Rated : M-T

Pair : Chanbaek

Purely my wild imagination.

Genre: Angst, Hurt, Romance.

Drama ++.

CERITA INI TIDAK DIBUAT UNTUK MENJATUHKAN PIHAK ATAU KARAKTER MANAPUN.

Sekali lagi, CERITA INI TIDAK DIBUAT UNTUK MENJATUHKAN PIHAK ATAU KARAKTER MANAPUN.

Tissue (jangan lupa)

Becanda, fluff kok.

Heuheuheu

Rekomendasi : sebelum membaca ini,

silahkan mencari kata kunci 'baekhyun jealous'

di mesin pencari atau sosial media. Enjoy...


07.


"Yappari !, Raibaru desu ne !"

'ah, kau memang rivalku'

-Byun Baekhyun to Do Kyungsoo, Japan, May 2017.

Kyungsoo.

Nama itu, kalian pasti mengenalnya sebaik kalian mengenalku. Grup yang sama. Urutan vokal setelahku. Harapan semua orang.

Aku tak yakin bagaimana menceritakannya. Aku tak membenci Kyungsoo, sungguh. Dia juga begitu, aku sangat yakin. Dibalik semua kata dan tindakannya yang kadang terkesan tidak peduli, dia sangat perhatian. Itulah kenapa tidak ada yang bisa membencinya.

Jika dibandingkan, ada banyak aspek lebih yang dia punya dari pada aku. Dia hanya akan diam dan tenang tidak sepertiku yang cenderung terlalu berisik dan membuat risih banyak orang.

Kyungsoo pandai memasak. Semua anggota bergantung padanya. Poin yang paling menonjol dari Kyungsoo. Bagaimanapun seseorang berusaha menyainginya atau bahkan menyamakan kedudukan rasanya akan mustahil.

Ingat saat Chanyeol ingin kembali ke dorm pagi-pagi dengan alasan ingin sarapan dengan masakan Kyungsoo? Itu masih terjadi sesekali sampai sekarang. Di dorm tidak ada orang lain yang akan membantu melakukan pekerjaan rumah, semua kami lakukan sendiri.

" Baek, kau ingin ikut atau tidak?"

Kadang sesekali pertanyaan itu terdengar dipagi hari. Artinya Chanyeol akan kembali ke dorm dan makan disana. Pilihannya hanya ikut atau tidak.

Jika sangat terdesak karena lapar aku akan memilih ikut. Bagaimanapun hanya Chanyeol yang lebih ahli dalam hal itu dibandingkan aku. Terkadang, jika aku sudah terlalu malas untuk melihat cara mereka berdua berinteraksi, aku menolak dan memilih tetap tinggal. Selapar apapun aku.

"Chanyeol, ayo masakkan aku sesuatu"

"kita kembali ke dorm saja baek, aku ingin makan masakan Kyungsoo"

Menyebalkan.

Kadang Chanyeol berangkat lebih awal jika dia dan Kyungsoo akan memasak makanan bersama. Menyiapkan makanan dengan jumlah melebihi tim basket kadang memerlukan bantuan.

Jika aku menolak Chanyeol yang tidak pengertian itu akan langsung pergi seolah aku tak bercanda sama sekali. Membujuk? Simpan saja kosa kata itu untuk sarapan bersama Kyungsoo.

Dia tidak akan berbalik sekedar melihatku atau memeriksa apa ada makanan tersisa disalam penyimpanan. Memilih pergi dan lupa bahwa aku bahkan masih ragu saat merebus air.


Kyungsoo dan segala kebaikannya.

Dia akan paham apa yang terjadi tanpa banyak berkomentar. Mengerjakan apapun dengan patuh dan cepat. Tidak peduli siapa yang ditolongnya, jika itu harus dilakukan maka akan ia lakukan. Seperti saat aku jatuh sakit, ingat?

Kyungsoo akan mengurusi Sehun dari pagi. Jika dia kembali berulah seakan dunia akan kiamat hari ini. Membantu Joonmyeon hyung yang sudah ingin melepaskan kepala dari lehernya.

Saat awal Luhan hyung meninggalkan grup, Sehun berubah lebih parah. Hari ini dia bisa berubah sangat pendiam bahkan tak mengucapkan apapun, tatapan matanya kosong dan tak bersemangat, semua latihannya seperti boneka kayu usang yang dipaksa bergerak. Esok hari dia bisa berubah sangat cerewet dan mengomentari semua hal, berlari mengelilingi dorm dan pergi entah kemana.

" Jongin ah, bagaimana kalau kau menemaniku mengambil penerbangan ke Tiongkok malam ini?"

Atau

" Baek hyung, Lu tidak pernah ingin ku peluk erat-erat, sekarang aku tak punya kesempatan memeluknya, kau saja yang kupeluk ya hyung?" aku menyerngit tapi dia sudah duluan memelukku.

Atau

" Lu itu sibuk sekali ya? Kenapa tidak mengupload sesuatu?"

Kyungsoo yang berakhir membantu mengurusi Sehun yang sibuk dengan dunianya. Melihat kadang Sehun akan memelukku dan bermanja-manja kapan saja, Suho hyung memintaku menemaninya di dorm.

Membantu mengurusi Sehun, dalam artian menjadi teman mengobrolnya atau mengajaknya jalan-jalan ke luar. Itulah saat dimana aku dan Sehun mulai terbiasa mandi bersama. Mengurusi Sehun itu gampang-gampang susah. Luhan hyung berhutang pada kami semua.

