Rated : M-T
Pair : Chanbaek
Purely my wild imagination.
Genre: Angst, Hurt, Romance.
Drama ++.
CERITA INI TIDAK DIBUAT UNTUK MENJATUHKAN PIHAK ATAU KARAKTER MANAPUN.
.
.
.
5. You're my remedy
.
.
.
Alkohol bukan hal yang baru bagiku. Aku tak tau bagaimana penggemar mendapatkan foto-foto saat aku masih dibawah umur dan pergi dengan beberapa teman untuk minum. Berita buruk sekian yang terjadi dalam kurun waktu yang tidak jauh. Tertekan? Tentu.
Tapi, itu membuktikan bahwa aku dan alkohol bukan musuh. Orang-orang menyebutnya dengan istilah kuat dalam minum. Aku salah satunya.
Itu bukan berita yang dibuat perusahaan. Managerku cukup terkejut, tapi agensi tak dapat melakukan apapun. Itu jauh sebelum aku memutuskan menjadi idol, bahkan aku bukan seorang anak asuh waktu itu. Diberi teguran ringan, dan aku semakin tertekan.
Yang lebih celaka adalah itu membuatku ingat bahwa aku dan benda itu cukup dekat. Saat semua orang sibuk dengan masa istirahat grup aku diam-diam memesan beberapa.
Tak perlu kuceritakan bagaimana. Terlalu banyak kilas balik layar dunia hiburan yang nanti bisa kau ketahui, cukup hanya milikku.
Mungkin takdir mengerti bahwa aku butuh sedikit pertolongan dan penenang. Semua berjalan lancar. Keadaan dimana aku hanya tidur sendiri dalam ruangan khusus dengan tirai membantuku.
Tidak ada yang curiga. Semua anggota tidak mengusikku.. Kami terlalu lelah dan hanya bertemu diruang makan saat pagi hari. Semua anggota Mandarin sedang dalam masa promosi di Tiongkok dan hanya beberapa yang tertinggal diasrama.
Semua berjalan seperti biasa. Suho hyung sedikit sibuk dengan beberapa hal diperusahaan, jadi tidak ada yang mengawasiku. Chanyeol tidak pernah pulang, aku tidak tau apakah dia masih melakukan syuting program atau mencari insprasi menulis musik. Kami tidak pernah bertemu.
Pernah kah kalian melakukan suatu hal yang kalian anggap menyenangkan dan tak bisa berhenti ?. Seperti masa-masa penuh tantangan saat kalian sekolah, saat kalian sedang ingin melewati jam pelajaran tanpa datang. Tak peduli sebanyak apapun nasihat seputar menjadi murid baik yang kalian baca, kalian tetap akan melakukannya bukan?. Semacam bebal. Begitu pula aku dan alkohol.
Aku melakukannya berkali-kali. Tak bisa dicegah walau aku tau takarannya sudah berlebihan. Bukan penenang, aku membutuhkannya layaknya oksigen. Selalu.
Aku akan kembali ke ruanganku lebih cepat saat sarapan. Berdalih ada game online baru yang harus ku coba. Semua member lantas percaya.
Kembali kekamar dan menikmati tegukan-tegukan berikutnya. Aku mulai merasa bahwa kadar rendah bukan seleraku. Kadar bertambah dan bertambah pula kegilaan yang kulakukan.
Kadang, anggota akan makan siang dan malam bersama. Dan saat-saat makan malam tidak tersedia didalam dorm, aku akan keluar membawa botol-botol kosong dan kembali dengan botol-botol baru.
Waktuku tak cukup banyak untuk berkeliaran diluar. Jadi, kadang aku kembali tanpa membawa makanan. Bukan hasil yang buruk. Minggu-minggu itu, alkohol adalah kebutuhan tubuhku yang utama, diatas makanan wajar seharusnya.
Kadang perutku akan sedikit mengeluh, tapi aku membiarkannya. Perutku hanya mencengkram dan itu bukan tandingan saat hatiku terasa diremas, atau kepalaku dihantui pikiran-pikiran menyesakkan. Serasa ingin pecah.
Semua berjalan seperti itu, terus menerus. Sesekali saat ada latihan dadakan aku sengaja tidak meminumnya sebelum pergi. Lalu menegak air putih sebanyak mungkin.
Aku melihat Chanyeol diruang latihan. Seperti anggota lain, dia juga akan ikut tertawa disela latihan.
Tapi aku tetap tidak menemukannya di dorm. Bisa jadi dia sudah tau mengenai aku yang berpindah kamar, atau bisa jadi belum. Apapun itu, bukannya dia yang ingin kami bertukar?
"setelah ini, ayo pergi keluar dan makan bersama" itu suara Suho hyung.
Member lain tampak menerima usulan tersebut, artinya makan gratis, pemimpin sedang baik.
"ah, bagaimana ini? Kurasa aku tak akan ikut kali ini, maafkan aku." kata ku, menyampaikan permintaan maaf.
Semua anggota menatapku dengan pandangan heran. Biasanya aku adalah pihak yang tak ingin ditinggal jika sudah menyangkut hal pergi keluar bersama. Selalu ingin ikut serta.
