Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
Chap 5
Laki-laki berambut perak itu menatap kalung dengan bandul berbentuk tabung kecil di antara jarinya, diperhatikan lamat-lamat ukiran yang menutupi luar tabung. Kalung bewarna silver semi gelap itu cukup lama diperhatikan laki-laki itu dalam diamnya. Entah sudah berapa ratus kali dia selalu seperti ini, duduk dalam diam dan memperhatikan kalung berbandul tabung itu. Dia akan merasakan ketenangan jika memperhatikan kalung yang telah ia miliki ketika berumur 9 tahun, ketika pertama kali di dapatnya. Tak akan ada yang berubah dari bentuk kalung yang telah bersamanya selama 15 tahun itu, hanya saja dia sangat menyukai aktifitasnya memperhatikan kalung berbandul tabung itu.
Mungkin untuk kebanyakan orang, kalung itu tidaklah spesial bahkan cenderung terlihat kuno. Namun untuk laki-laki berambut perak tersebut kalung itu sangatlah berharga, jauh berharga dari semua barang mahal yang ia miliki. Tidak peduli berapa banyak orang menjelek-jelekan kalungnya, dia akan tetap memakai kalung itu sampai kapanpun, ya sampai kapanpun.
"Sampai semuanya jelas, bertahan lebih lama lagi Willis." guman laki-laki itu. Willis, ya nama yang tidak asing memang untuk kebanyakan orang yang pernah atau ingin mengenal dan bekerja sama dengan dia. Willis Archer, begitulah orang tuanya memberikan nama untuknya. Hanya saja, Willis kurang menyukai nama belakangnya -bukan- kurang menyukai tetapi tidak ingin mengakui nama belakangnya tersebut. Menurutnya nama belakangnya tidak akan pernah cocok untuknya, mau seperti apapun ia tidak akan mengakui nama itu. Karena itulah, dia selalu mengenalkan namanya dengan Willis -hanya- Willis tanpa nama belakang. Sehingga banyak yang bertanya-tanya siapakah Willis ini? Selama ini, yang orang tau dia adalah turunan dari pemilik perusahaan itu. Tidak salah memang, tapi tidak bisa dikatakan benar juga, dapat di katakan dia yang memiliki setengah dari saham perusahaan besar itu dan sisanya di miliki keluarganya.
Semua itu bukanlah hasil pemberian begitu saja, sama sekali bukan. Itu adalah hasil kerja kerasnya dari remaja, ya Willis remaja berbeda dengan remaja pada umumnya yang ketika seusianya lebih memilih bermain dan bermain sedangkan ia lebih memilih bekerja dan bekerja. Aneh memang, ketika semua remaja menikmati masa remajanya dengan kebahagian tetapi itu tidak berlaku untuk Willis. Masa remajanya bukanlah masa yang buruk, bahkan bisa dibilang masa remajanya luar bisa jika dibandingkan dengan yang lain. Dia selalu saja dimanjakan dengan apapun yang dia inginkan hanya saja dia sama sekali tidak terbuai dengan semua itu, dan memilih untuk belajar bisnis dari keluarganya. Sejak berumur 12 tahun dia memiliki obsesi sendiri pada suatu hal yang akhirnya membuat ia menghabiskan masa remajanya dengan belajar bisnis dan bekerja. Bahkan bukankah itu terlalu muda untuk seusianya saat itu? Dan Willis sama sekali tidak peduli tentang hal itu, yang dia tau dia tidak boleh kehilangan apa yang harus dia miliki sejak awal, ya itu lah obsesinya.