Jika aku harus menemani Sehun sepanjang hari, maka Chanyeol juga akan berdiam diri di dorm. Dia akan menganggu Kyungsoo setiap waktu dan Kyungsoo balas memukul kepalanya. Aku bahkan bisa mendengar mereka bercanda dari kamar Sehun.

" aku melihat penguin hari ini tapi matanya tidak ada yang sebesar milikmu"

" coba berkaca dan lihat matamu"

Aku tidak bisa melihat mereka, tapi sepertinya apa yang mereka lakukan menyenangkan.

" tapi aku bukan penguin"

" aku juga bukan, telinga lebar"

" kau membahas itu lagi, aku benci padamu"

" lihat siapa yang akan minta maaf duluan"

Bukan hanya Sehun yang bertingkah layaknya anak bayi. Masih ada Tao yang sama parah. Persis seperti dua anak TK yang takut semua hal. Mandi bersama, makan harus dimarahi dan mereka mengadu layaknya anak gadis putus cinta. Merusak telinga.

Sehun menemukan Vivi, satu masalah teratasi.

Kyungsoo akan dengan senang hati membantu merapikan dasi Jongin. Memegangi mic anggota lain. Memasak jam berapa pun itu. Bahkan hal-hal kecil lainnya.

Kyungsoo layaknya teman merangkap orangtua. Dia terlihat tidak banyak berkomentar tapi bisa membuat orang tertawa dengan satu kalimat. Semua anggota sudah tau, jika saah satu terlalu lelah dan ingin menangis, entah bagaimana dia ada disana memberi perhatian.

Dia melakukan banyak hal secara diam-diam dengan rencana tersusun dikepala.

Kadang dia seolah paham perasaanku. Membuka kamar Suho hyung dan mengatakan " menginap di dorm saja, Baek. Tak usah pulang" jika aku kembali ke dorm setelah beradu argumen melawan Park Chanyeol.

Dia adalah orang yang kuhubungi jika Chanyeol meninggalkanku entah dimana. Selain Minseok hyung, Jongdae atau Suho hyung dia adalah yang cukup sering kuhubungi.


Kyungsoo dan segala keistimewaanya.

Apa kalian pernah bertanya bagaimana hubunganku dengan keluarga Chanyeol?. Tidak buruk dan juga tidak terlalu baik.

Ibu Chanyeol adalah fans no 1 Do Kyungoo, kita semua tau itu. Semua acara dengan Kyungsoo didalamnya tidak akan pernah luput dari pandangan. Jadwalnya bahkan berada dalam list agenda.

Aku tidak yakin jika mengatakan ibu Chanyeol menyukaiku juga tidak terlalu ingin mengatakan dia tidak membenciku.

Semua anggota tau satu hal itu. Bagaimana ibu Chanyeol sangat memuji Kyungsoo.

" hyung, aku lapar" itu Sehun saat aku baru bangun tidur siang. Suaranya sangat mengiba.

" apa kita tak punya sesuatu untuk dimakan?"

" tidak dan belum" Jongdae menyahuti entah dari mana. Jika kondisi seperti ini, harapan kami satu-satunya berada pada Kyungsoo. Dia akan memasakkan makanan bahkan jika kami membangunkannya dari tidur.

" dimana Kyungsoo? Apa dia tidur? Ayo bangunkan !" aku mengucap bersemangat karna merasa hal yang sama, kelaparan.

Manager sedang tidak disini, sama seperti kami. Dia sedang menikmati masa istirahatnya siang ini sebelum nanti malam kami harus latihan dan pengambilan gambar.

Jongdae malah memilih duduk disalah satu kursi ruang makan. Tidak berkomentar.

" Ibu Chanyeol hyung disini" Sehun menyahuti.

Ada ibu Chanyeol disini?. Pantas saja.

Ada satu hal yang harus kuberitahu. Jika ada ibu Chanyeol di dorm sama seperti kita harus melupakan waktu makan yang kita punya.

Ibu Chanyeol akan membawa banyak makanan dengan berbagai jenis olahan dan memberikannya pada Kyungsoo. Pada Kyungsoo, ku ulangi sekali lagi.

Wanita kesayangan Chanyeol itu juga mengatakan bahwa apa yang dibawanya harus dihabiskan didepan matanya, saat itu juga.

Jadi itu semua akan menghabiskan waktu yang lama dan artinya tidak ada yang memasak. Kyungsoo sudah kenyang dengan makanannya.

Selalu seperti itu. Ada atau tidak Chanyeol di dorm jika ibunya ingin datang maka beliau akan datang. Di jadwal-jadwal sibuk pun beliau akan mengirimi sekotak besar makanan untuk Chanyeol, Kyungsoo dan para member. Semua orang mendapatkan jatah jahe merah, tapi berbeda dengan Kyungsoo, dia akan mendapatkan kue beras atau makanan manis lainnya.

Aku cukup sering bertemu dengan ibu Chanyeol. Sesekali saat semua member memilih makan di Viva polo kami akan bertemu dan berbicara sedikit. Ramah dan tidak terlalu canggung. Tapi tidak sedekat Kyungsoo.

Dulu saat Chanyeol masih menjadi trainee dia sering mengajak Kyungsoo bermain kerumahnya. Aku belum masuk menjadi seorang trainee dan Jongin masih takut melihat Kyungsoo. Mereka lebih dulu bertemu. Bermain lebih dulu. Lalu bagian mana yang harus kukatakan tidak suka. Aku bisa apa?