Aku hanya tertawa kecil, berpura-pura sangat menyesal. Tak ingin berbohong dan memberi alasan lainnya.
Ketagihan alkohol membuatku lebih menyukai didalam ruang pribadi dan menyediri. Menikmati tegukan minuman itu tak bersisa. Lama-lama bagian itu menjadikan sebuah ketagihan, lalu keharusan. Aku tak bisa berlama-lama diluar ruangan atau ditempat lain karna itu berarti aku tak bisa meminumnya.
"kau yakin tak akan pergi, Baek?" yang ini suara Chanyeol. Hari ini dia berbicara denganku dalam konteks selain perbaikan gerak ku dalam menari..
"ya, aku akan ikut lain kali"
Aku bergegas merapikan barang-barangku yang lain. Latihan telah selesai. Sejujurnya aku ingin bertanya banyak hal. Seperti apa Chanyeol pulang hari ini?, apakah dia tidur dengan nyenyak semalam?, apakah dia meminum vitaminnya?. Tapi rasanya terlalu canggung untuk diucapkan. Aku ingin berbicara dengannya berdua saja, bukan percakapan basa basi di ruang obrolan grup atau sosial media.
Melirik Chanyeol dari ekor mataku dan aku melihat dia sedang berbincang dengan Kyungsoo. Entah apa yang mereka berdua bicarakan.
"aku pulang duluan. Terimakasih. Sampai jumpa semuanya -sampai jumpa Chanyeol"
Aku meninggalkan ruang latihan lebih dulu. Berjalan lebih cepat dari apa yang diperintahkan otakku.
Sangat cepat hingga rasanya aku nyaris berlari.
"Baekhyun-ah"
Saat aku mencapai parkir gedung ruang latihan seseorang memanggilku.. Aku tau siapa ini. Aku menemukan Minho hyung disisi lain jalanku. Tersenyum dan melambaikan tangan. Baiklah, ini akan sedikit lama.
Anggota grup senior Shinee itu berjalan kearahku. Kami sama-sama tak menggunakan masker. Demi alasan kesopanan dan hubungan yang baik. Aku membalas lambaian tangannya.
"ya, hyung"
Dia mendekat dan langsung saja mengusap kepalaku.
"jadi bagaimana?"
Apanya yang bagaimana?
"huh?" ujarku bingung. Tidak mengerti apa yang ditanyakan senior ini.
"astaga, Bacon. Aku mengajakmu mencoba restoran baru di Hongdae dari minggu lalu." ujarnya dengan ekspresi, uh apa itu? Gemas?
Pria ini, to the point sekali.
Oke, dia memang mengajakku dari minggu lalu. Setelah mengajakku mencoba 4 restoran berbeda di 4 minggu yang berbeda pula.
"hehehe, maafkan aku hyung. Aku sedikit lupa. Bagaimana kalau lain kali ?"
Menolak ajakannya sekian kali dengan cara yang sama.
"kenapa Baek? Kau sibuk sekali ya? Padahal minggu lalu aku sudah bertanya pada Joonmyeon pendek itu, dia bilang jadwal kalian kosong". ekpresinya terlihat kecewa.
Maafkan aku penggemar Minho hyung
Sebenarnya tidak enak menolak ajakannya terus menerus, tapi mau bagaimana lagi. Selain aku tidak bisa berkeliaran dengan sedikit bebas, aku juga tidak ingin terkesan menerima ajakannya pergi bersama, seakan memberi harapan.
Bukan apa-apa, tapi sejak lama Minho hyung terlalu sering mengajakku atau menyapaku dengan mengirimiku pesan.
Lagi pula, hari ini aku hanya ingin cepat kembali ke dorm dan meneguk minumanku.
"lain kali, janji?"
Kukira dia menjulurkan tangannya agar membuat semacam janji dengan jari kelingkingku, namun yang terjadi malah Minho hyung mengusap pipiku. Astaga., apalagi ini !. Pria ini, selain to the point juga tidak tau tempat. Dia mengusap pipiku diantara mobil-mobil staff dan artis SM. Apa dia sudah gila?.
"hyung, sudah bolehkah aku pergi? Aku sedikit buru-buru sebenarnya"
Gila saja. Aku ingin pulang. Bukan ditatap manis ditempat umum begini.
"berikan aku satu pelukan"
Dia sudah merentangkan tangan dan aku memandangnya ragu. Kenapa harus dipeluk segala?.
"tenang saja, Taeyeon tidak akan cemburu"
Lama-lama semakin tidak jelas apa yang dia bicarakan. Daripada semakin lama, aku memeluknya sebentar dan menepuk-nepuk bahunya. Memberikan pelukan ala anak laki-laki.
Setelahnya aku langsung membungkuk, memberi salam hormat dan beranjak. Pulang tanpa mengucapkan kata janji.
.
.
.
Seperti dugaanku, dorm kosong. Artinya semua memilih keluar untuk makan bersama. Bagus. Kesempatan ini kugunakan untuk membereskan semua botol kosong dan mencari Taxi. Menggunakan mobil perusahaan akan lebih beresiko.
