun sekarang Taiga tau. Alasan mengapa para pengawas tidak mengejarnya, semua itu karena ia manusia murni.
..
Taiga bukan makluk lemah. Meski ia akui, ia memang tidak sekuat Kisedai.
Tapi mengapa, untuk yang kedua kalinya ia bersembunyi lagi.
Wajah mereka tampak aneh dengan gurat aneh yang menonjol, sedang kornea mata mereka berubah menjadi hitam, kilatan aneh tercipta disudut mata mereka.
Taiga menggenggam pistolnya dengan erat. Sementara seorang pria dengan wajah busuk, kepribadian busuk, dan kehidupan busuk tengah memandang mereka dengan tatapan busuk sembari menjulurkan lidahnya yang busuk. Setengah wajahnya hilang, menyisahkan kabel-kabel dengan baja aneh yang terlihat didalamnya.
"Nah~~ kau takkan bisa menghentikan mereka, karena mereka hanya mematuhi perintah System Center," ujarnya dengan suara berdengung aneh.
Kalau saja keadaan Midorima tidak separah ini mereka mungkin masih mampu bertahan. Sayangnya, untuk menyelamatkan nyawa Takao, Midorima mengorbankan tubuhnya sehingga ia hampir kehilangan kesadarannya.
"Mundur kalian!" bentak Taiga sembari tetap dalam posisi membidik.
Taiga berdecak, andai saja ia langsung memberi perintah pada Kisedai untuk menghabisi orang-orang tidak dikenal itu tadi, ia yakin Takao dan Midorima akan baik-baik saja. Sayangnya Taiga tidak dapat melakukan hal itu. Lagi pula, bisa saja mereka manusia dan membutuhkan bantuan. Sayangnya Taiga begitu lemah, ia terlampau mudah percaya. Ia kembali mengulang apa yang pernah terjadi pada desanya dulu. Membiarkan orang luar masuk dan membunuh keluarganya.
"Kubilang mundur kalian, bajingan!" teriaknya lagi sembari melepaskan tembakan kearah Murasakibara.
Harusnya itu hanya tembakan peringatan.
Sayangnya, tembakan Taiga begitu akurat, sehingga membuat tembakannya mengenai pinggul Murasakibara.
Secepat kilat, para anggota Kisedai berlari kearahnya.
..
Aomine tidak pernah merasakan perasaan apapun semenjak ia dipekerjakan.
Tugasnya hanya diam dan mengawasi manusia, mencegah mereka melakukan tindak kejahatan atau melakukan tindakan yang merugikan diri mereka sendiri.
Mengingat semua pengawas adalah milik pemerintah. Semua pengawas ditempatkan diberbagai lokasi. Sayangnya, kebanyakan pengawas memiliki bentuk yang tidak manusiawi. Hanya beberapa yang memiliki bentuk menyerupai manusia. Ia salah satunya.
"Dai-chan!" gadis kecil dengan surai twintail menarik-narik pakaiannya.
"Ada apa, Satsuki-sama?" ia menatap gadis kecil yang tengah berwajah murung itu. Tangannya yang kecil memegang bonekanya dengan erat.
"Kapan kita pulang, aku tidak suka disini," rengeknya.
"Sebentar lagi … sebentar … lagi … kita akan …"
..
"SATSUKI!"
Taiga berlari mendekat kearah Aomine yang berteriak dalam tidurnya.
"Aomine! Aomine! Bangun!" Taiga berteriak sembari menguncang-guncang tubuhnya.
"Taiga-sama, tolong berhenti menguncang Aomine, ia bisa konslet kalau kabel-kabel ditubuhnya sampai terlepas," tegur Midorima yang baru datang.
Taiga menatap Midorima dengan wajah panic. "Tapi, dia tadi berteriak-teriak!" adunya.
"Itu kenangannya dulu. Dia dulu pernah ditugaskan menjaga Momoi Satsuki."
"Mo … Momoi?" ulang Taiga dengan raut aneh. "Aku yakin pernah melihat namanya di gerbang sebelum kita memasuki Old Capitol."
"Ayahnya adalah pemimpin di Old Capitol dulu, karena itu ia dibawah perlindungan Aomine. Sayangnya, seperti mana sebagian besar penduduk. Momoi tidak murni, ia mati ditangan Aomine saat perintah itu menyebar."