" ayo memasak ramyun saja, atau Jongdae-ya coba hubungi ibumu dan mari lihat apa yang bisa kita masak"

" tapi itu akan lama hyung, ayo makan diluar saja" Sehun kembali protes

" atau pesan saja makanan saja"

" lalu memakannya didepan ibu Chanyeol? Dasar bodoh ! " aku memukul kepala Jongdae agar otaknya sedikit berguna.

Dia meringis. Mengambil masker dan dompet, kami bertiga memilih makan keluar, menyapa sedikit ibu Chanyeol dan buru-buru memasuki mobil.

" jika kupikir-pikir, kenapa ibu Chanyeol tidak terlalu dekat dengan Baek hyung, padahal kan Baek hyung teman dekat anaknya?"

Chanyeol kembali mengambil bagian untuk syuting ke hutan. Tidak tau bagaimana, tapi tiba-tiba saja dia sudah memiliki jadwal untuk pergi. Aku terkejut dan mengkhawatirkannya.

Dia memang tidak terlalu bermasalah mengenai ingin memakan apa. Dari yang pernah kulihat, acara itu pasti sangat melelahkan. Bisa jadi para pemainnya hanya akan makan satu kali sehari karena tak memiliki makanan untuk dimakan. Chanyeol akan berada disana, menjadi salah satu pemain itu.

Melihatnya memilih barang yang akan dimasukkan kedalam koper membuatku kembali sedih. Tanpa Chanyeol lagi. Dia terlalu sering pergi, berlibur atau kemanapun dia ingin. Entah karena ada aku di apartemennya. Dia berangkat dan aku tidak bisa lebih resah lagi.

Seharian aku hanya akan duduk diapartemen dan pergi keperusahaan jika perlu. Moodku kacau, kembali ke dorm hanya akan membuat perasaan jadi semakin buruk. Jika Jongdae melihatku, dia pasti menertawaiku, mengatakan aku serprti istri ditinggal ke medan perang. Sial.

Aku mendengarnya akan pulang hari ini. Bersiap-siap ingin menjemputnya dan membawa kembali ke apartemen. Aku akan memesan banyak pizza atau makanan yang dia suka.

" apa kau lelah Chan? Aku akan memijatmu disini atau disini" memindahkan tanganku dar baru sebelah kirinya menuju bahu sebelah kanan. Dia tidak protes. Malam semakin larut dan aku berpikir Chanyeol butuh istirahat.

Aku terbangun karna suaara-suara menganggu disekitarku. Tidak ada Chanyeol disampingku sebagai gantinya aku menemukannya sedang memakai topi dan masker didepan cermin kamar.

Membuka mata setengah, belum benar-benar terbangun

"Chan, kau ingin pergi?"

"ah, kau sudah bangun? Ya, aku akan pergi ke dorm"

Disudah selesai memakai semua perlengkapannya dan menghadap kearahku.

" dorm?"

" Kyungsoo memasak banyak makanan merayakan kepulanganku. Lagipula rasanya sudah lama tak makan makanan yang benar"

Aku membuka mata seutuhnya dan tak ber-ekspersi apapun.

"kenapa tidak memesan makanan saja?"

Jadi kau tetap bisa disini bersamaku.

"tidak, aku sedang ingin makan masakan rumah dan tidak hanya satu jenis, lagipula Kyungsoo sudah memasak untukku. Aku pergi"

Dia keluar. Tak mengajakku untuk sekedar ikut. Bodohnya aku. Chanyeol tentu tak ingin hanya disambut dengan senyuman dan pertanyaan tentang keadaan. Dia juga mendapatkan istirahat yang cukup, jadi dia tak perlu seseorang yang menyambutnya dalam dekapan.

Harusnya aku menyambutnya dengan sesuatu yang lebih spesial seperti memasakannya makanan. Jadwal dan porsi makannya sudah rusak. Harusnya aku memperbaikinya. Bukan menyambut seperti orang yang tak berguna. Bodoh sekali.

Dia baik-baik saja. Aku tak perlu mengkhawatirkannya. Semestinya begitu.


Selain wanita-wanita itu, hanya Kyungsoo yang dengan bangga bisa Chanyeol bawa untuk ibunya. Tanpa perlu menerka pastilah beliau akan sangat senang karena itu.

Kyungsoo sejak awal berada dalam kelas keluarga berada. Bukan, itu bukan Jonnmyeon hyung seperti yang kalian pikirkan. Kyungsoo ada diurutan teratas. Ditambah dengan semua penghasilan pengambilan gambar, iklan, dan film.

Mereka bukan musuh dari awal. Bukan juga orang yang saling membenci. Fakta bahwa mereka menghabiskan hampir dua tahun lebih dalam masa pelatihan yang sama semakin menciutkan eksistensiku.

Aku bukan siapa-siapa. Mereka bahkan mengenal sebelun aku datang. Entah Kyungsoo yang mengurangi waktu Chanyeol yang memperhatikanku atau aku yang 'mengambil' Chanyeol darinya. Jadi, aku memilih diam dan tak protes apapun.

Chanyeol tak hanya dekat dengan Kyungsoo, Kris hyung jauh bahkan lebih dekat. Hanya saja konteks kedekatan mereka berbeda.

Kris hyung dan Chanyeol tampak seperti dua orang yang benar-benar murni berteman. Saudara. Tinggi yang hampir sama dan kelakuan yang serupa.