Aku mengatakan kepada kalian hanya sebagai bentuk menjelaskan keadaan. Bukan untuk kalian tiru atau praktekan. Mengerti, Aeri?
Aku kembali dengan cepat dan menyimpan botol-botol baru. Sengaja menon-aktifkan ponsel. Kurasa tak ada yang penting hari ini.
Aku menghidupkan komputer dan langsung memulai salah satu game yang akan kumainkan sembali membuka satu botol alkohol baru.
Rasanya masa itu aku beruntung. Sebanyak apapun aku minum, suaraku baik-baik saja. Latihan vokal juga banyak diliburkan. Semua member tidak ada yang curiga karna semua terlihat biasa saja. Meminjam sedikit gaya SM, natural.
Keberuntunganku terus berlanjut-disamping aku tidak beruntung karna sangat jarang bertemu Chanyeol- sampai suatu hari semua mulai buruk. Perutku mencengkram lebih sakit dari biasanya.
Meringkuk diatas kasurku dan aku tak bisa berbuat apapun. Bahkan rasanya aku tidak mampu berteriak. Disamping fakta masih ada satu botol minuman dilantai dekat tempat tidurku. Aku hanya diam walau aku dapat mendengar suara Jongin tertawa diluar.
Rasanya sangat sakit. Seperti seseorang berusaha mencabut isi perutmu. Aku dapat melihat ponselku yang memunculkan banyak notifikasi. Yang paling akhir adalah notifikasi pesan dari Yifan hyung.
Sepertinya aku tertidur, karna saat aku bangun keadaanku sedikit lebih baik.
Mengabaikan keadaanku yang acak-acakan, aku memasukan botol kedalam lemari dan langsung beranjak keluar.
Sudah tidak ada Jongin. Tapi disana ada Kyungsoo yang sedang menonton sesuatu dari layar tabletnya.
"Soo-ya, buatkan aku makanan ya?" aku beranjak mendekatinya.
Dia tidak membalas tapi langsung berlalu kearah dapur. Memasakan makanan untukku.
Menggantikan Kyungsoo, kuraih tabletnya dan melihat apa yang ditonton anak itu. Tapi tabletnya terkunci. Ah, tidak seru sekali.
Aku kembali keruanganku untuk mengambil ponsel dan memilih untuk membuka notifikasi Yifan hyung yang sudah tenggelam dengan notifikasi lainnya.
'aku hanya harus sedikit beristirahat sementara waktu. Bagaimana denganmu, Baek? Kau baik?'
Aku membalas dengan sederet kata-kata lain untuk menjawab pertanyaannya. Kami berdua dekat, hanya saja karna tergabung dalam unit yang berbeda kami jadi tidak terlalu sering mengobrol.
Kyungsoo sudah kembali dengan semangkok spaghetti. Keahliannya adalah mampu membuat makanan ini dengan sangat cepat jika para member sedang lapar.
Dia kembali menonton sesuatu dan aku mulai fokus pada makananku. Suapan pertama hingga kelima semua baik-baik saja. Tapi saat aku akan menyuapkan satu sendok lagi kedalam mulutku. Aku mual. Sesuatu seperti akan keluar dari mulutku.
Refleks aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya kedalam kloset. Aku mengeluarkan semua yang kumakan termasuk alkohol yang kuminum beberapa jam sebelumnya.
Kyungsoo ada disana memperhatikanku. Jadi sebelum dia mencium aroma alkohol yang telah bercampur asam lambungku aku langsung menekan tombol agar air langsung melarutkan apa yang kumuntahkan.
"aku tak memasukan racun kedalam makananmu, jika itu yang ingin kau tanyakan."
Padahal aku belum mengatakan apapun, tapi kenapa dia jadi berfikir macam-macam. Harusnya di bertanya keadaanku. Bukankah harusnya itu respon normal saat kita melihat orang lain dalam keadaan tidak baik?.
"aku tidak bilang kau memasukan racun dimakananku, Soo-ya. Atau kau memang berniat ya?' balasku main-main.
"akan kucoba lain kali"
Yang benar saja?.
Aku merangkulnya dan kembali pada tempat dimana kami awalnya duduk. Aku hanya sedikit lemas. Tapi terasa sudah lebih baik.
"kau sakit?" Kyungsoo memandangku dan bertanya.
"tidak, aku tidak merasa begitu"
Aku ingin makan kembali. Tapi, aku takut jika aku makan aku akan muntah lagi. Badanku tidak panas, dan kurasa aku tidak demam.
"Soo, coba periksa suhuku"
Kyungsoo menekan sesuatu, mungkin memberhentikan sementara filmnya dan meletakkan tangan didahiku.
"tidak panas" ujarnya.
Berarti aku tidak sakit kan?.
"aku akan keluar, Kyung. Kau ingin menitip sesuatu?"
Mungkin hanya karna faktor makanku yang tidak teratur akhir-akhir ini. Aku memutuskan pergi ke toko obat dan membeli beberapa butir obat magh.
