Penulis : Ohdeerwillis

Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka

Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, NC, dll

Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members

Chap 6

Laki-laki berambut perak itu masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya beberapa saat yang lalu. Bagaimana bisa dia masih mengingatnya, bahkan dirinya saja belum mengingatnya. Pria itu berjalan menuju kamar tidur dan berganti dengan pakaian casual. Dia menatap layar ponselnya gamang, masih memikirkan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu padanya,

"Yeoboseyo?" Dia disapa seorang perempuan di ujung telpon dengan bahasa Korea?

"Oh Sehun?" Tangannya berhenti bergerak untuk meminum jus jeruknya. Apakah dia salah dengar? Siapa? Sehun? Siapa perempuan ini? Suaranya benar-benar tidak asing untuknya.

"Oh Sehun? Benarkan? Jinjja Oh sehun ?" Pria itu meletakkan gelasnya dan menempelkan ponsel di telinganya, untuk memastikan apa yang didengarnya.

"Yaaa! Kamu tidak membalasku?" dia masih terdiam mendengarkan suara perempuan yang sangat tidak asing untuknya.

"Wh-who are you?" Pria itu tampak ragu untuk membuka mulutnya,

"Yaa! Kamu melupakanku? Dan gunakanlah bahasa Korea," dia masih terdiam mencoba mecerna apa yang diucapakan perempuan itu.

"Oh Sehun, aku tidak salah kan? aku benar-benar merindukanmu, apa kabar? Dimana sekarang kamu tinggal?" Perempuan itu terus melemparkan pertanyaan untuknya, dirinya benar-benar merasa tidak asing dengan suara itu. Tapi siapa?

"Yaaaaa! Pabboya! Kembalikan handphone ku nunna bodoh!" Terdengar suara temannya berteriak di ujung sana yang membuat ia menjauhkan ponselnya.

"Jamkkan man, aku benar-benar merindukannya," ia masih terus mendengarkan suara berisik di telponnya.

"Ahhh, berikaann…. Yeoboseyo," Itu suara temannya.

"Kwaenchana? Ani , are you okay?" temannya bertanya kembali.

"Aku tau itu dia, aku benarkan Jongin? jawab akuu pabbo," suara perempuan itu terdengar lagi, dia masih mencoba berfikir.

"Kojo nunna, jangan kesini," nunna? Sejak kapan temannya punya kakak perempuan dan lagi kakaknya mengetahui siapa dia.

"Kai," Pria itu memanggi temannya, dia jarang sekali memanggil temannya dengan nama langsung seperti sekarang ini.

"Heh? Why? Tumben sekali kamu manggil namaku," pria itu menarik nafasnya,

"Nu-nuguseyo?" setelah sekian lama dirinya tak menggunakan bahasa itu, akhirnya mulutnya mengeluarkan bahasa yang telah lama ia tinggalkan.

"Mwo? Ani, aku gak salah dengar kan? kamu menggunakan bahasa Korea?" dia sama herannya dengan Kai, entah kenapa bibirnya terbuka dan mengucapkan itu.

"Nuguseyo?" Dirinya masih bertanya dengan Kai.

"Yaa! Kamu lupa? Apakah kamu tidak bisa mengingat dari suaranya?" dia menggeleng, dia tau suara itu cukup familiar untuknya hanya saja tak terlintas satu pun di pikirannya tentang siapa orang itu.

"Hfft, arraseo, dia Kim Reina Sehun, ani.. Willis," Benar-benar aneh mendengar temannya memanggil dengan nama itu, dan lagi siapa Kim Reina itu?

"Kim R-Reina?" ia benar-benar mencoba mengingat nama itu, namun tak menemukan apapun,

"Ahh, jadi kamu benar-benar lupa. Ini karena kamu terlalu lama tidak kembali Willis, dia kakak sepupuku, Kim Reina. Kamu tidak mengingatnya? Bahkan kamu dan dia dulu cukup dekat," Ahh jadi itu kakak sepupu temannya itu. Tunggu, cukup dekat?

"Cukup dekat?" tanyanya penasaran.

"Ya, setelah kepergian L-

"Cukup Kai, jangan membahasnya" dia benar-benar tidak ingin membahas itu.