Chanyeol mengatakan jika dia sangat mengagumi Kai. Kagum sekali hingga kemudian Kai yang mengidik ngeri. Aku merasa bahwa apa yang dilakukan Chanyeol hanya sebatas mengagumi dan bangga. Seperti bagaimana dia terlalu bangga pada dirinya sendiri.

" aku begitu menyukai Kai"

Ya, dia menyukai Kai. Tapi hanya memilih Kyungsoo. Apa yang dipilih Chanyeol sebagai Kai hanya tentang bakat, aura dan kekaguman. Kyungsoo melewati itu semua.

" bagiku tipe idealku seperti D.O-ya, dia seperti perempuan yang imut, dan tipe idealku adalah perempuan yang imut".

Aku masih mengingat itu dengan baik. Sebenarnya kau memilih Kyungsoo atau perempuan, Park?.

Dengan Kyungsoo aku merasa sesuatu yang berbeda. Chanyeol melindunginya. Memberi perhatian bukan dalam bentuk keakraban anggota.

Kedekatan yang sejak awal hanya mampu kusaksikan. Chanyeol bilang aku tak punya hak untuk mencampuri dengan siapa dia berteman dan berhubungan.

Berpijaklah Baekhyun, sadar.

Aku membiarkannya melakukan dari awal. Melihatnya memasukan Kyungsoo dalam pakaian yang sama dengannya. Seolah-olah Kyungsoo terlalu kecil dan harus dilindungi. Kyungsoo tidak sedang kedinginan. Tapi dia juga tidak melakukan perlawanan.

Jangan terlalu berharap lebih pada kontak mata. Saat aku memandang Chanyeol sejak awal, dia yang akan memutuskan kontak itu pertama kali. Saat aku masih menatap dan memperhatikannya, dia sudah berbalik dan pergi. Seolah hanya menyapa bahkan melewati mereka tapi Chanyeol seakan tak melihatku.

Hari itu mood Chanyeol sedang tidak bagus. Konser harus terus berjalan. Seharian dia seolah tak baik-baik saja. Kami bahkan berdebat sebelum berangkat. Mencoba memperbaiki pertemanan kami aku berniat bermain dengannya diatas panggung.

Aku melemparnya tapi seperti perasaanku, lemparanku tak mengenainya dengan tepat. Mencoba melilitkan konfeti keseluruh tubuhku, memakai topi Pikachyu dan berteriak didalam hati ' Park Chanyeol, ayo bermain denganku. Buat lelucon tentangku atau pukul saja, atau lakukan apapun asal itu denganku' tapi dia bahkan tak melihat. Chanyeol malah membawa Kyungsoo kesudut yang sama denganku, tertawa lalu pergi. Bisa kau lihat aku? dunia seperti bekerjasama menertawakanku.

Aku membuat keributan, bertingkah tidak tenang dalam setiap acara. Saat penghargaan-penghargaan menunggu disebutkan. Merengek lapar.

Lihat aku Chanyeol. Ajak aku bicara. Bisakah kau tersenyum seperti kau tersenyum pada Kyungsoo walau dia hanya mendelik padamu? Lihat aku Chanyeol.

Panggung kesekian kali selesai dan semua beranjak pulang. Pekerjaan sudah selesai dan aku berencana mengajak Chanyeol mencari makanan atau duduk didekat sungai Han. Kami sesekali akan melakukan itu. Malam hari tingkat keamanan bagi orang-orang seperti kami lebih tinggi. Penggemar akan beristirahat dan kalian bebas berkeliaran kemana saja.

" Chanyeol, ayo pergi mencari kudapan" aku sudah terlalu bersemangat dan ingin menarik tangannya. Hanya saja aku melihat raut wajahnya tak seperti milikku.

" aku memiliki janji akan pergi dengan Kyungsoo mencoba menu baru ditempat ayahku, kau pergi dengan yang lain saja ya?" dia memandangku dengan sedikit menyesal.

Tidak berniat mengajakku ikut serta?. aku mengangguk dan pura-pura melihat ponsel, seolah ada notifikasi disana. Padahal aku ingin sekali duduk berdua didalam mobil dan memasukkan diri kedalam jaketnya, seperti yang dilakukannya pada Kyungsoo.

Can you do to me like what did you do to him?

Berapa banyak Chanyeol menyebutku dalam setiap acara? "Baekhyun melakukan... Baekhyun dan aku..." itu wajar. Kami tinggal bersama. Ada banyak hal yang telah terlewati hanya berdua saja dan kegiatan-kegiatan itu yang kemudian diceritakan. Tapi dia tak pernah begitu bersemangat mengatakannya seperti dia menceritakan Kyungsoo.

Aku tak pernah membenci Kyungsoo. Tidak juga berfikir "apa yang Kyungsoo miliki dan aku tidak?", sekali lagi cerita ini tak sebiasa itu. Aku sadar sudah tak satu kelas sejak awal.

Apa ini dinamakan cemburu? Aku tidak tau persis. Orang-orang pada umumnya mengatakan begitu. Jika iya, cemburu telah melakukan perubahan dalam diriku. Cemburu membuatku membenci beberapa hal.

Aku benci rambut merah Chanyeol. Tidak peduli sebanyak apapun orang lain memujinya kalian tidak tau sebanyak apa kenangan burukku dengan warna yang satu itu.

Chanyeol meniupkan konfeti-konfeti pada Kyungsoo saat rambutnya berwarna merah.

Dia menghadiri press conference ' so I Married an Anti Fans' saat rambutnya berwarna merah. Menarikku keluar dorm dan menatap mataku nyalang setelah membaca naskah dramaku tepat adegan berciuman.