Kyunsoo menggeleng dan aku kembali masuk ke ruanganku untuk berganti pakaian.
.
.
.
Terhitung sudah 4 kalinya aku meminum obat yang sama, perutku sesekali kembali sakit, tapi tak separah sebelumnya. Masalahnya adalah apapun yang kumakan mulai ditolak tubuhku. Aku muntah kembali dan otomatis obat yang kuminum kembali keluar.
Masalah lain datang. Kepalaku mulai sakit dan aku sadar ini efek karna aku belum menelan apapun untuk bisa masuk keperutku. Akhirnya aku hanya bisa mengandalkan air putih.
Aku tidak tau apakah sudah siang atau sore. Yang pasti sakit itu tiba-tiba kembali menyerangku. Rasanya lebih sakit. Terasa seperti sesuatu memeras perutku layaknya memeras kain cucian. Kali ini ditambah kepalaku terasa lebih ingin meledak.
Dorm terlalu sepi. Aku tak mendengar apapun. Atau mereka semua sedang keluar. Aku tidak tau. Aku ingin mengapai ponselku dibawah tempat tidur tapi sakit kepala kembali menyerangku. Rasanya sangat sakit. terasa seperti berdenyut dan menulikan kedua telingaku, menusuk belakang mataku hingga terpejam pun akan sulit. Kepala sialan.
"Argh-"
Tak ingat sampai mana perjuanganku. Yang kuingat aku terjatuh saat menjangkau sisi bawah tempat tidur karna kepala sialanku. Dan lainnya kemudian, aku tak tau.
.
.
.
Tak bisa jelas apa aku membuka mata atau bagaimana. Yang aku ingat aku langsung bertemu tatapan Jongdae yang melihatku disisi lain tempat tidur.
Jongdae disini? Berarti semua member sudah lengkap.
"kau pulang?" aku ingin melambaikan tangan padanya. Namun aku sadar ada yang berbeda di salah satu tanganku.
Tunggu- apa ini? Infus? Double sialan.
Minseok hyung masuk, dan dibelakangnya ada Suho hyung. Raut wajah mereka berbeda.
Suho hyung seperti menahan amarah, wajahnya memerah secara sempurna. Aku hanya terlambat makan, okay? Kenapa dia harus marah?
Ini bukan pertanyaan bodoh tentang 'aku kenapa, aku dimana' atau sebagainya. Cerita ini tidak sepicisan itu. Tenang saja.
"aku menemukanmu pingsan, Baek"
Pingsan? Aku menyerngitkan dahi? Kapan?.
"oh, hyung sudah kembali? Dimana baby Tao-ku?" aku mengajukan pertanyaan lain. Rindu sekali dengan yang suka merengek itu.
Tiba-tiba saja aku melihat Suho hyung membuka lemari meja komputerku. Gawat. Ini berbahaya. aku menyimpan semua alkohol lengkap dengan persediaanya disana.
"Suho hyung, apa yang ka-"
Tapi aku terlambat. Suho hyung terlalu cepat seperti akan mematahkan pintu lemari kecilku.
"kau kira aku tak tau Baekhyun !? KAU KIRA AKU TAK TAU TENTANG INI SIALAN !"
Dia membanting botol alkoholkku kelantai yang tidak ditutupi karpet dan pecah begitu saja. Aku tak ingat bunyinya. Dia melakukan itu berkali-kali dengan wajah penuh emosi.
"ALKOHOL SIALAN !"
"AKU TAK TAU APAPUN !"
"BEDEBAH"
Semua botol itu berubah jadi beling. Berserakan dilantai kamarku. Dan genangan alkohol yang membasahi seluruh laintai, meninggalkan aroma tersendiri.
Minseok hyung, Jongdae ataupun aku tidak berani mengeluarkan suara. Muka leader itu masih merah, nafasnya memburu, aku melihat air matanya keluar.
"Jongdae, panggilkan Kyungsoo, suruh dia membersihkan semua ini !"
Jongdae nampak terkejut, masih terlalu sibuk melihat apa yang dilakukan Suho hyung. Dia tak sadar namanya dipanggil.
Aku melirik takut-takut kearah Suho hyung. Dia yang marah sangat menyeramkan. Dia jarang melakukan itu omong-omong.
"Kau tidak makan, lambungmu bermasalah, ITU SEMUA KARNA KAU MENJEJALKAN ALKOHOL INI DAN TERUS MELAKUKANNYA ! APA KAU GILA, HAH ?! JAWAB AKU BYUN BAEKHYUN !"
Aku menutup mata tanpa sadar saat dia meneriakiku.
" APA KAU MERASA HEBAT SEKARANG?! JAWAB AKU !? BERSIKAP DEWASA, BYUN ! KAU TAU ALKOHOL TAK PERNAH MENYEMBUHKAN APAPUN !"
Aku sadar, tidak ada yang benar-benar menjadikan masalah ini selesai. Aku malah menambah catatan masa kelam grup ini.
"Minseok, panggil Tao dan Sehun, suruh mereka memindahkan Luhan kesini sekalian ranjangnya"
Aku masih tak tau apapun. Antara takut pada Suho hyung, merasa bersalah dan merasa bodoh. Minseok hyung langsung keluar bertepatan dengan Kyungsoo datang dan membersihkan beling-beling dilantai kamar.