Sudah sejauh ini dia bertahan dengan semuanya, 12 tahun lamanya dia menahan segalanya dan fokus dengan apa yang dia kerjakan. Dan selama itu pula yang membuatnya kuat hanya kalung dengan bandul tabung bewarna silver semi hitam tersebut. Kalung yang akan sedikit mengkilap jika terkena cahaya, kalung yang memiliki ukiran indah bagi Willis. Baginya tak masalah jika ia akan terus bertahan seperti ini selama apapun selagi kalung itu terus ada padanya, ia akan kuat. Hal 12 tahun itu juga yang membuat Willis memiliki sifat yang kurang bersahabat dengan yang lain. Dingin, salah satu sifat yang ia miliki dengan siapapun bahkan orang tuanya sendiri. Sifat yang terlanjur tertanam pada dirinya, yang sejujurnya dia tidak terlalu menyukai sifatnya yang satu ini. Setiap orang yang mengenalnya akan dengan cepat merasakan sifat dingin darinya namun karena sifat itulah banyak sekali orang yang penasaran dengan dirinya terutama wanita. Hampir semua wanita yang mengenal dirinya atau yang bekerja dengannya berkeinginan mengenal lebih jauh dengan sosok Willis, hanya saja ia telah lama membangun dinding di hatinya. Tidak ada yang bisa menembus dinding itu selain seseorang yang selama ini ia rindukan, hanya orang itu yang bisa menembus dinding di hatinya.
Willis memakai kembali kalung dengan bandul tabung itu lalu melirik ke arah jam di atas meja kerjanya, 8 malam. Jam pulang kantor bahkan sudah lama lewat, namun dirinya benar-benar tak ada keinginan untuk cepat kembali ke apartemenya. Sudah ratusan kali orang tuanya menyuruh untuk menempati rumah keluarganya, namun sekali lagi dia sangat malas untuk terus-terusan menggunakan apa yang menjadi milik keluarganya dan memilih membeli apartemen sendiri dan banyak meninggalkan barang mahalnya termasuk beberapa kendaraan mahalnya di rumah itu. Hanya sekali atau dua kali ia akan berkunjung kerumah itu untuk mengambil barangnya yang lain dan meninggalkannya lagi. Karena Willis memilih untuk tinggal di apartemen, rumah itu hanya di tempati beberapa pelayannya saja, karena orang tuanya pun menetap di Amerika.
Willis mengambil ponselnya dan menekan beberapa angka lalu menekan lambang hijau,
"Hallo , can I help you?" terdengar suara laki-laki setengah baya dari sambungan teleponnya.
"Bisakah kamu menjemputku sekarang James? Aku ingin mengambil beberapa pakaian di rumah, aku sedang malas menyetir mobil sendiri," Ucapnya lalu berjalan ke arah jendela besar di ruangannya.
"Bagaimana dengan mobil tuan?"
"Aku akan meninggalkannya di kantor, besok aku akan menelpon taksi," jawab Willis sambil menatap keluar jendela. Dirinya selalu suka pemandangan malam dari jendela kantornya.
"Baik tuan, saya segera kesana, mohon ditunggu," Sambungan telepon terputus.
Willis menghembuskan nafasnya dengan pelan dan teratur, entah kenapa selama 12 tahun ini dirinya selalu merasakan kosong jika sedang sendirian dan Willis membenci itu. Dia berjalan ke arah kulkas kecil di ujung ruangan, membukanya dan mengambil sekaleng coke, minuman soda favoritnya. Jarinya dengan lincah menarik pembuka kaleng dan Willis mulai meneguk coke itu secara perlahan. Dia menyukai sensasi ketika soda itu melewati kerongkongannya dan menciptakan sensasi seperti cairan itu menyetrumnya dengan pelan. Dia berjalan kembali ke arah meja kerjanya, menyalakan laptop dan mengecek beberapa surel yang masuk tentang perkembangan perusahaan yang sedang ia pimpin sekarang. Mata tajamnya menatap serius setiap surel yang masuk dan sesekali mengetik balasan untuk surelnya. Bahkan di malam hari saja, dia merasa jika harus terus bekerja seperti ini. Willis mulai menggulung lengan bajunya hingga sesiku dan melanjutkan beberapa pekerjaannya.