Membawaku kemobil dan mendudukkan diriku dipangkuannya. Kemudian mencium bibirku terlalu beringas. Melupakan supir perusahaan didepan.

Aku tidak bisa memberontak karna tubuhku berada dalam kungkungannya. Aku berusaha menarik kerah kemejanya. Tapi Dia tetap saja mengigit bibirku sedangkan aku mulai kewalahan. Jika begini dia bisa melukai bibirku. Aku harus syutin, tak mungkin mengambil gambar dengan bibir terluka.

"Chan- lepashh... kkau bihhsaa m-melukaii.. bibirkuhh"

Si egois itu melepaskan pagutan itu sebentar dan berucap lalu menyeringai

"memang itu yang sedang aku lakukan"

Aku menjambak rambut merah yang hari itu dibiarkan jatuh menjuntai. Park egois itu tidak peduli, malah semakin berulah. Memegang tengkukku dan tangan lainnya melakukan serupa dengan yang apa yang kulakukan dengan rambutnya.

" Parrr-kkhh, akkuhh harus syu-tingh besokkh"

Dia melepaskannya lagi, aku mengambil nafas dan langsung menjauhkan kepala. Bodohnya aku lupa jika tangan Chanyeol masih ditengkukku.

" dan membiarkanmu mencium Hera-hera itu? Dalam mimpimu saja, Byun"

Mencium bibirku lebih kasar, aku tak punya pilihan lain. Bandara terasa jauh sekali.

"jan-ghann lidahkuuh" Park ini tidak mendengarkan satupun apa yang kubicarakan.

Chanyeol masih bertahan hingga kami mulai mendekati bandara. Kancing jasnya sudah terbuka dan kondisiku aku yakin lebih buruk daripada itu.

" ada banyak kamera, sembunyikan dirimu"

Aku menurut, terlalu beresiko jika aku masih ingin menjambak rambutnya. Chanyeol turun. Aku melihat foto-fotonya dari beberapa fansite dan mukanya masih tak bersahabat dan rambut merah yang mendukung layaknya siap diajak berperang. Dia keluar sambil mengancingi jasnya yang kulepas.

Menyisakan aku dengan bibir bengkak dan terluka. Supir yang berubah cannggung dan amarah dari make up noona.

Aku mendapatkan luka dibibir hanya karna bibir lawan mainku menyentuh bibirku dan Chanyeol pulang dengan nomor wanita baru diponselnya setelah mencium, melumat, berbagi ciuman basah 'satu kali take' dengan lawan main wanitanya.

Aku benci rambut merah Chanyeol.


Jauh sebelum CBX dibuat, Jongdae sudah jadi penolong sejatiku. Dia benar-benar seperti malaikat, sama seperti apa yang kalian pikirkan. Aku tidak tau apakah sebelum itu sudah ada yang tau jika aku menyukai-mencintai- Chanyeol, dia adalah orang pertama yang bertindak seolah paham.

Aku tidak ingat dengan pasti kapan itu terjadi, hanya saja saat itu dia langsung memelukku dan memberi gestur bersabar. Aku melihat Chanyeol bersama orang lain, dan kalian bisa tebak bagaimana perasaanku.

Setelah semua kegiatan selesai Jongdae menyeretku kekamarnya, memberi satu Cola dingin dan membiarkanku diam sampai satu jam tanpa bicara.

" sumpah demi Tuhan yang agung, Byun Baekhyun. Disini nyaris seperti kuburan. Bicaralah !"

Dia yang membawaku, kenapa dia yang protes?

" bagaimana jika kau saja yang bersuara dan aku mendengarkan?"

Dia terkejut, nampak mengucapkan " ah waeee" tanpa suara

" itu terdengar seperti kata-kata yang harus kuucapkan padamu" balasnya kemudian.

Aku tertawa.

Tidak ada Minseok. Teman satu kamar sekaligus sehidup semati sekaligus patner hubungan yang tak bisa didefenisikan-nya, ia sudah diungsikan.

Lagi-lagi terdiam. Colaku sudah berubah menjadi suhu normal.

" aku tau, kau suka Chanyeol. Seperti itu. Selesai "

Dia berucap dengan santai dan aku ingin sekali menyiramnya dengan Cola.

"siapa bilang begitu, Bodoh !"

" aku" dia menunjuk dirinya sendiri.

Astaga. Kenapa dari semua klan Kim digrup ini hanya Minseok hyung yang nyaris baik-baik saja kondisinya.

" bagaimana jika ku balik. Aku tau, kau suka Minseok hyung. Seperti itu. Selesai"

Dia tampak tak senang dengan caraku mengganti topik.

Kuberitau sesuatu, dari dulu hubungan mereka tak pernah jelas. Salah satu dari mereka akan berkencan dengan orang lain seolah tak ada yang salah tapi tetap bertindak seperti sepasang suami istri jika bersama. Maksudku saling memperhatikan dan menjaga.

Jongdae tidak pernah mau berpisah dari Minseok hyung. Hingga anggota tertua itu sendiri yang kesusahan.

Program reality show Minseok hyung sudah ditawarkan sangat jauh sebelum melakukan perekaman. Banyak dari variety atau reality show yang akhirnya ditolak karna Jongdae berubah menjadi sangat over protektif. Menempel kemanapun.