"lambungmu luka dan akan terus mengeluarkan makanan yang kau masukan, jika kau terus begitu kau bisa mati tanpa asupan"
Suaranya melunak.
" kau ketagihan Alkohol dan itu tak baik untuk apapun termasuk pita suaramu, kau bisa mati karena lambungmu atau alkohol. Kami hampir memasukanmu rehabilitasi, asal kau tau."
Aku terdiam. Tak menyangka banyak hal. Apa sebegitu parah?
Suho hyung keluar dan aku melihat Kyungsoo, membungkuk, sibuk memastikan tidak ada kaca kecil yang tertinggal. Gara-gara aku suasana didorm menjadi kacau. Aku ketahuan dan Suho hyung marah padaku. Triple sial.
" Soo-ya... Soo-ya~" aku memanggilnya dan dia hanya mendongkak menampilkan mata besarnya yang langsung mengarah kearahku, seperti mengintimidasi, tapi aku sudah biasa.
"lebih buruk, sedikit lagi dan kau bisa saja mengeluarkan busa dimulutmu, Over dosis, K.O"
Dia berdiri, meletakkan telunjuk di leher, gestur menyatakan maninggal.
"Aku serius!" sepertinya setelah diinfus tenagaku sedikit terisi dan sudah bisa sedikit berteriak.
"aku tak main-main dengan orang yang akan mati"
"Sial-"
"aku serius, Baek. Kau bisa meregang nyawa hari ini juga"
Suaranya melembut, dan aku tak tau harus berekspresi seperti apa.
Candu? Mungkin benar seperti itu, aku saja yang tak sadar.
Minseok hyung masuk kembali dengan Sehun dan Tao yang sudah membawa ranjang lain. Kutebak itu untuk Luhan hyung, tapi milik Sehun. Kamar Luhan hyung berada dilantai yang berbeda, jadi akan lebih sulit membawa ranjangnya.
"Pindahkan Baekhyun sebentar ke ranjang Luhan, aku akan mengganti sprei kasurnya."
Mereka berdua memindahkanku, lebih tepat disebut menggotong. Aku terima-terima saja. Toh tak punya tenaga untuk berdiri.
" hyung, nanti aku tidur disini, boleh?"
Tao bertanya padaku, berharap sekali. Biasanya dia tidur ditemani Kris hyung, apalagi anak ini penakut sekali.
" tidak boleh, kau ataupun Sehun harus tidur dikamar sendiri, disini tempat orang butuh istirahat banyak" sahut Minseok hyung.
Tao cemberut dan aku tak dapat menyembunyikan senyum karnanya.
" besok boleh, tidur saja disini, lagipula aku rindu Panda ini"
Dia tersenyum-lebih kearah menyeringai- pada Minseok hyung. Sehun diam saja tapi tetap memperhatikanku.
"kau juga boleh tidur dengan Luhan hyung disini, Sehun"
Dan kemudian dia tersenyum seperti anak kecil.
.
.
.
sebelum kedua maknae itu kembali bersama Luhan hyung, Minseok hyung mendekati dan duduk disisi kasurku.
" jangan dimasukkan kedalam hati, Baek. Joonmyeon hanya sedang bingung. Kau pasti mengerti, Luhan sedang sakit, konser semakin dekat, jadwal individu masih berjalan, Kris pergi, skandalmu, belum lagi tiba-tiba aku menemukanmu sekarat "
Dia berbicara layaknya kakak. Aku merasa bersalah sekali. Aku mungkin menghilangkan masalah dalam hidupku, tapi menimbulkan masalah bagi orang disekitarku.
" maafkan aku" ujarku tulus. Jemariku memainkan pinggiran selimut.
" kami tidak marah, hanya khawatir"
" terlebih kami merasa gagal, Baek. Kita hidup ditempat yang sama. Tapi kami bahkan tak pernah tau apa yang kau lakukan "
" maafkan aku" ulangku lagi.
"aku tau tak mudah. Tapi, bisakah kau berhenti Baek?"
Aku melihat matanya. Sadar apa yang kulakukan adalah kesalahan. Aku membahayakan diriku sendiri dan menyakiti orang-orang disekitarku. Jika aku jatuh, semakin bertambah masalah yang harus diurus grup, dan bangkit bukan sesuatu yang mudah dilakukan.
"kau harus berhenti, Baek. Berhenti membuat semua orang khawatir dan berhenti menyakiti dirimu.
.
.
.
Ruangan atau kamar atau milikku ini sebenarnya tidak terlalu besar. Hanya ranjangku dan meja komputer diseberangnya yang dikelilingi tirai. Jadi saat Luhan hyung pindah, tirainya semakin diperlebar.
Luhan hyung sudah berpindah menjadi satu ruangan yang sama denganku. Saat itu kondisinya memburuk. Alasan lain mengapa dikemudian hari dia meninggalkan kami.