"Arraso..arraso.. aku tidak akan membahasnya, tapi aku senang kamu menggunakan bahasa Korea lagi. Kamu benar-benar harus kembali kesini Hun." Lagi, dia masih asing dengan nama itu.

"Hmm, entahlah aku harus menyelesaikan apa yang perlu aku selesaikan disini,"

"Bahkan ketika dia tidak mengingatmu lagi? Kamu terlalu banyak bertahan Hun," Dia tersenyum getir, dia memang harus terus bertahan.

"Secepatnya dia akan mengingatku Kai, sedikit lagi. Aku hanya perlu bersabar," Terdengar suara ejekan di ujung telpon.

"Okay, Teruslah bersabar hingga Korea Selatan dan Utara berdamai," ia mengembuskan nafasnya.

"Jika memang diperlukan, aku akan bertahan,"

"Kau benar-benar terlalu sabar," "Baiklah, aku hanya bisa mendukungmu teman, hubungi aku jika butuh bantuan," Lanjut Kai.

"Hm, pasti aku akan membutuhkan bantuanmu suatu saat nanti,"

"Jadi kamu sudah memutuskan akan pergi kemana?" Tanya Kai mengganti topik pembicaraan. Sesungguhnya dia butuh ketenangan, dia akan mencari tempat yang cukup tenang untuknya.

"Akan kucari, sampai nanti," terdengar balasan lalu sambungan terputus.

Dia menggelengkan kepala mencoba tak memikirkan apa yang terjadi padanya lalu menyakukan ponselnya. Dia akan menenangkan dirinya di suatu tempat yang cukup tenang hari ini. Baru saja berjalan beberapa langkah, ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dia mengambil ponsel dari saku celananya dan membuka pesan itu,

From : 010.7101.2407

Annyeong~ Sehun-ah ^^ ini Reina, aku mendapatkan nomormu dari Jongin aku benar-benar merindukanmu. Cepatlah pulang ke Korea. Apakah kau tidak merindukaku Sehun-ah?

Laki-laki itu mengernyit bingung, Sehun-ah? Apakah mereka sedekat itu? Dan lagi kenapa si hitam itu memberikan nomornya pada orang yang belum dia ingat sepenuhnya. Ponselnya kembali bergetar, pesan masuk lagi,

From : STUPID BLACK MAN

Mianhae, tapi nunna benar-benar memaksaku T.T jika dia menggangumu
abaikan saja kkk

Ia berdecak setelah membaca pesan masuknya, sungguh menyebalkan.

..

..

..

Ia memutuskan berjalan kaki menuju taman yang berada tidak jauh dari apartemennya. Taman itu pasti memiliki tempat yang cukup tenang. Hampir semua orang yang berpapasan dengannya akan berdecak kagum. Ekspresi dingin tidak hilang dari wajahnya yang tertutup topi abu-abu. Ia menikmati jalan paginya dengan mendengarkan musik yang tersambung pada earphonenya, ia mencoba menghibur dirinya.

Tak sampai 10 menit, langkahnya berhenti di depan jalan masuk taman. Hari ini taman itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa keluarga kecil dan beberapa pasang orang yang sedang berkencan. Ia menuju tempat yang menurutnya cukup tenang dan jauh dari orang yang sedang berkumpul. Ia mendudukan dirinya di atas rumput dan mengahadap ke arah kolam ikan yang tak jauh darinya, sangat nyaman.

Ia mencoba menutup matanya dan menikmati musik yang terus berputar untuknya. Dia menelungkupkan kepala di atas lututnya dan mencoba berpikir tentang apa yang temannya katakan, untuk berhenti bertahan. Haruskan dirinya berhenti? Bukankah ini yang dia inginkan? Kenapa ia menjadi ragu untuk bertahan? Kenapa? Apakah semuanya akan sia-sia? Pertanyaan demi pertanyaan berputar di dalam kepalanya. Ia menjadi ragu dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini, kenapa hatinya mulai goyah? Bahkan ini belum ada setengah jalan untuknya, tapi dirinya mulai merasa sia-sia.