Berita bagus untuk Jongdae, mereka berdua memiliki sifat yang sama. Selalu ingin dirumah, jadi dia dengan bahagia selalu bersama Minseok hyung. Berita buruk bagi Minseok hyung adalah jika itu terjadi dia akan semakin sulit karna Jongdae menempel layaknya lintah. Jika seseorang ingin melakukan program acara dengan Minseok hyung dia juga harus ikut didalamnya. Harus.

Saat akhirnya Minseok hyung nekat menyetujui salah satu program dia dengan tidak senang memaksa membuat unit baru. Memasukkan dia dan Minseok hyung-nya dalam satu unit yang sama. Agar mereka lebih sering bertemu sebelum Minseok hyung sibuk dengan program sendiri. Aku sempat mendengar apa yang mereka bicarakan.

" tidak boleh dengan episode puluhan. Dan tidak ada season dua atau berapapun kecuali satu, ya hyung?"

Alih-alih menyertakan Kyungsoo dalam unit itu, Jongdae meminta memasukkanku kedalamnya. Dengan alasan Kyungsoo bisa tiba-tiba harus melakukan pengambilan gambar untuk filmya. Tujuan lain yang aku mengerti ialah agar aku mulai sibuk dan memikirkan hal lain selain semua masalah yang terjadi.

Ya, itu CBX. Unit paling tergesa dibuat. Pemilihan lagu, rekaman, dan bahkan schedule dilakukan secara mendadak. Hanya butuh beberapa bulan. Tanyakan saja pada Kim Jongdae.

Setelah perdebatan -yang selalu kami lakukan- Jongdae menarik kesimpulan sendiri bahwa aku benar-benar mencintai Chanyeol. Hari itu aku tidak keluar dari kamarnya karena sibuk mengajarinya bermain game.

Seminggu setelah itu giliran teman sehidup sematinya -Minseok hyung- yang menantapku dengan tatapan multi tafsir. Tidak terlalu mengambil pusing, kutebak mulut besar Kim yang satu lagi sudah menyalin semua pembicaraan kami kedalam otak Minseok hyung.

Mereka berdua bisa dibilang sebagai pasangan malaikat-iblis. Bukan iblis dan malaikat, bukan. Maksudku apa yang mereka lakukan untukku sangat baik nyaris seperti malaikat dan kadang mendatangkan petaka bagiku layaknya iblis.

Jongdae mengerti banyak hal. Aku melihatnya, rekaman-rekaman video saat seorang Chen hanya tersenyum canggung melihat Chanyeol dan Kyungsoo. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mereka. Kyungsoo bersikap wajar dan selayaknya teman. Hanya saja si kuping lebar Park Chanyeol yang mendekat layaknya lintah.

Tidak peduli Jongin akan bertingkah seperti barangnya diambil dan memeluk Kyungsoo erat-erat. Chanyeol masih akan menganggunya. Menyita perhatian Kyungsoo sebanyak mungkin walaupun anak itu sudah bosan sendiri melihat Chanyeol.

Saat pengambilan EXO NEXT TO DOOR malangnya Jongdae tidak ikut dalam bagian utama. Anak itu tak dapat bagian dan memang tak ingin. Dia lebih memilih menyusuri alam mimpi bersama Minseok hyung di dorm. Sial sekali

Aku harus berpuas hati melihat Chanyeol membuat lelucon bersama Kyungsoo. Jongin tidak ada maka Chanyeol bisa bermain bersama Kyungsoo sesukanya. Membosankan. Sehun terus-terusan memegang ponsel dan Chanyeol bermain dengan Kyungsoo.

'ini membosankan' satu pesan untuk Jongdae si berisik.

'sudahku bilang lebih baik duduk dirumah dan istirahat' balasan pesan.

Satu pesan masuk, foto Minseok hyung sedang tidur dengan tenang. Sebuah emoticon tertawa.

'jangan membuatku iri'

'ah, kami bahkan akan makan keluar dan minum-minum sebelum tidur'

'aku tidak iri'

'kami bahkan akan tidur jam 10 malam, ah indahnya liburan'

Sial. Sial. Sial. Dia memanas-manasiku, syuting akan berakhir pukul 5, jika semuanya berjalan dengan lancar.

'kau akan pulang kedorm atau ?'

'mungkin kembali kedorm bersama Sehun'

'Chanyeol?'

'tanyakan sendiri'

'kalian bertengkar?'

'tidak'

Aku melihat Park itu meniup telinga Kyungsoo.

'biar kutebak, dia mengabaikanmu?'

'sudah tau masih bertanya'

'woaaa, sensitif sekali, mungkin kau harus mencari kesibukan lain, bukan memandangi mereka hari ini, besok, lusa, minggu depan, ayolah man, kalau dia tak memperhatikanmu jangan memperhatikannya. Mungkin kau bisa ke gym, membuat abs, lihat lemakmu'

Aku membalas dengan mengiriminya stiker kepalan tangan untuk kata sensitif dan lemak.

'katakan itu pada jadwal-jadwalku'

'kembali lebih cepat dan ikut minum bersamaku'

'Suho hyung akan mengamuk kalau dia tau'

'jadi jangan beri tau, kau tidak asik Baek'

'oke, kuusahakan, kau memang temanku'

Nyatanya aku kembali lebih lama dan Jongdae lupa kalau Minseok hyung lebih taat daripada kami bertiga. Dia bahkan menungguku dengan satu jitakan dikepala.