"Kurasa itu bukan perintah, itu lebih seperti virus," ceketuk Takao yang baru tiba. Ditangannya terdapat kardus besar yang berisi banyak kabel rusak.
"Bagaimana keadaan mereka?"
Takao melempar senyum ceria pada Taiga. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mereka baik-baik saja. Tapi Murasakibara perlu perawatan yang lebih intens, kerusakan yang ditimbulkan Aomine terlalu besar. Kalau kita tidak bisa memperbaikinya segera. Ia mungkin … akan dinonaktifkan system secara otomatis."
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan? Kita belum sampai di System Center. Bagaimana bisa kita memperbaiki Murasakibara?"
Midorima Dan Takao saling berpandangan, sebelum keduanya mengangguk.
"Kita bisa menghibernasikannya secara paksa."
"Eh? Hibernasi?" Taiga menatap Midorima dengan wajah bingung.
"Kita akan memindahkan semua datanya dan menonaktifkan tubuhnya secara manual. Saat kita sampai ke System Center kita baru membuat tubuh baru untuknya."
"Tunggu! Kalau begitu … arti dari menonaktifkan tubuhnya secara manual itu …"
"Yah~~ kita akan membunuhnya," sahut Takao sambil tertawa.
"Bukannya itu agak … sadis."
"Aku takut itu adalah satu-satunya cara kita memperbaikinya, mengingat keadaannya sudah terlampau parah, nanodayo."
"Kuharap aku bisa lebih kuat dari ini. Aku tidak … aku tidak ingin hal ini terjadi lagi," ujar Taiga dengan kepala tertunduk.
Takao menghela nafas "Yah, tidak bisa dibilang kita menang, sih. Tapi, melihat bagaimana semua musuh yang telah menyerang kita dapat kita atasi dan seluruh anggota kita masih mampu bertahan, sepertinya setimpal. Lagi pula, kalau saat itu kau sudah melakukan yang terbaik."
"Untunya Aomine bisa mengembalikan kesadarannya secara paksa dan menentang perintah dari System Cente,nanodayo."
"Kau benar, Midorima! Kurasa aku harus berterima kasih padanya saat dia sadar." Taiga tersenyum sembari menatap Takao dan Midorima. "Ngomong-ngomong … ada yang ingin kubicarakan dengan kalian."
Takao dan Midorima menatap Taiga penuh rasa ingin tau.
"Saat aku menatap mata Hanamiya saat itu … aku merasa … seperti aku mengenalnya …"
Takao tampak terkejut, begitu pun dengan Midorima. "Maksud Taiga-sama , Taiga-sama tau siapa orang yang memberi perintah pada mereka?"
"Aku sendiri tidak yakin, tapi nampaknya aku mengenalnya," gumamnya.
..
Mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah beberapa anggota mereka pulih. Sayangnya Murasakibara benar-benar terpaksa harus dihibernasikan.
Perjalanan mereka cukup sulit, karena para pemusnah nampaknya mendapat perintah dari System Center untuk memusnahkan mereka semua. Untung lah Takao dan Midorima berhasil menghack system mereka dan memotong aliran perintah dari System Center, sehingga untuk sementara mereka aman dari ancaman dari pihak dalam. Namun, keadaan tetap saja genting, karena kini mereka mengejar menggunakan pimpinan pemusnah tipe baru, Jabberwock.
"Nampaknya mereka belajar dari kegagalan Kirisaki Daichi," Akashi menggumam dengan pelan, tangan kirinya lepas, sementara perutnya mengaga lebar, bagian tubuhnya yang lain tidak kalah buruk. Sebuah keajaiban dia masih sanggup bicara mengingat hampir empat pertiga system internalnya rusak.
Kelompok mereka berlindung dibangunan kecil disebelah gedung System Center, rencananya mereka akan menyerang System Center besok. Tapi menimbang keadaan Akashi yang cukup mengkhawatirkan, kekuatan mereka tentu akan berkurang.
"Sebaiknya kita menyerang sekarang." Ide Aomine sebenarnya tidak buruk. Mengingat jika mereka berhasil menghabisi Jabberwock tanpa sisa kemungkinan penjagaan si System Centertidak akan terlalu ketat. Atau malah sebaliknya.