Tapi dia tak memakai infus sepertiku. Hampir 24 jam Sehun akan di ruanganku juga. Mengecek suhu tubuhnya, menyuapi, atau bahkan bertanya pertanyaan tak penting seperti
" apakah menurutmu aku harus mandi juga hyung? Atau tidak usah? Aku bisa memakai parfum saja"
Dia masih sedikit sopan tahun itu. Belum berani seperti sekarang hanya memanggil dengan sebutan Lu atau panggilan tanpa embel-embel.
Aku jadi merindukan Chanyeol. Sehun memperhatikan Luhan hampir setiap saat hingga rasanya aku bosan melihat wajahnya. Belum lagi kadang dia akan merengek manja. Mataku bisa iritasi melihat mereka berdua.
Sedangkan aku hanya diurusi oleh Minseok hyung, atau Kyungsoo dan sesekali Joonmyeon hyung. Jangan tanya dimana Tao. Dia sebelas dua belas dengan Sehun kerjanya, hanya merengek saja.
Aku sudah mencoba beberapa kali makan. Dan semuanya berakhir seperti spaghetti milik Kyungsoo. Aku hanya bisa meringis melihat diriku sendiri. Ruanganku sudah berubah seperti bau rumah sakit.
Publik tidak tau apa-apa tentang ini. Jangankan aku, aku bertaruh mereka tidak tau Luhan hyung juga sedang sakit.
"aku pergi hyung, awasi baek hyung dan jika terjadi sesuatu hubungi aku atau manager. Jaljaa~~"
Sehun selalu seperti itu, ucapannya tidak sesuai dengan kondisi terkadang. Kami semua sudah paham sifatnya yang satu ini.
" huah, akhirnya dia pergi juga"
Aku mendengar Luhan hyung berucap lega. Bagaimana dia tidak lega, hampir tiga hari sejak dia kembali Sehun selalu mengikutinya, lalu mengontrolnya terus-terusan. Apa yang dimakannya harus habis, tidak boleh tidak.
Semua anggota sedang pergi berlatih. Hingga menyisakan aku dan Luhan hyung saja.
Aku memilih mengambil ponsel dan memakainya menggunakan satu tanganku yang tidak terinfus. Meski sedikit gemetar, itu lebih baik. Ada beberapa pesan dari ibuku dan manager.
Aku sedang mengetik balasan pesan saat satu panggilan masuk. No luar negri. Kutebak milik Yifan hyung.
" Ya ! Bacon ! "
Aku menjauhkan ponselku saat suaranya memenuhi pendengaranku. Tidak sabaran sekali.
" kau tidak boleh berteriak pada orang yang sakit hyung " balasku
" sakit apanya? Kau pasti sengaja karna malas bergabung latihan kan? mengaku saja"
" apa-apaan itu, perbaiki dulu bahasa Koreamu hyung, lalu kau boleh berbicara denganku, aku akan memberikan panggilan pada Luhan hyung, dia tepat disebelahku"
Aku memberikan ponsel pada Luhan hyung yang dibalas dengan kernyitan dahi. Lalu aku menaikan bibir atasku, memberikan gestur gigi-ciri Yifan hyung- dan dia tertawa.
Mereka bicara dalam bahasa mandarin selama beberapa saat sampai Luhan hyung memberikan kembali ponselnya padaku.
"Baek, kau taukan, kalian 6 orang saja sudah membuat Joonmyeon ingin gantung diri, apalagi sekarang. Bertambah 5 lagi. Dan tidak ada aku disana yang akan menolongnya. Jangan membuatnya tambah sakit kepala. Kau ingin dia minum racun?"
"tidak. Maafkan aku, gege"
Itu semacam panggilan kesayangan saat aku melakukan kesalahan atau menggodanya.
"ceritakan, Baek. Katakan jika kau punya masalah. Mengerti, adik manis?"
Sialan. Panggilan apa itu.
" Ya ! siapa yang kau pang-"
Dan panggilan terputus.
"apa-apaan itu"
Aku meletakan kenmbali ponsel disisi tubuhku dan memandang keatas. Seakan ada objek bagus diatas sana. Beberapa hari ini dokter sesekali akan datang ke dorm. Memeriksa kondisiku, mengganti infus dan mengecek Luhan hyung.
"kau ingin makan sesuatu, Baek?"
Ku lihat Luhan hyung beranjak keluar, mungkin ingin mengambil makanan. Seketika aku ingat snacknya yang kucuri tempo hari untuk kumakan bersama Chanyeol. Aku tersenyum canggung karna teringat snacknya yang kucuri dan sebagian karna aku ingat aku belum bisa memakan sesuatu yang normal. Jadi, aku menolak tawarannya.
Mungkin aku tertidur karna saat aku membuka mata, aku melihat disebelahku sudah ada Luhan hyung yang tertidur. Syukurlah, setelah beberapa hari terakhir mengeluh insomnia dan menganggu waktu istirahatnya dan Sehun, akhirnya dia dapat beristirahat.
Aku memandangi Luhan hyung disebelahku dan kemudian memadangi tanganku yang terdapat infus. Tanpa sadar air mataku jatuh.