Pembuatan teaser Call Me Baby memang menyebar ke negara berbeda. Konsep matang dari awal menjadikan aku, Chanyeol, Kyungsoo, dan Tao dalam satu perjalanan yang sama. Penggemar sudah memenuhi bandara dan kami berjalan dalam kawalan. Tidak ada Minseok hyung, Jongdae atau Sehun. Aku sudah menyiapkan perasaan untuk diabaikan, syukur ada Tao disini.

Setiap orang memiliki tempat yang berbeda. Jam makan telah masuk dan aku tak menemukan satu pun dari ketiganya. Perjalanan ini direkam jadi aku harus dengan baik menyimpan ekspresi.

Sendirian memilih makanan yang cenderung aneh dilidah. Aku ingin nasi, atau pizza atau apapun yang familiar dilidahku. Keinginanku untuk makan sudah berkurang dan kini lenyap setelah melihat Kyungsoo, Chanyeol dan Tao duduk bersama tanpa menungguku. Parahnya saat aku bergabung suasana menjadi canggung.

Aku memberikanku sebuah roti. Nampaknya dia berjalan-jalan keluar dan menemukan toko roti yang enak. Aku menerimanya, ingin kembali ke kamar untuk menikmati rotiku tapi aku melihat Kyungsoo datang. Sadar, mereka sepertinya baru saja keluar bersama tanpa mengajakku. Menerima roti itu, masuk ke kamar dan langsung membuangnya.

Jadwal pengambilan gambar memang bertepatan ulang tahun Kyungsoo. Aku merutuki berkali-kali kenapa harus berada diantara mereka. Menyaksikan Chanyeol dengan semangat mencari kue untuk Kyungsoo, menyusun rencana dengan semua kru sedangkan aku juga ikut disana menyukseskan acara. Bagaimanapun sebagai keluarga aku tidak akan merusak hari ulang tahunnya.

Terakhir kali Chanyeol merayakan ulang tahunku sudah lama sekali. Sebelum semua berjalan seperti ini. Tentu saja waktu itu aku bahagia bukan main. Ingin rasanya menyimpan saja kue ulang tahunku dan tak memakannya. Kenang-kenangan karena tahun-tahun berikutnya semua tak semenyengankan itu

Kami mempersiapkannya dengan cukup baik. Kue milik Kyungsoo sangat cantik dan nampak lezat. Bisakah aku memilikinya satu untuk ulang tahunku?

" ini pertama kali aku melihat kue yang benar-benar hitam"

Apa saat Chanyeol membeli roti kemarin sebenarnya dia mencari toko untuk membeli kue Kyungsoo?

Kejutan itu berhasil dan Kyungsoo terbangun untuk membuat harapan dihari ulang tahunnya. Cukup canggung karena Chanyeol terlalu bersemngat, Kyungsoo biasa saja karena dia baru terbangun dan sibuk memproses keadaan, Tao lebih sibuk menatap penuh minat pada kue dibandingkan harapan hyungnya, dan aku tertawa seperti biasa demi kelancaran perekaman.

Malangnya kue cantik itu berakhir sia-sia sebab Kyungsoo memilih tidak memakan sesuatu yang manis dan malah memukul Chanyeol karena tidak membawakannya kado. Aku menatap sedih pada kue itu, walaupun aku ingin mencicipinya tetap saja sejatinya itu bukan milikku jadi aku membiarkan Tao membaginya dengan para kru.

Kue itu sangat cantik. Aku menatapnya prihatin. Merasa menyesal pada kue yang hanya jadi simbolis. Chanyeol-ah jika kau memberikan seperti untukku, aku akan menyimpannya dengan baik dan kau boleh meminta apapun padaku. Aku juga akan mengucapkan banyak terima kasih karena kau mempersiapkan ulang tahunku. Aku berjanji.

bisakah aku diperlakukan juga seperti itu?

Perayaan ulang tahun Kungsoo selesai. Setelah semua kru kembali terlelap didalam kamar masing-masing aku mengendap-ngendap keluar dan masuk ke dalam kamar Chanyeol. Cuaca cukup dingin dan aku berencana tidur bersama Chanyeol agar bisa memeluknya sampai pagi. Aku membuka pintu, heran menemukan Chanyeol sedang memakai jaket.

"kau akan pergi?"

"ya" dia menyahuti sambil memasukkan tangan kiri kedalam jaket.

"selarut ini?"

"Kyungsoo ingin membeli burger dan aku akan menemaninya"

Aku terdiam, membalas dengan 'oh' dan masih berdiri disana. Chanyeol selesai dan aku ikut keluar dari kamarnya.

"hati-hati"

Beranjak, lalu kembali kekamarku. Suhu udara ini tidak apa-apa, sungguh. Cukup hangat walau hanya sugestiku saja.-


Kai adalah target berikutnya. Sidang Kris hyung berjalan dan perusahaan tidak ingin penggemar terlalu terpusat pada hal tersebut atau sadar bahwa perusahaan mati-matian mempertahankan bintang potensialnya.

Aku tidak melihat ada yang berbeda dari Kai atau Kyungsoo. Ya, Kyungsoo cukup pengertian dan seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi. Dia tidak marah hanya saja lebih sering bermain keluar dan menerima ajakan casting. Yang berbeda hanya Chanyeol, dia akan menghabiskan banyak waktu di studio miliknya lalu kembali ko dorm. Aku mengikutinya. Apartemen terasa sepi jika ditempati sendiri.