"Tapi kita harus merakit Akashi-kun dulu." Kuroko memandang semua orang dengan tatapan datar andalannya.
Taiga mengangguk mengiyakan, Akashi adalah pondasi utama untuk menang. Ia selalu bisa membuat strategi dadakan yang terbaik jika strategi yang sebelumnya sudah disusun tidak berjalan dengan semestinya.
"Sementara kita memperbaiki Akashi, aku ingin Aomine dan Kise pergi ke bangunan utama System Center, habisi sebanyak mungkin musuh yang kalian bisa, Takao akan pergi bersama kalian untuk memastikan system kalian aman."
Ketiganya mengangguk mendengar perintah Taiga, sebelum menyiapkan alat yang diperlukan dan segera melesat pergi.
Kini iris merah tuanya mengarah ke Kuroko. "Aku ingin kau berjaga diluar," perintahnya, "Habisi semua musuh yang terlihat."
..
Tepat jam satu dini hari mereka bergerak dalam satu kelompok untuk menyerbu ke bangunan utama System Center menyusul Aomine, Kise, dan Takao yang sudah lebih dulu pergi.
Sepanjang perjalanan merka melihat mayat pengawas berserakan. Bentuknya seperti serangga dengan bagian tubuh hangus akibat perkelahian. Taiga sendiri masih tidak percaya akan melihat mayat pengawas sebanyak itu.
Melalui peta yang dikirim Takao, mereka dapat mengikuti jalur aman yang telah kelompok mereka buat sebelumnya.
Diakhir belokan mereka akhirnya bertemu.
Sebuah pintu besar terbuat dari baja kualitas tinggi nan tebal terlihat.
Takao menghampiri mereka yang baru tiba dengan lemas. "Aku sudah mencoba yang aku bisa, tapi kodenya cukup sulit, aku tidak dapat membukanya." Kise juga menyahut dengan keras, "Kami juga sudah mencoba menembaknya tapi tidak mempan Taigacchi-sama." Sebelum merengek kearah Taiga.
"Apapun yang terjadi kita harus membuka pintu ini untuk dapat memperbaiki segalanya nanodayo." Midorima berkata sembali menaikkan kacamatanya.
"Bagimana dengan ventilasi udara?" Akashi bertanya pada Takao. Sementara yang ditanya hanya menggeleng, "Kami tidak dapat menemukannya."
"Coba cari peta bangunan System Center, kalau kau bisa meretas system keamananya mungkin kau punya akses untuk itu," lanjut Akashi.
Takao mendesah "Sayangnya aku tidak dapat mengaksesnya."
Sementara rekan-rekannya sibuk berdiskusi, Taiga mendekat kearah scanner yang berada tidak terlalu jauh darinya.
"Apa Taiga-sama hendak menggunakannya?"
Taiga berjingkat saat mendengar suara halus disebelahnya bertanya, jantungnya berpacu cukup cepat. Ia benci itu.
"Tidak bisakah kau tidak menga—ah, sudahlah, lupakan!" Taiga kembali menatap scanner itu, sebelum beralih menatap Kuroko "Aku tidak yakin, aku juga tidak tau cara menggunakannya."
"Taiga-sama hanya harus mendekat kearah scanner itu dan biarkan alatnya bekerja, sinar biru akan memindai Taiga-sama secara otomatis. Saya tidak tau bagaimana lanjutannya, karena saya belum pernah ke aren ini sebelumnya."
Mengikuti apa kata Kuroko, Taiga mendekatkan diri kearah scanner, bunyi 'bib' aneh terdengar sebelum cahaya biru berkelip-kelip menerpanya berulang kali, sebelum akhirnya pintu besar itu terbuka.
Semua orang terdiam saat mereka melihat kedalam.
Ruang luas nan gelap tanpa cahaya terlihat.
Aomine mengambil bom lampu dan melemparnya kedalam. Satu-satunya suara yang terdengar hanya suara bom lampu yang menggelinding. Bom lampu itu menggelinding cukup lama, sebelum akhirnya berbunyi 'tuk' menyentuh ujung dinding.
Taiga hendak masuk pertama, tapi tangan Aomine menariknya dan membuat Taiga berada tepat dibelakangnya.