Aku menangis dalam diam sembari menggigit bibirku sendiri, meredam suaraku. Aku berbalik, memunggungi Luhan hyung dan semakin terisak karnanya.
Keadaan grupku, tubuhku, bahkan perasaanku. Semuanya mengalir menjadi satu. Tubuhku mengigil dan aku tak mengerti kenapa. Tenggorokanku terasa panas dan haus, tapi aku tidak butuh air putih.
Pikiranku meneriakan kata 'alkohol'. terus-terusan sampai aku muak mendengarnya. Minuman itu tidak ada dimana pun. Suho hyung memecahkan semuanya.
"haus" erangku tanpa sadar.
Aku bangkit, tidak peduli pada infusku yang mungkin sudah terlepas.
"haus... haus.. minum... haus"
Air mataku masih bercucuran dan tubuhku masih menggigil, tapi semua kalah oleh rasa panas ditenggorokanku. dadaku berdetak sangat keras, aku seperti mendengar bunyinya yang terlalu berisik, menimbulkan rasa nyeri lain didekat ulu hati.
"haus"
Aku memegang tenggorokan, tidak bisa bertahan karna rasa panas yang sudah berubah perih.
aku sudah hampir keluar saat seseorang menyibak tirai dan langsung berdiri didepanku.
"Baekhyunie, kau sakit?"
Chanyeol datang dengan nafas terengah-engah seperti habis berlari.
"Baek"
Dia menguncang kedua bahuku dan aku menatapnya nyaris frustasi.
" Baek, kau kenapa? Kenapa kau menangis? Apa yang sakit? Yang mana?"
Dia terus-terusan menggucang kedua bahuku tidak sabar.
"haus-" ucapku memegangi tenggorokan.
"apa? Haus?"
Aku tak menjawab pertanyaanya. Meletakkan tanganku dikedua belah pipinya dan berjinjit, mencapai bibirnya.
Merasakan salivanya dan bergerak memasuki lidahku kedalam mulutnya. Ajaibnya semua rasa hausku lenyap entah kemana.
Aku mengganti posisi tanganku dari pipinya dan beralih membawa tanganku ke tengkuknya. Mengalungkan kedua tanganku disitu, memaksanya merunduk.
Lagi, aku menyesap bibir bawahnya dan menyedot seluruh salivanya. Semuanya menenangkan pikiranku. Saat aku menyesap bibirnya seakan semua detak jantungku ikut tersesap dan perlahan berdetak normal. Aku menerima semuanya, semakin memasukan lidahku, siap menerima rasa bibir yang memabukkan dan mengobatiku. Jika kalian mengatakan itu menjijikan, tapi nyatanya semua rasa sakit tenggorokanku menghilang karnanya.
Melepaskan penyatuan bibir kami berdua dan aku dapat melihat bibir Chanyeol mengkilap.
" lidahmu, keluarkan Chanyeol "
Aku ingin menyesap lidahnya, sangat ingin. Tubuh menggigilku hilang dan aku sudah dapat berdiri dengan baik sekarang. Dia akan mengeluarkan lidahnya tapi seketika Chanyeol berteriak "Astaga Baek tanganmu berdarah !"
Saat itu juga semua member perlahan masuk kedalam ruanganku dan menyingkap tirai. Mereka terkejut melihat tanganku bekas infusku yang terlepas dan jarum masih berada disana. Aku tak menyadarinya, ada tetesan darah yang mengalir disana.
" bawa dia kembali ke tempat tidurnya, Chanyeol. Aku akan memanggil dokter" ujar Joonmyeon hyung.
Sejak hari dia membanting semua botol-botol alkoholku, aku belum sempat meminta maaf padanya. Aku takut sekali.
Semua member kembali keluar kecuali Sehun yang langsung merebahkan tubuhnya kekasur milik Luhan hyung. Astaga, aku sampai lupa jika Luhan hyung satu ruangan denganku, semoga saja dia tidak terbangun tadi.
Aku kembali ketempat tidurku denan Chanyeol yang memegang tanganku. Saat aku sudah berbaring dia mengangkat tanganku tinggi-tinggi, mungkin untuk mengurangi darah yang keluar. Entahlah.
Aku tak mengatakan apa-apa. Walau rasanya banyak sekali yang ingin kutanyakan sejak kami jarang bertemu, tapi aku memilih diam. Bahkan aku tak kembali meminta ingin menyesap lidahnya, bagaimanapun ada Sehun disana.
" kenapa kau disini? Tidak dikamar?"
Chanyeol bertanya tanpa memutuskan kontak matanya denganku.
" disini kamarku Chanyeol. Aku sudah pindah sejak lama" jawabku.
Tidak mungkin kan dia lupa kalau dia yang meminta berganti kamar.
Aku mendengar seseorang berteriak bahwa dokternya telah datang dan Chanyeol langsung melepaskan tangannya yang memegang tanganku. Dia langsung berjalan keluar dan masuk kembali bersama seorang dokter yang biasa memeriksaku.