15 menit kemudian ponselnya bergetar pertanda pesan masuk, itu dari supirnya. Willis berdiri, mengambil ponsel dan jas yang ia gantung lalu menuju lobby. Sejujurnya dirinya benar-benar lelah sekarang dan ia membutuhkan tidur, tetapi karena ia masih meninggalkan banyak pakaian di rumahnya, ia harus mengambilnya beberapa dan kembali ke apartemennya. Willis menuju mobil berwarna hitam berjenis rolls-royce dengan kursi belakang, salah satu mobil mewah yang terparkir di garasi rumahnya. James, supir pribadi keluarganya telah menunggu.
"Langsung ke rumah tuan Willis?" Tanya James ketika mobil itu siap berangkat,
"Ya, langsung kerumah, karena aku harus pulang ke apartement," Balas Willis lalu mecoba menutup mata di kursi belakang.
"Anda tidak menginap dirumah tuan?" James memperhatikan tuannya itu dari spion depan, Willis menggelengkan kepala.
"Aku tidak ingin menginap, hanya mengambil beberapa barang saja," James mengangguk lalu mulai menjalankan mobil itu melintasi jalan London yang cukup ramai.
Besok adalah weekend, dirinya belum tau akan melakukan apa, bahkan tak satupun terpikirkan untuk melakukan sesuatu di weekendnya. Selama ini dia lebih sering menghabiskan weekendnya untuk bekerja di apartemennya atau membawa pekerjaannya di salah satu restaurant yang dia kunjungi selain itu dia habiskan untuk berolahraga di gym. Namun beberapa hari yang lalu, salah satu karyawannya menyarankan dirinya untuk melakukan hal lain selain yang biasa ia lakukan tapi dirinya belum mendapat ide satupun apa yang sebaiknya dia kerjakan. Selama perjalanan menuju rumah, ia terus memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan besok, hingga tak terasa mobilnya berhenti depan rumah bercat coklat tua.
"Saya akan menunggu disini tuan," Willis membuka mata lalu mengangguk ke arah James dan segera keluar dari mobil. Ia disambut salah satu pelayan di depan pintu masuk,
"Selamat malam tuan Willis, apakah anda akan menginap?" Tanya pelayan tersebut dengan ramah. Sekali lagi Willis menggeleng,
"Tidak, aku hanya akan mengambil beberapa barang lalu pulang," Jawabnya segera berlalu. Willis menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas. Terakhir dia kerumah ini sekitar sebulan yang lalu untuk mengambil barang sama seperti sekarang. Willis membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk menuju closet. Mengambil beberapa pakaian yang ia perlukan lalu meletakkannya di atas king bed nya. Ia mengambil sebuah koper kecil dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Willis juga mengambil beberapa barang lain dan langsung memasukkannya ke dalam koper dan menutupnya. Semua yang ia perlukan sudah ia ambil -setidaknya untuk sekarang-. Kakinya melangkah ke arah pintu sambil menarik koper kecilnya, langkahnya terhenti di depan sebuah foto. Dia menatap foto itu tanpa ekspresi apapun, foto yang memperlihatkan dirinya ketika remaja dengan kedua orang tuanya, foto keluarga terakhirnya karena setelah itu ia selalu menolak ketika diajak berfoto keluarga. Matanya menyapu seluruh kamar nya lalu berhenti lagi di foto kelurga itu,
"Setidaknya hanya bertahan sebentar lagi kan? sedikit lagi," yakinnya lalu melangkah keluar.
James mengantar Willis menuju apartmennya, ia sangat lelah, sungguh sanggat lelah. Sekali lagi ia menutup matanya selagi James mengantarnya pulang. Pikirannya bercabang kemana-mana, terlalu banyak yang memenuhi isi kepalanya.