"Huaahhhhh," Dia menghembuskan nafasnya dengan keras, pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya sakit kepala. Ia memilih untuk membaringkan tubuhnya dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Mata elangnya menatap langit yang cukup cerah, memperhatikan satu persatu bentuk awan yang melintasinya. Menebak-nebak bentuk apakah itu, dia sangat suka melakukan ini dari dulu,

"Sehunnie, menurutmu itu bentuk apa?" Tanya seorang anak laki-laki berwajah sangat menggemaskan sambil menunjuk langit dengan jari mungilnya. Sehun yang sedang asik meminum bubble teanya dengan malas mendoangakkan kepalanya mengikuti arah tangan namja manis itu.

"Itu?" tanya Sehun balik lalu mengikuti temannya untuk menunjuk langit, dan temannya mengangguk dengan sangat lucu.

"Itu kelinci Xiao Lu," jawab Sehun lalu meminum bubble teanya lagi.

"Kalo yang itu?" tanya namja yang dipanggil Xiao Lu oleh Sehun. Dan lagi, dengan malas Sehun menatap langit

"Itu burung," Jawab Sehun lagi lalu merebahkan diri disebelah temannya yang lebih dulu tiduran di atas rumput.

"Kenapa kamu selalu bertanya tentang bentuk awan setiap kali kita pergi ke taman Xiao Lu?" Tanya Sehun lalu menatap namja manis disebelahnya. Yang ditanya lalu tersenyum,

"Karena aku menyukainya, ini sangat mengasikkan Sehunnie,"

"Tapi kita melakukan ini dari 4 tahun yang lalu Xiao Lu, tidakkah kau bosan?" Sehun masih menatap teman manisnya itu, dan temannya menggeleng.

"Aku tidak akan bosan jika itu bersama Sehunnie, akan selalu menyenangkan," jawab temannya lalu menoleh ke arah Sehun, dan membuat Sehun tersenyum senang.

"Jinjja? Kamu tidak akan bosan jika bersamaku?" Temannya mengangguk, lalu tersenyum dan kembali menatap langit.

"Aku tidak akan pernah bosan jika itu kamu Sehunnie," Sehun benar-benar senang mendengarnya, dia menggeser tubuhnya hingga berdekatan dengan temannya.

"Xiao Lu?" Panggil Sehun,

"Hm?" Jawab temannya yang masih menatap langit.

"Janji sama Sehun ya, kita akan terus melihat langit bersama sampai kapanpun?" Temannya menoleh heran ke arah Sehun.

"Janji melihat langit?" Sehun mengangguk, lalu mengarahkan jari kelingkingnya ke arah temannya.

"Yaksoke?" Temannya mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan Sehun.

"Yaksok," keduanya pun lantas tertawa senang, itu janji pertama mereka. Mereka menamakannya "janji langit".

Laki-laki itu tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya yang terlintas di kepalanya,

"Itu rusa," gumannya lalu menutup mata mencoba mengingat kembali kenangannya.

Tapi tiba-tiba dia merasakan tidak ada cahaya yang menyentuh wajahnya, lalu ia mencoba membuka matanya dan terkejut dengan apa yang ia lihat, wajah seseorang yang sedang menunduk ke arahnya, tepat di depan wajahnya.

"Lu-Luhan?" Laki-laki yang dipanggil Luhan pun ikut terkejut melihat bosnya yang tiba-tiba membuka matanya,

"E-e..eh bos eh Willis, maaf jika mengejutkan. Aku hanya ingin memastikan, dan ternyata aku benar itu kamu," Jawab Luhan salah tingkah. Yang dipanggil Willis pun juga salah tingkah, ia membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk.

"Kenapa kamu tiba-tiba disini?" tanya Willis lalu melepaskan earphonenya. Ia masih salah tingkah dengan kejadian tadi, untung saja dia tidak berlebihan.