Dokter itu membersihkan darah disekitar tanganku menggunakan kapas dan cairan yang menimbukan sensasi dingin tersendiri diatas kulit. Kemudian mencabut jarum yang melekat ditanganku secara perlahan. Walau perlahan itu tetap meninggalkan sakit omong-omong. Menusukkan jarum ditempat baru secara perlahan pula, dan mengecek cairan infusku.
" apa kau sudah memakan sesuatu, Baekhyun?" tanyanya, dan aku menggelengkan kepala.
Minseok hyung masuk bersama dengan Lay hyung disana.
"kalian bisa memberikan Baekhyun makanan sedikit mulai sedikit. Jangan memberikannya makanan langsung. Giling dan hancurkan dulu. Bukan bubur, harus lebih cair dari pada itu"
Semuanya mengangguk mengerti termasuk aku.
Dokter itu kembali dan Minseok juga Lay hyung ikut keluar bersama mereka. Meninggalkan Chanyeol dan aku.
Mengerti, aku bergeser, memberi ruang bagi Chanyeol dikasurku. Dia langsung berbaring dan memiringkan tubuhnya menghadapku.
"apa kau ingin makan sesuatu?"
Aku menggeleng. Aku memang ingin makan makan makanan lain selain air putih yang terus-terusan mengisi lambungku. Sepotong Pizza sepertinya enak. Tapi mengingat aku tak bisa menelan sesuatu yang berbentuk padat, Pizza hanyalah angan-angan.
Kecanduan alkohol layaknya kau mencoba sesuatu dan tidak bisa jauh-jauh dari hal tersebut. Begitu pula aku. Aku masih bisa menginggat rasanya dipangkal lidahku. Dan itu begitu menggangu. Aku sudah bertekad untuk sembuh.
Aku pernah mendengar saat manager dan Joonmyeon hyung berbicara dengan dokter. Tahap menyembuhkan seorang yang kecanduan sepertiku cukup sulit, dan itu tidak menghabiskan waktu yang sebentar. Aku bisa kambuh kapan saja. Meronta saat pembuluh darahku mengalirkan darah lebih cepat. Jantungku yang memompa lebih dari biasanya dan meningkatkan adrenalinku. Cara satu-satunya adalah memberiku alkohol kembali.
Tak ada yang bisa menolong itu, bisa terjadi kapan saja. Jika jantungku tidak mampu bertahan dalam intesitas kerja yang lebih kuat. Bisa saja dia melemah atau berhenti bisa disambut kematian. Itulah kenapa dokter menyarankan agar aku mendapatkan rehabilitasi.
Tapi semua tak semudah itu. Aku tidak bisa tiba-tiba menghilang dan mendapatkan rehabilitasi. Ada jutaan kepala yang akan memberikan pertanyaan diluar sana. Satu-satunya cara adalah merawatku sendiri. Tapi lambungku masih terluka, memberiku alkohol kembali jika kambuh akan menyebabkan luka yang lain.
Pikiranku kembali pada menit-menit sebelumnya. apa itu yang disebut kambuhku? ciri-cirinya sama. Menyakitkan sekali. Berarti, aku baru saja sejengkal menuju kematian. Jika tadi tidak ada Chanyeol, apakah sekarang aku sudah melihat surga?.
mataku bergulir, menatap Chanyeol didepanku. Tanpa sadar mataku memandang tepat pada bibirnya.
Kepalaku mendekat dan kembali menyatukan kedua bibir kami. Tak peduli disana ada Sehun yang mungkin belum tertidur. Aku melumatnya, mencari sensasi yang sama saat aku menciumnya sebelum ini.
menyesap bibir atasnya dan merasakan rasa berbeda. Bukan manis, sejenis rasa yang akan membuatmu meminta lagi tanpa bisa dijelaskan. Ini memabukkan. Aku menemukan pengalihan dan obat semua rasa sakitku. Sejak hari itu, aku menetapkan Chanyeol dan bibirnya adalah obatku.
Itu adalah alasan kenapa aku mencium Chanyeol duluan dihari-hari bahkan tahun selanjutnya.
.
.
.
Setelahnya Chanyeol akan selalu pulang ke dorm dan merawatku. Setiap hari. Jika semua jadwalnya telah selesai dia akan kembali dan membuatkan makanan untukku. Dia bahkan menggiling dan menghancurkan makanan untukku sendiri. Memastikan semua makanan layak diterima lambungku. Dan jika tubuhku sudah berteriak menginginkan alkohol aku langsung menarik tengkuknya tanpa berkata apa-apa, mencium dan melumat tepat disana.
Semuanya berjalan seperti itu, hingga suatu hari Chanyeol pulang dan berkata seolah hanya memberi kabar ramalan cuaca hari ini.
" Baek, ayo berkemas. Aku membeli apartement dan manager menyuruhku untuk membawamu tinggal bersamaku"
Itulah awal dimana banyak kisah akan dibagikan.
.
.
.
.
.
.
.
.
You are my remedy (end)
.
.
Nggak mau bacot, udah 5K words. Kalian pasti udah mual dan bosan. Semoga penantiannya terbayar.
((udah sepanjang ini, nggak mau review gitu?))
See ya