"Tuan sudah sampai," Suara James menyadarkan Willis, dirinya pasti terlalu lelah hingga tertidur di mobil. Ia membuka mata lalu mengangguk,
"Terimakasih James,"
"Anda harus banyak istirahat tuan, terlihat sangat kelelahan," Khawatir James membuat Willis mengangguk. Ia keluar dari mobil dan segera berjalan menuju menuju lobby apartemen. Hampir semua orang di lobby menatapnya kagum terutama kaum hawa ketika Willis melewati mereka. Perempuan mana yang tidak suka melihat laki-laki tampan berambut perak dengan tatapan dingin jalan melewatinya, semua perempuan menyukainya bahkan semua laki-laki iri dengannya. Namun, Willis benar-benar tidak peduli dengan semua orang yang menatapnya kagum, dirinya benar-benar butuh istirahat. Kakinya terus melangkah menuju lift, namun langkahnya terhenti ketika mata elangnya sekilas seperti melihat seseorang yang ia kenal. Dia pun membalikkan badan dan mencoba melihat sekitar, meyakinkan dugaanya. Dan hasilnya nihil, tidak ada orang yang sama seperti apa yang dia bayangkan dan harapkan. Lagi-lagi dia terlalu lelah sampai salah seperti ini, dia pun berjalan kembali menuju lift yang membawanya ke lantai dimana tempat tinggalnya berada.
Dia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan tenang, bahkan Willis sangat malas untuk berganti pakaian. Yang ia butuhkan adalah tidur, tidur yang lama. Ia mencoba menutup matanya dan menghilangkan semua pikiran-pikiran yang berputar di kepalanya, tolong biarkan Willis tidur.
-08.17 A.M-
Willis mencoba membuka matanya ketika merasakan ponsel di atas nakasnya bergetar, siapa yang menelponya sepagi ini.
"Hallo?" Suara serak khas bangun tidur Willis membuka telpon,
"Hay brother, kamu baru bangun?" Suara laki-laki, Willis menjauhkan ponsel dari telinganya dan mencoba membaca nama yang tertera dalam panggilan masuk, "STUPID BLACK MAN". Willis menghembuskan nafas kesal, seperti yang ia duga, teman hitamnya itu menggangu paginya.
"Hey, apakah kamu tau jam berapa sekarang ini disini?" Tanya Willis menahan kesal,
"Tidak, memangnya kenapa?" Teman hitamnya itu benar-benar mengesalkan,
"Disini jam 8 pagi dan kamu mengangguku sepagi ini," Lawan bicaranya tertawa di ujung telpon.
"Sejak kapan aku peduli disana jam berapa, yang jelas disini sore," Balas temannya sambil tertawa.
"Sial! Seharusnya aku memang tidak perlu memiliki teman macam kamu, STUPID BLACK MAN!" umpat Willis lalu memutus sambungan telpon. Dirinya benar-benar kesal sekarang. Bagaimana bisa dia di ganggu seperti ini, tidak seharusnya dia mengenal si hitam sialan itu. Dan sekarang kantuknya benar-benar hilang, dan dia tidak menyukai ini. Ponselnya bergetar tanda pesan masuk, jarinya membuka pesan itu,
From : STUPID BLACK MAN
Hay bodoh! Sekarang bukan waktunya untuk tidur hahaha, senang rasanya bisa membuatmu kesal. Cepat bangun dan nikmati weekendmu! Aku mencintaimu bodoh ^^ hahaha
"Cih, hitam sialaannnn. Awas saja jika kita bertemu suatu saat nanti," Willis membanting kasar ponselnya ke atas kasur, dirinya benar-benar telah bangun sekarang.
"Aku benar-benar bingung akan melakukan apa hari ini," Willis bangun dari tidurnya dan bersandar pada head board, mencoba menemukan hal apa yang bisa ia lakukan hari ini selain berolahraga atau bekerja seperti weekend sebelumnya.
"Apa aku harus tanya si hitam untuk masalah kayak gini? Aku benar-benar buntu," jarinya lincah menekan beberapa angka di ponselnya, dia memutuskan bertanya pada temannya.
"Hallo?" sejujurnya dia masih kesal dengan temannya itu,
"Hm, hallo" balas Willis setengah males
"Kenapa? Bukannya kamu kesal denganku? Hahaha sekarang kamu menelponku? Kamu merasa bersalah? Ingin meminta maaf?" Goda temannya.
"Dalam mimpimu tuan hitam,"
"Aku tidak sehitam itu brengsek haha, ada apa?"