"E..eh aku hanya jalan-jalan saja disekitar sini, lalu tidak sengaja melihat kamu dari jauh. Tadi hanya memastikan, sungguh tidak berniat mengejutkan." Jawab Luhan merasa tidak enak. Willis tidak menjawab Luhan, membuat Luhan merasa bersalah,

"Ngg.. Kalo begitu aku akan pergi duluan Willis," pamit Luhan lalu berbalik,

"Tunggu!" Luhan menegang, ia belum siap dimarahin bos nya itu di hari seperti ini,

"Mm, apakah kamu sudah makan siang?" Tanya Willis lalu berdiri,

"Kalo belum, makan sianglah bersamaku," Luhan membulatkan matanya, ia tidak salah dengarkan? Luhan kembali menoleh ke arah Willis,

"Makan siang?" Luhan bertanya memastikan pendengarannya,

"Iya, bukannya ini sudah masuk waktu makan siang? C'mon," Willis berjalan mendahului Luhan membuat Luhan mengikuti Willis dengan perasaan gugup.

"Jadi kamu tinggal di sekitar sini?" Tanya Willis memecah keheningan diantara mereka selagi berjalan menuju restaurant terdekat.

"I-iya, aku tinggal di sekitar sini," jawab Luhan masih sedikit gugup.

"Berhentilah terbata-bata, dan jawab pertanyaanku dengan santai," Willis mengatakannya dengan nada dingin, bagaimana Luhan bisa santai?

"Lalu dimana kamu tinggal? Flat? Apartemen? Atau apa?" Tanya Willis lagi. Luhan bingung harus menjawab apa, selama ini tidak banyak yang mengetahui tempat tinggalnya, tapi ini bosnya, ia harus jujur.

"Aku tinggal di apartemen yang tidak jauh dari taman tadi," Jawaban Luhan membuat langkah Willis terhenti lalu menoleh ke belakang,

"Apartemen yang tidak jauh dari taman? Maksudmu apartemen ini?" Willis mengambil sebuah kartu dari saku celananya dan mengarahkan ke Luhan. Luhan membulatkan matanya terkejut, bagaimana bisa bosnya memiliki kartu yang sama dengan Luhan?

"Eh? Jadi kamu tinggal di apartemen itu juga?" Tanya Luhan bingung,

"Jadi kamu benar tinggal disana, iya aku disana di lantai 20," jawab Willis lalu menyakukan kartunya lagi. Kartu itu biasa digunakan setiap pemilik apartemen tempat dimana Luhan dan Willis tinggal. Kartu itu hanya bisa mengakses satu lantai. Karena setiap orang memiliki barcode yang berbeda di setiap kartu, sehingga tidak ada yang bisa mengakses lantai lain dengan kartu yang sama. Karena setiap satu apartemen memiliki satu lantai, sehingga orang lain tidak boleh menuju lantai lain selain miliknya. Luhan masih tidak percaya jika selama ini dia dan bosnya tinggal di gedung yang sama hanya berbeda lantai, bagaimana ia tidak sadar? Begitupun Willis, ia sama sekali tak menyangka jika dirinya dan Luhan sedekat itu.

"Kamu tinggal di lantai berapa?" Suara berat Willis memecah lamunan Luhan,

"Eeh? Lantai 18," Jawab Luhan, bahkan Luhan dan Willis hanya dipisahkan satu lantai, lantai milik Cindy. Bagaimana Luhan sama sekali tidak pernah bertemu bosnya itu di lobby apartemen atau dimanapun di sekitar apartemen selama 6 bulan ini?

"Hilangkan kebiasaan melamun mu, itu sangat menganggu Luhan," Luhan menatap punggung bosnya yang tegap, bos nya selalu tau jika Luhan melamun.

"Maaf Willis," Balas Luhan lalu menunduk,

"Dan berhentilah meminta maaf, kita sudah sampai," Luhan mengikuti Willis memasuki restaurant lokal itu. Willis memilih meja di ujung ruangan, dan Luhan duduk di depannya. Seorang pelayan perempuan datang membawa dua buah buku menu untuk mereka. Luhan membukanya dan melihat daftar menu yang ada di depannya, sejujurnya Luhan tak ada nafsu makan dari kemarin tapi ia tidak enak menolak ajakan bosnya untuk makan siang bersama. Sehingga Luhan bingung harus memilih apa. Luhan melirik ke arah bosnya sekilas, melihat apa yang akan di pesan bosnya itu. Namun matanyanya menangkap basah pelayan perempuan yang sedang memandang bosnya dengan tatapan kagum.