Waktu terus bergulir sampai perusahaan mengumumkan semua bagian perusahaan diberikan libur ke Hawaii, semuanya tanpa terkecuali. Kai jelas tidak bisa ikut dan Kyungsoo pasti mengikutinya. Selain dia punya jadwal tersendiri, Kyungsoo kadang tak bisa dengan acara yang terlalu rama, dengan kamera fans dimana-dimana.

Itu membuat Chanyeol uring-uringan. Tidak ada yang bisa diganggu dan diajak berpergian. Aku tak tau topik apa saja yang mereka bicarakan. Hanya sesekali Chanyeol akan memainkan gitar dan Kyungsoo menyanyikan sesuatu.

Tangannya cidera dan aku berusaha memastikan bahwa aku cukup sebagai tangan kedua.

" ini menyusahkanku" dia mengeluh kesekian kalinya ketika melihat tangannya yang terperban

" salahmu bermain bowling tanpa mengajakku" aku membalasnya tapi tetap terfokus membersihkan make up diwajahnya.

" aku baru tau jika kau berkolerasi dengan cidera"

" kau saja yang tidak tau" aku mengosok wajahnya lebih keras, sedikit kesal.

" oke, oke, lain kali aku akan mengajakmu. Pelankan sedikit, sakit Baek"

"benarkah? Benarkah? Kau akan mengajakku? Assa ! Bowling, pemain profesionalmu akan datang"

Selain berlibur, Chanyeol dan Sehun akan bersiteru. Terakhir kali aku melihat mereka membahas siapa yang akan menemani Kyungsoo. Karena Kyungsoo tidak ikut, dia akan mengambil jatah berliburnya. Sehun terlebih dahulu mengajukan diri sebagai teman perjalanan sebelum Chanyeol datang dan ikut memperebutkan.

"tidak bisa hyung, aku yang akan ikut. Kau tinggal saja nanti di Seoul"

"biar aku yang pergi"

Sehun merengek dan berlari kearah Suho hyung.

"kau di Seoul saja, seingatku kau punya proyek lagu yang harus diselesaikan"

Chanyeol mengalah, mendengus kesal kearah Sehun yang tersenyum menang. Berita buruknya dia mengitari Hawaii untuk menemukan oleh-oleh Kyungsoo. Banyak berserakan papperbag dan sebagian besar adalah milik Kyungsoo.

" aku sudah membelikanmu banyak barang. Sayang sekali aku tak bisa ikut ke Jeju. Penyerahan lirik semakin dekat. Aku akan mengantarkanmu dan menjemputmu dibandara"

"..."

" tapi lain kali ayo ke Jepang atau pergi ke suatu tempat"

Aku mendengarkan Chanyeol berbicara dengan seseorang di ponsel. Kutebak itu Kyungsoo. Memperhatikannya tanpa berkomentar.

I wish that was me

Selalu berbeda ya, Park. Kau bahkan tak pernah mengajakku pergi. Meniggalkanku sendiri dan kau bersenang-senang. Hari ini semua berbeda, kau dengan senang hati mengajaknya pergi. Selalu berbeda.

Sampai kapanpun, aku tidak bisa menyainginya. Tidak bisa.

07.

(End)


Rekomendasi : Stupid in Love - Jason Derulo


Akhirnya !. Maaf, ini sudah lebih 1 bulan dan aku akhirnya bisa menyelesaikan ini. 4,7+k words, chapter terpanjang, terlama, dan tersulit yang aku buat sejauh ini. Silahkan marah-marah dikotak review, aku suci kalian penuh noda (?)

Dititik ini aku mulai menyadari kendala menulis dengan basic angst, hurt dan real life sangat susah. Kendala terberat dari semua kendala adalah saat aku menulis satu paragraf dan tiba-tiba nge-stuck karena sedih sendiri sama apa yang aku tulis, mood jadi hancur dan aku baru bisa kembali menata hati setelah berhari-hari melewati rutinitas di-rl.

Faktanya, saat aku udah down aku balik ngeliat review dan jadi semangat kembali. So, thank you for all of you who take a moment to write some kind of words. Aku menghargai setiap masukan baik positif atau negatif. Bagaimanapun meluangkan sedikir waktu untuk menulis review adalah sebuah penghargaan tersendiri karna aku tau, tergoda kotak review itu tidak mudah. Sekali lagi terimakasih.

Aku nggak masukin unsur perasaan kedalamnya kok, serius, karna : satu aku nggak punya perasaan (?), dan dua, genrenya masih di hurt and angst (sila diteliti lagi).

Tapi, dari kritik itu akhirnya aku nemuin ending yang kayaknya pas.

Aku baca setiap komen sampai yang terakhir. Maaf ya, sudah satu bulan aku belum update. Sebenarnya tepat 1 bulan ceritanya sudah bisa dipublikasi, tapi aku selalu menemukan kekurangan. Sebagai gantinya aku menulis sedikit lebih panjang.

Disela baca review aku nemuin beberapa pertanyaan. Dan aku pernah menulis beberapa jawabannya...

Q : aku takut ini sad ending. Ini nggak sad ending kan?

A : Kamu aja takut. Apalagi aku.

Q: Kenapa ini Ceye-nya jadi manis gitu?

A: Awalnya lumayan ragu. Takutnya ff ini berubah judul jadi 'Fifty Shades of Chanyeol', tapi ternyata itu bagian penting, biar lebih krenyes gitu heuheuheu.

Belum bisa memastikan berapa banyak chapter cerita ini, semoga kalian tidak bosan.

Rekomendasi lagunya, murni karna musiknya enak (lalu ditampar)

Sampai jumpa, saudara se-per-shipper-an (?)