"Aku butuh saran untuk menikmati weekend, berikan aku saran terbaikmu," Pinta Willis lalu berdiri menuju kamar mandi.
"Saran? Hahaha kamu benar-benar tidak tau caranya menghabiskan waktu ya tuan pekerja keras." Lagi-lagi temannya ini menggodanya, Willis tidak ambil pusing, di letakkannya ponsel di atas standphone di atas nakas kamar mandinya lalu ia menekan tanda loudspeaker.
"Berhentilah bercanda aku serius," Balas Willis lalu membuka kancing bajunya dan meletakkannya di keranjang.
"Hahaha, okay okay tuan Willis yang agung, jadi kamu mau menghabiskan waktu seperti apa?" Willis mengembuskan nafasnya sebal, bagaimana bisa temannya ini malah balik bertanya padanya.
"Bagaimana bisa kamu bertanya balik sih?" Terdengar ledakan ketawa di ujung telpon, temannya itu senang sekali menggodanya. Willis menyalakan shower, air mulai membasahi tubuhnya yang berotot.
"Hey tuan Willis yang agung, kamu menelponku ketika mandi?" Wills menuang shampoo pada telapak tangannya.
"Apa pedulimu? Kau hanya perlu memberi saran untukku, masalah aku sedang mandi atau tidak itu urusanku," Jawab Willis ketus
"Dasar pervert! Okay tidak masalah kamu sedang mandi atau berenang sekalipun, aku akan mulai memberi saran," lanjutnya
"Pertama, karena kamu sudah terbiasa olahraga setiap weekend, kamu harus mencoba olahraga outdoor yang lain misalnya golf atau tennis?" Willis membilas rambut dan tubuhnya,
"Golf? Tennis? Aku bahkan tidak terfikirkan itu disini, aku butuh yang lain diluar olahraga," jawab Willis cepat
"Yang lain? Okay bagaimana kalo berbelanja? Hm? Bukannya kamu senang membeli barang-barang mahal yang tidak penting,"
"Bilang saja kamu menginginkannya juga brengsek," Terdengar kembali suara tawa diujung telpon. Willis mengambil handuk dan berjalan menuju cermin.
"Itu berbeda denganku bodoh, semua itu akan berguna pada ku," Willis melihat pantulan wajahnya di cermin, terlihat rambut peraknya basah.
"Kamu memang tidak berguna, dasar hitam." Willis melilitkan handuk disekitar pinggulnya lalu mengambil handuk lagi untuk mengeringkan rambutnya.
"Hey, kamu tidak boleh rasis, kita orang yang sama bodoh. Oke, aku akan memikirkan saran lain," Dia benar-benar tak habis pikir dengan temannya. Dia mengambil ponselnya dan berjalan keluar kamar menuju kulkas.
"Bagaimana dengan berjalan-jalan di taman? Atau pergi ke bioskop? Banyak hal yang bisa dikerjakan, hanya sa-"
"Jonginnn mohae?" terderngar suara perempuan diujung telpon, Willis menuangkan jus jeruknya dan mendengarkan suara itu.
"Ani, kenapa kamu kesini? Jangan mendekat," temannya membalas perempuan itu dengan bahasa Korea.
"Ya! Jangan diambil! Kembalikan handphone nya !" Willis masih mendengarkan suara ribut di telponnya,
"Yeoboseyo?" Willis mengkerutkan dahinya, seorang perempuan menyapanya dengan bahasa Korea? Benarkah? Di arahkan gelas jus jeruk menuju bibirnya.
"Oh Sehun?" Gelasnya berhenti tepat di depan bibirnya, jantung nya memompa lebih cepat, suara ini sungguh familiar untuknya.
.
.
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa
Maaf kalo alurnya terlalu cepat? Atau mungkin terlalu lambat? Aku berusaha keras agar tidak terlalu bertele-tele karena dari itu mohon reviewnya
Maafkan juga ceritanya belum sempurna :") aku bekerja semaksimal mungkin chingu ^^
silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan
Sarangahaeee chinguu