Bukan hal baru jika Luhan melihat bosnya itu diperhatikan banyak perempuan bahkan laki-laki pun juga memperhatikannya termasuk Luhan. Luhan tidak bisa membohongi matanya, jika bosnya itu memiliki wajah yang sangat tampan mendekati sempurna, memiliki bentuk badan yang atletis, yang di sukai banyak orang. Di tambah tatapan mata Willis yang dingin membuat semua orang ingin mendekatinya, bahkan banyak teman-teman kantornya yang terang-terangan mendekati bosnya itu. Namun, lagi-lagi sifat dingin bosnya membuat teman-temannya kecewa dan cuma bisa berharap agar bosnya merespon apa yang mereka lakukan. Entah sejak kapan Luhan jadi senang memperhatikan bosnya, hanya kagum tidak lebih.

"Apakah kamu sudah ingin memesan Luhan? kenapa dari tadi kamu hanya menatap wajahku? Apa daftar menunya pindah ke wajahku?"Willis menginterupsi Luhan lalu menatap balik ke arah Luhan. Mata Luhan bertemu tatap dengan mata Willis dan reflek Luhan menunduk salah tingkah menghindari mata bosnya, Luhan merasa wajahnya mulai memerah karena tertangkap basah seperti itu.

"Eeehh… iya a-aku sudah ingin memesan,"Balas Luhan lalu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, Willis yang melihat itu hanya menahan senyumnya.

"Kalo gitu aku pesan satu ploughman's lunch dan strawberry lime squash, dan kamu Luhan?"

"Kopi Espresso satu," Luhan menutup buku menunya dan mendapat pandangan heran dari bosnya.

"Hanya itu?"Tanya Willis heran, dan Luhan mengangguk

"Aku sedang tidak ingin makan Willis," Jawaban Luhan mendapat gelengan tegas dari Willis

"Aku mengajakmu makan dan kamu tidak mau makan?"

"Tidak apa-apa Willis, aku sedang tidak ingin makan,"

"Tidak-tidak, kamu harus makan."Willis membuka buku menunya lagi dan memilih makanan untuk Luhan.

"Aku benar-benar tidak ingin ma-"

"bangers and mash satu, itu saja" potong Willis lalu menutup buku menunya kembali. Luhan menatap bosnya, dia lupa jika bosnya itu cukup keras kepala.

"Kamu harus makan Luhan, aku mengajakmu untuk makan bukan minum kopi, ini perintah," dan Luhan hanya bisa mengangguk dalam diam, bosnya memang seperti itu.

..

..

..

..

Mereka telah menyelesaikan makan siangnya, dan sedang berjalan pulang menuju apartemen. Kali ini Luhan lah yang di depan Willis, dirinya benar-benar gugup jalan seperti itu. Langkah kakinya semakin lama semakin pelan setelah memasuki lobby apartemen. Dan lagi, hampir semua orang menatap ke arah bosnya yang entah kapan telah jalan di sebelahnya dengan tenang. mereka sampai di depan lift dan mengeluarkan kartu masing-masing. Lift terbuka, hanya mereka berdua yang akan naik. Luhan menempelkan kartunya pada sensor otomatis di lift tersebut, dan layarnya menunjukka angka 18 diikuti Willis yang menempelkan kartunya dan angka 20 muncul di layar lift.

Mereka berdua hanya terdiam di dalam lift tanpa sepatah katapun, dan lift pun berhenti di lantai dimana Luhan tinggal.

"Aku duluan Willis," Ucapnya ketika pintu lift terbuka lalu ia keluar.

"Kapan-kapan kau bisa berkunjung ke apartemenku Luhan,"Ucap Willis lalu pintu lift tertutup. Luhan masih memandang lift dan mencoba memikirkan apa yang diucapkan bosnya itu.

.

.

.

.

.

R

C

L

terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa

Maaf kalo alurnya terlalu cepat? Atau mungkin terlalu lambat? Aku berusaha keras agar tidak terlalu bertele-tele karena dari itu mohon reviewnya

Maafkan juga ceritanya belum sempurna :") aku bekerja semaksimal mungkin chingu ^^

silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan

Sarangahaeee chinguu