Aomine dan Akashi masuk pertama, disusul Taiga dan Kise, dibelakang mereka ada Midorima, Kuroko, dan Takao.
Untunglah tak lama kemudian Takao dan Midorima dapat meretas system penerangan mereka.
..
Ruang luas itu terdiri dari ratusan kamputer, ditengah ruang terdapat satu tabung kaca besar berisi liquid aneh dengan manusia didalamnya.
Kulitnya pucat dan keriput.
Taiga menatap sosok dalam tabung itu tanpa berkedip.
"Anda mengenalnya, kan," sebuah suara serak berbicara dari singgasananya. Mengambang dari lantai, sosok dengan surai putih itu duduk dengan wajah lelah.
"Shirogane-sensei!" Akashi berteriak, wajahnya menunjukkan raut tidak percaya. Sementara pria tua itu hanya melempar senyum.
"Saya senang, Anda ada disini," ujarnya pada Taiga matanya menyipit menunjukkan garis-garis halus saat ia tersenyum. "Himuro-sama, sudah semakin lemah, Beliau harus segera diganti atau seluruh negara ini akan hancur."
"Apa maksudmu, sialan?!"
"Aomine-kun, kau memang tidak pernah berubah, selalu saja penuh semangat."
"Tidak perlu basa-basi lagi sensei, langsung saja, apa tujuanmu." Kise bergumam sembari emngacungkan pistolnya.
Shirogane menghela nafas "Bukankah sudah jelas, tentu saja untuk menghapus seluruh manusia campuran da—" sebelum ia dapat melanjutkan ucapannya bunyi sesuatu yang pecah terdengar.
Dengan susah payah Taiga mengangkat tubuh Himuro yang ringkih dengan hati-hati.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Shirogane berteriak sebelum singgasana melayangnya menuju arah Taiga dengan kecepatan tinggi.
Taiga menatap Shirogane tanpa rasa takut, dan saat jarak mereka cukup dekat. Kilatan sinar merah terlihat.
Kuroko berdiri diepan Taiga dengan pedang lasernya. Ia menebas Shirogane menjadi dua.
Taiga menoleh kearah Midorima "Tolong selamatkan Tatsuya," ujarnya dengan bibir bergetar, pandangannya kabur karena tergenang oleh air mata.
Midorima mengangguk dan berjalan kearah Taiga untuk mengambil tubuh ringkih Himuro, sementara Taiga mengikuti Takao dan Akashi untuk memulai proses memasuki pusat kendali System Center guna mengubah perintah dasarnya.
..
Mengembalikan fungsi utama pengawas sebagai badan pelindung manusia baik yang campuran maupun murni bukanlah hal yang sulit, Taiga hanya memerlukan waktu satu jam untuk merubah perintah dasarnya sekaligus membersihkan virus.
Tapi, memulihkan keadaan Himuro mungkin butuh waktu yang lebih lama. Midorima sendiri tidak dapat memastikan apakah dalam jangka waktu satu tahun Himuro mampu pulih dari keadaannya sekarang. Sementara itu, Murasakibara sudah mendapatkan tubuh baru ia juga tidak memiliki keluhan apapun mengenai tubuhnya.
..
Tiga tahun berlalu semenjak penyerangan mereka di gedung utama System Center.
Taiga menatap pasir putih yang berada jauh dibawahnya. Ia sendiri duduk dibangunan kota yang tinggi. Ombak dikejauhan bergulung-gulung terlihat riuh.
"Kau sudah besar Taiga, jangan sampai tergoda lagi seperti dulu." Suara lembut yang dikenalnya bicara, membuat pemilik alis belah itu menoleh dengan segera.
"Aku … rindu pada Ibuku,"gumamnya pada sosok dengan tanda kecantikan dibawah matanya itu.
Berbeda dengan Taiga, Himuro tidak memiliki orangtua, sehingga ia tidak merasa ingin kembali ke kampong halamannya.
"Kapan kau berangkat?"
"Tiga hari lagi."
"Bagus, pastikan kau membawa Ibumu kemari," katanya sembari menepuk pundak Taiga dengan seyum diwajahnya.
..
fin
..
Terima kasih sudah mau membaca.
Jangan lupa cek pm ya, saya balas review kalian disana. Kalau ada yang merasa sudah review belum saya balas, silahkan demo ke saya :v
